GERAK SAKA Bergerak Sesukanya dengan Rasa.

    [
in English ]

Dec 3rd, 2009 | By | Category: Aliran Silat [ in English ]

Cobalah untuk memukulnya. Dijamin tangan lelaki berusia 58 tahun itu akan berkelebat cepat. Tangan kiri menangkis serangan berbarengan dengan tangan kanan menerjang muka lawan.

Cash and carry. Kalau diserang, langsung kite bayar kontan, ujar Muhammad Sani sembari tertawa.

Itulah karakter khas Gerak Saka. Aliran silat ini berasal dari Jawa Barat. Ini semula memang bela diri internal keluarga menak Sunda keturunan Prabu Siliwangi, kata Sani.

Raden H Muhammad Sjafe’i (1931-2001) adalah orang yang membawa bela diri tradisional ini ke Jakarta.

Bang Pe’i, demikian Muhammad Sjafe’i biasa disapa, belajar dari salah seorang kerabat istrinya, Raden Widarma. Meski keturunan bangsawan Pandeglang, Pe’i semula juga tak diperkenankan untuk mempelajarinya.

Ki Sura (nama aslinya tidak diketahui), salah seorang paman istri Bang Pe’i, akhirnya memberi izin Pe’i muda untuk memperdalam ilmu silat ini.

Pe’i juga diizinkan untuk mengajarkan ilmu ini kepada orang di luar lingkungan keluarga, asalkan mengubah nama alirannya. Aslinya bernama Gerak Gulung Pribumi, kata Sani.

Ketika mengembangkannya di Petojo, Jakarta Selatan, Pe’i mengubah namanya menjadi Gerak Saka. Singkatan dari Sakadaekna (bahasa Sunda) yang artinya sesukanya, kata Sani.

Maksudnya, ketika bertarung, gerakan aliran silat ini memiliki fleksibilitas bagaimana melumpuhkan lawan. Kena matanya bisa, mau serang kemaluan boleh, mau ambil ulu hati juga nggak apa-apa, ujarnya.

Selain Sani, dua ahli waris lainnya adalah H Abdullah di Condet dan H Nunung di Rawa Belong, yang lalu membentuk Gerak Sanalika.

Kesederhanaan dan fleksibilitas menjadi ciri khasnya. Aliran ini tidak memiliki kembang dan hanya memiliki lima jurus. Jurus-jurus ini sebenarnya hanya merupakan gerakan-gerakan dasar yang dalam aplikasinya berkembang sesuai dengan situasi pertarungan dan kondisi lawan.

Ilmu silat ini memang khusus untuk bertarung. Ketika menyerang, tangan digunakan hanya untuk menjangkau dan memukul daerah berbahaya lawan, seperti mata, leher, ulu hati, dan kemaluan.

Dalam ilmu ini kita memang diajarkan harus melumpuhkan lawan secepat mungkin, ucap Sani.

Tak seperti aliran silat lain yang lebih menekankan pada kecepatan dan kekuatan, ilmu bela diri ini bertumpu pada rasa, yakni sensitivitas untuk membaca sirkulasi pergerakan dan tenaga lawan lewat sentuhan tangan. Makanya ilmu ini juga disebut Gerak Rasa.

Rasa penting dalam perkelahian karena tangan yang terlatih akan memiliki kepekaan dan secara otomatis mengantisipasi gerakan lawan tanpa melihat.

Ketika bertarung, wajah kita justru berpaling dari musuh dan hanya melihat lawan lewat sudut mata, kata Sani. Unik, bukan?

Penulis :
AMAL IHSAN
Koran Tempo
Edisi : Sabtu, 24 Februari 2007

silati ndonesia




Tags: , , , , , , , ,


Artikel GERAK SAKA Bergerak Sesukanya dengan Rasa yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


    - Powered by BING [2014-02-05 07:45]

    Comments are closed.

    GERAK SAKA Bergerak Sesukanya dengan Rasa - Silat Indonesia

    GERAK SAKA Bergerak Sesukanya dengan Rasa.

        [
    in English ]

    Dec 3rd, 2009 | By | Category: Aliran Silat [ in English ]

    Cobalah untuk memukulnya. Dijamin tangan lelaki berusia 58 tahun itu akan berkelebat cepat. Tangan kiri menangkis serangan berbarengan dengan tangan kanan menerjang muka lawan.

    Cash and carry. Kalau diserang, langsung kite bayar kontan, ujar Muhammad Sani sembari tertawa.

    Itulah karakter khas Gerak Saka. Aliran silat ini berasal dari Jawa Barat. Ini semula memang bela diri internal keluarga menak Sunda keturunan Prabu Siliwangi, kata Sani.

    Raden H Muhammad Sjafe’i (1931-2001) adalah orang yang membawa bela diri tradisional ini ke Jakarta.

    Bang Pe’i, demikian Muhammad Sjafe’i biasa disapa, belajar dari salah seorang kerabat istrinya, Raden Widarma. Meski keturunan bangsawan Pandeglang, Pe’i semula juga tak diperkenankan untuk mempelajarinya.

    Ki Sura (nama aslinya tidak diketahui), salah seorang paman istri Bang Pe’i, akhirnya memberi izin Pe’i muda untuk memperdalam ilmu silat ini.

    Pe’i juga diizinkan untuk mengajarkan ilmu ini kepada orang di luar lingkungan keluarga, asalkan mengubah nama alirannya. Aslinya bernama Gerak Gulung Pribumi, kata Sani.

    Ketika mengembangkannya di Petojo, Jakarta Selatan, Pe’i mengubah namanya menjadi Gerak Saka. Singkatan dari Sakadaekna (bahasa Sunda) yang artinya sesukanya, kata Sani.

    Maksudnya, ketika bertarung, gerakan aliran silat ini memiliki fleksibilitas bagaimana melumpuhkan lawan. Kena matanya bisa, mau serang kemaluan boleh, mau ambil ulu hati juga nggak apa-apa, ujarnya.

    Selain Sani, dua ahli waris lainnya adalah H Abdullah di Condet dan H Nunung di Rawa Belong, yang lalu membentuk Gerak Sanalika.

    Kesederhanaan dan fleksibilitas menjadi ciri khasnya. Aliran ini tidak memiliki kembang dan hanya memiliki lima jurus. Jurus-jurus ini sebenarnya hanya merupakan gerakan-gerakan dasar yang dalam aplikasinya berkembang sesuai dengan situasi pertarungan dan kondisi lawan.

    Ilmu silat ini memang khusus untuk bertarung. Ketika menyerang, tangan digunakan hanya untuk menjangkau dan memukul daerah berbahaya lawan, seperti mata, leher, ulu hati, dan kemaluan.

    Dalam ilmu ini kita memang diajarkan harus melumpuhkan lawan secepat mungkin, ucap Sani.

    Tak seperti aliran silat lain yang lebih menekankan pada kecepatan dan kekuatan, ilmu bela diri ini bertumpu pada rasa, yakni sensitivitas untuk membaca sirkulasi pergerakan dan tenaga lawan lewat sentuhan tangan. Makanya ilmu ini juga disebut Gerak Rasa.

    Rasa penting dalam perkelahian karena tangan yang terlatih akan memiliki kepekaan dan secara otomatis mengantisipasi gerakan lawan tanpa melihat.

    Ketika bertarung, wajah kita justru berpaling dari musuh dan hanya melihat lawan lewat sudut mata, kata Sani. Unik, bukan?

    Penulis :
    AMAL IHSAN
    Koran Tempo
    Edisi : Sabtu, 24 Februari 2007

    silati ndonesia




    Tags: , , , , , , , ,


    Artikel GERAK SAKA Bergerak Sesukanya dengan Rasa yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


      - Powered by BING [2014-02-12 06:09]

      Comments are closed.

      GERAK SAKA Bergerak Sesukanya dengan Rasa - Silat Indonesia

      GERAK SAKA Bergerak Sesukanya dengan Rasa.

          [
      in English ]

      Dec 3rd, 2009 | By | Category: Aliran Silat [ in English ]

      Cobalah untuk memukulnya. Dijamin tangan lelaki berusia 58 tahun itu akan berkelebat cepat. Tangan kiri menangkis serangan berbarengan dengan tangan kanan menerjang muka lawan.

      Cash and carry. Kalau diserang, langsung kite bayar kontan, ujar Muhammad Sani sembari tertawa.

      Itulah karakter khas Gerak Saka. Aliran silat ini berasal dari Jawa Barat. Ini semula memang bela diri internal keluarga menak Sunda keturunan Prabu Siliwangi, kata Sani.

      Raden H Muhammad Sjafe’i (1931-2001) adalah orang yang membawa bela diri tradisional ini ke Jakarta.

      Bang Pe’i, demikian Muhammad Sjafe’i biasa disapa, belajar dari salah seorang kerabat istrinya, Raden Widarma. Meski keturunan bangsawan Pandeglang, Pe’i semula juga tak diperkenankan untuk mempelajarinya.

      Ki Sura (nama aslinya tidak diketahui), salah seorang paman istri Bang Pe’i, akhirnya memberi izin Pe’i muda untuk memperdalam ilmu silat ini.

      Pe’i juga diizinkan untuk mengajarkan ilmu ini kepada orang di luar lingkungan keluarga, asalkan mengubah nama alirannya. Aslinya bernama Gerak Gulung Pribumi, kata Sani.

      Ketika mengembangkannya di Petojo, Jakarta Selatan, Pe’i mengubah namanya menjadi Gerak Saka. Singkatan dari Sakadaekna (bahasa Sunda) yang artinya sesukanya, kata Sani.

      Maksudnya, ketika bertarung, gerakan aliran silat ini memiliki fleksibilitas bagaimana melumpuhkan lawan. Kena matanya bisa, mau serang kemaluan boleh, mau ambil ulu hati juga nggak apa-apa, ujarnya.

      Selain Sani, dua ahli waris lainnya adalah H Abdullah di Condet dan H Nunung di Rawa Belong, yang lalu membentuk Gerak Sanalika.

      Kesederhanaan dan fleksibilitas menjadi ciri khasnya. Aliran ini tidak memiliki kembang dan hanya memiliki lima jurus. Jurus-jurus ini sebenarnya hanya merupakan gerakan-gerakan dasar yang dalam aplikasinya berkembang sesuai dengan situasi pertarungan dan kondisi lawan.

      Ilmu silat ini memang khusus untuk bertarung. Ketika menyerang, tangan digunakan hanya untuk menjangkau dan memukul daerah berbahaya lawan, seperti mata, leher, ulu hati, dan kemaluan.

      Dalam ilmu ini kita memang diajarkan harus melumpuhkan lawan secepat mungkin, ucap Sani.

      Tak seperti aliran silat lain yang lebih menekankan pada kecepatan dan kekuatan, ilmu bela diri ini bertumpu pada rasa, yakni sensitivitas untuk membaca sirkulasi pergerakan dan tenaga lawan lewat sentuhan tangan. Makanya ilmu ini juga disebut Gerak Rasa.

      Rasa penting dalam perkelahian karena tangan yang terlatih akan memiliki kepekaan dan secara otomatis mengantisipasi gerakan lawan tanpa melihat.

      Ketika bertarung, wajah kita justru berpaling dari musuh dan hanya melihat lawan lewat sudut mata, kata Sani. Unik, bukan?

      Penulis :
      AMAL IHSAN
      Koran Tempo
      Edisi : Sabtu, 24 Februari 2007

      silati ndonesia




      Tags: , , , , , , , ,


      Artikel GERAK SAKA Bergerak Sesukanya dengan Rasa yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


        - Powered by BING [2014-02-17 21:14]

        Comments are closed.

        GERAK SAKA Bergerak Sesukanya dengan Rasa - Silat Indonesia

        GERAK SAKA Bergerak Sesukanya dengan Rasa.

            [
        in English ]

        Dec 3rd, 2009 | By | Category: Aliran Silat [ in English ]

        Cobalah untuk memukulnya. Dijamin tangan lelaki berusia 58 tahun itu akan berkelebat cepat. Tangan kiri menangkis serangan berbarengan dengan tangan kanan menerjang muka lawan.

        Cash and carry. Kalau diserang, langsung kite bayar kontan, ujar Muhammad Sani sembari tertawa.

        Itulah karakter khas Gerak Saka. Aliran silat ini berasal dari Jawa Barat. Ini semula memang bela diri internal keluarga menak Sunda keturunan Prabu Siliwangi, kata Sani.

        Raden H Muhammad Sjafe’i (1931-2001) adalah orang yang membawa bela diri tradisional ini ke Jakarta.

        Bang Pe’i, demikian Muhammad Sjafe’i biasa disapa, belajar dari salah seorang kerabat istrinya, Raden Widarma. Meski keturunan bangsawan Pandeglang, Pe’i semula juga tak diperkenankan untuk mempelajarinya.

        Ki Sura (nama aslinya tidak diketahui), salah seorang paman istri Bang Pe’i, akhirnya memberi izin Pe’i muda untuk memperdalam ilmu silat ini.

        Pe’i juga diizinkan untuk mengajarkan ilmu ini kepada orang di luar lingkungan keluarga, asalkan mengubah nama alirannya. Aslinya bernama Gerak Gulung Pribumi, kata Sani.

        Ketika mengembangkannya di Petojo, Jakarta Selatan, Pe’i mengubah namanya menjadi Gerak Saka. Singkatan dari Sakadaekna (bahasa Sunda) yang artinya sesukanya, kata Sani.

        Maksudnya, ketika bertarung, gerakan aliran silat ini memiliki fleksibilitas bagaimana melumpuhkan lawan. Kena matanya bisa, mau serang kemaluan boleh, mau ambil ulu hati juga nggak apa-apa, ujarnya.

        Selain Sani, dua ahli waris lainnya adalah H Abdullah di Condet dan H Nunung di Rawa Belong, yang lalu membentuk Gerak Sanalika.

        Kesederhanaan dan fleksibilitas menjadi ciri khasnya. Aliran ini tidak memiliki kembang dan hanya memiliki lima jurus. Jurus-jurus ini sebenarnya hanya merupakan gerakan-gerakan dasar yang dalam aplikasinya berkembang sesuai dengan situasi pertarungan dan kondisi lawan.

        Ilmu silat ini memang khusus untuk bertarung. Ketika menyerang, tangan digunakan hanya untuk menjangkau dan memukul daerah berbahaya lawan, seperti mata, leher, ulu hati, dan kemaluan.

        Dalam ilmu ini kita memang diajarkan harus melumpuhkan lawan secepat mungkin, ucap Sani.

        Tak seperti aliran silat lain yang lebih menekankan pada kecepatan dan kekuatan, ilmu bela diri ini bertumpu pada rasa, yakni sensitivitas untuk membaca sirkulasi pergerakan dan tenaga lawan lewat sentuhan tangan. Makanya ilmu ini juga disebut Gerak Rasa.

        Rasa penting dalam perkelahian karena tangan yang terlatih akan memiliki kepekaan dan secara otomatis mengantisipasi gerakan lawan tanpa melihat.

        Ketika bertarung, wajah kita justru berpaling dari musuh dan hanya melihat lawan lewat sudut mata, kata Sani. Unik, bukan?

        Penulis :
        AMAL IHSAN
        Koran Tempo
        Edisi : Sabtu, 24 Februari 2007

        silati ndonesia




        Tags: , , , , , , , ,


        Artikel GERAK SAKA Bergerak Sesukanya dengan Rasa yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


          - Powered by BING [2014-02-23 15:45]

          Comments are closed.

          GERAK SAKA Bergerak Sesukanya dengan Rasa - Silat Indonesia

          GERAK SAKA Bergerak Sesukanya dengan Rasa.

              [
          in English ]

          Dec 3rd, 2009 | By | Category: Aliran Silat [ in English ]

          Cobalah untuk memukulnya. Dijamin tangan lelaki berusia 58 tahun itu akan berkelebat cepat. Tangan kiri menangkis serangan berbarengan dengan tangan kanan menerjang muka lawan.

          Cash and carry. Kalau diserang, langsung kite bayar kontan, ujar Muhammad Sani sembari tertawa.

          Itulah karakter khas Gerak Saka. Aliran silat ini berasal dari Jawa Barat. Ini semula memang bela diri internal keluarga menak Sunda keturunan Prabu Siliwangi, kata Sani.

          Raden H Muhammad Sjafe’i (1931-2001) adalah orang yang membawa bela diri tradisional ini ke Jakarta.

          Bang Pe’i, demikian Muhammad Sjafe’i biasa disapa, belajar dari salah seorang kerabat istrinya, Raden Widarma. Meski keturunan bangsawan Pandeglang, Pe’i semula juga tak diperkenankan untuk mempelajarinya.

          Ki Sura (nama aslinya tidak diketahui), salah seorang paman istri Bang Pe’i, akhirnya memberi izin Pe’i muda untuk memperdalam ilmu silat ini.

          Pe’i juga diizinkan untuk mengajarkan ilmu ini kepada orang di luar lingkungan keluarga, asalkan mengubah nama alirannya. Aslinya bernama Gerak Gulung Pribumi, kata Sani.

          Ketika mengembangkannya di Petojo, Jakarta Selatan, Pe’i mengubah namanya menjadi Gerak Saka. Singkatan dari Sakadaekna (bahasa Sunda) yang artinya sesukanya, kata Sani.

          Maksudnya, ketika bertarung, gerakan aliran silat ini memiliki fleksibilitas bagaimana melumpuhkan lawan. Kena matanya bisa, mau serang kemaluan boleh, mau ambil ulu hati juga nggak apa-apa, ujarnya.

          Selain Sani, dua ahli waris lainnya adalah H Abdullah di Condet dan H Nunung di Rawa Belong, yang lalu membentuk Gerak Sanalika.

          Kesederhanaan dan fleksibilitas menjadi ciri khasnya. Aliran ini tidak memiliki kembang dan hanya memiliki lima jurus. Jurus-jurus ini sebenarnya hanya merupakan gerakan-gerakan dasar yang dalam aplikasinya berkembang sesuai dengan situasi pertarungan dan kondisi lawan.

          Ilmu silat ini memang khusus untuk bertarung. Ketika menyerang, tangan digunakan hanya untuk menjangkau dan memukul daerah berbahaya lawan, seperti mata, leher, ulu hati, dan kemaluan.

          Dalam ilmu ini kita memang diajarkan harus melumpuhkan lawan secepat mungkin, ucap Sani.

          Tak seperti aliran silat lain yang lebih menekankan pada kecepatan dan kekuatan, ilmu bela diri ini bertumpu pada rasa, yakni sensitivitas untuk membaca sirkulasi pergerakan dan tenaga lawan lewat sentuhan tangan. Makanya ilmu ini juga disebut Gerak Rasa.

          Rasa penting dalam perkelahian karena tangan yang terlatih akan memiliki kepekaan dan secara otomatis mengantisipasi gerakan lawan tanpa melihat.

          Ketika bertarung, wajah kita justru berpaling dari musuh dan hanya melihat lawan lewat sudut mata, kata Sani. Unik, bukan?

          Penulis :
          AMAL IHSAN
          Koran Tempo
          Edisi : Sabtu, 24 Februari 2007

          silati ndonesia




          Tags: , , , , , , , ,


          Artikel GERAK SAKA Bergerak Sesukanya dengan Rasa yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


            - Powered by BING [2014-02-27 20:42]

            Comments are closed.

            GERAK SAKA Bergerak Sesukanya dengan Rasa - Silat Indonesia

            GERAK SAKA Bergerak Sesukanya dengan Rasa.

                [
            in English ]

            Dec 3rd, 2009 | By | Category: Aliran Silat [ in English ]

            Cobalah untuk memukulnya. Dijamin tangan lelaki berusia 58 tahun itu akan berkelebat cepat. Tangan kiri menangkis serangan berbarengan dengan tangan kanan menerjang muka lawan.

            Cash and carry. Kalau diserang, langsung kite bayar kontan, ujar Muhammad Sani sembari tertawa.

            Itulah karakter khas Gerak Saka. Aliran silat ini berasal dari Jawa Barat. Ini semula memang bela diri internal keluarga menak Sunda keturunan Prabu Siliwangi, kata Sani.

            Raden H Muhammad Sjafe’i (1931-2001) adalah orang yang membawa bela diri tradisional ini ke Jakarta.

            Bang Pe’i, demikian Muhammad Sjafe’i biasa disapa, belajar dari salah seorang kerabat istrinya, Raden Widarma. Meski keturunan bangsawan Pandeglang, Pe’i semula juga tak diperkenankan untuk mempelajarinya.

            Ki Sura (nama aslinya tidak diketahui), salah seorang paman istri Bang Pe’i, akhirnya memberi izin Pe’i muda untuk memperdalam ilmu silat ini.

            Pe’i juga diizinkan untuk mengajarkan ilmu ini kepada orang di luar lingkungan keluarga, asalkan mengubah nama alirannya. Aslinya bernama Gerak Gulung Pribumi, kata Sani.

            Ketika mengembangkannya di Petojo, Jakarta Selatan, Pe’i mengubah namanya menjadi Gerak Saka. Singkatan dari Sakadaekna (bahasa Sunda) yang artinya sesukanya, kata Sani.

            Maksudnya, ketika bertarung, gerakan aliran silat ini memiliki fleksibilitas bagaimana melumpuhkan lawan. Kena matanya bisa, mau serang kemaluan boleh, mau ambil ulu hati juga nggak apa-apa, ujarnya.

            Selain Sani, dua ahli waris lainnya adalah H Abdullah di Condet dan H Nunung di Rawa Belong, yang lalu membentuk Gerak Sanalika.

            Kesederhanaan dan fleksibilitas menjadi ciri khasnya. Aliran ini tidak memiliki kembang dan hanya memiliki lima jurus. Jurus-jurus ini sebenarnya hanya merupakan gerakan-gerakan dasar yang dalam aplikasinya berkembang sesuai dengan situasi pertarungan dan kondisi lawan.

            Ilmu silat ini memang khusus untuk bertarung. Ketika menyerang, tangan digunakan hanya untuk menjangkau dan memukul daerah berbahaya lawan, seperti mata, leher, ulu hati, dan kemaluan.

            Dalam ilmu ini kita memang diajarkan harus melumpuhkan lawan secepat mungkin, ucap Sani.

            Tak seperti aliran silat lain yang lebih menekankan pada kecepatan dan kekuatan, ilmu bela diri ini bertumpu pada rasa, yakni sensitivitas untuk membaca sirkulasi pergerakan dan tenaga lawan lewat sentuhan tangan. Makanya ilmu ini juga disebut Gerak Rasa.

            Rasa penting dalam perkelahian karena tangan yang terlatih akan memiliki kepekaan dan secara otomatis mengantisipasi gerakan lawan tanpa melihat.

            Ketika bertarung, wajah kita justru berpaling dari musuh dan hanya melihat lawan lewat sudut mata, kata Sani. Unik, bukan?

            Penulis :
            AMAL IHSAN
            Koran Tempo
            Edisi : Sabtu, 24 Februari 2007

            silati ndonesia




            Tags: , , , , , , , ,


            Artikel GERAK SAKA Bergerak Sesukanya dengan Rasa yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


              - Powered by BING [2014-03-07 22:10]

              Comments are closed.

              GERAK SAKA Bergerak Sesukanya dengan Rasa - Silat Indonesia

              GERAK SAKA Bergerak Sesukanya dengan Rasa.

                  [
              in English ]

              Dec 3rd, 2009 | By | Category: Aliran Silat [ in English ]

              Cobalah untuk memukulnya. Dijamin tangan lelaki berusia 58 tahun itu akan berkelebat cepat. Tangan kiri menangkis serangan berbarengan dengan tangan kanan menerjang muka lawan.

              Cash and carry. Kalau diserang, langsung kite bayar kontan, ujar Muhammad Sani sembari tertawa.

              Itulah karakter khas Gerak Saka. Aliran silat ini berasal dari Jawa Barat. Ini semula memang bela diri internal keluarga menak Sunda keturunan Prabu Siliwangi, kata Sani.

              Raden H Muhammad Sjafe’i (1931-2001) adalah orang yang membawa bela diri tradisional ini ke Jakarta.

              Bang Pe’i, demikian Muhammad Sjafe’i biasa disapa, belajar dari salah seorang kerabat istrinya, Raden Widarma. Meski keturunan bangsawan Pandeglang, Pe’i semula juga tak diperkenankan untuk mempelajarinya.

              Ki Sura (nama aslinya tidak diketahui), salah seorang paman istri Bang Pe’i, akhirnya memberi izin Pe’i muda untuk memperdalam ilmu silat ini.

              Pe’i juga diizinkan untuk mengajarkan ilmu ini kepada orang di luar lingkungan keluarga, asalkan mengubah nama alirannya. Aslinya bernama Gerak Gulung Pribumi, kata Sani.

              Ketika mengembangkannya di Petojo, Jakarta Selatan, Pe’i mengubah namanya menjadi Gerak Saka. Singkatan dari Sakadaekna (bahasa Sunda) yang artinya sesukanya, kata Sani.

              Maksudnya, ketika bertarung, gerakan aliran silat ini memiliki fleksibilitas bagaimana melumpuhkan lawan. Kena matanya bisa, mau serang kemaluan boleh, mau ambil ulu hati juga nggak apa-apa, ujarnya.

              Selain Sani, dua ahli waris lainnya adalah H Abdullah di Condet dan H Nunung di Rawa Belong, yang lalu membentuk Gerak Sanalika.

              Kesederhanaan dan fleksibilitas menjadi ciri khasnya. Aliran ini tidak memiliki kembang dan hanya memiliki lima jurus. Jurus-jurus ini sebenarnya hanya merupakan gerakan-gerakan dasar yang dalam aplikasinya berkembang sesuai dengan situasi pertarungan dan kondisi lawan.

              Ilmu silat ini memang khusus untuk bertarung. Ketika menyerang, tangan digunakan hanya untuk menjangkau dan memukul daerah berbahaya lawan, seperti mata, leher, ulu hati, dan kemaluan.

              Dalam ilmu ini kita memang diajarkan harus melumpuhkan lawan secepat mungkin, ucap Sani.

              Tak seperti aliran silat lain yang lebih menekankan pada kecepatan dan kekuatan, ilmu bela diri ini bertumpu pada rasa, yakni sensitivitas untuk membaca sirkulasi pergerakan dan tenaga lawan lewat sentuhan tangan. Makanya ilmu ini juga disebut Gerak Rasa.

              Rasa penting dalam perkelahian karena tangan yang terlatih akan memiliki kepekaan dan secara otomatis mengantisipasi gerakan lawan tanpa melihat.

              Ketika bertarung, wajah kita justru berpaling dari musuh dan hanya melihat lawan lewat sudut mata, kata Sani. Unik, bukan?

              Penulis :
              AMAL IHSAN
              Koran Tempo
              Edisi : Sabtu, 24 Februari 2007

              silati ndonesia




              Tags: , , , , , , , ,


              Artikel GERAK SAKA Bergerak Sesukanya dengan Rasa yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


                - Powered by BING [2014-03-12 01:28]

                Comments are closed.

                GERAK SAKA Bergerak Sesukanya dengan Rasa - Silat Indonesia

                GERAK SAKA Bergerak Sesukanya dengan Rasa.

                    [
                in English ]

                Dec 3rd, 2009 | By | Category: Aliran Silat [ in English ]

                Cobalah untuk memukulnya. Dijamin tangan lelaki berusia 58 tahun itu akan berkelebat cepat. Tangan kiri menangkis serangan berbarengan dengan tangan kanan menerjang muka lawan.

                Cash and carry. Kalau diserang, langsung kite bayar kontan, ujar Muhammad Sani sembari tertawa.

                Itulah karakter khas Gerak Saka. Aliran silat ini berasal dari Jawa Barat. Ini semula memang bela diri internal keluarga menak Sunda keturunan Prabu Siliwangi, kata Sani.

                Raden H Muhammad Sjafe’i (1931-2001) adalah orang yang membawa bela diri tradisional ini ke Jakarta.

                Bang Pe’i, demikian Muhammad Sjafe’i biasa disapa, belajar dari salah seorang kerabat istrinya, Raden Widarma. Meski keturunan bangsawan Pandeglang, Pe’i semula juga tak diperkenankan untuk mempelajarinya.

                Ki Sura (nama aslinya tidak diketahui), salah seorang paman istri Bang Pe’i, akhirnya memberi izin Pe’i muda untuk memperdalam ilmu silat ini.

                Pe’i juga diizinkan untuk mengajarkan ilmu ini kepada orang di luar lingkungan keluarga, asalkan mengubah nama alirannya. Aslinya bernama Gerak Gulung Pribumi, kata Sani.

                Ketika mengembangkannya di Petojo, Jakarta Selatan, Pe’i mengubah namanya menjadi Gerak Saka. Singkatan dari Sakadaekna (bahasa Sunda) yang artinya sesukanya, kata Sani.

                Maksudnya, ketika bertarung, gerakan aliran silat ini memiliki fleksibilitas bagaimana melumpuhkan lawan. Kena matanya bisa, mau serang kemaluan boleh, mau ambil ulu hati juga nggak apa-apa, ujarnya.

                Selain Sani, dua ahli waris lainnya adalah H Abdullah di Condet dan H Nunung di Rawa Belong, yang lalu membentuk Gerak Sanalika.

                Kesederhanaan dan fleksibilitas menjadi ciri khasnya. Aliran ini tidak memiliki kembang dan hanya memiliki lima jurus. Jurus-jurus ini sebenarnya hanya merupakan gerakan-gerakan dasar yang dalam aplikasinya berkembang sesuai dengan situasi pertarungan dan kondisi lawan.

                Ilmu silat ini memang khusus untuk bertarung. Ketika menyerang, tangan digunakan hanya untuk menjangkau dan memukul daerah berbahaya lawan, seperti mata, leher, ulu hati, dan kemaluan.

                Dalam ilmu ini kita memang diajarkan harus melumpuhkan lawan secepat mungkin, ucap Sani.

                Tak seperti aliran silat lain yang lebih menekankan pada kecepatan dan kekuatan, ilmu bela diri ini bertumpu pada rasa, yakni sensitivitas untuk membaca sirkulasi pergerakan dan tenaga lawan lewat sentuhan tangan. Makanya ilmu ini juga disebut Gerak Rasa.

                Rasa penting dalam perkelahian karena tangan yang terlatih akan memiliki kepekaan dan secara otomatis mengantisipasi gerakan lawan tanpa melihat.

                Ketika bertarung, wajah kita justru berpaling dari musuh dan hanya melihat lawan lewat sudut mata, kata Sani. Unik, bukan?

                Penulis :
                AMAL IHSAN
                Koran Tempo
                Edisi : Sabtu, 24 Februari 2007

                silati ndonesia




                Tags: , , , , , , , ,


                Artikel GERAK SAKA Bergerak Sesukanya dengan Rasa yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


                  - Powered by BING [2014-03-20 07:25]

                  Comments are closed.

                  GERAK SAKA Bergerak Sesukanya dengan Rasa - Silat Indonesia

                  GERAK SAKA Bergerak Sesukanya dengan Rasa.

                      [
                  in English ]

                  Dec 3rd, 2009 | By | Category: Aliran Silat [ in English ]

                  Cobalah untuk memukulnya. Dijamin tangan lelaki berusia 58 tahun itu akan berkelebat cepat. Tangan kiri menangkis serangan berbarengan dengan tangan kanan menerjang muka lawan.

                  Cash and carry. Kalau diserang, langsung kite bayar kontan, ujar Muhammad Sani sembari tertawa.

                  Itulah karakter khas Gerak Saka. Aliran silat ini berasal dari Jawa Barat. Ini semula memang bela diri internal keluarga menak Sunda keturunan Prabu Siliwangi, kata Sani.

                  Raden H Muhammad Sjafe’i (1931-2001) adalah orang yang membawa bela diri tradisional ini ke Jakarta.

                  Bang Pe’i, demikian Muhammad Sjafe’i biasa disapa, belajar dari salah seorang kerabat istrinya, Raden Widarma. Meski keturunan bangsawan Pandeglang, Pe’i semula juga tak diperkenankan untuk mempelajarinya.

                  Ki Sura (nama aslinya tidak diketahui), salah seorang paman istri Bang Pe’i, akhirnya memberi izin Pe’i muda untuk memperdalam ilmu silat ini.

                  Pe’i juga diizinkan untuk mengajarkan ilmu ini kepada orang di luar lingkungan keluarga, asalkan mengubah nama alirannya. Aslinya bernama Gerak Gulung Pribumi, kata Sani.

                  Ketika mengembangkannya di Petojo, Jakarta Selatan, Pe’i mengubah namanya menjadi Gerak Saka. Singkatan dari Sakadaekna (bahasa Sunda) yang artinya sesukanya, kata Sani.

                  Maksudnya, ketika bertarung, gerakan aliran silat ini memiliki fleksibilitas bagaimana melumpuhkan lawan. Kena matanya bisa, mau serang kemaluan boleh, mau ambil ulu hati juga nggak apa-apa, ujarnya.

                  Selain Sani, dua ahli waris lainnya adalah H Abdullah di Condet dan H Nunung di Rawa Belong, yang lalu membentuk Gerak Sanalika.

                  Kesederhanaan dan fleksibilitas menjadi ciri khasnya. Aliran ini tidak memiliki kembang dan hanya memiliki lima jurus. Jurus-jurus ini sebenarnya hanya merupakan gerakan-gerakan dasar yang dalam aplikasinya berkembang sesuai dengan situasi pertarungan dan kondisi lawan.

                  Ilmu silat ini memang khusus untuk bertarung. Ketika menyerang, tangan digunakan hanya untuk menjangkau dan memukul daerah berbahaya lawan, seperti mata, leher, ulu hati, dan kemaluan.

                  Dalam ilmu ini kita memang diajarkan harus melumpuhkan lawan secepat mungkin, ucap Sani.

                  Tak seperti aliran silat lain yang lebih menekankan pada kecepatan dan kekuatan, ilmu bela diri ini bertumpu pada rasa, yakni sensitivitas untuk membaca sirkulasi pergerakan dan tenaga lawan lewat sentuhan tangan. Makanya ilmu ini juga disebut Gerak Rasa.

                  Rasa penting dalam perkelahian karena tangan yang terlatih akan memiliki kepekaan dan secara otomatis mengantisipasi gerakan lawan tanpa melihat.

                  Ketika bertarung, wajah kita justru berpaling dari musuh dan hanya melihat lawan lewat sudut mata, kata Sani. Unik, bukan?

                  Penulis :
                  AMAL IHSAN
                  Koran Tempo
                  Edisi : Sabtu, 24 Februari 2007

                  silati ndonesia




                  Tags: , , , , , , , ,


                  Artikel GERAK SAKA Bergerak Sesukanya dengan Rasa yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


                    - Powered by BING [2014-03-24 23:34]

                    Comments are closed.

                    GERAK SAKA Bergerak Sesukanya dengan Rasa - Silat Indonesia

                    GERAK SAKA Bergerak Sesukanya dengan Rasa.

                        [
                    in English ]

                    Dec 3rd, 2009 | By | Category: Aliran Silat [ in English ]

                    Cobalah untuk memukulnya. Dijamin tangan lelaki berusia 58 tahun itu akan berkelebat cepat. Tangan kiri menangkis serangan berbarengan dengan tangan kanan menerjang muka lawan.

                    Cash and carry. Kalau diserang, langsung kite bayar kontan, ujar Muhammad Sani sembari tertawa.

                    Itulah karakter khas Gerak Saka. Aliran silat ini berasal dari Jawa Barat. Ini semula memang bela diri internal keluarga menak Sunda keturunan Prabu Siliwangi, kata Sani.

                    Raden H Muhammad Sjafe’i (1931-2001) adalah orang yang membawa bela diri tradisional ini ke Jakarta.

                    Bang Pe’i, demikian Muhammad Sjafe’i biasa disapa, belajar dari salah seorang kerabat istrinya, Raden Widarma. Meski keturunan bangsawan Pandeglang, Pe’i semula juga tak diperkenankan untuk mempelajarinya.

                    Ki Sura (nama aslinya tidak diketahui), salah seorang paman istri Bang Pe’i, akhirnya memberi izin Pe’i muda untuk memperdalam ilmu silat ini.

                    Pe’i juga diizinkan untuk mengajarkan ilmu ini kepada orang di luar lingkungan keluarga, asalkan mengubah nama alirannya. Aslinya bernama Gerak Gulung Pribumi, kata Sani.

                    Ketika mengembangkannya di Petojo, Jakarta Selatan, Pe’i mengubah namanya menjadi Gerak Saka. Singkatan dari Sakadaekna (bahasa Sunda) yang artinya sesukanya, kata Sani.

                    Maksudnya, ketika bertarung, gerakan aliran silat ini memiliki fleksibilitas bagaimana melumpuhkan lawan. Kena matanya bisa, mau serang kemaluan boleh, mau ambil ulu hati juga nggak apa-apa, ujarnya.

                    Selain Sani, dua ahli waris lainnya adalah H Abdullah di Condet dan H Nunung di Rawa Belong, yang lalu membentuk Gerak Sanalika.

                    Kesederhanaan dan fleksibilitas menjadi ciri khasnya. Aliran ini tidak memiliki kembang dan hanya memiliki lima jurus. Jurus-jurus ini sebenarnya hanya merupakan gerakan-gerakan dasar yang dalam aplikasinya berkembang sesuai dengan situasi pertarungan dan kondisi lawan.

                    Ilmu silat ini memang khusus untuk bertarung. Ketika menyerang, tangan digunakan hanya untuk menjangkau dan memukul daerah berbahaya lawan, seperti mata, leher, ulu hati, dan kemaluan.

                    Dalam ilmu ini kita memang diajarkan harus melumpuhkan lawan secepat mungkin, ucap Sani.

                    Tak seperti aliran silat lain yang lebih menekankan pada kecepatan dan kekuatan, ilmu bela diri ini bertumpu pada rasa, yakni sensitivitas untuk membaca sirkulasi pergerakan dan tenaga lawan lewat sentuhan tangan. Makanya ilmu ini juga disebut Gerak Rasa.

                    Rasa penting dalam perkelahian karena tangan yang terlatih akan memiliki kepekaan dan secara otomatis mengantisipasi gerakan lawan tanpa melihat.

                    Ketika bertarung, wajah kita justru berpaling dari musuh dan hanya melihat lawan lewat sudut mata, kata Sani. Unik, bukan?

                    Penulis :
                    AMAL IHSAN
                    Koran Tempo
                    Edisi : Sabtu, 24 Februari 2007

                    silati ndonesia




                    Tags: , , , , , , , ,


                    Artikel GERAK SAKA Bergerak Sesukanya dengan Rasa yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


                      - Powered by BING [2014-03-28 02:03]

                      Comments are closed.

                      GERAK SAKA Bergerak Sesukanya dengan Rasa - Silat Indonesia

                      GERAK SAKA Bergerak Sesukanya dengan Rasa.

                          [
                      in English ]

                      Dec 3rd, 2009 | By | Category: Aliran Silat [ in English ]

                      Cobalah untuk memukulnya. Dijamin tangan lelaki berusia 58 tahun itu akan berkelebat cepat. Tangan kiri menangkis serangan berbarengan dengan tangan kanan menerjang muka lawan.

                      Cash and carry. Kalau diserang, langsung kite bayar kontan, ujar Muhammad Sani sembari tertawa.

                      Itulah karakter khas Gerak Saka. Aliran silat ini berasal dari Jawa Barat. Ini semula memang bela diri internal keluarga menak Sunda keturunan Prabu Siliwangi, kata Sani.

                      Raden H Muhammad Sjafe’i (1931-2001) adalah orang yang membawa bela diri tradisional ini ke Jakarta.

                      Bang Pe’i, demikian Muhammad Sjafe’i biasa disapa, belajar dari salah seorang kerabat istrinya, Raden Widarma. Meski keturunan bangsawan Pandeglang, Pe’i semula juga tak diperkenankan untuk mempelajarinya.

                      Ki Sura (nama aslinya tidak diketahui), salah seorang paman istri Bang Pe’i, akhirnya memberi izin Pe’i muda untuk memperdalam ilmu silat ini.

                      Pe’i juga diizinkan untuk mengajarkan ilmu ini kepada orang di luar lingkungan keluarga, asalkan mengubah nama alirannya. Aslinya bernama Gerak Gulung Pribumi, kata Sani.

                      Ketika mengembangkannya di Petojo, Jakarta Selatan, Pe’i mengubah namanya menjadi Gerak Saka. Singkatan dari Sakadaekna (bahasa Sunda) yang artinya sesukanya, kata Sani.

                      Maksudnya, ketika bertarung, gerakan aliran silat ini memiliki fleksibilitas bagaimana melumpuhkan lawan. Kena matanya bisa, mau serang kemaluan boleh, mau ambil ulu hati juga nggak apa-apa, ujarnya.

                      Selain Sani, dua ahli waris lainnya adalah H Abdullah di Condet dan H Nunung di Rawa Belong, yang lalu membentuk Gerak Sanalika.

                      Kesederhanaan dan fleksibilitas menjadi ciri khasnya. Aliran ini tidak memiliki kembang dan hanya memiliki lima jurus. Jurus-jurus ini sebenarnya hanya merupakan gerakan-gerakan dasar yang dalam aplikasinya berkembang sesuai dengan situasi pertarungan dan kondisi lawan.

                      Ilmu silat ini memang khusus untuk bertarung. Ketika menyerang, tangan digunakan hanya untuk menjangkau dan memukul daerah berbahaya lawan, seperti mata, leher, ulu hati, dan kemaluan.

                      Dalam ilmu ini kita memang diajarkan harus melumpuhkan lawan secepat mungkin, ucap Sani.

                      Tak seperti aliran silat lain yang lebih menekankan pada kecepatan dan kekuatan, ilmu bela diri ini bertumpu pada rasa, yakni sensitivitas untuk membaca sirkulasi pergerakan dan tenaga lawan lewat sentuhan tangan. Makanya ilmu ini juga disebut Gerak Rasa.

                      Rasa penting dalam perkelahian karena tangan yang terlatih akan memiliki kepekaan dan secara otomatis mengantisipasi gerakan lawan tanpa melihat.

                      Ketika bertarung, wajah kita justru berpaling dari musuh dan hanya melihat lawan lewat sudut mata, kata Sani. Unik, bukan?

                      Penulis :
                      AMAL IHSAN
                      Koran Tempo
                      Edisi : Sabtu, 24 Februari 2007

                      silati ndonesia




                      Tags: , , , , , , , ,


                      Artikel GERAK SAKA Bergerak Sesukanya dengan Rasa yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


                        - Powered by BING [2014-04-04 23:08]

                        Comments are closed.

                        GERAK SAKA Bergerak Sesukanya dengan Rasa - Silat Indonesia

                        GERAK SAKA Bergerak Sesukanya dengan Rasa.

                            [
                        in English ]

                        Dec 3rd, 2009 | By | Category: Aliran Silat [ in English ]

                        Cobalah untuk memukulnya. Dijamin tangan lelaki berusia 58 tahun itu akan berkelebat cepat. Tangan kiri menangkis serangan berbarengan dengan tangan kanan menerjang muka lawan.

                        Cash and carry. Kalau diserang, langsung kite bayar kontan, ujar Muhammad Sani sembari tertawa.

                        Itulah karakter khas Gerak Saka. Aliran silat ini berasal dari Jawa Barat. Ini semula memang bela diri internal keluarga menak Sunda keturunan Prabu Siliwangi, kata Sani.

                        Raden H Muhammad Sjafe’i (1931-2001) adalah orang yang membawa bela diri tradisional ini ke Jakarta.

                        Bang Pe’i, demikian Muhammad Sjafe’i biasa disapa, belajar dari salah seorang kerabat istrinya, Raden Widarma. Meski keturunan bangsawan Pandeglang, Pe’i semula juga tak diperkenankan untuk mempelajarinya.

                        Ki Sura (nama aslinya tidak diketahui), salah seorang paman istri Bang Pe’i, akhirnya memberi izin Pe’i muda untuk memperdalam ilmu silat ini.

                        Pe’i juga diizinkan untuk mengajarkan ilmu ini kepada orang di luar lingkungan keluarga, asalkan mengubah nama alirannya. Aslinya bernama Gerak Gulung Pribumi, kata Sani.

                        Ketika mengembangkannya di Petojo, Jakarta Selatan, Pe’i mengubah namanya menjadi Gerak Saka. Singkatan dari Sakadaekna (bahasa Sunda) yang artinya sesukanya, kata Sani.

                        Maksudnya, ketika bertarung, gerakan aliran silat ini memiliki fleksibilitas bagaimana melumpuhkan lawan. Kena matanya bisa, mau serang kemaluan boleh, mau ambil ulu hati juga nggak apa-apa, ujarnya.

                        Selain Sani, dua ahli waris lainnya adalah H Abdullah di Condet dan H Nunung di Rawa Belong, yang lalu membentuk Gerak Sanalika.

                        Kesederhanaan dan fleksibilitas menjadi ciri khasnya. Aliran ini tidak memiliki kembang dan hanya memiliki lima jurus. Jurus-jurus ini sebenarnya hanya merupakan gerakan-gerakan dasar yang dalam aplikasinya berkembang sesuai dengan situasi pertarungan dan kondisi lawan.

                        Ilmu silat ini memang khusus untuk bertarung. Ketika menyerang, tangan digunakan hanya untuk menjangkau dan memukul daerah berbahaya lawan, seperti mata, leher, ulu hati, dan kemaluan.

                        Dalam ilmu ini kita memang diajarkan harus melumpuhkan lawan secepat mungkin, ucap Sani.

                        Tak seperti aliran silat lain yang lebih menekankan pada kecepatan dan kekuatan, ilmu bela diri ini bertumpu pada rasa, yakni sensitivitas untuk membaca sirkulasi pergerakan dan tenaga lawan lewat sentuhan tangan. Makanya ilmu ini juga disebut Gerak Rasa.

                        Rasa penting dalam perkelahian karena tangan yang terlatih akan memiliki kepekaan dan secara otomatis mengantisipasi gerakan lawan tanpa melihat.

                        Ketika bertarung, wajah kita justru berpaling dari musuh dan hanya melihat lawan lewat sudut mata, kata Sani. Unik, bukan?

                        Penulis :
                        AMAL IHSAN
                        Koran Tempo
                        Edisi : Sabtu, 24 Februari 2007

                        silati ndonesia




                        Tags: , , , , , , , ,


                        Artikel GERAK SAKA Bergerak Sesukanya dengan Rasa yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


                          - Powered by BING [2014-04-09 04:42]

                          Comments are closed.