Pendekar Lima (5)



by : putri teratai ( Sahabat Silat )


Kuhentikan langkahku…

Seketika itu rombonganpun juga turut menghentikan langkah mereka.

Di depan Nagapasa bersama pendekar yang lain saling berpandangan dan kemudian memandangku penuh heran.

Kuberikan mereka tanda untuk diam di tempat dan berhati-hati…

Ketika Ki Soemo hendak mendekatiku, kuberi tanda untuk diam di tempat. Dan segera telunjukku mengarah ke tanah dengan guratan yang mengelilingi kami berenam.

Sementara bala tentara kerajaan yang mendampingan kami mulai mundur teratur menjauhi batas lingkaran yang mengelilingi kami.

Juru Kunci Ki Soemo melepas ikat kepalanya dan melecutkan ke tanah sementara kami terkejut dengan aksinya dan hanya diam dalam formasi siap.

"Hei.. Pendekar Wastu Kencana... keluarlah berhadapan dengan kami,“ lantang Ki Soemo memerintah.

Dengan tercengang serta saling memandang kami memperhatikan cahaya kuning yang keluar dari tanah dan melayang di udara yang lantas membentuk wujudnya menjadi seorang pemuda.

"Hua…ha…ha…ha…hua.ha..ha..hha…ternyata kehebatanmu sungguh luar biasa Ki Soemo,“ tawanya menggema menyeruak malam.

"Hormatku kepada para pendekar, maaf jika perjalanan malamku mengganggu pendekar!“ pintanya dengan merapatkan kedua tangannya yang hampir menutup mukanya.


Pemuda dengan perawakan yang kekar dan tatapan mata yang tegas, sungguh membuatku terkesima.

Hanya saja... aku tidak ingin mengatakan apa-apa untuk menyambut kedatangannya.

Batinku masih berkecamuk dengan banyak pertanyaan yang aku sendiri tak mampu menjawabnya.

"Akhh… jangan berpikiran yang bukan-bukan!!!“ Batinku mencoba menepis perasaan itu.

"Apa yang mengantarmu hingga di daerah Selatan ini Pendekar!,“ tanya Juru Kunci Ki Soemo.

"Hemm… aku sebenarnya akan mengunjungi muridku di daerah Timur, kudengar di sana perguruan Tapak Sakti sangat maju pesat,“ jawabnya dengan suara yang berat.

“Pendekar Wastu Kencana, di manakah tepatnya di daerah Timur yang dimaksud?" tanyaku tanpa bisa di kendalikan lagi.

"Di pinggiran sungai Bening di dekat perbatasan,“ jawabnya.

"Ku dengar juga di sana ada seorang Guru yang cukup disegani oleh penduduk dan mempunyai ilmu yang luar biasa,“ lanjutnya.

Pasti yang di maksud adalah ayah Bayu Sejati, sebab memang ayah sungguh di segani oleh pendusuk dan sering membantu penduduk jika mereka menemui kesulitan atau masalah.

"Aku ingin berkunjung dan meminta ijin atas nama muridku.“ terangnya lagi.

Pendekar Pengampun melangkah mendekatinya dan menepuk pundaknya,“ ikutlah kami ke kerajaan Selatan untuk sekedar beristirahat.“

"Ya.. perjalanan masih cukup jauh menuju ke Timur, sebaiknya lanjutkan saja esok,“ sambung pendekar Muda Respati dari Barat.

"Baiklah saudaraku, kuterima undangan kalian,“ sambutnya.

Malam itu tidak lagi sepi dan suasana itu cukup menenangkan pikiranku selama perjalanan menuju ke Kerajaan Selatan.
Dan kecurigaanku terhadap pendekar Wastu Kencana sungguh tidak terbukti.

Nagapasa dan yang lain bergantian menceritakan pertarungan yang baru saja kita hadapi kepada Pendekar Wastu Kencana.

Aku… aku tak berminat untuk mengatakan sesuatu dan sesekali aku hanya tertawa kecil melihat kelucuan pendekar Cilik dalam pembicaraan mereka.

Kami sudah mencapai Gerbang Selatan dan disambut dengan suka cita oleh kerabat dan penghuni istana Selatan.
Raja mengijinkan kami beristirahat serta melanjutkan laporan besok pagi.

Juru Kunci Soemo menghampiriku,“anakku, kenapa kamu terlihat gundah selama perjalanan tadi?“

"Pasrahkan semua kepada Yang Maha Suci, tidak akan terjadi apa-apa terhadap ayahandamu,“ nasehatnya.

Aku terharu dengan perkataan Ki Soemo, sungguh luar biasa ilmunya seolah dia bisa membaca pikiranku.

"Terimakasih Ki Soemo, bantulah Guru Bayu dengan do’a,“ pintaku.

"Ya.. kami akan senantiasa membantu, sudah beristirahatlah…,“ ucapnya sambil mengelus kepalaku.

Aku berjalan menuju bilik yang di sediakan oleh Pendekar Selatan, sebuah ruangan yang cukup nyaman untuk sekedar beristirahat.

Kuamati sekelilingnya dan kurasakan tidak ada sesuatu yang mencurigakan di kamar tersebut.

Sebuah meja dan kursi kayu kuno di ujung kamar menambah kenyamanan penghuninya, kulangkahkan kakiku menuju sebuah pintu.

Ketika kubuka, ternyata pintu itu menuju balkon yang mengarah tepat ke taman istana.

Angin malam yang semilir memasuki ruangan bilik itu dan kubiarkan pandanganku menikmati keindahan taman dengan iringan suara gemericik air mancur yang ada di taman, sementara bulan purnama menampakkan cantiknya hingga sinarnya berbinar di seluruh taman.

Eee..hemm… kuhembuskan nafas masih dengan perasaan yang tidak tenang, saat ini kuhanya ingin menerima pesan sakti dari kakek Guru.

Dengan harapan agar aku bisa pulang menyusul ayah dan adikku Teratai Merah.

Ini adalah perpisahanku yang kesekian kali dengan Teratai Merah dan tugas pertamaku dari Guru Bayu Sejati untuk bergabung dengan para pendekar.

"Bukannya aku senang menerimanya, tetapi..mampukah aku melaksanakan tugas ini?" tanyaku dalam hati dengan tidak percaya diri.

Tiba-tiba…

"Whuttt… whutt…,“ sekelebat bayangan menyeringai malam.

Tanpa pikir panjang kukejar dengan ilmu ringan tubuhku dan berusaha mencapai pohon tepat di sebelah bilikku. Kuamati bayangan hitam yang sedang mengendap memasuki halaman samping istana dan dari ketinggian itu kulihat lampu bilik pendekar muda masih menyala.

Bayangan hitam itu bergerak bagaikan angin telah mencapai kamar pendekar Muda . Dengan tidak tinggal diam, aku melompat untuk mencegatnya dari samping.

Rupanya dia menyadari kedatanganku, dan tanpa berhenti mulailah dia mengeluarkan tendangan belakang yang hampir menyentuh perutku.

"yaaakkk..huppp!!“ kulempar tendangannya dengan jurus lemparan harimau dengan pancer kaki kananku ke depan hingga dia mulai terjungkal.

Kesigapannya cukup untuk melakukan serangan lanjutan. Dengan memanfaatkan moment putar akibat lemparanku, aku cukup di buat tidak berkedip ketika tendangan lurus kedepan melayang di depan mataku.

Kulangkahkan kaki kananku untuk kembali maju menyerong dan menarik kaki kiriku mundur membentuk sikap Naga merendah, dan tanpa berpikir dua kali aku menjatuhkan diriku mengeluarkan tehnik sapuan untuk menjegal kaki kanannya yang dia pakai sebagai tumpuannya.

Hingga akhirnya dia terjerembab jatuh.

Aku segera melingkar dan bangun dengan masih keadaan bersedia, lalu aku bergerak menyusun langkah sambil berpikir bagaimana menghindari serangannya.

Melihat jurus dan tehniknya aku yakin dia bukan dari Kapak Hitam, sebab tenaga yang di gunakan adalah tenaga murni. Kuakui cukup cekatan sekali gerakannya dan luar biasa halus aliran nafasnya.

"Ki Sanak!!, siapakah anda dan kenapa anda memasuki halaman istana bukan sebagai ksatria,“ sapaku sambil tetap bergerak menyesuaikan langkahnya.

"Ciaaattttt…..,“ kembali dia melancarkan serangan tangan kosong tanpa mau menjawab pertanyaanku.

Tolakan dan hindaran menyamping aku gunakan untuk melindungi diriku, hemm..mulai kutemukan titik lemahnya ketika aku harus banyak meladeni serangan lurusnya.

Tanpa pikir panjang dan kali ini dengan tehnik pukulan pendeta merendah aku serang pinggang dengan maksud hanya untuk melemahkan saja.

"Ugghhhh…,“ pekiknya.

Dia bangkit dengan mengatur nafas, sementara ku dengar dari jauh langkah berlari menuju ke tempat pertarunganku.

Mendengar hal itu diapun kemudian meninggalkan asap putih menghilangkan dirinya, sementara aku yakin pukulan telakku tadi pasti meninggalkan bekas yang cukup lama.

"Putri…,“ teriak pemdekar Muda Respati dan pendekar Cilik yang mendapatkanku masih berdiri membiarkan si bayang hitam tadi melarikan diri.

"Biarkan dia pergi!“ ucapku singkat.

"Kita bakal tahu siapa dia,“ tambahku dengan mengusap kedua tanganku menutup pembicaraan.

Kutinggalkan mereka berdua dengan santai, sementara mereka saling berpandangan heran melihatku berlalu tanpa keterangan apapun.

*Keesokan harinya*


Aku hadir paling akhir, sementara para pendekar sudah menungguku di ruang tengah dan langsung kuucap salam kepada mereka,“ Selamat pagi saudaraku, selamat pagi Ki Soemo semoga hari yang penuh berkah buat kita semua.“

"Amin…dan Selamat pagi Teratai Kuning,“ sambut mereka dengan hangat.

"Bagaimana istirahatmu semalam anakku,“ tanya Ki Soemo.

"Terimakasih Ki, cukup lelap tidurku … setelah kejadian kecil semalam …“ kalimatku terpotong ketika terdengar suara prajurit menyuarakan kedatangan raja.

Kami segera memberi salam hormat kepada raja Suryo Panunggal penguasa Kerajaan Banyu Biru. Raja menduduki kursi kebesarannya dengan memberikan senyum sebagai tanda menerima hormat kami.

"Ki Soemo dan para pendekar, terimakasih aku ucapkan atas kabar gembira yang kalian bawa. Dan aku bersyukur bahwa kalian pulang dengan keadaan selamat,“ Raja mengawali kata sambutannya.

"Terimakasih paduka, itu adalah bakti kami kepada Paduka serta tanah leluhur ini,“ ucap Ki Soemo mewakili kami.

"Teratai Kuning, anakku, aku mengutus prajurit untuk melihat keadaan Guru Bayu Sejati ayahmu. Jangan kuatirkan keadaannya, pasti akan ada prajurit yang kembali jika terjadi sesuatu disana,“ Raja menjelaskan kepadaku untuk tidak mengkhawatirkan Guru Banyu Biru.

"Menghaturkan sembah nuwun paduka Raja atas segala kebaikan paduka terhadap Guru Bayu Sejati, hamba akan senantiasa setia dan sungguh-sungguh menjalankan tugas mendampingi paduka menggantikan Guru Bayu,“ ucapku dengan merendahkan diri.

"Janganlah kuatir kamu akan aman bersama para pendekar yang lain, anggaplah Ki Soemo sebagai pengganti ayahmu selama Guru Bayu tidak di sini,“ lanjut Raja menenangkanku.

"Nagapasa, ini sebuah kehormatan bagiku untuk mengunjungi Gerbang Selatan dan menerima kabar kemenangan ini. Aku harapkan keadaan akan tetap aman terkendali di bawah tanggung jawabmu,“ Raja memberikan hormatnya sambil mengingatkan Pendekar Selatan.

Secara bergantian para pendekar menceritakan kepada Raja keadaan di medan pertarungan melawan Kapak Hitam hingga pertemuan kami dengan Pendekar Wastu Kencana.
Aku sesekali melihat dan bertatapan mata dengan mereka sebagai tanda mengerti dengan keadaan yang diceritakan.

Ternyata pendekar Wastu Kencana berasal dari Wilayah Barat dan itu masih di bawah kekuasaan Pendekar Muda Respati.

Pendekar Wastu Kencana menyandang pusaka Wila Lodra ke manapun dia pergi, pusaka ini berupa golok atau bedok yang bila dikeluarkan dari sabuknya maka seketika itu alam akan berubah dari siang menjadi malam.
Angin puyuh bagai tornado dan petir yang menyala serta sambar menyambar akan mengukutinya.
Sehingga orang yang menyaksikannya atau  berada di situ akan ketakutan dan berlarian menghindar dari kejaran kilat yang akan terus mencari mangsa hingga puluhan kilometer.

Aku semakin tertegun ketika mendengar kisah perjalanannya yang senantiasa menolong sesama dan mengajarkan ilmu kebaikan kepada orang yang dijumpainya.

Raja mengijinkannya untuk membantu kami jika kami membutuhkan, serta perjalanan ke Timur juga mendapatkan restu Raja untuk mendampingi Guru Bayu Sejati di sana.

Akhirnya kami membahas pelarian si Durgo Suryo Pakso dan menyusun beberapa strategi untuk memperketat keamanan keempat wilayah Kerajaan Banyu Biru sebelum akhirnya Pendekar Wastu melanjutkan perjalanan menuju ke Timur.

Pangeran Pengampun dan Juru Kunci Soemo yang dikenal dengan ahli strategi membabarkan rencana penjagaan kerajaan dan juga keempat wilayah Kerajaan Banyu Biru.

Akupun menceritakan mengenai peristiwa semalam kepada Raja dan para pendekar dengan penuh hati-hati. Tamu yang tidak diundang semalam cukup mencurigakan dan kami yakin bahwa malam inipun dia kan beraksi kembali.

Tanpa menunggu perintah dari raja, Nagapasa memerintahkan anak buahnya untuk memperketat penjagaan dan memasang umpan untuk menjebak si bayang hitam.

Kami mengakhiri pertemuan dengan raja ketika sang surya sudah mulai tinggi, Raja mengajak kami menikmati perjamuan makan siang.

Setelah selesai pendekar Cilik berjalan mendekatiku dengan senyumnya yang khas. Hemm.. mau apa dia, tanyaku dalam hati.

"Putri…apa yang terjadi semalam aku ingin tahu lebih jelas?“ sapanya dengan pertanyaan yang harusnya penjelasanku tadi di depan Raja menjadi jawabannya.

"Tadi kamu tidur ya…?“ tanyaku balik tanpa ekspresi.

"Tidak… aku hanya ingin tahu lebih jelas saja dan jujur, aku ingin belajar ilmu silatmu,“ jelasnya kepadaku.

"Tidak ada yang perlu dipelajari… ilmumu sudah cukup hebat,“ cegahku.

Dari jauh, kulihat Pendekar Muda Respati juga berjalan ke arahku, aku berusaha menghindar sebab aku sedang tidak ada selera untuk mengurusi mereka.

"Putri Teratai…sebentar!!!“ cegah Respati.

"Jangan ganggu Putri, Pendekar Muda,“ ucap Cilik kepada Respati.

"Sepertinya sedang datang bulan,“jawabnya mencoba melucu.

Aduhh…memang pendekar Cilik suka melucu dan jawabannya membuatku lebih enggan lagi untuk tetap tinggal.

"Eeehhh…ehhh… kok malah lari, iyaa…iyaa.. maaf Putri,“ cegahnya lagi.

"Ada apa Respati?“ tanyaku tanpa memikirkan Pendekar Cilik.

“Ahhh tidak, aku hanya ingin bertanya tentang jurus dan teknikmu saja,” jelasnya.

“Memang kenapa?? Emmm ada yang anehkah?” lanjutku bertanya.

Kami berjalan menuju taman dan mendengarkan Pendekar Muda Respati melanjutkan kalimatnya,“ Jurus yang kamu gunakan semalam mirip sekali dengan jurus di perguruanku, aku hanya berpikir apakah dulu guruku dan Guru Bayu Sejati satu induk perguruan?“

"Mungkin saja, sebab ketika aku melihatmu bertarung dengan murid Kapak Hitam. Akupun berpikir hal yang sama mengenai Jurus Tongkatmu.“ Jawabku juga penasaran mengenai beberapa kemiripan jurus ataupun teknik kami.

"Ayoo.. kita ke taman di belakang, tunjukan kesamaan teknik dan jurus kalian,“ ajak pendekar Cilik.

Aku dan Respati saling berpandangan serta saling mengangguk tanda setuju. Kami segera bergegas ke taman belakang dan tingkah kami menjadi perhatian penghuni istana termasuk Nagapasa dan Pendekar Pengampun.

****************

Untuk kelanjutannya bisa di lihat di trit ini :
http://sahabatsilat.com/forum/index.php?topic=798.30


Related Tags :