Kendala Penyebaran Pencak Silat.

    [
in English ]

Aug 21st, 2009 | By | Category: Artikel Silat [ in English ]

Kendala Penyebaran Pencak Silat
Oleh: O’ong Maryono
Tuesday, August 16, 2005 14:36:08

Saat ini penyebaran pencak silat sudah menunjuk angka mencapai 29 negara di seluruh dunia. Berkat jerih payah perguruan-perguruan bersama-sama IPSI dengan disokong media cetak dan elektronik dalam usaha penyebaran informasi pencak silat dapat mendunia. Sepatutnya kita acungkan jempol. Banyaknya perguruan pencak silat dapat mengembangkan sayap dengan membuka cabang perguruan di mancanegara dan membuat masyarakat awam terkagum-kagum. Kini budaya peninggalan nenek moyang kita sudah go international. Perasaan bangga menyelimuti seluruh anggota perguruan dan menjadi motivasi dalam berlatih. Indikasi ‘kepongahan’ perguruan ini, terwujud pula dalam pengakuannya memiliki banyak anggota dan cabang yang tersebar di mancanegara. Ungkapan ini nampak di setiap untaian kata yang dituliskan atau diucapakan dalam media massa.

Namun jika diamati secara cermat kemampuan teknik pesilat dari mancanegara di beberapa pertandingan pencak silat olahraga dan seni beladiri pada peringkat sukan dunia, tampak tidak merata. Kualitas pesilat yang bertanding pada Kejuaraan Pencak Silat Dunia terkesan rendah dan kurang pantas untuk peringkat internasional. Tim Indonesia pun selalu mengirimkan pesilat peringkat nasional lapis kedua, sedangkan lapis pertama diprioritaskan untuk pesta olahraga umum seperti SEA GAMES.

Fenomena kesenjangan teknik ini yang sudah terjadi cukup lama di kalangan pencak silat dunia sangat menarik untuk diketahui dan dianalisa lebih lanjut. Bila kita memperhatikan perguruan-perguruan modern yang berfaham liberal-rasional, ternyata bahwa mereka sangat terbuka untuk pesilat asing. Atas dorongan rasa bangga, ingin mendapat pujian, sanjungan, perguruan-perguruan modern pergi mengajar ke luar negeri atau sebaliknya mengangkat orang asing yang sedang berkunjung keperguruan untuk melihat-lihat menjadi murid. Lontaran tawaran oleh perguruan dengan kesanggupannya akan memeberikan pelatihan untuk orang asing tidak disisa-siakan. Cukup membekali pesilat asing dengan teknik-teknik dasar yang sederhana dan berlatih dalam kurun waktu sangat singkat, perguruan-perguruan mengangkat dan memberikan diploma sebagai pelatih di negerinya.

Tindakan perguruan seperti ini tidak menutup kemungkinan, akan menghasilkan pelatih yang berkualitas rendah. Pengangkatan sebagai wakil perguruan dengan tidak dibekali pengetahuan pencak silat seutuhnya dan tidak ditindak lanjuti dengan pengembangan kemampuan diri, niscaya pelatih asing ini akan menghasilkan pesilat yang tidak seperti kita inginkan.

Sedangkan perguruan-perguruan yang bersifat tradionalpun tidak dapat membantu menyelesaikan masalah, bahkan sering memperumit dan menjadi penghambat perkembangan pencak silat. Perguruan-perguruan pencak silat tradisional dalam tanda kutip tidak memiliki organisasi, sampai saat ini masih dengan setia mempertahankan keaslian pencak silat. Keutuhan kegiatan ritual yang berhubungan dengan agama ataupun budaya, hierarki dan prinsip senioritas masih sangat dominan dan tetap dipertahankan.

Biasanya perguruan seperti ini tidak melakukan kegiatan promosi ke luar negeri. Namun sering dicari oleh orang asing karena dianggap perguruaan yang masih kokoh mempertahankan tradisi ‘asli’ pencak silat. Nama kelompok perguruan semacam ini di mancanegara dikenal masyarakat, tak ubahnya seperti perguruan modern lainnya.
Untuk kelompok tradisional ini, perbedaan ras, warna kulit, tradisi dan budaya menjadi factor penghambat. Pesilat asing yang berminat menjadi murid atau anggota sulit diterima. Bila diterima, pada peringkat materi pelajaran tertentu yang merupakan ajaran jurus pamungkas tidak akan diajarkan dikarenakan rahasia perguruan. Erizal cal Chaniago pendekar Beringin Sakti di Jakarta mengatakan, sikap kehati-hatian guru terhadap muridnya disampaikan dalam sebuah pepatah Minangkabau: Nasaganggam di lepas nan sapinjik disimpan. Artinya: ‘yang segenggam diberikan yang kuncinya disimpan’.

Sikap guru-guru pencak silat tradisional ini dipertegas oleh Ramli pimpinan Silek Tuo di Bukit Tinggi, kehati-hatian seorang pendekar dikawatirkan suatu waktu muridnya akan dapat mengalahkan gurunya dengan menggunakan yang sepinjik tadi. Sementara pendekar Silek Tuo, Mulyadi K.S dan ketua IPSI Padang Panjang berpendat lain yaitu; Bahwa jurus yang sepinjik tadi sebetulnya tidak pernah ada, hanya dipergunakan sebagai alasan untuk memperkokoh status hierarki oleh seorang pendekar agar para murid tetap berlaku hormat kepadanya.
Kedua macam sikap yang diuraikan di atas dapat dianggap secara indirek sebagai penyebab utama dari rendahnya mutu pengembangan pencak silat di luar negeri. Menyimak keadaan di atas, lantas menjadi pertanyaan bagaimana pencak silat dapat mampu bersaing dengan beladiri lain di luar negeri.

Kedua sikap yang bertolak belakang ini tidak merupakan jawaban positif dan berkesinambungan agar kita dapat menjawab tantangan era globalisasi untuk menyebarkan dan memperkenalkan budaya bangsa. Sebagai budaya asli, jelas pencak silat dapat menjadi kebanggaan sekaligus identitas kepribadian bangsa. Penulis ingin mengetuk isi hati pendekar muda agar bangkit dan bersatu padu memikirkan keadaan ini. Melalui studi dan penelitian, kita dapat menyusun sebuah strategi yang sesuai dengan lingkungan agar pencak silat berprestasi lebih baik di masa mendatang. Dengan mengadakan inventarisasi dari berbagai aliran pencak silat, dan mencari ciri khas, menonjolkan keunggulan dan mengurangi kelemahan pada setiap perguruan, insan-insan pencak silat di tanah air dapat menghadapi sikap-sikap yang menjadi penghambat perkembangan. Hanya dengan introspeksi pada diri sendiri kita dapat menguasai dunia!

www.silatindonesia.com



Artikel Kendala Penyebaran Pencak Silat yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


    - Powered by BING [2014-02-02 21:02]

    Leave Comment

    You must be logged in to post a comment.

    Kendala Penyebaran Pencak Silat - Silat Indonesia

    Kendala Penyebaran Pencak Silat.

        [
    in English ]

    Aug 21st, 2009 | By | Category: Artikel Silat [ in English ]

    Kendala Penyebaran Pencak Silat
    Oleh: O’ong Maryono
    Tuesday, August 16, 2005 14:36:08

    Saat ini penyebaran pencak silat sudah menunjuk angka mencapai 29 negara di seluruh dunia. Berkat jerih payah perguruan-perguruan bersama-sama IPSI dengan disokong media cetak dan elektronik dalam usaha penyebaran informasi pencak silat dapat mendunia. Sepatutnya kita acungkan jempol. Banyaknya perguruan pencak silat dapat mengembangkan sayap dengan membuka cabang perguruan di mancanegara dan membuat masyarakat awam terkagum-kagum. Kini budaya peninggalan nenek moyang kita sudah go international. Perasaan bangga menyelimuti seluruh anggota perguruan dan menjadi motivasi dalam berlatih. Indikasi ‘kepongahan’ perguruan ini, terwujud pula dalam pengakuannya memiliki banyak anggota dan cabang yang tersebar di mancanegara. Ungkapan ini nampak di setiap untaian kata yang dituliskan atau diucapakan dalam media massa.

    Namun jika diamati secara cermat kemampuan teknik pesilat dari mancanegara di beberapa pertandingan pencak silat olahraga dan seni beladiri pada peringkat sukan dunia, tampak tidak merata. Kualitas pesilat yang bertanding pada Kejuaraan Pencak Silat Dunia terkesan rendah dan kurang pantas untuk peringkat internasional. Tim Indonesia pun selalu mengirimkan pesilat peringkat nasional lapis kedua, sedangkan lapis pertama diprioritaskan untuk pesta olahraga umum seperti SEA GAMES.

    Fenomena kesenjangan teknik ini yang sudah terjadi cukup lama di kalangan pencak silat dunia sangat menarik untuk diketahui dan dianalisa lebih lanjut. Bila kita memperhatikan perguruan-perguruan modern yang berfaham liberal-rasional, ternyata bahwa mereka sangat terbuka untuk pesilat asing. Atas dorongan rasa bangga, ingin mendapat pujian, sanjungan, perguruan-perguruan modern pergi mengajar ke luar negeri atau sebaliknya mengangkat orang asing yang sedang berkunjung keperguruan untuk melihat-lihat menjadi murid. Lontaran tawaran oleh perguruan dengan kesanggupannya akan memeberikan pelatihan untuk orang asing tidak disisa-siakan. Cukup membekali pesilat asing dengan teknik-teknik dasar yang sederhana dan berlatih dalam kurun waktu sangat singkat, perguruan-perguruan mengangkat dan memberikan diploma sebagai pelatih di negerinya.

    Tindakan perguruan seperti ini tidak menutup kemungkinan, akan menghasilkan pelatih yang berkualitas rendah. Pengangkatan sebagai wakil perguruan dengan tidak dibekali pengetahuan pencak silat seutuhnya dan tidak ditindak lanjuti dengan pengembangan kemampuan diri, niscaya pelatih asing ini akan menghasilkan pesilat yang tidak seperti kita inginkan.

    Sedangkan perguruan-perguruan yang bersifat tradionalpun tidak dapat membantu menyelesaikan masalah, bahkan sering memperumit dan menjadi penghambat perkembangan pencak silat. Perguruan-perguruan pencak silat tradisional dalam tanda kutip tidak memiliki organisasi, sampai saat ini masih dengan setia mempertahankan keaslian pencak silat. Keutuhan kegiatan ritual yang berhubungan dengan agama ataupun budaya, hierarki dan prinsip senioritas masih sangat dominan dan tetap dipertahankan.

    Biasanya perguruan seperti ini tidak melakukan kegiatan promosi ke luar negeri. Namun sering dicari oleh orang asing karena dianggap perguruaan yang masih kokoh mempertahankan tradisi ‘asli’ pencak silat. Nama kelompok perguruan semacam ini di mancanegara dikenal masyarakat, tak ubahnya seperti perguruan modern lainnya.
    Untuk kelompok tradisional ini, perbedaan ras, warna kulit, tradisi dan budaya menjadi factor penghambat. Pesilat asing yang berminat menjadi murid atau anggota sulit diterima. Bila diterima, pada peringkat materi pelajaran tertentu yang merupakan ajaran jurus pamungkas tidak akan diajarkan dikarenakan rahasia perguruan. Erizal cal Chaniago pendekar Beringin Sakti di Jakarta mengatakan, sikap kehati-hatian guru terhadap muridnya disampaikan dalam sebuah pepatah Minangkabau: Nasaganggam di lepas nan sapinjik disimpan. Artinya: ‘yang segenggam diberikan yang kuncinya disimpan’.

    Sikap guru-guru pencak silat tradisional ini dipertegas oleh Ramli pimpinan Silek Tuo di Bukit Tinggi, kehati-hatian seorang pendekar dikawatirkan suatu waktu muridnya akan dapat mengalahkan gurunya dengan menggunakan yang sepinjik tadi. Sementara pendekar Silek Tuo, Mulyadi K.S dan ketua IPSI Padang Panjang berpendat lain yaitu; Bahwa jurus yang sepinjik tadi sebetulnya tidak pernah ada, hanya dipergunakan sebagai alasan untuk memperkokoh status hierarki oleh seorang pendekar agar para murid tetap berlaku hormat kepadanya.
    Kedua macam sikap yang diuraikan di atas dapat dianggap secara indirek sebagai penyebab utama dari rendahnya mutu pengembangan pencak silat di luar negeri. Menyimak keadaan di atas, lantas menjadi pertanyaan bagaimana pencak silat dapat mampu bersaing dengan beladiri lain di luar negeri.

    Kedua sikap yang bertolak belakang ini tidak merupakan jawaban positif dan berkesinambungan agar kita dapat menjawab tantangan era globalisasi untuk menyebarkan dan memperkenalkan budaya bangsa. Sebagai budaya asli, jelas pencak silat dapat menjadi kebanggaan sekaligus identitas kepribadian bangsa. Penulis ingin mengetuk isi hati pendekar muda agar bangkit dan bersatu padu memikirkan keadaan ini. Melalui studi dan penelitian, kita dapat menyusun sebuah strategi yang sesuai dengan lingkungan agar pencak silat berprestasi lebih baik di masa mendatang. Dengan mengadakan inventarisasi dari berbagai aliran pencak silat, dan mencari ciri khas, menonjolkan keunggulan dan mengurangi kelemahan pada setiap perguruan, insan-insan pencak silat di tanah air dapat menghadapi sikap-sikap yang menjadi penghambat perkembangan. Hanya dengan introspeksi pada diri sendiri kita dapat menguasai dunia!

    www.silatindonesia.com



    Artikel Kendala Penyebaran Pencak Silat yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


      - Powered by BING [2014-02-11 22:50]

      Leave Comment

      You must be logged in to post a comment.

      Kendala Penyebaran Pencak Silat - Silat Indonesia

      Kendala Penyebaran Pencak Silat.

          [
      in English ]

      Aug 21st, 2009 | By | Category: Artikel Silat [ in English ]

      Kendala Penyebaran Pencak Silat
      Oleh: O’ong Maryono
      Tuesday, August 16, 2005 14:36:08

      Saat ini penyebaran pencak silat sudah menunjuk angka mencapai 29 negara di seluruh dunia. Berkat jerih payah perguruan-perguruan bersama-sama IPSI dengan disokong media cetak dan elektronik dalam usaha penyebaran informasi pencak silat dapat mendunia. Sepatutnya kita acungkan jempol. Banyaknya perguruan pencak silat dapat mengembangkan sayap dengan membuka cabang perguruan di mancanegara dan membuat masyarakat awam terkagum-kagum. Kini budaya peninggalan nenek moyang kita sudah go international. Perasaan bangga menyelimuti seluruh anggota perguruan dan menjadi motivasi dalam berlatih. Indikasi ‘kepongahan’ perguruan ini, terwujud pula dalam pengakuannya memiliki banyak anggota dan cabang yang tersebar di mancanegara. Ungkapan ini nampak di setiap untaian kata yang dituliskan atau diucapakan dalam media massa.

      Namun jika diamati secara cermat kemampuan teknik pesilat dari mancanegara di beberapa pertandingan pencak silat olahraga dan seni beladiri pada peringkat sukan dunia, tampak tidak merata. Kualitas pesilat yang bertanding pada Kejuaraan Pencak Silat Dunia terkesan rendah dan kurang pantas untuk peringkat internasional. Tim Indonesia pun selalu mengirimkan pesilat peringkat nasional lapis kedua, sedangkan lapis pertama diprioritaskan untuk pesta olahraga umum seperti SEA GAMES.

      Fenomena kesenjangan teknik ini yang sudah terjadi cukup lama di kalangan pencak silat dunia sangat menarik untuk diketahui dan dianalisa lebih lanjut. Bila kita memperhatikan perguruan-perguruan modern yang berfaham liberal-rasional, ternyata bahwa mereka sangat terbuka untuk pesilat asing. Atas dorongan rasa bangga, ingin mendapat pujian, sanjungan, perguruan-perguruan modern pergi mengajar ke luar negeri atau sebaliknya mengangkat orang asing yang sedang berkunjung keperguruan untuk melihat-lihat menjadi murid. Lontaran tawaran oleh perguruan dengan kesanggupannya akan memeberikan pelatihan untuk orang asing tidak disisa-siakan. Cukup membekali pesilat asing dengan teknik-teknik dasar yang sederhana dan berlatih dalam kurun waktu sangat singkat, perguruan-perguruan mengangkat dan memberikan diploma sebagai pelatih di negerinya.

      Tindakan perguruan seperti ini tidak menutup kemungkinan, akan menghasilkan pelatih yang berkualitas rendah. Pengangkatan sebagai wakil perguruan dengan tidak dibekali pengetahuan pencak silat seutuhnya dan tidak ditindak lanjuti dengan pengembangan kemampuan diri, niscaya pelatih asing ini akan menghasilkan pesilat yang tidak seperti kita inginkan.

      Sedangkan perguruan-perguruan yang bersifat tradionalpun tidak dapat membantu menyelesaikan masalah, bahkan sering memperumit dan menjadi penghambat perkembangan pencak silat. Perguruan-perguruan pencak silat tradisional dalam tanda kutip tidak memiliki organisasi, sampai saat ini masih dengan setia mempertahankan keaslian pencak silat. Keutuhan kegiatan ritual yang berhubungan dengan agama ataupun budaya, hierarki dan prinsip senioritas masih sangat dominan dan tetap dipertahankan.

      Biasanya perguruan seperti ini tidak melakukan kegiatan promosi ke luar negeri. Namun sering dicari oleh orang asing karena dianggap perguruaan yang masih kokoh mempertahankan tradisi ‘asli’ pencak silat. Nama kelompok perguruan semacam ini di mancanegara dikenal masyarakat, tak ubahnya seperti perguruan modern lainnya.
      Untuk kelompok tradisional ini, perbedaan ras, warna kulit, tradisi dan budaya menjadi factor penghambat. Pesilat asing yang berminat menjadi murid atau anggota sulit diterima. Bila diterima, pada peringkat materi pelajaran tertentu yang merupakan ajaran jurus pamungkas tidak akan diajarkan dikarenakan rahasia perguruan. Erizal cal Chaniago pendekar Beringin Sakti di Jakarta mengatakan, sikap kehati-hatian guru terhadap muridnya disampaikan dalam sebuah pepatah Minangkabau: Nasaganggam di lepas nan sapinjik disimpan. Artinya: ‘yang segenggam diberikan yang kuncinya disimpan’.

      Sikap guru-guru pencak silat tradisional ini dipertegas oleh Ramli pimpinan Silek Tuo di Bukit Tinggi, kehati-hatian seorang pendekar dikawatirkan suatu waktu muridnya akan dapat mengalahkan gurunya dengan menggunakan yang sepinjik tadi. Sementara pendekar Silek Tuo, Mulyadi K.S dan ketua IPSI Padang Panjang berpendat lain yaitu; Bahwa jurus yang sepinjik tadi sebetulnya tidak pernah ada, hanya dipergunakan sebagai alasan untuk memperkokoh status hierarki oleh seorang pendekar agar para murid tetap berlaku hormat kepadanya.
      Kedua macam sikap yang diuraikan di atas dapat dianggap secara indirek sebagai penyebab utama dari rendahnya mutu pengembangan pencak silat di luar negeri. Menyimak keadaan di atas, lantas menjadi pertanyaan bagaimana pencak silat dapat mampu bersaing dengan beladiri lain di luar negeri.

      Kedua sikap yang bertolak belakang ini tidak merupakan jawaban positif dan berkesinambungan agar kita dapat menjawab tantangan era globalisasi untuk menyebarkan dan memperkenalkan budaya bangsa. Sebagai budaya asli, jelas pencak silat dapat menjadi kebanggaan sekaligus identitas kepribadian bangsa. Penulis ingin mengetuk isi hati pendekar muda agar bangkit dan bersatu padu memikirkan keadaan ini. Melalui studi dan penelitian, kita dapat menyusun sebuah strategi yang sesuai dengan lingkungan agar pencak silat berprestasi lebih baik di masa mendatang. Dengan mengadakan inventarisasi dari berbagai aliran pencak silat, dan mencari ciri khas, menonjolkan keunggulan dan mengurangi kelemahan pada setiap perguruan, insan-insan pencak silat di tanah air dapat menghadapi sikap-sikap yang menjadi penghambat perkembangan. Hanya dengan introspeksi pada diri sendiri kita dapat menguasai dunia!

      www.silatindonesia.com



      Artikel Kendala Penyebaran Pencak Silat yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


        - Powered by BING [2014-02-18 00:27]

        Leave Comment

        You must be logged in to post a comment.

        Kendala Penyebaran Pencak Silat - Silat Indonesia

        Kendala Penyebaran Pencak Silat.

            [
        in English ]

        Aug 21st, 2009 | By | Category: Artikel Silat [ in English ]

        Kendala Penyebaran Pencak Silat
        Oleh: O’ong Maryono
        Tuesday, August 16, 2005 14:36:08

        Saat ini penyebaran pencak silat sudah menunjuk angka mencapai 29 negara di seluruh dunia. Berkat jerih payah perguruan-perguruan bersama-sama IPSI dengan disokong media cetak dan elektronik dalam usaha penyebaran informasi pencak silat dapat mendunia. Sepatutnya kita acungkan jempol. Banyaknya perguruan pencak silat dapat mengembangkan sayap dengan membuka cabang perguruan di mancanegara dan membuat masyarakat awam terkagum-kagum. Kini budaya peninggalan nenek moyang kita sudah go international. Perasaan bangga menyelimuti seluruh anggota perguruan dan menjadi motivasi dalam berlatih. Indikasi ‘kepongahan’ perguruan ini, terwujud pula dalam pengakuannya memiliki banyak anggota dan cabang yang tersebar di mancanegara. Ungkapan ini nampak di setiap untaian kata yang dituliskan atau diucapakan dalam media massa.

        Namun jika diamati secara cermat kemampuan teknik pesilat dari mancanegara di beberapa pertandingan pencak silat olahraga dan seni beladiri pada peringkat sukan dunia, tampak tidak merata. Kualitas pesilat yang bertanding pada Kejuaraan Pencak Silat Dunia terkesan rendah dan kurang pantas untuk peringkat internasional. Tim Indonesia pun selalu mengirimkan pesilat peringkat nasional lapis kedua, sedangkan lapis pertama diprioritaskan untuk pesta olahraga umum seperti SEA GAMES.

        Fenomena kesenjangan teknik ini yang sudah terjadi cukup lama di kalangan pencak silat dunia sangat menarik untuk diketahui dan dianalisa lebih lanjut. Bila kita memperhatikan perguruan-perguruan modern yang berfaham liberal-rasional, ternyata bahwa mereka sangat terbuka untuk pesilat asing. Atas dorongan rasa bangga, ingin mendapat pujian, sanjungan, perguruan-perguruan modern pergi mengajar ke luar negeri atau sebaliknya mengangkat orang asing yang sedang berkunjung keperguruan untuk melihat-lihat menjadi murid. Lontaran tawaran oleh perguruan dengan kesanggupannya akan memeberikan pelatihan untuk orang asing tidak disisa-siakan. Cukup membekali pesilat asing dengan teknik-teknik dasar yang sederhana dan berlatih dalam kurun waktu sangat singkat, perguruan-perguruan mengangkat dan memberikan diploma sebagai pelatih di negerinya.

        Tindakan perguruan seperti ini tidak menutup kemungkinan, akan menghasilkan pelatih yang berkualitas rendah. Pengangkatan sebagai wakil perguruan dengan tidak dibekali pengetahuan pencak silat seutuhnya dan tidak ditindak lanjuti dengan pengembangan kemampuan diri, niscaya pelatih asing ini akan menghasilkan pesilat yang tidak seperti kita inginkan.

        Sedangkan perguruan-perguruan yang bersifat tradionalpun tidak dapat membantu menyelesaikan masalah, bahkan sering memperumit dan menjadi penghambat perkembangan pencak silat. Perguruan-perguruan pencak silat tradisional dalam tanda kutip tidak memiliki organisasi, sampai saat ini masih dengan setia mempertahankan keaslian pencak silat. Keutuhan kegiatan ritual yang berhubungan dengan agama ataupun budaya, hierarki dan prinsip senioritas masih sangat dominan dan tetap dipertahankan.

        Biasanya perguruan seperti ini tidak melakukan kegiatan promosi ke luar negeri. Namun sering dicari oleh orang asing karena dianggap perguruaan yang masih kokoh mempertahankan tradisi ‘asli’ pencak silat. Nama kelompok perguruan semacam ini di mancanegara dikenal masyarakat, tak ubahnya seperti perguruan modern lainnya.
        Untuk kelompok tradisional ini, perbedaan ras, warna kulit, tradisi dan budaya menjadi factor penghambat. Pesilat asing yang berminat menjadi murid atau anggota sulit diterima. Bila diterima, pada peringkat materi pelajaran tertentu yang merupakan ajaran jurus pamungkas tidak akan diajarkan dikarenakan rahasia perguruan. Erizal cal Chaniago pendekar Beringin Sakti di Jakarta mengatakan, sikap kehati-hatian guru terhadap muridnya disampaikan dalam sebuah pepatah Minangkabau: Nasaganggam di lepas nan sapinjik disimpan. Artinya: ‘yang segenggam diberikan yang kuncinya disimpan’.

        Sikap guru-guru pencak silat tradisional ini dipertegas oleh Ramli pimpinan Silek Tuo di Bukit Tinggi, kehati-hatian seorang pendekar dikawatirkan suatu waktu muridnya akan dapat mengalahkan gurunya dengan menggunakan yang sepinjik tadi. Sementara pendekar Silek Tuo, Mulyadi K.S dan ketua IPSI Padang Panjang berpendat lain yaitu; Bahwa jurus yang sepinjik tadi sebetulnya tidak pernah ada, hanya dipergunakan sebagai alasan untuk memperkokoh status hierarki oleh seorang pendekar agar para murid tetap berlaku hormat kepadanya.
        Kedua macam sikap yang diuraikan di atas dapat dianggap secara indirek sebagai penyebab utama dari rendahnya mutu pengembangan pencak silat di luar negeri. Menyimak keadaan di atas, lantas menjadi pertanyaan bagaimana pencak silat dapat mampu bersaing dengan beladiri lain di luar negeri.

        Kedua sikap yang bertolak belakang ini tidak merupakan jawaban positif dan berkesinambungan agar kita dapat menjawab tantangan era globalisasi untuk menyebarkan dan memperkenalkan budaya bangsa. Sebagai budaya asli, jelas pencak silat dapat menjadi kebanggaan sekaligus identitas kepribadian bangsa. Penulis ingin mengetuk isi hati pendekar muda agar bangkit dan bersatu padu memikirkan keadaan ini. Melalui studi dan penelitian, kita dapat menyusun sebuah strategi yang sesuai dengan lingkungan agar pencak silat berprestasi lebih baik di masa mendatang. Dengan mengadakan inventarisasi dari berbagai aliran pencak silat, dan mencari ciri khas, menonjolkan keunggulan dan mengurangi kelemahan pada setiap perguruan, insan-insan pencak silat di tanah air dapat menghadapi sikap-sikap yang menjadi penghambat perkembangan. Hanya dengan introspeksi pada diri sendiri kita dapat menguasai dunia!

        www.silatindonesia.com



        Artikel Kendala Penyebaran Pencak Silat yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


          - Powered by BING [2014-02-24 03:13]

          Leave Comment

          You must be logged in to post a comment.

          Kendala Penyebaran Pencak Silat - Silat Indonesia

          Kendala Penyebaran Pencak Silat.

              [
          in English ]

          Aug 21st, 2009 | By | Category: Artikel Silat [ in English ]

          Kendala Penyebaran Pencak Silat
          Oleh: O’ong Maryono
          Tuesday, August 16, 2005 14:36:08

          Saat ini penyebaran pencak silat sudah menunjuk angka mencapai 29 negara di seluruh dunia. Berkat jerih payah perguruan-perguruan bersama-sama IPSI dengan disokong media cetak dan elektronik dalam usaha penyebaran informasi pencak silat dapat mendunia. Sepatutnya kita acungkan jempol. Banyaknya perguruan pencak silat dapat mengembangkan sayap dengan membuka cabang perguruan di mancanegara dan membuat masyarakat awam terkagum-kagum. Kini budaya peninggalan nenek moyang kita sudah go international. Perasaan bangga menyelimuti seluruh anggota perguruan dan menjadi motivasi dalam berlatih. Indikasi ‘kepongahan’ perguruan ini, terwujud pula dalam pengakuannya memiliki banyak anggota dan cabang yang tersebar di mancanegara. Ungkapan ini nampak di setiap untaian kata yang dituliskan atau diucapakan dalam media massa.

          Namun jika diamati secara cermat kemampuan teknik pesilat dari mancanegara di beberapa pertandingan pencak silat olahraga dan seni beladiri pada peringkat sukan dunia, tampak tidak merata. Kualitas pesilat yang bertanding pada Kejuaraan Pencak Silat Dunia terkesan rendah dan kurang pantas untuk peringkat internasional. Tim Indonesia pun selalu mengirimkan pesilat peringkat nasional lapis kedua, sedangkan lapis pertama diprioritaskan untuk pesta olahraga umum seperti SEA GAMES.

          Fenomena kesenjangan teknik ini yang sudah terjadi cukup lama di kalangan pencak silat dunia sangat menarik untuk diketahui dan dianalisa lebih lanjut. Bila kita memperhatikan perguruan-perguruan modern yang berfaham liberal-rasional, ternyata bahwa mereka sangat terbuka untuk pesilat asing. Atas dorongan rasa bangga, ingin mendapat pujian, sanjungan, perguruan-perguruan modern pergi mengajar ke luar negeri atau sebaliknya mengangkat orang asing yang sedang berkunjung keperguruan untuk melihat-lihat menjadi murid. Lontaran tawaran oleh perguruan dengan kesanggupannya akan memeberikan pelatihan untuk orang asing tidak disisa-siakan. Cukup membekali pesilat asing dengan teknik-teknik dasar yang sederhana dan berlatih dalam kurun waktu sangat singkat, perguruan-perguruan mengangkat dan memberikan diploma sebagai pelatih di negerinya.

          Tindakan perguruan seperti ini tidak menutup kemungkinan, akan menghasilkan pelatih yang berkualitas rendah. Pengangkatan sebagai wakil perguruan dengan tidak dibekali pengetahuan pencak silat seutuhnya dan tidak ditindak lanjuti dengan pengembangan kemampuan diri, niscaya pelatih asing ini akan menghasilkan pesilat yang tidak seperti kita inginkan.

          Sedangkan perguruan-perguruan yang bersifat tradionalpun tidak dapat membantu menyelesaikan masalah, bahkan sering memperumit dan menjadi penghambat perkembangan pencak silat. Perguruan-perguruan pencak silat tradisional dalam tanda kutip tidak memiliki organisasi, sampai saat ini masih dengan setia mempertahankan keaslian pencak silat. Keutuhan kegiatan ritual yang berhubungan dengan agama ataupun budaya, hierarki dan prinsip senioritas masih sangat dominan dan tetap dipertahankan.

          Biasanya perguruan seperti ini tidak melakukan kegiatan promosi ke luar negeri. Namun sering dicari oleh orang asing karena dianggap perguruaan yang masih kokoh mempertahankan tradisi ‘asli’ pencak silat. Nama kelompok perguruan semacam ini di mancanegara dikenal masyarakat, tak ubahnya seperti perguruan modern lainnya.
          Untuk kelompok tradisional ini, perbedaan ras, warna kulit, tradisi dan budaya menjadi factor penghambat. Pesilat asing yang berminat menjadi murid atau anggota sulit diterima. Bila diterima, pada peringkat materi pelajaran tertentu yang merupakan ajaran jurus pamungkas tidak akan diajarkan dikarenakan rahasia perguruan. Erizal cal Chaniago pendekar Beringin Sakti di Jakarta mengatakan, sikap kehati-hatian guru terhadap muridnya disampaikan dalam sebuah pepatah Minangkabau: Nasaganggam di lepas nan sapinjik disimpan. Artinya: ‘yang segenggam diberikan yang kuncinya disimpan’.

          Sikap guru-guru pencak silat tradisional ini dipertegas oleh Ramli pimpinan Silek Tuo di Bukit Tinggi, kehati-hatian seorang pendekar dikawatirkan suatu waktu muridnya akan dapat mengalahkan gurunya dengan menggunakan yang sepinjik tadi. Sementara pendekar Silek Tuo, Mulyadi K.S dan ketua IPSI Padang Panjang berpendat lain yaitu; Bahwa jurus yang sepinjik tadi sebetulnya tidak pernah ada, hanya dipergunakan sebagai alasan untuk memperkokoh status hierarki oleh seorang pendekar agar para murid tetap berlaku hormat kepadanya.
          Kedua macam sikap yang diuraikan di atas dapat dianggap secara indirek sebagai penyebab utama dari rendahnya mutu pengembangan pencak silat di luar negeri. Menyimak keadaan di atas, lantas menjadi pertanyaan bagaimana pencak silat dapat mampu bersaing dengan beladiri lain di luar negeri.

          Kedua sikap yang bertolak belakang ini tidak merupakan jawaban positif dan berkesinambungan agar kita dapat menjawab tantangan era globalisasi untuk menyebarkan dan memperkenalkan budaya bangsa. Sebagai budaya asli, jelas pencak silat dapat menjadi kebanggaan sekaligus identitas kepribadian bangsa. Penulis ingin mengetuk isi hati pendekar muda agar bangkit dan bersatu padu memikirkan keadaan ini. Melalui studi dan penelitian, kita dapat menyusun sebuah strategi yang sesuai dengan lingkungan agar pencak silat berprestasi lebih baik di masa mendatang. Dengan mengadakan inventarisasi dari berbagai aliran pencak silat, dan mencari ciri khas, menonjolkan keunggulan dan mengurangi kelemahan pada setiap perguruan, insan-insan pencak silat di tanah air dapat menghadapi sikap-sikap yang menjadi penghambat perkembangan. Hanya dengan introspeksi pada diri sendiri kita dapat menguasai dunia!

          www.silatindonesia.com



          Artikel Kendala Penyebaran Pencak Silat yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


            - Powered by BING [2014-03-01 19:27]

            Leave Comment

            You must be logged in to post a comment.

            Kendala Penyebaran Pencak Silat - Silat Indonesia

            Kendala Penyebaran Pencak Silat.

                [
            in English ]

            Aug 21st, 2009 | By | Category: Artikel Silat [ in English ]

            Kendala Penyebaran Pencak Silat
            Oleh: O’ong Maryono
            Tuesday, August 16, 2005 14:36:08

            Saat ini penyebaran pencak silat sudah menunjuk angka mencapai 29 negara di seluruh dunia. Berkat jerih payah perguruan-perguruan bersama-sama IPSI dengan disokong media cetak dan elektronik dalam usaha penyebaran informasi pencak silat dapat mendunia. Sepatutnya kita acungkan jempol. Banyaknya perguruan pencak silat dapat mengembangkan sayap dengan membuka cabang perguruan di mancanegara dan membuat masyarakat awam terkagum-kagum. Kini budaya peninggalan nenek moyang kita sudah go international. Perasaan bangga menyelimuti seluruh anggota perguruan dan menjadi motivasi dalam berlatih. Indikasi ‘kepongahan’ perguruan ini, terwujud pula dalam pengakuannya memiliki banyak anggota dan cabang yang tersebar di mancanegara. Ungkapan ini nampak di setiap untaian kata yang dituliskan atau diucapakan dalam media massa.

            Namun jika diamati secara cermat kemampuan teknik pesilat dari mancanegara di beberapa pertandingan pencak silat olahraga dan seni beladiri pada peringkat sukan dunia, tampak tidak merata. Kualitas pesilat yang bertanding pada Kejuaraan Pencak Silat Dunia terkesan rendah dan kurang pantas untuk peringkat internasional. Tim Indonesia pun selalu mengirimkan pesilat peringkat nasional lapis kedua, sedangkan lapis pertama diprioritaskan untuk pesta olahraga umum seperti SEA GAMES.

            Fenomena kesenjangan teknik ini yang sudah terjadi cukup lama di kalangan pencak silat dunia sangat menarik untuk diketahui dan dianalisa lebih lanjut. Bila kita memperhatikan perguruan-perguruan modern yang berfaham liberal-rasional, ternyata bahwa mereka sangat terbuka untuk pesilat asing. Atas dorongan rasa bangga, ingin mendapat pujian, sanjungan, perguruan-perguruan modern pergi mengajar ke luar negeri atau sebaliknya mengangkat orang asing yang sedang berkunjung keperguruan untuk melihat-lihat menjadi murid. Lontaran tawaran oleh perguruan dengan kesanggupannya akan memeberikan pelatihan untuk orang asing tidak disisa-siakan. Cukup membekali pesilat asing dengan teknik-teknik dasar yang sederhana dan berlatih dalam kurun waktu sangat singkat, perguruan-perguruan mengangkat dan memberikan diploma sebagai pelatih di negerinya.

            Tindakan perguruan seperti ini tidak menutup kemungkinan, akan menghasilkan pelatih yang berkualitas rendah. Pengangkatan sebagai wakil perguruan dengan tidak dibekali pengetahuan pencak silat seutuhnya dan tidak ditindak lanjuti dengan pengembangan kemampuan diri, niscaya pelatih asing ini akan menghasilkan pesilat yang tidak seperti kita inginkan.

            Sedangkan perguruan-perguruan yang bersifat tradionalpun tidak dapat membantu menyelesaikan masalah, bahkan sering memperumit dan menjadi penghambat perkembangan pencak silat. Perguruan-perguruan pencak silat tradisional dalam tanda kutip tidak memiliki organisasi, sampai saat ini masih dengan setia mempertahankan keaslian pencak silat. Keutuhan kegiatan ritual yang berhubungan dengan agama ataupun budaya, hierarki dan prinsip senioritas masih sangat dominan dan tetap dipertahankan.

            Biasanya perguruan seperti ini tidak melakukan kegiatan promosi ke luar negeri. Namun sering dicari oleh orang asing karena dianggap perguruaan yang masih kokoh mempertahankan tradisi ‘asli’ pencak silat. Nama kelompok perguruan semacam ini di mancanegara dikenal masyarakat, tak ubahnya seperti perguruan modern lainnya.
            Untuk kelompok tradisional ini, perbedaan ras, warna kulit, tradisi dan budaya menjadi factor penghambat. Pesilat asing yang berminat menjadi murid atau anggota sulit diterima. Bila diterima, pada peringkat materi pelajaran tertentu yang merupakan ajaran jurus pamungkas tidak akan diajarkan dikarenakan rahasia perguruan. Erizal cal Chaniago pendekar Beringin Sakti di Jakarta mengatakan, sikap kehati-hatian guru terhadap muridnya disampaikan dalam sebuah pepatah Minangkabau: Nasaganggam di lepas nan sapinjik disimpan. Artinya: ‘yang segenggam diberikan yang kuncinya disimpan’.

            Sikap guru-guru pencak silat tradisional ini dipertegas oleh Ramli pimpinan Silek Tuo di Bukit Tinggi, kehati-hatian seorang pendekar dikawatirkan suatu waktu muridnya akan dapat mengalahkan gurunya dengan menggunakan yang sepinjik tadi. Sementara pendekar Silek Tuo, Mulyadi K.S dan ketua IPSI Padang Panjang berpendat lain yaitu; Bahwa jurus yang sepinjik tadi sebetulnya tidak pernah ada, hanya dipergunakan sebagai alasan untuk memperkokoh status hierarki oleh seorang pendekar agar para murid tetap berlaku hormat kepadanya.
            Kedua macam sikap yang diuraikan di atas dapat dianggap secara indirek sebagai penyebab utama dari rendahnya mutu pengembangan pencak silat di luar negeri. Menyimak keadaan di atas, lantas menjadi pertanyaan bagaimana pencak silat dapat mampu bersaing dengan beladiri lain di luar negeri.

            Kedua sikap yang bertolak belakang ini tidak merupakan jawaban positif dan berkesinambungan agar kita dapat menjawab tantangan era globalisasi untuk menyebarkan dan memperkenalkan budaya bangsa. Sebagai budaya asli, jelas pencak silat dapat menjadi kebanggaan sekaligus identitas kepribadian bangsa. Penulis ingin mengetuk isi hati pendekar muda agar bangkit dan bersatu padu memikirkan keadaan ini. Melalui studi dan penelitian, kita dapat menyusun sebuah strategi yang sesuai dengan lingkungan agar pencak silat berprestasi lebih baik di masa mendatang. Dengan mengadakan inventarisasi dari berbagai aliran pencak silat, dan mencari ciri khas, menonjolkan keunggulan dan mengurangi kelemahan pada setiap perguruan, insan-insan pencak silat di tanah air dapat menghadapi sikap-sikap yang menjadi penghambat perkembangan. Hanya dengan introspeksi pada diri sendiri kita dapat menguasai dunia!

            www.silatindonesia.com



            Artikel Kendala Penyebaran Pencak Silat yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


              - Powered by BING [2014-03-08 03:21]

              Leave Comment

              You must be logged in to post a comment.

              Kendala Penyebaran Pencak Silat - Silat Indonesia

              Kendala Penyebaran Pencak Silat.

                  [
              in English ]

              Aug 21st, 2009 | By | Category: Artikel Silat [ in English ]

              Kendala Penyebaran Pencak Silat
              Oleh: O’ong Maryono
              Tuesday, August 16, 2005 14:36:08

              Saat ini penyebaran pencak silat sudah menunjuk angka mencapai 29 negara di seluruh dunia. Berkat jerih payah perguruan-perguruan bersama-sama IPSI dengan disokong media cetak dan elektronik dalam usaha penyebaran informasi pencak silat dapat mendunia. Sepatutnya kita acungkan jempol. Banyaknya perguruan pencak silat dapat mengembangkan sayap dengan membuka cabang perguruan di mancanegara dan membuat masyarakat awam terkagum-kagum. Kini budaya peninggalan nenek moyang kita sudah go international. Perasaan bangga menyelimuti seluruh anggota perguruan dan menjadi motivasi dalam berlatih. Indikasi ‘kepongahan’ perguruan ini, terwujud pula dalam pengakuannya memiliki banyak anggota dan cabang yang tersebar di mancanegara. Ungkapan ini nampak di setiap untaian kata yang dituliskan atau diucapakan dalam media massa.

              Namun jika diamati secara cermat kemampuan teknik pesilat dari mancanegara di beberapa pertandingan pencak silat olahraga dan seni beladiri pada peringkat sukan dunia, tampak tidak merata. Kualitas pesilat yang bertanding pada Kejuaraan Pencak Silat Dunia terkesan rendah dan kurang pantas untuk peringkat internasional. Tim Indonesia pun selalu mengirimkan pesilat peringkat nasional lapis kedua, sedangkan lapis pertama diprioritaskan untuk pesta olahraga umum seperti SEA GAMES.

              Fenomena kesenjangan teknik ini yang sudah terjadi cukup lama di kalangan pencak silat dunia sangat menarik untuk diketahui dan dianalisa lebih lanjut. Bila kita memperhatikan perguruan-perguruan modern yang berfaham liberal-rasional, ternyata bahwa mereka sangat terbuka untuk pesilat asing. Atas dorongan rasa bangga, ingin mendapat pujian, sanjungan, perguruan-perguruan modern pergi mengajar ke luar negeri atau sebaliknya mengangkat orang asing yang sedang berkunjung keperguruan untuk melihat-lihat menjadi murid. Lontaran tawaran oleh perguruan dengan kesanggupannya akan memeberikan pelatihan untuk orang asing tidak disisa-siakan. Cukup membekali pesilat asing dengan teknik-teknik dasar yang sederhana dan berlatih dalam kurun waktu sangat singkat, perguruan-perguruan mengangkat dan memberikan diploma sebagai pelatih di negerinya.

              Tindakan perguruan seperti ini tidak menutup kemungkinan, akan menghasilkan pelatih yang berkualitas rendah. Pengangkatan sebagai wakil perguruan dengan tidak dibekali pengetahuan pencak silat seutuhnya dan tidak ditindak lanjuti dengan pengembangan kemampuan diri, niscaya pelatih asing ini akan menghasilkan pesilat yang tidak seperti kita inginkan.

              Sedangkan perguruan-perguruan yang bersifat tradionalpun tidak dapat membantu menyelesaikan masalah, bahkan sering memperumit dan menjadi penghambat perkembangan pencak silat. Perguruan-perguruan pencak silat tradisional dalam tanda kutip tidak memiliki organisasi, sampai saat ini masih dengan setia mempertahankan keaslian pencak silat. Keutuhan kegiatan ritual yang berhubungan dengan agama ataupun budaya, hierarki dan prinsip senioritas masih sangat dominan dan tetap dipertahankan.

              Biasanya perguruan seperti ini tidak melakukan kegiatan promosi ke luar negeri. Namun sering dicari oleh orang asing karena dianggap perguruaan yang masih kokoh mempertahankan tradisi ‘asli’ pencak silat. Nama kelompok perguruan semacam ini di mancanegara dikenal masyarakat, tak ubahnya seperti perguruan modern lainnya.
              Untuk kelompok tradisional ini, perbedaan ras, warna kulit, tradisi dan budaya menjadi factor penghambat. Pesilat asing yang berminat menjadi murid atau anggota sulit diterima. Bila diterima, pada peringkat materi pelajaran tertentu yang merupakan ajaran jurus pamungkas tidak akan diajarkan dikarenakan rahasia perguruan. Erizal cal Chaniago pendekar Beringin Sakti di Jakarta mengatakan, sikap kehati-hatian guru terhadap muridnya disampaikan dalam sebuah pepatah Minangkabau: Nasaganggam di lepas nan sapinjik disimpan. Artinya: ‘yang segenggam diberikan yang kuncinya disimpan’.

              Sikap guru-guru pencak silat tradisional ini dipertegas oleh Ramli pimpinan Silek Tuo di Bukit Tinggi, kehati-hatian seorang pendekar dikawatirkan suatu waktu muridnya akan dapat mengalahkan gurunya dengan menggunakan yang sepinjik tadi. Sementara pendekar Silek Tuo, Mulyadi K.S dan ketua IPSI Padang Panjang berpendat lain yaitu; Bahwa jurus yang sepinjik tadi sebetulnya tidak pernah ada, hanya dipergunakan sebagai alasan untuk memperkokoh status hierarki oleh seorang pendekar agar para murid tetap berlaku hormat kepadanya.
              Kedua macam sikap yang diuraikan di atas dapat dianggap secara indirek sebagai penyebab utama dari rendahnya mutu pengembangan pencak silat di luar negeri. Menyimak keadaan di atas, lantas menjadi pertanyaan bagaimana pencak silat dapat mampu bersaing dengan beladiri lain di luar negeri.

              Kedua sikap yang bertolak belakang ini tidak merupakan jawaban positif dan berkesinambungan agar kita dapat menjawab tantangan era globalisasi untuk menyebarkan dan memperkenalkan budaya bangsa. Sebagai budaya asli, jelas pencak silat dapat menjadi kebanggaan sekaligus identitas kepribadian bangsa. Penulis ingin mengetuk isi hati pendekar muda agar bangkit dan bersatu padu memikirkan keadaan ini. Melalui studi dan penelitian, kita dapat menyusun sebuah strategi yang sesuai dengan lingkungan agar pencak silat berprestasi lebih baik di masa mendatang. Dengan mengadakan inventarisasi dari berbagai aliran pencak silat, dan mencari ciri khas, menonjolkan keunggulan dan mengurangi kelemahan pada setiap perguruan, insan-insan pencak silat di tanah air dapat menghadapi sikap-sikap yang menjadi penghambat perkembangan. Hanya dengan introspeksi pada diri sendiri kita dapat menguasai dunia!

              www.silatindonesia.com



              Artikel Kendala Penyebaran Pencak Silat yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


                - Powered by BING [2014-03-14 01:42]

                Leave Comment

                You must be logged in to post a comment.

                Kendala Penyebaran Pencak Silat - Silat Indonesia

                Kendala Penyebaran Pencak Silat.

                    [
                in English ]

                Aug 21st, 2009 | By | Category: Artikel Silat [ in English ]

                Kendala Penyebaran Pencak Silat
                Oleh: O’ong Maryono
                Tuesday, August 16, 2005 14:36:08

                Saat ini penyebaran pencak silat sudah menunjuk angka mencapai 29 negara di seluruh dunia. Berkat jerih payah perguruan-perguruan bersama-sama IPSI dengan disokong media cetak dan elektronik dalam usaha penyebaran informasi pencak silat dapat mendunia. Sepatutnya kita acungkan jempol. Banyaknya perguruan pencak silat dapat mengembangkan sayap dengan membuka cabang perguruan di mancanegara dan membuat masyarakat awam terkagum-kagum. Kini budaya peninggalan nenek moyang kita sudah go international. Perasaan bangga menyelimuti seluruh anggota perguruan dan menjadi motivasi dalam berlatih. Indikasi ‘kepongahan’ perguruan ini, terwujud pula dalam pengakuannya memiliki banyak anggota dan cabang yang tersebar di mancanegara. Ungkapan ini nampak di setiap untaian kata yang dituliskan atau diucapakan dalam media massa.

                Namun jika diamati secara cermat kemampuan teknik pesilat dari mancanegara di beberapa pertandingan pencak silat olahraga dan seni beladiri pada peringkat sukan dunia, tampak tidak merata. Kualitas pesilat yang bertanding pada Kejuaraan Pencak Silat Dunia terkesan rendah dan kurang pantas untuk peringkat internasional. Tim Indonesia pun selalu mengirimkan pesilat peringkat nasional lapis kedua, sedangkan lapis pertama diprioritaskan untuk pesta olahraga umum seperti SEA GAMES.

                Fenomena kesenjangan teknik ini yang sudah terjadi cukup lama di kalangan pencak silat dunia sangat menarik untuk diketahui dan dianalisa lebih lanjut. Bila kita memperhatikan perguruan-perguruan modern yang berfaham liberal-rasional, ternyata bahwa mereka sangat terbuka untuk pesilat asing. Atas dorongan rasa bangga, ingin mendapat pujian, sanjungan, perguruan-perguruan modern pergi mengajar ke luar negeri atau sebaliknya mengangkat orang asing yang sedang berkunjung keperguruan untuk melihat-lihat menjadi murid. Lontaran tawaran oleh perguruan dengan kesanggupannya akan memeberikan pelatihan untuk orang asing tidak disisa-siakan. Cukup membekali pesilat asing dengan teknik-teknik dasar yang sederhana dan berlatih dalam kurun waktu sangat singkat, perguruan-perguruan mengangkat dan memberikan diploma sebagai pelatih di negerinya.

                Tindakan perguruan seperti ini tidak menutup kemungkinan, akan menghasilkan pelatih yang berkualitas rendah. Pengangkatan sebagai wakil perguruan dengan tidak dibekali pengetahuan pencak silat seutuhnya dan tidak ditindak lanjuti dengan pengembangan kemampuan diri, niscaya pelatih asing ini akan menghasilkan pesilat yang tidak seperti kita inginkan.

                Sedangkan perguruan-perguruan yang bersifat tradionalpun tidak dapat membantu menyelesaikan masalah, bahkan sering memperumit dan menjadi penghambat perkembangan pencak silat. Perguruan-perguruan pencak silat tradisional dalam tanda kutip tidak memiliki organisasi, sampai saat ini masih dengan setia mempertahankan keaslian pencak silat. Keutuhan kegiatan ritual yang berhubungan dengan agama ataupun budaya, hierarki dan prinsip senioritas masih sangat dominan dan tetap dipertahankan.

                Biasanya perguruan seperti ini tidak melakukan kegiatan promosi ke luar negeri. Namun sering dicari oleh orang asing karena dianggap perguruaan yang masih kokoh mempertahankan tradisi ‘asli’ pencak silat. Nama kelompok perguruan semacam ini di mancanegara dikenal masyarakat, tak ubahnya seperti perguruan modern lainnya.
                Untuk kelompok tradisional ini, perbedaan ras, warna kulit, tradisi dan budaya menjadi factor penghambat. Pesilat asing yang berminat menjadi murid atau anggota sulit diterima. Bila diterima, pada peringkat materi pelajaran tertentu yang merupakan ajaran jurus pamungkas tidak akan diajarkan dikarenakan rahasia perguruan. Erizal cal Chaniago pendekar Beringin Sakti di Jakarta mengatakan, sikap kehati-hatian guru terhadap muridnya disampaikan dalam sebuah pepatah Minangkabau: Nasaganggam di lepas nan sapinjik disimpan. Artinya: ‘yang segenggam diberikan yang kuncinya disimpan’.

                Sikap guru-guru pencak silat tradisional ini dipertegas oleh Ramli pimpinan Silek Tuo di Bukit Tinggi, kehati-hatian seorang pendekar dikawatirkan suatu waktu muridnya akan dapat mengalahkan gurunya dengan menggunakan yang sepinjik tadi. Sementara pendekar Silek Tuo, Mulyadi K.S dan ketua IPSI Padang Panjang berpendat lain yaitu; Bahwa jurus yang sepinjik tadi sebetulnya tidak pernah ada, hanya dipergunakan sebagai alasan untuk memperkokoh status hierarki oleh seorang pendekar agar para murid tetap berlaku hormat kepadanya.
                Kedua macam sikap yang diuraikan di atas dapat dianggap secara indirek sebagai penyebab utama dari rendahnya mutu pengembangan pencak silat di luar negeri. Menyimak keadaan di atas, lantas menjadi pertanyaan bagaimana pencak silat dapat mampu bersaing dengan beladiri lain di luar negeri.

                Kedua sikap yang bertolak belakang ini tidak merupakan jawaban positif dan berkesinambungan agar kita dapat menjawab tantangan era globalisasi untuk menyebarkan dan memperkenalkan budaya bangsa. Sebagai budaya asli, jelas pencak silat dapat menjadi kebanggaan sekaligus identitas kepribadian bangsa. Penulis ingin mengetuk isi hati pendekar muda agar bangkit dan bersatu padu memikirkan keadaan ini. Melalui studi dan penelitian, kita dapat menyusun sebuah strategi yang sesuai dengan lingkungan agar pencak silat berprestasi lebih baik di masa mendatang. Dengan mengadakan inventarisasi dari berbagai aliran pencak silat, dan mencari ciri khas, menonjolkan keunggulan dan mengurangi kelemahan pada setiap perguruan, insan-insan pencak silat di tanah air dapat menghadapi sikap-sikap yang menjadi penghambat perkembangan. Hanya dengan introspeksi pada diri sendiri kita dapat menguasai dunia!

                www.silatindonesia.com



                Artikel Kendala Penyebaran Pencak Silat yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


                  - Powered by BING [2014-03-19 22:02]

                  Leave Comment

                  You must be logged in to post a comment.

                  Kendala Penyebaran Pencak Silat - Silat Indonesia

                  Kendala Penyebaran Pencak Silat.

                      [
                  in English ]

                  Aug 21st, 2009 | By | Category: Artikel Silat [ in English ]

                  Kendala Penyebaran Pencak Silat
                  Oleh: O’ong Maryono
                  Tuesday, August 16, 2005 14:36:08

                  Saat ini penyebaran pencak silat sudah menunjuk angka mencapai 29 negara di seluruh dunia. Berkat jerih payah perguruan-perguruan bersama-sama IPSI dengan disokong media cetak dan elektronik dalam usaha penyebaran informasi pencak silat dapat mendunia. Sepatutnya kita acungkan jempol. Banyaknya perguruan pencak silat dapat mengembangkan sayap dengan membuka cabang perguruan di mancanegara dan membuat masyarakat awam terkagum-kagum. Kini budaya peninggalan nenek moyang kita sudah go international. Perasaan bangga menyelimuti seluruh anggota perguruan dan menjadi motivasi dalam berlatih. Indikasi ‘kepongahan’ perguruan ini, terwujud pula dalam pengakuannya memiliki banyak anggota dan cabang yang tersebar di mancanegara. Ungkapan ini nampak di setiap untaian kata yang dituliskan atau diucapakan dalam media massa.

                  Namun jika diamati secara cermat kemampuan teknik pesilat dari mancanegara di beberapa pertandingan pencak silat olahraga dan seni beladiri pada peringkat sukan dunia, tampak tidak merata. Kualitas pesilat yang bertanding pada Kejuaraan Pencak Silat Dunia terkesan rendah dan kurang pantas untuk peringkat internasional. Tim Indonesia pun selalu mengirimkan pesilat peringkat nasional lapis kedua, sedangkan lapis pertama diprioritaskan untuk pesta olahraga umum seperti SEA GAMES.

                  Fenomena kesenjangan teknik ini yang sudah terjadi cukup lama di kalangan pencak silat dunia sangat menarik untuk diketahui dan dianalisa lebih lanjut. Bila kita memperhatikan perguruan-perguruan modern yang berfaham liberal-rasional, ternyata bahwa mereka sangat terbuka untuk pesilat asing. Atas dorongan rasa bangga, ingin mendapat pujian, sanjungan, perguruan-perguruan modern pergi mengajar ke luar negeri atau sebaliknya mengangkat orang asing yang sedang berkunjung keperguruan untuk melihat-lihat menjadi murid. Lontaran tawaran oleh perguruan dengan kesanggupannya akan memeberikan pelatihan untuk orang asing tidak disisa-siakan. Cukup membekali pesilat asing dengan teknik-teknik dasar yang sederhana dan berlatih dalam kurun waktu sangat singkat, perguruan-perguruan mengangkat dan memberikan diploma sebagai pelatih di negerinya.

                  Tindakan perguruan seperti ini tidak menutup kemungkinan, akan menghasilkan pelatih yang berkualitas rendah. Pengangkatan sebagai wakil perguruan dengan tidak dibekali pengetahuan pencak silat seutuhnya dan tidak ditindak lanjuti dengan pengembangan kemampuan diri, niscaya pelatih asing ini akan menghasilkan pesilat yang tidak seperti kita inginkan.

                  Sedangkan perguruan-perguruan yang bersifat tradionalpun tidak dapat membantu menyelesaikan masalah, bahkan sering memperumit dan menjadi penghambat perkembangan pencak silat. Perguruan-perguruan pencak silat tradisional dalam tanda kutip tidak memiliki organisasi, sampai saat ini masih dengan setia mempertahankan keaslian pencak silat. Keutuhan kegiatan ritual yang berhubungan dengan agama ataupun budaya, hierarki dan prinsip senioritas masih sangat dominan dan tetap dipertahankan.

                  Biasanya perguruan seperti ini tidak melakukan kegiatan promosi ke luar negeri. Namun sering dicari oleh orang asing karena dianggap perguruaan yang masih kokoh mempertahankan tradisi ‘asli’ pencak silat. Nama kelompok perguruan semacam ini di mancanegara dikenal masyarakat, tak ubahnya seperti perguruan modern lainnya.
                  Untuk kelompok tradisional ini, perbedaan ras, warna kulit, tradisi dan budaya menjadi factor penghambat. Pesilat asing yang berminat menjadi murid atau anggota sulit diterima. Bila diterima, pada peringkat materi pelajaran tertentu yang merupakan ajaran jurus pamungkas tidak akan diajarkan dikarenakan rahasia perguruan. Erizal cal Chaniago pendekar Beringin Sakti di Jakarta mengatakan, sikap kehati-hatian guru terhadap muridnya disampaikan dalam sebuah pepatah Minangkabau: Nasaganggam di lepas nan sapinjik disimpan. Artinya: ‘yang segenggam diberikan yang kuncinya disimpan’.

                  Sikap guru-guru pencak silat tradisional ini dipertegas oleh Ramli pimpinan Silek Tuo di Bukit Tinggi, kehati-hatian seorang pendekar dikawatirkan suatu waktu muridnya akan dapat mengalahkan gurunya dengan menggunakan yang sepinjik tadi. Sementara pendekar Silek Tuo, Mulyadi K.S dan ketua IPSI Padang Panjang berpendat lain yaitu; Bahwa jurus yang sepinjik tadi sebetulnya tidak pernah ada, hanya dipergunakan sebagai alasan untuk memperkokoh status hierarki oleh seorang pendekar agar para murid tetap berlaku hormat kepadanya.
                  Kedua macam sikap yang diuraikan di atas dapat dianggap secara indirek sebagai penyebab utama dari rendahnya mutu pengembangan pencak silat di luar negeri. Menyimak keadaan di atas, lantas menjadi pertanyaan bagaimana pencak silat dapat mampu bersaing dengan beladiri lain di luar negeri.

                  Kedua sikap yang bertolak belakang ini tidak merupakan jawaban positif dan berkesinambungan agar kita dapat menjawab tantangan era globalisasi untuk menyebarkan dan memperkenalkan budaya bangsa. Sebagai budaya asli, jelas pencak silat dapat menjadi kebanggaan sekaligus identitas kepribadian bangsa. Penulis ingin mengetuk isi hati pendekar muda agar bangkit dan bersatu padu memikirkan keadaan ini. Melalui studi dan penelitian, kita dapat menyusun sebuah strategi yang sesuai dengan lingkungan agar pencak silat berprestasi lebih baik di masa mendatang. Dengan mengadakan inventarisasi dari berbagai aliran pencak silat, dan mencari ciri khas, menonjolkan keunggulan dan mengurangi kelemahan pada setiap perguruan, insan-insan pencak silat di tanah air dapat menghadapi sikap-sikap yang menjadi penghambat perkembangan. Hanya dengan introspeksi pada diri sendiri kita dapat menguasai dunia!

                  www.silatindonesia.com



                  Artikel Kendala Penyebaran Pencak Silat yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


                    - Powered by BING [2014-03-25 21:53]

                    Leave Comment

                    You must be logged in to post a comment.

                    Kendala Penyebaran Pencak Silat - Silat Indonesia

                    Kendala Penyebaran Pencak Silat.

                        [
                    in English ]

                    Aug 21st, 2009 | By | Category: Artikel Silat [ in English ]

                    Kendala Penyebaran Pencak Silat
                    Oleh: O’ong Maryono
                    Tuesday, August 16, 2005 14:36:08

                    Saat ini penyebaran pencak silat sudah menunjuk angka mencapai 29 negara di seluruh dunia. Berkat jerih payah perguruan-perguruan bersama-sama IPSI dengan disokong media cetak dan elektronik dalam usaha penyebaran informasi pencak silat dapat mendunia. Sepatutnya kita acungkan jempol. Banyaknya perguruan pencak silat dapat mengembangkan sayap dengan membuka cabang perguruan di mancanegara dan membuat masyarakat awam terkagum-kagum. Kini budaya peninggalan nenek moyang kita sudah go international. Perasaan bangga menyelimuti seluruh anggota perguruan dan menjadi motivasi dalam berlatih. Indikasi ‘kepongahan’ perguruan ini, terwujud pula dalam pengakuannya memiliki banyak anggota dan cabang yang tersebar di mancanegara. Ungkapan ini nampak di setiap untaian kata yang dituliskan atau diucapakan dalam media massa.

                    Namun jika diamati secara cermat kemampuan teknik pesilat dari mancanegara di beberapa pertandingan pencak silat olahraga dan seni beladiri pada peringkat sukan dunia, tampak tidak merata. Kualitas pesilat yang bertanding pada Kejuaraan Pencak Silat Dunia terkesan rendah dan kurang pantas untuk peringkat internasional. Tim Indonesia pun selalu mengirimkan pesilat peringkat nasional lapis kedua, sedangkan lapis pertama diprioritaskan untuk pesta olahraga umum seperti SEA GAMES.

                    Fenomena kesenjangan teknik ini yang sudah terjadi cukup lama di kalangan pencak silat dunia sangat menarik untuk diketahui dan dianalisa lebih lanjut. Bila kita memperhatikan perguruan-perguruan modern yang berfaham liberal-rasional, ternyata bahwa mereka sangat terbuka untuk pesilat asing. Atas dorongan rasa bangga, ingin mendapat pujian, sanjungan, perguruan-perguruan modern pergi mengajar ke luar negeri atau sebaliknya mengangkat orang asing yang sedang berkunjung keperguruan untuk melihat-lihat menjadi murid. Lontaran tawaran oleh perguruan dengan kesanggupannya akan memeberikan pelatihan untuk orang asing tidak disisa-siakan. Cukup membekali pesilat asing dengan teknik-teknik dasar yang sederhana dan berlatih dalam kurun waktu sangat singkat, perguruan-perguruan mengangkat dan memberikan diploma sebagai pelatih di negerinya.

                    Tindakan perguruan seperti ini tidak menutup kemungkinan, akan menghasilkan pelatih yang berkualitas rendah. Pengangkatan sebagai wakil perguruan dengan tidak dibekali pengetahuan pencak silat seutuhnya dan tidak ditindak lanjuti dengan pengembangan kemampuan diri, niscaya pelatih asing ini akan menghasilkan pesilat yang tidak seperti kita inginkan.

                    Sedangkan perguruan-perguruan yang bersifat tradionalpun tidak dapat membantu menyelesaikan masalah, bahkan sering memperumit dan menjadi penghambat perkembangan pencak silat. Perguruan-perguruan pencak silat tradisional dalam tanda kutip tidak memiliki organisasi, sampai saat ini masih dengan setia mempertahankan keaslian pencak silat. Keutuhan kegiatan ritual yang berhubungan dengan agama ataupun budaya, hierarki dan prinsip senioritas masih sangat dominan dan tetap dipertahankan.

                    Biasanya perguruan seperti ini tidak melakukan kegiatan promosi ke luar negeri. Namun sering dicari oleh orang asing karena dianggap perguruaan yang masih kokoh mempertahankan tradisi ‘asli’ pencak silat. Nama kelompok perguruan semacam ini di mancanegara dikenal masyarakat, tak ubahnya seperti perguruan modern lainnya.
                    Untuk kelompok tradisional ini, perbedaan ras, warna kulit, tradisi dan budaya menjadi factor penghambat. Pesilat asing yang berminat menjadi murid atau anggota sulit diterima. Bila diterima, pada peringkat materi pelajaran tertentu yang merupakan ajaran jurus pamungkas tidak akan diajarkan dikarenakan rahasia perguruan. Erizal cal Chaniago pendekar Beringin Sakti di Jakarta mengatakan, sikap kehati-hatian guru terhadap muridnya disampaikan dalam sebuah pepatah Minangkabau: Nasaganggam di lepas nan sapinjik disimpan. Artinya: ‘yang segenggam diberikan yang kuncinya disimpan’.

                    Sikap guru-guru pencak silat tradisional ini dipertegas oleh Ramli pimpinan Silek Tuo di Bukit Tinggi, kehati-hatian seorang pendekar dikawatirkan suatu waktu muridnya akan dapat mengalahkan gurunya dengan menggunakan yang sepinjik tadi. Sementara pendekar Silek Tuo, Mulyadi K.S dan ketua IPSI Padang Panjang berpendat lain yaitu; Bahwa jurus yang sepinjik tadi sebetulnya tidak pernah ada, hanya dipergunakan sebagai alasan untuk memperkokoh status hierarki oleh seorang pendekar agar para murid tetap berlaku hormat kepadanya.
                    Kedua macam sikap yang diuraikan di atas dapat dianggap secara indirek sebagai penyebab utama dari rendahnya mutu pengembangan pencak silat di luar negeri. Menyimak keadaan di atas, lantas menjadi pertanyaan bagaimana pencak silat dapat mampu bersaing dengan beladiri lain di luar negeri.

                    Kedua sikap yang bertolak belakang ini tidak merupakan jawaban positif dan berkesinambungan agar kita dapat menjawab tantangan era globalisasi untuk menyebarkan dan memperkenalkan budaya bangsa. Sebagai budaya asli, jelas pencak silat dapat menjadi kebanggaan sekaligus identitas kepribadian bangsa. Penulis ingin mengetuk isi hati pendekar muda agar bangkit dan bersatu padu memikirkan keadaan ini. Melalui studi dan penelitian, kita dapat menyusun sebuah strategi yang sesuai dengan lingkungan agar pencak silat berprestasi lebih baik di masa mendatang. Dengan mengadakan inventarisasi dari berbagai aliran pencak silat, dan mencari ciri khas, menonjolkan keunggulan dan mengurangi kelemahan pada setiap perguruan, insan-insan pencak silat di tanah air dapat menghadapi sikap-sikap yang menjadi penghambat perkembangan. Hanya dengan introspeksi pada diri sendiri kita dapat menguasai dunia!

                    www.silatindonesia.com



                    Artikel Kendala Penyebaran Pencak Silat yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


                      - Powered by BING [2014-04-01 17:53]

                      Leave Comment

                      You must be logged in to post a comment.

                      Kendala Penyebaran Pencak Silat - Silat Indonesia

                      Kendala Penyebaran Pencak Silat.

                          [
                      in English ]

                      Aug 21st, 2009 | By | Category: Artikel Silat [ in English ]

                      Kendala Penyebaran Pencak Silat
                      Oleh: O’ong Maryono
                      Tuesday, August 16, 2005 14:36:08

                      Saat ini penyebaran pencak silat sudah menunjuk angka mencapai 29 negara di seluruh dunia. Berkat jerih payah perguruan-perguruan bersama-sama IPSI dengan disokong media cetak dan elektronik dalam usaha penyebaran informasi pencak silat dapat mendunia. Sepatutnya kita acungkan jempol. Banyaknya perguruan pencak silat dapat mengembangkan sayap dengan membuka cabang perguruan di mancanegara dan membuat masyarakat awam terkagum-kagum. Kini budaya peninggalan nenek moyang kita sudah go international. Perasaan bangga menyelimuti seluruh anggota perguruan dan menjadi motivasi dalam berlatih. Indikasi ‘kepongahan’ perguruan ini, terwujud pula dalam pengakuannya memiliki banyak anggota dan cabang yang tersebar di mancanegara. Ungkapan ini nampak di setiap untaian kata yang dituliskan atau diucapakan dalam media massa.

                      Namun jika diamati secara cermat kemampuan teknik pesilat dari mancanegara di beberapa pertandingan pencak silat olahraga dan seni beladiri pada peringkat sukan dunia, tampak tidak merata. Kualitas pesilat yang bertanding pada Kejuaraan Pencak Silat Dunia terkesan rendah dan kurang pantas untuk peringkat internasional. Tim Indonesia pun selalu mengirimkan pesilat peringkat nasional lapis kedua, sedangkan lapis pertama diprioritaskan untuk pesta olahraga umum seperti SEA GAMES.

                      Fenomena kesenjangan teknik ini yang sudah terjadi cukup lama di kalangan pencak silat dunia sangat menarik untuk diketahui dan dianalisa lebih lanjut. Bila kita memperhatikan perguruan-perguruan modern yang berfaham liberal-rasional, ternyata bahwa mereka sangat terbuka untuk pesilat asing. Atas dorongan rasa bangga, ingin mendapat pujian, sanjungan, perguruan-perguruan modern pergi mengajar ke luar negeri atau sebaliknya mengangkat orang asing yang sedang berkunjung keperguruan untuk melihat-lihat menjadi murid. Lontaran tawaran oleh perguruan dengan kesanggupannya akan memeberikan pelatihan untuk orang asing tidak disisa-siakan. Cukup membekali pesilat asing dengan teknik-teknik dasar yang sederhana dan berlatih dalam kurun waktu sangat singkat, perguruan-perguruan mengangkat dan memberikan diploma sebagai pelatih di negerinya.

                      Tindakan perguruan seperti ini tidak menutup kemungkinan, akan menghasilkan pelatih yang berkualitas rendah. Pengangkatan sebagai wakil perguruan dengan tidak dibekali pengetahuan pencak silat seutuhnya dan tidak ditindak lanjuti dengan pengembangan kemampuan diri, niscaya pelatih asing ini akan menghasilkan pesilat yang tidak seperti kita inginkan.

                      Sedangkan perguruan-perguruan yang bersifat tradionalpun tidak dapat membantu menyelesaikan masalah, bahkan sering memperumit dan menjadi penghambat perkembangan pencak silat. Perguruan-perguruan pencak silat tradisional dalam tanda kutip tidak memiliki organisasi, sampai saat ini masih dengan setia mempertahankan keaslian pencak silat. Keutuhan kegiatan ritual yang berhubungan dengan agama ataupun budaya, hierarki dan prinsip senioritas masih sangat dominan dan tetap dipertahankan.

                      Biasanya perguruan seperti ini tidak melakukan kegiatan promosi ke luar negeri. Namun sering dicari oleh orang asing karena dianggap perguruaan yang masih kokoh mempertahankan tradisi ‘asli’ pencak silat. Nama kelompok perguruan semacam ini di mancanegara dikenal masyarakat, tak ubahnya seperti perguruan modern lainnya.
                      Untuk kelompok tradisional ini, perbedaan ras, warna kulit, tradisi dan budaya menjadi factor penghambat. Pesilat asing yang berminat menjadi murid atau anggota sulit diterima. Bila diterima, pada peringkat materi pelajaran tertentu yang merupakan ajaran jurus pamungkas tidak akan diajarkan dikarenakan rahasia perguruan. Erizal cal Chaniago pendekar Beringin Sakti di Jakarta mengatakan, sikap kehati-hatian guru terhadap muridnya disampaikan dalam sebuah pepatah Minangkabau: Nasaganggam di lepas nan sapinjik disimpan. Artinya: ‘yang segenggam diberikan yang kuncinya disimpan’.

                      Sikap guru-guru pencak silat tradisional ini dipertegas oleh Ramli pimpinan Silek Tuo di Bukit Tinggi, kehati-hatian seorang pendekar dikawatirkan suatu waktu muridnya akan dapat mengalahkan gurunya dengan menggunakan yang sepinjik tadi. Sementara pendekar Silek Tuo, Mulyadi K.S dan ketua IPSI Padang Panjang berpendat lain yaitu; Bahwa jurus yang sepinjik tadi sebetulnya tidak pernah ada, hanya dipergunakan sebagai alasan untuk memperkokoh status hierarki oleh seorang pendekar agar para murid tetap berlaku hormat kepadanya.
                      Kedua macam sikap yang diuraikan di atas dapat dianggap secara indirek sebagai penyebab utama dari rendahnya mutu pengembangan pencak silat di luar negeri. Menyimak keadaan di atas, lantas menjadi pertanyaan bagaimana pencak silat dapat mampu bersaing dengan beladiri lain di luar negeri.

                      Kedua sikap yang bertolak belakang ini tidak merupakan jawaban positif dan berkesinambungan agar kita dapat menjawab tantangan era globalisasi untuk menyebarkan dan memperkenalkan budaya bangsa. Sebagai budaya asli, jelas pencak silat dapat menjadi kebanggaan sekaligus identitas kepribadian bangsa. Penulis ingin mengetuk isi hati pendekar muda agar bangkit dan bersatu padu memikirkan keadaan ini. Melalui studi dan penelitian, kita dapat menyusun sebuah strategi yang sesuai dengan lingkungan agar pencak silat berprestasi lebih baik di masa mendatang. Dengan mengadakan inventarisasi dari berbagai aliran pencak silat, dan mencari ciri khas, menonjolkan keunggulan dan mengurangi kelemahan pada setiap perguruan, insan-insan pencak silat di tanah air dapat menghadapi sikap-sikap yang menjadi penghambat perkembangan. Hanya dengan introspeksi pada diri sendiri kita dapat menguasai dunia!

                      www.silatindonesia.com



                      Artikel Kendala Penyebaran Pencak Silat yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


                        - Powered by BING [2014-04-08 17:13]

                        Leave Comment

                        You must be logged in to post a comment.

                        Kendala Penyebaran Pencak Silat - Silat Indonesia

                        Kendala Penyebaran Pencak Silat.

                            [
                        in English ]

                        Aug 21st, 2009 | By | Category: Artikel Silat [ in English ]

                        Kendala Penyebaran Pencak Silat
                        Oleh: O’ong Maryono
                        Tuesday, August 16, 2005 14:36:08

                        Saat ini penyebaran pencak silat sudah menunjuk angka mencapai 29 negara di seluruh dunia. Berkat jerih payah perguruan-perguruan bersama-sama IPSI dengan disokong media cetak dan elektronik dalam usaha penyebaran informasi pencak silat dapat mendunia. Sepatutnya kita acungkan jempol. Banyaknya perguruan pencak silat dapat mengembangkan sayap dengan membuka cabang perguruan di mancanegara dan membuat masyarakat awam terkagum-kagum. Kini budaya peninggalan nenek moyang kita sudah go international. Perasaan bangga menyelimuti seluruh anggota perguruan dan menjadi motivasi dalam berlatih. Indikasi ‘kepongahan’ perguruan ini, terwujud pula dalam pengakuannya memiliki banyak anggota dan cabang yang tersebar di mancanegara. Ungkapan ini nampak di setiap untaian kata yang dituliskan atau diucapakan dalam media massa.

                        Namun jika diamati secara cermat kemampuan teknik pesilat dari mancanegara di beberapa pertandingan pencak silat olahraga dan seni beladiri pada peringkat sukan dunia, tampak tidak merata. Kualitas pesilat yang bertanding pada Kejuaraan Pencak Silat Dunia terkesan rendah dan kurang pantas untuk peringkat internasional. Tim Indonesia pun selalu mengirimkan pesilat peringkat nasional lapis kedua, sedangkan lapis pertama diprioritaskan untuk pesta olahraga umum seperti SEA GAMES.

                        Fenomena kesenjangan teknik ini yang sudah terjadi cukup lama di kalangan pencak silat dunia sangat menarik untuk diketahui dan dianalisa lebih lanjut. Bila kita memperhatikan perguruan-perguruan modern yang berfaham liberal-rasional, ternyata bahwa mereka sangat terbuka untuk pesilat asing. Atas dorongan rasa bangga, ingin mendapat pujian, sanjungan, perguruan-perguruan modern pergi mengajar ke luar negeri atau sebaliknya mengangkat orang asing yang sedang berkunjung keperguruan untuk melihat-lihat menjadi murid. Lontaran tawaran oleh perguruan dengan kesanggupannya akan memeberikan pelatihan untuk orang asing tidak disisa-siakan. Cukup membekali pesilat asing dengan teknik-teknik dasar yang sederhana dan berlatih dalam kurun waktu sangat singkat, perguruan-perguruan mengangkat dan memberikan diploma sebagai pelatih di negerinya.

                        Tindakan perguruan seperti ini tidak menutup kemungkinan, akan menghasilkan pelatih yang berkualitas rendah. Pengangkatan sebagai wakil perguruan dengan tidak dibekali pengetahuan pencak silat seutuhnya dan tidak ditindak lanjuti dengan pengembangan kemampuan diri, niscaya pelatih asing ini akan menghasilkan pesilat yang tidak seperti kita inginkan.

                        Sedangkan perguruan-perguruan yang bersifat tradionalpun tidak dapat membantu menyelesaikan masalah, bahkan sering memperumit dan menjadi penghambat perkembangan pencak silat. Perguruan-perguruan pencak silat tradisional dalam tanda kutip tidak memiliki organisasi, sampai saat ini masih dengan setia mempertahankan keaslian pencak silat. Keutuhan kegiatan ritual yang berhubungan dengan agama ataupun budaya, hierarki dan prinsip senioritas masih sangat dominan dan tetap dipertahankan.

                        Biasanya perguruan seperti ini tidak melakukan kegiatan promosi ke luar negeri. Namun sering dicari oleh orang asing karena dianggap perguruaan yang masih kokoh mempertahankan tradisi ‘asli’ pencak silat. Nama kelompok perguruan semacam ini di mancanegara dikenal masyarakat, tak ubahnya seperti perguruan modern lainnya.
                        Untuk kelompok tradisional ini, perbedaan ras, warna kulit, tradisi dan budaya menjadi factor penghambat. Pesilat asing yang berminat menjadi murid atau anggota sulit diterima. Bila diterima, pada peringkat materi pelajaran tertentu yang merupakan ajaran jurus pamungkas tidak akan diajarkan dikarenakan rahasia perguruan. Erizal cal Chaniago pendekar Beringin Sakti di Jakarta mengatakan, sikap kehati-hatian guru terhadap muridnya disampaikan dalam sebuah pepatah Minangkabau: Nasaganggam di lepas nan sapinjik disimpan. Artinya: ‘yang segenggam diberikan yang kuncinya disimpan’.

                        Sikap guru-guru pencak silat tradisional ini dipertegas oleh Ramli pimpinan Silek Tuo di Bukit Tinggi, kehati-hatian seorang pendekar dikawatirkan suatu waktu muridnya akan dapat mengalahkan gurunya dengan menggunakan yang sepinjik tadi. Sementara pendekar Silek Tuo, Mulyadi K.S dan ketua IPSI Padang Panjang berpendat lain yaitu; Bahwa jurus yang sepinjik tadi sebetulnya tidak pernah ada, hanya dipergunakan sebagai alasan untuk memperkokoh status hierarki oleh seorang pendekar agar para murid tetap berlaku hormat kepadanya.
                        Kedua macam sikap yang diuraikan di atas dapat dianggap secara indirek sebagai penyebab utama dari rendahnya mutu pengembangan pencak silat di luar negeri. Menyimak keadaan di atas, lantas menjadi pertanyaan bagaimana pencak silat dapat mampu bersaing dengan beladiri lain di luar negeri.

                        Kedua sikap yang bertolak belakang ini tidak merupakan jawaban positif dan berkesinambungan agar kita dapat menjawab tantangan era globalisasi untuk menyebarkan dan memperkenalkan budaya bangsa. Sebagai budaya asli, jelas pencak silat dapat menjadi kebanggaan sekaligus identitas kepribadian bangsa. Penulis ingin mengetuk isi hati pendekar muda agar bangkit dan bersatu padu memikirkan keadaan ini. Melalui studi dan penelitian, kita dapat menyusun sebuah strategi yang sesuai dengan lingkungan agar pencak silat berprestasi lebih baik di masa mendatang. Dengan mengadakan inventarisasi dari berbagai aliran pencak silat, dan mencari ciri khas, menonjolkan keunggulan dan mengurangi kelemahan pada setiap perguruan, insan-insan pencak silat di tanah air dapat menghadapi sikap-sikap yang menjadi penghambat perkembangan. Hanya dengan introspeksi pada diri sendiri kita dapat menguasai dunia!

                        www.silatindonesia.com



                        Artikel Kendala Penyebaran Pencak Silat yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


                          - Powered by BING [2014-04-16 12:34]

                          Leave Comment

                          You must be logged in to post a comment.