Entong Gendut – Pendekar Condet.

    [
in English ]

Sep 3rd, 2008 | By | Category: Figure Pesilat [ in English ]

(Oleh Aksara Kauniyah)
Inilah Condet, cerita dari dasawarsa pertama Abad 20 lampau. Bukan legenda, bukan pula mitos. Laiknya dusun, masa lalu Condet juga sejarah sudut kota yang sunyi. Masih banyak rawa, juga pohon-pohon besar yang menjelma jadi setengah hutan. Belum ada polusi mikrolet, atau metromini, yang menghubungkan Cililitan ke Pasar Minggu. Cuma dokar, yang ampasnya malah bermanfaat jadi pupuk separuh natur. Dan waktu berjalan terlalu damai.

Damai? Sungguhkah? Tidak juga, ternyata. Syahdan–menurut yang empunya cerita, hidup tuan tanah yang dikenal tamak. Ia dibenci, sekaligus ditakuti. Tak ada yang berani. Di belakangnya berdiri wedana dan mantri polisi–akrab pula dengan Belanda yang melihat pribumi dengan mata setengah jijik.

Condet yang tenang itu akhirnya digedor. Ada nama yang tersohor seantero kampung, setelah warga ramai-ramai diajak menggebuk. Mulanya si tuan tanah, lama-lama Belanda pun diajak tempur. Entong Gendut. Dia bukan pemain lenong. Melainkan, dialah tokoh Betawi asal Condet yang legendaris itu. Adakah dia betul-betul gendut? Tidak ada yang bisa memastikan. Namun yang pasti, lelaki itu punya nyali kelewat melimpah.

*****
Pebruari 1916. Tuan tanah menang perkara dari seorang petani renta. Ia wajib membayar 7,2 gulden, ditambah ongkos perkara–itu keputusan landrad di Meester Cornelis. Karena memang tak punya uang, Pak Taba, petani itu, tak bisa bayar. Tuan tanah marah, menyita semua milik Pak Taba. Di Kebon Jaimin sebelah utara, eksekusi dilakukan terbuka. Banyak tetangga datang–berteriak marah dengan kerongkongan tercekik, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Entong Gendut, ikut hadir di situ sambil menggertak geraham. Ia menggigit bibir, tangannya terkepal. Itu bukan kejadian pertama. Mulanya dia memilih diam, tapi sejak tragedi Pak Taba, Entong Gendut mulai membangkang.

Kali berikutnya, insiden kedua di pelataran Villa Nova, Cililitan Besar. Ada pertunjukan Tari Topeng dipentaskan, mulainya pukul 11 malam. Umumnya pagelaran, bukan sekadar tarian yang ditampilkan. Ada judi, juga pelacuran. Sejak sore suasana jadi tegang. Mobil tuan tanah dilempari batu waktu berangkat dari Tanjung Oost. Ketika gendang mulai ditabuh, segerombolan orang bersabuk sarung berpeci hitam, datang melabrak. Mereka minta supaya acara dibubarkan. “Ini perintahnya Entong Gendut!” begitu mereka berteriak, lantang. Warga patuh, bubar, dan pulang dengan tenang.

Celakanya, wedana uring-uringan. Dia utus mantri polisi dan demang ke Batu Ampar buat membekuk Entong Gendut. Begitu tiba, sudah berdiri jawara-jawara Betawi di depan rumah, ikut bergabung dalam barisan Entong Gendut. Ada Haji Amat Awab dan Maliki di situ. Saat ditanya mengapa ia berani menghentikan pertunjukan Tari Topeng, ia menjawab lugas, “Demi Agama!” Dengan cara yang serba lepas ia coba jelaskan tentang rakyat yang miskin akibat diperas, tapi terperangkap dalam judi dan pelacuran.

Mantri polisi dan demang menganggap Entong Gendut lancang, sudah keterlaluan. Namun mereka tak berani meski sekompi pasukan dengan senjata lengkap ikut dibawa. Lagi pula Entong Gendut sepertinya sudah siap. Sambil menghunus sebilah golok ia mengancam, “Aye gedruk nih tanah, maka nih tanah bakalan jadi laut!” Tanpa dikomando, dari semak-semak bermunculan jawara-jawara lain yang sebelumnya tak nampak.

Wedana gundah, turun tangan langsung mengepung rumah Entong Gendut di hari-hari berikut. Wedana berteriak, menyuruh Entong Gendut supaya keluar. “Aye bakalan keluar setelah sembahyang barang sebentar!” Entong Gendut menyahut dari dalam. Dan ia pun keluar, bersama tombak, sebilah golok, dan bendera merah dihiasi bulan sabit putih. Ia tidak tunduk pada apapun, juga Belanda. “Aye cuma tunduk sama Allah!” tegasnya, garang.

“SabiliLlah! Aye ‘gak takut!” dan pertempuran tak terhindar. Wedana berhasil ditangkap rakyat. Sementara Entong Gendut dijemput malaikat menghadap Allah. Entong Gendut syahid di ujung bedil kompeni.

Source : infocondet.com



Artikel Entong Gendut – Pendekar Condet yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


    - Powered by BING [2014-02-03 00:06]

    Leave Comment

    You must be logged in to post a comment.

    Entong Gendut – Pendekar Condet - Silat Indonesia

    Entong Gendut – Pendekar Condet.

        [
    in English ]

    Sep 3rd, 2008 | By | Category: Figure Pesilat [ in English ]

    (Oleh Aksara Kauniyah)
    Inilah Condet, cerita dari dasawarsa pertama Abad 20 lampau. Bukan legenda, bukan pula mitos. Laiknya dusun, masa lalu Condet juga sejarah sudut kota yang sunyi. Masih banyak rawa, juga pohon-pohon besar yang menjelma jadi setengah hutan. Belum ada polusi mikrolet, atau metromini, yang menghubungkan Cililitan ke Pasar Minggu. Cuma dokar, yang ampasnya malah bermanfaat jadi pupuk separuh natur. Dan waktu berjalan terlalu damai.

    Damai? Sungguhkah? Tidak juga, ternyata. Syahdan–menurut yang empunya cerita, hidup tuan tanah yang dikenal tamak. Ia dibenci, sekaligus ditakuti. Tak ada yang berani. Di belakangnya berdiri wedana dan mantri polisi–akrab pula dengan Belanda yang melihat pribumi dengan mata setengah jijik.

    Condet yang tenang itu akhirnya digedor. Ada nama yang tersohor seantero kampung, setelah warga ramai-ramai diajak menggebuk. Mulanya si tuan tanah, lama-lama Belanda pun diajak tempur. Entong Gendut. Dia bukan pemain lenong. Melainkan, dialah tokoh Betawi asal Condet yang legendaris itu. Adakah dia betul-betul gendut? Tidak ada yang bisa memastikan. Namun yang pasti, lelaki itu punya nyali kelewat melimpah.

    *****
    Pebruari 1916. Tuan tanah menang perkara dari seorang petani renta. Ia wajib membayar 7,2 gulden, ditambah ongkos perkara–itu keputusan landrad di Meester Cornelis. Karena memang tak punya uang, Pak Taba, petani itu, tak bisa bayar. Tuan tanah marah, menyita semua milik Pak Taba. Di Kebon Jaimin sebelah utara, eksekusi dilakukan terbuka. Banyak tetangga datang–berteriak marah dengan kerongkongan tercekik, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Entong Gendut, ikut hadir di situ sambil menggertak geraham. Ia menggigit bibir, tangannya terkepal. Itu bukan kejadian pertama. Mulanya dia memilih diam, tapi sejak tragedi Pak Taba, Entong Gendut mulai membangkang.

    Kali berikutnya, insiden kedua di pelataran Villa Nova, Cililitan Besar. Ada pertunjukan Tari Topeng dipentaskan, mulainya pukul 11 malam. Umumnya pagelaran, bukan sekadar tarian yang ditampilkan. Ada judi, juga pelacuran. Sejak sore suasana jadi tegang. Mobil tuan tanah dilempari batu waktu berangkat dari Tanjung Oost. Ketika gendang mulai ditabuh, segerombolan orang bersabuk sarung berpeci hitam, datang melabrak. Mereka minta supaya acara dibubarkan. “Ini perintahnya Entong Gendut!” begitu mereka berteriak, lantang. Warga patuh, bubar, dan pulang dengan tenang.

    Celakanya, wedana uring-uringan. Dia utus mantri polisi dan demang ke Batu Ampar buat membekuk Entong Gendut. Begitu tiba, sudah berdiri jawara-jawara Betawi di depan rumah, ikut bergabung dalam barisan Entong Gendut. Ada Haji Amat Awab dan Maliki di situ. Saat ditanya mengapa ia berani menghentikan pertunjukan Tari Topeng, ia menjawab lugas, “Demi Agama!” Dengan cara yang serba lepas ia coba jelaskan tentang rakyat yang miskin akibat diperas, tapi terperangkap dalam judi dan pelacuran.

    Mantri polisi dan demang menganggap Entong Gendut lancang, sudah keterlaluan. Namun mereka tak berani meski sekompi pasukan dengan senjata lengkap ikut dibawa. Lagi pula Entong Gendut sepertinya sudah siap. Sambil menghunus sebilah golok ia mengancam, “Aye gedruk nih tanah, maka nih tanah bakalan jadi laut!” Tanpa dikomando, dari semak-semak bermunculan jawara-jawara lain yang sebelumnya tak nampak.

    Wedana gundah, turun tangan langsung mengepung rumah Entong Gendut di hari-hari berikut. Wedana berteriak, menyuruh Entong Gendut supaya keluar. “Aye bakalan keluar setelah sembahyang barang sebentar!” Entong Gendut menyahut dari dalam. Dan ia pun keluar, bersama tombak, sebilah golok, dan bendera merah dihiasi bulan sabit putih. Ia tidak tunduk pada apapun, juga Belanda. “Aye cuma tunduk sama Allah!” tegasnya, garang.

    “SabiliLlah! Aye ‘gak takut!” dan pertempuran tak terhindar. Wedana berhasil ditangkap rakyat. Sementara Entong Gendut dijemput malaikat menghadap Allah. Entong Gendut syahid di ujung bedil kompeni.

    Source : infocondet.com



    Artikel Entong Gendut – Pendekar Condet yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


      - Powered by BING [2014-02-11 04:16]

      Leave Comment

      You must be logged in to post a comment.

      Entong Gendut – Pendekar Condet - Silat Indonesia

      Entong Gendut – Pendekar Condet.

          [
      in English ]

      Sep 3rd, 2008 | By | Category: Figure Pesilat [ in English ]

      (Oleh Aksara Kauniyah)
      Inilah Condet, cerita dari dasawarsa pertama Abad 20 lampau. Bukan legenda, bukan pula mitos. Laiknya dusun, masa lalu Condet juga sejarah sudut kota yang sunyi. Masih banyak rawa, juga pohon-pohon besar yang menjelma jadi setengah hutan. Belum ada polusi mikrolet, atau metromini, yang menghubungkan Cililitan ke Pasar Minggu. Cuma dokar, yang ampasnya malah bermanfaat jadi pupuk separuh natur. Dan waktu berjalan terlalu damai.

      Damai? Sungguhkah? Tidak juga, ternyata. Syahdan–menurut yang empunya cerita, hidup tuan tanah yang dikenal tamak. Ia dibenci, sekaligus ditakuti. Tak ada yang berani. Di belakangnya berdiri wedana dan mantri polisi–akrab pula dengan Belanda yang melihat pribumi dengan mata setengah jijik.

      Condet yang tenang itu akhirnya digedor. Ada nama yang tersohor seantero kampung, setelah warga ramai-ramai diajak menggebuk. Mulanya si tuan tanah, lama-lama Belanda pun diajak tempur. Entong Gendut. Dia bukan pemain lenong. Melainkan, dialah tokoh Betawi asal Condet yang legendaris itu. Adakah dia betul-betul gendut? Tidak ada yang bisa memastikan. Namun yang pasti, lelaki itu punya nyali kelewat melimpah.

      *****
      Pebruari 1916. Tuan tanah menang perkara dari seorang petani renta. Ia wajib membayar 7,2 gulden, ditambah ongkos perkara–itu keputusan landrad di Meester Cornelis. Karena memang tak punya uang, Pak Taba, petani itu, tak bisa bayar. Tuan tanah marah, menyita semua milik Pak Taba. Di Kebon Jaimin sebelah utara, eksekusi dilakukan terbuka. Banyak tetangga datang–berteriak marah dengan kerongkongan tercekik, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Entong Gendut, ikut hadir di situ sambil menggertak geraham. Ia menggigit bibir, tangannya terkepal. Itu bukan kejadian pertama. Mulanya dia memilih diam, tapi sejak tragedi Pak Taba, Entong Gendut mulai membangkang.

      Kali berikutnya, insiden kedua di pelataran Villa Nova, Cililitan Besar. Ada pertunjukan Tari Topeng dipentaskan, mulainya pukul 11 malam. Umumnya pagelaran, bukan sekadar tarian yang ditampilkan. Ada judi, juga pelacuran. Sejak sore suasana jadi tegang. Mobil tuan tanah dilempari batu waktu berangkat dari Tanjung Oost. Ketika gendang mulai ditabuh, segerombolan orang bersabuk sarung berpeci hitam, datang melabrak. Mereka minta supaya acara dibubarkan. “Ini perintahnya Entong Gendut!” begitu mereka berteriak, lantang. Warga patuh, bubar, dan pulang dengan tenang.

      Celakanya, wedana uring-uringan. Dia utus mantri polisi dan demang ke Batu Ampar buat membekuk Entong Gendut. Begitu tiba, sudah berdiri jawara-jawara Betawi di depan rumah, ikut bergabung dalam barisan Entong Gendut. Ada Haji Amat Awab dan Maliki di situ. Saat ditanya mengapa ia berani menghentikan pertunjukan Tari Topeng, ia menjawab lugas, “Demi Agama!” Dengan cara yang serba lepas ia coba jelaskan tentang rakyat yang miskin akibat diperas, tapi terperangkap dalam judi dan pelacuran.

      Mantri polisi dan demang menganggap Entong Gendut lancang, sudah keterlaluan. Namun mereka tak berani meski sekompi pasukan dengan senjata lengkap ikut dibawa. Lagi pula Entong Gendut sepertinya sudah siap. Sambil menghunus sebilah golok ia mengancam, “Aye gedruk nih tanah, maka nih tanah bakalan jadi laut!” Tanpa dikomando, dari semak-semak bermunculan jawara-jawara lain yang sebelumnya tak nampak.

      Wedana gundah, turun tangan langsung mengepung rumah Entong Gendut di hari-hari berikut. Wedana berteriak, menyuruh Entong Gendut supaya keluar. “Aye bakalan keluar setelah sembahyang barang sebentar!” Entong Gendut menyahut dari dalam. Dan ia pun keluar, bersama tombak, sebilah golok, dan bendera merah dihiasi bulan sabit putih. Ia tidak tunduk pada apapun, juga Belanda. “Aye cuma tunduk sama Allah!” tegasnya, garang.

      “SabiliLlah! Aye ‘gak takut!” dan pertempuran tak terhindar. Wedana berhasil ditangkap rakyat. Sementara Entong Gendut dijemput malaikat menghadap Allah. Entong Gendut syahid di ujung bedil kompeni.

      Source : infocondet.com



      Artikel Entong Gendut – Pendekar Condet yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


        - Powered by BING [2014-02-15 12:01]

        Leave Comment

        You must be logged in to post a comment.

        Entong Gendut – Pendekar Condet - Silat Indonesia

        Entong Gendut – Pendekar Condet.

            [
        in English ]

        Sep 3rd, 2008 | By | Category: Figure Pesilat [ in English ]

        (Oleh Aksara Kauniyah)
        Inilah Condet, cerita dari dasawarsa pertama Abad 20 lampau. Bukan legenda, bukan pula mitos. Laiknya dusun, masa lalu Condet juga sejarah sudut kota yang sunyi. Masih banyak rawa, juga pohon-pohon besar yang menjelma jadi setengah hutan. Belum ada polusi mikrolet, atau metromini, yang menghubungkan Cililitan ke Pasar Minggu. Cuma dokar, yang ampasnya malah bermanfaat jadi pupuk separuh natur. Dan waktu berjalan terlalu damai.

        Damai? Sungguhkah? Tidak juga, ternyata. Syahdan–menurut yang empunya cerita, hidup tuan tanah yang dikenal tamak. Ia dibenci, sekaligus ditakuti. Tak ada yang berani. Di belakangnya berdiri wedana dan mantri polisi–akrab pula dengan Belanda yang melihat pribumi dengan mata setengah jijik.

        Condet yang tenang itu akhirnya digedor. Ada nama yang tersohor seantero kampung, setelah warga ramai-ramai diajak menggebuk. Mulanya si tuan tanah, lama-lama Belanda pun diajak tempur. Entong Gendut. Dia bukan pemain lenong. Melainkan, dialah tokoh Betawi asal Condet yang legendaris itu. Adakah dia betul-betul gendut? Tidak ada yang bisa memastikan. Namun yang pasti, lelaki itu punya nyali kelewat melimpah.

        *****
        Pebruari 1916. Tuan tanah menang perkara dari seorang petani renta. Ia wajib membayar 7,2 gulden, ditambah ongkos perkara–itu keputusan landrad di Meester Cornelis. Karena memang tak punya uang, Pak Taba, petani itu, tak bisa bayar. Tuan tanah marah, menyita semua milik Pak Taba. Di Kebon Jaimin sebelah utara, eksekusi dilakukan terbuka. Banyak tetangga datang–berteriak marah dengan kerongkongan tercekik, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Entong Gendut, ikut hadir di situ sambil menggertak geraham. Ia menggigit bibir, tangannya terkepal. Itu bukan kejadian pertama. Mulanya dia memilih diam, tapi sejak tragedi Pak Taba, Entong Gendut mulai membangkang.

        Kali berikutnya, insiden kedua di pelataran Villa Nova, Cililitan Besar. Ada pertunjukan Tari Topeng dipentaskan, mulainya pukul 11 malam. Umumnya pagelaran, bukan sekadar tarian yang ditampilkan. Ada judi, juga pelacuran. Sejak sore suasana jadi tegang. Mobil tuan tanah dilempari batu waktu berangkat dari Tanjung Oost. Ketika gendang mulai ditabuh, segerombolan orang bersabuk sarung berpeci hitam, datang melabrak. Mereka minta supaya acara dibubarkan. “Ini perintahnya Entong Gendut!” begitu mereka berteriak, lantang. Warga patuh, bubar, dan pulang dengan tenang.

        Celakanya, wedana uring-uringan. Dia utus mantri polisi dan demang ke Batu Ampar buat membekuk Entong Gendut. Begitu tiba, sudah berdiri jawara-jawara Betawi di depan rumah, ikut bergabung dalam barisan Entong Gendut. Ada Haji Amat Awab dan Maliki di situ. Saat ditanya mengapa ia berani menghentikan pertunjukan Tari Topeng, ia menjawab lugas, “Demi Agama!” Dengan cara yang serba lepas ia coba jelaskan tentang rakyat yang miskin akibat diperas, tapi terperangkap dalam judi dan pelacuran.

        Mantri polisi dan demang menganggap Entong Gendut lancang, sudah keterlaluan. Namun mereka tak berani meski sekompi pasukan dengan senjata lengkap ikut dibawa. Lagi pula Entong Gendut sepertinya sudah siap. Sambil menghunus sebilah golok ia mengancam, “Aye gedruk nih tanah, maka nih tanah bakalan jadi laut!” Tanpa dikomando, dari semak-semak bermunculan jawara-jawara lain yang sebelumnya tak nampak.

        Wedana gundah, turun tangan langsung mengepung rumah Entong Gendut di hari-hari berikut. Wedana berteriak, menyuruh Entong Gendut supaya keluar. “Aye bakalan keluar setelah sembahyang barang sebentar!” Entong Gendut menyahut dari dalam. Dan ia pun keluar, bersama tombak, sebilah golok, dan bendera merah dihiasi bulan sabit putih. Ia tidak tunduk pada apapun, juga Belanda. “Aye cuma tunduk sama Allah!” tegasnya, garang.

        “SabiliLlah! Aye ‘gak takut!” dan pertempuran tak terhindar. Wedana berhasil ditangkap rakyat. Sementara Entong Gendut dijemput malaikat menghadap Allah. Entong Gendut syahid di ujung bedil kompeni.

        Source : infocondet.com



        Artikel Entong Gendut – Pendekar Condet yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


          - Powered by BING [2014-02-21 15:21]

          Leave Comment

          You must be logged in to post a comment.

          Entong Gendut – Pendekar Condet - Silat Indonesia

          Entong Gendut – Pendekar Condet.

              [
          in English ]

          Sep 3rd, 2008 | By | Category: Figure Pesilat [ in English ]

          (Oleh Aksara Kauniyah)
          Inilah Condet, cerita dari dasawarsa pertama Abad 20 lampau. Bukan legenda, bukan pula mitos. Laiknya dusun, masa lalu Condet juga sejarah sudut kota yang sunyi. Masih banyak rawa, juga pohon-pohon besar yang menjelma jadi setengah hutan. Belum ada polusi mikrolet, atau metromini, yang menghubungkan Cililitan ke Pasar Minggu. Cuma dokar, yang ampasnya malah bermanfaat jadi pupuk separuh natur. Dan waktu berjalan terlalu damai.

          Damai? Sungguhkah? Tidak juga, ternyata. Syahdan–menurut yang empunya cerita, hidup tuan tanah yang dikenal tamak. Ia dibenci, sekaligus ditakuti. Tak ada yang berani. Di belakangnya berdiri wedana dan mantri polisi–akrab pula dengan Belanda yang melihat pribumi dengan mata setengah jijik.

          Condet yang tenang itu akhirnya digedor. Ada nama yang tersohor seantero kampung, setelah warga ramai-ramai diajak menggebuk. Mulanya si tuan tanah, lama-lama Belanda pun diajak tempur. Entong Gendut. Dia bukan pemain lenong. Melainkan, dialah tokoh Betawi asal Condet yang legendaris itu. Adakah dia betul-betul gendut? Tidak ada yang bisa memastikan. Namun yang pasti, lelaki itu punya nyali kelewat melimpah.

          *****
          Pebruari 1916. Tuan tanah menang perkara dari seorang petani renta. Ia wajib membayar 7,2 gulden, ditambah ongkos perkara–itu keputusan landrad di Meester Cornelis. Karena memang tak punya uang, Pak Taba, petani itu, tak bisa bayar. Tuan tanah marah, menyita semua milik Pak Taba. Di Kebon Jaimin sebelah utara, eksekusi dilakukan terbuka. Banyak tetangga datang–berteriak marah dengan kerongkongan tercekik, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Entong Gendut, ikut hadir di situ sambil menggertak geraham. Ia menggigit bibir, tangannya terkepal. Itu bukan kejadian pertama. Mulanya dia memilih diam, tapi sejak tragedi Pak Taba, Entong Gendut mulai membangkang.

          Kali berikutnya, insiden kedua di pelataran Villa Nova, Cililitan Besar. Ada pertunjukan Tari Topeng dipentaskan, mulainya pukul 11 malam. Umumnya pagelaran, bukan sekadar tarian yang ditampilkan. Ada judi, juga pelacuran. Sejak sore suasana jadi tegang. Mobil tuan tanah dilempari batu waktu berangkat dari Tanjung Oost. Ketika gendang mulai ditabuh, segerombolan orang bersabuk sarung berpeci hitam, datang melabrak. Mereka minta supaya acara dibubarkan. “Ini perintahnya Entong Gendut!” begitu mereka berteriak, lantang. Warga patuh, bubar, dan pulang dengan tenang.

          Celakanya, wedana uring-uringan. Dia utus mantri polisi dan demang ke Batu Ampar buat membekuk Entong Gendut. Begitu tiba, sudah berdiri jawara-jawara Betawi di depan rumah, ikut bergabung dalam barisan Entong Gendut. Ada Haji Amat Awab dan Maliki di situ. Saat ditanya mengapa ia berani menghentikan pertunjukan Tari Topeng, ia menjawab lugas, “Demi Agama!” Dengan cara yang serba lepas ia coba jelaskan tentang rakyat yang miskin akibat diperas, tapi terperangkap dalam judi dan pelacuran.

          Mantri polisi dan demang menganggap Entong Gendut lancang, sudah keterlaluan. Namun mereka tak berani meski sekompi pasukan dengan senjata lengkap ikut dibawa. Lagi pula Entong Gendut sepertinya sudah siap. Sambil menghunus sebilah golok ia mengancam, “Aye gedruk nih tanah, maka nih tanah bakalan jadi laut!” Tanpa dikomando, dari semak-semak bermunculan jawara-jawara lain yang sebelumnya tak nampak.

          Wedana gundah, turun tangan langsung mengepung rumah Entong Gendut di hari-hari berikut. Wedana berteriak, menyuruh Entong Gendut supaya keluar. “Aye bakalan keluar setelah sembahyang barang sebentar!” Entong Gendut menyahut dari dalam. Dan ia pun keluar, bersama tombak, sebilah golok, dan bendera merah dihiasi bulan sabit putih. Ia tidak tunduk pada apapun, juga Belanda. “Aye cuma tunduk sama Allah!” tegasnya, garang.

          “SabiliLlah! Aye ‘gak takut!” dan pertempuran tak terhindar. Wedana berhasil ditangkap rakyat. Sementara Entong Gendut dijemput malaikat menghadap Allah. Entong Gendut syahid di ujung bedil kompeni.

          Source : infocondet.com



          Artikel Entong Gendut – Pendekar Condet yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


            - Powered by BING [2014-02-27 13:39]

            Leave Comment

            You must be logged in to post a comment.

            Entong Gendut – Pendekar Condet - Silat Indonesia

            Entong Gendut – Pendekar Condet.

                [
            in English ]

            Sep 3rd, 2008 | By | Category: Figure Pesilat [ in English ]

            (Oleh Aksara Kauniyah)
            Inilah Condet, cerita dari dasawarsa pertama Abad 20 lampau. Bukan legenda, bukan pula mitos. Laiknya dusun, masa lalu Condet juga sejarah sudut kota yang sunyi. Masih banyak rawa, juga pohon-pohon besar yang menjelma jadi setengah hutan. Belum ada polusi mikrolet, atau metromini, yang menghubungkan Cililitan ke Pasar Minggu. Cuma dokar, yang ampasnya malah bermanfaat jadi pupuk separuh natur. Dan waktu berjalan terlalu damai.

            Damai? Sungguhkah? Tidak juga, ternyata. Syahdan–menurut yang empunya cerita, hidup tuan tanah yang dikenal tamak. Ia dibenci, sekaligus ditakuti. Tak ada yang berani. Di belakangnya berdiri wedana dan mantri polisi–akrab pula dengan Belanda yang melihat pribumi dengan mata setengah jijik.

            Condet yang tenang itu akhirnya digedor. Ada nama yang tersohor seantero kampung, setelah warga ramai-ramai diajak menggebuk. Mulanya si tuan tanah, lama-lama Belanda pun diajak tempur. Entong Gendut. Dia bukan pemain lenong. Melainkan, dialah tokoh Betawi asal Condet yang legendaris itu. Adakah dia betul-betul gendut? Tidak ada yang bisa memastikan. Namun yang pasti, lelaki itu punya nyali kelewat melimpah.

            *****
            Pebruari 1916. Tuan tanah menang perkara dari seorang petani renta. Ia wajib membayar 7,2 gulden, ditambah ongkos perkara–itu keputusan landrad di Meester Cornelis. Karena memang tak punya uang, Pak Taba, petani itu, tak bisa bayar. Tuan tanah marah, menyita semua milik Pak Taba. Di Kebon Jaimin sebelah utara, eksekusi dilakukan terbuka. Banyak tetangga datang–berteriak marah dengan kerongkongan tercekik, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Entong Gendut, ikut hadir di situ sambil menggertak geraham. Ia menggigit bibir, tangannya terkepal. Itu bukan kejadian pertama. Mulanya dia memilih diam, tapi sejak tragedi Pak Taba, Entong Gendut mulai membangkang.

            Kali berikutnya, insiden kedua di pelataran Villa Nova, Cililitan Besar. Ada pertunjukan Tari Topeng dipentaskan, mulainya pukul 11 malam. Umumnya pagelaran, bukan sekadar tarian yang ditampilkan. Ada judi, juga pelacuran. Sejak sore suasana jadi tegang. Mobil tuan tanah dilempari batu waktu berangkat dari Tanjung Oost. Ketika gendang mulai ditabuh, segerombolan orang bersabuk sarung berpeci hitam, datang melabrak. Mereka minta supaya acara dibubarkan. “Ini perintahnya Entong Gendut!” begitu mereka berteriak, lantang. Warga patuh, bubar, dan pulang dengan tenang.

            Celakanya, wedana uring-uringan. Dia utus mantri polisi dan demang ke Batu Ampar buat membekuk Entong Gendut. Begitu tiba, sudah berdiri jawara-jawara Betawi di depan rumah, ikut bergabung dalam barisan Entong Gendut. Ada Haji Amat Awab dan Maliki di situ. Saat ditanya mengapa ia berani menghentikan pertunjukan Tari Topeng, ia menjawab lugas, “Demi Agama!” Dengan cara yang serba lepas ia coba jelaskan tentang rakyat yang miskin akibat diperas, tapi terperangkap dalam judi dan pelacuran.

            Mantri polisi dan demang menganggap Entong Gendut lancang, sudah keterlaluan. Namun mereka tak berani meski sekompi pasukan dengan senjata lengkap ikut dibawa. Lagi pula Entong Gendut sepertinya sudah siap. Sambil menghunus sebilah golok ia mengancam, “Aye gedruk nih tanah, maka nih tanah bakalan jadi laut!” Tanpa dikomando, dari semak-semak bermunculan jawara-jawara lain yang sebelumnya tak nampak.

            Wedana gundah, turun tangan langsung mengepung rumah Entong Gendut di hari-hari berikut. Wedana berteriak, menyuruh Entong Gendut supaya keluar. “Aye bakalan keluar setelah sembahyang barang sebentar!” Entong Gendut menyahut dari dalam. Dan ia pun keluar, bersama tombak, sebilah golok, dan bendera merah dihiasi bulan sabit putih. Ia tidak tunduk pada apapun, juga Belanda. “Aye cuma tunduk sama Allah!” tegasnya, garang.

            “SabiliLlah! Aye ‘gak takut!” dan pertempuran tak terhindar. Wedana berhasil ditangkap rakyat. Sementara Entong Gendut dijemput malaikat menghadap Allah. Entong Gendut syahid di ujung bedil kompeni.

            Source : infocondet.com



            Artikel Entong Gendut – Pendekar Condet yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


              - Powered by BING [2014-03-06 20:50]

              Leave Comment

              You must be logged in to post a comment.

              Entong Gendut – Pendekar Condet - Silat Indonesia

              Entong Gendut – Pendekar Condet.

                  [
              in English ]

              Sep 3rd, 2008 | By | Category: Figure Pesilat [ in English ]

              (Oleh Aksara Kauniyah)
              Inilah Condet, cerita dari dasawarsa pertama Abad 20 lampau. Bukan legenda, bukan pula mitos. Laiknya dusun, masa lalu Condet juga sejarah sudut kota yang sunyi. Masih banyak rawa, juga pohon-pohon besar yang menjelma jadi setengah hutan. Belum ada polusi mikrolet, atau metromini, yang menghubungkan Cililitan ke Pasar Minggu. Cuma dokar, yang ampasnya malah bermanfaat jadi pupuk separuh natur. Dan waktu berjalan terlalu damai.

              Damai? Sungguhkah? Tidak juga, ternyata. Syahdan–menurut yang empunya cerita, hidup tuan tanah yang dikenal tamak. Ia dibenci, sekaligus ditakuti. Tak ada yang berani. Di belakangnya berdiri wedana dan mantri polisi–akrab pula dengan Belanda yang melihat pribumi dengan mata setengah jijik.

              Condet yang tenang itu akhirnya digedor. Ada nama yang tersohor seantero kampung, setelah warga ramai-ramai diajak menggebuk. Mulanya si tuan tanah, lama-lama Belanda pun diajak tempur. Entong Gendut. Dia bukan pemain lenong. Melainkan, dialah tokoh Betawi asal Condet yang legendaris itu. Adakah dia betul-betul gendut? Tidak ada yang bisa memastikan. Namun yang pasti, lelaki itu punya nyali kelewat melimpah.

              *****
              Pebruari 1916. Tuan tanah menang perkara dari seorang petani renta. Ia wajib membayar 7,2 gulden, ditambah ongkos perkara–itu keputusan landrad di Meester Cornelis. Karena memang tak punya uang, Pak Taba, petani itu, tak bisa bayar. Tuan tanah marah, menyita semua milik Pak Taba. Di Kebon Jaimin sebelah utara, eksekusi dilakukan terbuka. Banyak tetangga datang–berteriak marah dengan kerongkongan tercekik, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Entong Gendut, ikut hadir di situ sambil menggertak geraham. Ia menggigit bibir, tangannya terkepal. Itu bukan kejadian pertama. Mulanya dia memilih diam, tapi sejak tragedi Pak Taba, Entong Gendut mulai membangkang.

              Kali berikutnya, insiden kedua di pelataran Villa Nova, Cililitan Besar. Ada pertunjukan Tari Topeng dipentaskan, mulainya pukul 11 malam. Umumnya pagelaran, bukan sekadar tarian yang ditampilkan. Ada judi, juga pelacuran. Sejak sore suasana jadi tegang. Mobil tuan tanah dilempari batu waktu berangkat dari Tanjung Oost. Ketika gendang mulai ditabuh, segerombolan orang bersabuk sarung berpeci hitam, datang melabrak. Mereka minta supaya acara dibubarkan. “Ini perintahnya Entong Gendut!” begitu mereka berteriak, lantang. Warga patuh, bubar, dan pulang dengan tenang.

              Celakanya, wedana uring-uringan. Dia utus mantri polisi dan demang ke Batu Ampar buat membekuk Entong Gendut. Begitu tiba, sudah berdiri jawara-jawara Betawi di depan rumah, ikut bergabung dalam barisan Entong Gendut. Ada Haji Amat Awab dan Maliki di situ. Saat ditanya mengapa ia berani menghentikan pertunjukan Tari Topeng, ia menjawab lugas, “Demi Agama!” Dengan cara yang serba lepas ia coba jelaskan tentang rakyat yang miskin akibat diperas, tapi terperangkap dalam judi dan pelacuran.

              Mantri polisi dan demang menganggap Entong Gendut lancang, sudah keterlaluan. Namun mereka tak berani meski sekompi pasukan dengan senjata lengkap ikut dibawa. Lagi pula Entong Gendut sepertinya sudah siap. Sambil menghunus sebilah golok ia mengancam, “Aye gedruk nih tanah, maka nih tanah bakalan jadi laut!” Tanpa dikomando, dari semak-semak bermunculan jawara-jawara lain yang sebelumnya tak nampak.

              Wedana gundah, turun tangan langsung mengepung rumah Entong Gendut di hari-hari berikut. Wedana berteriak, menyuruh Entong Gendut supaya keluar. “Aye bakalan keluar setelah sembahyang barang sebentar!” Entong Gendut menyahut dari dalam. Dan ia pun keluar, bersama tombak, sebilah golok, dan bendera merah dihiasi bulan sabit putih. Ia tidak tunduk pada apapun, juga Belanda. “Aye cuma tunduk sama Allah!” tegasnya, garang.

              “SabiliLlah! Aye ‘gak takut!” dan pertempuran tak terhindar. Wedana berhasil ditangkap rakyat. Sementara Entong Gendut dijemput malaikat menghadap Allah. Entong Gendut syahid di ujung bedil kompeni.

              Source : infocondet.com



              Artikel Entong Gendut – Pendekar Condet yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


                - Powered by BING [2014-03-12 18:15]

                Leave Comment

                You must be logged in to post a comment.

                Entong Gendut – Pendekar Condet - Silat Indonesia

                Entong Gendut – Pendekar Condet.

                    [
                in English ]

                Sep 3rd, 2008 | By | Category: Figure Pesilat [ in English ]

                (Oleh Aksara Kauniyah)
                Inilah Condet, cerita dari dasawarsa pertama Abad 20 lampau. Bukan legenda, bukan pula mitos. Laiknya dusun, masa lalu Condet juga sejarah sudut kota yang sunyi. Masih banyak rawa, juga pohon-pohon besar yang menjelma jadi setengah hutan. Belum ada polusi mikrolet, atau metromini, yang menghubungkan Cililitan ke Pasar Minggu. Cuma dokar, yang ampasnya malah bermanfaat jadi pupuk separuh natur. Dan waktu berjalan terlalu damai.

                Damai? Sungguhkah? Tidak juga, ternyata. Syahdan–menurut yang empunya cerita, hidup tuan tanah yang dikenal tamak. Ia dibenci, sekaligus ditakuti. Tak ada yang berani. Di belakangnya berdiri wedana dan mantri polisi–akrab pula dengan Belanda yang melihat pribumi dengan mata setengah jijik.

                Condet yang tenang itu akhirnya digedor. Ada nama yang tersohor seantero kampung, setelah warga ramai-ramai diajak menggebuk. Mulanya si tuan tanah, lama-lama Belanda pun diajak tempur. Entong Gendut. Dia bukan pemain lenong. Melainkan, dialah tokoh Betawi asal Condet yang legendaris itu. Adakah dia betul-betul gendut? Tidak ada yang bisa memastikan. Namun yang pasti, lelaki itu punya nyali kelewat melimpah.

                *****
                Pebruari 1916. Tuan tanah menang perkara dari seorang petani renta. Ia wajib membayar 7,2 gulden, ditambah ongkos perkara–itu keputusan landrad di Meester Cornelis. Karena memang tak punya uang, Pak Taba, petani itu, tak bisa bayar. Tuan tanah marah, menyita semua milik Pak Taba. Di Kebon Jaimin sebelah utara, eksekusi dilakukan terbuka. Banyak tetangga datang–berteriak marah dengan kerongkongan tercekik, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Entong Gendut, ikut hadir di situ sambil menggertak geraham. Ia menggigit bibir, tangannya terkepal. Itu bukan kejadian pertama. Mulanya dia memilih diam, tapi sejak tragedi Pak Taba, Entong Gendut mulai membangkang.

                Kali berikutnya, insiden kedua di pelataran Villa Nova, Cililitan Besar. Ada pertunjukan Tari Topeng dipentaskan, mulainya pukul 11 malam. Umumnya pagelaran, bukan sekadar tarian yang ditampilkan. Ada judi, juga pelacuran. Sejak sore suasana jadi tegang. Mobil tuan tanah dilempari batu waktu berangkat dari Tanjung Oost. Ketika gendang mulai ditabuh, segerombolan orang bersabuk sarung berpeci hitam, datang melabrak. Mereka minta supaya acara dibubarkan. “Ini perintahnya Entong Gendut!” begitu mereka berteriak, lantang. Warga patuh, bubar, dan pulang dengan tenang.

                Celakanya, wedana uring-uringan. Dia utus mantri polisi dan demang ke Batu Ampar buat membekuk Entong Gendut. Begitu tiba, sudah berdiri jawara-jawara Betawi di depan rumah, ikut bergabung dalam barisan Entong Gendut. Ada Haji Amat Awab dan Maliki di situ. Saat ditanya mengapa ia berani menghentikan pertunjukan Tari Topeng, ia menjawab lugas, “Demi Agama!” Dengan cara yang serba lepas ia coba jelaskan tentang rakyat yang miskin akibat diperas, tapi terperangkap dalam judi dan pelacuran.

                Mantri polisi dan demang menganggap Entong Gendut lancang, sudah keterlaluan. Namun mereka tak berani meski sekompi pasukan dengan senjata lengkap ikut dibawa. Lagi pula Entong Gendut sepertinya sudah siap. Sambil menghunus sebilah golok ia mengancam, “Aye gedruk nih tanah, maka nih tanah bakalan jadi laut!” Tanpa dikomando, dari semak-semak bermunculan jawara-jawara lain yang sebelumnya tak nampak.

                Wedana gundah, turun tangan langsung mengepung rumah Entong Gendut di hari-hari berikut. Wedana berteriak, menyuruh Entong Gendut supaya keluar. “Aye bakalan keluar setelah sembahyang barang sebentar!” Entong Gendut menyahut dari dalam. Dan ia pun keluar, bersama tombak, sebilah golok, dan bendera merah dihiasi bulan sabit putih. Ia tidak tunduk pada apapun, juga Belanda. “Aye cuma tunduk sama Allah!” tegasnya, garang.

                “SabiliLlah! Aye ‘gak takut!” dan pertempuran tak terhindar. Wedana berhasil ditangkap rakyat. Sementara Entong Gendut dijemput malaikat menghadap Allah. Entong Gendut syahid di ujung bedil kompeni.

                Source : infocondet.com



                Artikel Entong Gendut – Pendekar Condet yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


                  - Powered by BING [2014-03-16 11:53]

                  Leave Comment

                  You must be logged in to post a comment.

                  Entong Gendut – Pendekar Condet - Silat Indonesia

                  Entong Gendut – Pendekar Condet.

                      [
                  in English ]

                  Sep 3rd, 2008 | By | Category: Figure Pesilat [ in English ]

                  (Oleh Aksara Kauniyah)
                  Inilah Condet, cerita dari dasawarsa pertama Abad 20 lampau. Bukan legenda, bukan pula mitos. Laiknya dusun, masa lalu Condet juga sejarah sudut kota yang sunyi. Masih banyak rawa, juga pohon-pohon besar yang menjelma jadi setengah hutan. Belum ada polusi mikrolet, atau metromini, yang menghubungkan Cililitan ke Pasar Minggu. Cuma dokar, yang ampasnya malah bermanfaat jadi pupuk separuh natur. Dan waktu berjalan terlalu damai.

                  Damai? Sungguhkah? Tidak juga, ternyata. Syahdan–menurut yang empunya cerita, hidup tuan tanah yang dikenal tamak. Ia dibenci, sekaligus ditakuti. Tak ada yang berani. Di belakangnya berdiri wedana dan mantri polisi–akrab pula dengan Belanda yang melihat pribumi dengan mata setengah jijik.

                  Condet yang tenang itu akhirnya digedor. Ada nama yang tersohor seantero kampung, setelah warga ramai-ramai diajak menggebuk. Mulanya si tuan tanah, lama-lama Belanda pun diajak tempur. Entong Gendut. Dia bukan pemain lenong. Melainkan, dialah tokoh Betawi asal Condet yang legendaris itu. Adakah dia betul-betul gendut? Tidak ada yang bisa memastikan. Namun yang pasti, lelaki itu punya nyali kelewat melimpah.

                  *****
                  Pebruari 1916. Tuan tanah menang perkara dari seorang petani renta. Ia wajib membayar 7,2 gulden, ditambah ongkos perkara–itu keputusan landrad di Meester Cornelis. Karena memang tak punya uang, Pak Taba, petani itu, tak bisa bayar. Tuan tanah marah, menyita semua milik Pak Taba. Di Kebon Jaimin sebelah utara, eksekusi dilakukan terbuka. Banyak tetangga datang–berteriak marah dengan kerongkongan tercekik, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Entong Gendut, ikut hadir di situ sambil menggertak geraham. Ia menggigit bibir, tangannya terkepal. Itu bukan kejadian pertama. Mulanya dia memilih diam, tapi sejak tragedi Pak Taba, Entong Gendut mulai membangkang.

                  Kali berikutnya, insiden kedua di pelataran Villa Nova, Cililitan Besar. Ada pertunjukan Tari Topeng dipentaskan, mulainya pukul 11 malam. Umumnya pagelaran, bukan sekadar tarian yang ditampilkan. Ada judi, juga pelacuran. Sejak sore suasana jadi tegang. Mobil tuan tanah dilempari batu waktu berangkat dari Tanjung Oost. Ketika gendang mulai ditabuh, segerombolan orang bersabuk sarung berpeci hitam, datang melabrak. Mereka minta supaya acara dibubarkan. “Ini perintahnya Entong Gendut!” begitu mereka berteriak, lantang. Warga patuh, bubar, dan pulang dengan tenang.

                  Celakanya, wedana uring-uringan. Dia utus mantri polisi dan demang ke Batu Ampar buat membekuk Entong Gendut. Begitu tiba, sudah berdiri jawara-jawara Betawi di depan rumah, ikut bergabung dalam barisan Entong Gendut. Ada Haji Amat Awab dan Maliki di situ. Saat ditanya mengapa ia berani menghentikan pertunjukan Tari Topeng, ia menjawab lugas, “Demi Agama!” Dengan cara yang serba lepas ia coba jelaskan tentang rakyat yang miskin akibat diperas, tapi terperangkap dalam judi dan pelacuran.

                  Mantri polisi dan demang menganggap Entong Gendut lancang, sudah keterlaluan. Namun mereka tak berani meski sekompi pasukan dengan senjata lengkap ikut dibawa. Lagi pula Entong Gendut sepertinya sudah siap. Sambil menghunus sebilah golok ia mengancam, “Aye gedruk nih tanah, maka nih tanah bakalan jadi laut!” Tanpa dikomando, dari semak-semak bermunculan jawara-jawara lain yang sebelumnya tak nampak.

                  Wedana gundah, turun tangan langsung mengepung rumah Entong Gendut di hari-hari berikut. Wedana berteriak, menyuruh Entong Gendut supaya keluar. “Aye bakalan keluar setelah sembahyang barang sebentar!” Entong Gendut menyahut dari dalam. Dan ia pun keluar, bersama tombak, sebilah golok, dan bendera merah dihiasi bulan sabit putih. Ia tidak tunduk pada apapun, juga Belanda. “Aye cuma tunduk sama Allah!” tegasnya, garang.

                  “SabiliLlah! Aye ‘gak takut!” dan pertempuran tak terhindar. Wedana berhasil ditangkap rakyat. Sementara Entong Gendut dijemput malaikat menghadap Allah. Entong Gendut syahid di ujung bedil kompeni.

                  Source : infocondet.com



                  Artikel Entong Gendut – Pendekar Condet yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


                    - Powered by BING [2014-03-22 05:45]

                    Leave Comment

                    You must be logged in to post a comment.

                    Entong Gendut – Pendekar Condet - Silat Indonesia

                    Entong Gendut – Pendekar Condet.

                        [
                    in English ]

                    Sep 3rd, 2008 | By | Category: Figure Pesilat [ in English ]

                    (Oleh Aksara Kauniyah)
                    Inilah Condet, cerita dari dasawarsa pertama Abad 20 lampau. Bukan legenda, bukan pula mitos. Laiknya dusun, masa lalu Condet juga sejarah sudut kota yang sunyi. Masih banyak rawa, juga pohon-pohon besar yang menjelma jadi setengah hutan. Belum ada polusi mikrolet, atau metromini, yang menghubungkan Cililitan ke Pasar Minggu. Cuma dokar, yang ampasnya malah bermanfaat jadi pupuk separuh natur. Dan waktu berjalan terlalu damai.

                    Damai? Sungguhkah? Tidak juga, ternyata. Syahdan–menurut yang empunya cerita, hidup tuan tanah yang dikenal tamak. Ia dibenci, sekaligus ditakuti. Tak ada yang berani. Di belakangnya berdiri wedana dan mantri polisi–akrab pula dengan Belanda yang melihat pribumi dengan mata setengah jijik.

                    Condet yang tenang itu akhirnya digedor. Ada nama yang tersohor seantero kampung, setelah warga ramai-ramai diajak menggebuk. Mulanya si tuan tanah, lama-lama Belanda pun diajak tempur. Entong Gendut. Dia bukan pemain lenong. Melainkan, dialah tokoh Betawi asal Condet yang legendaris itu. Adakah dia betul-betul gendut? Tidak ada yang bisa memastikan. Namun yang pasti, lelaki itu punya nyali kelewat melimpah.

                    *****
                    Pebruari 1916. Tuan tanah menang perkara dari seorang petani renta. Ia wajib membayar 7,2 gulden, ditambah ongkos perkara–itu keputusan landrad di Meester Cornelis. Karena memang tak punya uang, Pak Taba, petani itu, tak bisa bayar. Tuan tanah marah, menyita semua milik Pak Taba. Di Kebon Jaimin sebelah utara, eksekusi dilakukan terbuka. Banyak tetangga datang–berteriak marah dengan kerongkongan tercekik, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Entong Gendut, ikut hadir di situ sambil menggertak geraham. Ia menggigit bibir, tangannya terkepal. Itu bukan kejadian pertama. Mulanya dia memilih diam, tapi sejak tragedi Pak Taba, Entong Gendut mulai membangkang.

                    Kali berikutnya, insiden kedua di pelataran Villa Nova, Cililitan Besar. Ada pertunjukan Tari Topeng dipentaskan, mulainya pukul 11 malam. Umumnya pagelaran, bukan sekadar tarian yang ditampilkan. Ada judi, juga pelacuran. Sejak sore suasana jadi tegang. Mobil tuan tanah dilempari batu waktu berangkat dari Tanjung Oost. Ketika gendang mulai ditabuh, segerombolan orang bersabuk sarung berpeci hitam, datang melabrak. Mereka minta supaya acara dibubarkan. “Ini perintahnya Entong Gendut!” begitu mereka berteriak, lantang. Warga patuh, bubar, dan pulang dengan tenang.

                    Celakanya, wedana uring-uringan. Dia utus mantri polisi dan demang ke Batu Ampar buat membekuk Entong Gendut. Begitu tiba, sudah berdiri jawara-jawara Betawi di depan rumah, ikut bergabung dalam barisan Entong Gendut. Ada Haji Amat Awab dan Maliki di situ. Saat ditanya mengapa ia berani menghentikan pertunjukan Tari Topeng, ia menjawab lugas, “Demi Agama!” Dengan cara yang serba lepas ia coba jelaskan tentang rakyat yang miskin akibat diperas, tapi terperangkap dalam judi dan pelacuran.

                    Mantri polisi dan demang menganggap Entong Gendut lancang, sudah keterlaluan. Namun mereka tak berani meski sekompi pasukan dengan senjata lengkap ikut dibawa. Lagi pula Entong Gendut sepertinya sudah siap. Sambil menghunus sebilah golok ia mengancam, “Aye gedruk nih tanah, maka nih tanah bakalan jadi laut!” Tanpa dikomando, dari semak-semak bermunculan jawara-jawara lain yang sebelumnya tak nampak.

                    Wedana gundah, turun tangan langsung mengepung rumah Entong Gendut di hari-hari berikut. Wedana berteriak, menyuruh Entong Gendut supaya keluar. “Aye bakalan keluar setelah sembahyang barang sebentar!” Entong Gendut menyahut dari dalam. Dan ia pun keluar, bersama tombak, sebilah golok, dan bendera merah dihiasi bulan sabit putih. Ia tidak tunduk pada apapun, juga Belanda. “Aye cuma tunduk sama Allah!” tegasnya, garang.

                    “SabiliLlah! Aye ‘gak takut!” dan pertempuran tak terhindar. Wedana berhasil ditangkap rakyat. Sementara Entong Gendut dijemput malaikat menghadap Allah. Entong Gendut syahid di ujung bedil kompeni.

                    Source : infocondet.com



                    Artikel Entong Gendut – Pendekar Condet yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


                      - Powered by BING [2014-03-28 05:52]

                      Leave Comment

                      You must be logged in to post a comment.

                      Entong Gendut – Pendekar Condet - Silat Indonesia

                      Entong Gendut – Pendekar Condet.

                          [
                      in English ]

                      Sep 3rd, 2008 | By | Category: Figure Pesilat [ in English ]

                      (Oleh Aksara Kauniyah)
                      Inilah Condet, cerita dari dasawarsa pertama Abad 20 lampau. Bukan legenda, bukan pula mitos. Laiknya dusun, masa lalu Condet juga sejarah sudut kota yang sunyi. Masih banyak rawa, juga pohon-pohon besar yang menjelma jadi setengah hutan. Belum ada polusi mikrolet, atau metromini, yang menghubungkan Cililitan ke Pasar Minggu. Cuma dokar, yang ampasnya malah bermanfaat jadi pupuk separuh natur. Dan waktu berjalan terlalu damai.

                      Damai? Sungguhkah? Tidak juga, ternyata. Syahdan–menurut yang empunya cerita, hidup tuan tanah yang dikenal tamak. Ia dibenci, sekaligus ditakuti. Tak ada yang berani. Di belakangnya berdiri wedana dan mantri polisi–akrab pula dengan Belanda yang melihat pribumi dengan mata setengah jijik.

                      Condet yang tenang itu akhirnya digedor. Ada nama yang tersohor seantero kampung, setelah warga ramai-ramai diajak menggebuk. Mulanya si tuan tanah, lama-lama Belanda pun diajak tempur. Entong Gendut. Dia bukan pemain lenong. Melainkan, dialah tokoh Betawi asal Condet yang legendaris itu. Adakah dia betul-betul gendut? Tidak ada yang bisa memastikan. Namun yang pasti, lelaki itu punya nyali kelewat melimpah.

                      *****
                      Pebruari 1916. Tuan tanah menang perkara dari seorang petani renta. Ia wajib membayar 7,2 gulden, ditambah ongkos perkara–itu keputusan landrad di Meester Cornelis. Karena memang tak punya uang, Pak Taba, petani itu, tak bisa bayar. Tuan tanah marah, menyita semua milik Pak Taba. Di Kebon Jaimin sebelah utara, eksekusi dilakukan terbuka. Banyak tetangga datang–berteriak marah dengan kerongkongan tercekik, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Entong Gendut, ikut hadir di situ sambil menggertak geraham. Ia menggigit bibir, tangannya terkepal. Itu bukan kejadian pertama. Mulanya dia memilih diam, tapi sejak tragedi Pak Taba, Entong Gendut mulai membangkang.

                      Kali berikutnya, insiden kedua di pelataran Villa Nova, Cililitan Besar. Ada pertunjukan Tari Topeng dipentaskan, mulainya pukul 11 malam. Umumnya pagelaran, bukan sekadar tarian yang ditampilkan. Ada judi, juga pelacuran. Sejak sore suasana jadi tegang. Mobil tuan tanah dilempari batu waktu berangkat dari Tanjung Oost. Ketika gendang mulai ditabuh, segerombolan orang bersabuk sarung berpeci hitam, datang melabrak. Mereka minta supaya acara dibubarkan. “Ini perintahnya Entong Gendut!” begitu mereka berteriak, lantang. Warga patuh, bubar, dan pulang dengan tenang.

                      Celakanya, wedana uring-uringan. Dia utus mantri polisi dan demang ke Batu Ampar buat membekuk Entong Gendut. Begitu tiba, sudah berdiri jawara-jawara Betawi di depan rumah, ikut bergabung dalam barisan Entong Gendut. Ada Haji Amat Awab dan Maliki di situ. Saat ditanya mengapa ia berani menghentikan pertunjukan Tari Topeng, ia menjawab lugas, “Demi Agama!” Dengan cara yang serba lepas ia coba jelaskan tentang rakyat yang miskin akibat diperas, tapi terperangkap dalam judi dan pelacuran.

                      Mantri polisi dan demang menganggap Entong Gendut lancang, sudah keterlaluan. Namun mereka tak berani meski sekompi pasukan dengan senjata lengkap ikut dibawa. Lagi pula Entong Gendut sepertinya sudah siap. Sambil menghunus sebilah golok ia mengancam, “Aye gedruk nih tanah, maka nih tanah bakalan jadi laut!” Tanpa dikomando, dari semak-semak bermunculan jawara-jawara lain yang sebelumnya tak nampak.

                      Wedana gundah, turun tangan langsung mengepung rumah Entong Gendut di hari-hari berikut. Wedana berteriak, menyuruh Entong Gendut supaya keluar. “Aye bakalan keluar setelah sembahyang barang sebentar!” Entong Gendut menyahut dari dalam. Dan ia pun keluar, bersama tombak, sebilah golok, dan bendera merah dihiasi bulan sabit putih. Ia tidak tunduk pada apapun, juga Belanda. “Aye cuma tunduk sama Allah!” tegasnya, garang.

                      “SabiliLlah! Aye ‘gak takut!” dan pertempuran tak terhindar. Wedana berhasil ditangkap rakyat. Sementara Entong Gendut dijemput malaikat menghadap Allah. Entong Gendut syahid di ujung bedil kompeni.

                      Source : infocondet.com



                      Artikel Entong Gendut – Pendekar Condet yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


                        - Powered by BING [2014-04-06 09:42]

                        Leave Comment

                        You must be logged in to post a comment.

                        Entong Gendut – Pendekar Condet - Silat Indonesia

                        Entong Gendut – Pendekar Condet.

                            [
                        in English ]

                        Sep 3rd, 2008 | By | Category: Figure Pesilat [ in English ]

                        (Oleh Aksara Kauniyah)
                        Inilah Condet, cerita dari dasawarsa pertama Abad 20 lampau. Bukan legenda, bukan pula mitos. Laiknya dusun, masa lalu Condet juga sejarah sudut kota yang sunyi. Masih banyak rawa, juga pohon-pohon besar yang menjelma jadi setengah hutan. Belum ada polusi mikrolet, atau metromini, yang menghubungkan Cililitan ke Pasar Minggu. Cuma dokar, yang ampasnya malah bermanfaat jadi pupuk separuh natur. Dan waktu berjalan terlalu damai.

                        Damai? Sungguhkah? Tidak juga, ternyata. Syahdan–menurut yang empunya cerita, hidup tuan tanah yang dikenal tamak. Ia dibenci, sekaligus ditakuti. Tak ada yang berani. Di belakangnya berdiri wedana dan mantri polisi–akrab pula dengan Belanda yang melihat pribumi dengan mata setengah jijik.

                        Condet yang tenang itu akhirnya digedor. Ada nama yang tersohor seantero kampung, setelah warga ramai-ramai diajak menggebuk. Mulanya si tuan tanah, lama-lama Belanda pun diajak tempur. Entong Gendut. Dia bukan pemain lenong. Melainkan, dialah tokoh Betawi asal Condet yang legendaris itu. Adakah dia betul-betul gendut? Tidak ada yang bisa memastikan. Namun yang pasti, lelaki itu punya nyali kelewat melimpah.

                        *****
                        Pebruari 1916. Tuan tanah menang perkara dari seorang petani renta. Ia wajib membayar 7,2 gulden, ditambah ongkos perkara–itu keputusan landrad di Meester Cornelis. Karena memang tak punya uang, Pak Taba, petani itu, tak bisa bayar. Tuan tanah marah, menyita semua milik Pak Taba. Di Kebon Jaimin sebelah utara, eksekusi dilakukan terbuka. Banyak tetangga datang–berteriak marah dengan kerongkongan tercekik, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Entong Gendut, ikut hadir di situ sambil menggertak geraham. Ia menggigit bibir, tangannya terkepal. Itu bukan kejadian pertama. Mulanya dia memilih diam, tapi sejak tragedi Pak Taba, Entong Gendut mulai membangkang.

                        Kali berikutnya, insiden kedua di pelataran Villa Nova, Cililitan Besar. Ada pertunjukan Tari Topeng dipentaskan, mulainya pukul 11 malam. Umumnya pagelaran, bukan sekadar tarian yang ditampilkan. Ada judi, juga pelacuran. Sejak sore suasana jadi tegang. Mobil tuan tanah dilempari batu waktu berangkat dari Tanjung Oost. Ketika gendang mulai ditabuh, segerombolan orang bersabuk sarung berpeci hitam, datang melabrak. Mereka minta supaya acara dibubarkan. “Ini perintahnya Entong Gendut!” begitu mereka berteriak, lantang. Warga patuh, bubar, dan pulang dengan tenang.

                        Celakanya, wedana uring-uringan. Dia utus mantri polisi dan demang ke Batu Ampar buat membekuk Entong Gendut. Begitu tiba, sudah berdiri jawara-jawara Betawi di depan rumah, ikut bergabung dalam barisan Entong Gendut. Ada Haji Amat Awab dan Maliki di situ. Saat ditanya mengapa ia berani menghentikan pertunjukan Tari Topeng, ia menjawab lugas, “Demi Agama!” Dengan cara yang serba lepas ia coba jelaskan tentang rakyat yang miskin akibat diperas, tapi terperangkap dalam judi dan pelacuran.

                        Mantri polisi dan demang menganggap Entong Gendut lancang, sudah keterlaluan. Namun mereka tak berani meski sekompi pasukan dengan senjata lengkap ikut dibawa. Lagi pula Entong Gendut sepertinya sudah siap. Sambil menghunus sebilah golok ia mengancam, “Aye gedruk nih tanah, maka nih tanah bakalan jadi laut!” Tanpa dikomando, dari semak-semak bermunculan jawara-jawara lain yang sebelumnya tak nampak.

                        Wedana gundah, turun tangan langsung mengepung rumah Entong Gendut di hari-hari berikut. Wedana berteriak, menyuruh Entong Gendut supaya keluar. “Aye bakalan keluar setelah sembahyang barang sebentar!” Entong Gendut menyahut dari dalam. Dan ia pun keluar, bersama tombak, sebilah golok, dan bendera merah dihiasi bulan sabit putih. Ia tidak tunduk pada apapun, juga Belanda. “Aye cuma tunduk sama Allah!” tegasnya, garang.

                        “SabiliLlah! Aye ‘gak takut!” dan pertempuran tak terhindar. Wedana berhasil ditangkap rakyat. Sementara Entong Gendut dijemput malaikat menghadap Allah. Entong Gendut syahid di ujung bedil kompeni.

                        Source : infocondet.com



                        Artikel Entong Gendut – Pendekar Condet yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


                          - Powered by BING [2014-04-11 07:40]

                          Leave Comment

                          You must be logged in to post a comment.

                          Entong Gendut – Pendekar Condet - Silat Indonesia

                          Entong Gendut – Pendekar Condet.

                              [
                          in English ]

                          Sep 3rd, 2008 | By | Category: Figure Pesilat [ in English ]

                          (Oleh Aksara Kauniyah)
                          Inilah Condet, cerita dari dasawarsa pertama Abad 20 lampau. Bukan legenda, bukan pula mitos. Laiknya dusun, masa lalu Condet juga sejarah sudut kota yang sunyi. Masih banyak rawa, juga pohon-pohon besar yang menjelma jadi setengah hutan. Belum ada polusi mikrolet, atau metromini, yang menghubungkan Cililitan ke Pasar Minggu. Cuma dokar, yang ampasnya malah bermanfaat jadi pupuk separuh natur. Dan waktu berjalan terlalu damai.

                          Damai? Sungguhkah? Tidak juga, ternyata. Syahdan–menurut yang empunya cerita, hidup tuan tanah yang dikenal tamak. Ia dibenci, sekaligus ditakuti. Tak ada yang berani. Di belakangnya berdiri wedana dan mantri polisi–akrab pula dengan Belanda yang melihat pribumi dengan mata setengah jijik.

                          Condet yang tenang itu akhirnya digedor. Ada nama yang tersohor seantero kampung, setelah warga ramai-ramai diajak menggebuk. Mulanya si tuan tanah, lama-lama Belanda pun diajak tempur. Entong Gendut. Dia bukan pemain lenong. Melainkan, dialah tokoh Betawi asal Condet yang legendaris itu. Adakah dia betul-betul gendut? Tidak ada yang bisa memastikan. Namun yang pasti, lelaki itu punya nyali kelewat melimpah.

                          *****
                          Pebruari 1916. Tuan tanah menang perkara dari seorang petani renta. Ia wajib membayar 7,2 gulden, ditambah ongkos perkara–itu keputusan landrad di Meester Cornelis. Karena memang tak punya uang, Pak Taba, petani itu, tak bisa bayar. Tuan tanah marah, menyita semua milik Pak Taba. Di Kebon Jaimin sebelah utara, eksekusi dilakukan terbuka. Banyak tetangga datang–berteriak marah dengan kerongkongan tercekik, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Entong Gendut, ikut hadir di situ sambil menggertak geraham. Ia menggigit bibir, tangannya terkepal. Itu bukan kejadian pertama. Mulanya dia memilih diam, tapi sejak tragedi Pak Taba, Entong Gendut mulai membangkang.

                          Kali berikutnya, insiden kedua di pelataran Villa Nova, Cililitan Besar. Ada pertunjukan Tari Topeng dipentaskan, mulainya pukul 11 malam. Umumnya pagelaran, bukan sekadar tarian yang ditampilkan. Ada judi, juga pelacuran. Sejak sore suasana jadi tegang. Mobil tuan tanah dilempari batu waktu berangkat dari Tanjung Oost. Ketika gendang mulai ditabuh, segerombolan orang bersabuk sarung berpeci hitam, datang melabrak. Mereka minta supaya acara dibubarkan. “Ini perintahnya Entong Gendut!” begitu mereka berteriak, lantang. Warga patuh, bubar, dan pulang dengan tenang.

                          Celakanya, wedana uring-uringan. Dia utus mantri polisi dan demang ke Batu Ampar buat membekuk Entong Gendut. Begitu tiba, sudah berdiri jawara-jawara Betawi di depan rumah, ikut bergabung dalam barisan Entong Gendut. Ada Haji Amat Awab dan Maliki di situ. Saat ditanya mengapa ia berani menghentikan pertunjukan Tari Topeng, ia menjawab lugas, “Demi Agama!” Dengan cara yang serba lepas ia coba jelaskan tentang rakyat yang miskin akibat diperas, tapi terperangkap dalam judi dan pelacuran.

                          Mantri polisi dan demang menganggap Entong Gendut lancang, sudah keterlaluan. Namun mereka tak berani meski sekompi pasukan dengan senjata lengkap ikut dibawa. Lagi pula Entong Gendut sepertinya sudah siap. Sambil menghunus sebilah golok ia mengancam, “Aye gedruk nih tanah, maka nih tanah bakalan jadi laut!” Tanpa dikomando, dari semak-semak bermunculan jawara-jawara lain yang sebelumnya tak nampak.

                          Wedana gundah, turun tangan langsung mengepung rumah Entong Gendut di hari-hari berikut. Wedana berteriak, menyuruh Entong Gendut supaya keluar. “Aye bakalan keluar setelah sembahyang barang sebentar!” Entong Gendut menyahut dari dalam. Dan ia pun keluar, bersama tombak, sebilah golok, dan bendera merah dihiasi bulan sabit putih. Ia tidak tunduk pada apapun, juga Belanda. “Aye cuma tunduk sama Allah!” tegasnya, garang.

                          “SabiliLlah! Aye ‘gak takut!” dan pertempuran tak terhindar. Wedana berhasil ditangkap rakyat. Sementara Entong Gendut dijemput malaikat menghadap Allah. Entong Gendut syahid di ujung bedil kompeni.

                          Source : infocondet.com



                          Artikel Entong Gendut – Pendekar Condet yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


                            - Powered by BING [2014-04-16 04:53]

                            Leave Comment

                            You must be logged in to post a comment.