Menengok Silat di Singapura



Orang Melayu atau Islam belajar silat. Warga Cina belajar wushu.


Pencak silat bukanlah cabang olahraga populer di Singapura. Sebab, warga Negeri Kota yang mayoritas adalah etnis keturunan Cina menganggap olahraga itu tidak cocok bagi mereka.

Masih ada persepsi di sebagian masyarakat bahwa pencak silat adalah seni bela diri mistis, yang kental dengan nuansa Islam dan hanya untuk orang-orang Melayu, kata Sheik Alau'ddin Yacoob Marican, Direktur Eksekutif Persekutuan Silat Singapura (Persisi), ketika ditemui Tempo di sekretariat Persisi di Bedok North Street, Singapura, beberapa waktu lalu.

Meski tak terlalu diminati, sejak 2004 pemerintah Singapura memasukkan silat sebagai core identified sport atau cabang olahraga utama, yang disejajarkan dengan atletik, bulu tangkis, boling, sepak bola, layar, renang, polo air, dan tenis meja.

Artinya, silat kini telah menjadi satu dari tujuh cabang olahraga yang diprioritaskan di Singapura dalam pembinaan dan pendanaan. Usaha tersebut nyatanya membuahkan hasil.

Tengok saja dalam kejuaraan dunia pencak silat di Malaysia pada November lalu. Kontingen Singapura berhasil memboyong tiga medali emas, bandingkan dengan Indonesia yang hanya memperoleh dua emas.

Di arena SEA Games, Singapura memang hanya kebagian satu emas. Tapi Sheik Alau'ddin punya alasan. Menurut dia, tidak semua pesilat andalan bisa diturunkan. Dari 13 pesilat yang tampil semuanya adalah wajah baru.

Adanya stigma bahwa silat hanya bagi orang Melayu membuat warga Singapura etnis non-Melayu tak tertarik mempelajarinya. Tercatat dari sekitar 15 ribu warga yang belajar pencak silat, hanya sekitar 200 orang yang berasal dari etnis non-Melayu, seperti India, Arab, dan Cina.

Ini yang terjadi di Singapura. Orang Melayu atau Islam belajar silat. Warga Cina belajar wushu dan seterusnya, kata Sheik Alau'ddin. Bagaimana bisa berkembang kalau yang tertarik belajar hanya etnis Melayu yang jumlahnya tidak banyak.

Inilah wajah Singapura. Sebuah negara multietnis dengan keturunan Cina menjadi mayoritas, 75.2 persen dari populasi, Melayu 13,6 persen, India 8,8 persen, sedangkan sisanya 2,4 persen berasal dari Eropa dan etnis lain.

Negara itu beberapa kali mengalami konflik etnis, ras, dan agama. Setidaknya ada dua konflik etnis besar yang memakan korban jiwa, yakni kerusuhan etnis Maria Hertogh pada 1948 antara penduduk Melayu/Islam dengan warga Eropa/Kristen. Kerusuhan kedua terbesar adalah konflik Cina-Melayu, yang terjadi pada 1964.

Puluhan tahun berlalu, segregasi etnis nyatanya masih tetap ada. Bahasa resmi mereka adalah Melayu dan Inggris. Lihat saja lagu kebangsaan Majulah Singapura, yang tetap dinyanyikan dalam bahasa Melayu.

Tapi sehari-hari warga menggunakan bahasa asal etnis mereka masing-masing, termasuk Mandarin dan Tamil. Untung saja ada bahasa Inggris yang diadaptasi secara lokal, yang disebut Singapore English (Singlish), yang paling luas digunakan.

Masih adanya segregasi etnis dan persepsi bahwa silat berorientasi mistik hanya untuk muslim dan etnis Melayu, menjadi pekerjaan rumah yang cukup berat bagi Persisi dalam memasyarakatkan pencak silat.

Dibentuk pada 1976, Persisi menjalin kerja sama erat dengan Persekutuan Silat Antarbangsa (Persilat) membentuk silat sebagai murni olahraga beladiri yang kompetitif.

Kami telah mengoreksi semua aspek yang berkaitan dengan agama dan sistem kepercayaan tertentu sehingga membentuk silat modern yang siap menjadi olahraga global, yang bisa dipelajari semua orang, tutur Sheik Alau'ddin.

Aslinya, semua beladiri melibatkan pemahaman dari sistem kepercayaan tertentu. Beladiri Jepang dan Cina, misalnya, terkait erat dengan kepercayaan Zen, Tao, dan agama Buddha. Karena asalnya dari Indonesia, yang mayoritas adalah muslim, maka sistem kepercayaan itu juga terpantul dalam pencak silat.

Tapi sebenarnya pencak silat adalah sistem beladiri yang universal dan tidak hanya dikhususkan pada mereka yang beragama Islam. Di Amerika Serikat dan Eropa, praktisi silat berdoa sesuai dengan agama mereka masing-masing.

Salah satu strategi, Persisi telah mencetak material brosur dan poster tidak dalam bahasa Melayu, tapi dalam bahasa Inggris sejak 10 tahun lalu. Dari 103 community center di Singapura, hampir 95 persen membuka pelatihan silat.

Tidak cuma itu, saat ini 70 persen sekolah di Singapura juga mengajarkan pencak silat sebagai ektrakurikuler tetap lewat program Silat Goes to School. Silat juga dimasukkan sebagai kurikulum sekolah olahraga Singapura.

Sebagai sarana pembinaan dan pencarian bibit unggul dari seluruh aktivitas itu, setiap tahunnya Persisi rutin menggelar kompetisi silat berbagai usia dan kalangan. Ada program pembinaan dan kompetisi Singa Silat dan Singa Cub untuk bocah 3-11 tahun.

Sejak dini mereka telah dilatih Singapore Silat Centre of Excellence untuk kategori seni dan tanding. Mereka bahkan dikirim untuk beruji coba ke Malaysia dan Indonesia dua kali setahun untuk memberikan pengalaman.

Selain itu, masih ada kejuaraan nasional untuk berbagai kategori usia mulai dari prajunior (12-14 tahun), junior (14-17 tahun), dan senior (17 tahun ke atas). Untuk tingkat nasional ada kejuaraan Singapura Terbuka yang diikuti oleh negara lain.

Untuk level perguruan tinggi ada kejuaraan Inter-varsity yang diikuti berbagai perguruan tinggi, seperti National University of Singapore, Nanyang Technological University, Singapore Polytechnic, dan Republic Polytechnic.

Dengan seluruh aktivitas tersebut, diharapkan akan lebih banyak warga Singapura non-Melayu yang belajar pencak silat. Seorang pesilat wanita keturunan Cina yang ditemui Tempo mengaku stigma terhadap silat tetap ada di kalangan warga non-Melayu.

Stigma tersebut membuat pesilat non-Melayu tidak mendapatkan dukungan yang besar dari keluarga, seperti halnya bila mereka memilih menekuni olahraga renang atau wushu.

Salah satu cara untuk memikat anak-anak muda adalah pemberian beasiswa pendidikan bagi yang berhasil merebut medali dalam kejuaraan internasional. Hal ini juga yang membuat Persisi meluncurkan program Silat Goes Global.

Hal ini dilakukan agar silat mendapat dukungan luas untuk bisa dipertandingkan di Asian Games atau Olimpiade. Dengan demikian anak-anak muda lebih termotivasi karena memiliki kesempatan mengharumkan nama bangsa di ajang multi-event besar.
Oleh : AMAL IHSAN (SINGAPURA)

www.silatindonesia.com


Related Tags :