Ibing Penca dan Beladiri Pencak Silat.

    [
in English ]

Feb 23rd, 2011 | By | Category: Artikel Silat [ in English ]

IBING PENCA DAN BELADIRI PENCAK SILAT
ANTARA KEMBANG DAN BUAH
“Mesek cangkang tembong eusi, layu kembang bijil buah

Disampaikan pada Seminar Pencak Silat Tradisional dalam Persfektif Budaya dan Sejarah
17 Februari 2011 di Universitas Indonesia

1. Pendahuluan

gending-raspuzi-01Di Jawa Barat, di samping dikenal adanya pencak sebagai bela diri, yang disebut dengan ‘buah’ atau ‘eusi’ (isi), dikenal pula pencak silat ‘kembang’ (bunga) atau ‘ibing penca’ (tari pencak). Begitu eratnya hubungan batin masyarakat Jawa Barat dengan seni pencak silat (kembang), hingga  banyak anggota masyarakat Jawa Barat yang menghubungkan kata pencak tidak dengan bela diri, akan tetapi dengan Ibing Penca.

Istilah Ibing Penca memang berasal dari Jawa Barat. Secara harfiah Ibing Penca dapat diterjemahkan menjadi Tari Pencak. Tapi para tokoh pencak silat di Jawa Barat kurang setuju jika ibing penca disebut tari pencak, karena kata “tari” cenderung lebih menitik beratkan pada unsur tarinya, yaitu suatu seni yang menampilkan keindahan gerak meskipun gerakannya diambil dari unsur-unsur pencak silat. Sedangkan “ibing penca” lebih menitikberatkan pada unsur pencak silat, yaitu gerak yang memiliki fungsi serang bela, walaupun tidak dapat disangkal di dalamnya juga mengandung unsur-unsur keindahan.

Ada sebagian orang berpendapat bahwa Ibing Penca adalah bagian dari pencak silat dan bisa digunakan sebagai software untuk membela diri jika dilatih dengan rutin, namun ada juga yang berpendapat bahwa Ibing Penca bukanlah pencak silat, melainkan hanya sebatas seni tari dalam bentuk gerakan pencak silat dan tidak bisa digunakan untuk membela diri meskipun dilatih dengan serius dan tekun. Di sisi lain ada juga yang berpendapat bahwa belajar Ibing Penca jika mengerti aplikasi dari setiap gerakan akan bisa dijadikan alat membela diri, sebab Ibing Penca merupakan gabungan rangkaian gerak membela diri hanya saja di iringi musik (jika dipertontonkan), namun dalam praktik latihan sehari-harinya tidak.

Dari sinilah timbul persoalan, apakah sebenarnya Ibing Penca berguna untuk membela diri atau hanya sekedar tarian yang tidak ada hubungannya dengan kemahiran beladiri.

2. Pencak Silat dan Tari

Pencak silat di Indonesia memiliki bermacam bentuk dan ragam yang lahir, hidup dan berkembang di masing-masing aliran dan perguruan pencak silat. Pada mulanya pencak silat diciptakan untuk membela diri, namun dalam perkembangannya, pencak silat dapat juga dijadikan sebagai sumber keindahan bentuk, gerak, irama dan ekspresi yang melukiskan adegan serang bela menggunakan tangan kosong maupun senjata.

Pencak silat dan tari merupakan satu ekspresi yang berkaitan dan saling mengisi, karena keduanya menggunakan tubuh manusia sebagai materi pokok, di samping ketajaman pikiran dan perasaan yang selalu berdampingan sewaktu melaksanakan pencak silat atau menari, ditambah dengan ketahanan fisik dan keuletan menggarap teknis pencak silat dan tari. Banyak pakar tari yang merasakan kebutuhan untuk belajar pencak silat yang ternyata besar sekali manfaatnya bagi seorang penari.

Persamaan Pencak dan tari adalah keduanya menggunakan tubuh beserta bagian-bagian dari anggota badan manusia sebagai materi utama. Pembinaan fisik dan ekspresi banyak persamaannya, hanya penggunaannya yang berbeda. Pencak silat adalah olah tubuh dari rasa yang dipergunakan untuk membela diri, sedangkan tari adalah olah tubuh untuk mengekspresikan suatu keindahan yang bersifat spiritual dan melahirkan suasana yang semuanya lahir karena tradisi atau dari jiwa para seniman.

Pembinaan tubuh dan penguasaaan teknik gerak untuk pencak silat dan tari membutuhkan waktu dan ketekunan berlatih fisik secara kontinyu, karena ketahanan fisik merupakan syarat utama. Ketahanan dari teknik pernafasan, keterampilan gerak, juga keindahan gerak dan keluwesannya ada di dalam pencak silat dan tari. Gerak berat, ringan, tegang, lemah, cepat, pelan, dan berirama merupakan sarana-sarana latihan teknik tubuh yang harus dilaksanakan dengan baik dan teratur bagi seorang pesilat dan penari.

Keindahan langkah kaki, gerak tangan kontinyu, posisi yang pasti, ketenangan dan ledakan-ledakan ekspresi gerak di samping kelembutan ada pada pencak silat dan tari. Maka pengaruh timbal balik antara pencak sebagai beladiri dengan tari telah ada pada seni tari di Indonesia.

3. Asal Mula Ibing Penca

Sejak kapan dan apa yang melatarbelakangi munculnya ibing penca? Hal ini memerlukan penelitian yang mendalam. Ada beberapa sumber yang mengatakan bahwa ibing penca diciptakan sebagai kamuflase dari beladiri yang dilarang pada zaman penjajahan Belanda, di mana dinyatakan bahwa pada saat itu para pendekar yang ingin menyebarkan pencak silat terbentur pada larangan yang dikeluarkan oleh pemerintahan kolonial, sehingga untuk menyiasatinya dibuatlah ibing penca agar pencak silat tetap boleh diajarkan. Ibing penca ditampilkan kepada masyarakat umum sedangkan beladirinya tetap diajarkan secara sembunyi-sembunyi. Untuk kasus-kasus tertentu hal ini mungkin ada benarnya, namun bagi kasus yang lain pendapat ini belum tentu tepat.

Pada awalnya aspek pencak silat yang pertama lahir adalah aspek beladiri. Situasi dan kondisi pada suatu masa secara alamiah menyebabkan manusia selalui menyesuaikan diri dengan alam dan lingkungannya,  naluri untuk menjaga eksistensi diri dan kelompoknya menimbulkan upaya agar kelompoknya lebih kuat dari kelompok yang lain. Bersama itu pula timbul kebutuhan untuk menciptakan alat pembelaan diri yang efektif, mulai dari menciptakan senjata dan menciptakan berbagai teknik perkelahian. Pada suatu masa yang mengharuskan orang mampu membela diri secara fisik, menyebabkan tumbuh suburnya bebagai jenis aliran beladiri. Dalam hal ini aliran-aliran pencak silat.

Namun perlu diingat bahwa selain memiliki naluri mempertahankan diri, manusia pun memiliki naluri untuk menyukai keindahan. Dari berbagai hal yang ada di sekelilingnya, manusia mampu menciptakan berbagai bentuk keindahan melalui seni. Ketika manusia menemukan alat yang dapat digunakan sebagai senjata, dengan alat itu pula mereka menciptakan karya seni pahatan. Ketika manusia memahami adanya nada dalam bunyi, maka manusia menciptakan musik dan nyanyian. Demikian pula halnya ketika di menyadari bahwa di dalam gerak terdapat keindahan, maka muncullah berbagai jenis tarian. Dari mana inspirasi membuat tarian itu? Salah satunya adalah dari teknik beladiri yang telah dikuasai sebelumnya. Ketika pencak silat tidak banyak lagi digunakan sebagai alat untuk membela diri, maka aspek lain dapat digali, seperti aspek olah raga dan seni. Dari sinilah ibing penca itu muncul. Ia tercipta dari kebutuhan manusia yang gandrung akan keindahan melalui medium gerak.

Di Jawa Barat pencak silat banyak mempengaruhi kesenian lain, khususnya tari rakyat. Contoh seni yang dipengaruhi pencak silat: Ketuk Tilu, Jaipongan, Cikeruhan, Sisingaan, Kuda Renggong. Pada awalnya ketika seorang pria sedang kaul Ketuk tilu, maka gerakan yang digunakan adalah gerak improvisasi yang diambil dari jurus-jurus pencak silat

Banyak koreografer tari yang memiliki latar belakang pencak silat, di antaranya adalah R. Tjetje Somantri, maestro Tari Keurseus, dan Gugum Gumbira, maestro Jaipongan. Dengan dasar pemikiran bahwa pencak silat merupakan salah satu sumber bagi jenis kesenian lainnya, maka STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Bandung memasukkan mata kuliah pencak silat selama 4 SKS dalam dua semester.

Meskipun Ketuk Tilu, Jaipongan atau jenis kesenian lainnya bersumber dari gerakan pencak silat tetapi tidak otomatis disebut sebagai tari pencak silat, karena fungsinya sudah berbeda yakni menjadi alat hiburan semata. Berbeda halnya dengan Ibing Penca, bagi perguruan pencak silat yang di dalamnya terdapat materi Ibing Penca, tentu saja ibing penca dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari ilmu pencak silat.

Jika kita melihat berbagai jenis aliran pencak silat ‘buhun’, jarang sekali di dalamnya terdapat pelajaran ibing penca (kecuali Cimande). Hal ini membuktikan bahwa pada awalnya aliran-aliran pencak silat lebih mengutamakan aspek beladiri daripada aspek seni. Atau dengan kata lain ibing penca muncul belakangan setelah ada beladiri pencak silat.

Seni Ibing Penca tumbuh subur berkembang di perguruan pencak silat, bukan di aliran asalnya. Sebagai contoh, aliran Cikalong tidak mengenal ibing penca, tetapi Gan Didi Muhtadi, salah seorang tokoh Maenpo Cikalong dari Pasar Baru Cianjur melalui perguruannya Pusaka Siliwangi mengembangkan ibing penca sehingga Gan Didi lebih dikenal sebagai guru ibing penca dari pada guru maenpo. Kemampuannya dalam menciptakan dan mengajarkan ibing penca merupakan hal yang jarang ditemui pada guru-guru maenpo di Cianjur yang hidup pada masa itu.

Contoh yang lain, Himpunan Pencak Silat Panglipur yang didirikan Abah Aleh adalah perguruan yang sekarang dikenal dengan kekayaan dan keindahan dalam ibing penca, padahal dari sejarah Panglipur dapat dilihat bahwa guru-guru Abah Aleh adalah pendekar dari berbagai aliran pencak silat yang mumpuni dalam aspek beladiri, bukan dalam aspek seni. Namun Abah Aleh sendiri yang mengolahnya menjadi berbagai bentuk ibing penca.

Ibing penca dapat berkembang di perguruan bukan di aliran pencak silat, hal ini terjadi karena biasanya pada suatu aliran pencak silat sudah terdapat aturan baku baik dari segi filosofis maupun teknis yang tidak boleh diubah, ditambah maupun dikurangi oleh para pengikutnya. Berbeda halnya dengan di perguruan pencak silat yang dipimpin oleh pendekar yang biasanya sudah mempelajari berbagai aliran, sehingga memiliki wawasan yang luas dan tidak terlalu kaku dalam mengembangkan pencak silat. Di dalam suatu perguruan biasanya teknik-teknik dari berbagai aliran selain tetap dipertahankan keasliannya namun tidak menutup kemungkinan kemudian dicoba dicampur sehingga menjadi bentuk baru yang menjadi ciri khas perguruan itu. Di sinilah banyak terjadi pengolahan teknik, termasuk pengolahan aspek seni dalam bentuk ibing penca.

4. Jurus yang Terdapat dalam Ibing Penca

Di dalam ibing penca terdapat jurus-jurus pencak silat. Namun, sebenarnya jenis jurus seperti apa yang digunakan dalam ibing penca? Pertama-tama harus dibedakan terlebih dahulu antara Gerak Dasar, Jurus Dasar, Jurus Inti, dan Jurus Kajadian.

Gerak Dasar adalah unsur yang paling kecil dalam suatu gerak. Misalnya ketika seorang pesilat melakukan satu gerak langkah serong sambil melakukan tangkisan sekaligus pukulan, maka di dalamnya terdapat beberapa gerak dasar, yaitu kuda-kuda serong, langkah serong, tangkisan, dan pukulan.

Jurus Dasar adalah jurus yang digunakan pada tahap awal berlatih di suatu perguruan atau aliran sebagai fondasi untuk materi lanjutan. Satu jurus dasar bisa terdiri dari satu gerakan, satu rangkaian pendek, bahkan bisa juga berupa rangkaian panjang. Sifat dari jurus dasar ini terbagi menjadi dua, yaitu:

Jurus Inti, yang di dalamnya terdapat prinsip-prinsip atau kaidah pencak silat yang dianut oleh suatu aliran atau perguruan. Sepintas jurus inti tidak bisa diduga bagaimana aplikasinya dalam suatu perkelahian tanpa keterangan dari guru. Biasanya jurus inti jumlahnya tidak terlalu banyak, namun dari jurus yang sedikit itu aplikasinya menjadi tidak terbatas jumlahnya.Sebagai contoh, aliran yang menggunakan jurus inti pada jurus dasarnya adalah Sabandar Jurus Lima, Cikalong, Suliwa, Maenpo Peupeuhan, dan Timbangan.

Jurus Kajadian, yaitu jurus dasar yang bisa langsung diaplikasikan dalam bentuk serang bela. Biasanya jurus dasar seperti ini bisa langsung dilakukan oleh dua orang pesilat yang saling berhadapan tanpa mengubah gerakan dari jurus dasar tersebut. Contoh aliran atau perguruan yang menggunakan metode ini adalah Cimande, Jurus Kajadian Maenpo, Panglipur, Pager Kancana, dan Budhi Kancana.

Dari Jurus Inti sebenarnya bisa dikembangkan menjadi berbagai Jurus Kajadian setelah jurus inti tersebut diaplikasikan dalam teknik serang bela. Sebagai contoh, Rd. Abad M. Sirod seorang tokoh maenpo Cikalong yang pada awalnya ia menerima Jurus Inti dari gurunya (Rd. Busrin) namun kemudian menciptakan 27 Jurus Kajadian dan 3 Jurus Maksud dengan alasan untuk mempermudah proses belajar mengajar. Menurutnya, dengan mengajarkan Jurus Kajadian murid-muridnya bisa langsung mengerti aplikasi dari setiap jurusnya.

Jadi Ibing Penca sebenarnya adalah rangkaian jurus kajadian yang disusun sedemikian rupa sehingga memenuhi unsur estetika tanpa meninggalkan makna serang bela dalam setiap gerakannya. Ibing penca yang baik harus dapat menggambarkan suatu bentuk teknik perkelahian seolah-olah pesilat tersebut sedang berhadapan dengan lawan.

5. Struktur Koreografi dan Karawitan pada Ibing Penca di Jawa Barat

a. Koreografi Ibing Penca

Sikap dan  gerakan dalam pencak silat sebagai beladiri dilakukan untuk melindungi diri dan menyerang, sedangkan dalam ibing penca sikap dan gerak dilakukan untuk kenikmatan penari yang bergerak mengikuti irama karawitan dan untuk kenikmatan yang menonton ibing penca. Mudah dipahami kalau gerakan dan sikap dalam ibing penca, walaupun bersumber pada beladiri namun memiliki perbedaan-perbedaan. Pada umumnya sikap dan gerakan dalam ibing penca lebih terbuka, lebih distilasi dan dilakukan dalam irama yang metrikal.

Di dalam Ibing Penca di Jawa Barat terdapat pola koreografis yang umum, yaitu sebagai berikut:

1)      Bagian pertama: Tepak Dua atau Paleredan, lebih memperlihatkan unsur keindahan.

2)      Bagian kedua: Tepak Tilu atau Golempang, memperlihatkan teknik serang bela yang masih terikat pada ketukan irama.

3)      Bagian ketiga: Padungdung, di sini pesilat berimprovisasi secara bebas sesuai dengan imajinasinya ketika itu.

Berdasarkan koreografi itu, ibing pencak adalah salah satu jenis kesenian yang kaya segi kreatifitasnya karena masing-masing perguruan memiliki gerakan ibing penca yang berbeda walaupun berpatokan pada irama yang sama. Dapat dipahami, ibing penca merupakan tari yang paling populer dan paling banyak penggemarnya di Jawa Barat.

Koreografi bagian pertama biasanya sangat kental dengan jurus-jurus yang berasal dari aliran Cimande, karena sifat geraknya lebih terbuka sehingga cocok dibawakan dengan tempo yang lambat. Contohnya adalah sebagai berikut:

  • Tepak Dua Salancar
  • Tepak Dua Sorong Dayung.
  • Tepak Dua Buang Kelid.
  • Tepak Dua Kampung Baru
  • Paleredan Jalak Pengkor
  • Paleredan Sawitan
  • Paleredan Pancer Opat

Koreografi bagian kedua lebih banyak bersumber pada aliran Cikalong, Sabandar, dan Sera. Contohnya adalah sebagai berikut:

  • Tepak Tilu Cikalong
  • Tepak Tilu Jalan Muka
  • Tepak Tilu Alip Bandul
  • Tepak Tilu Peunggasan
  • Tepak Tilu Gerak Seta

Koreografi bagian ketiga memperlihatkan jurus kajadian (jurus aplikasi) yang memperlihatkan teknik-teknik serang bela yang dilakukan dengan kecepatan yang sebenarnya dan yang pada awal perkembangannya bersifat improvisasi. Namun saat ini irama padungdung pun diisi dengan gerakan yang telah ditentukan sebelumnya, bukan improvisasi lagi. Contohnya adalah sebagai berikut:

  • Si Pecut
  • Pecah Alip
  • Pecah Gunting
  • Likuran
  • Si Pitung

Saat ini banyak koreografi yang merupakan variasi atau gabungan dari aliran-aliran Cimande, Cikalong, Sabandar, Sera dan aliran yang lain. Ibing pencak yang banyak diajarkan di perguruan-perguruan pencak silat seperti di Panglipur, Pager Kancana, Kusuma Harapan, Domas, dan yang perguruan lainnya biasanya sudah merupakan olahan dari berbagai macam aliran yang dipelajari di perguruan yang bersangkutan.

Ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan dalam memperagakan ibing penca, yaitu:

Pertama, unsur kekayaan gerak (wiraga) yaitu kekayaan gerak atau jurus-jurus yang dimiliki oleh seorang pesilat selama belajar di perguruannya, sehingga penampilannya menjadi tidak monoton atau membosankan apabila tampil di atas pentas, terutama dalam pertandingan seni pencak silat. Tetapi apabila dalam acara spontanitas pada suatu hajatan misalnya, unsur kekayaan gerak tidak begitu diperhatikan pesilat. Yang penting pesilat mampu memperagakan gerakannya dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah pencak silat karena tidak terikat oleh sistem penilaian dari juri seperti dalam pelaksanaan pertandingan pencak silat seni.

Kedua, unsur irama (wirahma) atau musik, unsur inilah yang membedakan aspek seni dengan aspek yang lain dalam pencak silat. Seorang pengibing penca harus mampu menyerasikan gerak dengan musik pengiringnya. Pengolahan irama yang variatif dan dinamis memiliki nilai lebih bagi seorang pesilat dalam membawakan ibingannya.

Ketiga, unsur penjiwaan gerak (wirasa) yaitu salah satu unsur yang penting dimiliki oleh seorang pengibing penca. Penjiwaan gerak yang mantap sangat dipengaruhi oleh pemahaman pesilat terhadap setiap gerakan yang ditampilkannya. Oleh karena itu, pesilat dituntut harus menguasai arti dan makna gerak pencak silat yang sebenarnya, serta mengerti maksud dan tujuan dari jurus-jurus dan teknik-teknik pencak silat yang dipelajarinya.

b. Karawitan

Walaupun di daerah-daerah tertentu di Jawa Barat terdapat musik pengiring khas ibing penca seperti Patingtung di Banten, dan Terebang di Cirebon namun pada umumnya untuk mengiringi ibing penca dibutuhkan suatu ensembel yang disebut ‘kendang penca’. Ensembel ini sangat mendukung suasana ibing penca yang pada dasarnya merupakan tari perang atau tari perkelahian. Musik kendang penca kadang-kadang bersuasana menantang misalnya pada lagu Kembang Beureum atau Buah Kawung atau bersuasana do’a yaitu pada Kidung.

Gendang pencak dimainkan oleh empat orang penabuh (nayaga/wiyaga). Mereka mempunyai tugas masing-masing dalam pelaksanaannya. Penabuh kendang pencak silat yang sudah berpengalaman selain mampu mengiringi ibing pencak silat yang sudah dirancang sebelumnya, ia pun mampu mengiringi gerakan-gerakan yang tidak dirancang sebelumnya.

Adapun waditra (instrumen) yang terdapat di dalam kendang penca adalah sebagai berikut:

  1. Dua buah kendang besar (kendang indung dan kendang anak) dilengkapi dua buah kendang kecil (kulanter). Kendang bertugas mengisi gerak dan mengatur tempo.
  2. Sebuah terompet sebagai pembawa melodi
  3. Sebuah gong kecil (bende, kempul) sebagai pengatur irama, penegas tesis lagu.

Jenis pukulan kendang yang juga tidak dapat dipisahkan dari jenis irama pada dasarnya adalah sebagai berikut:

  1. Tepak Dua. Motif-motif pukulan kendang untuk tempo lambat. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Kembang Gadung, Ayun Ambing, Polos, Gedong Panjang, Kendor Kulon, Tunggul Kawung, Bata Rubuh, Kidung, Sorong Dayung.
  2. Paleredan. Motif-motif pukulan kendang untuk tempo lambat. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Ayun Ambing, Bela pati, Sasalimpetan, Buah Kawung, Karawangan, Gendu, Gaya, Sari.
  3. Tepak Tilu. Motif-motif pukulan dengan tempo sedang. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Ucing-ucingan, Kembang Beureum, Bardin, Sintren, Papare, Bendrong Petit, Gendu, Kapuk Kapas, Garungan, Joher, Mainang, Kacang Asin, Oyong-oyong Bangkong.
  4. Golempang. Motif-motif lebih cepat daripada Tepak Tilu. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Kembang Beureum, Kacang Asin.
  5. Padungdung. Motif pukulan dengan tempo paling cepat. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Kidung, Kolear, Leang-leang, Ceurik Rahwana.

6. Kapan Ibing Penca Diajarkan?

Penempatan pelajaran ibing penca di setiap perguruan tidak sama. Ada yang ditempatkan di awal, ada pula yang ditempatkan di akhir. Lebih jelasnya proses belajar di perguruan pencak silat yang di dalamnya ada materi ibing penca adalah sebagai berikut:

  1. Jurus dasar – ibing penca – beladiri (Contoh: Panglipur, Pager Kancana, Budhi Kancana)
  2. Jurus dasar – beladiri – ibing penca (Contoh: Cimande)
  3. Jurus dasar – rangkaian gerak – beladiri – ibing penca (Contoh: Maenpo Peupeuhan)
  4. Ibing penca – beladiri (Contoh: Sekar Pusaka)
  5. Jurus dasar – Aplikasi jurus dasar – Rangkaian gerak – Ibing Penca – Beladiri (Contoh: Garis Paksi)

Penempatan materi ibing penca di awal adalah strategi agar pencak silat lebih disukai oleh kalangan pesilat usia anak-anak dan remaja, karena ibing penca dapat diajarkan secara massal dan kecil kemungkinannya pesilat mengalami cidera. Di samping itu dengan ibing penca dapat digunakan dalam ajang perlombaan seni pencak silat yang diadakan oleh IPSI maupun PPSI. Sistem pengajaran seperti ini biasanya digunakan di lingkungan sekolah. Pada kasus ini, seorang pesilat yang mampu membawakan ibingan dengan baik belum tentu mahir dalam beladiri.

Penempatan materi ibing penca di akhir bermaksud untuk penghalusan gerak jurus dan dapat digunakan sebagai alat hiburan setelah mempelajari beladiri. Pada kasus ini, seorang pesilat yang sudah berani tampil membawakan ibing penca sudah dipastikan mampu membela diri. Dahulu seorang pesilat yang melakukan ibing penca harus siap jika suatu waktu ada orang yang masuk ke gelanggang untuk  mencoba keterampilan berkelahi dengannya.

Namun ada pula yang mengajarkan ibing penca bersamaan waktunya dengan mengajarkan beladiri. Atau ada pemisahan antara murid yang ingin mendalami ibing penca dan murid yang ingin mendalami beladiri. Sebagai contoh, di Himpunan Pencak Silat Panglipur, setelah murid menguasai 6 dasar pukulan, 9 jurus dasar, dan dua pola langkah maka bisa dilanjutkan dengan mempelajari Ibing Paleredan Pancer Opat, Tepak Tilu Jalan Muka, kemudian ditutup dengan Padungdung Si Pecut. Namun jika ingin mempelajari beladiri, maka dari jurus dasar bisa langsung mempelajari aplikasi dari setiap jurus disertai dengan pengertian kaedah-kaedahnya sehingga benar-benar mengerti dan mampu mengaplikasikannya dalam usik beladiri.

Contoh lain, di Paguron Pusaka Siliwangi yang didirikan oleh Rd. Didi Muhtadi, jika ia mengajar ibing penca maka ia memulainya dengan mengajarkan 13 jurus dasar Cikalong, kemudian mengajarkan berbagai pola langkah dan akhirnya mengajarkan ibing penca. Namun jika ingin mengajarkan beladiri, dari jurus dilanjutkan dengan pelajaran kaedah maenpo Cikalong dan dilanjutkan dengan praktik usik-usikan atau tapelan (latihan berpasangan untuk mengolah rasa).

7. Manfaat Ibing Penca dalam Beladiri

Apakah ibing penca dapat digunakan untuk membeladiri? Apakah setiap pesilat yang sangat bagus membawakan ibing penca sudah pasti dapat melakukan pembelaan diri dengan baik? Jawabnya belum tentu. Seorang pesilat yang hanya belajar ibing penca atau baru belajar ibing penca pasti tidak akan bisa dijadikan sebagai alat pembelaan diri yang efektif.

Jangankan ibing penca, pesilat yang mampu memainkan jurus ganda dengan baik belum tentu juga mampu menggunakan teknik beladiri dengan baik. (Penampilan kategori Ganda atau berpasangan adalah latihan atau peragaan berpasangan dari pesilat yang menampilkan serang bela. Di dalam ganda masing-masing pesilat saling memberi kesempatan kepada mitranya untuk menggunakan jurusnya yang sudah diatur sebelumnya).

Ibing penca, ganda, usik/beladiri merupakan ilmu pencak silat yang memiliki perbedaan dalam tatacara berlatih dan mengaplikasikannya. Orang yang pandai ibing penca belum tentu bisa jurus ganda atau mahir beladiri. Orang yang mahir jurus ganda belum tentu bisa ibing penca atau usik beladiri yang sebenarnya. Begitu pula orang yang mahir usik beladiri belum tentu bisa ibing penca atau ganda.

Namun apabila masing-masing dihubungkan, maka akan terlihat keterkaitan yang saling mendukung satu sama lain. Dengan mempelajari ibing penca, pesilat akan mengerti irama, menghaluskan rasa, merasakan adanya energi dari musik pengiring. Sering terlihat seorang pendekar sepuh yang sudah renta tiba-tiba menjadi jagjag waringkas ketika mendengar kendang penca dan melakukan ibing penca, tetapi kemudian kembali “normal” ketika selesai membawakan ibingannya.

Dengan ganda pesilat belajar perbendaharaan teknik pencak silat dalam hal belaan dan serangan. Mengasah untuk saling memberi dan toleransi kepada mitranya, melatih timing yang tepat dalam bergerak. Dengan belajar usik/beladiri, kita dituntut untuk dapat menghadapi serangan apapun dalam situasi apapun. Tidak ada aturan dalam usik, tujuan utamanya adalah mampu mengalahkan lawan. Jadi semua memiliki porsinya masing-masing.

Sebenarnya di dalam ibing penca teknis pencak silat sudah cukup lengkap, mulai dari jurus, kuda-kuda, pasang, perpindahan posisi, hingga pola langkah. Tapi memang, di dalam ibing dimasukan elemen kembangan untuk mempermanisnya, yang kadang memang lebih banyak didominasi unsur tarian. Seorang pesilat yang telah menguasai ibing penca dengan baik harus melalui tahapan tertentu dengan metode latihan tertentu pula agar mahir pula dalam membela diri, tidak cukup hanya mempelajari ibing terus menerus.

Di Perguruan Pencak Silat Sekar Pusaka yang didirikan oleh Aki Iyat Ruchiyat, ibing penca langsung diberikan kepada murid baru, tanpa melalui tahap belajar jurus dasar. Kemudian setelah murid tersebut telah mampu menghafal dan membawakan ibing dengan benar dan bagus, maka mulailah Aki Iyat mengajarkan aplikasi yang terdapat dalam ibingan-ibingan tersebut. Istilahnya mesek cangkang tembong eusi, layu kembang bijil buah. Arti harfiahnya adalah “mengupas kulit agar terlihat isinya, layu bunga lantas muncul buahnya”. Jadi setelah ibingan itu dibuka kaidah-kaidah silatnya dengan dibarengi dengan latihan-latihan tertentu maka seorang pesilat yang ibingannya bagus dapat pula melakukan pembelaan diri dengan baik.

Pesilat yang telah mengetahui aplikasi dari ibing penca yang dibawakannya akan lebih menghayati setiap gerakannya. Penempatan tenaga antara leuleus (lemas/rileks) dan teuas (keras) akan semakin baik, demikian juga penggunaan ekspresi akan lebih gereget karena pesilat tersebut sedang membayangkan seolah-olah sedang menghadapi lawan.

8. Perkembangan Karawitan PencaK Silat

Pada umumnya di Jawa Barat musik pengiring ibing penca adalah suatu ensembel yang disebut “kendang penca”, terdiri dari dua buah kendang besar dan dua buah kendang kecil (kulanter) bertugas mengisi gerak dan mengatur tempo, sebuah terompet sebagai pembawa melodi, dan sebuah gong kecil sebagai pengatur irama dan penegas tesis lagu. Jenis pukulan kendang yang tidak dapat dipisahkan dari jenis irama pada dasarnya ada empat, yaitu Tepak Dua, Tepak Tilu, Golempang, dan Padungdung.

Karawitan pencak silat di Bandung mengalami perkembangan yang cukup dinamis. Jenis irama tidak lagi hanya berpatokan pada irama yang sudah baku, tetapi mulai berkreasi menciptakan irama baru, menambahkan beberapa waditra tambahan, bahkan menggunakan waditra yang sebelumnya tidak lazim digunakan untuk mengiringi ibing penca.

Pada tahun 1970-an muncul ibing penca yang lebih dikenal dengan Ibing Maenpo Cianjuran yang menggunakan tembang cianjuran sebagai musik pengiringnya. Meskipun menggunakan nama “cianjuran”, namun Ibing Maenpo Cianjuran diciptakan dan kemudian berkembang di Bandung. Ibing Maenpo Cianjuran adalah hasil karya cipta seorang tokoh Maenpo asal Bandung, yaitu Adung Rais. Pada saat itu ia mencoba memadukan seni beladiri Maenpo Peupeuhan dengan seni tradisional tembang cianjuran atau dikenal dengan nama kacapi suling.

Untuk bisa melakukan Ibing Penca ini, seorang praktisi Maenpo harus menguasai teknik Maenpo dengan baik dan memahami musik Cianjuran. Penguasaan teknik maenpo yang baik sangat penting karena Ibing Penca Cianjuran ini bersifat improvisasi sama halnya dengan musik cianjuran yang juga kaya dengan improvisasi.

Pemahaman wirama ini menyangkut dengan bagaimana menemukan ketukan dan meletakkan gong dalam musik cianjuran. Hampir sama dengan kendang penca, misalnya dalam Tepak Paleredan atau Tepak Dua, klimaks dari satu rangkaian gerak harus berakhir tepat dengan bunyi gong. Pemahaman wirasa menyangkut unsur rasa. Penari harus tahu kapan bergerak cepat atau lambat, kapan satu hitungan menggunakan banyak jurus atau sebaliknya satu jurus dilakukan dalam tiga atau lebih hitungan, semuanya adalah improvisasi.

Yang tidak kalah pentingnya adalah pemahaman syair. Setiap syair dan lagu cianjuran tentunya berbeda pesan, cerita dan makna. Lagu yang berbeda tentunya harus dibawakan dengan penjiwaan yang berbeda pula. Saat menari dengan Kidung atau Rajah misalnya, penari harus membawakannya dengan pembawaan yang khidmat dan tidak beringas. Lagu-lagu yang bersifat mengisahkan perang, disini bisa ditampilkan gerakan2 yang ganas, mimik wajah beringas, marah dsb, sedang untuk sinom satria, mungkin juga harus berusaha menampilkan kesan yang gagah dan agung dari seorang ksatria sunda. Bisa dikatakan, penguasaan akting yang baik akan menjadikan seorang penari Ibing Penca Cianjuran menjadi lebih mantap dalam membawakan tariannya.

Menurut Adung Rais, bila sudah memahami dan menghayati secara maksimal maenpo dan cianjuran ini, bisa dikatakan sudah terjadi suatu keseimbangan karena telah terjadi perpaduan yang harmonis antara bentuk kekerasan dan bentuk kehalusan.

Sekitar tahun 1995 di Bandung muncul lagi irama pengiring ibing penca yang termasuk unik dan baru. Irama musiknya dikenal dengan irama “Tepak Gonjing” atau “Tepak Tungbreng”. Irama ini tercipta dengan latar belakang kebutuhan dalam kejuaraan seni pencak silat tingkat nasional yang diadakan oleh IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia), di mana salah satu penilaiannya adalah variasi dalam irama pengiring ibing penca. Saat itu Ketua Pengda IPSI Jawa Barat H. Suhana Budjana meminta kepada para guru pencak silat dan para nayaganya untuk membuat kreasi baru dalam iringan musik pencak silat.

Permintaan itu direspons dengan berkumpulnya sejumlah tokoh dan pendekar pencak silat dan beberapa seniman Sunda untuk merumuskan pola irama baru. Melalui proses yang tidak terlalu lama maka terciptalah irama Tungbreng atau Gonjing yang memiliki pola tabuhan khas. Kata tungbreng diambil dari bunyi yang dihasilkan oleh alat tabuhannya. Selain mempertahankan ensambel kendang penca yang asli seperti gendang, tarompet dan gong, dalam irama gonjing ditambah beberapa ensambel pelengkap yang terdiri dari kecrek, bonang, dan bedug. Kadang-kadang untuk kebutuhan suasana tertentu dipakai juga kacapi dan suling.

Walaupun pada awalnya Tepak Gonjing menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan penggemar pencak silat, namun lambat laun akhirnya dapat diterima. Para pesilat anak-anak dan remaja kebanyakan lebih menyukai irama ini untuk mengiringi ibingannya dengan alasan lebih dinamis.

Munculnya Tepak Tungbreng sebagai karya baru dalam blantika ibing penca dianggap sebagai prestasi bagi para tokoh, pendekar, dan seniman yang berkiprah di dunia persilatan Jawa Barat. Hal ini terbukti dengan adanya fenomena penampilan Tepak Tungbreng di setiap pasanggiri atau festival pencak silat di Bandung, bahkan di Jawa Barat. Tepak Tungbreng kini sudah menyebar dari Bandung ke daerah-daerah lain di Jawa Barat.

9. Penutup

Ibing penca harus dipandang sebagai bagian integral dari suatu ilmu pencak silat di suatu perguruan, sehingga akan banyak manfaat yang bisa diambil dari mempelajari ibing penca. Keberadaan ibing penca di perguruan pencak silat tergantung pada kebijakan perguruan itu sendiri. Jika secara tradisi di suatu perguruan diajarkan ibing penca, maka hal itu patut dilestarikan keberadaanya bahkan harus lebih dikembangkan lagi dengan menciptakan ibingan-ibingan penca yang baru disesuaikan dengan kebutuhan. Bagi perguruan yang tidak memiliki tradisi ibing penca tidak usah memaksakan diri agar ada materi ibing penca, namun jika ingin mencoba sebenarnya bisa saja dengan cara menyusun ibing penca dengan menggunakan patokan irama yang sudah baku atau dengan memodifikasi irama tertentu.

Ibing penca jika ditempatkan pada tempat semestinya akan banyak manfaatnya yang bisa diambil. Namun paling tidak, dengan mempelajari ibing penca kita sudah turut melestarikan salah satu seni budaya peninggalan para pendekar pendahulu kita.

Graspuzi 16022011

dikutip dari:
facebook Gending Raspuzi




Tags: , , ,


Artikel Ibing Penca dan Beladiri Pencak Silat yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


    - Powered by BING [2014-02-03 06:12]

    Comments are closed.

    Ibing Penca dan Beladiri Pencak Silat - Silat Indonesia

    Ibing Penca dan Beladiri Pencak Silat.

        [
    in English ]

    Feb 23rd, 2011 | By | Category: Artikel Silat [ in English ]

    IBING PENCA DAN BELADIRI PENCAK SILAT
    ANTARA KEMBANG DAN BUAH
    “Mesek cangkang tembong eusi, layu kembang bijil buah

    Disampaikan pada Seminar Pencak Silat Tradisional dalam Persfektif Budaya dan Sejarah
    17 Februari 2011 di Universitas Indonesia

    1. Pendahuluan

    gending-raspuzi-01Di Jawa Barat, di samping dikenal adanya pencak sebagai bela diri, yang disebut dengan ‘buah’ atau ‘eusi’ (isi), dikenal pula pencak silat ‘kembang’ (bunga) atau ‘ibing penca’ (tari pencak). Begitu eratnya hubungan batin masyarakat Jawa Barat dengan seni pencak silat (kembang), hingga  banyak anggota masyarakat Jawa Barat yang menghubungkan kata pencak tidak dengan bela diri, akan tetapi dengan Ibing Penca.

    Istilah Ibing Penca memang berasal dari Jawa Barat. Secara harfiah Ibing Penca dapat diterjemahkan menjadi Tari Pencak. Tapi para tokoh pencak silat di Jawa Barat kurang setuju jika ibing penca disebut tari pencak, karena kata “tari” cenderung lebih menitik beratkan pada unsur tarinya, yaitu suatu seni yang menampilkan keindahan gerak meskipun gerakannya diambil dari unsur-unsur pencak silat. Sedangkan “ibing penca” lebih menitikberatkan pada unsur pencak silat, yaitu gerak yang memiliki fungsi serang bela, walaupun tidak dapat disangkal di dalamnya juga mengandung unsur-unsur keindahan.

    Ada sebagian orang berpendapat bahwa Ibing Penca adalah bagian dari pencak silat dan bisa digunakan sebagai software untuk membela diri jika dilatih dengan rutin, namun ada juga yang berpendapat bahwa Ibing Penca bukanlah pencak silat, melainkan hanya sebatas seni tari dalam bentuk gerakan pencak silat dan tidak bisa digunakan untuk membela diri meskipun dilatih dengan serius dan tekun. Di sisi lain ada juga yang berpendapat bahwa belajar Ibing Penca jika mengerti aplikasi dari setiap gerakan akan bisa dijadikan alat membela diri, sebab Ibing Penca merupakan gabungan rangkaian gerak membela diri hanya saja di iringi musik (jika dipertontonkan), namun dalam praktik latihan sehari-harinya tidak.

    Dari sinilah timbul persoalan, apakah sebenarnya Ibing Penca berguna untuk membela diri atau hanya sekedar tarian yang tidak ada hubungannya dengan kemahiran beladiri.

    2. Pencak Silat dan Tari

    Pencak silat di Indonesia memiliki bermacam bentuk dan ragam yang lahir, hidup dan berkembang di masing-masing aliran dan perguruan pencak silat. Pada mulanya pencak silat diciptakan untuk membela diri, namun dalam perkembangannya, pencak silat dapat juga dijadikan sebagai sumber keindahan bentuk, gerak, irama dan ekspresi yang melukiskan adegan serang bela menggunakan tangan kosong maupun senjata.

    Pencak silat dan tari merupakan satu ekspresi yang berkaitan dan saling mengisi, karena keduanya menggunakan tubuh manusia sebagai materi pokok, di samping ketajaman pikiran dan perasaan yang selalu berdampingan sewaktu melaksanakan pencak silat atau menari, ditambah dengan ketahanan fisik dan keuletan menggarap teknis pencak silat dan tari. Banyak pakar tari yang merasakan kebutuhan untuk belajar pencak silat yang ternyata besar sekali manfaatnya bagi seorang penari.

    Persamaan Pencak dan tari adalah keduanya menggunakan tubuh beserta bagian-bagian dari anggota badan manusia sebagai materi utama. Pembinaan fisik dan ekspresi banyak persamaannya, hanya penggunaannya yang berbeda. Pencak silat adalah olah tubuh dari rasa yang dipergunakan untuk membela diri, sedangkan tari adalah olah tubuh untuk mengekspresikan suatu keindahan yang bersifat spiritual dan melahirkan suasana yang semuanya lahir karena tradisi atau dari jiwa para seniman.

    Pembinaan tubuh dan penguasaaan teknik gerak untuk pencak silat dan tari membutuhkan waktu dan ketekunan berlatih fisik secara kontinyu, karena ketahanan fisik merupakan syarat utama. Ketahanan dari teknik pernafasan, keterampilan gerak, juga keindahan gerak dan keluwesannya ada di dalam pencak silat dan tari. Gerak berat, ringan, tegang, lemah, cepat, pelan, dan berirama merupakan sarana-sarana latihan teknik tubuh yang harus dilaksanakan dengan baik dan teratur bagi seorang pesilat dan penari.

    Keindahan langkah kaki, gerak tangan kontinyu, posisi yang pasti, ketenangan dan ledakan-ledakan ekspresi gerak di samping kelembutan ada pada pencak silat dan tari. Maka pengaruh timbal balik antara pencak sebagai beladiri dengan tari telah ada pada seni tari di Indonesia.

    3. Asal Mula Ibing Penca

    Sejak kapan dan apa yang melatarbelakangi munculnya ibing penca? Hal ini memerlukan penelitian yang mendalam. Ada beberapa sumber yang mengatakan bahwa ibing penca diciptakan sebagai kamuflase dari beladiri yang dilarang pada zaman penjajahan Belanda, di mana dinyatakan bahwa pada saat itu para pendekar yang ingin menyebarkan pencak silat terbentur pada larangan yang dikeluarkan oleh pemerintahan kolonial, sehingga untuk menyiasatinya dibuatlah ibing penca agar pencak silat tetap boleh diajarkan. Ibing penca ditampilkan kepada masyarakat umum sedangkan beladirinya tetap diajarkan secara sembunyi-sembunyi. Untuk kasus-kasus tertentu hal ini mungkin ada benarnya, namun bagi kasus yang lain pendapat ini belum tentu tepat.

    Pada awalnya aspek pencak silat yang pertama lahir adalah aspek beladiri. Situasi dan kondisi pada suatu masa secara alamiah menyebabkan manusia selalui menyesuaikan diri dengan alam dan lingkungannya,  naluri untuk menjaga eksistensi diri dan kelompoknya menimbulkan upaya agar kelompoknya lebih kuat dari kelompok yang lain. Bersama itu pula timbul kebutuhan untuk menciptakan alat pembelaan diri yang efektif, mulai dari menciptakan senjata dan menciptakan berbagai teknik perkelahian. Pada suatu masa yang mengharuskan orang mampu membela diri secara fisik, menyebabkan tumbuh suburnya bebagai jenis aliran beladiri. Dalam hal ini aliran-aliran pencak silat.

    Namun perlu diingat bahwa selain memiliki naluri mempertahankan diri, manusia pun memiliki naluri untuk menyukai keindahan. Dari berbagai hal yang ada di sekelilingnya, manusia mampu menciptakan berbagai bentuk keindahan melalui seni. Ketika manusia menemukan alat yang dapat digunakan sebagai senjata, dengan alat itu pula mereka menciptakan karya seni pahatan. Ketika manusia memahami adanya nada dalam bunyi, maka manusia menciptakan musik dan nyanyian. Demikian pula halnya ketika di menyadari bahwa di dalam gerak terdapat keindahan, maka muncullah berbagai jenis tarian. Dari mana inspirasi membuat tarian itu? Salah satunya adalah dari teknik beladiri yang telah dikuasai sebelumnya. Ketika pencak silat tidak banyak lagi digunakan sebagai alat untuk membela diri, maka aspek lain dapat digali, seperti aspek olah raga dan seni. Dari sinilah ibing penca itu muncul. Ia tercipta dari kebutuhan manusia yang gandrung akan keindahan melalui medium gerak.

    Di Jawa Barat pencak silat banyak mempengaruhi kesenian lain, khususnya tari rakyat. Contoh seni yang dipengaruhi pencak silat: Ketuk Tilu, Jaipongan, Cikeruhan, Sisingaan, Kuda Renggong. Pada awalnya ketika seorang pria sedang kaul Ketuk tilu, maka gerakan yang digunakan adalah gerak improvisasi yang diambil dari jurus-jurus pencak silat

    Banyak koreografer tari yang memiliki latar belakang pencak silat, di antaranya adalah R. Tjetje Somantri, maestro Tari Keurseus, dan Gugum Gumbira, maestro Jaipongan. Dengan dasar pemikiran bahwa pencak silat merupakan salah satu sumber bagi jenis kesenian lainnya, maka STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Bandung memasukkan mata kuliah pencak silat selama 4 SKS dalam dua semester.

    Meskipun Ketuk Tilu, Jaipongan atau jenis kesenian lainnya bersumber dari gerakan pencak silat tetapi tidak otomatis disebut sebagai tari pencak silat, karena fungsinya sudah berbeda yakni menjadi alat hiburan semata. Berbeda halnya dengan Ibing Penca, bagi perguruan pencak silat yang di dalamnya terdapat materi Ibing Penca, tentu saja ibing penca dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari ilmu pencak silat.

    Jika kita melihat berbagai jenis aliran pencak silat ‘buhun’, jarang sekali di dalamnya terdapat pelajaran ibing penca (kecuali Cimande). Hal ini membuktikan bahwa pada awalnya aliran-aliran pencak silat lebih mengutamakan aspek beladiri daripada aspek seni. Atau dengan kata lain ibing penca muncul belakangan setelah ada beladiri pencak silat.

    Seni Ibing Penca tumbuh subur berkembang di perguruan pencak silat, bukan di aliran asalnya. Sebagai contoh, aliran Cikalong tidak mengenal ibing penca, tetapi Gan Didi Muhtadi, salah seorang tokoh Maenpo Cikalong dari Pasar Baru Cianjur melalui perguruannya Pusaka Siliwangi mengembangkan ibing penca sehingga Gan Didi lebih dikenal sebagai guru ibing penca dari pada guru maenpo. Kemampuannya dalam menciptakan dan mengajarkan ibing penca merupakan hal yang jarang ditemui pada guru-guru maenpo di Cianjur yang hidup pada masa itu.

    Contoh yang lain, Himpunan Pencak Silat Panglipur yang didirikan Abah Aleh adalah perguruan yang sekarang dikenal dengan kekayaan dan keindahan dalam ibing penca, padahal dari sejarah Panglipur dapat dilihat bahwa guru-guru Abah Aleh adalah pendekar dari berbagai aliran pencak silat yang mumpuni dalam aspek beladiri, bukan dalam aspek seni. Namun Abah Aleh sendiri yang mengolahnya menjadi berbagai bentuk ibing penca.

    Ibing penca dapat berkembang di perguruan bukan di aliran pencak silat, hal ini terjadi karena biasanya pada suatu aliran pencak silat sudah terdapat aturan baku baik dari segi filosofis maupun teknis yang tidak boleh diubah, ditambah maupun dikurangi oleh para pengikutnya. Berbeda halnya dengan di perguruan pencak silat yang dipimpin oleh pendekar yang biasanya sudah mempelajari berbagai aliran, sehingga memiliki wawasan yang luas dan tidak terlalu kaku dalam mengembangkan pencak silat. Di dalam suatu perguruan biasanya teknik-teknik dari berbagai aliran selain tetap dipertahankan keasliannya namun tidak menutup kemungkinan kemudian dicoba dicampur sehingga menjadi bentuk baru yang menjadi ciri khas perguruan itu. Di sinilah banyak terjadi pengolahan teknik, termasuk pengolahan aspek seni dalam bentuk ibing penca.

    4. Jurus yang Terdapat dalam Ibing Penca

    Di dalam ibing penca terdapat jurus-jurus pencak silat. Namun, sebenarnya jenis jurus seperti apa yang digunakan dalam ibing penca? Pertama-tama harus dibedakan terlebih dahulu antara Gerak Dasar, Jurus Dasar, Jurus Inti, dan Jurus Kajadian.

    Gerak Dasar adalah unsur yang paling kecil dalam suatu gerak. Misalnya ketika seorang pesilat melakukan satu gerak langkah serong sambil melakukan tangkisan sekaligus pukulan, maka di dalamnya terdapat beberapa gerak dasar, yaitu kuda-kuda serong, langkah serong, tangkisan, dan pukulan.

    Jurus Dasar adalah jurus yang digunakan pada tahap awal berlatih di suatu perguruan atau aliran sebagai fondasi untuk materi lanjutan. Satu jurus dasar bisa terdiri dari satu gerakan, satu rangkaian pendek, bahkan bisa juga berupa rangkaian panjang. Sifat dari jurus dasar ini terbagi menjadi dua, yaitu:

    Jurus Inti, yang di dalamnya terdapat prinsip-prinsip atau kaidah pencak silat yang dianut oleh suatu aliran atau perguruan. Sepintas jurus inti tidak bisa diduga bagaimana aplikasinya dalam suatu perkelahian tanpa keterangan dari guru. Biasanya jurus inti jumlahnya tidak terlalu banyak, namun dari jurus yang sedikit itu aplikasinya menjadi tidak terbatas jumlahnya.Sebagai contoh, aliran yang menggunakan jurus inti pada jurus dasarnya adalah Sabandar Jurus Lima, Cikalong, Suliwa, Maenpo Peupeuhan, dan Timbangan.

    Jurus Kajadian, yaitu jurus dasar yang bisa langsung diaplikasikan dalam bentuk serang bela. Biasanya jurus dasar seperti ini bisa langsung dilakukan oleh dua orang pesilat yang saling berhadapan tanpa mengubah gerakan dari jurus dasar tersebut. Contoh aliran atau perguruan yang menggunakan metode ini adalah Cimande, Jurus Kajadian Maenpo, Panglipur, Pager Kancana, dan Budhi Kancana.

    Dari Jurus Inti sebenarnya bisa dikembangkan menjadi berbagai Jurus Kajadian setelah jurus inti tersebut diaplikasikan dalam teknik serang bela. Sebagai contoh, Rd. Abad M. Sirod seorang tokoh maenpo Cikalong yang pada awalnya ia menerima Jurus Inti dari gurunya (Rd. Busrin) namun kemudian menciptakan 27 Jurus Kajadian dan 3 Jurus Maksud dengan alasan untuk mempermudah proses belajar mengajar. Menurutnya, dengan mengajarkan Jurus Kajadian murid-muridnya bisa langsung mengerti aplikasi dari setiap jurusnya.

    Jadi Ibing Penca sebenarnya adalah rangkaian jurus kajadian yang disusun sedemikian rupa sehingga memenuhi unsur estetika tanpa meninggalkan makna serang bela dalam setiap gerakannya. Ibing penca yang baik harus dapat menggambarkan suatu bentuk teknik perkelahian seolah-olah pesilat tersebut sedang berhadapan dengan lawan.

    5. Struktur Koreografi dan Karawitan pada Ibing Penca di Jawa Barat

    a. Koreografi Ibing Penca

    Sikap dan  gerakan dalam pencak silat sebagai beladiri dilakukan untuk melindungi diri dan menyerang, sedangkan dalam ibing penca sikap dan gerak dilakukan untuk kenikmatan penari yang bergerak mengikuti irama karawitan dan untuk kenikmatan yang menonton ibing penca. Mudah dipahami kalau gerakan dan sikap dalam ibing penca, walaupun bersumber pada beladiri namun memiliki perbedaan-perbedaan. Pada umumnya sikap dan gerakan dalam ibing penca lebih terbuka, lebih distilasi dan dilakukan dalam irama yang metrikal.

    Di dalam Ibing Penca di Jawa Barat terdapat pola koreografis yang umum, yaitu sebagai berikut:

    1)      Bagian pertama: Tepak Dua atau Paleredan, lebih memperlihatkan unsur keindahan.

    2)      Bagian kedua: Tepak Tilu atau Golempang, memperlihatkan teknik serang bela yang masih terikat pada ketukan irama.

    3)      Bagian ketiga: Padungdung, di sini pesilat berimprovisasi secara bebas sesuai dengan imajinasinya ketika itu.

    Berdasarkan koreografi itu, ibing pencak adalah salah satu jenis kesenian yang kaya segi kreatifitasnya karena masing-masing perguruan memiliki gerakan ibing penca yang berbeda walaupun berpatokan pada irama yang sama. Dapat dipahami, ibing penca merupakan tari yang paling populer dan paling banyak penggemarnya di Jawa Barat.

    Koreografi bagian pertama biasanya sangat kental dengan jurus-jurus yang berasal dari aliran Cimande, karena sifat geraknya lebih terbuka sehingga cocok dibawakan dengan tempo yang lambat. Contohnya adalah sebagai berikut:

    • Tepak Dua Salancar
    • Tepak Dua Sorong Dayung.
    • Tepak Dua Buang Kelid.
    • Tepak Dua Kampung Baru
    • Paleredan Jalak Pengkor
    • Paleredan Sawitan
    • Paleredan Pancer Opat

    Koreografi bagian kedua lebih banyak bersumber pada aliran Cikalong, Sabandar, dan Sera. Contohnya adalah sebagai berikut:

    • Tepak Tilu Cikalong
    • Tepak Tilu Jalan Muka
    • Tepak Tilu Alip Bandul
    • Tepak Tilu Peunggasan
    • Tepak Tilu Gerak Seta

    Koreografi bagian ketiga memperlihatkan jurus kajadian (jurus aplikasi) yang memperlihatkan teknik-teknik serang bela yang dilakukan dengan kecepatan yang sebenarnya dan yang pada awal perkembangannya bersifat improvisasi. Namun saat ini irama padungdung pun diisi dengan gerakan yang telah ditentukan sebelumnya, bukan improvisasi lagi. Contohnya adalah sebagai berikut:

    • Si Pecut
    • Pecah Alip
    • Pecah Gunting
    • Likuran
    • Si Pitung

    Saat ini banyak koreografi yang merupakan variasi atau gabungan dari aliran-aliran Cimande, Cikalong, Sabandar, Sera dan aliran yang lain. Ibing pencak yang banyak diajarkan di perguruan-perguruan pencak silat seperti di Panglipur, Pager Kancana, Kusuma Harapan, Domas, dan yang perguruan lainnya biasanya sudah merupakan olahan dari berbagai macam aliran yang dipelajari di perguruan yang bersangkutan.

    Ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan dalam memperagakan ibing penca, yaitu:

    Pertama, unsur kekayaan gerak (wiraga) yaitu kekayaan gerak atau jurus-jurus yang dimiliki oleh seorang pesilat selama belajar di perguruannya, sehingga penampilannya menjadi tidak monoton atau membosankan apabila tampil di atas pentas, terutama dalam pertandingan seni pencak silat. Tetapi apabila dalam acara spontanitas pada suatu hajatan misalnya, unsur kekayaan gerak tidak begitu diperhatikan pesilat. Yang penting pesilat mampu memperagakan gerakannya dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah pencak silat karena tidak terikat oleh sistem penilaian dari juri seperti dalam pelaksanaan pertandingan pencak silat seni.

    Kedua, unsur irama (wirahma) atau musik, unsur inilah yang membedakan aspek seni dengan aspek yang lain dalam pencak silat. Seorang pengibing penca harus mampu menyerasikan gerak dengan musik pengiringnya. Pengolahan irama yang variatif dan dinamis memiliki nilai lebih bagi seorang pesilat dalam membawakan ibingannya.

    Ketiga, unsur penjiwaan gerak (wirasa) yaitu salah satu unsur yang penting dimiliki oleh seorang pengibing penca. Penjiwaan gerak yang mantap sangat dipengaruhi oleh pemahaman pesilat terhadap setiap gerakan yang ditampilkannya. Oleh karena itu, pesilat dituntut harus menguasai arti dan makna gerak pencak silat yang sebenarnya, serta mengerti maksud dan tujuan dari jurus-jurus dan teknik-teknik pencak silat yang dipelajarinya.

    b. Karawitan

    Walaupun di daerah-daerah tertentu di Jawa Barat terdapat musik pengiring khas ibing penca seperti Patingtung di Banten, dan Terebang di Cirebon namun pada umumnya untuk mengiringi ibing penca dibutuhkan suatu ensembel yang disebut ‘kendang penca’. Ensembel ini sangat mendukung suasana ibing penca yang pada dasarnya merupakan tari perang atau tari perkelahian. Musik kendang penca kadang-kadang bersuasana menantang misalnya pada lagu Kembang Beureum atau Buah Kawung atau bersuasana do’a yaitu pada Kidung.

    Gendang pencak dimainkan oleh empat orang penabuh (nayaga/wiyaga). Mereka mempunyai tugas masing-masing dalam pelaksanaannya. Penabuh kendang pencak silat yang sudah berpengalaman selain mampu mengiringi ibing pencak silat yang sudah dirancang sebelumnya, ia pun mampu mengiringi gerakan-gerakan yang tidak dirancang sebelumnya.

    Adapun waditra (instrumen) yang terdapat di dalam kendang penca adalah sebagai berikut:

    1. Dua buah kendang besar (kendang indung dan kendang anak) dilengkapi dua buah kendang kecil (kulanter). Kendang bertugas mengisi gerak dan mengatur tempo.
    2. Sebuah terompet sebagai pembawa melodi
    3. Sebuah gong kecil (bende, kempul) sebagai pengatur irama, penegas tesis lagu.

    Jenis pukulan kendang yang juga tidak dapat dipisahkan dari jenis irama pada dasarnya adalah sebagai berikut:

    1. Tepak Dua. Motif-motif pukulan kendang untuk tempo lambat. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Kembang Gadung, Ayun Ambing, Polos, Gedong Panjang, Kendor Kulon, Tunggul Kawung, Bata Rubuh, Kidung, Sorong Dayung.
    2. Paleredan. Motif-motif pukulan kendang untuk tempo lambat. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Ayun Ambing, Bela pati, Sasalimpetan, Buah Kawung, Karawangan, Gendu, Gaya, Sari.
    3. Tepak Tilu. Motif-motif pukulan dengan tempo sedang. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Ucing-ucingan, Kembang Beureum, Bardin, Sintren, Papare, Bendrong Petit, Gendu, Kapuk Kapas, Garungan, Joher, Mainang, Kacang Asin, Oyong-oyong Bangkong.
    4. Golempang. Motif-motif lebih cepat daripada Tepak Tilu. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Kembang Beureum, Kacang Asin.
    5. Padungdung. Motif pukulan dengan tempo paling cepat. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Kidung, Kolear, Leang-leang, Ceurik Rahwana.

    6. Kapan Ibing Penca Diajarkan?

    Penempatan pelajaran ibing penca di setiap perguruan tidak sama. Ada yang ditempatkan di awal, ada pula yang ditempatkan di akhir. Lebih jelasnya proses belajar di perguruan pencak silat yang di dalamnya ada materi ibing penca adalah sebagai berikut:

    1. Jurus dasar – ibing penca – beladiri (Contoh: Panglipur, Pager Kancana, Budhi Kancana)
    2. Jurus dasar – beladiri – ibing penca (Contoh: Cimande)
    3. Jurus dasar – rangkaian gerak – beladiri – ibing penca (Contoh: Maenpo Peupeuhan)
    4. Ibing penca – beladiri (Contoh: Sekar Pusaka)
    5. Jurus dasar – Aplikasi jurus dasar – Rangkaian gerak – Ibing Penca – Beladiri (Contoh: Garis Paksi)

    Penempatan materi ibing penca di awal adalah strategi agar pencak silat lebih disukai oleh kalangan pesilat usia anak-anak dan remaja, karena ibing penca dapat diajarkan secara massal dan kecil kemungkinannya pesilat mengalami cidera. Di samping itu dengan ibing penca dapat digunakan dalam ajang perlombaan seni pencak silat yang diadakan oleh IPSI maupun PPSI. Sistem pengajaran seperti ini biasanya digunakan di lingkungan sekolah. Pada kasus ini, seorang pesilat yang mampu membawakan ibingan dengan baik belum tentu mahir dalam beladiri.

    Penempatan materi ibing penca di akhir bermaksud untuk penghalusan gerak jurus dan dapat digunakan sebagai alat hiburan setelah mempelajari beladiri. Pada kasus ini, seorang pesilat yang sudah berani tampil membawakan ibing penca sudah dipastikan mampu membela diri. Dahulu seorang pesilat yang melakukan ibing penca harus siap jika suatu waktu ada orang yang masuk ke gelanggang untuk  mencoba keterampilan berkelahi dengannya.

    Namun ada pula yang mengajarkan ibing penca bersamaan waktunya dengan mengajarkan beladiri. Atau ada pemisahan antara murid yang ingin mendalami ibing penca dan murid yang ingin mendalami beladiri. Sebagai contoh, di Himpunan Pencak Silat Panglipur, setelah murid menguasai 6 dasar pukulan, 9 jurus dasar, dan dua pola langkah maka bisa dilanjutkan dengan mempelajari Ibing Paleredan Pancer Opat, Tepak Tilu Jalan Muka, kemudian ditutup dengan Padungdung Si Pecut. Namun jika ingin mempelajari beladiri, maka dari jurus dasar bisa langsung mempelajari aplikasi dari setiap jurus disertai dengan pengertian kaedah-kaedahnya sehingga benar-benar mengerti dan mampu mengaplikasikannya dalam usik beladiri.

    Contoh lain, di Paguron Pusaka Siliwangi yang didirikan oleh Rd. Didi Muhtadi, jika ia mengajar ibing penca maka ia memulainya dengan mengajarkan 13 jurus dasar Cikalong, kemudian mengajarkan berbagai pola langkah dan akhirnya mengajarkan ibing penca. Namun jika ingin mengajarkan beladiri, dari jurus dilanjutkan dengan pelajaran kaedah maenpo Cikalong dan dilanjutkan dengan praktik usik-usikan atau tapelan (latihan berpasangan untuk mengolah rasa).

    7. Manfaat Ibing Penca dalam Beladiri

    Apakah ibing penca dapat digunakan untuk membeladiri? Apakah setiap pesilat yang sangat bagus membawakan ibing penca sudah pasti dapat melakukan pembelaan diri dengan baik? Jawabnya belum tentu. Seorang pesilat yang hanya belajar ibing penca atau baru belajar ibing penca pasti tidak akan bisa dijadikan sebagai alat pembelaan diri yang efektif.

    Jangankan ibing penca, pesilat yang mampu memainkan jurus ganda dengan baik belum tentu juga mampu menggunakan teknik beladiri dengan baik. (Penampilan kategori Ganda atau berpasangan adalah latihan atau peragaan berpasangan dari pesilat yang menampilkan serang bela. Di dalam ganda masing-masing pesilat saling memberi kesempatan kepada mitranya untuk menggunakan jurusnya yang sudah diatur sebelumnya).

    Ibing penca, ganda, usik/beladiri merupakan ilmu pencak silat yang memiliki perbedaan dalam tatacara berlatih dan mengaplikasikannya. Orang yang pandai ibing penca belum tentu bisa jurus ganda atau mahir beladiri. Orang yang mahir jurus ganda belum tentu bisa ibing penca atau usik beladiri yang sebenarnya. Begitu pula orang yang mahir usik beladiri belum tentu bisa ibing penca atau ganda.

    Namun apabila masing-masing dihubungkan, maka akan terlihat keterkaitan yang saling mendukung satu sama lain. Dengan mempelajari ibing penca, pesilat akan mengerti irama, menghaluskan rasa, merasakan adanya energi dari musik pengiring. Sering terlihat seorang pendekar sepuh yang sudah renta tiba-tiba menjadi jagjag waringkas ketika mendengar kendang penca dan melakukan ibing penca, tetapi kemudian kembali “normal” ketika selesai membawakan ibingannya.

    Dengan ganda pesilat belajar perbendaharaan teknik pencak silat dalam hal belaan dan serangan. Mengasah untuk saling memberi dan toleransi kepada mitranya, melatih timing yang tepat dalam bergerak. Dengan belajar usik/beladiri, kita dituntut untuk dapat menghadapi serangan apapun dalam situasi apapun. Tidak ada aturan dalam usik, tujuan utamanya adalah mampu mengalahkan lawan. Jadi semua memiliki porsinya masing-masing.

    Sebenarnya di dalam ibing penca teknis pencak silat sudah cukup lengkap, mulai dari jurus, kuda-kuda, pasang, perpindahan posisi, hingga pola langkah. Tapi memang, di dalam ibing dimasukan elemen kembangan untuk mempermanisnya, yang kadang memang lebih banyak didominasi unsur tarian. Seorang pesilat yang telah menguasai ibing penca dengan baik harus melalui tahapan tertentu dengan metode latihan tertentu pula agar mahir pula dalam membela diri, tidak cukup hanya mempelajari ibing terus menerus.

    Di Perguruan Pencak Silat Sekar Pusaka yang didirikan oleh Aki Iyat Ruchiyat, ibing penca langsung diberikan kepada murid baru, tanpa melalui tahap belajar jurus dasar. Kemudian setelah murid tersebut telah mampu menghafal dan membawakan ibing dengan benar dan bagus, maka mulailah Aki Iyat mengajarkan aplikasi yang terdapat dalam ibingan-ibingan tersebut. Istilahnya mesek cangkang tembong eusi, layu kembang bijil buah. Arti harfiahnya adalah “mengupas kulit agar terlihat isinya, layu bunga lantas muncul buahnya”. Jadi setelah ibingan itu dibuka kaidah-kaidah silatnya dengan dibarengi dengan latihan-latihan tertentu maka seorang pesilat yang ibingannya bagus dapat pula melakukan pembelaan diri dengan baik.

    Pesilat yang telah mengetahui aplikasi dari ibing penca yang dibawakannya akan lebih menghayati setiap gerakannya. Penempatan tenaga antara leuleus (lemas/rileks) dan teuas (keras) akan semakin baik, demikian juga penggunaan ekspresi akan lebih gereget karena pesilat tersebut sedang membayangkan seolah-olah sedang menghadapi lawan.

    8. Perkembangan Karawitan PencaK Silat

    Pada umumnya di Jawa Barat musik pengiring ibing penca adalah suatu ensembel yang disebut “kendang penca”, terdiri dari dua buah kendang besar dan dua buah kendang kecil (kulanter) bertugas mengisi gerak dan mengatur tempo, sebuah terompet sebagai pembawa melodi, dan sebuah gong kecil sebagai pengatur irama dan penegas tesis lagu. Jenis pukulan kendang yang tidak dapat dipisahkan dari jenis irama pada dasarnya ada empat, yaitu Tepak Dua, Tepak Tilu, Golempang, dan Padungdung.

    Karawitan pencak silat di Bandung mengalami perkembangan yang cukup dinamis. Jenis irama tidak lagi hanya berpatokan pada irama yang sudah baku, tetapi mulai berkreasi menciptakan irama baru, menambahkan beberapa waditra tambahan, bahkan menggunakan waditra yang sebelumnya tidak lazim digunakan untuk mengiringi ibing penca.

    Pada tahun 1970-an muncul ibing penca yang lebih dikenal dengan Ibing Maenpo Cianjuran yang menggunakan tembang cianjuran sebagai musik pengiringnya. Meskipun menggunakan nama “cianjuran”, namun Ibing Maenpo Cianjuran diciptakan dan kemudian berkembang di Bandung. Ibing Maenpo Cianjuran adalah hasil karya cipta seorang tokoh Maenpo asal Bandung, yaitu Adung Rais. Pada saat itu ia mencoba memadukan seni beladiri Maenpo Peupeuhan dengan seni tradisional tembang cianjuran atau dikenal dengan nama kacapi suling.

    Untuk bisa melakukan Ibing Penca ini, seorang praktisi Maenpo harus menguasai teknik Maenpo dengan baik dan memahami musik Cianjuran. Penguasaan teknik maenpo yang baik sangat penting karena Ibing Penca Cianjuran ini bersifat improvisasi sama halnya dengan musik cianjuran yang juga kaya dengan improvisasi.

    Pemahaman wirama ini menyangkut dengan bagaimana menemukan ketukan dan meletakkan gong dalam musik cianjuran. Hampir sama dengan kendang penca, misalnya dalam Tepak Paleredan atau Tepak Dua, klimaks dari satu rangkaian gerak harus berakhir tepat dengan bunyi gong. Pemahaman wirasa menyangkut unsur rasa. Penari harus tahu kapan bergerak cepat atau lambat, kapan satu hitungan menggunakan banyak jurus atau sebaliknya satu jurus dilakukan dalam tiga atau lebih hitungan, semuanya adalah improvisasi.

    Yang tidak kalah pentingnya adalah pemahaman syair. Setiap syair dan lagu cianjuran tentunya berbeda pesan, cerita dan makna. Lagu yang berbeda tentunya harus dibawakan dengan penjiwaan yang berbeda pula. Saat menari dengan Kidung atau Rajah misalnya, penari harus membawakannya dengan pembawaan yang khidmat dan tidak beringas. Lagu-lagu yang bersifat mengisahkan perang, disini bisa ditampilkan gerakan2 yang ganas, mimik wajah beringas, marah dsb, sedang untuk sinom satria, mungkin juga harus berusaha menampilkan kesan yang gagah dan agung dari seorang ksatria sunda. Bisa dikatakan, penguasaan akting yang baik akan menjadikan seorang penari Ibing Penca Cianjuran menjadi lebih mantap dalam membawakan tariannya.

    Menurut Adung Rais, bila sudah memahami dan menghayati secara maksimal maenpo dan cianjuran ini, bisa dikatakan sudah terjadi suatu keseimbangan karena telah terjadi perpaduan yang harmonis antara bentuk kekerasan dan bentuk kehalusan.

    Sekitar tahun 1995 di Bandung muncul lagi irama pengiring ibing penca yang termasuk unik dan baru. Irama musiknya dikenal dengan irama “Tepak Gonjing” atau “Tepak Tungbreng”. Irama ini tercipta dengan latar belakang kebutuhan dalam kejuaraan seni pencak silat tingkat nasional yang diadakan oleh IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia), di mana salah satu penilaiannya adalah variasi dalam irama pengiring ibing penca. Saat itu Ketua Pengda IPSI Jawa Barat H. Suhana Budjana meminta kepada para guru pencak silat dan para nayaganya untuk membuat kreasi baru dalam iringan musik pencak silat.

    Permintaan itu direspons dengan berkumpulnya sejumlah tokoh dan pendekar pencak silat dan beberapa seniman Sunda untuk merumuskan pola irama baru. Melalui proses yang tidak terlalu lama maka terciptalah irama Tungbreng atau Gonjing yang memiliki pola tabuhan khas. Kata tungbreng diambil dari bunyi yang dihasilkan oleh alat tabuhannya. Selain mempertahankan ensambel kendang penca yang asli seperti gendang, tarompet dan gong, dalam irama gonjing ditambah beberapa ensambel pelengkap yang terdiri dari kecrek, bonang, dan bedug. Kadang-kadang untuk kebutuhan suasana tertentu dipakai juga kacapi dan suling.

    Walaupun pada awalnya Tepak Gonjing menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan penggemar pencak silat, namun lambat laun akhirnya dapat diterima. Para pesilat anak-anak dan remaja kebanyakan lebih menyukai irama ini untuk mengiringi ibingannya dengan alasan lebih dinamis.

    Munculnya Tepak Tungbreng sebagai karya baru dalam blantika ibing penca dianggap sebagai prestasi bagi para tokoh, pendekar, dan seniman yang berkiprah di dunia persilatan Jawa Barat. Hal ini terbukti dengan adanya fenomena penampilan Tepak Tungbreng di setiap pasanggiri atau festival pencak silat di Bandung, bahkan di Jawa Barat. Tepak Tungbreng kini sudah menyebar dari Bandung ke daerah-daerah lain di Jawa Barat.

    9. Penutup

    Ibing penca harus dipandang sebagai bagian integral dari suatu ilmu pencak silat di suatu perguruan, sehingga akan banyak manfaat yang bisa diambil dari mempelajari ibing penca. Keberadaan ibing penca di perguruan pencak silat tergantung pada kebijakan perguruan itu sendiri. Jika secara tradisi di suatu perguruan diajarkan ibing penca, maka hal itu patut dilestarikan keberadaanya bahkan harus lebih dikembangkan lagi dengan menciptakan ibingan-ibingan penca yang baru disesuaikan dengan kebutuhan. Bagi perguruan yang tidak memiliki tradisi ibing penca tidak usah memaksakan diri agar ada materi ibing penca, namun jika ingin mencoba sebenarnya bisa saja dengan cara menyusun ibing penca dengan menggunakan patokan irama yang sudah baku atau dengan memodifikasi irama tertentu.

    Ibing penca jika ditempatkan pada tempat semestinya akan banyak manfaatnya yang bisa diambil. Namun paling tidak, dengan mempelajari ibing penca kita sudah turut melestarikan salah satu seni budaya peninggalan para pendekar pendahulu kita.

    Graspuzi 16022011

    dikutip dari:
    facebook Gending Raspuzi




    Tags: , , ,


    Artikel Ibing Penca dan Beladiri Pencak Silat yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


      - Powered by BING [2014-02-10 17:01]

      Comments are closed.

      Ibing Penca dan Beladiri Pencak Silat - Silat Indonesia

      Ibing Penca dan Beladiri Pencak Silat.

          [
      in English ]

      Feb 23rd, 2011 | By | Category: Artikel Silat [ in English ]

      IBING PENCA DAN BELADIRI PENCAK SILAT
      ANTARA KEMBANG DAN BUAH
      “Mesek cangkang tembong eusi, layu kembang bijil buah

      Disampaikan pada Seminar Pencak Silat Tradisional dalam Persfektif Budaya dan Sejarah
      17 Februari 2011 di Universitas Indonesia

      1. Pendahuluan

      gending-raspuzi-01Di Jawa Barat, di samping dikenal adanya pencak sebagai bela diri, yang disebut dengan ‘buah’ atau ‘eusi’ (isi), dikenal pula pencak silat ‘kembang’ (bunga) atau ‘ibing penca’ (tari pencak). Begitu eratnya hubungan batin masyarakat Jawa Barat dengan seni pencak silat (kembang), hingga  banyak anggota masyarakat Jawa Barat yang menghubungkan kata pencak tidak dengan bela diri, akan tetapi dengan Ibing Penca.

      Istilah Ibing Penca memang berasal dari Jawa Barat. Secara harfiah Ibing Penca dapat diterjemahkan menjadi Tari Pencak. Tapi para tokoh pencak silat di Jawa Barat kurang setuju jika ibing penca disebut tari pencak, karena kata “tari” cenderung lebih menitik beratkan pada unsur tarinya, yaitu suatu seni yang menampilkan keindahan gerak meskipun gerakannya diambil dari unsur-unsur pencak silat. Sedangkan “ibing penca” lebih menitikberatkan pada unsur pencak silat, yaitu gerak yang memiliki fungsi serang bela, walaupun tidak dapat disangkal di dalamnya juga mengandung unsur-unsur keindahan.

      Ada sebagian orang berpendapat bahwa Ibing Penca adalah bagian dari pencak silat dan bisa digunakan sebagai software untuk membela diri jika dilatih dengan rutin, namun ada juga yang berpendapat bahwa Ibing Penca bukanlah pencak silat, melainkan hanya sebatas seni tari dalam bentuk gerakan pencak silat dan tidak bisa digunakan untuk membela diri meskipun dilatih dengan serius dan tekun. Di sisi lain ada juga yang berpendapat bahwa belajar Ibing Penca jika mengerti aplikasi dari setiap gerakan akan bisa dijadikan alat membela diri, sebab Ibing Penca merupakan gabungan rangkaian gerak membela diri hanya saja di iringi musik (jika dipertontonkan), namun dalam praktik latihan sehari-harinya tidak.

      Dari sinilah timbul persoalan, apakah sebenarnya Ibing Penca berguna untuk membela diri atau hanya sekedar tarian yang tidak ada hubungannya dengan kemahiran beladiri.

      2. Pencak Silat dan Tari

      Pencak silat di Indonesia memiliki bermacam bentuk dan ragam yang lahir, hidup dan berkembang di masing-masing aliran dan perguruan pencak silat. Pada mulanya pencak silat diciptakan untuk membela diri, namun dalam perkembangannya, pencak silat dapat juga dijadikan sebagai sumber keindahan bentuk, gerak, irama dan ekspresi yang melukiskan adegan serang bela menggunakan tangan kosong maupun senjata.

      Pencak silat dan tari merupakan satu ekspresi yang berkaitan dan saling mengisi, karena keduanya menggunakan tubuh manusia sebagai materi pokok, di samping ketajaman pikiran dan perasaan yang selalu berdampingan sewaktu melaksanakan pencak silat atau menari, ditambah dengan ketahanan fisik dan keuletan menggarap teknis pencak silat dan tari. Banyak pakar tari yang merasakan kebutuhan untuk belajar pencak silat yang ternyata besar sekali manfaatnya bagi seorang penari.

      Persamaan Pencak dan tari adalah keduanya menggunakan tubuh beserta bagian-bagian dari anggota badan manusia sebagai materi utama. Pembinaan fisik dan ekspresi banyak persamaannya, hanya penggunaannya yang berbeda. Pencak silat adalah olah tubuh dari rasa yang dipergunakan untuk membela diri, sedangkan tari adalah olah tubuh untuk mengekspresikan suatu keindahan yang bersifat spiritual dan melahirkan suasana yang semuanya lahir karena tradisi atau dari jiwa para seniman.

      Pembinaan tubuh dan penguasaaan teknik gerak untuk pencak silat dan tari membutuhkan waktu dan ketekunan berlatih fisik secara kontinyu, karena ketahanan fisik merupakan syarat utama. Ketahanan dari teknik pernafasan, keterampilan gerak, juga keindahan gerak dan keluwesannya ada di dalam pencak silat dan tari. Gerak berat, ringan, tegang, lemah, cepat, pelan, dan berirama merupakan sarana-sarana latihan teknik tubuh yang harus dilaksanakan dengan baik dan teratur bagi seorang pesilat dan penari.

      Keindahan langkah kaki, gerak tangan kontinyu, posisi yang pasti, ketenangan dan ledakan-ledakan ekspresi gerak di samping kelembutan ada pada pencak silat dan tari. Maka pengaruh timbal balik antara pencak sebagai beladiri dengan tari telah ada pada seni tari di Indonesia.

      3. Asal Mula Ibing Penca

      Sejak kapan dan apa yang melatarbelakangi munculnya ibing penca? Hal ini memerlukan penelitian yang mendalam. Ada beberapa sumber yang mengatakan bahwa ibing penca diciptakan sebagai kamuflase dari beladiri yang dilarang pada zaman penjajahan Belanda, di mana dinyatakan bahwa pada saat itu para pendekar yang ingin menyebarkan pencak silat terbentur pada larangan yang dikeluarkan oleh pemerintahan kolonial, sehingga untuk menyiasatinya dibuatlah ibing penca agar pencak silat tetap boleh diajarkan. Ibing penca ditampilkan kepada masyarakat umum sedangkan beladirinya tetap diajarkan secara sembunyi-sembunyi. Untuk kasus-kasus tertentu hal ini mungkin ada benarnya, namun bagi kasus yang lain pendapat ini belum tentu tepat.

      Pada awalnya aspek pencak silat yang pertama lahir adalah aspek beladiri. Situasi dan kondisi pada suatu masa secara alamiah menyebabkan manusia selalui menyesuaikan diri dengan alam dan lingkungannya,  naluri untuk menjaga eksistensi diri dan kelompoknya menimbulkan upaya agar kelompoknya lebih kuat dari kelompok yang lain. Bersama itu pula timbul kebutuhan untuk menciptakan alat pembelaan diri yang efektif, mulai dari menciptakan senjata dan menciptakan berbagai teknik perkelahian. Pada suatu masa yang mengharuskan orang mampu membela diri secara fisik, menyebabkan tumbuh suburnya bebagai jenis aliran beladiri. Dalam hal ini aliran-aliran pencak silat.

      Namun perlu diingat bahwa selain memiliki naluri mempertahankan diri, manusia pun memiliki naluri untuk menyukai keindahan. Dari berbagai hal yang ada di sekelilingnya, manusia mampu menciptakan berbagai bentuk keindahan melalui seni. Ketika manusia menemukan alat yang dapat digunakan sebagai senjata, dengan alat itu pula mereka menciptakan karya seni pahatan. Ketika manusia memahami adanya nada dalam bunyi, maka manusia menciptakan musik dan nyanyian. Demikian pula halnya ketika di menyadari bahwa di dalam gerak terdapat keindahan, maka muncullah berbagai jenis tarian. Dari mana inspirasi membuat tarian itu? Salah satunya adalah dari teknik beladiri yang telah dikuasai sebelumnya. Ketika pencak silat tidak banyak lagi digunakan sebagai alat untuk membela diri, maka aspek lain dapat digali, seperti aspek olah raga dan seni. Dari sinilah ibing penca itu muncul. Ia tercipta dari kebutuhan manusia yang gandrung akan keindahan melalui medium gerak.

      Di Jawa Barat pencak silat banyak mempengaruhi kesenian lain, khususnya tari rakyat. Contoh seni yang dipengaruhi pencak silat: Ketuk Tilu, Jaipongan, Cikeruhan, Sisingaan, Kuda Renggong. Pada awalnya ketika seorang pria sedang kaul Ketuk tilu, maka gerakan yang digunakan adalah gerak improvisasi yang diambil dari jurus-jurus pencak silat

      Banyak koreografer tari yang memiliki latar belakang pencak silat, di antaranya adalah R. Tjetje Somantri, maestro Tari Keurseus, dan Gugum Gumbira, maestro Jaipongan. Dengan dasar pemikiran bahwa pencak silat merupakan salah satu sumber bagi jenis kesenian lainnya, maka STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Bandung memasukkan mata kuliah pencak silat selama 4 SKS dalam dua semester.

      Meskipun Ketuk Tilu, Jaipongan atau jenis kesenian lainnya bersumber dari gerakan pencak silat tetapi tidak otomatis disebut sebagai tari pencak silat, karena fungsinya sudah berbeda yakni menjadi alat hiburan semata. Berbeda halnya dengan Ibing Penca, bagi perguruan pencak silat yang di dalamnya terdapat materi Ibing Penca, tentu saja ibing penca dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari ilmu pencak silat.

      Jika kita melihat berbagai jenis aliran pencak silat ‘buhun’, jarang sekali di dalamnya terdapat pelajaran ibing penca (kecuali Cimande). Hal ini membuktikan bahwa pada awalnya aliran-aliran pencak silat lebih mengutamakan aspek beladiri daripada aspek seni. Atau dengan kata lain ibing penca muncul belakangan setelah ada beladiri pencak silat.

      Seni Ibing Penca tumbuh subur berkembang di perguruan pencak silat, bukan di aliran asalnya. Sebagai contoh, aliran Cikalong tidak mengenal ibing penca, tetapi Gan Didi Muhtadi, salah seorang tokoh Maenpo Cikalong dari Pasar Baru Cianjur melalui perguruannya Pusaka Siliwangi mengembangkan ibing penca sehingga Gan Didi lebih dikenal sebagai guru ibing penca dari pada guru maenpo. Kemampuannya dalam menciptakan dan mengajarkan ibing penca merupakan hal yang jarang ditemui pada guru-guru maenpo di Cianjur yang hidup pada masa itu.

      Contoh yang lain, Himpunan Pencak Silat Panglipur yang didirikan Abah Aleh adalah perguruan yang sekarang dikenal dengan kekayaan dan keindahan dalam ibing penca, padahal dari sejarah Panglipur dapat dilihat bahwa guru-guru Abah Aleh adalah pendekar dari berbagai aliran pencak silat yang mumpuni dalam aspek beladiri, bukan dalam aspek seni. Namun Abah Aleh sendiri yang mengolahnya menjadi berbagai bentuk ibing penca.

      Ibing penca dapat berkembang di perguruan bukan di aliran pencak silat, hal ini terjadi karena biasanya pada suatu aliran pencak silat sudah terdapat aturan baku baik dari segi filosofis maupun teknis yang tidak boleh diubah, ditambah maupun dikurangi oleh para pengikutnya. Berbeda halnya dengan di perguruan pencak silat yang dipimpin oleh pendekar yang biasanya sudah mempelajari berbagai aliran, sehingga memiliki wawasan yang luas dan tidak terlalu kaku dalam mengembangkan pencak silat. Di dalam suatu perguruan biasanya teknik-teknik dari berbagai aliran selain tetap dipertahankan keasliannya namun tidak menutup kemungkinan kemudian dicoba dicampur sehingga menjadi bentuk baru yang menjadi ciri khas perguruan itu. Di sinilah banyak terjadi pengolahan teknik, termasuk pengolahan aspek seni dalam bentuk ibing penca.

      4. Jurus yang Terdapat dalam Ibing Penca

      Di dalam ibing penca terdapat jurus-jurus pencak silat. Namun, sebenarnya jenis jurus seperti apa yang digunakan dalam ibing penca? Pertama-tama harus dibedakan terlebih dahulu antara Gerak Dasar, Jurus Dasar, Jurus Inti, dan Jurus Kajadian.

      Gerak Dasar adalah unsur yang paling kecil dalam suatu gerak. Misalnya ketika seorang pesilat melakukan satu gerak langkah serong sambil melakukan tangkisan sekaligus pukulan, maka di dalamnya terdapat beberapa gerak dasar, yaitu kuda-kuda serong, langkah serong, tangkisan, dan pukulan.

      Jurus Dasar adalah jurus yang digunakan pada tahap awal berlatih di suatu perguruan atau aliran sebagai fondasi untuk materi lanjutan. Satu jurus dasar bisa terdiri dari satu gerakan, satu rangkaian pendek, bahkan bisa juga berupa rangkaian panjang. Sifat dari jurus dasar ini terbagi menjadi dua, yaitu:

      Jurus Inti, yang di dalamnya terdapat prinsip-prinsip atau kaidah pencak silat yang dianut oleh suatu aliran atau perguruan. Sepintas jurus inti tidak bisa diduga bagaimana aplikasinya dalam suatu perkelahian tanpa keterangan dari guru. Biasanya jurus inti jumlahnya tidak terlalu banyak, namun dari jurus yang sedikit itu aplikasinya menjadi tidak terbatas jumlahnya.Sebagai contoh, aliran yang menggunakan jurus inti pada jurus dasarnya adalah Sabandar Jurus Lima, Cikalong, Suliwa, Maenpo Peupeuhan, dan Timbangan.

      Jurus Kajadian, yaitu jurus dasar yang bisa langsung diaplikasikan dalam bentuk serang bela. Biasanya jurus dasar seperti ini bisa langsung dilakukan oleh dua orang pesilat yang saling berhadapan tanpa mengubah gerakan dari jurus dasar tersebut. Contoh aliran atau perguruan yang menggunakan metode ini adalah Cimande, Jurus Kajadian Maenpo, Panglipur, Pager Kancana, dan Budhi Kancana.

      Dari Jurus Inti sebenarnya bisa dikembangkan menjadi berbagai Jurus Kajadian setelah jurus inti tersebut diaplikasikan dalam teknik serang bela. Sebagai contoh, Rd. Abad M. Sirod seorang tokoh maenpo Cikalong yang pada awalnya ia menerima Jurus Inti dari gurunya (Rd. Busrin) namun kemudian menciptakan 27 Jurus Kajadian dan 3 Jurus Maksud dengan alasan untuk mempermudah proses belajar mengajar. Menurutnya, dengan mengajarkan Jurus Kajadian murid-muridnya bisa langsung mengerti aplikasi dari setiap jurusnya.

      Jadi Ibing Penca sebenarnya adalah rangkaian jurus kajadian yang disusun sedemikian rupa sehingga memenuhi unsur estetika tanpa meninggalkan makna serang bela dalam setiap gerakannya. Ibing penca yang baik harus dapat menggambarkan suatu bentuk teknik perkelahian seolah-olah pesilat tersebut sedang berhadapan dengan lawan.

      5. Struktur Koreografi dan Karawitan pada Ibing Penca di Jawa Barat

      a. Koreografi Ibing Penca

      Sikap dan  gerakan dalam pencak silat sebagai beladiri dilakukan untuk melindungi diri dan menyerang, sedangkan dalam ibing penca sikap dan gerak dilakukan untuk kenikmatan penari yang bergerak mengikuti irama karawitan dan untuk kenikmatan yang menonton ibing penca. Mudah dipahami kalau gerakan dan sikap dalam ibing penca, walaupun bersumber pada beladiri namun memiliki perbedaan-perbedaan. Pada umumnya sikap dan gerakan dalam ibing penca lebih terbuka, lebih distilasi dan dilakukan dalam irama yang metrikal.

      Di dalam Ibing Penca di Jawa Barat terdapat pola koreografis yang umum, yaitu sebagai berikut:

      1)      Bagian pertama: Tepak Dua atau Paleredan, lebih memperlihatkan unsur keindahan.

      2)      Bagian kedua: Tepak Tilu atau Golempang, memperlihatkan teknik serang bela yang masih terikat pada ketukan irama.

      3)      Bagian ketiga: Padungdung, di sini pesilat berimprovisasi secara bebas sesuai dengan imajinasinya ketika itu.

      Berdasarkan koreografi itu, ibing pencak adalah salah satu jenis kesenian yang kaya segi kreatifitasnya karena masing-masing perguruan memiliki gerakan ibing penca yang berbeda walaupun berpatokan pada irama yang sama. Dapat dipahami, ibing penca merupakan tari yang paling populer dan paling banyak penggemarnya di Jawa Barat.

      Koreografi bagian pertama biasanya sangat kental dengan jurus-jurus yang berasal dari aliran Cimande, karena sifat geraknya lebih terbuka sehingga cocok dibawakan dengan tempo yang lambat. Contohnya adalah sebagai berikut:

      • Tepak Dua Salancar
      • Tepak Dua Sorong Dayung.
      • Tepak Dua Buang Kelid.
      • Tepak Dua Kampung Baru
      • Paleredan Jalak Pengkor
      • Paleredan Sawitan
      • Paleredan Pancer Opat

      Koreografi bagian kedua lebih banyak bersumber pada aliran Cikalong, Sabandar, dan Sera. Contohnya adalah sebagai berikut:

      • Tepak Tilu Cikalong
      • Tepak Tilu Jalan Muka
      • Tepak Tilu Alip Bandul
      • Tepak Tilu Peunggasan
      • Tepak Tilu Gerak Seta

      Koreografi bagian ketiga memperlihatkan jurus kajadian (jurus aplikasi) yang memperlihatkan teknik-teknik serang bela yang dilakukan dengan kecepatan yang sebenarnya dan yang pada awal perkembangannya bersifat improvisasi. Namun saat ini irama padungdung pun diisi dengan gerakan yang telah ditentukan sebelumnya, bukan improvisasi lagi. Contohnya adalah sebagai berikut:

      • Si Pecut
      • Pecah Alip
      • Pecah Gunting
      • Likuran
      • Si Pitung

      Saat ini banyak koreografi yang merupakan variasi atau gabungan dari aliran-aliran Cimande, Cikalong, Sabandar, Sera dan aliran yang lain. Ibing pencak yang banyak diajarkan di perguruan-perguruan pencak silat seperti di Panglipur, Pager Kancana, Kusuma Harapan, Domas, dan yang perguruan lainnya biasanya sudah merupakan olahan dari berbagai macam aliran yang dipelajari di perguruan yang bersangkutan.

      Ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan dalam memperagakan ibing penca, yaitu:

      Pertama, unsur kekayaan gerak (wiraga) yaitu kekayaan gerak atau jurus-jurus yang dimiliki oleh seorang pesilat selama belajar di perguruannya, sehingga penampilannya menjadi tidak monoton atau membosankan apabila tampil di atas pentas, terutama dalam pertandingan seni pencak silat. Tetapi apabila dalam acara spontanitas pada suatu hajatan misalnya, unsur kekayaan gerak tidak begitu diperhatikan pesilat. Yang penting pesilat mampu memperagakan gerakannya dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah pencak silat karena tidak terikat oleh sistem penilaian dari juri seperti dalam pelaksanaan pertandingan pencak silat seni.

      Kedua, unsur irama (wirahma) atau musik, unsur inilah yang membedakan aspek seni dengan aspek yang lain dalam pencak silat. Seorang pengibing penca harus mampu menyerasikan gerak dengan musik pengiringnya. Pengolahan irama yang variatif dan dinamis memiliki nilai lebih bagi seorang pesilat dalam membawakan ibingannya.

      Ketiga, unsur penjiwaan gerak (wirasa) yaitu salah satu unsur yang penting dimiliki oleh seorang pengibing penca. Penjiwaan gerak yang mantap sangat dipengaruhi oleh pemahaman pesilat terhadap setiap gerakan yang ditampilkannya. Oleh karena itu, pesilat dituntut harus menguasai arti dan makna gerak pencak silat yang sebenarnya, serta mengerti maksud dan tujuan dari jurus-jurus dan teknik-teknik pencak silat yang dipelajarinya.

      b. Karawitan

      Walaupun di daerah-daerah tertentu di Jawa Barat terdapat musik pengiring khas ibing penca seperti Patingtung di Banten, dan Terebang di Cirebon namun pada umumnya untuk mengiringi ibing penca dibutuhkan suatu ensembel yang disebut ‘kendang penca’. Ensembel ini sangat mendukung suasana ibing penca yang pada dasarnya merupakan tari perang atau tari perkelahian. Musik kendang penca kadang-kadang bersuasana menantang misalnya pada lagu Kembang Beureum atau Buah Kawung atau bersuasana do’a yaitu pada Kidung.

      Gendang pencak dimainkan oleh empat orang penabuh (nayaga/wiyaga). Mereka mempunyai tugas masing-masing dalam pelaksanaannya. Penabuh kendang pencak silat yang sudah berpengalaman selain mampu mengiringi ibing pencak silat yang sudah dirancang sebelumnya, ia pun mampu mengiringi gerakan-gerakan yang tidak dirancang sebelumnya.

      Adapun waditra (instrumen) yang terdapat di dalam kendang penca adalah sebagai berikut:

      1. Dua buah kendang besar (kendang indung dan kendang anak) dilengkapi dua buah kendang kecil (kulanter). Kendang bertugas mengisi gerak dan mengatur tempo.
      2. Sebuah terompet sebagai pembawa melodi
      3. Sebuah gong kecil (bende, kempul) sebagai pengatur irama, penegas tesis lagu.

      Jenis pukulan kendang yang juga tidak dapat dipisahkan dari jenis irama pada dasarnya adalah sebagai berikut:

      1. Tepak Dua. Motif-motif pukulan kendang untuk tempo lambat. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Kembang Gadung, Ayun Ambing, Polos, Gedong Panjang, Kendor Kulon, Tunggul Kawung, Bata Rubuh, Kidung, Sorong Dayung.
      2. Paleredan. Motif-motif pukulan kendang untuk tempo lambat. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Ayun Ambing, Bela pati, Sasalimpetan, Buah Kawung, Karawangan, Gendu, Gaya, Sari.
      3. Tepak Tilu. Motif-motif pukulan dengan tempo sedang. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Ucing-ucingan, Kembang Beureum, Bardin, Sintren, Papare, Bendrong Petit, Gendu, Kapuk Kapas, Garungan, Joher, Mainang, Kacang Asin, Oyong-oyong Bangkong.
      4. Golempang. Motif-motif lebih cepat daripada Tepak Tilu. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Kembang Beureum, Kacang Asin.
      5. Padungdung. Motif pukulan dengan tempo paling cepat. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Kidung, Kolear, Leang-leang, Ceurik Rahwana.

      6. Kapan Ibing Penca Diajarkan?

      Penempatan pelajaran ibing penca di setiap perguruan tidak sama. Ada yang ditempatkan di awal, ada pula yang ditempatkan di akhir. Lebih jelasnya proses belajar di perguruan pencak silat yang di dalamnya ada materi ibing penca adalah sebagai berikut:

      1. Jurus dasar – ibing penca – beladiri (Contoh: Panglipur, Pager Kancana, Budhi Kancana)
      2. Jurus dasar – beladiri – ibing penca (Contoh: Cimande)
      3. Jurus dasar – rangkaian gerak – beladiri – ibing penca (Contoh: Maenpo Peupeuhan)
      4. Ibing penca – beladiri (Contoh: Sekar Pusaka)
      5. Jurus dasar – Aplikasi jurus dasar – Rangkaian gerak – Ibing Penca – Beladiri (Contoh: Garis Paksi)

      Penempatan materi ibing penca di awal adalah strategi agar pencak silat lebih disukai oleh kalangan pesilat usia anak-anak dan remaja, karena ibing penca dapat diajarkan secara massal dan kecil kemungkinannya pesilat mengalami cidera. Di samping itu dengan ibing penca dapat digunakan dalam ajang perlombaan seni pencak silat yang diadakan oleh IPSI maupun PPSI. Sistem pengajaran seperti ini biasanya digunakan di lingkungan sekolah. Pada kasus ini, seorang pesilat yang mampu membawakan ibingan dengan baik belum tentu mahir dalam beladiri.

      Penempatan materi ibing penca di akhir bermaksud untuk penghalusan gerak jurus dan dapat digunakan sebagai alat hiburan setelah mempelajari beladiri. Pada kasus ini, seorang pesilat yang sudah berani tampil membawakan ibing penca sudah dipastikan mampu membela diri. Dahulu seorang pesilat yang melakukan ibing penca harus siap jika suatu waktu ada orang yang masuk ke gelanggang untuk  mencoba keterampilan berkelahi dengannya.

      Namun ada pula yang mengajarkan ibing penca bersamaan waktunya dengan mengajarkan beladiri. Atau ada pemisahan antara murid yang ingin mendalami ibing penca dan murid yang ingin mendalami beladiri. Sebagai contoh, di Himpunan Pencak Silat Panglipur, setelah murid menguasai 6 dasar pukulan, 9 jurus dasar, dan dua pola langkah maka bisa dilanjutkan dengan mempelajari Ibing Paleredan Pancer Opat, Tepak Tilu Jalan Muka, kemudian ditutup dengan Padungdung Si Pecut. Namun jika ingin mempelajari beladiri, maka dari jurus dasar bisa langsung mempelajari aplikasi dari setiap jurus disertai dengan pengertian kaedah-kaedahnya sehingga benar-benar mengerti dan mampu mengaplikasikannya dalam usik beladiri.

      Contoh lain, di Paguron Pusaka Siliwangi yang didirikan oleh Rd. Didi Muhtadi, jika ia mengajar ibing penca maka ia memulainya dengan mengajarkan 13 jurus dasar Cikalong, kemudian mengajarkan berbagai pola langkah dan akhirnya mengajarkan ibing penca. Namun jika ingin mengajarkan beladiri, dari jurus dilanjutkan dengan pelajaran kaedah maenpo Cikalong dan dilanjutkan dengan praktik usik-usikan atau tapelan (latihan berpasangan untuk mengolah rasa).

      7. Manfaat Ibing Penca dalam Beladiri

      Apakah ibing penca dapat digunakan untuk membeladiri? Apakah setiap pesilat yang sangat bagus membawakan ibing penca sudah pasti dapat melakukan pembelaan diri dengan baik? Jawabnya belum tentu. Seorang pesilat yang hanya belajar ibing penca atau baru belajar ibing penca pasti tidak akan bisa dijadikan sebagai alat pembelaan diri yang efektif.

      Jangankan ibing penca, pesilat yang mampu memainkan jurus ganda dengan baik belum tentu juga mampu menggunakan teknik beladiri dengan baik. (Penampilan kategori Ganda atau berpasangan adalah latihan atau peragaan berpasangan dari pesilat yang menampilkan serang bela. Di dalam ganda masing-masing pesilat saling memberi kesempatan kepada mitranya untuk menggunakan jurusnya yang sudah diatur sebelumnya).

      Ibing penca, ganda, usik/beladiri merupakan ilmu pencak silat yang memiliki perbedaan dalam tatacara berlatih dan mengaplikasikannya. Orang yang pandai ibing penca belum tentu bisa jurus ganda atau mahir beladiri. Orang yang mahir jurus ganda belum tentu bisa ibing penca atau usik beladiri yang sebenarnya. Begitu pula orang yang mahir usik beladiri belum tentu bisa ibing penca atau ganda.

      Namun apabila masing-masing dihubungkan, maka akan terlihat keterkaitan yang saling mendukung satu sama lain. Dengan mempelajari ibing penca, pesilat akan mengerti irama, menghaluskan rasa, merasakan adanya energi dari musik pengiring. Sering terlihat seorang pendekar sepuh yang sudah renta tiba-tiba menjadi jagjag waringkas ketika mendengar kendang penca dan melakukan ibing penca, tetapi kemudian kembali “normal” ketika selesai membawakan ibingannya.

      Dengan ganda pesilat belajar perbendaharaan teknik pencak silat dalam hal belaan dan serangan. Mengasah untuk saling memberi dan toleransi kepada mitranya, melatih timing yang tepat dalam bergerak. Dengan belajar usik/beladiri, kita dituntut untuk dapat menghadapi serangan apapun dalam situasi apapun. Tidak ada aturan dalam usik, tujuan utamanya adalah mampu mengalahkan lawan. Jadi semua memiliki porsinya masing-masing.

      Sebenarnya di dalam ibing penca teknis pencak silat sudah cukup lengkap, mulai dari jurus, kuda-kuda, pasang, perpindahan posisi, hingga pola langkah. Tapi memang, di dalam ibing dimasukan elemen kembangan untuk mempermanisnya, yang kadang memang lebih banyak didominasi unsur tarian. Seorang pesilat yang telah menguasai ibing penca dengan baik harus melalui tahapan tertentu dengan metode latihan tertentu pula agar mahir pula dalam membela diri, tidak cukup hanya mempelajari ibing terus menerus.

      Di Perguruan Pencak Silat Sekar Pusaka yang didirikan oleh Aki Iyat Ruchiyat, ibing penca langsung diberikan kepada murid baru, tanpa melalui tahap belajar jurus dasar. Kemudian setelah murid tersebut telah mampu menghafal dan membawakan ibing dengan benar dan bagus, maka mulailah Aki Iyat mengajarkan aplikasi yang terdapat dalam ibingan-ibingan tersebut. Istilahnya mesek cangkang tembong eusi, layu kembang bijil buah. Arti harfiahnya adalah “mengupas kulit agar terlihat isinya, layu bunga lantas muncul buahnya”. Jadi setelah ibingan itu dibuka kaidah-kaidah silatnya dengan dibarengi dengan latihan-latihan tertentu maka seorang pesilat yang ibingannya bagus dapat pula melakukan pembelaan diri dengan baik.

      Pesilat yang telah mengetahui aplikasi dari ibing penca yang dibawakannya akan lebih menghayati setiap gerakannya. Penempatan tenaga antara leuleus (lemas/rileks) dan teuas (keras) akan semakin baik, demikian juga penggunaan ekspresi akan lebih gereget karena pesilat tersebut sedang membayangkan seolah-olah sedang menghadapi lawan.

      8. Perkembangan Karawitan PencaK Silat

      Pada umumnya di Jawa Barat musik pengiring ibing penca adalah suatu ensembel yang disebut “kendang penca”, terdiri dari dua buah kendang besar dan dua buah kendang kecil (kulanter) bertugas mengisi gerak dan mengatur tempo, sebuah terompet sebagai pembawa melodi, dan sebuah gong kecil sebagai pengatur irama dan penegas tesis lagu. Jenis pukulan kendang yang tidak dapat dipisahkan dari jenis irama pada dasarnya ada empat, yaitu Tepak Dua, Tepak Tilu, Golempang, dan Padungdung.

      Karawitan pencak silat di Bandung mengalami perkembangan yang cukup dinamis. Jenis irama tidak lagi hanya berpatokan pada irama yang sudah baku, tetapi mulai berkreasi menciptakan irama baru, menambahkan beberapa waditra tambahan, bahkan menggunakan waditra yang sebelumnya tidak lazim digunakan untuk mengiringi ibing penca.

      Pada tahun 1970-an muncul ibing penca yang lebih dikenal dengan Ibing Maenpo Cianjuran yang menggunakan tembang cianjuran sebagai musik pengiringnya. Meskipun menggunakan nama “cianjuran”, namun Ibing Maenpo Cianjuran diciptakan dan kemudian berkembang di Bandung. Ibing Maenpo Cianjuran adalah hasil karya cipta seorang tokoh Maenpo asal Bandung, yaitu Adung Rais. Pada saat itu ia mencoba memadukan seni beladiri Maenpo Peupeuhan dengan seni tradisional tembang cianjuran atau dikenal dengan nama kacapi suling.

      Untuk bisa melakukan Ibing Penca ini, seorang praktisi Maenpo harus menguasai teknik Maenpo dengan baik dan memahami musik Cianjuran. Penguasaan teknik maenpo yang baik sangat penting karena Ibing Penca Cianjuran ini bersifat improvisasi sama halnya dengan musik cianjuran yang juga kaya dengan improvisasi.

      Pemahaman wirama ini menyangkut dengan bagaimana menemukan ketukan dan meletakkan gong dalam musik cianjuran. Hampir sama dengan kendang penca, misalnya dalam Tepak Paleredan atau Tepak Dua, klimaks dari satu rangkaian gerak harus berakhir tepat dengan bunyi gong. Pemahaman wirasa menyangkut unsur rasa. Penari harus tahu kapan bergerak cepat atau lambat, kapan satu hitungan menggunakan banyak jurus atau sebaliknya satu jurus dilakukan dalam tiga atau lebih hitungan, semuanya adalah improvisasi.

      Yang tidak kalah pentingnya adalah pemahaman syair. Setiap syair dan lagu cianjuran tentunya berbeda pesan, cerita dan makna. Lagu yang berbeda tentunya harus dibawakan dengan penjiwaan yang berbeda pula. Saat menari dengan Kidung atau Rajah misalnya, penari harus membawakannya dengan pembawaan yang khidmat dan tidak beringas. Lagu-lagu yang bersifat mengisahkan perang, disini bisa ditampilkan gerakan2 yang ganas, mimik wajah beringas, marah dsb, sedang untuk sinom satria, mungkin juga harus berusaha menampilkan kesan yang gagah dan agung dari seorang ksatria sunda. Bisa dikatakan, penguasaan akting yang baik akan menjadikan seorang penari Ibing Penca Cianjuran menjadi lebih mantap dalam membawakan tariannya.

      Menurut Adung Rais, bila sudah memahami dan menghayati secara maksimal maenpo dan cianjuran ini, bisa dikatakan sudah terjadi suatu keseimbangan karena telah terjadi perpaduan yang harmonis antara bentuk kekerasan dan bentuk kehalusan.

      Sekitar tahun 1995 di Bandung muncul lagi irama pengiring ibing penca yang termasuk unik dan baru. Irama musiknya dikenal dengan irama “Tepak Gonjing” atau “Tepak Tungbreng”. Irama ini tercipta dengan latar belakang kebutuhan dalam kejuaraan seni pencak silat tingkat nasional yang diadakan oleh IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia), di mana salah satu penilaiannya adalah variasi dalam irama pengiring ibing penca. Saat itu Ketua Pengda IPSI Jawa Barat H. Suhana Budjana meminta kepada para guru pencak silat dan para nayaganya untuk membuat kreasi baru dalam iringan musik pencak silat.

      Permintaan itu direspons dengan berkumpulnya sejumlah tokoh dan pendekar pencak silat dan beberapa seniman Sunda untuk merumuskan pola irama baru. Melalui proses yang tidak terlalu lama maka terciptalah irama Tungbreng atau Gonjing yang memiliki pola tabuhan khas. Kata tungbreng diambil dari bunyi yang dihasilkan oleh alat tabuhannya. Selain mempertahankan ensambel kendang penca yang asli seperti gendang, tarompet dan gong, dalam irama gonjing ditambah beberapa ensambel pelengkap yang terdiri dari kecrek, bonang, dan bedug. Kadang-kadang untuk kebutuhan suasana tertentu dipakai juga kacapi dan suling.

      Walaupun pada awalnya Tepak Gonjing menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan penggemar pencak silat, namun lambat laun akhirnya dapat diterima. Para pesilat anak-anak dan remaja kebanyakan lebih menyukai irama ini untuk mengiringi ibingannya dengan alasan lebih dinamis.

      Munculnya Tepak Tungbreng sebagai karya baru dalam blantika ibing penca dianggap sebagai prestasi bagi para tokoh, pendekar, dan seniman yang berkiprah di dunia persilatan Jawa Barat. Hal ini terbukti dengan adanya fenomena penampilan Tepak Tungbreng di setiap pasanggiri atau festival pencak silat di Bandung, bahkan di Jawa Barat. Tepak Tungbreng kini sudah menyebar dari Bandung ke daerah-daerah lain di Jawa Barat.

      9. Penutup

      Ibing penca harus dipandang sebagai bagian integral dari suatu ilmu pencak silat di suatu perguruan, sehingga akan banyak manfaat yang bisa diambil dari mempelajari ibing penca. Keberadaan ibing penca di perguruan pencak silat tergantung pada kebijakan perguruan itu sendiri. Jika secara tradisi di suatu perguruan diajarkan ibing penca, maka hal itu patut dilestarikan keberadaanya bahkan harus lebih dikembangkan lagi dengan menciptakan ibingan-ibingan penca yang baru disesuaikan dengan kebutuhan. Bagi perguruan yang tidak memiliki tradisi ibing penca tidak usah memaksakan diri agar ada materi ibing penca, namun jika ingin mencoba sebenarnya bisa saja dengan cara menyusun ibing penca dengan menggunakan patokan irama yang sudah baku atau dengan memodifikasi irama tertentu.

      Ibing penca jika ditempatkan pada tempat semestinya akan banyak manfaatnya yang bisa diambil. Namun paling tidak, dengan mempelajari ibing penca kita sudah turut melestarikan salah satu seni budaya peninggalan para pendekar pendahulu kita.

      Graspuzi 16022011

      dikutip dari:
      facebook Gending Raspuzi




      Tags: , , ,


      Artikel Ibing Penca dan Beladiri Pencak Silat yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


        - Powered by BING [2014-02-15 01:47]

        Comments are closed.

        Ibing Penca dan Beladiri Pencak Silat - Silat Indonesia

        Ibing Penca dan Beladiri Pencak Silat.

            [
        in English ]

        Feb 23rd, 2011 | By | Category: Artikel Silat [ in English ]

        IBING PENCA DAN BELADIRI PENCAK SILAT
        ANTARA KEMBANG DAN BUAH
        “Mesek cangkang tembong eusi, layu kembang bijil buah

        Disampaikan pada Seminar Pencak Silat Tradisional dalam Persfektif Budaya dan Sejarah
        17 Februari 2011 di Universitas Indonesia

        1. Pendahuluan

        gending-raspuzi-01Di Jawa Barat, di samping dikenal adanya pencak sebagai bela diri, yang disebut dengan ‘buah’ atau ‘eusi’ (isi), dikenal pula pencak silat ‘kembang’ (bunga) atau ‘ibing penca’ (tari pencak). Begitu eratnya hubungan batin masyarakat Jawa Barat dengan seni pencak silat (kembang), hingga  banyak anggota masyarakat Jawa Barat yang menghubungkan kata pencak tidak dengan bela diri, akan tetapi dengan Ibing Penca.

        Istilah Ibing Penca memang berasal dari Jawa Barat. Secara harfiah Ibing Penca dapat diterjemahkan menjadi Tari Pencak. Tapi para tokoh pencak silat di Jawa Barat kurang setuju jika ibing penca disebut tari pencak, karena kata “tari” cenderung lebih menitik beratkan pada unsur tarinya, yaitu suatu seni yang menampilkan keindahan gerak meskipun gerakannya diambil dari unsur-unsur pencak silat. Sedangkan “ibing penca” lebih menitikberatkan pada unsur pencak silat, yaitu gerak yang memiliki fungsi serang bela, walaupun tidak dapat disangkal di dalamnya juga mengandung unsur-unsur keindahan.

        Ada sebagian orang berpendapat bahwa Ibing Penca adalah bagian dari pencak silat dan bisa digunakan sebagai software untuk membela diri jika dilatih dengan rutin, namun ada juga yang berpendapat bahwa Ibing Penca bukanlah pencak silat, melainkan hanya sebatas seni tari dalam bentuk gerakan pencak silat dan tidak bisa digunakan untuk membela diri meskipun dilatih dengan serius dan tekun. Di sisi lain ada juga yang berpendapat bahwa belajar Ibing Penca jika mengerti aplikasi dari setiap gerakan akan bisa dijadikan alat membela diri, sebab Ibing Penca merupakan gabungan rangkaian gerak membela diri hanya saja di iringi musik (jika dipertontonkan), namun dalam praktik latihan sehari-harinya tidak.

        Dari sinilah timbul persoalan, apakah sebenarnya Ibing Penca berguna untuk membela diri atau hanya sekedar tarian yang tidak ada hubungannya dengan kemahiran beladiri.

        2. Pencak Silat dan Tari

        Pencak silat di Indonesia memiliki bermacam bentuk dan ragam yang lahir, hidup dan berkembang di masing-masing aliran dan perguruan pencak silat. Pada mulanya pencak silat diciptakan untuk membela diri, namun dalam perkembangannya, pencak silat dapat juga dijadikan sebagai sumber keindahan bentuk, gerak, irama dan ekspresi yang melukiskan adegan serang bela menggunakan tangan kosong maupun senjata.

        Pencak silat dan tari merupakan satu ekspresi yang berkaitan dan saling mengisi, karena keduanya menggunakan tubuh manusia sebagai materi pokok, di samping ketajaman pikiran dan perasaan yang selalu berdampingan sewaktu melaksanakan pencak silat atau menari, ditambah dengan ketahanan fisik dan keuletan menggarap teknis pencak silat dan tari. Banyak pakar tari yang merasakan kebutuhan untuk belajar pencak silat yang ternyata besar sekali manfaatnya bagi seorang penari.

        Persamaan Pencak dan tari adalah keduanya menggunakan tubuh beserta bagian-bagian dari anggota badan manusia sebagai materi utama. Pembinaan fisik dan ekspresi banyak persamaannya, hanya penggunaannya yang berbeda. Pencak silat adalah olah tubuh dari rasa yang dipergunakan untuk membela diri, sedangkan tari adalah olah tubuh untuk mengekspresikan suatu keindahan yang bersifat spiritual dan melahirkan suasana yang semuanya lahir karena tradisi atau dari jiwa para seniman.

        Pembinaan tubuh dan penguasaaan teknik gerak untuk pencak silat dan tari membutuhkan waktu dan ketekunan berlatih fisik secara kontinyu, karena ketahanan fisik merupakan syarat utama. Ketahanan dari teknik pernafasan, keterampilan gerak, juga keindahan gerak dan keluwesannya ada di dalam pencak silat dan tari. Gerak berat, ringan, tegang, lemah, cepat, pelan, dan berirama merupakan sarana-sarana latihan teknik tubuh yang harus dilaksanakan dengan baik dan teratur bagi seorang pesilat dan penari.

        Keindahan langkah kaki, gerak tangan kontinyu, posisi yang pasti, ketenangan dan ledakan-ledakan ekspresi gerak di samping kelembutan ada pada pencak silat dan tari. Maka pengaruh timbal balik antara pencak sebagai beladiri dengan tari telah ada pada seni tari di Indonesia.

        3. Asal Mula Ibing Penca

        Sejak kapan dan apa yang melatarbelakangi munculnya ibing penca? Hal ini memerlukan penelitian yang mendalam. Ada beberapa sumber yang mengatakan bahwa ibing penca diciptakan sebagai kamuflase dari beladiri yang dilarang pada zaman penjajahan Belanda, di mana dinyatakan bahwa pada saat itu para pendekar yang ingin menyebarkan pencak silat terbentur pada larangan yang dikeluarkan oleh pemerintahan kolonial, sehingga untuk menyiasatinya dibuatlah ibing penca agar pencak silat tetap boleh diajarkan. Ibing penca ditampilkan kepada masyarakat umum sedangkan beladirinya tetap diajarkan secara sembunyi-sembunyi. Untuk kasus-kasus tertentu hal ini mungkin ada benarnya, namun bagi kasus yang lain pendapat ini belum tentu tepat.

        Pada awalnya aspek pencak silat yang pertama lahir adalah aspek beladiri. Situasi dan kondisi pada suatu masa secara alamiah menyebabkan manusia selalui menyesuaikan diri dengan alam dan lingkungannya,  naluri untuk menjaga eksistensi diri dan kelompoknya menimbulkan upaya agar kelompoknya lebih kuat dari kelompok yang lain. Bersama itu pula timbul kebutuhan untuk menciptakan alat pembelaan diri yang efektif, mulai dari menciptakan senjata dan menciptakan berbagai teknik perkelahian. Pada suatu masa yang mengharuskan orang mampu membela diri secara fisik, menyebabkan tumbuh suburnya bebagai jenis aliran beladiri. Dalam hal ini aliran-aliran pencak silat.

        Namun perlu diingat bahwa selain memiliki naluri mempertahankan diri, manusia pun memiliki naluri untuk menyukai keindahan. Dari berbagai hal yang ada di sekelilingnya, manusia mampu menciptakan berbagai bentuk keindahan melalui seni. Ketika manusia menemukan alat yang dapat digunakan sebagai senjata, dengan alat itu pula mereka menciptakan karya seni pahatan. Ketika manusia memahami adanya nada dalam bunyi, maka manusia menciptakan musik dan nyanyian. Demikian pula halnya ketika di menyadari bahwa di dalam gerak terdapat keindahan, maka muncullah berbagai jenis tarian. Dari mana inspirasi membuat tarian itu? Salah satunya adalah dari teknik beladiri yang telah dikuasai sebelumnya. Ketika pencak silat tidak banyak lagi digunakan sebagai alat untuk membela diri, maka aspek lain dapat digali, seperti aspek olah raga dan seni. Dari sinilah ibing penca itu muncul. Ia tercipta dari kebutuhan manusia yang gandrung akan keindahan melalui medium gerak.

        Di Jawa Barat pencak silat banyak mempengaruhi kesenian lain, khususnya tari rakyat. Contoh seni yang dipengaruhi pencak silat: Ketuk Tilu, Jaipongan, Cikeruhan, Sisingaan, Kuda Renggong. Pada awalnya ketika seorang pria sedang kaul Ketuk tilu, maka gerakan yang digunakan adalah gerak improvisasi yang diambil dari jurus-jurus pencak silat

        Banyak koreografer tari yang memiliki latar belakang pencak silat, di antaranya adalah R. Tjetje Somantri, maestro Tari Keurseus, dan Gugum Gumbira, maestro Jaipongan. Dengan dasar pemikiran bahwa pencak silat merupakan salah satu sumber bagi jenis kesenian lainnya, maka STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Bandung memasukkan mata kuliah pencak silat selama 4 SKS dalam dua semester.

        Meskipun Ketuk Tilu, Jaipongan atau jenis kesenian lainnya bersumber dari gerakan pencak silat tetapi tidak otomatis disebut sebagai tari pencak silat, karena fungsinya sudah berbeda yakni menjadi alat hiburan semata. Berbeda halnya dengan Ibing Penca, bagi perguruan pencak silat yang di dalamnya terdapat materi Ibing Penca, tentu saja ibing penca dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari ilmu pencak silat.

        Jika kita melihat berbagai jenis aliran pencak silat ‘buhun’, jarang sekali di dalamnya terdapat pelajaran ibing penca (kecuali Cimande). Hal ini membuktikan bahwa pada awalnya aliran-aliran pencak silat lebih mengutamakan aspek beladiri daripada aspek seni. Atau dengan kata lain ibing penca muncul belakangan setelah ada beladiri pencak silat.

        Seni Ibing Penca tumbuh subur berkembang di perguruan pencak silat, bukan di aliran asalnya. Sebagai contoh, aliran Cikalong tidak mengenal ibing penca, tetapi Gan Didi Muhtadi, salah seorang tokoh Maenpo Cikalong dari Pasar Baru Cianjur melalui perguruannya Pusaka Siliwangi mengembangkan ibing penca sehingga Gan Didi lebih dikenal sebagai guru ibing penca dari pada guru maenpo. Kemampuannya dalam menciptakan dan mengajarkan ibing penca merupakan hal yang jarang ditemui pada guru-guru maenpo di Cianjur yang hidup pada masa itu.

        Contoh yang lain, Himpunan Pencak Silat Panglipur yang didirikan Abah Aleh adalah perguruan yang sekarang dikenal dengan kekayaan dan keindahan dalam ibing penca, padahal dari sejarah Panglipur dapat dilihat bahwa guru-guru Abah Aleh adalah pendekar dari berbagai aliran pencak silat yang mumpuni dalam aspek beladiri, bukan dalam aspek seni. Namun Abah Aleh sendiri yang mengolahnya menjadi berbagai bentuk ibing penca.

        Ibing penca dapat berkembang di perguruan bukan di aliran pencak silat, hal ini terjadi karena biasanya pada suatu aliran pencak silat sudah terdapat aturan baku baik dari segi filosofis maupun teknis yang tidak boleh diubah, ditambah maupun dikurangi oleh para pengikutnya. Berbeda halnya dengan di perguruan pencak silat yang dipimpin oleh pendekar yang biasanya sudah mempelajari berbagai aliran, sehingga memiliki wawasan yang luas dan tidak terlalu kaku dalam mengembangkan pencak silat. Di dalam suatu perguruan biasanya teknik-teknik dari berbagai aliran selain tetap dipertahankan keasliannya namun tidak menutup kemungkinan kemudian dicoba dicampur sehingga menjadi bentuk baru yang menjadi ciri khas perguruan itu. Di sinilah banyak terjadi pengolahan teknik, termasuk pengolahan aspek seni dalam bentuk ibing penca.

        4. Jurus yang Terdapat dalam Ibing Penca

        Di dalam ibing penca terdapat jurus-jurus pencak silat. Namun, sebenarnya jenis jurus seperti apa yang digunakan dalam ibing penca? Pertama-tama harus dibedakan terlebih dahulu antara Gerak Dasar, Jurus Dasar, Jurus Inti, dan Jurus Kajadian.

        Gerak Dasar adalah unsur yang paling kecil dalam suatu gerak. Misalnya ketika seorang pesilat melakukan satu gerak langkah serong sambil melakukan tangkisan sekaligus pukulan, maka di dalamnya terdapat beberapa gerak dasar, yaitu kuda-kuda serong, langkah serong, tangkisan, dan pukulan.

        Jurus Dasar adalah jurus yang digunakan pada tahap awal berlatih di suatu perguruan atau aliran sebagai fondasi untuk materi lanjutan. Satu jurus dasar bisa terdiri dari satu gerakan, satu rangkaian pendek, bahkan bisa juga berupa rangkaian panjang. Sifat dari jurus dasar ini terbagi menjadi dua, yaitu:

        Jurus Inti, yang di dalamnya terdapat prinsip-prinsip atau kaidah pencak silat yang dianut oleh suatu aliran atau perguruan. Sepintas jurus inti tidak bisa diduga bagaimana aplikasinya dalam suatu perkelahian tanpa keterangan dari guru. Biasanya jurus inti jumlahnya tidak terlalu banyak, namun dari jurus yang sedikit itu aplikasinya menjadi tidak terbatas jumlahnya.Sebagai contoh, aliran yang menggunakan jurus inti pada jurus dasarnya adalah Sabandar Jurus Lima, Cikalong, Suliwa, Maenpo Peupeuhan, dan Timbangan.

        Jurus Kajadian, yaitu jurus dasar yang bisa langsung diaplikasikan dalam bentuk serang bela. Biasanya jurus dasar seperti ini bisa langsung dilakukan oleh dua orang pesilat yang saling berhadapan tanpa mengubah gerakan dari jurus dasar tersebut. Contoh aliran atau perguruan yang menggunakan metode ini adalah Cimande, Jurus Kajadian Maenpo, Panglipur, Pager Kancana, dan Budhi Kancana.

        Dari Jurus Inti sebenarnya bisa dikembangkan menjadi berbagai Jurus Kajadian setelah jurus inti tersebut diaplikasikan dalam teknik serang bela. Sebagai contoh, Rd. Abad M. Sirod seorang tokoh maenpo Cikalong yang pada awalnya ia menerima Jurus Inti dari gurunya (Rd. Busrin) namun kemudian menciptakan 27 Jurus Kajadian dan 3 Jurus Maksud dengan alasan untuk mempermudah proses belajar mengajar. Menurutnya, dengan mengajarkan Jurus Kajadian murid-muridnya bisa langsung mengerti aplikasi dari setiap jurusnya.

        Jadi Ibing Penca sebenarnya adalah rangkaian jurus kajadian yang disusun sedemikian rupa sehingga memenuhi unsur estetika tanpa meninggalkan makna serang bela dalam setiap gerakannya. Ibing penca yang baik harus dapat menggambarkan suatu bentuk teknik perkelahian seolah-olah pesilat tersebut sedang berhadapan dengan lawan.

        5. Struktur Koreografi dan Karawitan pada Ibing Penca di Jawa Barat

        a. Koreografi Ibing Penca

        Sikap dan  gerakan dalam pencak silat sebagai beladiri dilakukan untuk melindungi diri dan menyerang, sedangkan dalam ibing penca sikap dan gerak dilakukan untuk kenikmatan penari yang bergerak mengikuti irama karawitan dan untuk kenikmatan yang menonton ibing penca. Mudah dipahami kalau gerakan dan sikap dalam ibing penca, walaupun bersumber pada beladiri namun memiliki perbedaan-perbedaan. Pada umumnya sikap dan gerakan dalam ibing penca lebih terbuka, lebih distilasi dan dilakukan dalam irama yang metrikal.

        Di dalam Ibing Penca di Jawa Barat terdapat pola koreografis yang umum, yaitu sebagai berikut:

        1)      Bagian pertama: Tepak Dua atau Paleredan, lebih memperlihatkan unsur keindahan.

        2)      Bagian kedua: Tepak Tilu atau Golempang, memperlihatkan teknik serang bela yang masih terikat pada ketukan irama.

        3)      Bagian ketiga: Padungdung, di sini pesilat berimprovisasi secara bebas sesuai dengan imajinasinya ketika itu.

        Berdasarkan koreografi itu, ibing pencak adalah salah satu jenis kesenian yang kaya segi kreatifitasnya karena masing-masing perguruan memiliki gerakan ibing penca yang berbeda walaupun berpatokan pada irama yang sama. Dapat dipahami, ibing penca merupakan tari yang paling populer dan paling banyak penggemarnya di Jawa Barat.

        Koreografi bagian pertama biasanya sangat kental dengan jurus-jurus yang berasal dari aliran Cimande, karena sifat geraknya lebih terbuka sehingga cocok dibawakan dengan tempo yang lambat. Contohnya adalah sebagai berikut:

        • Tepak Dua Salancar
        • Tepak Dua Sorong Dayung.
        • Tepak Dua Buang Kelid.
        • Tepak Dua Kampung Baru
        • Paleredan Jalak Pengkor
        • Paleredan Sawitan
        • Paleredan Pancer Opat

        Koreografi bagian kedua lebih banyak bersumber pada aliran Cikalong, Sabandar, dan Sera. Contohnya adalah sebagai berikut:

        • Tepak Tilu Cikalong
        • Tepak Tilu Jalan Muka
        • Tepak Tilu Alip Bandul
        • Tepak Tilu Peunggasan
        • Tepak Tilu Gerak Seta

        Koreografi bagian ketiga memperlihatkan jurus kajadian (jurus aplikasi) yang memperlihatkan teknik-teknik serang bela yang dilakukan dengan kecepatan yang sebenarnya dan yang pada awal perkembangannya bersifat improvisasi. Namun saat ini irama padungdung pun diisi dengan gerakan yang telah ditentukan sebelumnya, bukan improvisasi lagi. Contohnya adalah sebagai berikut:

        • Si Pecut
        • Pecah Alip
        • Pecah Gunting
        • Likuran
        • Si Pitung

        Saat ini banyak koreografi yang merupakan variasi atau gabungan dari aliran-aliran Cimande, Cikalong, Sabandar, Sera dan aliran yang lain. Ibing pencak yang banyak diajarkan di perguruan-perguruan pencak silat seperti di Panglipur, Pager Kancana, Kusuma Harapan, Domas, dan yang perguruan lainnya biasanya sudah merupakan olahan dari berbagai macam aliran yang dipelajari di perguruan yang bersangkutan.

        Ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan dalam memperagakan ibing penca, yaitu:

        Pertama, unsur kekayaan gerak (wiraga) yaitu kekayaan gerak atau jurus-jurus yang dimiliki oleh seorang pesilat selama belajar di perguruannya, sehingga penampilannya menjadi tidak monoton atau membosankan apabila tampil di atas pentas, terutama dalam pertandingan seni pencak silat. Tetapi apabila dalam acara spontanitas pada suatu hajatan misalnya, unsur kekayaan gerak tidak begitu diperhatikan pesilat. Yang penting pesilat mampu memperagakan gerakannya dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah pencak silat karena tidak terikat oleh sistem penilaian dari juri seperti dalam pelaksanaan pertandingan pencak silat seni.

        Kedua, unsur irama (wirahma) atau musik, unsur inilah yang membedakan aspek seni dengan aspek yang lain dalam pencak silat. Seorang pengibing penca harus mampu menyerasikan gerak dengan musik pengiringnya. Pengolahan irama yang variatif dan dinamis memiliki nilai lebih bagi seorang pesilat dalam membawakan ibingannya.

        Ketiga, unsur penjiwaan gerak (wirasa) yaitu salah satu unsur yang penting dimiliki oleh seorang pengibing penca. Penjiwaan gerak yang mantap sangat dipengaruhi oleh pemahaman pesilat terhadap setiap gerakan yang ditampilkannya. Oleh karena itu, pesilat dituntut harus menguasai arti dan makna gerak pencak silat yang sebenarnya, serta mengerti maksud dan tujuan dari jurus-jurus dan teknik-teknik pencak silat yang dipelajarinya.

        b. Karawitan

        Walaupun di daerah-daerah tertentu di Jawa Barat terdapat musik pengiring khas ibing penca seperti Patingtung di Banten, dan Terebang di Cirebon namun pada umumnya untuk mengiringi ibing penca dibutuhkan suatu ensembel yang disebut ‘kendang penca’. Ensembel ini sangat mendukung suasana ibing penca yang pada dasarnya merupakan tari perang atau tari perkelahian. Musik kendang penca kadang-kadang bersuasana menantang misalnya pada lagu Kembang Beureum atau Buah Kawung atau bersuasana do’a yaitu pada Kidung.

        Gendang pencak dimainkan oleh empat orang penabuh (nayaga/wiyaga). Mereka mempunyai tugas masing-masing dalam pelaksanaannya. Penabuh kendang pencak silat yang sudah berpengalaman selain mampu mengiringi ibing pencak silat yang sudah dirancang sebelumnya, ia pun mampu mengiringi gerakan-gerakan yang tidak dirancang sebelumnya.

        Adapun waditra (instrumen) yang terdapat di dalam kendang penca adalah sebagai berikut:

        1. Dua buah kendang besar (kendang indung dan kendang anak) dilengkapi dua buah kendang kecil (kulanter). Kendang bertugas mengisi gerak dan mengatur tempo.
        2. Sebuah terompet sebagai pembawa melodi
        3. Sebuah gong kecil (bende, kempul) sebagai pengatur irama, penegas tesis lagu.

        Jenis pukulan kendang yang juga tidak dapat dipisahkan dari jenis irama pada dasarnya adalah sebagai berikut:

        1. Tepak Dua. Motif-motif pukulan kendang untuk tempo lambat. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Kembang Gadung, Ayun Ambing, Polos, Gedong Panjang, Kendor Kulon, Tunggul Kawung, Bata Rubuh, Kidung, Sorong Dayung.
        2. Paleredan. Motif-motif pukulan kendang untuk tempo lambat. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Ayun Ambing, Bela pati, Sasalimpetan, Buah Kawung, Karawangan, Gendu, Gaya, Sari.
        3. Tepak Tilu. Motif-motif pukulan dengan tempo sedang. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Ucing-ucingan, Kembang Beureum, Bardin, Sintren, Papare, Bendrong Petit, Gendu, Kapuk Kapas, Garungan, Joher, Mainang, Kacang Asin, Oyong-oyong Bangkong.
        4. Golempang. Motif-motif lebih cepat daripada Tepak Tilu. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Kembang Beureum, Kacang Asin.
        5. Padungdung. Motif pukulan dengan tempo paling cepat. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Kidung, Kolear, Leang-leang, Ceurik Rahwana.

        6. Kapan Ibing Penca Diajarkan?

        Penempatan pelajaran ibing penca di setiap perguruan tidak sama. Ada yang ditempatkan di awal, ada pula yang ditempatkan di akhir. Lebih jelasnya proses belajar di perguruan pencak silat yang di dalamnya ada materi ibing penca adalah sebagai berikut:

        1. Jurus dasar – ibing penca – beladiri (Contoh: Panglipur, Pager Kancana, Budhi Kancana)
        2. Jurus dasar – beladiri – ibing penca (Contoh: Cimande)
        3. Jurus dasar – rangkaian gerak – beladiri – ibing penca (Contoh: Maenpo Peupeuhan)
        4. Ibing penca – beladiri (Contoh: Sekar Pusaka)
        5. Jurus dasar – Aplikasi jurus dasar – Rangkaian gerak – Ibing Penca – Beladiri (Contoh: Garis Paksi)

        Penempatan materi ibing penca di awal adalah strategi agar pencak silat lebih disukai oleh kalangan pesilat usia anak-anak dan remaja, karena ibing penca dapat diajarkan secara massal dan kecil kemungkinannya pesilat mengalami cidera. Di samping itu dengan ibing penca dapat digunakan dalam ajang perlombaan seni pencak silat yang diadakan oleh IPSI maupun PPSI. Sistem pengajaran seperti ini biasanya digunakan di lingkungan sekolah. Pada kasus ini, seorang pesilat yang mampu membawakan ibingan dengan baik belum tentu mahir dalam beladiri.

        Penempatan materi ibing penca di akhir bermaksud untuk penghalusan gerak jurus dan dapat digunakan sebagai alat hiburan setelah mempelajari beladiri. Pada kasus ini, seorang pesilat yang sudah berani tampil membawakan ibing penca sudah dipastikan mampu membela diri. Dahulu seorang pesilat yang melakukan ibing penca harus siap jika suatu waktu ada orang yang masuk ke gelanggang untuk  mencoba keterampilan berkelahi dengannya.

        Namun ada pula yang mengajarkan ibing penca bersamaan waktunya dengan mengajarkan beladiri. Atau ada pemisahan antara murid yang ingin mendalami ibing penca dan murid yang ingin mendalami beladiri. Sebagai contoh, di Himpunan Pencak Silat Panglipur, setelah murid menguasai 6 dasar pukulan, 9 jurus dasar, dan dua pola langkah maka bisa dilanjutkan dengan mempelajari Ibing Paleredan Pancer Opat, Tepak Tilu Jalan Muka, kemudian ditutup dengan Padungdung Si Pecut. Namun jika ingin mempelajari beladiri, maka dari jurus dasar bisa langsung mempelajari aplikasi dari setiap jurus disertai dengan pengertian kaedah-kaedahnya sehingga benar-benar mengerti dan mampu mengaplikasikannya dalam usik beladiri.

        Contoh lain, di Paguron Pusaka Siliwangi yang didirikan oleh Rd. Didi Muhtadi, jika ia mengajar ibing penca maka ia memulainya dengan mengajarkan 13 jurus dasar Cikalong, kemudian mengajarkan berbagai pola langkah dan akhirnya mengajarkan ibing penca. Namun jika ingin mengajarkan beladiri, dari jurus dilanjutkan dengan pelajaran kaedah maenpo Cikalong dan dilanjutkan dengan praktik usik-usikan atau tapelan (latihan berpasangan untuk mengolah rasa).

        7. Manfaat Ibing Penca dalam Beladiri

        Apakah ibing penca dapat digunakan untuk membeladiri? Apakah setiap pesilat yang sangat bagus membawakan ibing penca sudah pasti dapat melakukan pembelaan diri dengan baik? Jawabnya belum tentu. Seorang pesilat yang hanya belajar ibing penca atau baru belajar ibing penca pasti tidak akan bisa dijadikan sebagai alat pembelaan diri yang efektif.

        Jangankan ibing penca, pesilat yang mampu memainkan jurus ganda dengan baik belum tentu juga mampu menggunakan teknik beladiri dengan baik. (Penampilan kategori Ganda atau berpasangan adalah latihan atau peragaan berpasangan dari pesilat yang menampilkan serang bela. Di dalam ganda masing-masing pesilat saling memberi kesempatan kepada mitranya untuk menggunakan jurusnya yang sudah diatur sebelumnya).

        Ibing penca, ganda, usik/beladiri merupakan ilmu pencak silat yang memiliki perbedaan dalam tatacara berlatih dan mengaplikasikannya. Orang yang pandai ibing penca belum tentu bisa jurus ganda atau mahir beladiri. Orang yang mahir jurus ganda belum tentu bisa ibing penca atau usik beladiri yang sebenarnya. Begitu pula orang yang mahir usik beladiri belum tentu bisa ibing penca atau ganda.

        Namun apabila masing-masing dihubungkan, maka akan terlihat keterkaitan yang saling mendukung satu sama lain. Dengan mempelajari ibing penca, pesilat akan mengerti irama, menghaluskan rasa, merasakan adanya energi dari musik pengiring. Sering terlihat seorang pendekar sepuh yang sudah renta tiba-tiba menjadi jagjag waringkas ketika mendengar kendang penca dan melakukan ibing penca, tetapi kemudian kembali “normal” ketika selesai membawakan ibingannya.

        Dengan ganda pesilat belajar perbendaharaan teknik pencak silat dalam hal belaan dan serangan. Mengasah untuk saling memberi dan toleransi kepada mitranya, melatih timing yang tepat dalam bergerak. Dengan belajar usik/beladiri, kita dituntut untuk dapat menghadapi serangan apapun dalam situasi apapun. Tidak ada aturan dalam usik, tujuan utamanya adalah mampu mengalahkan lawan. Jadi semua memiliki porsinya masing-masing.

        Sebenarnya di dalam ibing penca teknis pencak silat sudah cukup lengkap, mulai dari jurus, kuda-kuda, pasang, perpindahan posisi, hingga pola langkah. Tapi memang, di dalam ibing dimasukan elemen kembangan untuk mempermanisnya, yang kadang memang lebih banyak didominasi unsur tarian. Seorang pesilat yang telah menguasai ibing penca dengan baik harus melalui tahapan tertentu dengan metode latihan tertentu pula agar mahir pula dalam membela diri, tidak cukup hanya mempelajari ibing terus menerus.

        Di Perguruan Pencak Silat Sekar Pusaka yang didirikan oleh Aki Iyat Ruchiyat, ibing penca langsung diberikan kepada murid baru, tanpa melalui tahap belajar jurus dasar. Kemudian setelah murid tersebut telah mampu menghafal dan membawakan ibing dengan benar dan bagus, maka mulailah Aki Iyat mengajarkan aplikasi yang terdapat dalam ibingan-ibingan tersebut. Istilahnya mesek cangkang tembong eusi, layu kembang bijil buah. Arti harfiahnya adalah “mengupas kulit agar terlihat isinya, layu bunga lantas muncul buahnya”. Jadi setelah ibingan itu dibuka kaidah-kaidah silatnya dengan dibarengi dengan latihan-latihan tertentu maka seorang pesilat yang ibingannya bagus dapat pula melakukan pembelaan diri dengan baik.

        Pesilat yang telah mengetahui aplikasi dari ibing penca yang dibawakannya akan lebih menghayati setiap gerakannya. Penempatan tenaga antara leuleus (lemas/rileks) dan teuas (keras) akan semakin baik, demikian juga penggunaan ekspresi akan lebih gereget karena pesilat tersebut sedang membayangkan seolah-olah sedang menghadapi lawan.

        8. Perkembangan Karawitan PencaK Silat

        Pada umumnya di Jawa Barat musik pengiring ibing penca adalah suatu ensembel yang disebut “kendang penca”, terdiri dari dua buah kendang besar dan dua buah kendang kecil (kulanter) bertugas mengisi gerak dan mengatur tempo, sebuah terompet sebagai pembawa melodi, dan sebuah gong kecil sebagai pengatur irama dan penegas tesis lagu. Jenis pukulan kendang yang tidak dapat dipisahkan dari jenis irama pada dasarnya ada empat, yaitu Tepak Dua, Tepak Tilu, Golempang, dan Padungdung.

        Karawitan pencak silat di Bandung mengalami perkembangan yang cukup dinamis. Jenis irama tidak lagi hanya berpatokan pada irama yang sudah baku, tetapi mulai berkreasi menciptakan irama baru, menambahkan beberapa waditra tambahan, bahkan menggunakan waditra yang sebelumnya tidak lazim digunakan untuk mengiringi ibing penca.

        Pada tahun 1970-an muncul ibing penca yang lebih dikenal dengan Ibing Maenpo Cianjuran yang menggunakan tembang cianjuran sebagai musik pengiringnya. Meskipun menggunakan nama “cianjuran”, namun Ibing Maenpo Cianjuran diciptakan dan kemudian berkembang di Bandung. Ibing Maenpo Cianjuran adalah hasil karya cipta seorang tokoh Maenpo asal Bandung, yaitu Adung Rais. Pada saat itu ia mencoba memadukan seni beladiri Maenpo Peupeuhan dengan seni tradisional tembang cianjuran atau dikenal dengan nama kacapi suling.

        Untuk bisa melakukan Ibing Penca ini, seorang praktisi Maenpo harus menguasai teknik Maenpo dengan baik dan memahami musik Cianjuran. Penguasaan teknik maenpo yang baik sangat penting karena Ibing Penca Cianjuran ini bersifat improvisasi sama halnya dengan musik cianjuran yang juga kaya dengan improvisasi.

        Pemahaman wirama ini menyangkut dengan bagaimana menemukan ketukan dan meletakkan gong dalam musik cianjuran. Hampir sama dengan kendang penca, misalnya dalam Tepak Paleredan atau Tepak Dua, klimaks dari satu rangkaian gerak harus berakhir tepat dengan bunyi gong. Pemahaman wirasa menyangkut unsur rasa. Penari harus tahu kapan bergerak cepat atau lambat, kapan satu hitungan menggunakan banyak jurus atau sebaliknya satu jurus dilakukan dalam tiga atau lebih hitungan, semuanya adalah improvisasi.

        Yang tidak kalah pentingnya adalah pemahaman syair. Setiap syair dan lagu cianjuran tentunya berbeda pesan, cerita dan makna. Lagu yang berbeda tentunya harus dibawakan dengan penjiwaan yang berbeda pula. Saat menari dengan Kidung atau Rajah misalnya, penari harus membawakannya dengan pembawaan yang khidmat dan tidak beringas. Lagu-lagu yang bersifat mengisahkan perang, disini bisa ditampilkan gerakan2 yang ganas, mimik wajah beringas, marah dsb, sedang untuk sinom satria, mungkin juga harus berusaha menampilkan kesan yang gagah dan agung dari seorang ksatria sunda. Bisa dikatakan, penguasaan akting yang baik akan menjadikan seorang penari Ibing Penca Cianjuran menjadi lebih mantap dalam membawakan tariannya.

        Menurut Adung Rais, bila sudah memahami dan menghayati secara maksimal maenpo dan cianjuran ini, bisa dikatakan sudah terjadi suatu keseimbangan karena telah terjadi perpaduan yang harmonis antara bentuk kekerasan dan bentuk kehalusan.

        Sekitar tahun 1995 di Bandung muncul lagi irama pengiring ibing penca yang termasuk unik dan baru. Irama musiknya dikenal dengan irama “Tepak Gonjing” atau “Tepak Tungbreng”. Irama ini tercipta dengan latar belakang kebutuhan dalam kejuaraan seni pencak silat tingkat nasional yang diadakan oleh IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia), di mana salah satu penilaiannya adalah variasi dalam irama pengiring ibing penca. Saat itu Ketua Pengda IPSI Jawa Barat H. Suhana Budjana meminta kepada para guru pencak silat dan para nayaganya untuk membuat kreasi baru dalam iringan musik pencak silat.

        Permintaan itu direspons dengan berkumpulnya sejumlah tokoh dan pendekar pencak silat dan beberapa seniman Sunda untuk merumuskan pola irama baru. Melalui proses yang tidak terlalu lama maka terciptalah irama Tungbreng atau Gonjing yang memiliki pola tabuhan khas. Kata tungbreng diambil dari bunyi yang dihasilkan oleh alat tabuhannya. Selain mempertahankan ensambel kendang penca yang asli seperti gendang, tarompet dan gong, dalam irama gonjing ditambah beberapa ensambel pelengkap yang terdiri dari kecrek, bonang, dan bedug. Kadang-kadang untuk kebutuhan suasana tertentu dipakai juga kacapi dan suling.

        Walaupun pada awalnya Tepak Gonjing menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan penggemar pencak silat, namun lambat laun akhirnya dapat diterima. Para pesilat anak-anak dan remaja kebanyakan lebih menyukai irama ini untuk mengiringi ibingannya dengan alasan lebih dinamis.

        Munculnya Tepak Tungbreng sebagai karya baru dalam blantika ibing penca dianggap sebagai prestasi bagi para tokoh, pendekar, dan seniman yang berkiprah di dunia persilatan Jawa Barat. Hal ini terbukti dengan adanya fenomena penampilan Tepak Tungbreng di setiap pasanggiri atau festival pencak silat di Bandung, bahkan di Jawa Barat. Tepak Tungbreng kini sudah menyebar dari Bandung ke daerah-daerah lain di Jawa Barat.

        9. Penutup

        Ibing penca harus dipandang sebagai bagian integral dari suatu ilmu pencak silat di suatu perguruan, sehingga akan banyak manfaat yang bisa diambil dari mempelajari ibing penca. Keberadaan ibing penca di perguruan pencak silat tergantung pada kebijakan perguruan itu sendiri. Jika secara tradisi di suatu perguruan diajarkan ibing penca, maka hal itu patut dilestarikan keberadaanya bahkan harus lebih dikembangkan lagi dengan menciptakan ibingan-ibingan penca yang baru disesuaikan dengan kebutuhan. Bagi perguruan yang tidak memiliki tradisi ibing penca tidak usah memaksakan diri agar ada materi ibing penca, namun jika ingin mencoba sebenarnya bisa saja dengan cara menyusun ibing penca dengan menggunakan patokan irama yang sudah baku atau dengan memodifikasi irama tertentu.

        Ibing penca jika ditempatkan pada tempat semestinya akan banyak manfaatnya yang bisa diambil. Namun paling tidak, dengan mempelajari ibing penca kita sudah turut melestarikan salah satu seni budaya peninggalan para pendekar pendahulu kita.

        Graspuzi 16022011

        dikutip dari:
        facebook Gending Raspuzi




        Tags: , , ,


        Artikel Ibing Penca dan Beladiri Pencak Silat yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


          - Powered by BING [2014-02-22 18:24]

          Comments are closed.

          Ibing Penca dan Beladiri Pencak Silat - Silat Indonesia

          Ibing Penca dan Beladiri Pencak Silat.

              [
          in English ]

          Feb 23rd, 2011 | By | Category: Artikel Silat [ in English ]

          IBING PENCA DAN BELADIRI PENCAK SILAT
          ANTARA KEMBANG DAN BUAH
          “Mesek cangkang tembong eusi, layu kembang bijil buah

          Disampaikan pada Seminar Pencak Silat Tradisional dalam Persfektif Budaya dan Sejarah
          17 Februari 2011 di Universitas Indonesia

          1. Pendahuluan

          gending-raspuzi-01Di Jawa Barat, di samping dikenal adanya pencak sebagai bela diri, yang disebut dengan ‘buah’ atau ‘eusi’ (isi), dikenal pula pencak silat ‘kembang’ (bunga) atau ‘ibing penca’ (tari pencak). Begitu eratnya hubungan batin masyarakat Jawa Barat dengan seni pencak silat (kembang), hingga  banyak anggota masyarakat Jawa Barat yang menghubungkan kata pencak tidak dengan bela diri, akan tetapi dengan Ibing Penca.

          Istilah Ibing Penca memang berasal dari Jawa Barat. Secara harfiah Ibing Penca dapat diterjemahkan menjadi Tari Pencak. Tapi para tokoh pencak silat di Jawa Barat kurang setuju jika ibing penca disebut tari pencak, karena kata “tari” cenderung lebih menitik beratkan pada unsur tarinya, yaitu suatu seni yang menampilkan keindahan gerak meskipun gerakannya diambil dari unsur-unsur pencak silat. Sedangkan “ibing penca” lebih menitikberatkan pada unsur pencak silat, yaitu gerak yang memiliki fungsi serang bela, walaupun tidak dapat disangkal di dalamnya juga mengandung unsur-unsur keindahan.

          Ada sebagian orang berpendapat bahwa Ibing Penca adalah bagian dari pencak silat dan bisa digunakan sebagai software untuk membela diri jika dilatih dengan rutin, namun ada juga yang berpendapat bahwa Ibing Penca bukanlah pencak silat, melainkan hanya sebatas seni tari dalam bentuk gerakan pencak silat dan tidak bisa digunakan untuk membela diri meskipun dilatih dengan serius dan tekun. Di sisi lain ada juga yang berpendapat bahwa belajar Ibing Penca jika mengerti aplikasi dari setiap gerakan akan bisa dijadikan alat membela diri, sebab Ibing Penca merupakan gabungan rangkaian gerak membela diri hanya saja di iringi musik (jika dipertontonkan), namun dalam praktik latihan sehari-harinya tidak.

          Dari sinilah timbul persoalan, apakah sebenarnya Ibing Penca berguna untuk membela diri atau hanya sekedar tarian yang tidak ada hubungannya dengan kemahiran beladiri.

          2. Pencak Silat dan Tari

          Pencak silat di Indonesia memiliki bermacam bentuk dan ragam yang lahir, hidup dan berkembang di masing-masing aliran dan perguruan pencak silat. Pada mulanya pencak silat diciptakan untuk membela diri, namun dalam perkembangannya, pencak silat dapat juga dijadikan sebagai sumber keindahan bentuk, gerak, irama dan ekspresi yang melukiskan adegan serang bela menggunakan tangan kosong maupun senjata.

          Pencak silat dan tari merupakan satu ekspresi yang berkaitan dan saling mengisi, karena keduanya menggunakan tubuh manusia sebagai materi pokok, di samping ketajaman pikiran dan perasaan yang selalu berdampingan sewaktu melaksanakan pencak silat atau menari, ditambah dengan ketahanan fisik dan keuletan menggarap teknis pencak silat dan tari. Banyak pakar tari yang merasakan kebutuhan untuk belajar pencak silat yang ternyata besar sekali manfaatnya bagi seorang penari.

          Persamaan Pencak dan tari adalah keduanya menggunakan tubuh beserta bagian-bagian dari anggota badan manusia sebagai materi utama. Pembinaan fisik dan ekspresi banyak persamaannya, hanya penggunaannya yang berbeda. Pencak silat adalah olah tubuh dari rasa yang dipergunakan untuk membela diri, sedangkan tari adalah olah tubuh untuk mengekspresikan suatu keindahan yang bersifat spiritual dan melahirkan suasana yang semuanya lahir karena tradisi atau dari jiwa para seniman.

          Pembinaan tubuh dan penguasaaan teknik gerak untuk pencak silat dan tari membutuhkan waktu dan ketekunan berlatih fisik secara kontinyu, karena ketahanan fisik merupakan syarat utama. Ketahanan dari teknik pernafasan, keterampilan gerak, juga keindahan gerak dan keluwesannya ada di dalam pencak silat dan tari. Gerak berat, ringan, tegang, lemah, cepat, pelan, dan berirama merupakan sarana-sarana latihan teknik tubuh yang harus dilaksanakan dengan baik dan teratur bagi seorang pesilat dan penari.

          Keindahan langkah kaki, gerak tangan kontinyu, posisi yang pasti, ketenangan dan ledakan-ledakan ekspresi gerak di samping kelembutan ada pada pencak silat dan tari. Maka pengaruh timbal balik antara pencak sebagai beladiri dengan tari telah ada pada seni tari di Indonesia.

          3. Asal Mula Ibing Penca

          Sejak kapan dan apa yang melatarbelakangi munculnya ibing penca? Hal ini memerlukan penelitian yang mendalam. Ada beberapa sumber yang mengatakan bahwa ibing penca diciptakan sebagai kamuflase dari beladiri yang dilarang pada zaman penjajahan Belanda, di mana dinyatakan bahwa pada saat itu para pendekar yang ingin menyebarkan pencak silat terbentur pada larangan yang dikeluarkan oleh pemerintahan kolonial, sehingga untuk menyiasatinya dibuatlah ibing penca agar pencak silat tetap boleh diajarkan. Ibing penca ditampilkan kepada masyarakat umum sedangkan beladirinya tetap diajarkan secara sembunyi-sembunyi. Untuk kasus-kasus tertentu hal ini mungkin ada benarnya, namun bagi kasus yang lain pendapat ini belum tentu tepat.

          Pada awalnya aspek pencak silat yang pertama lahir adalah aspek beladiri. Situasi dan kondisi pada suatu masa secara alamiah menyebabkan manusia selalui menyesuaikan diri dengan alam dan lingkungannya,  naluri untuk menjaga eksistensi diri dan kelompoknya menimbulkan upaya agar kelompoknya lebih kuat dari kelompok yang lain. Bersama itu pula timbul kebutuhan untuk menciptakan alat pembelaan diri yang efektif, mulai dari menciptakan senjata dan menciptakan berbagai teknik perkelahian. Pada suatu masa yang mengharuskan orang mampu membela diri secara fisik, menyebabkan tumbuh suburnya bebagai jenis aliran beladiri. Dalam hal ini aliran-aliran pencak silat.

          Namun perlu diingat bahwa selain memiliki naluri mempertahankan diri, manusia pun memiliki naluri untuk menyukai keindahan. Dari berbagai hal yang ada di sekelilingnya, manusia mampu menciptakan berbagai bentuk keindahan melalui seni. Ketika manusia menemukan alat yang dapat digunakan sebagai senjata, dengan alat itu pula mereka menciptakan karya seni pahatan. Ketika manusia memahami adanya nada dalam bunyi, maka manusia menciptakan musik dan nyanyian. Demikian pula halnya ketika di menyadari bahwa di dalam gerak terdapat keindahan, maka muncullah berbagai jenis tarian. Dari mana inspirasi membuat tarian itu? Salah satunya adalah dari teknik beladiri yang telah dikuasai sebelumnya. Ketika pencak silat tidak banyak lagi digunakan sebagai alat untuk membela diri, maka aspek lain dapat digali, seperti aspek olah raga dan seni. Dari sinilah ibing penca itu muncul. Ia tercipta dari kebutuhan manusia yang gandrung akan keindahan melalui medium gerak.

          Di Jawa Barat pencak silat banyak mempengaruhi kesenian lain, khususnya tari rakyat. Contoh seni yang dipengaruhi pencak silat: Ketuk Tilu, Jaipongan, Cikeruhan, Sisingaan, Kuda Renggong. Pada awalnya ketika seorang pria sedang kaul Ketuk tilu, maka gerakan yang digunakan adalah gerak improvisasi yang diambil dari jurus-jurus pencak silat

          Banyak koreografer tari yang memiliki latar belakang pencak silat, di antaranya adalah R. Tjetje Somantri, maestro Tari Keurseus, dan Gugum Gumbira, maestro Jaipongan. Dengan dasar pemikiran bahwa pencak silat merupakan salah satu sumber bagi jenis kesenian lainnya, maka STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Bandung memasukkan mata kuliah pencak silat selama 4 SKS dalam dua semester.

          Meskipun Ketuk Tilu, Jaipongan atau jenis kesenian lainnya bersumber dari gerakan pencak silat tetapi tidak otomatis disebut sebagai tari pencak silat, karena fungsinya sudah berbeda yakni menjadi alat hiburan semata. Berbeda halnya dengan Ibing Penca, bagi perguruan pencak silat yang di dalamnya terdapat materi Ibing Penca, tentu saja ibing penca dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari ilmu pencak silat.

          Jika kita melihat berbagai jenis aliran pencak silat ‘buhun’, jarang sekali di dalamnya terdapat pelajaran ibing penca (kecuali Cimande). Hal ini membuktikan bahwa pada awalnya aliran-aliran pencak silat lebih mengutamakan aspek beladiri daripada aspek seni. Atau dengan kata lain ibing penca muncul belakangan setelah ada beladiri pencak silat.

          Seni Ibing Penca tumbuh subur berkembang di perguruan pencak silat, bukan di aliran asalnya. Sebagai contoh, aliran Cikalong tidak mengenal ibing penca, tetapi Gan Didi Muhtadi, salah seorang tokoh Maenpo Cikalong dari Pasar Baru Cianjur melalui perguruannya Pusaka Siliwangi mengembangkan ibing penca sehingga Gan Didi lebih dikenal sebagai guru ibing penca dari pada guru maenpo. Kemampuannya dalam menciptakan dan mengajarkan ibing penca merupakan hal yang jarang ditemui pada guru-guru maenpo di Cianjur yang hidup pada masa itu.

          Contoh yang lain, Himpunan Pencak Silat Panglipur yang didirikan Abah Aleh adalah perguruan yang sekarang dikenal dengan kekayaan dan keindahan dalam ibing penca, padahal dari sejarah Panglipur dapat dilihat bahwa guru-guru Abah Aleh adalah pendekar dari berbagai aliran pencak silat yang mumpuni dalam aspek beladiri, bukan dalam aspek seni. Namun Abah Aleh sendiri yang mengolahnya menjadi berbagai bentuk ibing penca.

          Ibing penca dapat berkembang di perguruan bukan di aliran pencak silat, hal ini terjadi karena biasanya pada suatu aliran pencak silat sudah terdapat aturan baku baik dari segi filosofis maupun teknis yang tidak boleh diubah, ditambah maupun dikurangi oleh para pengikutnya. Berbeda halnya dengan di perguruan pencak silat yang dipimpin oleh pendekar yang biasanya sudah mempelajari berbagai aliran, sehingga memiliki wawasan yang luas dan tidak terlalu kaku dalam mengembangkan pencak silat. Di dalam suatu perguruan biasanya teknik-teknik dari berbagai aliran selain tetap dipertahankan keasliannya namun tidak menutup kemungkinan kemudian dicoba dicampur sehingga menjadi bentuk baru yang menjadi ciri khas perguruan itu. Di sinilah banyak terjadi pengolahan teknik, termasuk pengolahan aspek seni dalam bentuk ibing penca.

          4. Jurus yang Terdapat dalam Ibing Penca

          Di dalam ibing penca terdapat jurus-jurus pencak silat. Namun, sebenarnya jenis jurus seperti apa yang digunakan dalam ibing penca? Pertama-tama harus dibedakan terlebih dahulu antara Gerak Dasar, Jurus Dasar, Jurus Inti, dan Jurus Kajadian.

          Gerak Dasar adalah unsur yang paling kecil dalam suatu gerak. Misalnya ketika seorang pesilat melakukan satu gerak langkah serong sambil melakukan tangkisan sekaligus pukulan, maka di dalamnya terdapat beberapa gerak dasar, yaitu kuda-kuda serong, langkah serong, tangkisan, dan pukulan.

          Jurus Dasar adalah jurus yang digunakan pada tahap awal berlatih di suatu perguruan atau aliran sebagai fondasi untuk materi lanjutan. Satu jurus dasar bisa terdiri dari satu gerakan, satu rangkaian pendek, bahkan bisa juga berupa rangkaian panjang. Sifat dari jurus dasar ini terbagi menjadi dua, yaitu:

          Jurus Inti, yang di dalamnya terdapat prinsip-prinsip atau kaidah pencak silat yang dianut oleh suatu aliran atau perguruan. Sepintas jurus inti tidak bisa diduga bagaimana aplikasinya dalam suatu perkelahian tanpa keterangan dari guru. Biasanya jurus inti jumlahnya tidak terlalu banyak, namun dari jurus yang sedikit itu aplikasinya menjadi tidak terbatas jumlahnya.Sebagai contoh, aliran yang menggunakan jurus inti pada jurus dasarnya adalah Sabandar Jurus Lima, Cikalong, Suliwa, Maenpo Peupeuhan, dan Timbangan.

          Jurus Kajadian, yaitu jurus dasar yang bisa langsung diaplikasikan dalam bentuk serang bela. Biasanya jurus dasar seperti ini bisa langsung dilakukan oleh dua orang pesilat yang saling berhadapan tanpa mengubah gerakan dari jurus dasar tersebut. Contoh aliran atau perguruan yang menggunakan metode ini adalah Cimande, Jurus Kajadian Maenpo, Panglipur, Pager Kancana, dan Budhi Kancana.

          Dari Jurus Inti sebenarnya bisa dikembangkan menjadi berbagai Jurus Kajadian setelah jurus inti tersebut diaplikasikan dalam teknik serang bela. Sebagai contoh, Rd. Abad M. Sirod seorang tokoh maenpo Cikalong yang pada awalnya ia menerima Jurus Inti dari gurunya (Rd. Busrin) namun kemudian menciptakan 27 Jurus Kajadian dan 3 Jurus Maksud dengan alasan untuk mempermudah proses belajar mengajar. Menurutnya, dengan mengajarkan Jurus Kajadian murid-muridnya bisa langsung mengerti aplikasi dari setiap jurusnya.

          Jadi Ibing Penca sebenarnya adalah rangkaian jurus kajadian yang disusun sedemikian rupa sehingga memenuhi unsur estetika tanpa meninggalkan makna serang bela dalam setiap gerakannya. Ibing penca yang baik harus dapat menggambarkan suatu bentuk teknik perkelahian seolah-olah pesilat tersebut sedang berhadapan dengan lawan.

          5. Struktur Koreografi dan Karawitan pada Ibing Penca di Jawa Barat

          a. Koreografi Ibing Penca

          Sikap dan  gerakan dalam pencak silat sebagai beladiri dilakukan untuk melindungi diri dan menyerang, sedangkan dalam ibing penca sikap dan gerak dilakukan untuk kenikmatan penari yang bergerak mengikuti irama karawitan dan untuk kenikmatan yang menonton ibing penca. Mudah dipahami kalau gerakan dan sikap dalam ibing penca, walaupun bersumber pada beladiri namun memiliki perbedaan-perbedaan. Pada umumnya sikap dan gerakan dalam ibing penca lebih terbuka, lebih distilasi dan dilakukan dalam irama yang metrikal.

          Di dalam Ibing Penca di Jawa Barat terdapat pola koreografis yang umum, yaitu sebagai berikut:

          1)      Bagian pertama: Tepak Dua atau Paleredan, lebih memperlihatkan unsur keindahan.

          2)      Bagian kedua: Tepak Tilu atau Golempang, memperlihatkan teknik serang bela yang masih terikat pada ketukan irama.

          3)      Bagian ketiga: Padungdung, di sini pesilat berimprovisasi secara bebas sesuai dengan imajinasinya ketika itu.

          Berdasarkan koreografi itu, ibing pencak adalah salah satu jenis kesenian yang kaya segi kreatifitasnya karena masing-masing perguruan memiliki gerakan ibing penca yang berbeda walaupun berpatokan pada irama yang sama. Dapat dipahami, ibing penca merupakan tari yang paling populer dan paling banyak penggemarnya di Jawa Barat.

          Koreografi bagian pertama biasanya sangat kental dengan jurus-jurus yang berasal dari aliran Cimande, karena sifat geraknya lebih terbuka sehingga cocok dibawakan dengan tempo yang lambat. Contohnya adalah sebagai berikut:

          • Tepak Dua Salancar
          • Tepak Dua Sorong Dayung.
          • Tepak Dua Buang Kelid.
          • Tepak Dua Kampung Baru
          • Paleredan Jalak Pengkor
          • Paleredan Sawitan
          • Paleredan Pancer Opat

          Koreografi bagian kedua lebih banyak bersumber pada aliran Cikalong, Sabandar, dan Sera. Contohnya adalah sebagai berikut:

          • Tepak Tilu Cikalong
          • Tepak Tilu Jalan Muka
          • Tepak Tilu Alip Bandul
          • Tepak Tilu Peunggasan
          • Tepak Tilu Gerak Seta

          Koreografi bagian ketiga memperlihatkan jurus kajadian (jurus aplikasi) yang memperlihatkan teknik-teknik serang bela yang dilakukan dengan kecepatan yang sebenarnya dan yang pada awal perkembangannya bersifat improvisasi. Namun saat ini irama padungdung pun diisi dengan gerakan yang telah ditentukan sebelumnya, bukan improvisasi lagi. Contohnya adalah sebagai berikut:

          • Si Pecut
          • Pecah Alip
          • Pecah Gunting
          • Likuran
          • Si Pitung

          Saat ini banyak koreografi yang merupakan variasi atau gabungan dari aliran-aliran Cimande, Cikalong, Sabandar, Sera dan aliran yang lain. Ibing pencak yang banyak diajarkan di perguruan-perguruan pencak silat seperti di Panglipur, Pager Kancana, Kusuma Harapan, Domas, dan yang perguruan lainnya biasanya sudah merupakan olahan dari berbagai macam aliran yang dipelajari di perguruan yang bersangkutan.

          Ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan dalam memperagakan ibing penca, yaitu:

          Pertama, unsur kekayaan gerak (wiraga) yaitu kekayaan gerak atau jurus-jurus yang dimiliki oleh seorang pesilat selama belajar di perguruannya, sehingga penampilannya menjadi tidak monoton atau membosankan apabila tampil di atas pentas, terutama dalam pertandingan seni pencak silat. Tetapi apabila dalam acara spontanitas pada suatu hajatan misalnya, unsur kekayaan gerak tidak begitu diperhatikan pesilat. Yang penting pesilat mampu memperagakan gerakannya dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah pencak silat karena tidak terikat oleh sistem penilaian dari juri seperti dalam pelaksanaan pertandingan pencak silat seni.

          Kedua, unsur irama (wirahma) atau musik, unsur inilah yang membedakan aspek seni dengan aspek yang lain dalam pencak silat. Seorang pengibing penca harus mampu menyerasikan gerak dengan musik pengiringnya. Pengolahan irama yang variatif dan dinamis memiliki nilai lebih bagi seorang pesilat dalam membawakan ibingannya.

          Ketiga, unsur penjiwaan gerak (wirasa) yaitu salah satu unsur yang penting dimiliki oleh seorang pengibing penca. Penjiwaan gerak yang mantap sangat dipengaruhi oleh pemahaman pesilat terhadap setiap gerakan yang ditampilkannya. Oleh karena itu, pesilat dituntut harus menguasai arti dan makna gerak pencak silat yang sebenarnya, serta mengerti maksud dan tujuan dari jurus-jurus dan teknik-teknik pencak silat yang dipelajarinya.

          b. Karawitan

          Walaupun di daerah-daerah tertentu di Jawa Barat terdapat musik pengiring khas ibing penca seperti Patingtung di Banten, dan Terebang di Cirebon namun pada umumnya untuk mengiringi ibing penca dibutuhkan suatu ensembel yang disebut ‘kendang penca’. Ensembel ini sangat mendukung suasana ibing penca yang pada dasarnya merupakan tari perang atau tari perkelahian. Musik kendang penca kadang-kadang bersuasana menantang misalnya pada lagu Kembang Beureum atau Buah Kawung atau bersuasana do’a yaitu pada Kidung.

          Gendang pencak dimainkan oleh empat orang penabuh (nayaga/wiyaga). Mereka mempunyai tugas masing-masing dalam pelaksanaannya. Penabuh kendang pencak silat yang sudah berpengalaman selain mampu mengiringi ibing pencak silat yang sudah dirancang sebelumnya, ia pun mampu mengiringi gerakan-gerakan yang tidak dirancang sebelumnya.

          Adapun waditra (instrumen) yang terdapat di dalam kendang penca adalah sebagai berikut:

          1. Dua buah kendang besar (kendang indung dan kendang anak) dilengkapi dua buah kendang kecil (kulanter). Kendang bertugas mengisi gerak dan mengatur tempo.
          2. Sebuah terompet sebagai pembawa melodi
          3. Sebuah gong kecil (bende, kempul) sebagai pengatur irama, penegas tesis lagu.

          Jenis pukulan kendang yang juga tidak dapat dipisahkan dari jenis irama pada dasarnya adalah sebagai berikut:

          1. Tepak Dua. Motif-motif pukulan kendang untuk tempo lambat. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Kembang Gadung, Ayun Ambing, Polos, Gedong Panjang, Kendor Kulon, Tunggul Kawung, Bata Rubuh, Kidung, Sorong Dayung.
          2. Paleredan. Motif-motif pukulan kendang untuk tempo lambat. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Ayun Ambing, Bela pati, Sasalimpetan, Buah Kawung, Karawangan, Gendu, Gaya, Sari.
          3. Tepak Tilu. Motif-motif pukulan dengan tempo sedang. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Ucing-ucingan, Kembang Beureum, Bardin, Sintren, Papare, Bendrong Petit, Gendu, Kapuk Kapas, Garungan, Joher, Mainang, Kacang Asin, Oyong-oyong Bangkong.
          4. Golempang. Motif-motif lebih cepat daripada Tepak Tilu. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Kembang Beureum, Kacang Asin.
          5. Padungdung. Motif pukulan dengan tempo paling cepat. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Kidung, Kolear, Leang-leang, Ceurik Rahwana.

          6. Kapan Ibing Penca Diajarkan?

          Penempatan pelajaran ibing penca di setiap perguruan tidak sama. Ada yang ditempatkan di awal, ada pula yang ditempatkan di akhir. Lebih jelasnya proses belajar di perguruan pencak silat yang di dalamnya ada materi ibing penca adalah sebagai berikut:

          1. Jurus dasar – ibing penca – beladiri (Contoh: Panglipur, Pager Kancana, Budhi Kancana)
          2. Jurus dasar – beladiri – ibing penca (Contoh: Cimande)
          3. Jurus dasar – rangkaian gerak – beladiri – ibing penca (Contoh: Maenpo Peupeuhan)
          4. Ibing penca – beladiri (Contoh: Sekar Pusaka)
          5. Jurus dasar – Aplikasi jurus dasar – Rangkaian gerak – Ibing Penca – Beladiri (Contoh: Garis Paksi)

          Penempatan materi ibing penca di awal adalah strategi agar pencak silat lebih disukai oleh kalangan pesilat usia anak-anak dan remaja, karena ibing penca dapat diajarkan secara massal dan kecil kemungkinannya pesilat mengalami cidera. Di samping itu dengan ibing penca dapat digunakan dalam ajang perlombaan seni pencak silat yang diadakan oleh IPSI maupun PPSI. Sistem pengajaran seperti ini biasanya digunakan di lingkungan sekolah. Pada kasus ini, seorang pesilat yang mampu membawakan ibingan dengan baik belum tentu mahir dalam beladiri.

          Penempatan materi ibing penca di akhir bermaksud untuk penghalusan gerak jurus dan dapat digunakan sebagai alat hiburan setelah mempelajari beladiri. Pada kasus ini, seorang pesilat yang sudah berani tampil membawakan ibing penca sudah dipastikan mampu membela diri. Dahulu seorang pesilat yang melakukan ibing penca harus siap jika suatu waktu ada orang yang masuk ke gelanggang untuk  mencoba keterampilan berkelahi dengannya.

          Namun ada pula yang mengajarkan ibing penca bersamaan waktunya dengan mengajarkan beladiri. Atau ada pemisahan antara murid yang ingin mendalami ibing penca dan murid yang ingin mendalami beladiri. Sebagai contoh, di Himpunan Pencak Silat Panglipur, setelah murid menguasai 6 dasar pukulan, 9 jurus dasar, dan dua pola langkah maka bisa dilanjutkan dengan mempelajari Ibing Paleredan Pancer Opat, Tepak Tilu Jalan Muka, kemudian ditutup dengan Padungdung Si Pecut. Namun jika ingin mempelajari beladiri, maka dari jurus dasar bisa langsung mempelajari aplikasi dari setiap jurus disertai dengan pengertian kaedah-kaedahnya sehingga benar-benar mengerti dan mampu mengaplikasikannya dalam usik beladiri.

          Contoh lain, di Paguron Pusaka Siliwangi yang didirikan oleh Rd. Didi Muhtadi, jika ia mengajar ibing penca maka ia memulainya dengan mengajarkan 13 jurus dasar Cikalong, kemudian mengajarkan berbagai pola langkah dan akhirnya mengajarkan ibing penca. Namun jika ingin mengajarkan beladiri, dari jurus dilanjutkan dengan pelajaran kaedah maenpo Cikalong dan dilanjutkan dengan praktik usik-usikan atau tapelan (latihan berpasangan untuk mengolah rasa).

          7. Manfaat Ibing Penca dalam Beladiri

          Apakah ibing penca dapat digunakan untuk membeladiri? Apakah setiap pesilat yang sangat bagus membawakan ibing penca sudah pasti dapat melakukan pembelaan diri dengan baik? Jawabnya belum tentu. Seorang pesilat yang hanya belajar ibing penca atau baru belajar ibing penca pasti tidak akan bisa dijadikan sebagai alat pembelaan diri yang efektif.

          Jangankan ibing penca, pesilat yang mampu memainkan jurus ganda dengan baik belum tentu juga mampu menggunakan teknik beladiri dengan baik. (Penampilan kategori Ganda atau berpasangan adalah latihan atau peragaan berpasangan dari pesilat yang menampilkan serang bela. Di dalam ganda masing-masing pesilat saling memberi kesempatan kepada mitranya untuk menggunakan jurusnya yang sudah diatur sebelumnya).

          Ibing penca, ganda, usik/beladiri merupakan ilmu pencak silat yang memiliki perbedaan dalam tatacara berlatih dan mengaplikasikannya. Orang yang pandai ibing penca belum tentu bisa jurus ganda atau mahir beladiri. Orang yang mahir jurus ganda belum tentu bisa ibing penca atau usik beladiri yang sebenarnya. Begitu pula orang yang mahir usik beladiri belum tentu bisa ibing penca atau ganda.

          Namun apabila masing-masing dihubungkan, maka akan terlihat keterkaitan yang saling mendukung satu sama lain. Dengan mempelajari ibing penca, pesilat akan mengerti irama, menghaluskan rasa, merasakan adanya energi dari musik pengiring. Sering terlihat seorang pendekar sepuh yang sudah renta tiba-tiba menjadi jagjag waringkas ketika mendengar kendang penca dan melakukan ibing penca, tetapi kemudian kembali “normal” ketika selesai membawakan ibingannya.

          Dengan ganda pesilat belajar perbendaharaan teknik pencak silat dalam hal belaan dan serangan. Mengasah untuk saling memberi dan toleransi kepada mitranya, melatih timing yang tepat dalam bergerak. Dengan belajar usik/beladiri, kita dituntut untuk dapat menghadapi serangan apapun dalam situasi apapun. Tidak ada aturan dalam usik, tujuan utamanya adalah mampu mengalahkan lawan. Jadi semua memiliki porsinya masing-masing.

          Sebenarnya di dalam ibing penca teknis pencak silat sudah cukup lengkap, mulai dari jurus, kuda-kuda, pasang, perpindahan posisi, hingga pola langkah. Tapi memang, di dalam ibing dimasukan elemen kembangan untuk mempermanisnya, yang kadang memang lebih banyak didominasi unsur tarian. Seorang pesilat yang telah menguasai ibing penca dengan baik harus melalui tahapan tertentu dengan metode latihan tertentu pula agar mahir pula dalam membela diri, tidak cukup hanya mempelajari ibing terus menerus.

          Di Perguruan Pencak Silat Sekar Pusaka yang didirikan oleh Aki Iyat Ruchiyat, ibing penca langsung diberikan kepada murid baru, tanpa melalui tahap belajar jurus dasar. Kemudian setelah murid tersebut telah mampu menghafal dan membawakan ibing dengan benar dan bagus, maka mulailah Aki Iyat mengajarkan aplikasi yang terdapat dalam ibingan-ibingan tersebut. Istilahnya mesek cangkang tembong eusi, layu kembang bijil buah. Arti harfiahnya adalah “mengupas kulit agar terlihat isinya, layu bunga lantas muncul buahnya”. Jadi setelah ibingan itu dibuka kaidah-kaidah silatnya dengan dibarengi dengan latihan-latihan tertentu maka seorang pesilat yang ibingannya bagus dapat pula melakukan pembelaan diri dengan baik.

          Pesilat yang telah mengetahui aplikasi dari ibing penca yang dibawakannya akan lebih menghayati setiap gerakannya. Penempatan tenaga antara leuleus (lemas/rileks) dan teuas (keras) akan semakin baik, demikian juga penggunaan ekspresi akan lebih gereget karena pesilat tersebut sedang membayangkan seolah-olah sedang menghadapi lawan.

          8. Perkembangan Karawitan PencaK Silat

          Pada umumnya di Jawa Barat musik pengiring ibing penca adalah suatu ensembel yang disebut “kendang penca”, terdiri dari dua buah kendang besar dan dua buah kendang kecil (kulanter) bertugas mengisi gerak dan mengatur tempo, sebuah terompet sebagai pembawa melodi, dan sebuah gong kecil sebagai pengatur irama dan penegas tesis lagu. Jenis pukulan kendang yang tidak dapat dipisahkan dari jenis irama pada dasarnya ada empat, yaitu Tepak Dua, Tepak Tilu, Golempang, dan Padungdung.

          Karawitan pencak silat di Bandung mengalami perkembangan yang cukup dinamis. Jenis irama tidak lagi hanya berpatokan pada irama yang sudah baku, tetapi mulai berkreasi menciptakan irama baru, menambahkan beberapa waditra tambahan, bahkan menggunakan waditra yang sebelumnya tidak lazim digunakan untuk mengiringi ibing penca.

          Pada tahun 1970-an muncul ibing penca yang lebih dikenal dengan Ibing Maenpo Cianjuran yang menggunakan tembang cianjuran sebagai musik pengiringnya. Meskipun menggunakan nama “cianjuran”, namun Ibing Maenpo Cianjuran diciptakan dan kemudian berkembang di Bandung. Ibing Maenpo Cianjuran adalah hasil karya cipta seorang tokoh Maenpo asal Bandung, yaitu Adung Rais. Pada saat itu ia mencoba memadukan seni beladiri Maenpo Peupeuhan dengan seni tradisional tembang cianjuran atau dikenal dengan nama kacapi suling.

          Untuk bisa melakukan Ibing Penca ini, seorang praktisi Maenpo harus menguasai teknik Maenpo dengan baik dan memahami musik Cianjuran. Penguasaan teknik maenpo yang baik sangat penting karena Ibing Penca Cianjuran ini bersifat improvisasi sama halnya dengan musik cianjuran yang juga kaya dengan improvisasi.

          Pemahaman wirama ini menyangkut dengan bagaimana menemukan ketukan dan meletakkan gong dalam musik cianjuran. Hampir sama dengan kendang penca, misalnya dalam Tepak Paleredan atau Tepak Dua, klimaks dari satu rangkaian gerak harus berakhir tepat dengan bunyi gong. Pemahaman wirasa menyangkut unsur rasa. Penari harus tahu kapan bergerak cepat atau lambat, kapan satu hitungan menggunakan banyak jurus atau sebaliknya satu jurus dilakukan dalam tiga atau lebih hitungan, semuanya adalah improvisasi.

          Yang tidak kalah pentingnya adalah pemahaman syair. Setiap syair dan lagu cianjuran tentunya berbeda pesan, cerita dan makna. Lagu yang berbeda tentunya harus dibawakan dengan penjiwaan yang berbeda pula. Saat menari dengan Kidung atau Rajah misalnya, penari harus membawakannya dengan pembawaan yang khidmat dan tidak beringas. Lagu-lagu yang bersifat mengisahkan perang, disini bisa ditampilkan gerakan2 yang ganas, mimik wajah beringas, marah dsb, sedang untuk sinom satria, mungkin juga harus berusaha menampilkan kesan yang gagah dan agung dari seorang ksatria sunda. Bisa dikatakan, penguasaan akting yang baik akan menjadikan seorang penari Ibing Penca Cianjuran menjadi lebih mantap dalam membawakan tariannya.

          Menurut Adung Rais, bila sudah memahami dan menghayati secara maksimal maenpo dan cianjuran ini, bisa dikatakan sudah terjadi suatu keseimbangan karena telah terjadi perpaduan yang harmonis antara bentuk kekerasan dan bentuk kehalusan.

          Sekitar tahun 1995 di Bandung muncul lagi irama pengiring ibing penca yang termasuk unik dan baru. Irama musiknya dikenal dengan irama “Tepak Gonjing” atau “Tepak Tungbreng”. Irama ini tercipta dengan latar belakang kebutuhan dalam kejuaraan seni pencak silat tingkat nasional yang diadakan oleh IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia), di mana salah satu penilaiannya adalah variasi dalam irama pengiring ibing penca. Saat itu Ketua Pengda IPSI Jawa Barat H. Suhana Budjana meminta kepada para guru pencak silat dan para nayaganya untuk membuat kreasi baru dalam iringan musik pencak silat.

          Permintaan itu direspons dengan berkumpulnya sejumlah tokoh dan pendekar pencak silat dan beberapa seniman Sunda untuk merumuskan pola irama baru. Melalui proses yang tidak terlalu lama maka terciptalah irama Tungbreng atau Gonjing yang memiliki pola tabuhan khas. Kata tungbreng diambil dari bunyi yang dihasilkan oleh alat tabuhannya. Selain mempertahankan ensambel kendang penca yang asli seperti gendang, tarompet dan gong, dalam irama gonjing ditambah beberapa ensambel pelengkap yang terdiri dari kecrek, bonang, dan bedug. Kadang-kadang untuk kebutuhan suasana tertentu dipakai juga kacapi dan suling.

          Walaupun pada awalnya Tepak Gonjing menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan penggemar pencak silat, namun lambat laun akhirnya dapat diterima. Para pesilat anak-anak dan remaja kebanyakan lebih menyukai irama ini untuk mengiringi ibingannya dengan alasan lebih dinamis.

          Munculnya Tepak Tungbreng sebagai karya baru dalam blantika ibing penca dianggap sebagai prestasi bagi para tokoh, pendekar, dan seniman yang berkiprah di dunia persilatan Jawa Barat. Hal ini terbukti dengan adanya fenomena penampilan Tepak Tungbreng di setiap pasanggiri atau festival pencak silat di Bandung, bahkan di Jawa Barat. Tepak Tungbreng kini sudah menyebar dari Bandung ke daerah-daerah lain di Jawa Barat.

          9. Penutup

          Ibing penca harus dipandang sebagai bagian integral dari suatu ilmu pencak silat di suatu perguruan, sehingga akan banyak manfaat yang bisa diambil dari mempelajari ibing penca. Keberadaan ibing penca di perguruan pencak silat tergantung pada kebijakan perguruan itu sendiri. Jika secara tradisi di suatu perguruan diajarkan ibing penca, maka hal itu patut dilestarikan keberadaanya bahkan harus lebih dikembangkan lagi dengan menciptakan ibingan-ibingan penca yang baru disesuaikan dengan kebutuhan. Bagi perguruan yang tidak memiliki tradisi ibing penca tidak usah memaksakan diri agar ada materi ibing penca, namun jika ingin mencoba sebenarnya bisa saja dengan cara menyusun ibing penca dengan menggunakan patokan irama yang sudah baku atau dengan memodifikasi irama tertentu.

          Ibing penca jika ditempatkan pada tempat semestinya akan banyak manfaatnya yang bisa diambil. Namun paling tidak, dengan mempelajari ibing penca kita sudah turut melestarikan salah satu seni budaya peninggalan para pendekar pendahulu kita.

          Graspuzi 16022011

          dikutip dari:
          facebook Gending Raspuzi




          Tags: , , ,


          Artikel Ibing Penca dan Beladiri Pencak Silat yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


            - Powered by BING [2014-02-28 19:00]

            Comments are closed.

            Ibing Penca dan Beladiri Pencak Silat - Silat Indonesia

            Ibing Penca dan Beladiri Pencak Silat.

                [
            in English ]

            Feb 23rd, 2011 | By | Category: Artikel Silat [ in English ]

            IBING PENCA DAN BELADIRI PENCAK SILAT
            ANTARA KEMBANG DAN BUAH
            “Mesek cangkang tembong eusi, layu kembang bijil buah

            Disampaikan pada Seminar Pencak Silat Tradisional dalam Persfektif Budaya dan Sejarah
            17 Februari 2011 di Universitas Indonesia

            1. Pendahuluan

            gending-raspuzi-01Di Jawa Barat, di samping dikenal adanya pencak sebagai bela diri, yang disebut dengan ‘buah’ atau ‘eusi’ (isi), dikenal pula pencak silat ‘kembang’ (bunga) atau ‘ibing penca’ (tari pencak). Begitu eratnya hubungan batin masyarakat Jawa Barat dengan seni pencak silat (kembang), hingga  banyak anggota masyarakat Jawa Barat yang menghubungkan kata pencak tidak dengan bela diri, akan tetapi dengan Ibing Penca.

            Istilah Ibing Penca memang berasal dari Jawa Barat. Secara harfiah Ibing Penca dapat diterjemahkan menjadi Tari Pencak. Tapi para tokoh pencak silat di Jawa Barat kurang setuju jika ibing penca disebut tari pencak, karena kata “tari” cenderung lebih menitik beratkan pada unsur tarinya, yaitu suatu seni yang menampilkan keindahan gerak meskipun gerakannya diambil dari unsur-unsur pencak silat. Sedangkan “ibing penca” lebih menitikberatkan pada unsur pencak silat, yaitu gerak yang memiliki fungsi serang bela, walaupun tidak dapat disangkal di dalamnya juga mengandung unsur-unsur keindahan.

            Ada sebagian orang berpendapat bahwa Ibing Penca adalah bagian dari pencak silat dan bisa digunakan sebagai software untuk membela diri jika dilatih dengan rutin, namun ada juga yang berpendapat bahwa Ibing Penca bukanlah pencak silat, melainkan hanya sebatas seni tari dalam bentuk gerakan pencak silat dan tidak bisa digunakan untuk membela diri meskipun dilatih dengan serius dan tekun. Di sisi lain ada juga yang berpendapat bahwa belajar Ibing Penca jika mengerti aplikasi dari setiap gerakan akan bisa dijadikan alat membela diri, sebab Ibing Penca merupakan gabungan rangkaian gerak membela diri hanya saja di iringi musik (jika dipertontonkan), namun dalam praktik latihan sehari-harinya tidak.

            Dari sinilah timbul persoalan, apakah sebenarnya Ibing Penca berguna untuk membela diri atau hanya sekedar tarian yang tidak ada hubungannya dengan kemahiran beladiri.

            2. Pencak Silat dan Tari

            Pencak silat di Indonesia memiliki bermacam bentuk dan ragam yang lahir, hidup dan berkembang di masing-masing aliran dan perguruan pencak silat. Pada mulanya pencak silat diciptakan untuk membela diri, namun dalam perkembangannya, pencak silat dapat juga dijadikan sebagai sumber keindahan bentuk, gerak, irama dan ekspresi yang melukiskan adegan serang bela menggunakan tangan kosong maupun senjata.

            Pencak silat dan tari merupakan satu ekspresi yang berkaitan dan saling mengisi, karena keduanya menggunakan tubuh manusia sebagai materi pokok, di samping ketajaman pikiran dan perasaan yang selalu berdampingan sewaktu melaksanakan pencak silat atau menari, ditambah dengan ketahanan fisik dan keuletan menggarap teknis pencak silat dan tari. Banyak pakar tari yang merasakan kebutuhan untuk belajar pencak silat yang ternyata besar sekali manfaatnya bagi seorang penari.

            Persamaan Pencak dan tari adalah keduanya menggunakan tubuh beserta bagian-bagian dari anggota badan manusia sebagai materi utama. Pembinaan fisik dan ekspresi banyak persamaannya, hanya penggunaannya yang berbeda. Pencak silat adalah olah tubuh dari rasa yang dipergunakan untuk membela diri, sedangkan tari adalah olah tubuh untuk mengekspresikan suatu keindahan yang bersifat spiritual dan melahirkan suasana yang semuanya lahir karena tradisi atau dari jiwa para seniman.

            Pembinaan tubuh dan penguasaaan teknik gerak untuk pencak silat dan tari membutuhkan waktu dan ketekunan berlatih fisik secara kontinyu, karena ketahanan fisik merupakan syarat utama. Ketahanan dari teknik pernafasan, keterampilan gerak, juga keindahan gerak dan keluwesannya ada di dalam pencak silat dan tari. Gerak berat, ringan, tegang, lemah, cepat, pelan, dan berirama merupakan sarana-sarana latihan teknik tubuh yang harus dilaksanakan dengan baik dan teratur bagi seorang pesilat dan penari.

            Keindahan langkah kaki, gerak tangan kontinyu, posisi yang pasti, ketenangan dan ledakan-ledakan ekspresi gerak di samping kelembutan ada pada pencak silat dan tari. Maka pengaruh timbal balik antara pencak sebagai beladiri dengan tari telah ada pada seni tari di Indonesia.

            3. Asal Mula Ibing Penca

            Sejak kapan dan apa yang melatarbelakangi munculnya ibing penca? Hal ini memerlukan penelitian yang mendalam. Ada beberapa sumber yang mengatakan bahwa ibing penca diciptakan sebagai kamuflase dari beladiri yang dilarang pada zaman penjajahan Belanda, di mana dinyatakan bahwa pada saat itu para pendekar yang ingin menyebarkan pencak silat terbentur pada larangan yang dikeluarkan oleh pemerintahan kolonial, sehingga untuk menyiasatinya dibuatlah ibing penca agar pencak silat tetap boleh diajarkan. Ibing penca ditampilkan kepada masyarakat umum sedangkan beladirinya tetap diajarkan secara sembunyi-sembunyi. Untuk kasus-kasus tertentu hal ini mungkin ada benarnya, namun bagi kasus yang lain pendapat ini belum tentu tepat.

            Pada awalnya aspek pencak silat yang pertama lahir adalah aspek beladiri. Situasi dan kondisi pada suatu masa secara alamiah menyebabkan manusia selalui menyesuaikan diri dengan alam dan lingkungannya,  naluri untuk menjaga eksistensi diri dan kelompoknya menimbulkan upaya agar kelompoknya lebih kuat dari kelompok yang lain. Bersama itu pula timbul kebutuhan untuk menciptakan alat pembelaan diri yang efektif, mulai dari menciptakan senjata dan menciptakan berbagai teknik perkelahian. Pada suatu masa yang mengharuskan orang mampu membela diri secara fisik, menyebabkan tumbuh suburnya bebagai jenis aliran beladiri. Dalam hal ini aliran-aliran pencak silat.

            Namun perlu diingat bahwa selain memiliki naluri mempertahankan diri, manusia pun memiliki naluri untuk menyukai keindahan. Dari berbagai hal yang ada di sekelilingnya, manusia mampu menciptakan berbagai bentuk keindahan melalui seni. Ketika manusia menemukan alat yang dapat digunakan sebagai senjata, dengan alat itu pula mereka menciptakan karya seni pahatan. Ketika manusia memahami adanya nada dalam bunyi, maka manusia menciptakan musik dan nyanyian. Demikian pula halnya ketika di menyadari bahwa di dalam gerak terdapat keindahan, maka muncullah berbagai jenis tarian. Dari mana inspirasi membuat tarian itu? Salah satunya adalah dari teknik beladiri yang telah dikuasai sebelumnya. Ketika pencak silat tidak banyak lagi digunakan sebagai alat untuk membela diri, maka aspek lain dapat digali, seperti aspek olah raga dan seni. Dari sinilah ibing penca itu muncul. Ia tercipta dari kebutuhan manusia yang gandrung akan keindahan melalui medium gerak.

            Di Jawa Barat pencak silat banyak mempengaruhi kesenian lain, khususnya tari rakyat. Contoh seni yang dipengaruhi pencak silat: Ketuk Tilu, Jaipongan, Cikeruhan, Sisingaan, Kuda Renggong. Pada awalnya ketika seorang pria sedang kaul Ketuk tilu, maka gerakan yang digunakan adalah gerak improvisasi yang diambil dari jurus-jurus pencak silat

            Banyak koreografer tari yang memiliki latar belakang pencak silat, di antaranya adalah R. Tjetje Somantri, maestro Tari Keurseus, dan Gugum Gumbira, maestro Jaipongan. Dengan dasar pemikiran bahwa pencak silat merupakan salah satu sumber bagi jenis kesenian lainnya, maka STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Bandung memasukkan mata kuliah pencak silat selama 4 SKS dalam dua semester.

            Meskipun Ketuk Tilu, Jaipongan atau jenis kesenian lainnya bersumber dari gerakan pencak silat tetapi tidak otomatis disebut sebagai tari pencak silat, karena fungsinya sudah berbeda yakni menjadi alat hiburan semata. Berbeda halnya dengan Ibing Penca, bagi perguruan pencak silat yang di dalamnya terdapat materi Ibing Penca, tentu saja ibing penca dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari ilmu pencak silat.

            Jika kita melihat berbagai jenis aliran pencak silat ‘buhun’, jarang sekali di dalamnya terdapat pelajaran ibing penca (kecuali Cimande). Hal ini membuktikan bahwa pada awalnya aliran-aliran pencak silat lebih mengutamakan aspek beladiri daripada aspek seni. Atau dengan kata lain ibing penca muncul belakangan setelah ada beladiri pencak silat.

            Seni Ibing Penca tumbuh subur berkembang di perguruan pencak silat, bukan di aliran asalnya. Sebagai contoh, aliran Cikalong tidak mengenal ibing penca, tetapi Gan Didi Muhtadi, salah seorang tokoh Maenpo Cikalong dari Pasar Baru Cianjur melalui perguruannya Pusaka Siliwangi mengembangkan ibing penca sehingga Gan Didi lebih dikenal sebagai guru ibing penca dari pada guru maenpo. Kemampuannya dalam menciptakan dan mengajarkan ibing penca merupakan hal yang jarang ditemui pada guru-guru maenpo di Cianjur yang hidup pada masa itu.

            Contoh yang lain, Himpunan Pencak Silat Panglipur yang didirikan Abah Aleh adalah perguruan yang sekarang dikenal dengan kekayaan dan keindahan dalam ibing penca, padahal dari sejarah Panglipur dapat dilihat bahwa guru-guru Abah Aleh adalah pendekar dari berbagai aliran pencak silat yang mumpuni dalam aspek beladiri, bukan dalam aspek seni. Namun Abah Aleh sendiri yang mengolahnya menjadi berbagai bentuk ibing penca.

            Ibing penca dapat berkembang di perguruan bukan di aliran pencak silat, hal ini terjadi karena biasanya pada suatu aliran pencak silat sudah terdapat aturan baku baik dari segi filosofis maupun teknis yang tidak boleh diubah, ditambah maupun dikurangi oleh para pengikutnya. Berbeda halnya dengan di perguruan pencak silat yang dipimpin oleh pendekar yang biasanya sudah mempelajari berbagai aliran, sehingga memiliki wawasan yang luas dan tidak terlalu kaku dalam mengembangkan pencak silat. Di dalam suatu perguruan biasanya teknik-teknik dari berbagai aliran selain tetap dipertahankan keasliannya namun tidak menutup kemungkinan kemudian dicoba dicampur sehingga menjadi bentuk baru yang menjadi ciri khas perguruan itu. Di sinilah banyak terjadi pengolahan teknik, termasuk pengolahan aspek seni dalam bentuk ibing penca.

            4. Jurus yang Terdapat dalam Ibing Penca

            Di dalam ibing penca terdapat jurus-jurus pencak silat. Namun, sebenarnya jenis jurus seperti apa yang digunakan dalam ibing penca? Pertama-tama harus dibedakan terlebih dahulu antara Gerak Dasar, Jurus Dasar, Jurus Inti, dan Jurus Kajadian.

            Gerak Dasar adalah unsur yang paling kecil dalam suatu gerak. Misalnya ketika seorang pesilat melakukan satu gerak langkah serong sambil melakukan tangkisan sekaligus pukulan, maka di dalamnya terdapat beberapa gerak dasar, yaitu kuda-kuda serong, langkah serong, tangkisan, dan pukulan.

            Jurus Dasar adalah jurus yang digunakan pada tahap awal berlatih di suatu perguruan atau aliran sebagai fondasi untuk materi lanjutan. Satu jurus dasar bisa terdiri dari satu gerakan, satu rangkaian pendek, bahkan bisa juga berupa rangkaian panjang. Sifat dari jurus dasar ini terbagi menjadi dua, yaitu:

            Jurus Inti, yang di dalamnya terdapat prinsip-prinsip atau kaidah pencak silat yang dianut oleh suatu aliran atau perguruan. Sepintas jurus inti tidak bisa diduga bagaimana aplikasinya dalam suatu perkelahian tanpa keterangan dari guru. Biasanya jurus inti jumlahnya tidak terlalu banyak, namun dari jurus yang sedikit itu aplikasinya menjadi tidak terbatas jumlahnya.Sebagai contoh, aliran yang menggunakan jurus inti pada jurus dasarnya adalah Sabandar Jurus Lima, Cikalong, Suliwa, Maenpo Peupeuhan, dan Timbangan.

            Jurus Kajadian, yaitu jurus dasar yang bisa langsung diaplikasikan dalam bentuk serang bela. Biasanya jurus dasar seperti ini bisa langsung dilakukan oleh dua orang pesilat yang saling berhadapan tanpa mengubah gerakan dari jurus dasar tersebut. Contoh aliran atau perguruan yang menggunakan metode ini adalah Cimande, Jurus Kajadian Maenpo, Panglipur, Pager Kancana, dan Budhi Kancana.

            Dari Jurus Inti sebenarnya bisa dikembangkan menjadi berbagai Jurus Kajadian setelah jurus inti tersebut diaplikasikan dalam teknik serang bela. Sebagai contoh, Rd. Abad M. Sirod seorang tokoh maenpo Cikalong yang pada awalnya ia menerima Jurus Inti dari gurunya (Rd. Busrin) namun kemudian menciptakan 27 Jurus Kajadian dan 3 Jurus Maksud dengan alasan untuk mempermudah proses belajar mengajar. Menurutnya, dengan mengajarkan Jurus Kajadian murid-muridnya bisa langsung mengerti aplikasi dari setiap jurusnya.

            Jadi Ibing Penca sebenarnya adalah rangkaian jurus kajadian yang disusun sedemikian rupa sehingga memenuhi unsur estetika tanpa meninggalkan makna serang bela dalam setiap gerakannya. Ibing penca yang baik harus dapat menggambarkan suatu bentuk teknik perkelahian seolah-olah pesilat tersebut sedang berhadapan dengan lawan.

            5. Struktur Koreografi dan Karawitan pada Ibing Penca di Jawa Barat

            a. Koreografi Ibing Penca

            Sikap dan  gerakan dalam pencak silat sebagai beladiri dilakukan untuk melindungi diri dan menyerang, sedangkan dalam ibing penca sikap dan gerak dilakukan untuk kenikmatan penari yang bergerak mengikuti irama karawitan dan untuk kenikmatan yang menonton ibing penca. Mudah dipahami kalau gerakan dan sikap dalam ibing penca, walaupun bersumber pada beladiri namun memiliki perbedaan-perbedaan. Pada umumnya sikap dan gerakan dalam ibing penca lebih terbuka, lebih distilasi dan dilakukan dalam irama yang metrikal.

            Di dalam Ibing Penca di Jawa Barat terdapat pola koreografis yang umum, yaitu sebagai berikut:

            1)      Bagian pertama: Tepak Dua atau Paleredan, lebih memperlihatkan unsur keindahan.

            2)      Bagian kedua: Tepak Tilu atau Golempang, memperlihatkan teknik serang bela yang masih terikat pada ketukan irama.

            3)      Bagian ketiga: Padungdung, di sini pesilat berimprovisasi secara bebas sesuai dengan imajinasinya ketika itu.

            Berdasarkan koreografi itu, ibing pencak adalah salah satu jenis kesenian yang kaya segi kreatifitasnya karena masing-masing perguruan memiliki gerakan ibing penca yang berbeda walaupun berpatokan pada irama yang sama. Dapat dipahami, ibing penca merupakan tari yang paling populer dan paling banyak penggemarnya di Jawa Barat.

            Koreografi bagian pertama biasanya sangat kental dengan jurus-jurus yang berasal dari aliran Cimande, karena sifat geraknya lebih terbuka sehingga cocok dibawakan dengan tempo yang lambat. Contohnya adalah sebagai berikut:

            • Tepak Dua Salancar
            • Tepak Dua Sorong Dayung.
            • Tepak Dua Buang Kelid.
            • Tepak Dua Kampung Baru
            • Paleredan Jalak Pengkor
            • Paleredan Sawitan
            • Paleredan Pancer Opat

            Koreografi bagian kedua lebih banyak bersumber pada aliran Cikalong, Sabandar, dan Sera. Contohnya adalah sebagai berikut:

            • Tepak Tilu Cikalong
            • Tepak Tilu Jalan Muka
            • Tepak Tilu Alip Bandul
            • Tepak Tilu Peunggasan
            • Tepak Tilu Gerak Seta

            Koreografi bagian ketiga memperlihatkan jurus kajadian (jurus aplikasi) yang memperlihatkan teknik-teknik serang bela yang dilakukan dengan kecepatan yang sebenarnya dan yang pada awal perkembangannya bersifat improvisasi. Namun saat ini irama padungdung pun diisi dengan gerakan yang telah ditentukan sebelumnya, bukan improvisasi lagi. Contohnya adalah sebagai berikut:

            • Si Pecut
            • Pecah Alip
            • Pecah Gunting
            • Likuran
            • Si Pitung

            Saat ini banyak koreografi yang merupakan variasi atau gabungan dari aliran-aliran Cimande, Cikalong, Sabandar, Sera dan aliran yang lain. Ibing pencak yang banyak diajarkan di perguruan-perguruan pencak silat seperti di Panglipur, Pager Kancana, Kusuma Harapan, Domas, dan yang perguruan lainnya biasanya sudah merupakan olahan dari berbagai macam aliran yang dipelajari di perguruan yang bersangkutan.

            Ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan dalam memperagakan ibing penca, yaitu:

            Pertama, unsur kekayaan gerak (wiraga) yaitu kekayaan gerak atau jurus-jurus yang dimiliki oleh seorang pesilat selama belajar di perguruannya, sehingga penampilannya menjadi tidak monoton atau membosankan apabila tampil di atas pentas, terutama dalam pertandingan seni pencak silat. Tetapi apabila dalam acara spontanitas pada suatu hajatan misalnya, unsur kekayaan gerak tidak begitu diperhatikan pesilat. Yang penting pesilat mampu memperagakan gerakannya dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah pencak silat karena tidak terikat oleh sistem penilaian dari juri seperti dalam pelaksanaan pertandingan pencak silat seni.

            Kedua, unsur irama (wirahma) atau musik, unsur inilah yang membedakan aspek seni dengan aspek yang lain dalam pencak silat. Seorang pengibing penca harus mampu menyerasikan gerak dengan musik pengiringnya. Pengolahan irama yang variatif dan dinamis memiliki nilai lebih bagi seorang pesilat dalam membawakan ibingannya.

            Ketiga, unsur penjiwaan gerak (wirasa) yaitu salah satu unsur yang penting dimiliki oleh seorang pengibing penca. Penjiwaan gerak yang mantap sangat dipengaruhi oleh pemahaman pesilat terhadap setiap gerakan yang ditampilkannya. Oleh karena itu, pesilat dituntut harus menguasai arti dan makna gerak pencak silat yang sebenarnya, serta mengerti maksud dan tujuan dari jurus-jurus dan teknik-teknik pencak silat yang dipelajarinya.

            b. Karawitan

            Walaupun di daerah-daerah tertentu di Jawa Barat terdapat musik pengiring khas ibing penca seperti Patingtung di Banten, dan Terebang di Cirebon namun pada umumnya untuk mengiringi ibing penca dibutuhkan suatu ensembel yang disebut ‘kendang penca’. Ensembel ini sangat mendukung suasana ibing penca yang pada dasarnya merupakan tari perang atau tari perkelahian. Musik kendang penca kadang-kadang bersuasana menantang misalnya pada lagu Kembang Beureum atau Buah Kawung atau bersuasana do’a yaitu pada Kidung.

            Gendang pencak dimainkan oleh empat orang penabuh (nayaga/wiyaga). Mereka mempunyai tugas masing-masing dalam pelaksanaannya. Penabuh kendang pencak silat yang sudah berpengalaman selain mampu mengiringi ibing pencak silat yang sudah dirancang sebelumnya, ia pun mampu mengiringi gerakan-gerakan yang tidak dirancang sebelumnya.

            Adapun waditra (instrumen) yang terdapat di dalam kendang penca adalah sebagai berikut:

            1. Dua buah kendang besar (kendang indung dan kendang anak) dilengkapi dua buah kendang kecil (kulanter). Kendang bertugas mengisi gerak dan mengatur tempo.
            2. Sebuah terompet sebagai pembawa melodi
            3. Sebuah gong kecil (bende, kempul) sebagai pengatur irama, penegas tesis lagu.

            Jenis pukulan kendang yang juga tidak dapat dipisahkan dari jenis irama pada dasarnya adalah sebagai berikut:

            1. Tepak Dua. Motif-motif pukulan kendang untuk tempo lambat. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Kembang Gadung, Ayun Ambing, Polos, Gedong Panjang, Kendor Kulon, Tunggul Kawung, Bata Rubuh, Kidung, Sorong Dayung.
            2. Paleredan. Motif-motif pukulan kendang untuk tempo lambat. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Ayun Ambing, Bela pati, Sasalimpetan, Buah Kawung, Karawangan, Gendu, Gaya, Sari.
            3. Tepak Tilu. Motif-motif pukulan dengan tempo sedang. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Ucing-ucingan, Kembang Beureum, Bardin, Sintren, Papare, Bendrong Petit, Gendu, Kapuk Kapas, Garungan, Joher, Mainang, Kacang Asin, Oyong-oyong Bangkong.
            4. Golempang. Motif-motif lebih cepat daripada Tepak Tilu. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Kembang Beureum, Kacang Asin.
            5. Padungdung. Motif pukulan dengan tempo paling cepat. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Kidung, Kolear, Leang-leang, Ceurik Rahwana.

            6. Kapan Ibing Penca Diajarkan?

            Penempatan pelajaran ibing penca di setiap perguruan tidak sama. Ada yang ditempatkan di awal, ada pula yang ditempatkan di akhir. Lebih jelasnya proses belajar di perguruan pencak silat yang di dalamnya ada materi ibing penca adalah sebagai berikut:

            1. Jurus dasar – ibing penca – beladiri (Contoh: Panglipur, Pager Kancana, Budhi Kancana)
            2. Jurus dasar – beladiri – ibing penca (Contoh: Cimande)
            3. Jurus dasar – rangkaian gerak – beladiri – ibing penca (Contoh: Maenpo Peupeuhan)
            4. Ibing penca – beladiri (Contoh: Sekar Pusaka)
            5. Jurus dasar – Aplikasi jurus dasar – Rangkaian gerak – Ibing Penca – Beladiri (Contoh: Garis Paksi)

            Penempatan materi ibing penca di awal adalah strategi agar pencak silat lebih disukai oleh kalangan pesilat usia anak-anak dan remaja, karena ibing penca dapat diajarkan secara massal dan kecil kemungkinannya pesilat mengalami cidera. Di samping itu dengan ibing penca dapat digunakan dalam ajang perlombaan seni pencak silat yang diadakan oleh IPSI maupun PPSI. Sistem pengajaran seperti ini biasanya digunakan di lingkungan sekolah. Pada kasus ini, seorang pesilat yang mampu membawakan ibingan dengan baik belum tentu mahir dalam beladiri.

            Penempatan materi ibing penca di akhir bermaksud untuk penghalusan gerak jurus dan dapat digunakan sebagai alat hiburan setelah mempelajari beladiri. Pada kasus ini, seorang pesilat yang sudah berani tampil membawakan ibing penca sudah dipastikan mampu membela diri. Dahulu seorang pesilat yang melakukan ibing penca harus siap jika suatu waktu ada orang yang masuk ke gelanggang untuk  mencoba keterampilan berkelahi dengannya.

            Namun ada pula yang mengajarkan ibing penca bersamaan waktunya dengan mengajarkan beladiri. Atau ada pemisahan antara murid yang ingin mendalami ibing penca dan murid yang ingin mendalami beladiri. Sebagai contoh, di Himpunan Pencak Silat Panglipur, setelah murid menguasai 6 dasar pukulan, 9 jurus dasar, dan dua pola langkah maka bisa dilanjutkan dengan mempelajari Ibing Paleredan Pancer Opat, Tepak Tilu Jalan Muka, kemudian ditutup dengan Padungdung Si Pecut. Namun jika ingin mempelajari beladiri, maka dari jurus dasar bisa langsung mempelajari aplikasi dari setiap jurus disertai dengan pengertian kaedah-kaedahnya sehingga benar-benar mengerti dan mampu mengaplikasikannya dalam usik beladiri.

            Contoh lain, di Paguron Pusaka Siliwangi yang didirikan oleh Rd. Didi Muhtadi, jika ia mengajar ibing penca maka ia memulainya dengan mengajarkan 13 jurus dasar Cikalong, kemudian mengajarkan berbagai pola langkah dan akhirnya mengajarkan ibing penca. Namun jika ingin mengajarkan beladiri, dari jurus dilanjutkan dengan pelajaran kaedah maenpo Cikalong dan dilanjutkan dengan praktik usik-usikan atau tapelan (latihan berpasangan untuk mengolah rasa).

            7. Manfaat Ibing Penca dalam Beladiri

            Apakah ibing penca dapat digunakan untuk membeladiri? Apakah setiap pesilat yang sangat bagus membawakan ibing penca sudah pasti dapat melakukan pembelaan diri dengan baik? Jawabnya belum tentu. Seorang pesilat yang hanya belajar ibing penca atau baru belajar ibing penca pasti tidak akan bisa dijadikan sebagai alat pembelaan diri yang efektif.

            Jangankan ibing penca, pesilat yang mampu memainkan jurus ganda dengan baik belum tentu juga mampu menggunakan teknik beladiri dengan baik. (Penampilan kategori Ganda atau berpasangan adalah latihan atau peragaan berpasangan dari pesilat yang menampilkan serang bela. Di dalam ganda masing-masing pesilat saling memberi kesempatan kepada mitranya untuk menggunakan jurusnya yang sudah diatur sebelumnya).

            Ibing penca, ganda, usik/beladiri merupakan ilmu pencak silat yang memiliki perbedaan dalam tatacara berlatih dan mengaplikasikannya. Orang yang pandai ibing penca belum tentu bisa jurus ganda atau mahir beladiri. Orang yang mahir jurus ganda belum tentu bisa ibing penca atau usik beladiri yang sebenarnya. Begitu pula orang yang mahir usik beladiri belum tentu bisa ibing penca atau ganda.

            Namun apabila masing-masing dihubungkan, maka akan terlihat keterkaitan yang saling mendukung satu sama lain. Dengan mempelajari ibing penca, pesilat akan mengerti irama, menghaluskan rasa, merasakan adanya energi dari musik pengiring. Sering terlihat seorang pendekar sepuh yang sudah renta tiba-tiba menjadi jagjag waringkas ketika mendengar kendang penca dan melakukan ibing penca, tetapi kemudian kembali “normal” ketika selesai membawakan ibingannya.

            Dengan ganda pesilat belajar perbendaharaan teknik pencak silat dalam hal belaan dan serangan. Mengasah untuk saling memberi dan toleransi kepada mitranya, melatih timing yang tepat dalam bergerak. Dengan belajar usik/beladiri, kita dituntut untuk dapat menghadapi serangan apapun dalam situasi apapun. Tidak ada aturan dalam usik, tujuan utamanya adalah mampu mengalahkan lawan. Jadi semua memiliki porsinya masing-masing.

            Sebenarnya di dalam ibing penca teknis pencak silat sudah cukup lengkap, mulai dari jurus, kuda-kuda, pasang, perpindahan posisi, hingga pola langkah. Tapi memang, di dalam ibing dimasukan elemen kembangan untuk mempermanisnya, yang kadang memang lebih banyak didominasi unsur tarian. Seorang pesilat yang telah menguasai ibing penca dengan baik harus melalui tahapan tertentu dengan metode latihan tertentu pula agar mahir pula dalam membela diri, tidak cukup hanya mempelajari ibing terus menerus.

            Di Perguruan Pencak Silat Sekar Pusaka yang didirikan oleh Aki Iyat Ruchiyat, ibing penca langsung diberikan kepada murid baru, tanpa melalui tahap belajar jurus dasar. Kemudian setelah murid tersebut telah mampu menghafal dan membawakan ibing dengan benar dan bagus, maka mulailah Aki Iyat mengajarkan aplikasi yang terdapat dalam ibingan-ibingan tersebut. Istilahnya mesek cangkang tembong eusi, layu kembang bijil buah. Arti harfiahnya adalah “mengupas kulit agar terlihat isinya, layu bunga lantas muncul buahnya”. Jadi setelah ibingan itu dibuka kaidah-kaidah silatnya dengan dibarengi dengan latihan-latihan tertentu maka seorang pesilat yang ibingannya bagus dapat pula melakukan pembelaan diri dengan baik.

            Pesilat yang telah mengetahui aplikasi dari ibing penca yang dibawakannya akan lebih menghayati setiap gerakannya. Penempatan tenaga antara leuleus (lemas/rileks) dan teuas (keras) akan semakin baik, demikian juga penggunaan ekspresi akan lebih gereget karena pesilat tersebut sedang membayangkan seolah-olah sedang menghadapi lawan.

            8. Perkembangan Karawitan PencaK Silat

            Pada umumnya di Jawa Barat musik pengiring ibing penca adalah suatu ensembel yang disebut “kendang penca”, terdiri dari dua buah kendang besar dan dua buah kendang kecil (kulanter) bertugas mengisi gerak dan mengatur tempo, sebuah terompet sebagai pembawa melodi, dan sebuah gong kecil sebagai pengatur irama dan penegas tesis lagu. Jenis pukulan kendang yang tidak dapat dipisahkan dari jenis irama pada dasarnya ada empat, yaitu Tepak Dua, Tepak Tilu, Golempang, dan Padungdung.

            Karawitan pencak silat di Bandung mengalami perkembangan yang cukup dinamis. Jenis irama tidak lagi hanya berpatokan pada irama yang sudah baku, tetapi mulai berkreasi menciptakan irama baru, menambahkan beberapa waditra tambahan, bahkan menggunakan waditra yang sebelumnya tidak lazim digunakan untuk mengiringi ibing penca.

            Pada tahun 1970-an muncul ibing penca yang lebih dikenal dengan Ibing Maenpo Cianjuran yang menggunakan tembang cianjuran sebagai musik pengiringnya. Meskipun menggunakan nama “cianjuran”, namun Ibing Maenpo Cianjuran diciptakan dan kemudian berkembang di Bandung. Ibing Maenpo Cianjuran adalah hasil karya cipta seorang tokoh Maenpo asal Bandung, yaitu Adung Rais. Pada saat itu ia mencoba memadukan seni beladiri Maenpo Peupeuhan dengan seni tradisional tembang cianjuran atau dikenal dengan nama kacapi suling.

            Untuk bisa melakukan Ibing Penca ini, seorang praktisi Maenpo harus menguasai teknik Maenpo dengan baik dan memahami musik Cianjuran. Penguasaan teknik maenpo yang baik sangat penting karena Ibing Penca Cianjuran ini bersifat improvisasi sama halnya dengan musik cianjuran yang juga kaya dengan improvisasi.

            Pemahaman wirama ini menyangkut dengan bagaimana menemukan ketukan dan meletakkan gong dalam musik cianjuran. Hampir sama dengan kendang penca, misalnya dalam Tepak Paleredan atau Tepak Dua, klimaks dari satu rangkaian gerak harus berakhir tepat dengan bunyi gong. Pemahaman wirasa menyangkut unsur rasa. Penari harus tahu kapan bergerak cepat atau lambat, kapan satu hitungan menggunakan banyak jurus atau sebaliknya satu jurus dilakukan dalam tiga atau lebih hitungan, semuanya adalah improvisasi.

            Yang tidak kalah pentingnya adalah pemahaman syair. Setiap syair dan lagu cianjuran tentunya berbeda pesan, cerita dan makna. Lagu yang berbeda tentunya harus dibawakan dengan penjiwaan yang berbeda pula. Saat menari dengan Kidung atau Rajah misalnya, penari harus membawakannya dengan pembawaan yang khidmat dan tidak beringas. Lagu-lagu yang bersifat mengisahkan perang, disini bisa ditampilkan gerakan2 yang ganas, mimik wajah beringas, marah dsb, sedang untuk sinom satria, mungkin juga harus berusaha menampilkan kesan yang gagah dan agung dari seorang ksatria sunda. Bisa dikatakan, penguasaan akting yang baik akan menjadikan seorang penari Ibing Penca Cianjuran menjadi lebih mantap dalam membawakan tariannya.

            Menurut Adung Rais, bila sudah memahami dan menghayati secara maksimal maenpo dan cianjuran ini, bisa dikatakan sudah terjadi suatu keseimbangan karena telah terjadi perpaduan yang harmonis antara bentuk kekerasan dan bentuk kehalusan.

            Sekitar tahun 1995 di Bandung muncul lagi irama pengiring ibing penca yang termasuk unik dan baru. Irama musiknya dikenal dengan irama “Tepak Gonjing” atau “Tepak Tungbreng”. Irama ini tercipta dengan latar belakang kebutuhan dalam kejuaraan seni pencak silat tingkat nasional yang diadakan oleh IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia), di mana salah satu penilaiannya adalah variasi dalam irama pengiring ibing penca. Saat itu Ketua Pengda IPSI Jawa Barat H. Suhana Budjana meminta kepada para guru pencak silat dan para nayaganya untuk membuat kreasi baru dalam iringan musik pencak silat.

            Permintaan itu direspons dengan berkumpulnya sejumlah tokoh dan pendekar pencak silat dan beberapa seniman Sunda untuk merumuskan pola irama baru. Melalui proses yang tidak terlalu lama maka terciptalah irama Tungbreng atau Gonjing yang memiliki pola tabuhan khas. Kata tungbreng diambil dari bunyi yang dihasilkan oleh alat tabuhannya. Selain mempertahankan ensambel kendang penca yang asli seperti gendang, tarompet dan gong, dalam irama gonjing ditambah beberapa ensambel pelengkap yang terdiri dari kecrek, bonang, dan bedug. Kadang-kadang untuk kebutuhan suasana tertentu dipakai juga kacapi dan suling.

            Walaupun pada awalnya Tepak Gonjing menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan penggemar pencak silat, namun lambat laun akhirnya dapat diterima. Para pesilat anak-anak dan remaja kebanyakan lebih menyukai irama ini untuk mengiringi ibingannya dengan alasan lebih dinamis.

            Munculnya Tepak Tungbreng sebagai karya baru dalam blantika ibing penca dianggap sebagai prestasi bagi para tokoh, pendekar, dan seniman yang berkiprah di dunia persilatan Jawa Barat. Hal ini terbukti dengan adanya fenomena penampilan Tepak Tungbreng di setiap pasanggiri atau festival pencak silat di Bandung, bahkan di Jawa Barat. Tepak Tungbreng kini sudah menyebar dari Bandung ke daerah-daerah lain di Jawa Barat.

            9. Penutup

            Ibing penca harus dipandang sebagai bagian integral dari suatu ilmu pencak silat di suatu perguruan, sehingga akan banyak manfaat yang bisa diambil dari mempelajari ibing penca. Keberadaan ibing penca di perguruan pencak silat tergantung pada kebijakan perguruan itu sendiri. Jika secara tradisi di suatu perguruan diajarkan ibing penca, maka hal itu patut dilestarikan keberadaanya bahkan harus lebih dikembangkan lagi dengan menciptakan ibingan-ibingan penca yang baru disesuaikan dengan kebutuhan. Bagi perguruan yang tidak memiliki tradisi ibing penca tidak usah memaksakan diri agar ada materi ibing penca, namun jika ingin mencoba sebenarnya bisa saja dengan cara menyusun ibing penca dengan menggunakan patokan irama yang sudah baku atau dengan memodifikasi irama tertentu.

            Ibing penca jika ditempatkan pada tempat semestinya akan banyak manfaatnya yang bisa diambil. Namun paling tidak, dengan mempelajari ibing penca kita sudah turut melestarikan salah satu seni budaya peninggalan para pendekar pendahulu kita.

            Graspuzi 16022011

            dikutip dari:
            facebook Gending Raspuzi




            Tags: , , ,


            Artikel Ibing Penca dan Beladiri Pencak Silat yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


              - Powered by BING [2014-03-04 07:50]

              Comments are closed.

              Ibing Penca dan Beladiri Pencak Silat - Silat Indonesia

              Ibing Penca dan Beladiri Pencak Silat.

                  [
              in English ]

              Feb 23rd, 2011 | By | Category: Artikel Silat [ in English ]

              IBING PENCA DAN BELADIRI PENCAK SILAT
              ANTARA KEMBANG DAN BUAH
              “Mesek cangkang tembong eusi, layu kembang bijil buah

              Disampaikan pada Seminar Pencak Silat Tradisional dalam Persfektif Budaya dan Sejarah
              17 Februari 2011 di Universitas Indonesia

              1. Pendahuluan

              gending-raspuzi-01Di Jawa Barat, di samping dikenal adanya pencak sebagai bela diri, yang disebut dengan ‘buah’ atau ‘eusi’ (isi), dikenal pula pencak silat ‘kembang’ (bunga) atau ‘ibing penca’ (tari pencak). Begitu eratnya hubungan batin masyarakat Jawa Barat dengan seni pencak silat (kembang), hingga  banyak anggota masyarakat Jawa Barat yang menghubungkan kata pencak tidak dengan bela diri, akan tetapi dengan Ibing Penca.

              Istilah Ibing Penca memang berasal dari Jawa Barat. Secara harfiah Ibing Penca dapat diterjemahkan menjadi Tari Pencak. Tapi para tokoh pencak silat di Jawa Barat kurang setuju jika ibing penca disebut tari pencak, karena kata “tari” cenderung lebih menitik beratkan pada unsur tarinya, yaitu suatu seni yang menampilkan keindahan gerak meskipun gerakannya diambil dari unsur-unsur pencak silat. Sedangkan “ibing penca” lebih menitikberatkan pada unsur pencak silat, yaitu gerak yang memiliki fungsi serang bela, walaupun tidak dapat disangkal di dalamnya juga mengandung unsur-unsur keindahan.

              Ada sebagian orang berpendapat bahwa Ibing Penca adalah bagian dari pencak silat dan bisa digunakan sebagai software untuk membela diri jika dilatih dengan rutin, namun ada juga yang berpendapat bahwa Ibing Penca bukanlah pencak silat, melainkan hanya sebatas seni tari dalam bentuk gerakan pencak silat dan tidak bisa digunakan untuk membela diri meskipun dilatih dengan serius dan tekun. Di sisi lain ada juga yang berpendapat bahwa belajar Ibing Penca jika mengerti aplikasi dari setiap gerakan akan bisa dijadikan alat membela diri, sebab Ibing Penca merupakan gabungan rangkaian gerak membela diri hanya saja di iringi musik (jika dipertontonkan), namun dalam praktik latihan sehari-harinya tidak.

              Dari sinilah timbul persoalan, apakah sebenarnya Ibing Penca berguna untuk membela diri atau hanya sekedar tarian yang tidak ada hubungannya dengan kemahiran beladiri.

              2. Pencak Silat dan Tari

              Pencak silat di Indonesia memiliki bermacam bentuk dan ragam yang lahir, hidup dan berkembang di masing-masing aliran dan perguruan pencak silat. Pada mulanya pencak silat diciptakan untuk membela diri, namun dalam perkembangannya, pencak silat dapat juga dijadikan sebagai sumber keindahan bentuk, gerak, irama dan ekspresi yang melukiskan adegan serang bela menggunakan tangan kosong maupun senjata.

              Pencak silat dan tari merupakan satu ekspresi yang berkaitan dan saling mengisi, karena keduanya menggunakan tubuh manusia sebagai materi pokok, di samping ketajaman pikiran dan perasaan yang selalu berdampingan sewaktu melaksanakan pencak silat atau menari, ditambah dengan ketahanan fisik dan keuletan menggarap teknis pencak silat dan tari. Banyak pakar tari yang merasakan kebutuhan untuk belajar pencak silat yang ternyata besar sekali manfaatnya bagi seorang penari.

              Persamaan Pencak dan tari adalah keduanya menggunakan tubuh beserta bagian-bagian dari anggota badan manusia sebagai materi utama. Pembinaan fisik dan ekspresi banyak persamaannya, hanya penggunaannya yang berbeda. Pencak silat adalah olah tubuh dari rasa yang dipergunakan untuk membela diri, sedangkan tari adalah olah tubuh untuk mengekspresikan suatu keindahan yang bersifat spiritual dan melahirkan suasana yang semuanya lahir karena tradisi atau dari jiwa para seniman.

              Pembinaan tubuh dan penguasaaan teknik gerak untuk pencak silat dan tari membutuhkan waktu dan ketekunan berlatih fisik secara kontinyu, karena ketahanan fisik merupakan syarat utama. Ketahanan dari teknik pernafasan, keterampilan gerak, juga keindahan gerak dan keluwesannya ada di dalam pencak silat dan tari. Gerak berat, ringan, tegang, lemah, cepat, pelan, dan berirama merupakan sarana-sarana latihan teknik tubuh yang harus dilaksanakan dengan baik dan teratur bagi seorang pesilat dan penari.

              Keindahan langkah kaki, gerak tangan kontinyu, posisi yang pasti, ketenangan dan ledakan-ledakan ekspresi gerak di samping kelembutan ada pada pencak silat dan tari. Maka pengaruh timbal balik antara pencak sebagai beladiri dengan tari telah ada pada seni tari di Indonesia.

              3. Asal Mula Ibing Penca

              Sejak kapan dan apa yang melatarbelakangi munculnya ibing penca? Hal ini memerlukan penelitian yang mendalam. Ada beberapa sumber yang mengatakan bahwa ibing penca diciptakan sebagai kamuflase dari beladiri yang dilarang pada zaman penjajahan Belanda, di mana dinyatakan bahwa pada saat itu para pendekar yang ingin menyebarkan pencak silat terbentur pada larangan yang dikeluarkan oleh pemerintahan kolonial, sehingga untuk menyiasatinya dibuatlah ibing penca agar pencak silat tetap boleh diajarkan. Ibing penca ditampilkan kepada masyarakat umum sedangkan beladirinya tetap diajarkan secara sembunyi-sembunyi. Untuk kasus-kasus tertentu hal ini mungkin ada benarnya, namun bagi kasus yang lain pendapat ini belum tentu tepat.

              Pada awalnya aspek pencak silat yang pertama lahir adalah aspek beladiri. Situasi dan kondisi pada suatu masa secara alamiah menyebabkan manusia selalui menyesuaikan diri dengan alam dan lingkungannya,  naluri untuk menjaga eksistensi diri dan kelompoknya menimbulkan upaya agar kelompoknya lebih kuat dari kelompok yang lain. Bersama itu pula timbul kebutuhan untuk menciptakan alat pembelaan diri yang efektif, mulai dari menciptakan senjata dan menciptakan berbagai teknik perkelahian. Pada suatu masa yang mengharuskan orang mampu membela diri secara fisik, menyebabkan tumbuh suburnya bebagai jenis aliran beladiri. Dalam hal ini aliran-aliran pencak silat.

              Namun perlu diingat bahwa selain memiliki naluri mempertahankan diri, manusia pun memiliki naluri untuk menyukai keindahan. Dari berbagai hal yang ada di sekelilingnya, manusia mampu menciptakan berbagai bentuk keindahan melalui seni. Ketika manusia menemukan alat yang dapat digunakan sebagai senjata, dengan alat itu pula mereka menciptakan karya seni pahatan. Ketika manusia memahami adanya nada dalam bunyi, maka manusia menciptakan musik dan nyanyian. Demikian pula halnya ketika di menyadari bahwa di dalam gerak terdapat keindahan, maka muncullah berbagai jenis tarian. Dari mana inspirasi membuat tarian itu? Salah satunya adalah dari teknik beladiri yang telah dikuasai sebelumnya. Ketika pencak silat tidak banyak lagi digunakan sebagai alat untuk membela diri, maka aspek lain dapat digali, seperti aspek olah raga dan seni. Dari sinilah ibing penca itu muncul. Ia tercipta dari kebutuhan manusia yang gandrung akan keindahan melalui medium gerak.

              Di Jawa Barat pencak silat banyak mempengaruhi kesenian lain, khususnya tari rakyat. Contoh seni yang dipengaruhi pencak silat: Ketuk Tilu, Jaipongan, Cikeruhan, Sisingaan, Kuda Renggong. Pada awalnya ketika seorang pria sedang kaul Ketuk tilu, maka gerakan yang digunakan adalah gerak improvisasi yang diambil dari jurus-jurus pencak silat

              Banyak koreografer tari yang memiliki latar belakang pencak silat, di antaranya adalah R. Tjetje Somantri, maestro Tari Keurseus, dan Gugum Gumbira, maestro Jaipongan. Dengan dasar pemikiran bahwa pencak silat merupakan salah satu sumber bagi jenis kesenian lainnya, maka STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Bandung memasukkan mata kuliah pencak silat selama 4 SKS dalam dua semester.

              Meskipun Ketuk Tilu, Jaipongan atau jenis kesenian lainnya bersumber dari gerakan pencak silat tetapi tidak otomatis disebut sebagai tari pencak silat, karena fungsinya sudah berbeda yakni menjadi alat hiburan semata. Berbeda halnya dengan Ibing Penca, bagi perguruan pencak silat yang di dalamnya terdapat materi Ibing Penca, tentu saja ibing penca dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari ilmu pencak silat.

              Jika kita melihat berbagai jenis aliran pencak silat ‘buhun’, jarang sekali di dalamnya terdapat pelajaran ibing penca (kecuali Cimande). Hal ini membuktikan bahwa pada awalnya aliran-aliran pencak silat lebih mengutamakan aspek beladiri daripada aspek seni. Atau dengan kata lain ibing penca muncul belakangan setelah ada beladiri pencak silat.

              Seni Ibing Penca tumbuh subur berkembang di perguruan pencak silat, bukan di aliran asalnya. Sebagai contoh, aliran Cikalong tidak mengenal ibing penca, tetapi Gan Didi Muhtadi, salah seorang tokoh Maenpo Cikalong dari Pasar Baru Cianjur melalui perguruannya Pusaka Siliwangi mengembangkan ibing penca sehingga Gan Didi lebih dikenal sebagai guru ibing penca dari pada guru maenpo. Kemampuannya dalam menciptakan dan mengajarkan ibing penca merupakan hal yang jarang ditemui pada guru-guru maenpo di Cianjur yang hidup pada masa itu.

              Contoh yang lain, Himpunan Pencak Silat Panglipur yang didirikan Abah Aleh adalah perguruan yang sekarang dikenal dengan kekayaan dan keindahan dalam ibing penca, padahal dari sejarah Panglipur dapat dilihat bahwa guru-guru Abah Aleh adalah pendekar dari berbagai aliran pencak silat yang mumpuni dalam aspek beladiri, bukan dalam aspek seni. Namun Abah Aleh sendiri yang mengolahnya menjadi berbagai bentuk ibing penca.

              Ibing penca dapat berkembang di perguruan bukan di aliran pencak silat, hal ini terjadi karena biasanya pada suatu aliran pencak silat sudah terdapat aturan baku baik dari segi filosofis maupun teknis yang tidak boleh diubah, ditambah maupun dikurangi oleh para pengikutnya. Berbeda halnya dengan di perguruan pencak silat yang dipimpin oleh pendekar yang biasanya sudah mempelajari berbagai aliran, sehingga memiliki wawasan yang luas dan tidak terlalu kaku dalam mengembangkan pencak silat. Di dalam suatu perguruan biasanya teknik-teknik dari berbagai aliran selain tetap dipertahankan keasliannya namun tidak menutup kemungkinan kemudian dicoba dicampur sehingga menjadi bentuk baru yang menjadi ciri khas perguruan itu. Di sinilah banyak terjadi pengolahan teknik, termasuk pengolahan aspek seni dalam bentuk ibing penca.

              4. Jurus yang Terdapat dalam Ibing Penca

              Di dalam ibing penca terdapat jurus-jurus pencak silat. Namun, sebenarnya jenis jurus seperti apa yang digunakan dalam ibing penca? Pertama-tama harus dibedakan terlebih dahulu antara Gerak Dasar, Jurus Dasar, Jurus Inti, dan Jurus Kajadian.

              Gerak Dasar adalah unsur yang paling kecil dalam suatu gerak. Misalnya ketika seorang pesilat melakukan satu gerak langkah serong sambil melakukan tangkisan sekaligus pukulan, maka di dalamnya terdapat beberapa gerak dasar, yaitu kuda-kuda serong, langkah serong, tangkisan, dan pukulan.

              Jurus Dasar adalah jurus yang digunakan pada tahap awal berlatih di suatu perguruan atau aliran sebagai fondasi untuk materi lanjutan. Satu jurus dasar bisa terdiri dari satu gerakan, satu rangkaian pendek, bahkan bisa juga berupa rangkaian panjang. Sifat dari jurus dasar ini terbagi menjadi dua, yaitu:

              Jurus Inti, yang di dalamnya terdapat prinsip-prinsip atau kaidah pencak silat yang dianut oleh suatu aliran atau perguruan. Sepintas jurus inti tidak bisa diduga bagaimana aplikasinya dalam suatu perkelahian tanpa keterangan dari guru. Biasanya jurus inti jumlahnya tidak terlalu banyak, namun dari jurus yang sedikit itu aplikasinya menjadi tidak terbatas jumlahnya.Sebagai contoh, aliran yang menggunakan jurus inti pada jurus dasarnya adalah Sabandar Jurus Lima, Cikalong, Suliwa, Maenpo Peupeuhan, dan Timbangan.

              Jurus Kajadian, yaitu jurus dasar yang bisa langsung diaplikasikan dalam bentuk serang bela. Biasanya jurus dasar seperti ini bisa langsung dilakukan oleh dua orang pesilat yang saling berhadapan tanpa mengubah gerakan dari jurus dasar tersebut. Contoh aliran atau perguruan yang menggunakan metode ini adalah Cimande, Jurus Kajadian Maenpo, Panglipur, Pager Kancana, dan Budhi Kancana.

              Dari Jurus Inti sebenarnya bisa dikembangkan menjadi berbagai Jurus Kajadian setelah jurus inti tersebut diaplikasikan dalam teknik serang bela. Sebagai contoh, Rd. Abad M. Sirod seorang tokoh maenpo Cikalong yang pada awalnya ia menerima Jurus Inti dari gurunya (Rd. Busrin) namun kemudian menciptakan 27 Jurus Kajadian dan 3 Jurus Maksud dengan alasan untuk mempermudah proses belajar mengajar. Menurutnya, dengan mengajarkan Jurus Kajadian murid-muridnya bisa langsung mengerti aplikasi dari setiap jurusnya.

              Jadi Ibing Penca sebenarnya adalah rangkaian jurus kajadian yang disusun sedemikian rupa sehingga memenuhi unsur estetika tanpa meninggalkan makna serang bela dalam setiap gerakannya. Ibing penca yang baik harus dapat menggambarkan suatu bentuk teknik perkelahian seolah-olah pesilat tersebut sedang berhadapan dengan lawan.

              5. Struktur Koreografi dan Karawitan pada Ibing Penca di Jawa Barat

              a. Koreografi Ibing Penca

              Sikap dan  gerakan dalam pencak silat sebagai beladiri dilakukan untuk melindungi diri dan menyerang, sedangkan dalam ibing penca sikap dan gerak dilakukan untuk kenikmatan penari yang bergerak mengikuti irama karawitan dan untuk kenikmatan yang menonton ibing penca. Mudah dipahami kalau gerakan dan sikap dalam ibing penca, walaupun bersumber pada beladiri namun memiliki perbedaan-perbedaan. Pada umumnya sikap dan gerakan dalam ibing penca lebih terbuka, lebih distilasi dan dilakukan dalam irama yang metrikal.

              Di dalam Ibing Penca di Jawa Barat terdapat pola koreografis yang umum, yaitu sebagai berikut:

              1)      Bagian pertama: Tepak Dua atau Paleredan, lebih memperlihatkan unsur keindahan.

              2)      Bagian kedua: Tepak Tilu atau Golempang, memperlihatkan teknik serang bela yang masih terikat pada ketukan irama.

              3)      Bagian ketiga: Padungdung, di sini pesilat berimprovisasi secara bebas sesuai dengan imajinasinya ketika itu.

              Berdasarkan koreografi itu, ibing pencak adalah salah satu jenis kesenian yang kaya segi kreatifitasnya karena masing-masing perguruan memiliki gerakan ibing penca yang berbeda walaupun berpatokan pada irama yang sama. Dapat dipahami, ibing penca merupakan tari yang paling populer dan paling banyak penggemarnya di Jawa Barat.

              Koreografi bagian pertama biasanya sangat kental dengan jurus-jurus yang berasal dari aliran Cimande, karena sifat geraknya lebih terbuka sehingga cocok dibawakan dengan tempo yang lambat. Contohnya adalah sebagai berikut:

              • Tepak Dua Salancar
              • Tepak Dua Sorong Dayung.
              • Tepak Dua Buang Kelid.
              • Tepak Dua Kampung Baru
              • Paleredan Jalak Pengkor
              • Paleredan Sawitan
              • Paleredan Pancer Opat

              Koreografi bagian kedua lebih banyak bersumber pada aliran Cikalong, Sabandar, dan Sera. Contohnya adalah sebagai berikut:

              • Tepak Tilu Cikalong
              • Tepak Tilu Jalan Muka
              • Tepak Tilu Alip Bandul
              • Tepak Tilu Peunggasan
              • Tepak Tilu Gerak Seta

              Koreografi bagian ketiga memperlihatkan jurus kajadian (jurus aplikasi) yang memperlihatkan teknik-teknik serang bela yang dilakukan dengan kecepatan yang sebenarnya dan yang pada awal perkembangannya bersifat improvisasi. Namun saat ini irama padungdung pun diisi dengan gerakan yang telah ditentukan sebelumnya, bukan improvisasi lagi. Contohnya adalah sebagai berikut:

              • Si Pecut
              • Pecah Alip
              • Pecah Gunting
              • Likuran
              • Si Pitung

              Saat ini banyak koreografi yang merupakan variasi atau gabungan dari aliran-aliran Cimande, Cikalong, Sabandar, Sera dan aliran yang lain. Ibing pencak yang banyak diajarkan di perguruan-perguruan pencak silat seperti di Panglipur, Pager Kancana, Kusuma Harapan, Domas, dan yang perguruan lainnya biasanya sudah merupakan olahan dari berbagai macam aliran yang dipelajari di perguruan yang bersangkutan.

              Ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan dalam memperagakan ibing penca, yaitu:

              Pertama, unsur kekayaan gerak (wiraga) yaitu kekayaan gerak atau jurus-jurus yang dimiliki oleh seorang pesilat selama belajar di perguruannya, sehingga penampilannya menjadi tidak monoton atau membosankan apabila tampil di atas pentas, terutama dalam pertandingan seni pencak silat. Tetapi apabila dalam acara spontanitas pada suatu hajatan misalnya, unsur kekayaan gerak tidak begitu diperhatikan pesilat. Yang penting pesilat mampu memperagakan gerakannya dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah pencak silat karena tidak terikat oleh sistem penilaian dari juri seperti dalam pelaksanaan pertandingan pencak silat seni.

              Kedua, unsur irama (wirahma) atau musik, unsur inilah yang membedakan aspek seni dengan aspek yang lain dalam pencak silat. Seorang pengibing penca harus mampu menyerasikan gerak dengan musik pengiringnya. Pengolahan irama yang variatif dan dinamis memiliki nilai lebih bagi seorang pesilat dalam membawakan ibingannya.

              Ketiga, unsur penjiwaan gerak (wirasa) yaitu salah satu unsur yang penting dimiliki oleh seorang pengibing penca. Penjiwaan gerak yang mantap sangat dipengaruhi oleh pemahaman pesilat terhadap setiap gerakan yang ditampilkannya. Oleh karena itu, pesilat dituntut harus menguasai arti dan makna gerak pencak silat yang sebenarnya, serta mengerti maksud dan tujuan dari jurus-jurus dan teknik-teknik pencak silat yang dipelajarinya.

              b. Karawitan

              Walaupun di daerah-daerah tertentu di Jawa Barat terdapat musik pengiring khas ibing penca seperti Patingtung di Banten, dan Terebang di Cirebon namun pada umumnya untuk mengiringi ibing penca dibutuhkan suatu ensembel yang disebut ‘kendang penca’. Ensembel ini sangat mendukung suasana ibing penca yang pada dasarnya merupakan tari perang atau tari perkelahian. Musik kendang penca kadang-kadang bersuasana menantang misalnya pada lagu Kembang Beureum atau Buah Kawung atau bersuasana do’a yaitu pada Kidung.

              Gendang pencak dimainkan oleh empat orang penabuh (nayaga/wiyaga). Mereka mempunyai tugas masing-masing dalam pelaksanaannya. Penabuh kendang pencak silat yang sudah berpengalaman selain mampu mengiringi ibing pencak silat yang sudah dirancang sebelumnya, ia pun mampu mengiringi gerakan-gerakan yang tidak dirancang sebelumnya.

              Adapun waditra (instrumen) yang terdapat di dalam kendang penca adalah sebagai berikut:

              1. Dua buah kendang besar (kendang indung dan kendang anak) dilengkapi dua buah kendang kecil (kulanter). Kendang bertugas mengisi gerak dan mengatur tempo.
              2. Sebuah terompet sebagai pembawa melodi
              3. Sebuah gong kecil (bende, kempul) sebagai pengatur irama, penegas tesis lagu.

              Jenis pukulan kendang yang juga tidak dapat dipisahkan dari jenis irama pada dasarnya adalah sebagai berikut:

              1. Tepak Dua. Motif-motif pukulan kendang untuk tempo lambat. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Kembang Gadung, Ayun Ambing, Polos, Gedong Panjang, Kendor Kulon, Tunggul Kawung, Bata Rubuh, Kidung, Sorong Dayung.
              2. Paleredan. Motif-motif pukulan kendang untuk tempo lambat. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Ayun Ambing, Bela pati, Sasalimpetan, Buah Kawung, Karawangan, Gendu, Gaya, Sari.
              3. Tepak Tilu. Motif-motif pukulan dengan tempo sedang. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Ucing-ucingan, Kembang Beureum, Bardin, Sintren, Papare, Bendrong Petit, Gendu, Kapuk Kapas, Garungan, Joher, Mainang, Kacang Asin, Oyong-oyong Bangkong.
              4. Golempang. Motif-motif lebih cepat daripada Tepak Tilu. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Kembang Beureum, Kacang Asin.
              5. Padungdung. Motif pukulan dengan tempo paling cepat. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Kidung, Kolear, Leang-leang, Ceurik Rahwana.

              6. Kapan Ibing Penca Diajarkan?

              Penempatan pelajaran ibing penca di setiap perguruan tidak sama. Ada yang ditempatkan di awal, ada pula yang ditempatkan di akhir. Lebih jelasnya proses belajar di perguruan pencak silat yang di dalamnya ada materi ibing penca adalah sebagai berikut:

              1. Jurus dasar – ibing penca – beladiri (Contoh: Panglipur, Pager Kancana, Budhi Kancana)
              2. Jurus dasar – beladiri – ibing penca (Contoh: Cimande)
              3. Jurus dasar – rangkaian gerak – beladiri – ibing penca (Contoh: Maenpo Peupeuhan)
              4. Ibing penca – beladiri (Contoh: Sekar Pusaka)
              5. Jurus dasar – Aplikasi jurus dasar – Rangkaian gerak – Ibing Penca – Beladiri (Contoh: Garis Paksi)

              Penempatan materi ibing penca di awal adalah strategi agar pencak silat lebih disukai oleh kalangan pesilat usia anak-anak dan remaja, karena ibing penca dapat diajarkan secara massal dan kecil kemungkinannya pesilat mengalami cidera. Di samping itu dengan ibing penca dapat digunakan dalam ajang perlombaan seni pencak silat yang diadakan oleh IPSI maupun PPSI. Sistem pengajaran seperti ini biasanya digunakan di lingkungan sekolah. Pada kasus ini, seorang pesilat yang mampu membawakan ibingan dengan baik belum tentu mahir dalam beladiri.

              Penempatan materi ibing penca di akhir bermaksud untuk penghalusan gerak jurus dan dapat digunakan sebagai alat hiburan setelah mempelajari beladiri. Pada kasus ini, seorang pesilat yang sudah berani tampil membawakan ibing penca sudah dipastikan mampu membela diri. Dahulu seorang pesilat yang melakukan ibing penca harus siap jika suatu waktu ada orang yang masuk ke gelanggang untuk  mencoba keterampilan berkelahi dengannya.

              Namun ada pula yang mengajarkan ibing penca bersamaan waktunya dengan mengajarkan beladiri. Atau ada pemisahan antara murid yang ingin mendalami ibing penca dan murid yang ingin mendalami beladiri. Sebagai contoh, di Himpunan Pencak Silat Panglipur, setelah murid menguasai 6 dasar pukulan, 9 jurus dasar, dan dua pola langkah maka bisa dilanjutkan dengan mempelajari Ibing Paleredan Pancer Opat, Tepak Tilu Jalan Muka, kemudian ditutup dengan Padungdung Si Pecut. Namun jika ingin mempelajari beladiri, maka dari jurus dasar bisa langsung mempelajari aplikasi dari setiap jurus disertai dengan pengertian kaedah-kaedahnya sehingga benar-benar mengerti dan mampu mengaplikasikannya dalam usik beladiri.

              Contoh lain, di Paguron Pusaka Siliwangi yang didirikan oleh Rd. Didi Muhtadi, jika ia mengajar ibing penca maka ia memulainya dengan mengajarkan 13 jurus dasar Cikalong, kemudian mengajarkan berbagai pola langkah dan akhirnya mengajarkan ibing penca. Namun jika ingin mengajarkan beladiri, dari jurus dilanjutkan dengan pelajaran kaedah maenpo Cikalong dan dilanjutkan dengan praktik usik-usikan atau tapelan (latihan berpasangan untuk mengolah rasa).

              7. Manfaat Ibing Penca dalam Beladiri

              Apakah ibing penca dapat digunakan untuk membeladiri? Apakah setiap pesilat yang sangat bagus membawakan ibing penca sudah pasti dapat melakukan pembelaan diri dengan baik? Jawabnya belum tentu. Seorang pesilat yang hanya belajar ibing penca atau baru belajar ibing penca pasti tidak akan bisa dijadikan sebagai alat pembelaan diri yang efektif.

              Jangankan ibing penca, pesilat yang mampu memainkan jurus ganda dengan baik belum tentu juga mampu menggunakan teknik beladiri dengan baik. (Penampilan kategori Ganda atau berpasangan adalah latihan atau peragaan berpasangan dari pesilat yang menampilkan serang bela. Di dalam ganda masing-masing pesilat saling memberi kesempatan kepada mitranya untuk menggunakan jurusnya yang sudah diatur sebelumnya).

              Ibing penca, ganda, usik/beladiri merupakan ilmu pencak silat yang memiliki perbedaan dalam tatacara berlatih dan mengaplikasikannya. Orang yang pandai ibing penca belum tentu bisa jurus ganda atau mahir beladiri. Orang yang mahir jurus ganda belum tentu bisa ibing penca atau usik beladiri yang sebenarnya. Begitu pula orang yang mahir usik beladiri belum tentu bisa ibing penca atau ganda.

              Namun apabila masing-masing dihubungkan, maka akan terlihat keterkaitan yang saling mendukung satu sama lain. Dengan mempelajari ibing penca, pesilat akan mengerti irama, menghaluskan rasa, merasakan adanya energi dari musik pengiring. Sering terlihat seorang pendekar sepuh yang sudah renta tiba-tiba menjadi jagjag waringkas ketika mendengar kendang penca dan melakukan ibing penca, tetapi kemudian kembali “normal” ketika selesai membawakan ibingannya.

              Dengan ganda pesilat belajar perbendaharaan teknik pencak silat dalam hal belaan dan serangan. Mengasah untuk saling memberi dan toleransi kepada mitranya, melatih timing yang tepat dalam bergerak. Dengan belajar usik/beladiri, kita dituntut untuk dapat menghadapi serangan apapun dalam situasi apapun. Tidak ada aturan dalam usik, tujuan utamanya adalah mampu mengalahkan lawan. Jadi semua memiliki porsinya masing-masing.

              Sebenarnya di dalam ibing penca teknis pencak silat sudah cukup lengkap, mulai dari jurus, kuda-kuda, pasang, perpindahan posisi, hingga pola langkah. Tapi memang, di dalam ibing dimasukan elemen kembangan untuk mempermanisnya, yang kadang memang lebih banyak didominasi unsur tarian. Seorang pesilat yang telah menguasai ibing penca dengan baik harus melalui tahapan tertentu dengan metode latihan tertentu pula agar mahir pula dalam membela diri, tidak cukup hanya mempelajari ibing terus menerus.

              Di Perguruan Pencak Silat Sekar Pusaka yang didirikan oleh Aki Iyat Ruchiyat, ibing penca langsung diberikan kepada murid baru, tanpa melalui tahap belajar jurus dasar. Kemudian setelah murid tersebut telah mampu menghafal dan membawakan ibing dengan benar dan bagus, maka mulailah Aki Iyat mengajarkan aplikasi yang terdapat dalam ibingan-ibingan tersebut. Istilahnya mesek cangkang tembong eusi, layu kembang bijil buah. Arti harfiahnya adalah “mengupas kulit agar terlihat isinya, layu bunga lantas muncul buahnya”. Jadi setelah ibingan itu dibuka kaidah-kaidah silatnya dengan dibarengi dengan latihan-latihan tertentu maka seorang pesilat yang ibingannya bagus dapat pula melakukan pembelaan diri dengan baik.

              Pesilat yang telah mengetahui aplikasi dari ibing penca yang dibawakannya akan lebih menghayati setiap gerakannya. Penempatan tenaga antara leuleus (lemas/rileks) dan teuas (keras) akan semakin baik, demikian juga penggunaan ekspresi akan lebih gereget karena pesilat tersebut sedang membayangkan seolah-olah sedang menghadapi lawan.

              8. Perkembangan Karawitan PencaK Silat

              Pada umumnya di Jawa Barat musik pengiring ibing penca adalah suatu ensembel yang disebut “kendang penca”, terdiri dari dua buah kendang besar dan dua buah kendang kecil (kulanter) bertugas mengisi gerak dan mengatur tempo, sebuah terompet sebagai pembawa melodi, dan sebuah gong kecil sebagai pengatur irama dan penegas tesis lagu. Jenis pukulan kendang yang tidak dapat dipisahkan dari jenis irama pada dasarnya ada empat, yaitu Tepak Dua, Tepak Tilu, Golempang, dan Padungdung.

              Karawitan pencak silat di Bandung mengalami perkembangan yang cukup dinamis. Jenis irama tidak lagi hanya berpatokan pada irama yang sudah baku, tetapi mulai berkreasi menciptakan irama baru, menambahkan beberapa waditra tambahan, bahkan menggunakan waditra yang sebelumnya tidak lazim digunakan untuk mengiringi ibing penca.

              Pada tahun 1970-an muncul ibing penca yang lebih dikenal dengan Ibing Maenpo Cianjuran yang menggunakan tembang cianjuran sebagai musik pengiringnya. Meskipun menggunakan nama “cianjuran”, namun Ibing Maenpo Cianjuran diciptakan dan kemudian berkembang di Bandung. Ibing Maenpo Cianjuran adalah hasil karya cipta seorang tokoh Maenpo asal Bandung, yaitu Adung Rais. Pada saat itu ia mencoba memadukan seni beladiri Maenpo Peupeuhan dengan seni tradisional tembang cianjuran atau dikenal dengan nama kacapi suling.

              Untuk bisa melakukan Ibing Penca ini, seorang praktisi Maenpo harus menguasai teknik Maenpo dengan baik dan memahami musik Cianjuran. Penguasaan teknik maenpo yang baik sangat penting karena Ibing Penca Cianjuran ini bersifat improvisasi sama halnya dengan musik cianjuran yang juga kaya dengan improvisasi.

              Pemahaman wirama ini menyangkut dengan bagaimana menemukan ketukan dan meletakkan gong dalam musik cianjuran. Hampir sama dengan kendang penca, misalnya dalam Tepak Paleredan atau Tepak Dua, klimaks dari satu rangkaian gerak harus berakhir tepat dengan bunyi gong. Pemahaman wirasa menyangkut unsur rasa. Penari harus tahu kapan bergerak cepat atau lambat, kapan satu hitungan menggunakan banyak jurus atau sebaliknya satu jurus dilakukan dalam tiga atau lebih hitungan, semuanya adalah improvisasi.

              Yang tidak kalah pentingnya adalah pemahaman syair. Setiap syair dan lagu cianjuran tentunya berbeda pesan, cerita dan makna. Lagu yang berbeda tentunya harus dibawakan dengan penjiwaan yang berbeda pula. Saat menari dengan Kidung atau Rajah misalnya, penari harus membawakannya dengan pembawaan yang khidmat dan tidak beringas. Lagu-lagu yang bersifat mengisahkan perang, disini bisa ditampilkan gerakan2 yang ganas, mimik wajah beringas, marah dsb, sedang untuk sinom satria, mungkin juga harus berusaha menampilkan kesan yang gagah dan agung dari seorang ksatria sunda. Bisa dikatakan, penguasaan akting yang baik akan menjadikan seorang penari Ibing Penca Cianjuran menjadi lebih mantap dalam membawakan tariannya.

              Menurut Adung Rais, bila sudah memahami dan menghayati secara maksimal maenpo dan cianjuran ini, bisa dikatakan sudah terjadi suatu keseimbangan karena telah terjadi perpaduan yang harmonis antara bentuk kekerasan dan bentuk kehalusan.

              Sekitar tahun 1995 di Bandung muncul lagi irama pengiring ibing penca yang termasuk unik dan baru. Irama musiknya dikenal dengan irama “Tepak Gonjing” atau “Tepak Tungbreng”. Irama ini tercipta dengan latar belakang kebutuhan dalam kejuaraan seni pencak silat tingkat nasional yang diadakan oleh IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia), di mana salah satu penilaiannya adalah variasi dalam irama pengiring ibing penca. Saat itu Ketua Pengda IPSI Jawa Barat H. Suhana Budjana meminta kepada para guru pencak silat dan para nayaganya untuk membuat kreasi baru dalam iringan musik pencak silat.

              Permintaan itu direspons dengan berkumpulnya sejumlah tokoh dan pendekar pencak silat dan beberapa seniman Sunda untuk merumuskan pola irama baru. Melalui proses yang tidak terlalu lama maka terciptalah irama Tungbreng atau Gonjing yang memiliki pola tabuhan khas. Kata tungbreng diambil dari bunyi yang dihasilkan oleh alat tabuhannya. Selain mempertahankan ensambel kendang penca yang asli seperti gendang, tarompet dan gong, dalam irama gonjing ditambah beberapa ensambel pelengkap yang terdiri dari kecrek, bonang, dan bedug. Kadang-kadang untuk kebutuhan suasana tertentu dipakai juga kacapi dan suling.

              Walaupun pada awalnya Tepak Gonjing menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan penggemar pencak silat, namun lambat laun akhirnya dapat diterima. Para pesilat anak-anak dan remaja kebanyakan lebih menyukai irama ini untuk mengiringi ibingannya dengan alasan lebih dinamis.

              Munculnya Tepak Tungbreng sebagai karya baru dalam blantika ibing penca dianggap sebagai prestasi bagi para tokoh, pendekar, dan seniman yang berkiprah di dunia persilatan Jawa Barat. Hal ini terbukti dengan adanya fenomena penampilan Tepak Tungbreng di setiap pasanggiri atau festival pencak silat di Bandung, bahkan di Jawa Barat. Tepak Tungbreng kini sudah menyebar dari Bandung ke daerah-daerah lain di Jawa Barat.

              9. Penutup

              Ibing penca harus dipandang sebagai bagian integral dari suatu ilmu pencak silat di suatu perguruan, sehingga akan banyak manfaat yang bisa diambil dari mempelajari ibing penca. Keberadaan ibing penca di perguruan pencak silat tergantung pada kebijakan perguruan itu sendiri. Jika secara tradisi di suatu perguruan diajarkan ibing penca, maka hal itu patut dilestarikan keberadaanya bahkan harus lebih dikembangkan lagi dengan menciptakan ibingan-ibingan penca yang baru disesuaikan dengan kebutuhan. Bagi perguruan yang tidak memiliki tradisi ibing penca tidak usah memaksakan diri agar ada materi ibing penca, namun jika ingin mencoba sebenarnya bisa saja dengan cara menyusun ibing penca dengan menggunakan patokan irama yang sudah baku atau dengan memodifikasi irama tertentu.

              Ibing penca jika ditempatkan pada tempat semestinya akan banyak manfaatnya yang bisa diambil. Namun paling tidak, dengan mempelajari ibing penca kita sudah turut melestarikan salah satu seni budaya peninggalan para pendekar pendahulu kita.

              Graspuzi 16022011

              dikutip dari:
              facebook Gending Raspuzi




              Tags: , , ,


              Artikel Ibing Penca dan Beladiri Pencak Silat yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


                - Powered by BING [2014-03-11 23:58]

                Comments are closed.

                Ibing Penca dan Beladiri Pencak Silat - Silat Indonesia

                Ibing Penca dan Beladiri Pencak Silat.

                    [
                in English ]

                Feb 23rd, 2011 | By | Category: Artikel Silat [ in English ]

                IBING PENCA DAN BELADIRI PENCAK SILAT
                ANTARA KEMBANG DAN BUAH
                “Mesek cangkang tembong eusi, layu kembang bijil buah

                Disampaikan pada Seminar Pencak Silat Tradisional dalam Persfektif Budaya dan Sejarah
                17 Februari 2011 di Universitas Indonesia

                1. Pendahuluan

                gending-raspuzi-01Di Jawa Barat, di samping dikenal adanya pencak sebagai bela diri, yang disebut dengan ‘buah’ atau ‘eusi’ (isi), dikenal pula pencak silat ‘kembang’ (bunga) atau ‘ibing penca’ (tari pencak). Begitu eratnya hubungan batin masyarakat Jawa Barat dengan seni pencak silat (kembang), hingga  banyak anggota masyarakat Jawa Barat yang menghubungkan kata pencak tidak dengan bela diri, akan tetapi dengan Ibing Penca.

                Istilah Ibing Penca memang berasal dari Jawa Barat. Secara harfiah Ibing Penca dapat diterjemahkan menjadi Tari Pencak. Tapi para tokoh pencak silat di Jawa Barat kurang setuju jika ibing penca disebut tari pencak, karena kata “tari” cenderung lebih menitik beratkan pada unsur tarinya, yaitu suatu seni yang menampilkan keindahan gerak meskipun gerakannya diambil dari unsur-unsur pencak silat. Sedangkan “ibing penca” lebih menitikberatkan pada unsur pencak silat, yaitu gerak yang memiliki fungsi serang bela, walaupun tidak dapat disangkal di dalamnya juga mengandung unsur-unsur keindahan.

                Ada sebagian orang berpendapat bahwa Ibing Penca adalah bagian dari pencak silat dan bisa digunakan sebagai software untuk membela diri jika dilatih dengan rutin, namun ada juga yang berpendapat bahwa Ibing Penca bukanlah pencak silat, melainkan hanya sebatas seni tari dalam bentuk gerakan pencak silat dan tidak bisa digunakan untuk membela diri meskipun dilatih dengan serius dan tekun. Di sisi lain ada juga yang berpendapat bahwa belajar Ibing Penca jika mengerti aplikasi dari setiap gerakan akan bisa dijadikan alat membela diri, sebab Ibing Penca merupakan gabungan rangkaian gerak membela diri hanya saja di iringi musik (jika dipertontonkan), namun dalam praktik latihan sehari-harinya tidak.

                Dari sinilah timbul persoalan, apakah sebenarnya Ibing Penca berguna untuk membela diri atau hanya sekedar tarian yang tidak ada hubungannya dengan kemahiran beladiri.

                2. Pencak Silat dan Tari

                Pencak silat di Indonesia memiliki bermacam bentuk dan ragam yang lahir, hidup dan berkembang di masing-masing aliran dan perguruan pencak silat. Pada mulanya pencak silat diciptakan untuk membela diri, namun dalam perkembangannya, pencak silat dapat juga dijadikan sebagai sumber keindahan bentuk, gerak, irama dan ekspresi yang melukiskan adegan serang bela menggunakan tangan kosong maupun senjata.

                Pencak silat dan tari merupakan satu ekspresi yang berkaitan dan saling mengisi, karena keduanya menggunakan tubuh manusia sebagai materi pokok, di samping ketajaman pikiran dan perasaan yang selalu berdampingan sewaktu melaksanakan pencak silat atau menari, ditambah dengan ketahanan fisik dan keuletan menggarap teknis pencak silat dan tari. Banyak pakar tari yang merasakan kebutuhan untuk belajar pencak silat yang ternyata besar sekali manfaatnya bagi seorang penari.

                Persamaan Pencak dan tari adalah keduanya menggunakan tubuh beserta bagian-bagian dari anggota badan manusia sebagai materi utama. Pembinaan fisik dan ekspresi banyak persamaannya, hanya penggunaannya yang berbeda. Pencak silat adalah olah tubuh dari rasa yang dipergunakan untuk membela diri, sedangkan tari adalah olah tubuh untuk mengekspresikan suatu keindahan yang bersifat spiritual dan melahirkan suasana yang semuanya lahir karena tradisi atau dari jiwa para seniman.

                Pembinaan tubuh dan penguasaaan teknik gerak untuk pencak silat dan tari membutuhkan waktu dan ketekunan berlatih fisik secara kontinyu, karena ketahanan fisik merupakan syarat utama. Ketahanan dari teknik pernafasan, keterampilan gerak, juga keindahan gerak dan keluwesannya ada di dalam pencak silat dan tari. Gerak berat, ringan, tegang, lemah, cepat, pelan, dan berirama merupakan sarana-sarana latihan teknik tubuh yang harus dilaksanakan dengan baik dan teratur bagi seorang pesilat dan penari.

                Keindahan langkah kaki, gerak tangan kontinyu, posisi yang pasti, ketenangan dan ledakan-ledakan ekspresi gerak di samping kelembutan ada pada pencak silat dan tari. Maka pengaruh timbal balik antara pencak sebagai beladiri dengan tari telah ada pada seni tari di Indonesia.

                3. Asal Mula Ibing Penca

                Sejak kapan dan apa yang melatarbelakangi munculnya ibing penca? Hal ini memerlukan penelitian yang mendalam. Ada beberapa sumber yang mengatakan bahwa ibing penca diciptakan sebagai kamuflase dari beladiri yang dilarang pada zaman penjajahan Belanda, di mana dinyatakan bahwa pada saat itu para pendekar yang ingin menyebarkan pencak silat terbentur pada larangan yang dikeluarkan oleh pemerintahan kolonial, sehingga untuk menyiasatinya dibuatlah ibing penca agar pencak silat tetap boleh diajarkan. Ibing penca ditampilkan kepada masyarakat umum sedangkan beladirinya tetap diajarkan secara sembunyi-sembunyi. Untuk kasus-kasus tertentu hal ini mungkin ada benarnya, namun bagi kasus yang lain pendapat ini belum tentu tepat.

                Pada awalnya aspek pencak silat yang pertama lahir adalah aspek beladiri. Situasi dan kondisi pada suatu masa secara alamiah menyebabkan manusia selalui menyesuaikan diri dengan alam dan lingkungannya,  naluri untuk menjaga eksistensi diri dan kelompoknya menimbulkan upaya agar kelompoknya lebih kuat dari kelompok yang lain. Bersama itu pula timbul kebutuhan untuk menciptakan alat pembelaan diri yang efektif, mulai dari menciptakan senjata dan menciptakan berbagai teknik perkelahian. Pada suatu masa yang mengharuskan orang mampu membela diri secara fisik, menyebabkan tumbuh suburnya bebagai jenis aliran beladiri. Dalam hal ini aliran-aliran pencak silat.

                Namun perlu diingat bahwa selain memiliki naluri mempertahankan diri, manusia pun memiliki naluri untuk menyukai keindahan. Dari berbagai hal yang ada di sekelilingnya, manusia mampu menciptakan berbagai bentuk keindahan melalui seni. Ketika manusia menemukan alat yang dapat digunakan sebagai senjata, dengan alat itu pula mereka menciptakan karya seni pahatan. Ketika manusia memahami adanya nada dalam bunyi, maka manusia menciptakan musik dan nyanyian. Demikian pula halnya ketika di menyadari bahwa di dalam gerak terdapat keindahan, maka muncullah berbagai jenis tarian. Dari mana inspirasi membuat tarian itu? Salah satunya adalah dari teknik beladiri yang telah dikuasai sebelumnya. Ketika pencak silat tidak banyak lagi digunakan sebagai alat untuk membela diri, maka aspek lain dapat digali, seperti aspek olah raga dan seni. Dari sinilah ibing penca itu muncul. Ia tercipta dari kebutuhan manusia yang gandrung akan keindahan melalui medium gerak.

                Di Jawa Barat pencak silat banyak mempengaruhi kesenian lain, khususnya tari rakyat. Contoh seni yang dipengaruhi pencak silat: Ketuk Tilu, Jaipongan, Cikeruhan, Sisingaan, Kuda Renggong. Pada awalnya ketika seorang pria sedang kaul Ketuk tilu, maka gerakan yang digunakan adalah gerak improvisasi yang diambil dari jurus-jurus pencak silat

                Banyak koreografer tari yang memiliki latar belakang pencak silat, di antaranya adalah R. Tjetje Somantri, maestro Tari Keurseus, dan Gugum Gumbira, maestro Jaipongan. Dengan dasar pemikiran bahwa pencak silat merupakan salah satu sumber bagi jenis kesenian lainnya, maka STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Bandung memasukkan mata kuliah pencak silat selama 4 SKS dalam dua semester.

                Meskipun Ketuk Tilu, Jaipongan atau jenis kesenian lainnya bersumber dari gerakan pencak silat tetapi tidak otomatis disebut sebagai tari pencak silat, karena fungsinya sudah berbeda yakni menjadi alat hiburan semata. Berbeda halnya dengan Ibing Penca, bagi perguruan pencak silat yang di dalamnya terdapat materi Ibing Penca, tentu saja ibing penca dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari ilmu pencak silat.

                Jika kita melihat berbagai jenis aliran pencak silat ‘buhun’, jarang sekali di dalamnya terdapat pelajaran ibing penca (kecuali Cimande). Hal ini membuktikan bahwa pada awalnya aliran-aliran pencak silat lebih mengutamakan aspek beladiri daripada aspek seni. Atau dengan kata lain ibing penca muncul belakangan setelah ada beladiri pencak silat.

                Seni Ibing Penca tumbuh subur berkembang di perguruan pencak silat, bukan di aliran asalnya. Sebagai contoh, aliran Cikalong tidak mengenal ibing penca, tetapi Gan Didi Muhtadi, salah seorang tokoh Maenpo Cikalong dari Pasar Baru Cianjur melalui perguruannya Pusaka Siliwangi mengembangkan ibing penca sehingga Gan Didi lebih dikenal sebagai guru ibing penca dari pada guru maenpo. Kemampuannya dalam menciptakan dan mengajarkan ibing penca merupakan hal yang jarang ditemui pada guru-guru maenpo di Cianjur yang hidup pada masa itu.

                Contoh yang lain, Himpunan Pencak Silat Panglipur yang didirikan Abah Aleh adalah perguruan yang sekarang dikenal dengan kekayaan dan keindahan dalam ibing penca, padahal dari sejarah Panglipur dapat dilihat bahwa guru-guru Abah Aleh adalah pendekar dari berbagai aliran pencak silat yang mumpuni dalam aspek beladiri, bukan dalam aspek seni. Namun Abah Aleh sendiri yang mengolahnya menjadi berbagai bentuk ibing penca.

                Ibing penca dapat berkembang di perguruan bukan di aliran pencak silat, hal ini terjadi karena biasanya pada suatu aliran pencak silat sudah terdapat aturan baku baik dari segi filosofis maupun teknis yang tidak boleh diubah, ditambah maupun dikurangi oleh para pengikutnya. Berbeda halnya dengan di perguruan pencak silat yang dipimpin oleh pendekar yang biasanya sudah mempelajari berbagai aliran, sehingga memiliki wawasan yang luas dan tidak terlalu kaku dalam mengembangkan pencak silat. Di dalam suatu perguruan biasanya teknik-teknik dari berbagai aliran selain tetap dipertahankan keasliannya namun tidak menutup kemungkinan kemudian dicoba dicampur sehingga menjadi bentuk baru yang menjadi ciri khas perguruan itu. Di sinilah banyak terjadi pengolahan teknik, termasuk pengolahan aspek seni dalam bentuk ibing penca.

                4. Jurus yang Terdapat dalam Ibing Penca

                Di dalam ibing penca terdapat jurus-jurus pencak silat. Namun, sebenarnya jenis jurus seperti apa yang digunakan dalam ibing penca? Pertama-tama harus dibedakan terlebih dahulu antara Gerak Dasar, Jurus Dasar, Jurus Inti, dan Jurus Kajadian.

                Gerak Dasar adalah unsur yang paling kecil dalam suatu gerak. Misalnya ketika seorang pesilat melakukan satu gerak langkah serong sambil melakukan tangkisan sekaligus pukulan, maka di dalamnya terdapat beberapa gerak dasar, yaitu kuda-kuda serong, langkah serong, tangkisan, dan pukulan.

                Jurus Dasar adalah jurus yang digunakan pada tahap awal berlatih di suatu perguruan atau aliran sebagai fondasi untuk materi lanjutan. Satu jurus dasar bisa terdiri dari satu gerakan, satu rangkaian pendek, bahkan bisa juga berupa rangkaian panjang. Sifat dari jurus dasar ini terbagi menjadi dua, yaitu:

                Jurus Inti, yang di dalamnya terdapat prinsip-prinsip atau kaidah pencak silat yang dianut oleh suatu aliran atau perguruan. Sepintas jurus inti tidak bisa diduga bagaimana aplikasinya dalam suatu perkelahian tanpa keterangan dari guru. Biasanya jurus inti jumlahnya tidak terlalu banyak, namun dari jurus yang sedikit itu aplikasinya menjadi tidak terbatas jumlahnya.Sebagai contoh, aliran yang menggunakan jurus inti pada jurus dasarnya adalah Sabandar Jurus Lima, Cikalong, Suliwa, Maenpo Peupeuhan, dan Timbangan.

                Jurus Kajadian, yaitu jurus dasar yang bisa langsung diaplikasikan dalam bentuk serang bela. Biasanya jurus dasar seperti ini bisa langsung dilakukan oleh dua orang pesilat yang saling berhadapan tanpa mengubah gerakan dari jurus dasar tersebut. Contoh aliran atau perguruan yang menggunakan metode ini adalah Cimande, Jurus Kajadian Maenpo, Panglipur, Pager Kancana, dan Budhi Kancana.

                Dari Jurus Inti sebenarnya bisa dikembangkan menjadi berbagai Jurus Kajadian setelah jurus inti tersebut diaplikasikan dalam teknik serang bela. Sebagai contoh, Rd. Abad M. Sirod seorang tokoh maenpo Cikalong yang pada awalnya ia menerima Jurus Inti dari gurunya (Rd. Busrin) namun kemudian menciptakan 27 Jurus Kajadian dan 3 Jurus Maksud dengan alasan untuk mempermudah proses belajar mengajar. Menurutnya, dengan mengajarkan Jurus Kajadian murid-muridnya bisa langsung mengerti aplikasi dari setiap jurusnya.

                Jadi Ibing Penca sebenarnya adalah rangkaian jurus kajadian yang disusun sedemikian rupa sehingga memenuhi unsur estetika tanpa meninggalkan makna serang bela dalam setiap gerakannya. Ibing penca yang baik harus dapat menggambarkan suatu bentuk teknik perkelahian seolah-olah pesilat tersebut sedang berhadapan dengan lawan.

                5. Struktur Koreografi dan Karawitan pada Ibing Penca di Jawa Barat

                a. Koreografi Ibing Penca

                Sikap dan  gerakan dalam pencak silat sebagai beladiri dilakukan untuk melindungi diri dan menyerang, sedangkan dalam ibing penca sikap dan gerak dilakukan untuk kenikmatan penari yang bergerak mengikuti irama karawitan dan untuk kenikmatan yang menonton ibing penca. Mudah dipahami kalau gerakan dan sikap dalam ibing penca, walaupun bersumber pada beladiri namun memiliki perbedaan-perbedaan. Pada umumnya sikap dan gerakan dalam ibing penca lebih terbuka, lebih distilasi dan dilakukan dalam irama yang metrikal.

                Di dalam Ibing Penca di Jawa Barat terdapat pola koreografis yang umum, yaitu sebagai berikut:

                1)      Bagian pertama: Tepak Dua atau Paleredan, lebih memperlihatkan unsur keindahan.

                2)      Bagian kedua: Tepak Tilu atau Golempang, memperlihatkan teknik serang bela yang masih terikat pada ketukan irama.

                3)      Bagian ketiga: Padungdung, di sini pesilat berimprovisasi secara bebas sesuai dengan imajinasinya ketika itu.

                Berdasarkan koreografi itu, ibing pencak adalah salah satu jenis kesenian yang kaya segi kreatifitasnya karena masing-masing perguruan memiliki gerakan ibing penca yang berbeda walaupun berpatokan pada irama yang sama. Dapat dipahami, ibing penca merupakan tari yang paling populer dan paling banyak penggemarnya di Jawa Barat.

                Koreografi bagian pertama biasanya sangat kental dengan jurus-jurus yang berasal dari aliran Cimande, karena sifat geraknya lebih terbuka sehingga cocok dibawakan dengan tempo yang lambat. Contohnya adalah sebagai berikut:

                • Tepak Dua Salancar
                • Tepak Dua Sorong Dayung.
                • Tepak Dua Buang Kelid.
                • Tepak Dua Kampung Baru
                • Paleredan Jalak Pengkor
                • Paleredan Sawitan
                • Paleredan Pancer Opat

                Koreografi bagian kedua lebih banyak bersumber pada aliran Cikalong, Sabandar, dan Sera. Contohnya adalah sebagai berikut:

                • Tepak Tilu Cikalong
                • Tepak Tilu Jalan Muka
                • Tepak Tilu Alip Bandul
                • Tepak Tilu Peunggasan
                • Tepak Tilu Gerak Seta

                Koreografi bagian ketiga memperlihatkan jurus kajadian (jurus aplikasi) yang memperlihatkan teknik-teknik serang bela yang dilakukan dengan kecepatan yang sebenarnya dan yang pada awal perkembangannya bersifat improvisasi. Namun saat ini irama padungdung pun diisi dengan gerakan yang telah ditentukan sebelumnya, bukan improvisasi lagi. Contohnya adalah sebagai berikut:

                • Si Pecut
                • Pecah Alip
                • Pecah Gunting
                • Likuran
                • Si Pitung

                Saat ini banyak koreografi yang merupakan variasi atau gabungan dari aliran-aliran Cimande, Cikalong, Sabandar, Sera dan aliran yang lain. Ibing pencak yang banyak diajarkan di perguruan-perguruan pencak silat seperti di Panglipur, Pager Kancana, Kusuma Harapan, Domas, dan yang perguruan lainnya biasanya sudah merupakan olahan dari berbagai macam aliran yang dipelajari di perguruan yang bersangkutan.

                Ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan dalam memperagakan ibing penca, yaitu:

                Pertama, unsur kekayaan gerak (wiraga) yaitu kekayaan gerak atau jurus-jurus yang dimiliki oleh seorang pesilat selama belajar di perguruannya, sehingga penampilannya menjadi tidak monoton atau membosankan apabila tampil di atas pentas, terutama dalam pertandingan seni pencak silat. Tetapi apabila dalam acara spontanitas pada suatu hajatan misalnya, unsur kekayaan gerak tidak begitu diperhatikan pesilat. Yang penting pesilat mampu memperagakan gerakannya dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah pencak silat karena tidak terikat oleh sistem penilaian dari juri seperti dalam pelaksanaan pertandingan pencak silat seni.

                Kedua, unsur irama (wirahma) atau musik, unsur inilah yang membedakan aspek seni dengan aspek yang lain dalam pencak silat. Seorang pengibing penca harus mampu menyerasikan gerak dengan musik pengiringnya. Pengolahan irama yang variatif dan dinamis memiliki nilai lebih bagi seorang pesilat dalam membawakan ibingannya.

                Ketiga, unsur penjiwaan gerak (wirasa) yaitu salah satu unsur yang penting dimiliki oleh seorang pengibing penca. Penjiwaan gerak yang mantap sangat dipengaruhi oleh pemahaman pesilat terhadap setiap gerakan yang ditampilkannya. Oleh karena itu, pesilat dituntut harus menguasai arti dan makna gerak pencak silat yang sebenarnya, serta mengerti maksud dan tujuan dari jurus-jurus dan teknik-teknik pencak silat yang dipelajarinya.

                b. Karawitan

                Walaupun di daerah-daerah tertentu di Jawa Barat terdapat musik pengiring khas ibing penca seperti Patingtung di Banten, dan Terebang di Cirebon namun pada umumnya untuk mengiringi ibing penca dibutuhkan suatu ensembel yang disebut ‘kendang penca’. Ensembel ini sangat mendukung suasana ibing penca yang pada dasarnya merupakan tari perang atau tari perkelahian. Musik kendang penca kadang-kadang bersuasana menantang misalnya pada lagu Kembang Beureum atau Buah Kawung atau bersuasana do’a yaitu pada Kidung.

                Gendang pencak dimainkan oleh empat orang penabuh (nayaga/wiyaga). Mereka mempunyai tugas masing-masing dalam pelaksanaannya. Penabuh kendang pencak silat yang sudah berpengalaman selain mampu mengiringi ibing pencak silat yang sudah dirancang sebelumnya, ia pun mampu mengiringi gerakan-gerakan yang tidak dirancang sebelumnya.

                Adapun waditra (instrumen) yang terdapat di dalam kendang penca adalah sebagai berikut:

                1. Dua buah kendang besar (kendang indung dan kendang anak) dilengkapi dua buah kendang kecil (kulanter). Kendang bertugas mengisi gerak dan mengatur tempo.
                2. Sebuah terompet sebagai pembawa melodi
                3. Sebuah gong kecil (bende, kempul) sebagai pengatur irama, penegas tesis lagu.

                Jenis pukulan kendang yang juga tidak dapat dipisahkan dari jenis irama pada dasarnya adalah sebagai berikut:

                1. Tepak Dua. Motif-motif pukulan kendang untuk tempo lambat. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Kembang Gadung, Ayun Ambing, Polos, Gedong Panjang, Kendor Kulon, Tunggul Kawung, Bata Rubuh, Kidung, Sorong Dayung.
                2. Paleredan. Motif-motif pukulan kendang untuk tempo lambat. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Ayun Ambing, Bela pati, Sasalimpetan, Buah Kawung, Karawangan, Gendu, Gaya, Sari.
                3. Tepak Tilu. Motif-motif pukulan dengan tempo sedang. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Ucing-ucingan, Kembang Beureum, Bardin, Sintren, Papare, Bendrong Petit, Gendu, Kapuk Kapas, Garungan, Joher, Mainang, Kacang Asin, Oyong-oyong Bangkong.
                4. Golempang. Motif-motif lebih cepat daripada Tepak Tilu. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Kembang Beureum, Kacang Asin.
                5. Padungdung. Motif pukulan dengan tempo paling cepat. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Kidung, Kolear, Leang-leang, Ceurik Rahwana.

                6. Kapan Ibing Penca Diajarkan?

                Penempatan pelajaran ibing penca di setiap perguruan tidak sama. Ada yang ditempatkan di awal, ada pula yang ditempatkan di akhir. Lebih jelasnya proses belajar di perguruan pencak silat yang di dalamnya ada materi ibing penca adalah sebagai berikut:

                1. Jurus dasar – ibing penca – beladiri (Contoh: Panglipur, Pager Kancana, Budhi Kancana)
                2. Jurus dasar – beladiri – ibing penca (Contoh: Cimande)
                3. Jurus dasar – rangkaian gerak – beladiri – ibing penca (Contoh: Maenpo Peupeuhan)
                4. Ibing penca – beladiri (Contoh: Sekar Pusaka)
                5. Jurus dasar – Aplikasi jurus dasar – Rangkaian gerak – Ibing Penca – Beladiri (Contoh: Garis Paksi)

                Penempatan materi ibing penca di awal adalah strategi agar pencak silat lebih disukai oleh kalangan pesilat usia anak-anak dan remaja, karena ibing penca dapat diajarkan secara massal dan kecil kemungkinannya pesilat mengalami cidera. Di samping itu dengan ibing penca dapat digunakan dalam ajang perlombaan seni pencak silat yang diadakan oleh IPSI maupun PPSI. Sistem pengajaran seperti ini biasanya digunakan di lingkungan sekolah. Pada kasus ini, seorang pesilat yang mampu membawakan ibingan dengan baik belum tentu mahir dalam beladiri.

                Penempatan materi ibing penca di akhir bermaksud untuk penghalusan gerak jurus dan dapat digunakan sebagai alat hiburan setelah mempelajari beladiri. Pada kasus ini, seorang pesilat yang sudah berani tampil membawakan ibing penca sudah dipastikan mampu membela diri. Dahulu seorang pesilat yang melakukan ibing penca harus siap jika suatu waktu ada orang yang masuk ke gelanggang untuk  mencoba keterampilan berkelahi dengannya.

                Namun ada pula yang mengajarkan ibing penca bersamaan waktunya dengan mengajarkan beladiri. Atau ada pemisahan antara murid yang ingin mendalami ibing penca dan murid yang ingin mendalami beladiri. Sebagai contoh, di Himpunan Pencak Silat Panglipur, setelah murid menguasai 6 dasar pukulan, 9 jurus dasar, dan dua pola langkah maka bisa dilanjutkan dengan mempelajari Ibing Paleredan Pancer Opat, Tepak Tilu Jalan Muka, kemudian ditutup dengan Padungdung Si Pecut. Namun jika ingin mempelajari beladiri, maka dari jurus dasar bisa langsung mempelajari aplikasi dari setiap jurus disertai dengan pengertian kaedah-kaedahnya sehingga benar-benar mengerti dan mampu mengaplikasikannya dalam usik beladiri.

                Contoh lain, di Paguron Pusaka Siliwangi yang didirikan oleh Rd. Didi Muhtadi, jika ia mengajar ibing penca maka ia memulainya dengan mengajarkan 13 jurus dasar Cikalong, kemudian mengajarkan berbagai pola langkah dan akhirnya mengajarkan ibing penca. Namun jika ingin mengajarkan beladiri, dari jurus dilanjutkan dengan pelajaran kaedah maenpo Cikalong dan dilanjutkan dengan praktik usik-usikan atau tapelan (latihan berpasangan untuk mengolah rasa).

                7. Manfaat Ibing Penca dalam Beladiri

                Apakah ibing penca dapat digunakan untuk membeladiri? Apakah setiap pesilat yang sangat bagus membawakan ibing penca sudah pasti dapat melakukan pembelaan diri dengan baik? Jawabnya belum tentu. Seorang pesilat yang hanya belajar ibing penca atau baru belajar ibing penca pasti tidak akan bisa dijadikan sebagai alat pembelaan diri yang efektif.

                Jangankan ibing penca, pesilat yang mampu memainkan jurus ganda dengan baik belum tentu juga mampu menggunakan teknik beladiri dengan baik. (Penampilan kategori Ganda atau berpasangan adalah latihan atau peragaan berpasangan dari pesilat yang menampilkan serang bela. Di dalam ganda masing-masing pesilat saling memberi kesempatan kepada mitranya untuk menggunakan jurusnya yang sudah diatur sebelumnya).

                Ibing penca, ganda, usik/beladiri merupakan ilmu pencak silat yang memiliki perbedaan dalam tatacara berlatih dan mengaplikasikannya. Orang yang pandai ibing penca belum tentu bisa jurus ganda atau mahir beladiri. Orang yang mahir jurus ganda belum tentu bisa ibing penca atau usik beladiri yang sebenarnya. Begitu pula orang yang mahir usik beladiri belum tentu bisa ibing penca atau ganda.

                Namun apabila masing-masing dihubungkan, maka akan terlihat keterkaitan yang saling mendukung satu sama lain. Dengan mempelajari ibing penca, pesilat akan mengerti irama, menghaluskan rasa, merasakan adanya energi dari musik pengiring. Sering terlihat seorang pendekar sepuh yang sudah renta tiba-tiba menjadi jagjag waringkas ketika mendengar kendang penca dan melakukan ibing penca, tetapi kemudian kembali “normal” ketika selesai membawakan ibingannya.

                Dengan ganda pesilat belajar perbendaharaan teknik pencak silat dalam hal belaan dan serangan. Mengasah untuk saling memberi dan toleransi kepada mitranya, melatih timing yang tepat dalam bergerak. Dengan belajar usik/beladiri, kita dituntut untuk dapat menghadapi serangan apapun dalam situasi apapun. Tidak ada aturan dalam usik, tujuan utamanya adalah mampu mengalahkan lawan. Jadi semua memiliki porsinya masing-masing.

                Sebenarnya di dalam ibing penca teknis pencak silat sudah cukup lengkap, mulai dari jurus, kuda-kuda, pasang, perpindahan posisi, hingga pola langkah. Tapi memang, di dalam ibing dimasukan elemen kembangan untuk mempermanisnya, yang kadang memang lebih banyak didominasi unsur tarian. Seorang pesilat yang telah menguasai ibing penca dengan baik harus melalui tahapan tertentu dengan metode latihan tertentu pula agar mahir pula dalam membela diri, tidak cukup hanya mempelajari ibing terus menerus.

                Di Perguruan Pencak Silat Sekar Pusaka yang didirikan oleh Aki Iyat Ruchiyat, ibing penca langsung diberikan kepada murid baru, tanpa melalui tahap belajar jurus dasar. Kemudian setelah murid tersebut telah mampu menghafal dan membawakan ibing dengan benar dan bagus, maka mulailah Aki Iyat mengajarkan aplikasi yang terdapat dalam ibingan-ibingan tersebut. Istilahnya mesek cangkang tembong eusi, layu kembang bijil buah. Arti harfiahnya adalah “mengupas kulit agar terlihat isinya, layu bunga lantas muncul buahnya”. Jadi setelah ibingan itu dibuka kaidah-kaidah silatnya dengan dibarengi dengan latihan-latihan tertentu maka seorang pesilat yang ibingannya bagus dapat pula melakukan pembelaan diri dengan baik.

                Pesilat yang telah mengetahui aplikasi dari ibing penca yang dibawakannya akan lebih menghayati setiap gerakannya. Penempatan tenaga antara leuleus (lemas/rileks) dan teuas (keras) akan semakin baik, demikian juga penggunaan ekspresi akan lebih gereget karena pesilat tersebut sedang membayangkan seolah-olah sedang menghadapi lawan.

                8. Perkembangan Karawitan PencaK Silat

                Pada umumnya di Jawa Barat musik pengiring ibing penca adalah suatu ensembel yang disebut “kendang penca”, terdiri dari dua buah kendang besar dan dua buah kendang kecil (kulanter) bertugas mengisi gerak dan mengatur tempo, sebuah terompet sebagai pembawa melodi, dan sebuah gong kecil sebagai pengatur irama dan penegas tesis lagu. Jenis pukulan kendang yang tidak dapat dipisahkan dari jenis irama pada dasarnya ada empat, yaitu Tepak Dua, Tepak Tilu, Golempang, dan Padungdung.

                Karawitan pencak silat di Bandung mengalami perkembangan yang cukup dinamis. Jenis irama tidak lagi hanya berpatokan pada irama yang sudah baku, tetapi mulai berkreasi menciptakan irama baru, menambahkan beberapa waditra tambahan, bahkan menggunakan waditra yang sebelumnya tidak lazim digunakan untuk mengiringi ibing penca.

                Pada tahun 1970-an muncul ibing penca yang lebih dikenal dengan Ibing Maenpo Cianjuran yang menggunakan tembang cianjuran sebagai musik pengiringnya. Meskipun menggunakan nama “cianjuran”, namun Ibing Maenpo Cianjuran diciptakan dan kemudian berkembang di Bandung. Ibing Maenpo Cianjuran adalah hasil karya cipta seorang tokoh Maenpo asal Bandung, yaitu Adung Rais. Pada saat itu ia mencoba memadukan seni beladiri Maenpo Peupeuhan dengan seni tradisional tembang cianjuran atau dikenal dengan nama kacapi suling.

                Untuk bisa melakukan Ibing Penca ini, seorang praktisi Maenpo harus menguasai teknik Maenpo dengan baik dan memahami musik Cianjuran. Penguasaan teknik maenpo yang baik sangat penting karena Ibing Penca Cianjuran ini bersifat improvisasi sama halnya dengan musik cianjuran yang juga kaya dengan improvisasi.

                Pemahaman wirama ini menyangkut dengan bagaimana menemukan ketukan dan meletakkan gong dalam musik cianjuran. Hampir sama dengan kendang penca, misalnya dalam Tepak Paleredan atau Tepak Dua, klimaks dari satu rangkaian gerak harus berakhir tepat dengan bunyi gong. Pemahaman wirasa menyangkut unsur rasa. Penari harus tahu kapan bergerak cepat atau lambat, kapan satu hitungan menggunakan banyak jurus atau sebaliknya satu jurus dilakukan dalam tiga atau lebih hitungan, semuanya adalah improvisasi.

                Yang tidak kalah pentingnya adalah pemahaman syair. Setiap syair dan lagu cianjuran tentunya berbeda pesan, cerita dan makna. Lagu yang berbeda tentunya harus dibawakan dengan penjiwaan yang berbeda pula. Saat menari dengan Kidung atau Rajah misalnya, penari harus membawakannya dengan pembawaan yang khidmat dan tidak beringas. Lagu-lagu yang bersifat mengisahkan perang, disini bisa ditampilkan gerakan2 yang ganas, mimik wajah beringas, marah dsb, sedang untuk sinom satria, mungkin juga harus berusaha menampilkan kesan yang gagah dan agung dari seorang ksatria sunda. Bisa dikatakan, penguasaan akting yang baik akan menjadikan seorang penari Ibing Penca Cianjuran menjadi lebih mantap dalam membawakan tariannya.

                Menurut Adung Rais, bila sudah memahami dan menghayati secara maksimal maenpo dan cianjuran ini, bisa dikatakan sudah terjadi suatu keseimbangan karena telah terjadi perpaduan yang harmonis antara bentuk kekerasan dan bentuk kehalusan.

                Sekitar tahun 1995 di Bandung muncul lagi irama pengiring ibing penca yang termasuk unik dan baru. Irama musiknya dikenal dengan irama “Tepak Gonjing” atau “Tepak Tungbreng”. Irama ini tercipta dengan latar belakang kebutuhan dalam kejuaraan seni pencak silat tingkat nasional yang diadakan oleh IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia), di mana salah satu penilaiannya adalah variasi dalam irama pengiring ibing penca. Saat itu Ketua Pengda IPSI Jawa Barat H. Suhana Budjana meminta kepada para guru pencak silat dan para nayaganya untuk membuat kreasi baru dalam iringan musik pencak silat.

                Permintaan itu direspons dengan berkumpulnya sejumlah tokoh dan pendekar pencak silat dan beberapa seniman Sunda untuk merumuskan pola irama baru. Melalui proses yang tidak terlalu lama maka terciptalah irama Tungbreng atau Gonjing yang memiliki pola tabuhan khas. Kata tungbreng diambil dari bunyi yang dihasilkan oleh alat tabuhannya. Selain mempertahankan ensambel kendang penca yang asli seperti gendang, tarompet dan gong, dalam irama gonjing ditambah beberapa ensambel pelengkap yang terdiri dari kecrek, bonang, dan bedug. Kadang-kadang untuk kebutuhan suasana tertentu dipakai juga kacapi dan suling.

                Walaupun pada awalnya Tepak Gonjing menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan penggemar pencak silat, namun lambat laun akhirnya dapat diterima. Para pesilat anak-anak dan remaja kebanyakan lebih menyukai irama ini untuk mengiringi ibingannya dengan alasan lebih dinamis.

                Munculnya Tepak Tungbreng sebagai karya baru dalam blantika ibing penca dianggap sebagai prestasi bagi para tokoh, pendekar, dan seniman yang berkiprah di dunia persilatan Jawa Barat. Hal ini terbukti dengan adanya fenomena penampilan Tepak Tungbreng di setiap pasanggiri atau festival pencak silat di Bandung, bahkan di Jawa Barat. Tepak Tungbreng kini sudah menyebar dari Bandung ke daerah-daerah lain di Jawa Barat.

                9. Penutup

                Ibing penca harus dipandang sebagai bagian integral dari suatu ilmu pencak silat di suatu perguruan, sehingga akan banyak manfaat yang bisa diambil dari mempelajari ibing penca. Keberadaan ibing penca di perguruan pencak silat tergantung pada kebijakan perguruan itu sendiri. Jika secara tradisi di suatu perguruan diajarkan ibing penca, maka hal itu patut dilestarikan keberadaanya bahkan harus lebih dikembangkan lagi dengan menciptakan ibingan-ibingan penca yang baru disesuaikan dengan kebutuhan. Bagi perguruan yang tidak memiliki tradisi ibing penca tidak usah memaksakan diri agar ada materi ibing penca, namun jika ingin mencoba sebenarnya bisa saja dengan cara menyusun ibing penca dengan menggunakan patokan irama yang sudah baku atau dengan memodifikasi irama tertentu.

                Ibing penca jika ditempatkan pada tempat semestinya akan banyak manfaatnya yang bisa diambil. Namun paling tidak, dengan mempelajari ibing penca kita sudah turut melestarikan salah satu seni budaya peninggalan para pendekar pendahulu kita.

                Graspuzi 16022011

                dikutip dari:
                facebook Gending Raspuzi




                Tags: , , ,


                Artikel Ibing Penca dan Beladiri Pencak Silat yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


                  - Powered by BING [2014-03-18 00:27]

                  Comments are closed.

                  Ibing Penca dan Beladiri Pencak Silat - Silat Indonesia

                  Ibing Penca dan Beladiri Pencak Silat.

                      [
                  in English ]

                  Feb 23rd, 2011 | By | Category: Artikel Silat [ in English ]

                  IBING PENCA DAN BELADIRI PENCAK SILAT
                  ANTARA KEMBANG DAN BUAH
                  “Mesek cangkang tembong eusi, layu kembang bijil buah

                  Disampaikan pada Seminar Pencak Silat Tradisional dalam Persfektif Budaya dan Sejarah
                  17 Februari 2011 di Universitas Indonesia

                  1. Pendahuluan

                  gending-raspuzi-01Di Jawa Barat, di samping dikenal adanya pencak sebagai bela diri, yang disebut dengan ‘buah’ atau ‘eusi’ (isi), dikenal pula pencak silat ‘kembang’ (bunga) atau ‘ibing penca’ (tari pencak). Begitu eratnya hubungan batin masyarakat Jawa Barat dengan seni pencak silat (kembang), hingga  banyak anggota masyarakat Jawa Barat yang menghubungkan kata pencak tidak dengan bela diri, akan tetapi dengan Ibing Penca.

                  Istilah Ibing Penca memang berasal dari Jawa Barat. Secara harfiah Ibing Penca dapat diterjemahkan menjadi Tari Pencak. Tapi para tokoh pencak silat di Jawa Barat kurang setuju jika ibing penca disebut tari pencak, karena kata “tari” cenderung lebih menitik beratkan pada unsur tarinya, yaitu suatu seni yang menampilkan keindahan gerak meskipun gerakannya diambil dari unsur-unsur pencak silat. Sedangkan “ibing penca” lebih menitikberatkan pada unsur pencak silat, yaitu gerak yang memiliki fungsi serang bela, walaupun tidak dapat disangkal di dalamnya juga mengandung unsur-unsur keindahan.

                  Ada sebagian orang berpendapat bahwa Ibing Penca adalah bagian dari pencak silat dan bisa digunakan sebagai software untuk membela diri jika dilatih dengan rutin, namun ada juga yang berpendapat bahwa Ibing Penca bukanlah pencak silat, melainkan hanya sebatas seni tari dalam bentuk gerakan pencak silat dan tidak bisa digunakan untuk membela diri meskipun dilatih dengan serius dan tekun. Di sisi lain ada juga yang berpendapat bahwa belajar Ibing Penca jika mengerti aplikasi dari setiap gerakan akan bisa dijadikan alat membela diri, sebab Ibing Penca merupakan gabungan rangkaian gerak membela diri hanya saja di iringi musik (jika dipertontonkan), namun dalam praktik latihan sehari-harinya tidak.

                  Dari sinilah timbul persoalan, apakah sebenarnya Ibing Penca berguna untuk membela diri atau hanya sekedar tarian yang tidak ada hubungannya dengan kemahiran beladiri.

                  2. Pencak Silat dan Tari

                  Pencak silat di Indonesia memiliki bermacam bentuk dan ragam yang lahir, hidup dan berkembang di masing-masing aliran dan perguruan pencak silat. Pada mulanya pencak silat diciptakan untuk membela diri, namun dalam perkembangannya, pencak silat dapat juga dijadikan sebagai sumber keindahan bentuk, gerak, irama dan ekspresi yang melukiskan adegan serang bela menggunakan tangan kosong maupun senjata.

                  Pencak silat dan tari merupakan satu ekspresi yang berkaitan dan saling mengisi, karena keduanya menggunakan tubuh manusia sebagai materi pokok, di samping ketajaman pikiran dan perasaan yang selalu berdampingan sewaktu melaksanakan pencak silat atau menari, ditambah dengan ketahanan fisik dan keuletan menggarap teknis pencak silat dan tari. Banyak pakar tari yang merasakan kebutuhan untuk belajar pencak silat yang ternyata besar sekali manfaatnya bagi seorang penari.

                  Persamaan Pencak dan tari adalah keduanya menggunakan tubuh beserta bagian-bagian dari anggota badan manusia sebagai materi utama. Pembinaan fisik dan ekspresi banyak persamaannya, hanya penggunaannya yang berbeda. Pencak silat adalah olah tubuh dari rasa yang dipergunakan untuk membela diri, sedangkan tari adalah olah tubuh untuk mengekspresikan suatu keindahan yang bersifat spiritual dan melahirkan suasana yang semuanya lahir karena tradisi atau dari jiwa para seniman.

                  Pembinaan tubuh dan penguasaaan teknik gerak untuk pencak silat dan tari membutuhkan waktu dan ketekunan berlatih fisik secara kontinyu, karena ketahanan fisik merupakan syarat utama. Ketahanan dari teknik pernafasan, keterampilan gerak, juga keindahan gerak dan keluwesannya ada di dalam pencak silat dan tari. Gerak berat, ringan, tegang, lemah, cepat, pelan, dan berirama merupakan sarana-sarana latihan teknik tubuh yang harus dilaksanakan dengan baik dan teratur bagi seorang pesilat dan penari.

                  Keindahan langkah kaki, gerak tangan kontinyu, posisi yang pasti, ketenangan dan ledakan-ledakan ekspresi gerak di samping kelembutan ada pada pencak silat dan tari. Maka pengaruh timbal balik antara pencak sebagai beladiri dengan tari telah ada pada seni tari di Indonesia.

                  3. Asal Mula Ibing Penca

                  Sejak kapan dan apa yang melatarbelakangi munculnya ibing penca? Hal ini memerlukan penelitian yang mendalam. Ada beberapa sumber yang mengatakan bahwa ibing penca diciptakan sebagai kamuflase dari beladiri yang dilarang pada zaman penjajahan Belanda, di mana dinyatakan bahwa pada saat itu para pendekar yang ingin menyebarkan pencak silat terbentur pada larangan yang dikeluarkan oleh pemerintahan kolonial, sehingga untuk menyiasatinya dibuatlah ibing penca agar pencak silat tetap boleh diajarkan. Ibing penca ditampilkan kepada masyarakat umum sedangkan beladirinya tetap diajarkan secara sembunyi-sembunyi. Untuk kasus-kasus tertentu hal ini mungkin ada benarnya, namun bagi kasus yang lain pendapat ini belum tentu tepat.

                  Pada awalnya aspek pencak silat yang pertama lahir adalah aspek beladiri. Situasi dan kondisi pada suatu masa secara alamiah menyebabkan manusia selalui menyesuaikan diri dengan alam dan lingkungannya,  naluri untuk menjaga eksistensi diri dan kelompoknya menimbulkan upaya agar kelompoknya lebih kuat dari kelompok yang lain. Bersama itu pula timbul kebutuhan untuk menciptakan alat pembelaan diri yang efektif, mulai dari menciptakan senjata dan menciptakan berbagai teknik perkelahian. Pada suatu masa yang mengharuskan orang mampu membela diri secara fisik, menyebabkan tumbuh suburnya bebagai jenis aliran beladiri. Dalam hal ini aliran-aliran pencak silat.

                  Namun perlu diingat bahwa selain memiliki naluri mempertahankan diri, manusia pun memiliki naluri untuk menyukai keindahan. Dari berbagai hal yang ada di sekelilingnya, manusia mampu menciptakan berbagai bentuk keindahan melalui seni. Ketika manusia menemukan alat yang dapat digunakan sebagai senjata, dengan alat itu pula mereka menciptakan karya seni pahatan. Ketika manusia memahami adanya nada dalam bunyi, maka manusia menciptakan musik dan nyanyian. Demikian pula halnya ketika di menyadari bahwa di dalam gerak terdapat keindahan, maka muncullah berbagai jenis tarian. Dari mana inspirasi membuat tarian itu? Salah satunya adalah dari teknik beladiri yang telah dikuasai sebelumnya. Ketika pencak silat tidak banyak lagi digunakan sebagai alat untuk membela diri, maka aspek lain dapat digali, seperti aspek olah raga dan seni. Dari sinilah ibing penca itu muncul. Ia tercipta dari kebutuhan manusia yang gandrung akan keindahan melalui medium gerak.

                  Di Jawa Barat pencak silat banyak mempengaruhi kesenian lain, khususnya tari rakyat. Contoh seni yang dipengaruhi pencak silat: Ketuk Tilu, Jaipongan, Cikeruhan, Sisingaan, Kuda Renggong. Pada awalnya ketika seorang pria sedang kaul Ketuk tilu, maka gerakan yang digunakan adalah gerak improvisasi yang diambil dari jurus-jurus pencak silat

                  Banyak koreografer tari yang memiliki latar belakang pencak silat, di antaranya adalah R. Tjetje Somantri, maestro Tari Keurseus, dan Gugum Gumbira, maestro Jaipongan. Dengan dasar pemikiran bahwa pencak silat merupakan salah satu sumber bagi jenis kesenian lainnya, maka STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Bandung memasukkan mata kuliah pencak silat selama 4 SKS dalam dua semester.

                  Meskipun Ketuk Tilu, Jaipongan atau jenis kesenian lainnya bersumber dari gerakan pencak silat tetapi tidak otomatis disebut sebagai tari pencak silat, karena fungsinya sudah berbeda yakni menjadi alat hiburan semata. Berbeda halnya dengan Ibing Penca, bagi perguruan pencak silat yang di dalamnya terdapat materi Ibing Penca, tentu saja ibing penca dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari ilmu pencak silat.

                  Jika kita melihat berbagai jenis aliran pencak silat ‘buhun’, jarang sekali di dalamnya terdapat pelajaran ibing penca (kecuali Cimande). Hal ini membuktikan bahwa pada awalnya aliran-aliran pencak silat lebih mengutamakan aspek beladiri daripada aspek seni. Atau dengan kata lain ibing penca muncul belakangan setelah ada beladiri pencak silat.

                  Seni Ibing Penca tumbuh subur berkembang di perguruan pencak silat, bukan di aliran asalnya. Sebagai contoh, aliran Cikalong tidak mengenal ibing penca, tetapi Gan Didi Muhtadi, salah seorang tokoh Maenpo Cikalong dari Pasar Baru Cianjur melalui perguruannya Pusaka Siliwangi mengembangkan ibing penca sehingga Gan Didi lebih dikenal sebagai guru ibing penca dari pada guru maenpo. Kemampuannya dalam menciptakan dan mengajarkan ibing penca merupakan hal yang jarang ditemui pada guru-guru maenpo di Cianjur yang hidup pada masa itu.

                  Contoh yang lain, Himpunan Pencak Silat Panglipur yang didirikan Abah Aleh adalah perguruan yang sekarang dikenal dengan kekayaan dan keindahan dalam ibing penca, padahal dari sejarah Panglipur dapat dilihat bahwa guru-guru Abah Aleh adalah pendekar dari berbagai aliran pencak silat yang mumpuni dalam aspek beladiri, bukan dalam aspek seni. Namun Abah Aleh sendiri yang mengolahnya menjadi berbagai bentuk ibing penca.

                  Ibing penca dapat berkembang di perguruan bukan di aliran pencak silat, hal ini terjadi karena biasanya pada suatu aliran pencak silat sudah terdapat aturan baku baik dari segi filosofis maupun teknis yang tidak boleh diubah, ditambah maupun dikurangi oleh para pengikutnya. Berbeda halnya dengan di perguruan pencak silat yang dipimpin oleh pendekar yang biasanya sudah mempelajari berbagai aliran, sehingga memiliki wawasan yang luas dan tidak terlalu kaku dalam mengembangkan pencak silat. Di dalam suatu perguruan biasanya teknik-teknik dari berbagai aliran selain tetap dipertahankan keasliannya namun tidak menutup kemungkinan kemudian dicoba dicampur sehingga menjadi bentuk baru yang menjadi ciri khas perguruan itu. Di sinilah banyak terjadi pengolahan teknik, termasuk pengolahan aspek seni dalam bentuk ibing penca.

                  4. Jurus yang Terdapat dalam Ibing Penca

                  Di dalam ibing penca terdapat jurus-jurus pencak silat. Namun, sebenarnya jenis jurus seperti apa yang digunakan dalam ibing penca? Pertama-tama harus dibedakan terlebih dahulu antara Gerak Dasar, Jurus Dasar, Jurus Inti, dan Jurus Kajadian.

                  Gerak Dasar adalah unsur yang paling kecil dalam suatu gerak. Misalnya ketika seorang pesilat melakukan satu gerak langkah serong sambil melakukan tangkisan sekaligus pukulan, maka di dalamnya terdapat beberapa gerak dasar, yaitu kuda-kuda serong, langkah serong, tangkisan, dan pukulan.

                  Jurus Dasar adalah jurus yang digunakan pada tahap awal berlatih di suatu perguruan atau aliran sebagai fondasi untuk materi lanjutan. Satu jurus dasar bisa terdiri dari satu gerakan, satu rangkaian pendek, bahkan bisa juga berupa rangkaian panjang. Sifat dari jurus dasar ini terbagi menjadi dua, yaitu:

                  Jurus Inti, yang di dalamnya terdapat prinsip-prinsip atau kaidah pencak silat yang dianut oleh suatu aliran atau perguruan. Sepintas jurus inti tidak bisa diduga bagaimana aplikasinya dalam suatu perkelahian tanpa keterangan dari guru. Biasanya jurus inti jumlahnya tidak terlalu banyak, namun dari jurus yang sedikit itu aplikasinya menjadi tidak terbatas jumlahnya.Sebagai contoh, aliran yang menggunakan jurus inti pada jurus dasarnya adalah Sabandar Jurus Lima, Cikalong, Suliwa, Maenpo Peupeuhan, dan Timbangan.

                  Jurus Kajadian, yaitu jurus dasar yang bisa langsung diaplikasikan dalam bentuk serang bela. Biasanya jurus dasar seperti ini bisa langsung dilakukan oleh dua orang pesilat yang saling berhadapan tanpa mengubah gerakan dari jurus dasar tersebut. Contoh aliran atau perguruan yang menggunakan metode ini adalah Cimande, Jurus Kajadian Maenpo, Panglipur, Pager Kancana, dan Budhi Kancana.

                  Dari Jurus Inti sebenarnya bisa dikembangkan menjadi berbagai Jurus Kajadian setelah jurus inti tersebut diaplikasikan dalam teknik serang bela. Sebagai contoh, Rd. Abad M. Sirod seorang tokoh maenpo Cikalong yang pada awalnya ia menerima Jurus Inti dari gurunya (Rd. Busrin) namun kemudian menciptakan 27 Jurus Kajadian dan 3 Jurus Maksud dengan alasan untuk mempermudah proses belajar mengajar. Menurutnya, dengan mengajarkan Jurus Kajadian murid-muridnya bisa langsung mengerti aplikasi dari setiap jurusnya.

                  Jadi Ibing Penca sebenarnya adalah rangkaian jurus kajadian yang disusun sedemikian rupa sehingga memenuhi unsur estetika tanpa meninggalkan makna serang bela dalam setiap gerakannya. Ibing penca yang baik harus dapat menggambarkan suatu bentuk teknik perkelahian seolah-olah pesilat tersebut sedang berhadapan dengan lawan.

                  5. Struktur Koreografi dan Karawitan pada Ibing Penca di Jawa Barat

                  a. Koreografi Ibing Penca

                  Sikap dan  gerakan dalam pencak silat sebagai beladiri dilakukan untuk melindungi diri dan menyerang, sedangkan dalam ibing penca sikap dan gerak dilakukan untuk kenikmatan penari yang bergerak mengikuti irama karawitan dan untuk kenikmatan yang menonton ibing penca. Mudah dipahami kalau gerakan dan sikap dalam ibing penca, walaupun bersumber pada beladiri namun memiliki perbedaan-perbedaan. Pada umumnya sikap dan gerakan dalam ibing penca lebih terbuka, lebih distilasi dan dilakukan dalam irama yang metrikal.

                  Di dalam Ibing Penca di Jawa Barat terdapat pola koreografis yang umum, yaitu sebagai berikut:

                  1)      Bagian pertama: Tepak Dua atau Paleredan, lebih memperlihatkan unsur keindahan.

                  2)      Bagian kedua: Tepak Tilu atau Golempang, memperlihatkan teknik serang bela yang masih terikat pada ketukan irama.

                  3)      Bagian ketiga: Padungdung, di sini pesilat berimprovisasi secara bebas sesuai dengan imajinasinya ketika itu.

                  Berdasarkan koreografi itu, ibing pencak adalah salah satu jenis kesenian yang kaya segi kreatifitasnya karena masing-masing perguruan memiliki gerakan ibing penca yang berbeda walaupun berpatokan pada irama yang sama. Dapat dipahami, ibing penca merupakan tari yang paling populer dan paling banyak penggemarnya di Jawa Barat.

                  Koreografi bagian pertama biasanya sangat kental dengan jurus-jurus yang berasal dari aliran Cimande, karena sifat geraknya lebih terbuka sehingga cocok dibawakan dengan tempo yang lambat. Contohnya adalah sebagai berikut:

                  • Tepak Dua Salancar
                  • Tepak Dua Sorong Dayung.
                  • Tepak Dua Buang Kelid.
                  • Tepak Dua Kampung Baru
                  • Paleredan Jalak Pengkor
                  • Paleredan Sawitan
                  • Paleredan Pancer Opat

                  Koreografi bagian kedua lebih banyak bersumber pada aliran Cikalong, Sabandar, dan Sera. Contohnya adalah sebagai berikut:

                  • Tepak Tilu Cikalong
                  • Tepak Tilu Jalan Muka
                  • Tepak Tilu Alip Bandul
                  • Tepak Tilu Peunggasan
                  • Tepak Tilu Gerak Seta

                  Koreografi bagian ketiga memperlihatkan jurus kajadian (jurus aplikasi) yang memperlihatkan teknik-teknik serang bela yang dilakukan dengan kecepatan yang sebenarnya dan yang pada awal perkembangannya bersifat improvisasi. Namun saat ini irama padungdung pun diisi dengan gerakan yang telah ditentukan sebelumnya, bukan improvisasi lagi. Contohnya adalah sebagai berikut:

                  • Si Pecut
                  • Pecah Alip
                  • Pecah Gunting
                  • Likuran
                  • Si Pitung

                  Saat ini banyak koreografi yang merupakan variasi atau gabungan dari aliran-aliran Cimande, Cikalong, Sabandar, Sera dan aliran yang lain. Ibing pencak yang banyak diajarkan di perguruan-perguruan pencak silat seperti di Panglipur, Pager Kancana, Kusuma Harapan, Domas, dan yang perguruan lainnya biasanya sudah merupakan olahan dari berbagai macam aliran yang dipelajari di perguruan yang bersangkutan.

                  Ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan dalam memperagakan ibing penca, yaitu:

                  Pertama, unsur kekayaan gerak (wiraga) yaitu kekayaan gerak atau jurus-jurus yang dimiliki oleh seorang pesilat selama belajar di perguruannya, sehingga penampilannya menjadi tidak monoton atau membosankan apabila tampil di atas pentas, terutama dalam pertandingan seni pencak silat. Tetapi apabila dalam acara spontanitas pada suatu hajatan misalnya, unsur kekayaan gerak tidak begitu diperhatikan pesilat. Yang penting pesilat mampu memperagakan gerakannya dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah pencak silat karena tidak terikat oleh sistem penilaian dari juri seperti dalam pelaksanaan pertandingan pencak silat seni.

                  Kedua, unsur irama (wirahma) atau musik, unsur inilah yang membedakan aspek seni dengan aspek yang lain dalam pencak silat. Seorang pengibing penca harus mampu menyerasikan gerak dengan musik pengiringnya. Pengolahan irama yang variatif dan dinamis memiliki nilai lebih bagi seorang pesilat dalam membawakan ibingannya.

                  Ketiga, unsur penjiwaan gerak (wirasa) yaitu salah satu unsur yang penting dimiliki oleh seorang pengibing penca. Penjiwaan gerak yang mantap sangat dipengaruhi oleh pemahaman pesilat terhadap setiap gerakan yang ditampilkannya. Oleh karena itu, pesilat dituntut harus menguasai arti dan makna gerak pencak silat yang sebenarnya, serta mengerti maksud dan tujuan dari jurus-jurus dan teknik-teknik pencak silat yang dipelajarinya.

                  b. Karawitan

                  Walaupun di daerah-daerah tertentu di Jawa Barat terdapat musik pengiring khas ibing penca seperti Patingtung di Banten, dan Terebang di Cirebon namun pada umumnya untuk mengiringi ibing penca dibutuhkan suatu ensembel yang disebut ‘kendang penca’. Ensembel ini sangat mendukung suasana ibing penca yang pada dasarnya merupakan tari perang atau tari perkelahian. Musik kendang penca kadang-kadang bersuasana menantang misalnya pada lagu Kembang Beureum atau Buah Kawung atau bersuasana do’a yaitu pada Kidung.

                  Gendang pencak dimainkan oleh empat orang penabuh (nayaga/wiyaga). Mereka mempunyai tugas masing-masing dalam pelaksanaannya. Penabuh kendang pencak silat yang sudah berpengalaman selain mampu mengiringi ibing pencak silat yang sudah dirancang sebelumnya, ia pun mampu mengiringi gerakan-gerakan yang tidak dirancang sebelumnya.

                  Adapun waditra (instrumen) yang terdapat di dalam kendang penca adalah sebagai berikut:

                  1. Dua buah kendang besar (kendang indung dan kendang anak) dilengkapi dua buah kendang kecil (kulanter). Kendang bertugas mengisi gerak dan mengatur tempo.
                  2. Sebuah terompet sebagai pembawa melodi
                  3. Sebuah gong kecil (bende, kempul) sebagai pengatur irama, penegas tesis lagu.

                  Jenis pukulan kendang yang juga tidak dapat dipisahkan dari jenis irama pada dasarnya adalah sebagai berikut:

                  1. Tepak Dua. Motif-motif pukulan kendang untuk tempo lambat. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Kembang Gadung, Ayun Ambing, Polos, Gedong Panjang, Kendor Kulon, Tunggul Kawung, Bata Rubuh, Kidung, Sorong Dayung.
                  2. Paleredan. Motif-motif pukulan kendang untuk tempo lambat. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Ayun Ambing, Bela pati, Sasalimpetan, Buah Kawung, Karawangan, Gendu, Gaya, Sari.
                  3. Tepak Tilu. Motif-motif pukulan dengan tempo sedang. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Ucing-ucingan, Kembang Beureum, Bardin, Sintren, Papare, Bendrong Petit, Gendu, Kapuk Kapas, Garungan, Joher, Mainang, Kacang Asin, Oyong-oyong Bangkong.
                  4. Golempang. Motif-motif lebih cepat daripada Tepak Tilu. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Kembang Beureum, Kacang Asin.
                  5. Padungdung. Motif pukulan dengan tempo paling cepat. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Kidung, Kolear, Leang-leang, Ceurik Rahwana.

                  6. Kapan Ibing Penca Diajarkan?

                  Penempatan pelajaran ibing penca di setiap perguruan tidak sama. Ada yang ditempatkan di awal, ada pula yang ditempatkan di akhir. Lebih jelasnya proses belajar di perguruan pencak silat yang di dalamnya ada materi ibing penca adalah sebagai berikut:

                  1. Jurus dasar – ibing penca – beladiri (Contoh: Panglipur, Pager Kancana, Budhi Kancana)
                  2. Jurus dasar – beladiri – ibing penca (Contoh: Cimande)
                  3. Jurus dasar – rangkaian gerak – beladiri – ibing penca (Contoh: Maenpo Peupeuhan)
                  4. Ibing penca – beladiri (Contoh: Sekar Pusaka)
                  5. Jurus dasar – Aplikasi jurus dasar – Rangkaian gerak – Ibing Penca – Beladiri (Contoh: Garis Paksi)

                  Penempatan materi ibing penca di awal adalah strategi agar pencak silat lebih disukai oleh kalangan pesilat usia anak-anak dan remaja, karena ibing penca dapat diajarkan secara massal dan kecil kemungkinannya pesilat mengalami cidera. Di samping itu dengan ibing penca dapat digunakan dalam ajang perlombaan seni pencak silat yang diadakan oleh IPSI maupun PPSI. Sistem pengajaran seperti ini biasanya digunakan di lingkungan sekolah. Pada kasus ini, seorang pesilat yang mampu membawakan ibingan dengan baik belum tentu mahir dalam beladiri.

                  Penempatan materi ibing penca di akhir bermaksud untuk penghalusan gerak jurus dan dapat digunakan sebagai alat hiburan setelah mempelajari beladiri. Pada kasus ini, seorang pesilat yang sudah berani tampil membawakan ibing penca sudah dipastikan mampu membela diri. Dahulu seorang pesilat yang melakukan ibing penca harus siap jika suatu waktu ada orang yang masuk ke gelanggang untuk  mencoba keterampilan berkelahi dengannya.

                  Namun ada pula yang mengajarkan ibing penca bersamaan waktunya dengan mengajarkan beladiri. Atau ada pemisahan antara murid yang ingin mendalami ibing penca dan murid yang ingin mendalami beladiri. Sebagai contoh, di Himpunan Pencak Silat Panglipur, setelah murid menguasai 6 dasar pukulan, 9 jurus dasar, dan dua pola langkah maka bisa dilanjutkan dengan mempelajari Ibing Paleredan Pancer Opat, Tepak Tilu Jalan Muka, kemudian ditutup dengan Padungdung Si Pecut. Namun jika ingin mempelajari beladiri, maka dari jurus dasar bisa langsung mempelajari aplikasi dari setiap jurus disertai dengan pengertian kaedah-kaedahnya sehingga benar-benar mengerti dan mampu mengaplikasikannya dalam usik beladiri.

                  Contoh lain, di Paguron Pusaka Siliwangi yang didirikan oleh Rd. Didi Muhtadi, jika ia mengajar ibing penca maka ia memulainya dengan mengajarkan 13 jurus dasar Cikalong, kemudian mengajarkan berbagai pola langkah dan akhirnya mengajarkan ibing penca. Namun jika ingin mengajarkan beladiri, dari jurus dilanjutkan dengan pelajaran kaedah maenpo Cikalong dan dilanjutkan dengan praktik usik-usikan atau tapelan (latihan berpasangan untuk mengolah rasa).

                  7. Manfaat Ibing Penca dalam Beladiri

                  Apakah ibing penca dapat digunakan untuk membeladiri? Apakah setiap pesilat yang sangat bagus membawakan ibing penca sudah pasti dapat melakukan pembelaan diri dengan baik? Jawabnya belum tentu. Seorang pesilat yang hanya belajar ibing penca atau baru belajar ibing penca pasti tidak akan bisa dijadikan sebagai alat pembelaan diri yang efektif.

                  Jangankan ibing penca, pesilat yang mampu memainkan jurus ganda dengan baik belum tentu juga mampu menggunakan teknik beladiri dengan baik. (Penampilan kategori Ganda atau berpasangan adalah latihan atau peragaan berpasangan dari pesilat yang menampilkan serang bela. Di dalam ganda masing-masing pesilat saling memberi kesempatan kepada mitranya untuk menggunakan jurusnya yang sudah diatur sebelumnya).

                  Ibing penca, ganda, usik/beladiri merupakan ilmu pencak silat yang memiliki perbedaan dalam tatacara berlatih dan mengaplikasikannya. Orang yang pandai ibing penca belum tentu bisa jurus ganda atau mahir beladiri. Orang yang mahir jurus ganda belum tentu bisa ibing penca atau usik beladiri yang sebenarnya. Begitu pula orang yang mahir usik beladiri belum tentu bisa ibing penca atau ganda.

                  Namun apabila masing-masing dihubungkan, maka akan terlihat keterkaitan yang saling mendukung satu sama lain. Dengan mempelajari ibing penca, pesilat akan mengerti irama, menghaluskan rasa, merasakan adanya energi dari musik pengiring. Sering terlihat seorang pendekar sepuh yang sudah renta tiba-tiba menjadi jagjag waringkas ketika mendengar kendang penca dan melakukan ibing penca, tetapi kemudian kembali “normal” ketika selesai membawakan ibingannya.

                  Dengan ganda pesilat belajar perbendaharaan teknik pencak silat dalam hal belaan dan serangan. Mengasah untuk saling memberi dan toleransi kepada mitranya, melatih timing yang tepat dalam bergerak. Dengan belajar usik/beladiri, kita dituntut untuk dapat menghadapi serangan apapun dalam situasi apapun. Tidak ada aturan dalam usik, tujuan utamanya adalah mampu mengalahkan lawan. Jadi semua memiliki porsinya masing-masing.

                  Sebenarnya di dalam ibing penca teknis pencak silat sudah cukup lengkap, mulai dari jurus, kuda-kuda, pasang, perpindahan posisi, hingga pola langkah. Tapi memang, di dalam ibing dimasukan elemen kembangan untuk mempermanisnya, yang kadang memang lebih banyak didominasi unsur tarian. Seorang pesilat yang telah menguasai ibing penca dengan baik harus melalui tahapan tertentu dengan metode latihan tertentu pula agar mahir pula dalam membela diri, tidak cukup hanya mempelajari ibing terus menerus.

                  Di Perguruan Pencak Silat Sekar Pusaka yang didirikan oleh Aki Iyat Ruchiyat, ibing penca langsung diberikan kepada murid baru, tanpa melalui tahap belajar jurus dasar. Kemudian setelah murid tersebut telah mampu menghafal dan membawakan ibing dengan benar dan bagus, maka mulailah Aki Iyat mengajarkan aplikasi yang terdapat dalam ibingan-ibingan tersebut. Istilahnya mesek cangkang tembong eusi, layu kembang bijil buah. Arti harfiahnya adalah “mengupas kulit agar terlihat isinya, layu bunga lantas muncul buahnya”. Jadi setelah ibingan itu dibuka kaidah-kaidah silatnya dengan dibarengi dengan latihan-latihan tertentu maka seorang pesilat yang ibingannya bagus dapat pula melakukan pembelaan diri dengan baik.

                  Pesilat yang telah mengetahui aplikasi dari ibing penca yang dibawakannya akan lebih menghayati setiap gerakannya. Penempatan tenaga antara leuleus (lemas/rileks) dan teuas (keras) akan semakin baik, demikian juga penggunaan ekspresi akan lebih gereget karena pesilat tersebut sedang membayangkan seolah-olah sedang menghadapi lawan.

                  8. Perkembangan Karawitan PencaK Silat

                  Pada umumnya di Jawa Barat musik pengiring ibing penca adalah suatu ensembel yang disebut “kendang penca”, terdiri dari dua buah kendang besar dan dua buah kendang kecil (kulanter) bertugas mengisi gerak dan mengatur tempo, sebuah terompet sebagai pembawa melodi, dan sebuah gong kecil sebagai pengatur irama dan penegas tesis lagu. Jenis pukulan kendang yang tidak dapat dipisahkan dari jenis irama pada dasarnya ada empat, yaitu Tepak Dua, Tepak Tilu, Golempang, dan Padungdung.

                  Karawitan pencak silat di Bandung mengalami perkembangan yang cukup dinamis. Jenis irama tidak lagi hanya berpatokan pada irama yang sudah baku, tetapi mulai berkreasi menciptakan irama baru, menambahkan beberapa waditra tambahan, bahkan menggunakan waditra yang sebelumnya tidak lazim digunakan untuk mengiringi ibing penca.

                  Pada tahun 1970-an muncul ibing penca yang lebih dikenal dengan Ibing Maenpo Cianjuran yang menggunakan tembang cianjuran sebagai musik pengiringnya. Meskipun menggunakan nama “cianjuran”, namun Ibing Maenpo Cianjuran diciptakan dan kemudian berkembang di Bandung. Ibing Maenpo Cianjuran adalah hasil karya cipta seorang tokoh Maenpo asal Bandung, yaitu Adung Rais. Pada saat itu ia mencoba memadukan seni beladiri Maenpo Peupeuhan dengan seni tradisional tembang cianjuran atau dikenal dengan nama kacapi suling.

                  Untuk bisa melakukan Ibing Penca ini, seorang praktisi Maenpo harus menguasai teknik Maenpo dengan baik dan memahami musik Cianjuran. Penguasaan teknik maenpo yang baik sangat penting karena Ibing Penca Cianjuran ini bersifat improvisasi sama halnya dengan musik cianjuran yang juga kaya dengan improvisasi.

                  Pemahaman wirama ini menyangkut dengan bagaimana menemukan ketukan dan meletakkan gong dalam musik cianjuran. Hampir sama dengan kendang penca, misalnya dalam Tepak Paleredan atau Tepak Dua, klimaks dari satu rangkaian gerak harus berakhir tepat dengan bunyi gong. Pemahaman wirasa menyangkut unsur rasa. Penari harus tahu kapan bergerak cepat atau lambat, kapan satu hitungan menggunakan banyak jurus atau sebaliknya satu jurus dilakukan dalam tiga atau lebih hitungan, semuanya adalah improvisasi.

                  Yang tidak kalah pentingnya adalah pemahaman syair. Setiap syair dan lagu cianjuran tentunya berbeda pesan, cerita dan makna. Lagu yang berbeda tentunya harus dibawakan dengan penjiwaan yang berbeda pula. Saat menari dengan Kidung atau Rajah misalnya, penari harus membawakannya dengan pembawaan yang khidmat dan tidak beringas. Lagu-lagu yang bersifat mengisahkan perang, disini bisa ditampilkan gerakan2 yang ganas, mimik wajah beringas, marah dsb, sedang untuk sinom satria, mungkin juga harus berusaha menampilkan kesan yang gagah dan agung dari seorang ksatria sunda. Bisa dikatakan, penguasaan akting yang baik akan menjadikan seorang penari Ibing Penca Cianjuran menjadi lebih mantap dalam membawakan tariannya.

                  Menurut Adung Rais, bila sudah memahami dan menghayati secara maksimal maenpo dan cianjuran ini, bisa dikatakan sudah terjadi suatu keseimbangan karena telah terjadi perpaduan yang harmonis antara bentuk kekerasan dan bentuk kehalusan.

                  Sekitar tahun 1995 di Bandung muncul lagi irama pengiring ibing penca yang termasuk unik dan baru. Irama musiknya dikenal dengan irama “Tepak Gonjing” atau “Tepak Tungbreng”. Irama ini tercipta dengan latar belakang kebutuhan dalam kejuaraan seni pencak silat tingkat nasional yang diadakan oleh IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia), di mana salah satu penilaiannya adalah variasi dalam irama pengiring ibing penca. Saat itu Ketua Pengda IPSI Jawa Barat H. Suhana Budjana meminta kepada para guru pencak silat dan para nayaganya untuk membuat kreasi baru dalam iringan musik pencak silat.

                  Permintaan itu direspons dengan berkumpulnya sejumlah tokoh dan pendekar pencak silat dan beberapa seniman Sunda untuk merumuskan pola irama baru. Melalui proses yang tidak terlalu lama maka terciptalah irama Tungbreng atau Gonjing yang memiliki pola tabuhan khas. Kata tungbreng diambil dari bunyi yang dihasilkan oleh alat tabuhannya. Selain mempertahankan ensambel kendang penca yang asli seperti gendang, tarompet dan gong, dalam irama gonjing ditambah beberapa ensambel pelengkap yang terdiri dari kecrek, bonang, dan bedug. Kadang-kadang untuk kebutuhan suasana tertentu dipakai juga kacapi dan suling.

                  Walaupun pada awalnya Tepak Gonjing menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan penggemar pencak silat, namun lambat laun akhirnya dapat diterima. Para pesilat anak-anak dan remaja kebanyakan lebih menyukai irama ini untuk mengiringi ibingannya dengan alasan lebih dinamis.

                  Munculnya Tepak Tungbreng sebagai karya baru dalam blantika ibing penca dianggap sebagai prestasi bagi para tokoh, pendekar, dan seniman yang berkiprah di dunia persilatan Jawa Barat. Hal ini terbukti dengan adanya fenomena penampilan Tepak Tungbreng di setiap pasanggiri atau festival pencak silat di Bandung, bahkan di Jawa Barat. Tepak Tungbreng kini sudah menyebar dari Bandung ke daerah-daerah lain di Jawa Barat.

                  9. Penutup

                  Ibing penca harus dipandang sebagai bagian integral dari suatu ilmu pencak silat di suatu perguruan, sehingga akan banyak manfaat yang bisa diambil dari mempelajari ibing penca. Keberadaan ibing penca di perguruan pencak silat tergantung pada kebijakan perguruan itu sendiri. Jika secara tradisi di suatu perguruan diajarkan ibing penca, maka hal itu patut dilestarikan keberadaanya bahkan harus lebih dikembangkan lagi dengan menciptakan ibingan-ibingan penca yang baru disesuaikan dengan kebutuhan. Bagi perguruan yang tidak memiliki tradisi ibing penca tidak usah memaksakan diri agar ada materi ibing penca, namun jika ingin mencoba sebenarnya bisa saja dengan cara menyusun ibing penca dengan menggunakan patokan irama yang sudah baku atau dengan memodifikasi irama tertentu.

                  Ibing penca jika ditempatkan pada tempat semestinya akan banyak manfaatnya yang bisa diambil. Namun paling tidak, dengan mempelajari ibing penca kita sudah turut melestarikan salah satu seni budaya peninggalan para pendekar pendahulu kita.

                  Graspuzi 16022011

                  dikutip dari:
                  facebook Gending Raspuzi




                  Tags: , , ,


                  Artikel Ibing Penca dan Beladiri Pencak Silat yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


                    - Powered by BING [2014-03-24 18:59]

                    Comments are closed.

                    Ibing Penca dan Beladiri Pencak Silat - Silat Indonesia

                    Ibing Penca dan Beladiri Pencak Silat.

                        [
                    in English ]

                    Feb 23rd, 2011 | By | Category: Artikel Silat [ in English ]

                    IBING PENCA DAN BELADIRI PENCAK SILAT
                    ANTARA KEMBANG DAN BUAH
                    “Mesek cangkang tembong eusi, layu kembang bijil buah

                    Disampaikan pada Seminar Pencak Silat Tradisional dalam Persfektif Budaya dan Sejarah
                    17 Februari 2011 di Universitas Indonesia

                    1. Pendahuluan

                    gending-raspuzi-01Di Jawa Barat, di samping dikenal adanya pencak sebagai bela diri, yang disebut dengan ‘buah’ atau ‘eusi’ (isi), dikenal pula pencak silat ‘kembang’ (bunga) atau ‘ibing penca’ (tari pencak). Begitu eratnya hubungan batin masyarakat Jawa Barat dengan seni pencak silat (kembang), hingga  banyak anggota masyarakat Jawa Barat yang menghubungkan kata pencak tidak dengan bela diri, akan tetapi dengan Ibing Penca.

                    Istilah Ibing Penca memang berasal dari Jawa Barat. Secara harfiah Ibing Penca dapat diterjemahkan menjadi Tari Pencak. Tapi para tokoh pencak silat di Jawa Barat kurang setuju jika ibing penca disebut tari pencak, karena kata “tari” cenderung lebih menitik beratkan pada unsur tarinya, yaitu suatu seni yang menampilkan keindahan gerak meskipun gerakannya diambil dari unsur-unsur pencak silat. Sedangkan “ibing penca” lebih menitikberatkan pada unsur pencak silat, yaitu gerak yang memiliki fungsi serang bela, walaupun tidak dapat disangkal di dalamnya juga mengandung unsur-unsur keindahan.

                    Ada sebagian orang berpendapat bahwa Ibing Penca adalah bagian dari pencak silat dan bisa digunakan sebagai software untuk membela diri jika dilatih dengan rutin, namun ada juga yang berpendapat bahwa Ibing Penca bukanlah pencak silat, melainkan hanya sebatas seni tari dalam bentuk gerakan pencak silat dan tidak bisa digunakan untuk membela diri meskipun dilatih dengan serius dan tekun. Di sisi lain ada juga yang berpendapat bahwa belajar Ibing Penca jika mengerti aplikasi dari setiap gerakan akan bisa dijadikan alat membela diri, sebab Ibing Penca merupakan gabungan rangkaian gerak membela diri hanya saja di iringi musik (jika dipertontonkan), namun dalam praktik latihan sehari-harinya tidak.

                    Dari sinilah timbul persoalan, apakah sebenarnya Ibing Penca berguna untuk membela diri atau hanya sekedar tarian yang tidak ada hubungannya dengan kemahiran beladiri.

                    2. Pencak Silat dan Tari

                    Pencak silat di Indonesia memiliki bermacam bentuk dan ragam yang lahir, hidup dan berkembang di masing-masing aliran dan perguruan pencak silat. Pada mulanya pencak silat diciptakan untuk membela diri, namun dalam perkembangannya, pencak silat dapat juga dijadikan sebagai sumber keindahan bentuk, gerak, irama dan ekspresi yang melukiskan adegan serang bela menggunakan tangan kosong maupun senjata.

                    Pencak silat dan tari merupakan satu ekspresi yang berkaitan dan saling mengisi, karena keduanya menggunakan tubuh manusia sebagai materi pokok, di samping ketajaman pikiran dan perasaan yang selalu berdampingan sewaktu melaksanakan pencak silat atau menari, ditambah dengan ketahanan fisik dan keuletan menggarap teknis pencak silat dan tari. Banyak pakar tari yang merasakan kebutuhan untuk belajar pencak silat yang ternyata besar sekali manfaatnya bagi seorang penari.

                    Persamaan Pencak dan tari adalah keduanya menggunakan tubuh beserta bagian-bagian dari anggota badan manusia sebagai materi utama. Pembinaan fisik dan ekspresi banyak persamaannya, hanya penggunaannya yang berbeda. Pencak silat adalah olah tubuh dari rasa yang dipergunakan untuk membela diri, sedangkan tari adalah olah tubuh untuk mengekspresikan suatu keindahan yang bersifat spiritual dan melahirkan suasana yang semuanya lahir karena tradisi atau dari jiwa para seniman.

                    Pembinaan tubuh dan penguasaaan teknik gerak untuk pencak silat dan tari membutuhkan waktu dan ketekunan berlatih fisik secara kontinyu, karena ketahanan fisik merupakan syarat utama. Ketahanan dari teknik pernafasan, keterampilan gerak, juga keindahan gerak dan keluwesannya ada di dalam pencak silat dan tari. Gerak berat, ringan, tegang, lemah, cepat, pelan, dan berirama merupakan sarana-sarana latihan teknik tubuh yang harus dilaksanakan dengan baik dan teratur bagi seorang pesilat dan penari.

                    Keindahan langkah kaki, gerak tangan kontinyu, posisi yang pasti, ketenangan dan ledakan-ledakan ekspresi gerak di samping kelembutan ada pada pencak silat dan tari. Maka pengaruh timbal balik antara pencak sebagai beladiri dengan tari telah ada pada seni tari di Indonesia.

                    3. Asal Mula Ibing Penca

                    Sejak kapan dan apa yang melatarbelakangi munculnya ibing penca? Hal ini memerlukan penelitian yang mendalam. Ada beberapa sumber yang mengatakan bahwa ibing penca diciptakan sebagai kamuflase dari beladiri yang dilarang pada zaman penjajahan Belanda, di mana dinyatakan bahwa pada saat itu para pendekar yang ingin menyebarkan pencak silat terbentur pada larangan yang dikeluarkan oleh pemerintahan kolonial, sehingga untuk menyiasatinya dibuatlah ibing penca agar pencak silat tetap boleh diajarkan. Ibing penca ditampilkan kepada masyarakat umum sedangkan beladirinya tetap diajarkan secara sembunyi-sembunyi. Untuk kasus-kasus tertentu hal ini mungkin ada benarnya, namun bagi kasus yang lain pendapat ini belum tentu tepat.

                    Pada awalnya aspek pencak silat yang pertama lahir adalah aspek beladiri. Situasi dan kondisi pada suatu masa secara alamiah menyebabkan manusia selalui menyesuaikan diri dengan alam dan lingkungannya,  naluri untuk menjaga eksistensi diri dan kelompoknya menimbulkan upaya agar kelompoknya lebih kuat dari kelompok yang lain. Bersama itu pula timbul kebutuhan untuk menciptakan alat pembelaan diri yang efektif, mulai dari menciptakan senjata dan menciptakan berbagai teknik perkelahian. Pada suatu masa yang mengharuskan orang mampu membela diri secara fisik, menyebabkan tumbuh suburnya bebagai jenis aliran beladiri. Dalam hal ini aliran-aliran pencak silat.

                    Namun perlu diingat bahwa selain memiliki naluri mempertahankan diri, manusia pun memiliki naluri untuk menyukai keindahan. Dari berbagai hal yang ada di sekelilingnya, manusia mampu menciptakan berbagai bentuk keindahan melalui seni. Ketika manusia menemukan alat yang dapat digunakan sebagai senjata, dengan alat itu pula mereka menciptakan karya seni pahatan. Ketika manusia memahami adanya nada dalam bunyi, maka manusia menciptakan musik dan nyanyian. Demikian pula halnya ketika di menyadari bahwa di dalam gerak terdapat keindahan, maka muncullah berbagai jenis tarian. Dari mana inspirasi membuat tarian itu? Salah satunya adalah dari teknik beladiri yang telah dikuasai sebelumnya. Ketika pencak silat tidak banyak lagi digunakan sebagai alat untuk membela diri, maka aspek lain dapat digali, seperti aspek olah raga dan seni. Dari sinilah ibing penca itu muncul. Ia tercipta dari kebutuhan manusia yang gandrung akan keindahan melalui medium gerak.

                    Di Jawa Barat pencak silat banyak mempengaruhi kesenian lain, khususnya tari rakyat. Contoh seni yang dipengaruhi pencak silat: Ketuk Tilu, Jaipongan, Cikeruhan, Sisingaan, Kuda Renggong. Pada awalnya ketika seorang pria sedang kaul Ketuk tilu, maka gerakan yang digunakan adalah gerak improvisasi yang diambil dari jurus-jurus pencak silat

                    Banyak koreografer tari yang memiliki latar belakang pencak silat, di antaranya adalah R. Tjetje Somantri, maestro Tari Keurseus, dan Gugum Gumbira, maestro Jaipongan. Dengan dasar pemikiran bahwa pencak silat merupakan salah satu sumber bagi jenis kesenian lainnya, maka STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Bandung memasukkan mata kuliah pencak silat selama 4 SKS dalam dua semester.

                    Meskipun Ketuk Tilu, Jaipongan atau jenis kesenian lainnya bersumber dari gerakan pencak silat tetapi tidak otomatis disebut sebagai tari pencak silat, karena fungsinya sudah berbeda yakni menjadi alat hiburan semata. Berbeda halnya dengan Ibing Penca, bagi perguruan pencak silat yang di dalamnya terdapat materi Ibing Penca, tentu saja ibing penca dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari ilmu pencak silat.

                    Jika kita melihat berbagai jenis aliran pencak silat ‘buhun’, jarang sekali di dalamnya terdapat pelajaran ibing penca (kecuali Cimande). Hal ini membuktikan bahwa pada awalnya aliran-aliran pencak silat lebih mengutamakan aspek beladiri daripada aspek seni. Atau dengan kata lain ibing penca muncul belakangan setelah ada beladiri pencak silat.

                    Seni Ibing Penca tumbuh subur berkembang di perguruan pencak silat, bukan di aliran asalnya. Sebagai contoh, aliran Cikalong tidak mengenal ibing penca, tetapi Gan Didi Muhtadi, salah seorang tokoh Maenpo Cikalong dari Pasar Baru Cianjur melalui perguruannya Pusaka Siliwangi mengembangkan ibing penca sehingga Gan Didi lebih dikenal sebagai guru ibing penca dari pada guru maenpo. Kemampuannya dalam menciptakan dan mengajarkan ibing penca merupakan hal yang jarang ditemui pada guru-guru maenpo di Cianjur yang hidup pada masa itu.

                    Contoh yang lain, Himpunan Pencak Silat Panglipur yang didirikan Abah Aleh adalah perguruan yang sekarang dikenal dengan kekayaan dan keindahan dalam ibing penca, padahal dari sejarah Panglipur dapat dilihat bahwa guru-guru Abah Aleh adalah pendekar dari berbagai aliran pencak silat yang mumpuni dalam aspek beladiri, bukan dalam aspek seni. Namun Abah Aleh sendiri yang mengolahnya menjadi berbagai bentuk ibing penca.

                    Ibing penca dapat berkembang di perguruan bukan di aliran pencak silat, hal ini terjadi karena biasanya pada suatu aliran pencak silat sudah terdapat aturan baku baik dari segi filosofis maupun teknis yang tidak boleh diubah, ditambah maupun dikurangi oleh para pengikutnya. Berbeda halnya dengan di perguruan pencak silat yang dipimpin oleh pendekar yang biasanya sudah mempelajari berbagai aliran, sehingga memiliki wawasan yang luas dan tidak terlalu kaku dalam mengembangkan pencak silat. Di dalam suatu perguruan biasanya teknik-teknik dari berbagai aliran selain tetap dipertahankan keasliannya namun tidak menutup kemungkinan kemudian dicoba dicampur sehingga menjadi bentuk baru yang menjadi ciri khas perguruan itu. Di sinilah banyak terjadi pengolahan teknik, termasuk pengolahan aspek seni dalam bentuk ibing penca.

                    4. Jurus yang Terdapat dalam Ibing Penca

                    Di dalam ibing penca terdapat jurus-jurus pencak silat. Namun, sebenarnya jenis jurus seperti apa yang digunakan dalam ibing penca? Pertama-tama harus dibedakan terlebih dahulu antara Gerak Dasar, Jurus Dasar, Jurus Inti, dan Jurus Kajadian.

                    Gerak Dasar adalah unsur yang paling kecil dalam suatu gerak. Misalnya ketika seorang pesilat melakukan satu gerak langkah serong sambil melakukan tangkisan sekaligus pukulan, maka di dalamnya terdapat beberapa gerak dasar, yaitu kuda-kuda serong, langkah serong, tangkisan, dan pukulan.

                    Jurus Dasar adalah jurus yang digunakan pada tahap awal berlatih di suatu perguruan atau aliran sebagai fondasi untuk materi lanjutan. Satu jurus dasar bisa terdiri dari satu gerakan, satu rangkaian pendek, bahkan bisa juga berupa rangkaian panjang. Sifat dari jurus dasar ini terbagi menjadi dua, yaitu:

                    Jurus Inti, yang di dalamnya terdapat prinsip-prinsip atau kaidah pencak silat yang dianut oleh suatu aliran atau perguruan. Sepintas jurus inti tidak bisa diduga bagaimana aplikasinya dalam suatu perkelahian tanpa keterangan dari guru. Biasanya jurus inti jumlahnya tidak terlalu banyak, namun dari jurus yang sedikit itu aplikasinya menjadi tidak terbatas jumlahnya.Sebagai contoh, aliran yang menggunakan jurus inti pada jurus dasarnya adalah Sabandar Jurus Lima, Cikalong, Suliwa, Maenpo Peupeuhan, dan Timbangan.

                    Jurus Kajadian, yaitu jurus dasar yang bisa langsung diaplikasikan dalam bentuk serang bela. Biasanya jurus dasar seperti ini bisa langsung dilakukan oleh dua orang pesilat yang saling berhadapan tanpa mengubah gerakan dari jurus dasar tersebut. Contoh aliran atau perguruan yang menggunakan metode ini adalah Cimande, Jurus Kajadian Maenpo, Panglipur, Pager Kancana, dan Budhi Kancana.

                    Dari Jurus Inti sebenarnya bisa dikembangkan menjadi berbagai Jurus Kajadian setelah jurus inti tersebut diaplikasikan dalam teknik serang bela. Sebagai contoh, Rd. Abad M. Sirod seorang tokoh maenpo Cikalong yang pada awalnya ia menerima Jurus Inti dari gurunya (Rd. Busrin) namun kemudian menciptakan 27 Jurus Kajadian dan 3 Jurus Maksud dengan alasan untuk mempermudah proses belajar mengajar. Menurutnya, dengan mengajarkan Jurus Kajadian murid-muridnya bisa langsung mengerti aplikasi dari setiap jurusnya.

                    Jadi Ibing Penca sebenarnya adalah rangkaian jurus kajadian yang disusun sedemikian rupa sehingga memenuhi unsur estetika tanpa meninggalkan makna serang bela dalam setiap gerakannya. Ibing penca yang baik harus dapat menggambarkan suatu bentuk teknik perkelahian seolah-olah pesilat tersebut sedang berhadapan dengan lawan.

                    5. Struktur Koreografi dan Karawitan pada Ibing Penca di Jawa Barat

                    a. Koreografi Ibing Penca

                    Sikap dan  gerakan dalam pencak silat sebagai beladiri dilakukan untuk melindungi diri dan menyerang, sedangkan dalam ibing penca sikap dan gerak dilakukan untuk kenikmatan penari yang bergerak mengikuti irama karawitan dan untuk kenikmatan yang menonton ibing penca. Mudah dipahami kalau gerakan dan sikap dalam ibing penca, walaupun bersumber pada beladiri namun memiliki perbedaan-perbedaan. Pada umumnya sikap dan gerakan dalam ibing penca lebih terbuka, lebih distilasi dan dilakukan dalam irama yang metrikal.

                    Di dalam Ibing Penca di Jawa Barat terdapat pola koreografis yang umum, yaitu sebagai berikut:

                    1)      Bagian pertama: Tepak Dua atau Paleredan, lebih memperlihatkan unsur keindahan.

                    2)      Bagian kedua: Tepak Tilu atau Golempang, memperlihatkan teknik serang bela yang masih terikat pada ketukan irama.

                    3)      Bagian ketiga: Padungdung, di sini pesilat berimprovisasi secara bebas sesuai dengan imajinasinya ketika itu.

                    Berdasarkan koreografi itu, ibing pencak adalah salah satu jenis kesenian yang kaya segi kreatifitasnya karena masing-masing perguruan memiliki gerakan ibing penca yang berbeda walaupun berpatokan pada irama yang sama. Dapat dipahami, ibing penca merupakan tari yang paling populer dan paling banyak penggemarnya di Jawa Barat.

                    Koreografi bagian pertama biasanya sangat kental dengan jurus-jurus yang berasal dari aliran Cimande, karena sifat geraknya lebih terbuka sehingga cocok dibawakan dengan tempo yang lambat. Contohnya adalah sebagai berikut:

                    • Tepak Dua Salancar
                    • Tepak Dua Sorong Dayung.
                    • Tepak Dua Buang Kelid.
                    • Tepak Dua Kampung Baru
                    • Paleredan Jalak Pengkor
                    • Paleredan Sawitan
                    • Paleredan Pancer Opat

                    Koreografi bagian kedua lebih banyak bersumber pada aliran Cikalong, Sabandar, dan Sera. Contohnya adalah sebagai berikut:

                    • Tepak Tilu Cikalong
                    • Tepak Tilu Jalan Muka
                    • Tepak Tilu Alip Bandul
                    • Tepak Tilu Peunggasan
                    • Tepak Tilu Gerak Seta

                    Koreografi bagian ketiga memperlihatkan jurus kajadian (jurus aplikasi) yang memperlihatkan teknik-teknik serang bela yang dilakukan dengan kecepatan yang sebenarnya dan yang pada awal perkembangannya bersifat improvisasi. Namun saat ini irama padungdung pun diisi dengan gerakan yang telah ditentukan sebelumnya, bukan improvisasi lagi. Contohnya adalah sebagai berikut:

                    • Si Pecut
                    • Pecah Alip
                    • Pecah Gunting
                    • Likuran
                    • Si Pitung

                    Saat ini banyak koreografi yang merupakan variasi atau gabungan dari aliran-aliran Cimande, Cikalong, Sabandar, Sera dan aliran yang lain. Ibing pencak yang banyak diajarkan di perguruan-perguruan pencak silat seperti di Panglipur, Pager Kancana, Kusuma Harapan, Domas, dan yang perguruan lainnya biasanya sudah merupakan olahan dari berbagai macam aliran yang dipelajari di perguruan yang bersangkutan.

                    Ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan dalam memperagakan ibing penca, yaitu:

                    Pertama, unsur kekayaan gerak (wiraga) yaitu kekayaan gerak atau jurus-jurus yang dimiliki oleh seorang pesilat selama belajar di perguruannya, sehingga penampilannya menjadi tidak monoton atau membosankan apabila tampil di atas pentas, terutama dalam pertandingan seni pencak silat. Tetapi apabila dalam acara spontanitas pada suatu hajatan misalnya, unsur kekayaan gerak tidak begitu diperhatikan pesilat. Yang penting pesilat mampu memperagakan gerakannya dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah pencak silat karena tidak terikat oleh sistem penilaian dari juri seperti dalam pelaksanaan pertandingan pencak silat seni.

                    Kedua, unsur irama (wirahma) atau musik, unsur inilah yang membedakan aspek seni dengan aspek yang lain dalam pencak silat. Seorang pengibing penca harus mampu menyerasikan gerak dengan musik pengiringnya. Pengolahan irama yang variatif dan dinamis memiliki nilai lebih bagi seorang pesilat dalam membawakan ibingannya.

                    Ketiga, unsur penjiwaan gerak (wirasa) yaitu salah satu unsur yang penting dimiliki oleh seorang pengibing penca. Penjiwaan gerak yang mantap sangat dipengaruhi oleh pemahaman pesilat terhadap setiap gerakan yang ditampilkannya. Oleh karena itu, pesilat dituntut harus menguasai arti dan makna gerak pencak silat yang sebenarnya, serta mengerti maksud dan tujuan dari jurus-jurus dan teknik-teknik pencak silat yang dipelajarinya.

                    b. Karawitan

                    Walaupun di daerah-daerah tertentu di Jawa Barat terdapat musik pengiring khas ibing penca seperti Patingtung di Banten, dan Terebang di Cirebon namun pada umumnya untuk mengiringi ibing penca dibutuhkan suatu ensembel yang disebut ‘kendang penca’. Ensembel ini sangat mendukung suasana ibing penca yang pada dasarnya merupakan tari perang atau tari perkelahian. Musik kendang penca kadang-kadang bersuasana menantang misalnya pada lagu Kembang Beureum atau Buah Kawung atau bersuasana do’a yaitu pada Kidung.

                    Gendang pencak dimainkan oleh empat orang penabuh (nayaga/wiyaga). Mereka mempunyai tugas masing-masing dalam pelaksanaannya. Penabuh kendang pencak silat yang sudah berpengalaman selain mampu mengiringi ibing pencak silat yang sudah dirancang sebelumnya, ia pun mampu mengiringi gerakan-gerakan yang tidak dirancang sebelumnya.

                    Adapun waditra (instrumen) yang terdapat di dalam kendang penca adalah sebagai berikut:

                    1. Dua buah kendang besar (kendang indung dan kendang anak) dilengkapi dua buah kendang kecil (kulanter). Kendang bertugas mengisi gerak dan mengatur tempo.
                    2. Sebuah terompet sebagai pembawa melodi
                    3. Sebuah gong kecil (bende, kempul) sebagai pengatur irama, penegas tesis lagu.

                    Jenis pukulan kendang yang juga tidak dapat dipisahkan dari jenis irama pada dasarnya adalah sebagai berikut:

                    1. Tepak Dua. Motif-motif pukulan kendang untuk tempo lambat. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Kembang Gadung, Ayun Ambing, Polos, Gedong Panjang, Kendor Kulon, Tunggul Kawung, Bata Rubuh, Kidung, Sorong Dayung.
                    2. Paleredan. Motif-motif pukulan kendang untuk tempo lambat. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Ayun Ambing, Bela pati, Sasalimpetan, Buah Kawung, Karawangan, Gendu, Gaya, Sari.
                    3. Tepak Tilu. Motif-motif pukulan dengan tempo sedang. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Ucing-ucingan, Kembang Beureum, Bardin, Sintren, Papare, Bendrong Petit, Gendu, Kapuk Kapas, Garungan, Joher, Mainang, Kacang Asin, Oyong-oyong Bangkong.
                    4. Golempang. Motif-motif lebih cepat daripada Tepak Tilu. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Kembang Beureum, Kacang Asin.
                    5. Padungdung. Motif pukulan dengan tempo paling cepat. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Kidung, Kolear, Leang-leang, Ceurik Rahwana.

                    6. Kapan Ibing Penca Diajarkan?

                    Penempatan pelajaran ibing penca di setiap perguruan tidak sama. Ada yang ditempatkan di awal, ada pula yang ditempatkan di akhir. Lebih jelasnya proses belajar di perguruan pencak silat yang di dalamnya ada materi ibing penca adalah sebagai berikut:

                    1. Jurus dasar – ibing penca – beladiri (Contoh: Panglipur, Pager Kancana, Budhi Kancana)
                    2. Jurus dasar – beladiri – ibing penca (Contoh: Cimande)
                    3. Jurus dasar – rangkaian gerak – beladiri – ibing penca (Contoh: Maenpo Peupeuhan)
                    4. Ibing penca – beladiri (Contoh: Sekar Pusaka)
                    5. Jurus dasar – Aplikasi jurus dasar – Rangkaian gerak – Ibing Penca – Beladiri (Contoh: Garis Paksi)

                    Penempatan materi ibing penca di awal adalah strategi agar pencak silat lebih disukai oleh kalangan pesilat usia anak-anak dan remaja, karena ibing penca dapat diajarkan secara massal dan kecil kemungkinannya pesilat mengalami cidera. Di samping itu dengan ibing penca dapat digunakan dalam ajang perlombaan seni pencak silat yang diadakan oleh IPSI maupun PPSI. Sistem pengajaran seperti ini biasanya digunakan di lingkungan sekolah. Pada kasus ini, seorang pesilat yang mampu membawakan ibingan dengan baik belum tentu mahir dalam beladiri.

                    Penempatan materi ibing penca di akhir bermaksud untuk penghalusan gerak jurus dan dapat digunakan sebagai alat hiburan setelah mempelajari beladiri. Pada kasus ini, seorang pesilat yang sudah berani tampil membawakan ibing penca sudah dipastikan mampu membela diri. Dahulu seorang pesilat yang melakukan ibing penca harus siap jika suatu waktu ada orang yang masuk ke gelanggang untuk  mencoba keterampilan berkelahi dengannya.

                    Namun ada pula yang mengajarkan ibing penca bersamaan waktunya dengan mengajarkan beladiri. Atau ada pemisahan antara murid yang ingin mendalami ibing penca dan murid yang ingin mendalami beladiri. Sebagai contoh, di Himpunan Pencak Silat Panglipur, setelah murid menguasai 6 dasar pukulan, 9 jurus dasar, dan dua pola langkah maka bisa dilanjutkan dengan mempelajari Ibing Paleredan Pancer Opat, Tepak Tilu Jalan Muka, kemudian ditutup dengan Padungdung Si Pecut. Namun jika ingin mempelajari beladiri, maka dari jurus dasar bisa langsung mempelajari aplikasi dari setiap jurus disertai dengan pengertian kaedah-kaedahnya sehingga benar-benar mengerti dan mampu mengaplikasikannya dalam usik beladiri.

                    Contoh lain, di Paguron Pusaka Siliwangi yang didirikan oleh Rd. Didi Muhtadi, jika ia mengajar ibing penca maka ia memulainya dengan mengajarkan 13 jurus dasar Cikalong, kemudian mengajarkan berbagai pola langkah dan akhirnya mengajarkan ibing penca. Namun jika ingin mengajarkan beladiri, dari jurus dilanjutkan dengan pelajaran kaedah maenpo Cikalong dan dilanjutkan dengan praktik usik-usikan atau tapelan (latihan berpasangan untuk mengolah rasa).

                    7. Manfaat Ibing Penca dalam Beladiri

                    Apakah ibing penca dapat digunakan untuk membeladiri? Apakah setiap pesilat yang sangat bagus membawakan ibing penca sudah pasti dapat melakukan pembelaan diri dengan baik? Jawabnya belum tentu. Seorang pesilat yang hanya belajar ibing penca atau baru belajar ibing penca pasti tidak akan bisa dijadikan sebagai alat pembelaan diri yang efektif.

                    Jangankan ibing penca, pesilat yang mampu memainkan jurus ganda dengan baik belum tentu juga mampu menggunakan teknik beladiri dengan baik. (Penampilan kategori Ganda atau berpasangan adalah latihan atau peragaan berpasangan dari pesilat yang menampilkan serang bela. Di dalam ganda masing-masing pesilat saling memberi kesempatan kepada mitranya untuk menggunakan jurusnya yang sudah diatur sebelumnya).

                    Ibing penca, ganda, usik/beladiri merupakan ilmu pencak silat yang memiliki perbedaan dalam tatacara berlatih dan mengaplikasikannya. Orang yang pandai ibing penca belum tentu bisa jurus ganda atau mahir beladiri. Orang yang mahir jurus ganda belum tentu bisa ibing penca atau usik beladiri yang sebenarnya. Begitu pula orang yang mahir usik beladiri belum tentu bisa ibing penca atau ganda.

                    Namun apabila masing-masing dihubungkan, maka akan terlihat keterkaitan yang saling mendukung satu sama lain. Dengan mempelajari ibing penca, pesilat akan mengerti irama, menghaluskan rasa, merasakan adanya energi dari musik pengiring. Sering terlihat seorang pendekar sepuh yang sudah renta tiba-tiba menjadi jagjag waringkas ketika mendengar kendang penca dan melakukan ibing penca, tetapi kemudian kembali “normal” ketika selesai membawakan ibingannya.

                    Dengan ganda pesilat belajar perbendaharaan teknik pencak silat dalam hal belaan dan serangan. Mengasah untuk saling memberi dan toleransi kepada mitranya, melatih timing yang tepat dalam bergerak. Dengan belajar usik/beladiri, kita dituntut untuk dapat menghadapi serangan apapun dalam situasi apapun. Tidak ada aturan dalam usik, tujuan utamanya adalah mampu mengalahkan lawan. Jadi semua memiliki porsinya masing-masing.

                    Sebenarnya di dalam ibing penca teknis pencak silat sudah cukup lengkap, mulai dari jurus, kuda-kuda, pasang, perpindahan posisi, hingga pola langkah. Tapi memang, di dalam ibing dimasukan elemen kembangan untuk mempermanisnya, yang kadang memang lebih banyak didominasi unsur tarian. Seorang pesilat yang telah menguasai ibing penca dengan baik harus melalui tahapan tertentu dengan metode latihan tertentu pula agar mahir pula dalam membela diri, tidak cukup hanya mempelajari ibing terus menerus.

                    Di Perguruan Pencak Silat Sekar Pusaka yang didirikan oleh Aki Iyat Ruchiyat, ibing penca langsung diberikan kepada murid baru, tanpa melalui tahap belajar jurus dasar. Kemudian setelah murid tersebut telah mampu menghafal dan membawakan ibing dengan benar dan bagus, maka mulailah Aki Iyat mengajarkan aplikasi yang terdapat dalam ibingan-ibingan tersebut. Istilahnya mesek cangkang tembong eusi, layu kembang bijil buah. Arti harfiahnya adalah “mengupas kulit agar terlihat isinya, layu bunga lantas muncul buahnya”. Jadi setelah ibingan itu dibuka kaidah-kaidah silatnya dengan dibarengi dengan latihan-latihan tertentu maka seorang pesilat yang ibingannya bagus dapat pula melakukan pembelaan diri dengan baik.

                    Pesilat yang telah mengetahui aplikasi dari ibing penca yang dibawakannya akan lebih menghayati setiap gerakannya. Penempatan tenaga antara leuleus (lemas/rileks) dan teuas (keras) akan semakin baik, demikian juga penggunaan ekspresi akan lebih gereget karena pesilat tersebut sedang membayangkan seolah-olah sedang menghadapi lawan.

                    8. Perkembangan Karawitan PencaK Silat

                    Pada umumnya di Jawa Barat musik pengiring ibing penca adalah suatu ensembel yang disebut “kendang penca”, terdiri dari dua buah kendang besar dan dua buah kendang kecil (kulanter) bertugas mengisi gerak dan mengatur tempo, sebuah terompet sebagai pembawa melodi, dan sebuah gong kecil sebagai pengatur irama dan penegas tesis lagu. Jenis pukulan kendang yang tidak dapat dipisahkan dari jenis irama pada dasarnya ada empat, yaitu Tepak Dua, Tepak Tilu, Golempang, dan Padungdung.

                    Karawitan pencak silat di Bandung mengalami perkembangan yang cukup dinamis. Jenis irama tidak lagi hanya berpatokan pada irama yang sudah baku, tetapi mulai berkreasi menciptakan irama baru, menambahkan beberapa waditra tambahan, bahkan menggunakan waditra yang sebelumnya tidak lazim digunakan untuk mengiringi ibing penca.

                    Pada tahun 1970-an muncul ibing penca yang lebih dikenal dengan Ibing Maenpo Cianjuran yang menggunakan tembang cianjuran sebagai musik pengiringnya. Meskipun menggunakan nama “cianjuran”, namun Ibing Maenpo Cianjuran diciptakan dan kemudian berkembang di Bandung. Ibing Maenpo Cianjuran adalah hasil karya cipta seorang tokoh Maenpo asal Bandung, yaitu Adung Rais. Pada saat itu ia mencoba memadukan seni beladiri Maenpo Peupeuhan dengan seni tradisional tembang cianjuran atau dikenal dengan nama kacapi suling.

                    Untuk bisa melakukan Ibing Penca ini, seorang praktisi Maenpo harus menguasai teknik Maenpo dengan baik dan memahami musik Cianjuran. Penguasaan teknik maenpo yang baik sangat penting karena Ibing Penca Cianjuran ini bersifat improvisasi sama halnya dengan musik cianjuran yang juga kaya dengan improvisasi.

                    Pemahaman wirama ini menyangkut dengan bagaimana menemukan ketukan dan meletakkan gong dalam musik cianjuran. Hampir sama dengan kendang penca, misalnya dalam Tepak Paleredan atau Tepak Dua, klimaks dari satu rangkaian gerak harus berakhir tepat dengan bunyi gong. Pemahaman wirasa menyangkut unsur rasa. Penari harus tahu kapan bergerak cepat atau lambat, kapan satu hitungan menggunakan banyak jurus atau sebaliknya satu jurus dilakukan dalam tiga atau lebih hitungan, semuanya adalah improvisasi.

                    Yang tidak kalah pentingnya adalah pemahaman syair. Setiap syair dan lagu cianjuran tentunya berbeda pesan, cerita dan makna. Lagu yang berbeda tentunya harus dibawakan dengan penjiwaan yang berbeda pula. Saat menari dengan Kidung atau Rajah misalnya, penari harus membawakannya dengan pembawaan yang khidmat dan tidak beringas. Lagu-lagu yang bersifat mengisahkan perang, disini bisa ditampilkan gerakan2 yang ganas, mimik wajah beringas, marah dsb, sedang untuk sinom satria, mungkin juga harus berusaha menampilkan kesan yang gagah dan agung dari seorang ksatria sunda. Bisa dikatakan, penguasaan akting yang baik akan menjadikan seorang penari Ibing Penca Cianjuran menjadi lebih mantap dalam membawakan tariannya.

                    Menurut Adung Rais, bila sudah memahami dan menghayati secara maksimal maenpo dan cianjuran ini, bisa dikatakan sudah terjadi suatu keseimbangan karena telah terjadi perpaduan yang harmonis antara bentuk kekerasan dan bentuk kehalusan.

                    Sekitar tahun 1995 di Bandung muncul lagi irama pengiring ibing penca yang termasuk unik dan baru. Irama musiknya dikenal dengan irama “Tepak Gonjing” atau “Tepak Tungbreng”. Irama ini tercipta dengan latar belakang kebutuhan dalam kejuaraan seni pencak silat tingkat nasional yang diadakan oleh IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia), di mana salah satu penilaiannya adalah variasi dalam irama pengiring ibing penca. Saat itu Ketua Pengda IPSI Jawa Barat H. Suhana Budjana meminta kepada para guru pencak silat dan para nayaganya untuk membuat kreasi baru dalam iringan musik pencak silat.

                    Permintaan itu direspons dengan berkumpulnya sejumlah tokoh dan pendekar pencak silat dan beberapa seniman Sunda untuk merumuskan pola irama baru. Melalui proses yang tidak terlalu lama maka terciptalah irama Tungbreng atau Gonjing yang memiliki pola tabuhan khas. Kata tungbreng diambil dari bunyi yang dihasilkan oleh alat tabuhannya. Selain mempertahankan ensambel kendang penca yang asli seperti gendang, tarompet dan gong, dalam irama gonjing ditambah beberapa ensambel pelengkap yang terdiri dari kecrek, bonang, dan bedug. Kadang-kadang untuk kebutuhan suasana tertentu dipakai juga kacapi dan suling.

                    Walaupun pada awalnya Tepak Gonjing menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan penggemar pencak silat, namun lambat laun akhirnya dapat diterima. Para pesilat anak-anak dan remaja kebanyakan lebih menyukai irama ini untuk mengiringi ibingannya dengan alasan lebih dinamis.

                    Munculnya Tepak Tungbreng sebagai karya baru dalam blantika ibing penca dianggap sebagai prestasi bagi para tokoh, pendekar, dan seniman yang berkiprah di dunia persilatan Jawa Barat. Hal ini terbukti dengan adanya fenomena penampilan Tepak Tungbreng di setiap pasanggiri atau festival pencak silat di Bandung, bahkan di Jawa Barat. Tepak Tungbreng kini sudah menyebar dari Bandung ke daerah-daerah lain di Jawa Barat.

                    9. Penutup

                    Ibing penca harus dipandang sebagai bagian integral dari suatu ilmu pencak silat di suatu perguruan, sehingga akan banyak manfaat yang bisa diambil dari mempelajari ibing penca. Keberadaan ibing penca di perguruan pencak silat tergantung pada kebijakan perguruan itu sendiri. Jika secara tradisi di suatu perguruan diajarkan ibing penca, maka hal itu patut dilestarikan keberadaanya bahkan harus lebih dikembangkan lagi dengan menciptakan ibingan-ibingan penca yang baru disesuaikan dengan kebutuhan. Bagi perguruan yang tidak memiliki tradisi ibing penca tidak usah memaksakan diri agar ada materi ibing penca, namun jika ingin mencoba sebenarnya bisa saja dengan cara menyusun ibing penca dengan menggunakan patokan irama yang sudah baku atau dengan memodifikasi irama tertentu.

                    Ibing penca jika ditempatkan pada tempat semestinya akan banyak manfaatnya yang bisa diambil. Namun paling tidak, dengan mempelajari ibing penca kita sudah turut melestarikan salah satu seni budaya peninggalan para pendekar pendahulu kita.

                    Graspuzi 16022011

                    dikutip dari:
                    facebook Gending Raspuzi




                    Tags: , , ,


                    Artikel Ibing Penca dan Beladiri Pencak Silat yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


                      - Powered by BING [2014-03-28 05:37]

                      Comments are closed.

                      Ibing Penca dan Beladiri Pencak Silat - Silat Indonesia

                      Ibing Penca dan Beladiri Pencak Silat.

                          [
                      in English ]

                      Feb 23rd, 2011 | By | Category: Artikel Silat [ in English ]

                      IBING PENCA DAN BELADIRI PENCAK SILAT
                      ANTARA KEMBANG DAN BUAH
                      “Mesek cangkang tembong eusi, layu kembang bijil buah

                      Disampaikan pada Seminar Pencak Silat Tradisional dalam Persfektif Budaya dan Sejarah
                      17 Februari 2011 di Universitas Indonesia

                      1. Pendahuluan

                      gending-raspuzi-01Di Jawa Barat, di samping dikenal adanya pencak sebagai bela diri, yang disebut dengan ‘buah’ atau ‘eusi’ (isi), dikenal pula pencak silat ‘kembang’ (bunga) atau ‘ibing penca’ (tari pencak). Begitu eratnya hubungan batin masyarakat Jawa Barat dengan seni pencak silat (kembang), hingga  banyak anggota masyarakat Jawa Barat yang menghubungkan kata pencak tidak dengan bela diri, akan tetapi dengan Ibing Penca.

                      Istilah Ibing Penca memang berasal dari Jawa Barat. Secara harfiah Ibing Penca dapat diterjemahkan menjadi Tari Pencak. Tapi para tokoh pencak silat di Jawa Barat kurang setuju jika ibing penca disebut tari pencak, karena kata “tari” cenderung lebih menitik beratkan pada unsur tarinya, yaitu suatu seni yang menampilkan keindahan gerak meskipun gerakannya diambil dari unsur-unsur pencak silat. Sedangkan “ibing penca” lebih menitikberatkan pada unsur pencak silat, yaitu gerak yang memiliki fungsi serang bela, walaupun tidak dapat disangkal di dalamnya juga mengandung unsur-unsur keindahan.

                      Ada sebagian orang berpendapat bahwa Ibing Penca adalah bagian dari pencak silat dan bisa digunakan sebagai software untuk membela diri jika dilatih dengan rutin, namun ada juga yang berpendapat bahwa Ibing Penca bukanlah pencak silat, melainkan hanya sebatas seni tari dalam bentuk gerakan pencak silat dan tidak bisa digunakan untuk membela diri meskipun dilatih dengan serius dan tekun. Di sisi lain ada juga yang berpendapat bahwa belajar Ibing Penca jika mengerti aplikasi dari setiap gerakan akan bisa dijadikan alat membela diri, sebab Ibing Penca merupakan gabungan rangkaian gerak membela diri hanya saja di iringi musik (jika dipertontonkan), namun dalam praktik latihan sehari-harinya tidak.

                      Dari sinilah timbul persoalan, apakah sebenarnya Ibing Penca berguna untuk membela diri atau hanya sekedar tarian yang tidak ada hubungannya dengan kemahiran beladiri.

                      2. Pencak Silat dan Tari

                      Pencak silat di Indonesia memiliki bermacam bentuk dan ragam yang lahir, hidup dan berkembang di masing-masing aliran dan perguruan pencak silat. Pada mulanya pencak silat diciptakan untuk membela diri, namun dalam perkembangannya, pencak silat dapat juga dijadikan sebagai sumber keindahan bentuk, gerak, irama dan ekspresi yang melukiskan adegan serang bela menggunakan tangan kosong maupun senjata.

                      Pencak silat dan tari merupakan satu ekspresi yang berkaitan dan saling mengisi, karena keduanya menggunakan tubuh manusia sebagai materi pokok, di samping ketajaman pikiran dan perasaan yang selalu berdampingan sewaktu melaksanakan pencak silat atau menari, ditambah dengan ketahanan fisik dan keuletan menggarap teknis pencak silat dan tari. Banyak pakar tari yang merasakan kebutuhan untuk belajar pencak silat yang ternyata besar sekali manfaatnya bagi seorang penari.

                      Persamaan Pencak dan tari adalah keduanya menggunakan tubuh beserta bagian-bagian dari anggota badan manusia sebagai materi utama. Pembinaan fisik dan ekspresi banyak persamaannya, hanya penggunaannya yang berbeda. Pencak silat adalah olah tubuh dari rasa yang dipergunakan untuk membela diri, sedangkan tari adalah olah tubuh untuk mengekspresikan suatu keindahan yang bersifat spiritual dan melahirkan suasana yang semuanya lahir karena tradisi atau dari jiwa para seniman.

                      Pembinaan tubuh dan penguasaaan teknik gerak untuk pencak silat dan tari membutuhkan waktu dan ketekunan berlatih fisik secara kontinyu, karena ketahanan fisik merupakan syarat utama. Ketahanan dari teknik pernafasan, keterampilan gerak, juga keindahan gerak dan keluwesannya ada di dalam pencak silat dan tari. Gerak berat, ringan, tegang, lemah, cepat, pelan, dan berirama merupakan sarana-sarana latihan teknik tubuh yang harus dilaksanakan dengan baik dan teratur bagi seorang pesilat dan penari.

                      Keindahan langkah kaki, gerak tangan kontinyu, posisi yang pasti, ketenangan dan ledakan-ledakan ekspresi gerak di samping kelembutan ada pada pencak silat dan tari. Maka pengaruh timbal balik antara pencak sebagai beladiri dengan tari telah ada pada seni tari di Indonesia.

                      3. Asal Mula Ibing Penca

                      Sejak kapan dan apa yang melatarbelakangi munculnya ibing penca? Hal ini memerlukan penelitian yang mendalam. Ada beberapa sumber yang mengatakan bahwa ibing penca diciptakan sebagai kamuflase dari beladiri yang dilarang pada zaman penjajahan Belanda, di mana dinyatakan bahwa pada saat itu para pendekar yang ingin menyebarkan pencak silat terbentur pada larangan yang dikeluarkan oleh pemerintahan kolonial, sehingga untuk menyiasatinya dibuatlah ibing penca agar pencak silat tetap boleh diajarkan. Ibing penca ditampilkan kepada masyarakat umum sedangkan beladirinya tetap diajarkan secara sembunyi-sembunyi. Untuk kasus-kasus tertentu hal ini mungkin ada benarnya, namun bagi kasus yang lain pendapat ini belum tentu tepat.

                      Pada awalnya aspek pencak silat yang pertama lahir adalah aspek beladiri. Situasi dan kondisi pada suatu masa secara alamiah menyebabkan manusia selalui menyesuaikan diri dengan alam dan lingkungannya,  naluri untuk menjaga eksistensi diri dan kelompoknya menimbulkan upaya agar kelompoknya lebih kuat dari kelompok yang lain. Bersama itu pula timbul kebutuhan untuk menciptakan alat pembelaan diri yang efektif, mulai dari menciptakan senjata dan menciptakan berbagai teknik perkelahian. Pada suatu masa yang mengharuskan orang mampu membela diri secara fisik, menyebabkan tumbuh suburnya bebagai jenis aliran beladiri. Dalam hal ini aliran-aliran pencak silat.

                      Namun perlu diingat bahwa selain memiliki naluri mempertahankan diri, manusia pun memiliki naluri untuk menyukai keindahan. Dari berbagai hal yang ada di sekelilingnya, manusia mampu menciptakan berbagai bentuk keindahan melalui seni. Ketika manusia menemukan alat yang dapat digunakan sebagai senjata, dengan alat itu pula mereka menciptakan karya seni pahatan. Ketika manusia memahami adanya nada dalam bunyi, maka manusia menciptakan musik dan nyanyian. Demikian pula halnya ketika di menyadari bahwa di dalam gerak terdapat keindahan, maka muncullah berbagai jenis tarian. Dari mana inspirasi membuat tarian itu? Salah satunya adalah dari teknik beladiri yang telah dikuasai sebelumnya. Ketika pencak silat tidak banyak lagi digunakan sebagai alat untuk membela diri, maka aspek lain dapat digali, seperti aspek olah raga dan seni. Dari sinilah ibing penca itu muncul. Ia tercipta dari kebutuhan manusia yang gandrung akan keindahan melalui medium gerak.

                      Di Jawa Barat pencak silat banyak mempengaruhi kesenian lain, khususnya tari rakyat. Contoh seni yang dipengaruhi pencak silat: Ketuk Tilu, Jaipongan, Cikeruhan, Sisingaan, Kuda Renggong. Pada awalnya ketika seorang pria sedang kaul Ketuk tilu, maka gerakan yang digunakan adalah gerak improvisasi yang diambil dari jurus-jurus pencak silat

                      Banyak koreografer tari yang memiliki latar belakang pencak silat, di antaranya adalah R. Tjetje Somantri, maestro Tari Keurseus, dan Gugum Gumbira, maestro Jaipongan. Dengan dasar pemikiran bahwa pencak silat merupakan salah satu sumber bagi jenis kesenian lainnya, maka STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Bandung memasukkan mata kuliah pencak silat selama 4 SKS dalam dua semester.

                      Meskipun Ketuk Tilu, Jaipongan atau jenis kesenian lainnya bersumber dari gerakan pencak silat tetapi tidak otomatis disebut sebagai tari pencak silat, karena fungsinya sudah berbeda yakni menjadi alat hiburan semata. Berbeda halnya dengan Ibing Penca, bagi perguruan pencak silat yang di dalamnya terdapat materi Ibing Penca, tentu saja ibing penca dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari ilmu pencak silat.

                      Jika kita melihat berbagai jenis aliran pencak silat ‘buhun’, jarang sekali di dalamnya terdapat pelajaran ibing penca (kecuali Cimande). Hal ini membuktikan bahwa pada awalnya aliran-aliran pencak silat lebih mengutamakan aspek beladiri daripada aspek seni. Atau dengan kata lain ibing penca muncul belakangan setelah ada beladiri pencak silat.

                      Seni Ibing Penca tumbuh subur berkembang di perguruan pencak silat, bukan di aliran asalnya. Sebagai contoh, aliran Cikalong tidak mengenal ibing penca, tetapi Gan Didi Muhtadi, salah seorang tokoh Maenpo Cikalong dari Pasar Baru Cianjur melalui perguruannya Pusaka Siliwangi mengembangkan ibing penca sehingga Gan Didi lebih dikenal sebagai guru ibing penca dari pada guru maenpo. Kemampuannya dalam menciptakan dan mengajarkan ibing penca merupakan hal yang jarang ditemui pada guru-guru maenpo di Cianjur yang hidup pada masa itu.

                      Contoh yang lain, Himpunan Pencak Silat Panglipur yang didirikan Abah Aleh adalah perguruan yang sekarang dikenal dengan kekayaan dan keindahan dalam ibing penca, padahal dari sejarah Panglipur dapat dilihat bahwa guru-guru Abah Aleh adalah pendekar dari berbagai aliran pencak silat yang mumpuni dalam aspek beladiri, bukan dalam aspek seni. Namun Abah Aleh sendiri yang mengolahnya menjadi berbagai bentuk ibing penca.

                      Ibing penca dapat berkembang di perguruan bukan di aliran pencak silat, hal ini terjadi karena biasanya pada suatu aliran pencak silat sudah terdapat aturan baku baik dari segi filosofis maupun teknis yang tidak boleh diubah, ditambah maupun dikurangi oleh para pengikutnya. Berbeda halnya dengan di perguruan pencak silat yang dipimpin oleh pendekar yang biasanya sudah mempelajari berbagai aliran, sehingga memiliki wawasan yang luas dan tidak terlalu kaku dalam mengembangkan pencak silat. Di dalam suatu perguruan biasanya teknik-teknik dari berbagai aliran selain tetap dipertahankan keasliannya namun tidak menutup kemungkinan kemudian dicoba dicampur sehingga menjadi bentuk baru yang menjadi ciri khas perguruan itu. Di sinilah banyak terjadi pengolahan teknik, termasuk pengolahan aspek seni dalam bentuk ibing penca.

                      4. Jurus yang Terdapat dalam Ibing Penca

                      Di dalam ibing penca terdapat jurus-jurus pencak silat. Namun, sebenarnya jenis jurus seperti apa yang digunakan dalam ibing penca? Pertama-tama harus dibedakan terlebih dahulu antara Gerak Dasar, Jurus Dasar, Jurus Inti, dan Jurus Kajadian.

                      Gerak Dasar adalah unsur yang paling kecil dalam suatu gerak. Misalnya ketika seorang pesilat melakukan satu gerak langkah serong sambil melakukan tangkisan sekaligus pukulan, maka di dalamnya terdapat beberapa gerak dasar, yaitu kuda-kuda serong, langkah serong, tangkisan, dan pukulan.

                      Jurus Dasar adalah jurus yang digunakan pada tahap awal berlatih di suatu perguruan atau aliran sebagai fondasi untuk materi lanjutan. Satu jurus dasar bisa terdiri dari satu gerakan, satu rangkaian pendek, bahkan bisa juga berupa rangkaian panjang. Sifat dari jurus dasar ini terbagi menjadi dua, yaitu:

                      Jurus Inti, yang di dalamnya terdapat prinsip-prinsip atau kaidah pencak silat yang dianut oleh suatu aliran atau perguruan. Sepintas jurus inti tidak bisa diduga bagaimana aplikasinya dalam suatu perkelahian tanpa keterangan dari guru. Biasanya jurus inti jumlahnya tidak terlalu banyak, namun dari jurus yang sedikit itu aplikasinya menjadi tidak terbatas jumlahnya.Sebagai contoh, aliran yang menggunakan jurus inti pada jurus dasarnya adalah Sabandar Jurus Lima, Cikalong, Suliwa, Maenpo Peupeuhan, dan Timbangan.

                      Jurus Kajadian, yaitu jurus dasar yang bisa langsung diaplikasikan dalam bentuk serang bela. Biasanya jurus dasar seperti ini bisa langsung dilakukan oleh dua orang pesilat yang saling berhadapan tanpa mengubah gerakan dari jurus dasar tersebut. Contoh aliran atau perguruan yang menggunakan metode ini adalah Cimande, Jurus Kajadian Maenpo, Panglipur, Pager Kancana, dan Budhi Kancana.

                      Dari Jurus Inti sebenarnya bisa dikembangkan menjadi berbagai Jurus Kajadian setelah jurus inti tersebut diaplikasikan dalam teknik serang bela. Sebagai contoh, Rd. Abad M. Sirod seorang tokoh maenpo Cikalong yang pada awalnya ia menerima Jurus Inti dari gurunya (Rd. Busrin) namun kemudian menciptakan 27 Jurus Kajadian dan 3 Jurus Maksud dengan alasan untuk mempermudah proses belajar mengajar. Menurutnya, dengan mengajarkan Jurus Kajadian murid-muridnya bisa langsung mengerti aplikasi dari setiap jurusnya.

                      Jadi Ibing Penca sebenarnya adalah rangkaian jurus kajadian yang disusun sedemikian rupa sehingga memenuhi unsur estetika tanpa meninggalkan makna serang bela dalam setiap gerakannya. Ibing penca yang baik harus dapat menggambarkan suatu bentuk teknik perkelahian seolah-olah pesilat tersebut sedang berhadapan dengan lawan.

                      5. Struktur Koreografi dan Karawitan pada Ibing Penca di Jawa Barat

                      a. Koreografi Ibing Penca

                      Sikap dan  gerakan dalam pencak silat sebagai beladiri dilakukan untuk melindungi diri dan menyerang, sedangkan dalam ibing penca sikap dan gerak dilakukan untuk kenikmatan penari yang bergerak mengikuti irama karawitan dan untuk kenikmatan yang menonton ibing penca. Mudah dipahami kalau gerakan dan sikap dalam ibing penca, walaupun bersumber pada beladiri namun memiliki perbedaan-perbedaan. Pada umumnya sikap dan gerakan dalam ibing penca lebih terbuka, lebih distilasi dan dilakukan dalam irama yang metrikal.

                      Di dalam Ibing Penca di Jawa Barat terdapat pola koreografis yang umum, yaitu sebagai berikut:

                      1)      Bagian pertama: Tepak Dua atau Paleredan, lebih memperlihatkan unsur keindahan.

                      2)      Bagian kedua: Tepak Tilu atau Golempang, memperlihatkan teknik serang bela yang masih terikat pada ketukan irama.

                      3)      Bagian ketiga: Padungdung, di sini pesilat berimprovisasi secara bebas sesuai dengan imajinasinya ketika itu.

                      Berdasarkan koreografi itu, ibing pencak adalah salah satu jenis kesenian yang kaya segi kreatifitasnya karena masing-masing perguruan memiliki gerakan ibing penca yang berbeda walaupun berpatokan pada irama yang sama. Dapat dipahami, ibing penca merupakan tari yang paling populer dan paling banyak penggemarnya di Jawa Barat.

                      Koreografi bagian pertama biasanya sangat kental dengan jurus-jurus yang berasal dari aliran Cimande, karena sifat geraknya lebih terbuka sehingga cocok dibawakan dengan tempo yang lambat. Contohnya adalah sebagai berikut:

                      • Tepak Dua Salancar
                      • Tepak Dua Sorong Dayung.
                      • Tepak Dua Buang Kelid.
                      • Tepak Dua Kampung Baru
                      • Paleredan Jalak Pengkor
                      • Paleredan Sawitan
                      • Paleredan Pancer Opat

                      Koreografi bagian kedua lebih banyak bersumber pada aliran Cikalong, Sabandar, dan Sera. Contohnya adalah sebagai berikut:

                      • Tepak Tilu Cikalong
                      • Tepak Tilu Jalan Muka
                      • Tepak Tilu Alip Bandul
                      • Tepak Tilu Peunggasan
                      • Tepak Tilu Gerak Seta

                      Koreografi bagian ketiga memperlihatkan jurus kajadian (jurus aplikasi) yang memperlihatkan teknik-teknik serang bela yang dilakukan dengan kecepatan yang sebenarnya dan yang pada awal perkembangannya bersifat improvisasi. Namun saat ini irama padungdung pun diisi dengan gerakan yang telah ditentukan sebelumnya, bukan improvisasi lagi. Contohnya adalah sebagai berikut:

                      • Si Pecut
                      • Pecah Alip
                      • Pecah Gunting
                      • Likuran
                      • Si Pitung

                      Saat ini banyak koreografi yang merupakan variasi atau gabungan dari aliran-aliran Cimande, Cikalong, Sabandar, Sera dan aliran yang lain. Ibing pencak yang banyak diajarkan di perguruan-perguruan pencak silat seperti di Panglipur, Pager Kancana, Kusuma Harapan, Domas, dan yang perguruan lainnya biasanya sudah merupakan olahan dari berbagai macam aliran yang dipelajari di perguruan yang bersangkutan.

                      Ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan dalam memperagakan ibing penca, yaitu:

                      Pertama, unsur kekayaan gerak (wiraga) yaitu kekayaan gerak atau jurus-jurus yang dimiliki oleh seorang pesilat selama belajar di perguruannya, sehingga penampilannya menjadi tidak monoton atau membosankan apabila tampil di atas pentas, terutama dalam pertandingan seni pencak silat. Tetapi apabila dalam acara spontanitas pada suatu hajatan misalnya, unsur kekayaan gerak tidak begitu diperhatikan pesilat. Yang penting pesilat mampu memperagakan gerakannya dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah pencak silat karena tidak terikat oleh sistem penilaian dari juri seperti dalam pelaksanaan pertandingan pencak silat seni.

                      Kedua, unsur irama (wirahma) atau musik, unsur inilah yang membedakan aspek seni dengan aspek yang lain dalam pencak silat. Seorang pengibing penca harus mampu menyerasikan gerak dengan musik pengiringnya. Pengolahan irama yang variatif dan dinamis memiliki nilai lebih bagi seorang pesilat dalam membawakan ibingannya.

                      Ketiga, unsur penjiwaan gerak (wirasa) yaitu salah satu unsur yang penting dimiliki oleh seorang pengibing penca. Penjiwaan gerak yang mantap sangat dipengaruhi oleh pemahaman pesilat terhadap setiap gerakan yang ditampilkannya. Oleh karena itu, pesilat dituntut harus menguasai arti dan makna gerak pencak silat yang sebenarnya, serta mengerti maksud dan tujuan dari jurus-jurus dan teknik-teknik pencak silat yang dipelajarinya.

                      b. Karawitan

                      Walaupun di daerah-daerah tertentu di Jawa Barat terdapat musik pengiring khas ibing penca seperti Patingtung di Banten, dan Terebang di Cirebon namun pada umumnya untuk mengiringi ibing penca dibutuhkan suatu ensembel yang disebut ‘kendang penca’. Ensembel ini sangat mendukung suasana ibing penca yang pada dasarnya merupakan tari perang atau tari perkelahian. Musik kendang penca kadang-kadang bersuasana menantang misalnya pada lagu Kembang Beureum atau Buah Kawung atau bersuasana do’a yaitu pada Kidung.

                      Gendang pencak dimainkan oleh empat orang penabuh (nayaga/wiyaga). Mereka mempunyai tugas masing-masing dalam pelaksanaannya. Penabuh kendang pencak silat yang sudah berpengalaman selain mampu mengiringi ibing pencak silat yang sudah dirancang sebelumnya, ia pun mampu mengiringi gerakan-gerakan yang tidak dirancang sebelumnya.

                      Adapun waditra (instrumen) yang terdapat di dalam kendang penca adalah sebagai berikut:

                      1. Dua buah kendang besar (kendang indung dan kendang anak) dilengkapi dua buah kendang kecil (kulanter). Kendang bertugas mengisi gerak dan mengatur tempo.
                      2. Sebuah terompet sebagai pembawa melodi
                      3. Sebuah gong kecil (bende, kempul) sebagai pengatur irama, penegas tesis lagu.

                      Jenis pukulan kendang yang juga tidak dapat dipisahkan dari jenis irama pada dasarnya adalah sebagai berikut:

                      1. Tepak Dua. Motif-motif pukulan kendang untuk tempo lambat. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Kembang Gadung, Ayun Ambing, Polos, Gedong Panjang, Kendor Kulon, Tunggul Kawung, Bata Rubuh, Kidung, Sorong Dayung.
                      2. Paleredan. Motif-motif pukulan kendang untuk tempo lambat. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Ayun Ambing, Bela pati, Sasalimpetan, Buah Kawung, Karawangan, Gendu, Gaya, Sari.
                      3. Tepak Tilu. Motif-motif pukulan dengan tempo sedang. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Ucing-ucingan, Kembang Beureum, Bardin, Sintren, Papare, Bendrong Petit, Gendu, Kapuk Kapas, Garungan, Joher, Mainang, Kacang Asin, Oyong-oyong Bangkong.
                      4. Golempang. Motif-motif lebih cepat daripada Tepak Tilu. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Kembang Beureum, Kacang Asin.
                      5. Padungdung. Motif pukulan dengan tempo paling cepat. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Kidung, Kolear, Leang-leang, Ceurik Rahwana.

                      6. Kapan Ibing Penca Diajarkan?

                      Penempatan pelajaran ibing penca di setiap perguruan tidak sama. Ada yang ditempatkan di awal, ada pula yang ditempatkan di akhir. Lebih jelasnya proses belajar di perguruan pencak silat yang di dalamnya ada materi ibing penca adalah sebagai berikut:

                      1. Jurus dasar – ibing penca – beladiri (Contoh: Panglipur, Pager Kancana, Budhi Kancana)
                      2. Jurus dasar – beladiri – ibing penca (Contoh: Cimande)
                      3. Jurus dasar – rangkaian gerak – beladiri – ibing penca (Contoh: Maenpo Peupeuhan)
                      4. Ibing penca – beladiri (Contoh: Sekar Pusaka)
                      5. Jurus dasar – Aplikasi jurus dasar – Rangkaian gerak – Ibing Penca – Beladiri (Contoh: Garis Paksi)

                      Penempatan materi ibing penca di awal adalah strategi agar pencak silat lebih disukai oleh kalangan pesilat usia anak-anak dan remaja, karena ibing penca dapat diajarkan secara massal dan kecil kemungkinannya pesilat mengalami cidera. Di samping itu dengan ibing penca dapat digunakan dalam ajang perlombaan seni pencak silat yang diadakan oleh IPSI maupun PPSI. Sistem pengajaran seperti ini biasanya digunakan di lingkungan sekolah. Pada kasus ini, seorang pesilat yang mampu membawakan ibingan dengan baik belum tentu mahir dalam beladiri.

                      Penempatan materi ibing penca di akhir bermaksud untuk penghalusan gerak jurus dan dapat digunakan sebagai alat hiburan setelah mempelajari beladiri. Pada kasus ini, seorang pesilat yang sudah berani tampil membawakan ibing penca sudah dipastikan mampu membela diri. Dahulu seorang pesilat yang melakukan ibing penca harus siap jika suatu waktu ada orang yang masuk ke gelanggang untuk  mencoba keterampilan berkelahi dengannya.

                      Namun ada pula yang mengajarkan ibing penca bersamaan waktunya dengan mengajarkan beladiri. Atau ada pemisahan antara murid yang ingin mendalami ibing penca dan murid yang ingin mendalami beladiri. Sebagai contoh, di Himpunan Pencak Silat Panglipur, setelah murid menguasai 6 dasar pukulan, 9 jurus dasar, dan dua pola langkah maka bisa dilanjutkan dengan mempelajari Ibing Paleredan Pancer Opat, Tepak Tilu Jalan Muka, kemudian ditutup dengan Padungdung Si Pecut. Namun jika ingin mempelajari beladiri, maka dari jurus dasar bisa langsung mempelajari aplikasi dari setiap jurus disertai dengan pengertian kaedah-kaedahnya sehingga benar-benar mengerti dan mampu mengaplikasikannya dalam usik beladiri.

                      Contoh lain, di Paguron Pusaka Siliwangi yang didirikan oleh Rd. Didi Muhtadi, jika ia mengajar ibing penca maka ia memulainya dengan mengajarkan 13 jurus dasar Cikalong, kemudian mengajarkan berbagai pola langkah dan akhirnya mengajarkan ibing penca. Namun jika ingin mengajarkan beladiri, dari jurus dilanjutkan dengan pelajaran kaedah maenpo Cikalong dan dilanjutkan dengan praktik usik-usikan atau tapelan (latihan berpasangan untuk mengolah rasa).

                      7. Manfaat Ibing Penca dalam Beladiri

                      Apakah ibing penca dapat digunakan untuk membeladiri? Apakah setiap pesilat yang sangat bagus membawakan ibing penca sudah pasti dapat melakukan pembelaan diri dengan baik? Jawabnya belum tentu. Seorang pesilat yang hanya belajar ibing penca atau baru belajar ibing penca pasti tidak akan bisa dijadikan sebagai alat pembelaan diri yang efektif.

                      Jangankan ibing penca, pesilat yang mampu memainkan jurus ganda dengan baik belum tentu juga mampu menggunakan teknik beladiri dengan baik. (Penampilan kategori Ganda atau berpasangan adalah latihan atau peragaan berpasangan dari pesilat yang menampilkan serang bela. Di dalam ganda masing-masing pesilat saling memberi kesempatan kepada mitranya untuk menggunakan jurusnya yang sudah diatur sebelumnya).

                      Ibing penca, ganda, usik/beladiri merupakan ilmu pencak silat yang memiliki perbedaan dalam tatacara berlatih dan mengaplikasikannya. Orang yang pandai ibing penca belum tentu bisa jurus ganda atau mahir beladiri. Orang yang mahir jurus ganda belum tentu bisa ibing penca atau usik beladiri yang sebenarnya. Begitu pula orang yang mahir usik beladiri belum tentu bisa ibing penca atau ganda.

                      Namun apabila masing-masing dihubungkan, maka akan terlihat keterkaitan yang saling mendukung satu sama lain. Dengan mempelajari ibing penca, pesilat akan mengerti irama, menghaluskan rasa, merasakan adanya energi dari musik pengiring. Sering terlihat seorang pendekar sepuh yang sudah renta tiba-tiba menjadi jagjag waringkas ketika mendengar kendang penca dan melakukan ibing penca, tetapi kemudian kembali “normal” ketika selesai membawakan ibingannya.

                      Dengan ganda pesilat belajar perbendaharaan teknik pencak silat dalam hal belaan dan serangan. Mengasah untuk saling memberi dan toleransi kepada mitranya, melatih timing yang tepat dalam bergerak. Dengan belajar usik/beladiri, kita dituntut untuk dapat menghadapi serangan apapun dalam situasi apapun. Tidak ada aturan dalam usik, tujuan utamanya adalah mampu mengalahkan lawan. Jadi semua memiliki porsinya masing-masing.

                      Sebenarnya di dalam ibing penca teknis pencak silat sudah cukup lengkap, mulai dari jurus, kuda-kuda, pasang, perpindahan posisi, hingga pola langkah. Tapi memang, di dalam ibing dimasukan elemen kembangan untuk mempermanisnya, yang kadang memang lebih banyak didominasi unsur tarian. Seorang pesilat yang telah menguasai ibing penca dengan baik harus melalui tahapan tertentu dengan metode latihan tertentu pula agar mahir pula dalam membela diri, tidak cukup hanya mempelajari ibing terus menerus.

                      Di Perguruan Pencak Silat Sekar Pusaka yang didirikan oleh Aki Iyat Ruchiyat, ibing penca langsung diberikan kepada murid baru, tanpa melalui tahap belajar jurus dasar. Kemudian setelah murid tersebut telah mampu menghafal dan membawakan ibing dengan benar dan bagus, maka mulailah Aki Iyat mengajarkan aplikasi yang terdapat dalam ibingan-ibingan tersebut. Istilahnya mesek cangkang tembong eusi, layu kembang bijil buah. Arti harfiahnya adalah “mengupas kulit agar terlihat isinya, layu bunga lantas muncul buahnya”. Jadi setelah ibingan itu dibuka kaidah-kaidah silatnya dengan dibarengi dengan latihan-latihan tertentu maka seorang pesilat yang ibingannya bagus dapat pula melakukan pembelaan diri dengan baik.

                      Pesilat yang telah mengetahui aplikasi dari ibing penca yang dibawakannya akan lebih menghayati setiap gerakannya. Penempatan tenaga antara leuleus (lemas/rileks) dan teuas (keras) akan semakin baik, demikian juga penggunaan ekspresi akan lebih gereget karena pesilat tersebut sedang membayangkan seolah-olah sedang menghadapi lawan.

                      8. Perkembangan Karawitan PencaK Silat

                      Pada umumnya di Jawa Barat musik pengiring ibing penca adalah suatu ensembel yang disebut “kendang penca”, terdiri dari dua buah kendang besar dan dua buah kendang kecil (kulanter) bertugas mengisi gerak dan mengatur tempo, sebuah terompet sebagai pembawa melodi, dan sebuah gong kecil sebagai pengatur irama dan penegas tesis lagu. Jenis pukulan kendang yang tidak dapat dipisahkan dari jenis irama pada dasarnya ada empat, yaitu Tepak Dua, Tepak Tilu, Golempang, dan Padungdung.

                      Karawitan pencak silat di Bandung mengalami perkembangan yang cukup dinamis. Jenis irama tidak lagi hanya berpatokan pada irama yang sudah baku, tetapi mulai berkreasi menciptakan irama baru, menambahkan beberapa waditra tambahan, bahkan menggunakan waditra yang sebelumnya tidak lazim digunakan untuk mengiringi ibing penca.

                      Pada tahun 1970-an muncul ibing penca yang lebih dikenal dengan Ibing Maenpo Cianjuran yang menggunakan tembang cianjuran sebagai musik pengiringnya. Meskipun menggunakan nama “cianjuran”, namun Ibing Maenpo Cianjuran diciptakan dan kemudian berkembang di Bandung. Ibing Maenpo Cianjuran adalah hasil karya cipta seorang tokoh Maenpo asal Bandung, yaitu Adung Rais. Pada saat itu ia mencoba memadukan seni beladiri Maenpo Peupeuhan dengan seni tradisional tembang cianjuran atau dikenal dengan nama kacapi suling.

                      Untuk bisa melakukan Ibing Penca ini, seorang praktisi Maenpo harus menguasai teknik Maenpo dengan baik dan memahami musik Cianjuran. Penguasaan teknik maenpo yang baik sangat penting karena Ibing Penca Cianjuran ini bersifat improvisasi sama halnya dengan musik cianjuran yang juga kaya dengan improvisasi.

                      Pemahaman wirama ini menyangkut dengan bagaimana menemukan ketukan dan meletakkan gong dalam musik cianjuran. Hampir sama dengan kendang penca, misalnya dalam Tepak Paleredan atau Tepak Dua, klimaks dari satu rangkaian gerak harus berakhir tepat dengan bunyi gong. Pemahaman wirasa menyangkut unsur rasa. Penari harus tahu kapan bergerak cepat atau lambat, kapan satu hitungan menggunakan banyak jurus atau sebaliknya satu jurus dilakukan dalam tiga atau lebih hitungan, semuanya adalah improvisasi.

                      Yang tidak kalah pentingnya adalah pemahaman syair. Setiap syair dan lagu cianjuran tentunya berbeda pesan, cerita dan makna. Lagu yang berbeda tentunya harus dibawakan dengan penjiwaan yang berbeda pula. Saat menari dengan Kidung atau Rajah misalnya, penari harus membawakannya dengan pembawaan yang khidmat dan tidak beringas. Lagu-lagu yang bersifat mengisahkan perang, disini bisa ditampilkan gerakan2 yang ganas, mimik wajah beringas, marah dsb, sedang untuk sinom satria, mungkin juga harus berusaha menampilkan kesan yang gagah dan agung dari seorang ksatria sunda. Bisa dikatakan, penguasaan akting yang baik akan menjadikan seorang penari Ibing Penca Cianjuran menjadi lebih mantap dalam membawakan tariannya.

                      Menurut Adung Rais, bila sudah memahami dan menghayati secara maksimal maenpo dan cianjuran ini, bisa dikatakan sudah terjadi suatu keseimbangan karena telah terjadi perpaduan yang harmonis antara bentuk kekerasan dan bentuk kehalusan.

                      Sekitar tahun 1995 di Bandung muncul lagi irama pengiring ibing penca yang termasuk unik dan baru. Irama musiknya dikenal dengan irama “Tepak Gonjing” atau “Tepak Tungbreng”. Irama ini tercipta dengan latar belakang kebutuhan dalam kejuaraan seni pencak silat tingkat nasional yang diadakan oleh IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia), di mana salah satu penilaiannya adalah variasi dalam irama pengiring ibing penca. Saat itu Ketua Pengda IPSI Jawa Barat H. Suhana Budjana meminta kepada para guru pencak silat dan para nayaganya untuk membuat kreasi baru dalam iringan musik pencak silat.

                      Permintaan itu direspons dengan berkumpulnya sejumlah tokoh dan pendekar pencak silat dan beberapa seniman Sunda untuk merumuskan pola irama baru. Melalui proses yang tidak terlalu lama maka terciptalah irama Tungbreng atau Gonjing yang memiliki pola tabuhan khas. Kata tungbreng diambil dari bunyi yang dihasilkan oleh alat tabuhannya. Selain mempertahankan ensambel kendang penca yang asli seperti gendang, tarompet dan gong, dalam irama gonjing ditambah beberapa ensambel pelengkap yang terdiri dari kecrek, bonang, dan bedug. Kadang-kadang untuk kebutuhan suasana tertentu dipakai juga kacapi dan suling.

                      Walaupun pada awalnya Tepak Gonjing menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan penggemar pencak silat, namun lambat laun akhirnya dapat diterima. Para pesilat anak-anak dan remaja kebanyakan lebih menyukai irama ini untuk mengiringi ibingannya dengan alasan lebih dinamis.

                      Munculnya Tepak Tungbreng sebagai karya baru dalam blantika ibing penca dianggap sebagai prestasi bagi para tokoh, pendekar, dan seniman yang berkiprah di dunia persilatan Jawa Barat. Hal ini terbukti dengan adanya fenomena penampilan Tepak Tungbreng di setiap pasanggiri atau festival pencak silat di Bandung, bahkan di Jawa Barat. Tepak Tungbreng kini sudah menyebar dari Bandung ke daerah-daerah lain di Jawa Barat.

                      9. Penutup

                      Ibing penca harus dipandang sebagai bagian integral dari suatu ilmu pencak silat di suatu perguruan, sehingga akan banyak manfaat yang bisa diambil dari mempelajari ibing penca. Keberadaan ibing penca di perguruan pencak silat tergantung pada kebijakan perguruan itu sendiri. Jika secara tradisi di suatu perguruan diajarkan ibing penca, maka hal itu patut dilestarikan keberadaanya bahkan harus lebih dikembangkan lagi dengan menciptakan ibingan-ibingan penca yang baru disesuaikan dengan kebutuhan. Bagi perguruan yang tidak memiliki tradisi ibing penca tidak usah memaksakan diri agar ada materi ibing penca, namun jika ingin mencoba sebenarnya bisa saja dengan cara menyusun ibing penca dengan menggunakan patokan irama yang sudah baku atau dengan memodifikasi irama tertentu.

                      Ibing penca jika ditempatkan pada tempat semestinya akan banyak manfaatnya yang bisa diambil. Namun paling tidak, dengan mempelajari ibing penca kita sudah turut melestarikan salah satu seni budaya peninggalan para pendekar pendahulu kita.

                      Graspuzi 16022011

                      dikutip dari:
                      facebook Gending Raspuzi




                      Tags: , , ,


                      Artikel Ibing Penca dan Beladiri Pencak Silat yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


                        - Powered by BING [2014-04-05 17:33]

                        Comments are closed.

                        Ibing Penca dan Beladiri Pencak Silat - Silat Indonesia

                        Ibing Penca dan Beladiri Pencak Silat.

                            [
                        in English ]

                        Feb 23rd, 2011 | By | Category: Artikel Silat [ in English ]

                        IBING PENCA DAN BELADIRI PENCAK SILAT
                        ANTARA KEMBANG DAN BUAH
                        “Mesek cangkang tembong eusi, layu kembang bijil buah

                        Disampaikan pada Seminar Pencak Silat Tradisional dalam Persfektif Budaya dan Sejarah
                        17 Februari 2011 di Universitas Indonesia

                        1. Pendahuluan

                        gending-raspuzi-01Di Jawa Barat, di samping dikenal adanya pencak sebagai bela diri, yang disebut dengan ‘buah’ atau ‘eusi’ (isi), dikenal pula pencak silat ‘kembang’ (bunga) atau ‘ibing penca’ (tari pencak). Begitu eratnya hubungan batin masyarakat Jawa Barat dengan seni pencak silat (kembang), hingga  banyak anggota masyarakat Jawa Barat yang menghubungkan kata pencak tidak dengan bela diri, akan tetapi dengan Ibing Penca.

                        Istilah Ibing Penca memang berasal dari Jawa Barat. Secara harfiah Ibing Penca dapat diterjemahkan menjadi Tari Pencak. Tapi para tokoh pencak silat di Jawa Barat kurang setuju jika ibing penca disebut tari pencak, karena kata “tari” cenderung lebih menitik beratkan pada unsur tarinya, yaitu suatu seni yang menampilkan keindahan gerak meskipun gerakannya diambil dari unsur-unsur pencak silat. Sedangkan “ibing penca” lebih menitikberatkan pada unsur pencak silat, yaitu gerak yang memiliki fungsi serang bela, walaupun tidak dapat disangkal di dalamnya juga mengandung unsur-unsur keindahan.

                        Ada sebagian orang berpendapat bahwa Ibing Penca adalah bagian dari pencak silat dan bisa digunakan sebagai software untuk membela diri jika dilatih dengan rutin, namun ada juga yang berpendapat bahwa Ibing Penca bukanlah pencak silat, melainkan hanya sebatas seni tari dalam bentuk gerakan pencak silat dan tidak bisa digunakan untuk membela diri meskipun dilatih dengan serius dan tekun. Di sisi lain ada juga yang berpendapat bahwa belajar Ibing Penca jika mengerti aplikasi dari setiap gerakan akan bisa dijadikan alat membela diri, sebab Ibing Penca merupakan gabungan rangkaian gerak membela diri hanya saja di iringi musik (jika dipertontonkan), namun dalam praktik latihan sehari-harinya tidak.

                        Dari sinilah timbul persoalan, apakah sebenarnya Ibing Penca berguna untuk membela diri atau hanya sekedar tarian yang tidak ada hubungannya dengan kemahiran beladiri.

                        2. Pencak Silat dan Tari

                        Pencak silat di Indonesia memiliki bermacam bentuk dan ragam yang lahir, hidup dan berkembang di masing-masing aliran dan perguruan pencak silat. Pada mulanya pencak silat diciptakan untuk membela diri, namun dalam perkembangannya, pencak silat dapat juga dijadikan sebagai sumber keindahan bentuk, gerak, irama dan ekspresi yang melukiskan adegan serang bela menggunakan tangan kosong maupun senjata.

                        Pencak silat dan tari merupakan satu ekspresi yang berkaitan dan saling mengisi, karena keduanya menggunakan tubuh manusia sebagai materi pokok, di samping ketajaman pikiran dan perasaan yang selalu berdampingan sewaktu melaksanakan pencak silat atau menari, ditambah dengan ketahanan fisik dan keuletan menggarap teknis pencak silat dan tari. Banyak pakar tari yang merasakan kebutuhan untuk belajar pencak silat yang ternyata besar sekali manfaatnya bagi seorang penari.

                        Persamaan Pencak dan tari adalah keduanya menggunakan tubuh beserta bagian-bagian dari anggota badan manusia sebagai materi utama. Pembinaan fisik dan ekspresi banyak persamaannya, hanya penggunaannya yang berbeda. Pencak silat adalah olah tubuh dari rasa yang dipergunakan untuk membela diri, sedangkan tari adalah olah tubuh untuk mengekspresikan suatu keindahan yang bersifat spiritual dan melahirkan suasana yang semuanya lahir karena tradisi atau dari jiwa para seniman.

                        Pembinaan tubuh dan penguasaaan teknik gerak untuk pencak silat dan tari membutuhkan waktu dan ketekunan berlatih fisik secara kontinyu, karena ketahanan fisik merupakan syarat utama. Ketahanan dari teknik pernafasan, keterampilan gerak, juga keindahan gerak dan keluwesannya ada di dalam pencak silat dan tari. Gerak berat, ringan, tegang, lemah, cepat, pelan, dan berirama merupakan sarana-sarana latihan teknik tubuh yang harus dilaksanakan dengan baik dan teratur bagi seorang pesilat dan penari.

                        Keindahan langkah kaki, gerak tangan kontinyu, posisi yang pasti, ketenangan dan ledakan-ledakan ekspresi gerak di samping kelembutan ada pada pencak silat dan tari. Maka pengaruh timbal balik antara pencak sebagai beladiri dengan tari telah ada pada seni tari di Indonesia.

                        3. Asal Mula Ibing Penca

                        Sejak kapan dan apa yang melatarbelakangi munculnya ibing penca? Hal ini memerlukan penelitian yang mendalam. Ada beberapa sumber yang mengatakan bahwa ibing penca diciptakan sebagai kamuflase dari beladiri yang dilarang pada zaman penjajahan Belanda, di mana dinyatakan bahwa pada saat itu para pendekar yang ingin menyebarkan pencak silat terbentur pada larangan yang dikeluarkan oleh pemerintahan kolonial, sehingga untuk menyiasatinya dibuatlah ibing penca agar pencak silat tetap boleh diajarkan. Ibing penca ditampilkan kepada masyarakat umum sedangkan beladirinya tetap diajarkan secara sembunyi-sembunyi. Untuk kasus-kasus tertentu hal ini mungkin ada benarnya, namun bagi kasus yang lain pendapat ini belum tentu tepat.

                        Pada awalnya aspek pencak silat yang pertama lahir adalah aspek beladiri. Situasi dan kondisi pada suatu masa secara alamiah menyebabkan manusia selalui menyesuaikan diri dengan alam dan lingkungannya,  naluri untuk menjaga eksistensi diri dan kelompoknya menimbulkan upaya agar kelompoknya lebih kuat dari kelompok yang lain. Bersama itu pula timbul kebutuhan untuk menciptakan alat pembelaan diri yang efektif, mulai dari menciptakan senjata dan menciptakan berbagai teknik perkelahian. Pada suatu masa yang mengharuskan orang mampu membela diri secara fisik, menyebabkan tumbuh suburnya bebagai jenis aliran beladiri. Dalam hal ini aliran-aliran pencak silat.

                        Namun perlu diingat bahwa selain memiliki naluri mempertahankan diri, manusia pun memiliki naluri untuk menyukai keindahan. Dari berbagai hal yang ada di sekelilingnya, manusia mampu menciptakan berbagai bentuk keindahan melalui seni. Ketika manusia menemukan alat yang dapat digunakan sebagai senjata, dengan alat itu pula mereka menciptakan karya seni pahatan. Ketika manusia memahami adanya nada dalam bunyi, maka manusia menciptakan musik dan nyanyian. Demikian pula halnya ketika di menyadari bahwa di dalam gerak terdapat keindahan, maka muncullah berbagai jenis tarian. Dari mana inspirasi membuat tarian itu? Salah satunya adalah dari teknik beladiri yang telah dikuasai sebelumnya. Ketika pencak silat tidak banyak lagi digunakan sebagai alat untuk membela diri, maka aspek lain dapat digali, seperti aspek olah raga dan seni. Dari sinilah ibing penca itu muncul. Ia tercipta dari kebutuhan manusia yang gandrung akan keindahan melalui medium gerak.

                        Di Jawa Barat pencak silat banyak mempengaruhi kesenian lain, khususnya tari rakyat. Contoh seni yang dipengaruhi pencak silat: Ketuk Tilu, Jaipongan, Cikeruhan, Sisingaan, Kuda Renggong. Pada awalnya ketika seorang pria sedang kaul Ketuk tilu, maka gerakan yang digunakan adalah gerak improvisasi yang diambil dari jurus-jurus pencak silat

                        Banyak koreografer tari yang memiliki latar belakang pencak silat, di antaranya adalah R. Tjetje Somantri, maestro Tari Keurseus, dan Gugum Gumbira, maestro Jaipongan. Dengan dasar pemikiran bahwa pencak silat merupakan salah satu sumber bagi jenis kesenian lainnya, maka STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Bandung memasukkan mata kuliah pencak silat selama 4 SKS dalam dua semester.

                        Meskipun Ketuk Tilu, Jaipongan atau jenis kesenian lainnya bersumber dari gerakan pencak silat tetapi tidak otomatis disebut sebagai tari pencak silat, karena fungsinya sudah berbeda yakni menjadi alat hiburan semata. Berbeda halnya dengan Ibing Penca, bagi perguruan pencak silat yang di dalamnya terdapat materi Ibing Penca, tentu saja ibing penca dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari ilmu pencak silat.

                        Jika kita melihat berbagai jenis aliran pencak silat ‘buhun’, jarang sekali di dalamnya terdapat pelajaran ibing penca (kecuali Cimande). Hal ini membuktikan bahwa pada awalnya aliran-aliran pencak silat lebih mengutamakan aspek beladiri daripada aspek seni. Atau dengan kata lain ibing penca muncul belakangan setelah ada beladiri pencak silat.

                        Seni Ibing Penca tumbuh subur berkembang di perguruan pencak silat, bukan di aliran asalnya. Sebagai contoh, aliran Cikalong tidak mengenal ibing penca, tetapi Gan Didi Muhtadi, salah seorang tokoh Maenpo Cikalong dari Pasar Baru Cianjur melalui perguruannya Pusaka Siliwangi mengembangkan ibing penca sehingga Gan Didi lebih dikenal sebagai guru ibing penca dari pada guru maenpo. Kemampuannya dalam menciptakan dan mengajarkan ibing penca merupakan hal yang jarang ditemui pada guru-guru maenpo di Cianjur yang hidup pada masa itu.

                        Contoh yang lain, Himpunan Pencak Silat Panglipur yang didirikan Abah Aleh adalah perguruan yang sekarang dikenal dengan kekayaan dan keindahan dalam ibing penca, padahal dari sejarah Panglipur dapat dilihat bahwa guru-guru Abah Aleh adalah pendekar dari berbagai aliran pencak silat yang mumpuni dalam aspek beladiri, bukan dalam aspek seni. Namun Abah Aleh sendiri yang mengolahnya menjadi berbagai bentuk ibing penca.

                        Ibing penca dapat berkembang di perguruan bukan di aliran pencak silat, hal ini terjadi karena biasanya pada suatu aliran pencak silat sudah terdapat aturan baku baik dari segi filosofis maupun teknis yang tidak boleh diubah, ditambah maupun dikurangi oleh para pengikutnya. Berbeda halnya dengan di perguruan pencak silat yang dipimpin oleh pendekar yang biasanya sudah mempelajari berbagai aliran, sehingga memiliki wawasan yang luas dan tidak terlalu kaku dalam mengembangkan pencak silat. Di dalam suatu perguruan biasanya teknik-teknik dari berbagai aliran selain tetap dipertahankan keasliannya namun tidak menutup kemungkinan kemudian dicoba dicampur sehingga menjadi bentuk baru yang menjadi ciri khas perguruan itu. Di sinilah banyak terjadi pengolahan teknik, termasuk pengolahan aspek seni dalam bentuk ibing penca.

                        4. Jurus yang Terdapat dalam Ibing Penca

                        Di dalam ibing penca terdapat jurus-jurus pencak silat. Namun, sebenarnya jenis jurus seperti apa yang digunakan dalam ibing penca? Pertama-tama harus dibedakan terlebih dahulu antara Gerak Dasar, Jurus Dasar, Jurus Inti, dan Jurus Kajadian.

                        Gerak Dasar adalah unsur yang paling kecil dalam suatu gerak. Misalnya ketika seorang pesilat melakukan satu gerak langkah serong sambil melakukan tangkisan sekaligus pukulan, maka di dalamnya terdapat beberapa gerak dasar, yaitu kuda-kuda serong, langkah serong, tangkisan, dan pukulan.

                        Jurus Dasar adalah jurus yang digunakan pada tahap awal berlatih di suatu perguruan atau aliran sebagai fondasi untuk materi lanjutan. Satu jurus dasar bisa terdiri dari satu gerakan, satu rangkaian pendek, bahkan bisa juga berupa rangkaian panjang. Sifat dari jurus dasar ini terbagi menjadi dua, yaitu:

                        Jurus Inti, yang di dalamnya terdapat prinsip-prinsip atau kaidah pencak silat yang dianut oleh suatu aliran atau perguruan. Sepintas jurus inti tidak bisa diduga bagaimana aplikasinya dalam suatu perkelahian tanpa keterangan dari guru. Biasanya jurus inti jumlahnya tidak terlalu banyak, namun dari jurus yang sedikit itu aplikasinya menjadi tidak terbatas jumlahnya.Sebagai contoh, aliran yang menggunakan jurus inti pada jurus dasarnya adalah Sabandar Jurus Lima, Cikalong, Suliwa, Maenpo Peupeuhan, dan Timbangan.

                        Jurus Kajadian, yaitu jurus dasar yang bisa langsung diaplikasikan dalam bentuk serang bela. Biasanya jurus dasar seperti ini bisa langsung dilakukan oleh dua orang pesilat yang saling berhadapan tanpa mengubah gerakan dari jurus dasar tersebut. Contoh aliran atau perguruan yang menggunakan metode ini adalah Cimande, Jurus Kajadian Maenpo, Panglipur, Pager Kancana, dan Budhi Kancana.

                        Dari Jurus Inti sebenarnya bisa dikembangkan menjadi berbagai Jurus Kajadian setelah jurus inti tersebut diaplikasikan dalam teknik serang bela. Sebagai contoh, Rd. Abad M. Sirod seorang tokoh maenpo Cikalong yang pada awalnya ia menerima Jurus Inti dari gurunya (Rd. Busrin) namun kemudian menciptakan 27 Jurus Kajadian dan 3 Jurus Maksud dengan alasan untuk mempermudah proses belajar mengajar. Menurutnya, dengan mengajarkan Jurus Kajadian murid-muridnya bisa langsung mengerti aplikasi dari setiap jurusnya.

                        Jadi Ibing Penca sebenarnya adalah rangkaian jurus kajadian yang disusun sedemikian rupa sehingga memenuhi unsur estetika tanpa meninggalkan makna serang bela dalam setiap gerakannya. Ibing penca yang baik harus dapat menggambarkan suatu bentuk teknik perkelahian seolah-olah pesilat tersebut sedang berhadapan dengan lawan.

                        5. Struktur Koreografi dan Karawitan pada Ibing Penca di Jawa Barat

                        a. Koreografi Ibing Penca

                        Sikap dan  gerakan dalam pencak silat sebagai beladiri dilakukan untuk melindungi diri dan menyerang, sedangkan dalam ibing penca sikap dan gerak dilakukan untuk kenikmatan penari yang bergerak mengikuti irama karawitan dan untuk kenikmatan yang menonton ibing penca. Mudah dipahami kalau gerakan dan sikap dalam ibing penca, walaupun bersumber pada beladiri namun memiliki perbedaan-perbedaan. Pada umumnya sikap dan gerakan dalam ibing penca lebih terbuka, lebih distilasi dan dilakukan dalam irama yang metrikal.

                        Di dalam Ibing Penca di Jawa Barat terdapat pola koreografis yang umum, yaitu sebagai berikut:

                        1)      Bagian pertama: Tepak Dua atau Paleredan, lebih memperlihatkan unsur keindahan.

                        2)      Bagian kedua: Tepak Tilu atau Golempang, memperlihatkan teknik serang bela yang masih terikat pada ketukan irama.

                        3)      Bagian ketiga: Padungdung, di sini pesilat berimprovisasi secara bebas sesuai dengan imajinasinya ketika itu.

                        Berdasarkan koreografi itu, ibing pencak adalah salah satu jenis kesenian yang kaya segi kreatifitasnya karena masing-masing perguruan memiliki gerakan ibing penca yang berbeda walaupun berpatokan pada irama yang sama. Dapat dipahami, ibing penca merupakan tari yang paling populer dan paling banyak penggemarnya di Jawa Barat.

                        Koreografi bagian pertama biasanya sangat kental dengan jurus-jurus yang berasal dari aliran Cimande, karena sifat geraknya lebih terbuka sehingga cocok dibawakan dengan tempo yang lambat. Contohnya adalah sebagai berikut:

                        • Tepak Dua Salancar
                        • Tepak Dua Sorong Dayung.
                        • Tepak Dua Buang Kelid.
                        • Tepak Dua Kampung Baru
                        • Paleredan Jalak Pengkor
                        • Paleredan Sawitan
                        • Paleredan Pancer Opat

                        Koreografi bagian kedua lebih banyak bersumber pada aliran Cikalong, Sabandar, dan Sera. Contohnya adalah sebagai berikut:

                        • Tepak Tilu Cikalong
                        • Tepak Tilu Jalan Muka
                        • Tepak Tilu Alip Bandul
                        • Tepak Tilu Peunggasan
                        • Tepak Tilu Gerak Seta

                        Koreografi bagian ketiga memperlihatkan jurus kajadian (jurus aplikasi) yang memperlihatkan teknik-teknik serang bela yang dilakukan dengan kecepatan yang sebenarnya dan yang pada awal perkembangannya bersifat improvisasi. Namun saat ini irama padungdung pun diisi dengan gerakan yang telah ditentukan sebelumnya, bukan improvisasi lagi. Contohnya adalah sebagai berikut:

                        • Si Pecut
                        • Pecah Alip
                        • Pecah Gunting
                        • Likuran
                        • Si Pitung

                        Saat ini banyak koreografi yang merupakan variasi atau gabungan dari aliran-aliran Cimande, Cikalong, Sabandar, Sera dan aliran yang lain. Ibing pencak yang banyak diajarkan di perguruan-perguruan pencak silat seperti di Panglipur, Pager Kancana, Kusuma Harapan, Domas, dan yang perguruan lainnya biasanya sudah merupakan olahan dari berbagai macam aliran yang dipelajari di perguruan yang bersangkutan.

                        Ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan dalam memperagakan ibing penca, yaitu:

                        Pertama, unsur kekayaan gerak (wiraga) yaitu kekayaan gerak atau jurus-jurus yang dimiliki oleh seorang pesilat selama belajar di perguruannya, sehingga penampilannya menjadi tidak monoton atau membosankan apabila tampil di atas pentas, terutama dalam pertandingan seni pencak silat. Tetapi apabila dalam acara spontanitas pada suatu hajatan misalnya, unsur kekayaan gerak tidak begitu diperhatikan pesilat. Yang penting pesilat mampu memperagakan gerakannya dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah pencak silat karena tidak terikat oleh sistem penilaian dari juri seperti dalam pelaksanaan pertandingan pencak silat seni.

                        Kedua, unsur irama (wirahma) atau musik, unsur inilah yang membedakan aspek seni dengan aspek yang lain dalam pencak silat. Seorang pengibing penca harus mampu menyerasikan gerak dengan musik pengiringnya. Pengolahan irama yang variatif dan dinamis memiliki nilai lebih bagi seorang pesilat dalam membawakan ibingannya.

                        Ketiga, unsur penjiwaan gerak (wirasa) yaitu salah satu unsur yang penting dimiliki oleh seorang pengibing penca. Penjiwaan gerak yang mantap sangat dipengaruhi oleh pemahaman pesilat terhadap setiap gerakan yang ditampilkannya. Oleh karena itu, pesilat dituntut harus menguasai arti dan makna gerak pencak silat yang sebenarnya, serta mengerti maksud dan tujuan dari jurus-jurus dan teknik-teknik pencak silat yang dipelajarinya.

                        b. Karawitan

                        Walaupun di daerah-daerah tertentu di Jawa Barat terdapat musik pengiring khas ibing penca seperti Patingtung di Banten, dan Terebang di Cirebon namun pada umumnya untuk mengiringi ibing penca dibutuhkan suatu ensembel yang disebut ‘kendang penca’. Ensembel ini sangat mendukung suasana ibing penca yang pada dasarnya merupakan tari perang atau tari perkelahian. Musik kendang penca kadang-kadang bersuasana menantang misalnya pada lagu Kembang Beureum atau Buah Kawung atau bersuasana do’a yaitu pada Kidung.

                        Gendang pencak dimainkan oleh empat orang penabuh (nayaga/wiyaga). Mereka mempunyai tugas masing-masing dalam pelaksanaannya. Penabuh kendang pencak silat yang sudah berpengalaman selain mampu mengiringi ibing pencak silat yang sudah dirancang sebelumnya, ia pun mampu mengiringi gerakan-gerakan yang tidak dirancang sebelumnya.

                        Adapun waditra (instrumen) yang terdapat di dalam kendang penca adalah sebagai berikut:

                        1. Dua buah kendang besar (kendang indung dan kendang anak) dilengkapi dua buah kendang kecil (kulanter). Kendang bertugas mengisi gerak dan mengatur tempo.
                        2. Sebuah terompet sebagai pembawa melodi
                        3. Sebuah gong kecil (bende, kempul) sebagai pengatur irama, penegas tesis lagu.

                        Jenis pukulan kendang yang juga tidak dapat dipisahkan dari jenis irama pada dasarnya adalah sebagai berikut:

                        1. Tepak Dua. Motif-motif pukulan kendang untuk tempo lambat. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Kembang Gadung, Ayun Ambing, Polos, Gedong Panjang, Kendor Kulon, Tunggul Kawung, Bata Rubuh, Kidung, Sorong Dayung.
                        2. Paleredan. Motif-motif pukulan kendang untuk tempo lambat. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Ayun Ambing, Bela pati, Sasalimpetan, Buah Kawung, Karawangan, Gendu, Gaya, Sari.
                        3. Tepak Tilu. Motif-motif pukulan dengan tempo sedang. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Ucing-ucingan, Kembang Beureum, Bardin, Sintren, Papare, Bendrong Petit, Gendu, Kapuk Kapas, Garungan, Joher, Mainang, Kacang Asin, Oyong-oyong Bangkong.
                        4. Golempang. Motif-motif lebih cepat daripada Tepak Tilu. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Kembang Beureum, Kacang Asin.
                        5. Padungdung. Motif pukulan dengan tempo paling cepat. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Kidung, Kolear, Leang-leang, Ceurik Rahwana.

                        6. Kapan Ibing Penca Diajarkan?

                        Penempatan pelajaran ibing penca di setiap perguruan tidak sama. Ada yang ditempatkan di awal, ada pula yang ditempatkan di akhir. Lebih jelasnya proses belajar di perguruan pencak silat yang di dalamnya ada materi ibing penca adalah sebagai berikut:

                        1. Jurus dasar – ibing penca – beladiri (Contoh: Panglipur, Pager Kancana, Budhi Kancana)
                        2. Jurus dasar – beladiri – ibing penca (Contoh: Cimande)
                        3. Jurus dasar – rangkaian gerak – beladiri – ibing penca (Contoh: Maenpo Peupeuhan)
                        4. Ibing penca – beladiri (Contoh: Sekar Pusaka)
                        5. Jurus dasar – Aplikasi jurus dasar – Rangkaian gerak – Ibing Penca – Beladiri (Contoh: Garis Paksi)

                        Penempatan materi ibing penca di awal adalah strategi agar pencak silat lebih disukai oleh kalangan pesilat usia anak-anak dan remaja, karena ibing penca dapat diajarkan secara massal dan kecil kemungkinannya pesilat mengalami cidera. Di samping itu dengan ibing penca dapat digunakan dalam ajang perlombaan seni pencak silat yang diadakan oleh IPSI maupun PPSI. Sistem pengajaran seperti ini biasanya digunakan di lingkungan sekolah. Pada kasus ini, seorang pesilat yang mampu membawakan ibingan dengan baik belum tentu mahir dalam beladiri.

                        Penempatan materi ibing penca di akhir bermaksud untuk penghalusan gerak jurus dan dapat digunakan sebagai alat hiburan setelah mempelajari beladiri. Pada kasus ini, seorang pesilat yang sudah berani tampil membawakan ibing penca sudah dipastikan mampu membela diri. Dahulu seorang pesilat yang melakukan ibing penca harus siap jika suatu waktu ada orang yang masuk ke gelanggang untuk  mencoba keterampilan berkelahi dengannya.

                        Namun ada pula yang mengajarkan ibing penca bersamaan waktunya dengan mengajarkan beladiri. Atau ada pemisahan antara murid yang ingin mendalami ibing penca dan murid yang ingin mendalami beladiri. Sebagai contoh, di Himpunan Pencak Silat Panglipur, setelah murid menguasai 6 dasar pukulan, 9 jurus dasar, dan dua pola langkah maka bisa dilanjutkan dengan mempelajari Ibing Paleredan Pancer Opat, Tepak Tilu Jalan Muka, kemudian ditutup dengan Padungdung Si Pecut. Namun jika ingin mempelajari beladiri, maka dari jurus dasar bisa langsung mempelajari aplikasi dari setiap jurus disertai dengan pengertian kaedah-kaedahnya sehingga benar-benar mengerti dan mampu mengaplikasikannya dalam usik beladiri.

                        Contoh lain, di Paguron Pusaka Siliwangi yang didirikan oleh Rd. Didi Muhtadi, jika ia mengajar ibing penca maka ia memulainya dengan mengajarkan 13 jurus dasar Cikalong, kemudian mengajarkan berbagai pola langkah dan akhirnya mengajarkan ibing penca. Namun jika ingin mengajarkan beladiri, dari jurus dilanjutkan dengan pelajaran kaedah maenpo Cikalong dan dilanjutkan dengan praktik usik-usikan atau tapelan (latihan berpasangan untuk mengolah rasa).

                        7. Manfaat Ibing Penca dalam Beladiri

                        Apakah ibing penca dapat digunakan untuk membeladiri? Apakah setiap pesilat yang sangat bagus membawakan ibing penca sudah pasti dapat melakukan pembelaan diri dengan baik? Jawabnya belum tentu. Seorang pesilat yang hanya belajar ibing penca atau baru belajar ibing penca pasti tidak akan bisa dijadikan sebagai alat pembelaan diri yang efektif.

                        Jangankan ibing penca, pesilat yang mampu memainkan jurus ganda dengan baik belum tentu juga mampu menggunakan teknik beladiri dengan baik. (Penampilan kategori Ganda atau berpasangan adalah latihan atau peragaan berpasangan dari pesilat yang menampilkan serang bela. Di dalam ganda masing-masing pesilat saling memberi kesempatan kepada mitranya untuk menggunakan jurusnya yang sudah diatur sebelumnya).

                        Ibing penca, ganda, usik/beladiri merupakan ilmu pencak silat yang memiliki perbedaan dalam tatacara berlatih dan mengaplikasikannya. Orang yang pandai ibing penca belum tentu bisa jurus ganda atau mahir beladiri. Orang yang mahir jurus ganda belum tentu bisa ibing penca atau usik beladiri yang sebenarnya. Begitu pula orang yang mahir usik beladiri belum tentu bisa ibing penca atau ganda.

                        Namun apabila masing-masing dihubungkan, maka akan terlihat keterkaitan yang saling mendukung satu sama lain. Dengan mempelajari ibing penca, pesilat akan mengerti irama, menghaluskan rasa, merasakan adanya energi dari musik pengiring. Sering terlihat seorang pendekar sepuh yang sudah renta tiba-tiba menjadi jagjag waringkas ketika mendengar kendang penca dan melakukan ibing penca, tetapi kemudian kembali “normal” ketika selesai membawakan ibingannya.

                        Dengan ganda pesilat belajar perbendaharaan teknik pencak silat dalam hal belaan dan serangan. Mengasah untuk saling memberi dan toleransi kepada mitranya, melatih timing yang tepat dalam bergerak. Dengan belajar usik/beladiri, kita dituntut untuk dapat menghadapi serangan apapun dalam situasi apapun. Tidak ada aturan dalam usik, tujuan utamanya adalah mampu mengalahkan lawan. Jadi semua memiliki porsinya masing-masing.

                        Sebenarnya di dalam ibing penca teknis pencak silat sudah cukup lengkap, mulai dari jurus, kuda-kuda, pasang, perpindahan posisi, hingga pola langkah. Tapi memang, di dalam ibing dimasukan elemen kembangan untuk mempermanisnya, yang kadang memang lebih banyak didominasi unsur tarian. Seorang pesilat yang telah menguasai ibing penca dengan baik harus melalui tahapan tertentu dengan metode latihan tertentu pula agar mahir pula dalam membela diri, tidak cukup hanya mempelajari ibing terus menerus.

                        Di Perguruan Pencak Silat Sekar Pusaka yang didirikan oleh Aki Iyat Ruchiyat, ibing penca langsung diberikan kepada murid baru, tanpa melalui tahap belajar jurus dasar. Kemudian setelah murid tersebut telah mampu menghafal dan membawakan ibing dengan benar dan bagus, maka mulailah Aki Iyat mengajarkan aplikasi yang terdapat dalam ibingan-ibingan tersebut. Istilahnya mesek cangkang tembong eusi, layu kembang bijil buah. Arti harfiahnya adalah “mengupas kulit agar terlihat isinya, layu bunga lantas muncul buahnya”. Jadi setelah ibingan itu dibuka kaidah-kaidah silatnya dengan dibarengi dengan latihan-latihan tertentu maka seorang pesilat yang ibingannya bagus dapat pula melakukan pembelaan diri dengan baik.

                        Pesilat yang telah mengetahui aplikasi dari ibing penca yang dibawakannya akan lebih menghayati setiap gerakannya. Penempatan tenaga antara leuleus (lemas/rileks) dan teuas (keras) akan semakin baik, demikian juga penggunaan ekspresi akan lebih gereget karena pesilat tersebut sedang membayangkan seolah-olah sedang menghadapi lawan.

                        8. Perkembangan Karawitan PencaK Silat

                        Pada umumnya di Jawa Barat musik pengiring ibing penca adalah suatu ensembel yang disebut “kendang penca”, terdiri dari dua buah kendang besar dan dua buah kendang kecil (kulanter) bertugas mengisi gerak dan mengatur tempo, sebuah terompet sebagai pembawa melodi, dan sebuah gong kecil sebagai pengatur irama dan penegas tesis lagu. Jenis pukulan kendang yang tidak dapat dipisahkan dari jenis irama pada dasarnya ada empat, yaitu Tepak Dua, Tepak Tilu, Golempang, dan Padungdung.

                        Karawitan pencak silat di Bandung mengalami perkembangan yang cukup dinamis. Jenis irama tidak lagi hanya berpatokan pada irama yang sudah baku, tetapi mulai berkreasi menciptakan irama baru, menambahkan beberapa waditra tambahan, bahkan menggunakan waditra yang sebelumnya tidak lazim digunakan untuk mengiringi ibing penca.

                        Pada tahun 1970-an muncul ibing penca yang lebih dikenal dengan Ibing Maenpo Cianjuran yang menggunakan tembang cianjuran sebagai musik pengiringnya. Meskipun menggunakan nama “cianjuran”, namun Ibing Maenpo Cianjuran diciptakan dan kemudian berkembang di Bandung. Ibing Maenpo Cianjuran adalah hasil karya cipta seorang tokoh Maenpo asal Bandung, yaitu Adung Rais. Pada saat itu ia mencoba memadukan seni beladiri Maenpo Peupeuhan dengan seni tradisional tembang cianjuran atau dikenal dengan nama kacapi suling.

                        Untuk bisa melakukan Ibing Penca ini, seorang praktisi Maenpo harus menguasai teknik Maenpo dengan baik dan memahami musik Cianjuran. Penguasaan teknik maenpo yang baik sangat penting karena Ibing Penca Cianjuran ini bersifat improvisasi sama halnya dengan musik cianjuran yang juga kaya dengan improvisasi.

                        Pemahaman wirama ini menyangkut dengan bagaimana menemukan ketukan dan meletakkan gong dalam musik cianjuran. Hampir sama dengan kendang penca, misalnya dalam Tepak Paleredan atau Tepak Dua, klimaks dari satu rangkaian gerak harus berakhir tepat dengan bunyi gong. Pemahaman wirasa menyangkut unsur rasa. Penari harus tahu kapan bergerak cepat atau lambat, kapan satu hitungan menggunakan banyak jurus atau sebaliknya satu jurus dilakukan dalam tiga atau lebih hitungan, semuanya adalah improvisasi.

                        Yang tidak kalah pentingnya adalah pemahaman syair. Setiap syair dan lagu cianjuran tentunya berbeda pesan, cerita dan makna. Lagu yang berbeda tentunya harus dibawakan dengan penjiwaan yang berbeda pula. Saat menari dengan Kidung atau Rajah misalnya, penari harus membawakannya dengan pembawaan yang khidmat dan tidak beringas. Lagu-lagu yang bersifat mengisahkan perang, disini bisa ditampilkan gerakan2 yang ganas, mimik wajah beringas, marah dsb, sedang untuk sinom satria, mungkin juga harus berusaha menampilkan kesan yang gagah dan agung dari seorang ksatria sunda. Bisa dikatakan, penguasaan akting yang baik akan menjadikan seorang penari Ibing Penca Cianjuran menjadi lebih mantap dalam membawakan tariannya.

                        Menurut Adung Rais, bila sudah memahami dan menghayati secara maksimal maenpo dan cianjuran ini, bisa dikatakan sudah terjadi suatu keseimbangan karena telah terjadi perpaduan yang harmonis antara bentuk kekerasan dan bentuk kehalusan.

                        Sekitar tahun 1995 di Bandung muncul lagi irama pengiring ibing penca yang termasuk unik dan baru. Irama musiknya dikenal dengan irama “Tepak Gonjing” atau “Tepak Tungbreng”. Irama ini tercipta dengan latar belakang kebutuhan dalam kejuaraan seni pencak silat tingkat nasional yang diadakan oleh IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia), di mana salah satu penilaiannya adalah variasi dalam irama pengiring ibing penca. Saat itu Ketua Pengda IPSI Jawa Barat H. Suhana Budjana meminta kepada para guru pencak silat dan para nayaganya untuk membuat kreasi baru dalam iringan musik pencak silat.

                        Permintaan itu direspons dengan berkumpulnya sejumlah tokoh dan pendekar pencak silat dan beberapa seniman Sunda untuk merumuskan pola irama baru. Melalui proses yang tidak terlalu lama maka terciptalah irama Tungbreng atau Gonjing yang memiliki pola tabuhan khas. Kata tungbreng diambil dari bunyi yang dihasilkan oleh alat tabuhannya. Selain mempertahankan ensambel kendang penca yang asli seperti gendang, tarompet dan gong, dalam irama gonjing ditambah beberapa ensambel pelengkap yang terdiri dari kecrek, bonang, dan bedug. Kadang-kadang untuk kebutuhan suasana tertentu dipakai juga kacapi dan suling.

                        Walaupun pada awalnya Tepak Gonjing menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan penggemar pencak silat, namun lambat laun akhirnya dapat diterima. Para pesilat anak-anak dan remaja kebanyakan lebih menyukai irama ini untuk mengiringi ibingannya dengan alasan lebih dinamis.

                        Munculnya Tepak Tungbreng sebagai karya baru dalam blantika ibing penca dianggap sebagai prestasi bagi para tokoh, pendekar, dan seniman yang berkiprah di dunia persilatan Jawa Barat. Hal ini terbukti dengan adanya fenomena penampilan Tepak Tungbreng di setiap pasanggiri atau festival pencak silat di Bandung, bahkan di Jawa Barat. Tepak Tungbreng kini sudah menyebar dari Bandung ke daerah-daerah lain di Jawa Barat.

                        9. Penutup

                        Ibing penca harus dipandang sebagai bagian integral dari suatu ilmu pencak silat di suatu perguruan, sehingga akan banyak manfaat yang bisa diambil dari mempelajari ibing penca. Keberadaan ibing penca di perguruan pencak silat tergantung pada kebijakan perguruan itu sendiri. Jika secara tradisi di suatu perguruan diajarkan ibing penca, maka hal itu patut dilestarikan keberadaanya bahkan harus lebih dikembangkan lagi dengan menciptakan ibingan-ibingan penca yang baru disesuaikan dengan kebutuhan. Bagi perguruan yang tidak memiliki tradisi ibing penca tidak usah memaksakan diri agar ada materi ibing penca, namun jika ingin mencoba sebenarnya bisa saja dengan cara menyusun ibing penca dengan menggunakan patokan irama yang sudah baku atau dengan memodifikasi irama tertentu.

                        Ibing penca jika ditempatkan pada tempat semestinya akan banyak manfaatnya yang bisa diambil. Namun paling tidak, dengan mempelajari ibing penca kita sudah turut melestarikan salah satu seni budaya peninggalan para pendekar pendahulu kita.

                        Graspuzi 16022011

                        dikutip dari:
                        facebook Gending Raspuzi




                        Tags: , , ,


                        Artikel Ibing Penca dan Beladiri Pencak Silat yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


                          - Powered by BING [2014-04-09 02:50]

                          Comments are closed.

                          Ibing Penca dan Beladiri Pencak Silat - Silat Indonesia

                          Ibing Penca dan Beladiri Pencak Silat.

                              [
                          in English ]

                          Feb 23rd, 2011 | By | Category: Artikel Silat [ in English ]

                          IBING PENCA DAN BELADIRI PENCAK SILAT
                          ANTARA KEMBANG DAN BUAH
                          “Mesek cangkang tembong eusi, layu kembang bijil buah

                          Disampaikan pada Seminar Pencak Silat Tradisional dalam Persfektif Budaya dan Sejarah
                          17 Februari 2011 di Universitas Indonesia

                          1. Pendahuluan

                          gending-raspuzi-01Di Jawa Barat, di samping dikenal adanya pencak sebagai bela diri, yang disebut dengan ‘buah’ atau ‘eusi’ (isi), dikenal pula pencak silat ‘kembang’ (bunga) atau ‘ibing penca’ (tari pencak). Begitu eratnya hubungan batin masyarakat Jawa Barat dengan seni pencak silat (kembang), hingga  banyak anggota masyarakat Jawa Barat yang menghubungkan kata pencak tidak dengan bela diri, akan tetapi dengan Ibing Penca.

                          Istilah Ibing Penca memang berasal dari Jawa Barat. Secara harfiah Ibing Penca dapat diterjemahkan menjadi Tari Pencak. Tapi para tokoh pencak silat di Jawa Barat kurang setuju jika ibing penca disebut tari pencak, karena kata “tari” cenderung lebih menitik beratkan pada unsur tarinya, yaitu suatu seni yang menampilkan keindahan gerak meskipun gerakannya diambil dari unsur-unsur pencak silat. Sedangkan “ibing penca” lebih menitikberatkan pada unsur pencak silat, yaitu gerak yang memiliki fungsi serang bela, walaupun tidak dapat disangkal di dalamnya juga mengandung unsur-unsur keindahan.

                          Ada sebagian orang berpendapat bahwa Ibing Penca adalah bagian dari pencak silat dan bisa digunakan sebagai software untuk membela diri jika dilatih dengan rutin, namun ada juga yang berpendapat bahwa Ibing Penca bukanlah pencak silat, melainkan hanya sebatas seni tari dalam bentuk gerakan pencak silat dan tidak bisa digunakan untuk membela diri meskipun dilatih dengan serius dan tekun. Di sisi lain ada juga yang berpendapat bahwa belajar Ibing Penca jika mengerti aplikasi dari setiap gerakan akan bisa dijadikan alat membela diri, sebab Ibing Penca merupakan gabungan rangkaian gerak membela diri hanya saja di iringi musik (jika dipertontonkan), namun dalam praktik latihan sehari-harinya tidak.

                          Dari sinilah timbul persoalan, apakah sebenarnya Ibing Penca berguna untuk membela diri atau hanya sekedar tarian yang tidak ada hubungannya dengan kemahiran beladiri.

                          2. Pencak Silat dan Tari

                          Pencak silat di Indonesia memiliki bermacam bentuk dan ragam yang lahir, hidup dan berkembang di masing-masing aliran dan perguruan pencak silat. Pada mulanya pencak silat diciptakan untuk membela diri, namun dalam perkembangannya, pencak silat dapat juga dijadikan sebagai sumber keindahan bentuk, gerak, irama dan ekspresi yang melukiskan adegan serang bela menggunakan tangan kosong maupun senjata.

                          Pencak silat dan tari merupakan satu ekspresi yang berkaitan dan saling mengisi, karena keduanya menggunakan tubuh manusia sebagai materi pokok, di samping ketajaman pikiran dan perasaan yang selalu berdampingan sewaktu melaksanakan pencak silat atau menari, ditambah dengan ketahanan fisik dan keuletan menggarap teknis pencak silat dan tari. Banyak pakar tari yang merasakan kebutuhan untuk belajar pencak silat yang ternyata besar sekali manfaatnya bagi seorang penari.

                          Persamaan Pencak dan tari adalah keduanya menggunakan tubuh beserta bagian-bagian dari anggota badan manusia sebagai materi utama. Pembinaan fisik dan ekspresi banyak persamaannya, hanya penggunaannya yang berbeda. Pencak silat adalah olah tubuh dari rasa yang dipergunakan untuk membela diri, sedangkan tari adalah olah tubuh untuk mengekspresikan suatu keindahan yang bersifat spiritual dan melahirkan suasana yang semuanya lahir karena tradisi atau dari jiwa para seniman.

                          Pembinaan tubuh dan penguasaaan teknik gerak untuk pencak silat dan tari membutuhkan waktu dan ketekunan berlatih fisik secara kontinyu, karena ketahanan fisik merupakan syarat utama. Ketahanan dari teknik pernafasan, keterampilan gerak, juga keindahan gerak dan keluwesannya ada di dalam pencak silat dan tari. Gerak berat, ringan, tegang, lemah, cepat, pelan, dan berirama merupakan sarana-sarana latihan teknik tubuh yang harus dilaksanakan dengan baik dan teratur bagi seorang pesilat dan penari.

                          Keindahan langkah kaki, gerak tangan kontinyu, posisi yang pasti, ketenangan dan ledakan-ledakan ekspresi gerak di samping kelembutan ada pada pencak silat dan tari. Maka pengaruh timbal balik antara pencak sebagai beladiri dengan tari telah ada pada seni tari di Indonesia.

                          3. Asal Mula Ibing Penca

                          Sejak kapan dan apa yang melatarbelakangi munculnya ibing penca? Hal ini memerlukan penelitian yang mendalam. Ada beberapa sumber yang mengatakan bahwa ibing penca diciptakan sebagai kamuflase dari beladiri yang dilarang pada zaman penjajahan Belanda, di mana dinyatakan bahwa pada saat itu para pendekar yang ingin menyebarkan pencak silat terbentur pada larangan yang dikeluarkan oleh pemerintahan kolonial, sehingga untuk menyiasatinya dibuatlah ibing penca agar pencak silat tetap boleh diajarkan. Ibing penca ditampilkan kepada masyarakat umum sedangkan beladirinya tetap diajarkan secara sembunyi-sembunyi. Untuk kasus-kasus tertentu hal ini mungkin ada benarnya, namun bagi kasus yang lain pendapat ini belum tentu tepat.

                          Pada awalnya aspek pencak silat yang pertama lahir adalah aspek beladiri. Situasi dan kondisi pada suatu masa secara alamiah menyebabkan manusia selalui menyesuaikan diri dengan alam dan lingkungannya,  naluri untuk menjaga eksistensi diri dan kelompoknya menimbulkan upaya agar kelompoknya lebih kuat dari kelompok yang lain. Bersama itu pula timbul kebutuhan untuk menciptakan alat pembelaan diri yang efektif, mulai dari menciptakan senjata dan menciptakan berbagai teknik perkelahian. Pada suatu masa yang mengharuskan orang mampu membela diri secara fisik, menyebabkan tumbuh suburnya bebagai jenis aliran beladiri. Dalam hal ini aliran-aliran pencak silat.

                          Namun perlu diingat bahwa selain memiliki naluri mempertahankan diri, manusia pun memiliki naluri untuk menyukai keindahan. Dari berbagai hal yang ada di sekelilingnya, manusia mampu menciptakan berbagai bentuk keindahan melalui seni. Ketika manusia menemukan alat yang dapat digunakan sebagai senjata, dengan alat itu pula mereka menciptakan karya seni pahatan. Ketika manusia memahami adanya nada dalam bunyi, maka manusia menciptakan musik dan nyanyian. Demikian pula halnya ketika di menyadari bahwa di dalam gerak terdapat keindahan, maka muncullah berbagai jenis tarian. Dari mana inspirasi membuat tarian itu? Salah satunya adalah dari teknik beladiri yang telah dikuasai sebelumnya. Ketika pencak silat tidak banyak lagi digunakan sebagai alat untuk membela diri, maka aspek lain dapat digali, seperti aspek olah raga dan seni. Dari sinilah ibing penca itu muncul. Ia tercipta dari kebutuhan manusia yang gandrung akan keindahan melalui medium gerak.

                          Di Jawa Barat pencak silat banyak mempengaruhi kesenian lain, khususnya tari rakyat. Contoh seni yang dipengaruhi pencak silat: Ketuk Tilu, Jaipongan, Cikeruhan, Sisingaan, Kuda Renggong. Pada awalnya ketika seorang pria sedang kaul Ketuk tilu, maka gerakan yang digunakan adalah gerak improvisasi yang diambil dari jurus-jurus pencak silat

                          Banyak koreografer tari yang memiliki latar belakang pencak silat, di antaranya adalah R. Tjetje Somantri, maestro Tari Keurseus, dan Gugum Gumbira, maestro Jaipongan. Dengan dasar pemikiran bahwa pencak silat merupakan salah satu sumber bagi jenis kesenian lainnya, maka STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Bandung memasukkan mata kuliah pencak silat selama 4 SKS dalam dua semester.

                          Meskipun Ketuk Tilu, Jaipongan atau jenis kesenian lainnya bersumber dari gerakan pencak silat tetapi tidak otomatis disebut sebagai tari pencak silat, karena fungsinya sudah berbeda yakni menjadi alat hiburan semata. Berbeda halnya dengan Ibing Penca, bagi perguruan pencak silat yang di dalamnya terdapat materi Ibing Penca, tentu saja ibing penca dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari ilmu pencak silat.

                          Jika kita melihat berbagai jenis aliran pencak silat ‘buhun’, jarang sekali di dalamnya terdapat pelajaran ibing penca (kecuali Cimande). Hal ini membuktikan bahwa pada awalnya aliran-aliran pencak silat lebih mengutamakan aspek beladiri daripada aspek seni. Atau dengan kata lain ibing penca muncul belakangan setelah ada beladiri pencak silat.

                          Seni Ibing Penca tumbuh subur berkembang di perguruan pencak silat, bukan di aliran asalnya. Sebagai contoh, aliran Cikalong tidak mengenal ibing penca, tetapi Gan Didi Muhtadi, salah seorang tokoh Maenpo Cikalong dari Pasar Baru Cianjur melalui perguruannya Pusaka Siliwangi mengembangkan ibing penca sehingga Gan Didi lebih dikenal sebagai guru ibing penca dari pada guru maenpo. Kemampuannya dalam menciptakan dan mengajarkan ibing penca merupakan hal yang jarang ditemui pada guru-guru maenpo di Cianjur yang hidup pada masa itu.

                          Contoh yang lain, Himpunan Pencak Silat Panglipur yang didirikan Abah Aleh adalah perguruan yang sekarang dikenal dengan kekayaan dan keindahan dalam ibing penca, padahal dari sejarah Panglipur dapat dilihat bahwa guru-guru Abah Aleh adalah pendekar dari berbagai aliran pencak silat yang mumpuni dalam aspek beladiri, bukan dalam aspek seni. Namun Abah Aleh sendiri yang mengolahnya menjadi berbagai bentuk ibing penca.

                          Ibing penca dapat berkembang di perguruan bukan di aliran pencak silat, hal ini terjadi karena biasanya pada suatu aliran pencak silat sudah terdapat aturan baku baik dari segi filosofis maupun teknis yang tidak boleh diubah, ditambah maupun dikurangi oleh para pengikutnya. Berbeda halnya dengan di perguruan pencak silat yang dipimpin oleh pendekar yang biasanya sudah mempelajari berbagai aliran, sehingga memiliki wawasan yang luas dan tidak terlalu kaku dalam mengembangkan pencak silat. Di dalam suatu perguruan biasanya teknik-teknik dari berbagai aliran selain tetap dipertahankan keasliannya namun tidak menutup kemungkinan kemudian dicoba dicampur sehingga menjadi bentuk baru yang menjadi ciri khas perguruan itu. Di sinilah banyak terjadi pengolahan teknik, termasuk pengolahan aspek seni dalam bentuk ibing penca.

                          4. Jurus yang Terdapat dalam Ibing Penca

                          Di dalam ibing penca terdapat jurus-jurus pencak silat. Namun, sebenarnya jenis jurus seperti apa yang digunakan dalam ibing penca? Pertama-tama harus dibedakan terlebih dahulu antara Gerak Dasar, Jurus Dasar, Jurus Inti, dan Jurus Kajadian.

                          Gerak Dasar adalah unsur yang paling kecil dalam suatu gerak. Misalnya ketika seorang pesilat melakukan satu gerak langkah serong sambil melakukan tangkisan sekaligus pukulan, maka di dalamnya terdapat beberapa gerak dasar, yaitu kuda-kuda serong, langkah serong, tangkisan, dan pukulan.

                          Jurus Dasar adalah jurus yang digunakan pada tahap awal berlatih di suatu perguruan atau aliran sebagai fondasi untuk materi lanjutan. Satu jurus dasar bisa terdiri dari satu gerakan, satu rangkaian pendek, bahkan bisa juga berupa rangkaian panjang. Sifat dari jurus dasar ini terbagi menjadi dua, yaitu:

                          Jurus Inti, yang di dalamnya terdapat prinsip-prinsip atau kaidah pencak silat yang dianut oleh suatu aliran atau perguruan. Sepintas jurus inti tidak bisa diduga bagaimana aplikasinya dalam suatu perkelahian tanpa keterangan dari guru. Biasanya jurus inti jumlahnya tidak terlalu banyak, namun dari jurus yang sedikit itu aplikasinya menjadi tidak terbatas jumlahnya.Sebagai contoh, aliran yang menggunakan jurus inti pada jurus dasarnya adalah Sabandar Jurus Lima, Cikalong, Suliwa, Maenpo Peupeuhan, dan Timbangan.

                          Jurus Kajadian, yaitu jurus dasar yang bisa langsung diaplikasikan dalam bentuk serang bela. Biasanya jurus dasar seperti ini bisa langsung dilakukan oleh dua orang pesilat yang saling berhadapan tanpa mengubah gerakan dari jurus dasar tersebut. Contoh aliran atau perguruan yang menggunakan metode ini adalah Cimande, Jurus Kajadian Maenpo, Panglipur, Pager Kancana, dan Budhi Kancana.

                          Dari Jurus Inti sebenarnya bisa dikembangkan menjadi berbagai Jurus Kajadian setelah jurus inti tersebut diaplikasikan dalam teknik serang bela. Sebagai contoh, Rd. Abad M. Sirod seorang tokoh maenpo Cikalong yang pada awalnya ia menerima Jurus Inti dari gurunya (Rd. Busrin) namun kemudian menciptakan 27 Jurus Kajadian dan 3 Jurus Maksud dengan alasan untuk mempermudah proses belajar mengajar. Menurutnya, dengan mengajarkan Jurus Kajadian murid-muridnya bisa langsung mengerti aplikasi dari setiap jurusnya.

                          Jadi Ibing Penca sebenarnya adalah rangkaian jurus kajadian yang disusun sedemikian rupa sehingga memenuhi unsur estetika tanpa meninggalkan makna serang bela dalam setiap gerakannya. Ibing penca yang baik harus dapat menggambarkan suatu bentuk teknik perkelahian seolah-olah pesilat tersebut sedang berhadapan dengan lawan.

                          5. Struktur Koreografi dan Karawitan pada Ibing Penca di Jawa Barat

                          a. Koreografi Ibing Penca

                          Sikap dan  gerakan dalam pencak silat sebagai beladiri dilakukan untuk melindungi diri dan menyerang, sedangkan dalam ibing penca sikap dan gerak dilakukan untuk kenikmatan penari yang bergerak mengikuti irama karawitan dan untuk kenikmatan yang menonton ibing penca. Mudah dipahami kalau gerakan dan sikap dalam ibing penca, walaupun bersumber pada beladiri namun memiliki perbedaan-perbedaan. Pada umumnya sikap dan gerakan dalam ibing penca lebih terbuka, lebih distilasi dan dilakukan dalam irama yang metrikal.

                          Di dalam Ibing Penca di Jawa Barat terdapat pola koreografis yang umum, yaitu sebagai berikut:

                          1)      Bagian pertama: Tepak Dua atau Paleredan, lebih memperlihatkan unsur keindahan.

                          2)      Bagian kedua: Tepak Tilu atau Golempang, memperlihatkan teknik serang bela yang masih terikat pada ketukan irama.

                          3)      Bagian ketiga: Padungdung, di sini pesilat berimprovisasi secara bebas sesuai dengan imajinasinya ketika itu.

                          Berdasarkan koreografi itu, ibing pencak adalah salah satu jenis kesenian yang kaya segi kreatifitasnya karena masing-masing perguruan memiliki gerakan ibing penca yang berbeda walaupun berpatokan pada irama yang sama. Dapat dipahami, ibing penca merupakan tari yang paling populer dan paling banyak penggemarnya di Jawa Barat.

                          Koreografi bagian pertama biasanya sangat kental dengan jurus-jurus yang berasal dari aliran Cimande, karena sifat geraknya lebih terbuka sehingga cocok dibawakan dengan tempo yang lambat. Contohnya adalah sebagai berikut:

                          • Tepak Dua Salancar
                          • Tepak Dua Sorong Dayung.
                          • Tepak Dua Buang Kelid.
                          • Tepak Dua Kampung Baru
                          • Paleredan Jalak Pengkor
                          • Paleredan Sawitan
                          • Paleredan Pancer Opat

                          Koreografi bagian kedua lebih banyak bersumber pada aliran Cikalong, Sabandar, dan Sera. Contohnya adalah sebagai berikut:

                          • Tepak Tilu Cikalong
                          • Tepak Tilu Jalan Muka
                          • Tepak Tilu Alip Bandul
                          • Tepak Tilu Peunggasan
                          • Tepak Tilu Gerak Seta

                          Koreografi bagian ketiga memperlihatkan jurus kajadian (jurus aplikasi) yang memperlihatkan teknik-teknik serang bela yang dilakukan dengan kecepatan yang sebenarnya dan yang pada awal perkembangannya bersifat improvisasi. Namun saat ini irama padungdung pun diisi dengan gerakan yang telah ditentukan sebelumnya, bukan improvisasi lagi. Contohnya adalah sebagai berikut:

                          • Si Pecut
                          • Pecah Alip
                          • Pecah Gunting
                          • Likuran
                          • Si Pitung

                          Saat ini banyak koreografi yang merupakan variasi atau gabungan dari aliran-aliran Cimande, Cikalong, Sabandar, Sera dan aliran yang lain. Ibing pencak yang banyak diajarkan di perguruan-perguruan pencak silat seperti di Panglipur, Pager Kancana, Kusuma Harapan, Domas, dan yang perguruan lainnya biasanya sudah merupakan olahan dari berbagai macam aliran yang dipelajari di perguruan yang bersangkutan.

                          Ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan dalam memperagakan ibing penca, yaitu:

                          Pertama, unsur kekayaan gerak (wiraga) yaitu kekayaan gerak atau jurus-jurus yang dimiliki oleh seorang pesilat selama belajar di perguruannya, sehingga penampilannya menjadi tidak monoton atau membosankan apabila tampil di atas pentas, terutama dalam pertandingan seni pencak silat. Tetapi apabila dalam acara spontanitas pada suatu hajatan misalnya, unsur kekayaan gerak tidak begitu diperhatikan pesilat. Yang penting pesilat mampu memperagakan gerakannya dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah pencak silat karena tidak terikat oleh sistem penilaian dari juri seperti dalam pelaksanaan pertandingan pencak silat seni.

                          Kedua, unsur irama (wirahma) atau musik, unsur inilah yang membedakan aspek seni dengan aspek yang lain dalam pencak silat. Seorang pengibing penca harus mampu menyerasikan gerak dengan musik pengiringnya. Pengolahan irama yang variatif dan dinamis memiliki nilai lebih bagi seorang pesilat dalam membawakan ibingannya.

                          Ketiga, unsur penjiwaan gerak (wirasa) yaitu salah satu unsur yang penting dimiliki oleh seorang pengibing penca. Penjiwaan gerak yang mantap sangat dipengaruhi oleh pemahaman pesilat terhadap setiap gerakan yang ditampilkannya. Oleh karena itu, pesilat dituntut harus menguasai arti dan makna gerak pencak silat yang sebenarnya, serta mengerti maksud dan tujuan dari jurus-jurus dan teknik-teknik pencak silat yang dipelajarinya.

                          b. Karawitan

                          Walaupun di daerah-daerah tertentu di Jawa Barat terdapat musik pengiring khas ibing penca seperti Patingtung di Banten, dan Terebang di Cirebon namun pada umumnya untuk mengiringi ibing penca dibutuhkan suatu ensembel yang disebut ‘kendang penca’. Ensembel ini sangat mendukung suasana ibing penca yang pada dasarnya merupakan tari perang atau tari perkelahian. Musik kendang penca kadang-kadang bersuasana menantang misalnya pada lagu Kembang Beureum atau Buah Kawung atau bersuasana do’a yaitu pada Kidung.

                          Gendang pencak dimainkan oleh empat orang penabuh (nayaga/wiyaga). Mereka mempunyai tugas masing-masing dalam pelaksanaannya. Penabuh kendang pencak silat yang sudah berpengalaman selain mampu mengiringi ibing pencak silat yang sudah dirancang sebelumnya, ia pun mampu mengiringi gerakan-gerakan yang tidak dirancang sebelumnya.

                          Adapun waditra (instrumen) yang terdapat di dalam kendang penca adalah sebagai berikut:

                          1. Dua buah kendang besar (kendang indung dan kendang anak) dilengkapi dua buah kendang kecil (kulanter). Kendang bertugas mengisi gerak dan mengatur tempo.
                          2. Sebuah terompet sebagai pembawa melodi
                          3. Sebuah gong kecil (bende, kempul) sebagai pengatur irama, penegas tesis lagu.

                          Jenis pukulan kendang yang juga tidak dapat dipisahkan dari jenis irama pada dasarnya adalah sebagai berikut:

                          1. Tepak Dua. Motif-motif pukulan kendang untuk tempo lambat. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Kembang Gadung, Ayun Ambing, Polos, Gedong Panjang, Kendor Kulon, Tunggul Kawung, Bata Rubuh, Kidung, Sorong Dayung.
                          2. Paleredan. Motif-motif pukulan kendang untuk tempo lambat. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Ayun Ambing, Bela pati, Sasalimpetan, Buah Kawung, Karawangan, Gendu, Gaya, Sari.
                          3. Tepak Tilu. Motif-motif pukulan dengan tempo sedang. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Ucing-ucingan, Kembang Beureum, Bardin, Sintren, Papare, Bendrong Petit, Gendu, Kapuk Kapas, Garungan, Joher, Mainang, Kacang Asin, Oyong-oyong Bangkong.
                          4. Golempang. Motif-motif lebih cepat daripada Tepak Tilu. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Kembang Beureum, Kacang Asin.
                          5. Padungdung. Motif pukulan dengan tempo paling cepat. Lagu yang biasanya dibawakan adalah: Kidung, Kolear, Leang-leang, Ceurik Rahwana.

                          6. Kapan Ibing Penca Diajarkan?

                          Penempatan pelajaran ibing penca di setiap perguruan tidak sama. Ada yang ditempatkan di awal, ada pula yang ditempatkan di akhir. Lebih jelasnya proses belajar di perguruan pencak silat yang di dalamnya ada materi ibing penca adalah sebagai berikut:

                          1. Jurus dasar – ibing penca – beladiri (Contoh: Panglipur, Pager Kancana, Budhi Kancana)
                          2. Jurus dasar – beladiri – ibing penca (Contoh: Cimande)
                          3. Jurus dasar – rangkaian gerak – beladiri – ibing penca (Contoh: Maenpo Peupeuhan)
                          4. Ibing penca – beladiri (Contoh: Sekar Pusaka)
                          5. Jurus dasar – Aplikasi jurus dasar – Rangkaian gerak – Ibing Penca – Beladiri (Contoh: Garis Paksi)

                          Penempatan materi ibing penca di awal adalah strategi agar pencak silat lebih disukai oleh kalangan pesilat usia anak-anak dan remaja, karena ibing penca dapat diajarkan secara massal dan kecil kemungkinannya pesilat mengalami cidera. Di samping itu dengan ibing penca dapat digunakan dalam ajang perlombaan seni pencak silat yang diadakan oleh IPSI maupun PPSI. Sistem pengajaran seperti ini biasanya digunakan di lingkungan sekolah. Pada kasus ini, seorang pesilat yang mampu membawakan ibingan dengan baik belum tentu mahir dalam beladiri.

                          Penempatan materi ibing penca di akhir bermaksud untuk penghalusan gerak jurus dan dapat digunakan sebagai alat hiburan setelah mempelajari beladiri. Pada kasus ini, seorang pesilat yang sudah berani tampil membawakan ibing penca sudah dipastikan mampu membela diri. Dahulu seorang pesilat yang melakukan ibing penca harus siap jika suatu waktu ada orang yang masuk ke gelanggang untuk  mencoba keterampilan berkelahi dengannya.

                          Namun ada pula yang mengajarkan ibing penca bersamaan waktunya dengan mengajarkan beladiri. Atau ada pemisahan antara murid yang ingin mendalami ibing penca dan murid yang ingin mendalami beladiri. Sebagai contoh, di Himpunan Pencak Silat Panglipur, setelah murid menguasai 6 dasar pukulan, 9 jurus dasar, dan dua pola langkah maka bisa dilanjutkan dengan mempelajari Ibing Paleredan Pancer Opat, Tepak Tilu Jalan Muka, kemudian ditutup dengan Padungdung Si Pecut. Namun jika ingin mempelajari beladiri, maka dari jurus dasar bisa langsung mempelajari aplikasi dari setiap jurus disertai dengan pengertian kaedah-kaedahnya sehingga benar-benar mengerti dan mampu mengaplikasikannya dalam usik beladiri.

                          Contoh lain, di Paguron Pusaka Siliwangi yang didirikan oleh Rd. Didi Muhtadi, jika ia mengajar ibing penca maka ia memulainya dengan mengajarkan 13 jurus dasar Cikalong, kemudian mengajarkan berbagai pola langkah dan akhirnya mengajarkan ibing penca. Namun jika ingin mengajarkan beladiri, dari jurus dilanjutkan dengan pelajaran kaedah maenpo Cikalong dan dilanjutkan dengan praktik usik-usikan atau tapelan (latihan berpasangan untuk mengolah rasa).

                          7. Manfaat Ibing Penca dalam Beladiri

                          Apakah ibing penca dapat digunakan untuk membeladiri? Apakah setiap pesilat yang sangat bagus membawakan ibing penca sudah pasti dapat melakukan pembelaan diri dengan baik? Jawabnya belum tentu. Seorang pesilat yang hanya belajar ibing penca atau baru belajar ibing penca pasti tidak akan bisa dijadikan sebagai alat pembelaan diri yang efektif.

                          Jangankan ibing penca, pesilat yang mampu memainkan jurus ganda dengan baik belum tentu juga mampu menggunakan teknik beladiri dengan baik. (Penampilan kategori Ganda atau berpasangan adalah latihan atau peragaan berpasangan dari pesilat yang menampilkan serang bela. Di dalam ganda masing-masing pesilat saling memberi kesempatan kepada mitranya untuk menggunakan jurusnya yang sudah diatur sebelumnya).

                          Ibing penca, ganda, usik/beladiri merupakan ilmu pencak silat yang memiliki perbedaan dalam tatacara berlatih dan mengaplikasikannya. Orang yang pandai ibing penca belum tentu bisa jurus ganda atau mahir beladiri. Orang yang mahir jurus ganda belum tentu bisa ibing penca atau usik beladiri yang sebenarnya. Begitu pula orang yang mahir usik beladiri belum tentu bisa ibing penca atau ganda.

                          Namun apabila masing-masing dihubungkan, maka akan terlihat keterkaitan yang saling mendukung satu sama lain. Dengan mempelajari ibing penca, pesilat akan mengerti irama, menghaluskan rasa, merasakan adanya energi dari musik pengiring. Sering terlihat seorang pendekar sepuh yang sudah renta tiba-tiba menjadi jagjag waringkas ketika mendengar kendang penca dan melakukan ibing penca, tetapi kemudian kembali “normal” ketika selesai membawakan ibingannya.

                          Dengan ganda pesilat belajar perbendaharaan teknik pencak silat dalam hal belaan dan serangan. Mengasah untuk saling memberi dan toleransi kepada mitranya, melatih timing yang tepat dalam bergerak. Dengan belajar usik/beladiri, kita dituntut untuk dapat menghadapi serangan apapun dalam situasi apapun. Tidak ada aturan dalam usik, tujuan utamanya adalah mampu mengalahkan lawan. Jadi semua memiliki porsinya masing-masing.

                          Sebenarnya di dalam ibing penca teknis pencak silat sudah cukup lengkap, mulai dari jurus, kuda-kuda, pasang, perpindahan posisi, hingga pola langkah. Tapi memang, di dalam ibing dimasukan elemen kembangan untuk mempermanisnya, yang kadang memang lebih banyak didominasi unsur tarian. Seorang pesilat yang telah menguasai ibing penca dengan baik harus melalui tahapan tertentu dengan metode latihan tertentu pula agar mahir pula dalam membela diri, tidak cukup hanya mempelajari ibing terus menerus.

                          Di Perguruan Pencak Silat Sekar Pusaka yang didirikan oleh Aki Iyat Ruchiyat, ibing penca langsung diberikan kepada murid baru, tanpa melalui tahap belajar jurus dasar. Kemudian setelah murid tersebut telah mampu menghafal dan membawakan ibing dengan benar dan bagus, maka mulailah Aki Iyat mengajarkan aplikasi yang terdapat dalam ibingan-ibingan tersebut. Istilahnya mesek cangkang tembong eusi, layu kembang bijil buah. Arti harfiahnya adalah “mengupas kulit agar terlihat isinya, layu bunga lantas muncul buahnya”. Jadi setelah ibingan itu dibuka kaidah-kaidah silatnya dengan dibarengi dengan latihan-latihan tertentu maka seorang pesilat yang ibingannya bagus dapat pula melakukan pembelaan diri dengan baik.

                          Pesilat yang telah mengetahui aplikasi dari ibing penca yang dibawakannya akan lebih menghayati setiap gerakannya. Penempatan tenaga antara leuleus (lemas/rileks) dan teuas (keras) akan semakin baik, demikian juga penggunaan ekspresi akan lebih gereget karena pesilat tersebut sedang membayangkan seolah-olah sedang menghadapi lawan.

                          8. Perkembangan Karawitan PencaK Silat

                          Pada umumnya di Jawa Barat musik pengiring ibing penca adalah suatu ensembel yang disebut “kendang penca”, terdiri dari dua buah kendang besar dan dua buah kendang kecil (kulanter) bertugas mengisi gerak dan mengatur tempo, sebuah terompet sebagai pembawa melodi, dan sebuah gong kecil sebagai pengatur irama dan penegas tesis lagu. Jenis pukulan kendang yang tidak dapat dipisahkan dari jenis irama pada dasarnya ada empat, yaitu Tepak Dua, Tepak Tilu, Golempang, dan Padungdung.

                          Karawitan pencak silat di Bandung mengalami perkembangan yang cukup dinamis. Jenis irama tidak lagi hanya berpatokan pada irama yang sudah baku, tetapi mulai berkreasi menciptakan irama baru, menambahkan beberapa waditra tambahan, bahkan menggunakan waditra yang sebelumnya tidak lazim digunakan untuk mengiringi ibing penca.

                          Pada tahun 1970-an muncul ibing penca yang lebih dikenal dengan Ibing Maenpo Cianjuran yang menggunakan tembang cianjuran sebagai musik pengiringnya. Meskipun menggunakan nama “cianjuran”, namun Ibing Maenpo Cianjuran diciptakan dan kemudian berkembang di Bandung. Ibing Maenpo Cianjuran adalah hasil karya cipta seorang tokoh Maenpo asal Bandung, yaitu Adung Rais. Pada saat itu ia mencoba memadukan seni beladiri Maenpo Peupeuhan dengan seni tradisional tembang cianjuran atau dikenal dengan nama kacapi suling.

                          Untuk bisa melakukan Ibing Penca ini, seorang praktisi Maenpo harus menguasai teknik Maenpo dengan baik dan memahami musik Cianjuran. Penguasaan teknik maenpo yang baik sangat penting karena Ibing Penca Cianjuran ini bersifat improvisasi sama halnya dengan musik cianjuran yang juga kaya dengan improvisasi.

                          Pemahaman wirama ini menyangkut dengan bagaimana menemukan ketukan dan meletakkan gong dalam musik cianjuran. Hampir sama dengan kendang penca, misalnya dalam Tepak Paleredan atau Tepak Dua, klimaks dari satu rangkaian gerak harus berakhir tepat dengan bunyi gong. Pemahaman wirasa menyangkut unsur rasa. Penari harus tahu kapan bergerak cepat atau lambat, kapan satu hitungan menggunakan banyak jurus atau sebaliknya satu jurus dilakukan dalam tiga atau lebih hitungan, semuanya adalah improvisasi.

                          Yang tidak kalah pentingnya adalah pemahaman syair. Setiap syair dan lagu cianjuran tentunya berbeda pesan, cerita dan makna. Lagu yang berbeda tentunya harus dibawakan dengan penjiwaan yang berbeda pula. Saat menari dengan Kidung atau Rajah misalnya, penari harus membawakannya dengan pembawaan yang khidmat dan tidak beringas. Lagu-lagu yang bersifat mengisahkan perang, disini bisa ditampilkan gerakan2 yang ganas, mimik wajah beringas, marah dsb, sedang untuk sinom satria, mungkin juga harus berusaha menampilkan kesan yang gagah dan agung dari seorang ksatria sunda. Bisa dikatakan, penguasaan akting yang baik akan menjadikan seorang penari Ibing Penca Cianjuran menjadi lebih mantap dalam membawakan tariannya.

                          Menurut Adung Rais, bila sudah memahami dan menghayati secara maksimal maenpo dan cianjuran ini, bisa dikatakan sudah terjadi suatu keseimbangan karena telah terjadi perpaduan yang harmonis antara bentuk kekerasan dan bentuk kehalusan.

                          Sekitar tahun 1995 di Bandung muncul lagi irama pengiring ibing penca yang termasuk unik dan baru. Irama musiknya dikenal dengan irama “Tepak Gonjing” atau “Tepak Tungbreng”. Irama ini tercipta dengan latar belakang kebutuhan dalam kejuaraan seni pencak silat tingkat nasional yang diadakan oleh IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia), di mana salah satu penilaiannya adalah variasi dalam irama pengiring ibing penca. Saat itu Ketua Pengda IPSI Jawa Barat H. Suhana Budjana meminta kepada para guru pencak silat dan para nayaganya untuk membuat kreasi baru dalam iringan musik pencak silat.

                          Permintaan itu direspons dengan berkumpulnya sejumlah tokoh dan pendekar pencak silat dan beberapa seniman Sunda untuk merumuskan pola irama baru. Melalui proses yang tidak terlalu lama maka terciptalah irama Tungbreng atau Gonjing yang memiliki pola tabuhan khas. Kata tungbreng diambil dari bunyi yang dihasilkan oleh alat tabuhannya. Selain mempertahankan ensambel kendang penca yang asli seperti gendang, tarompet dan gong, dalam irama gonjing ditambah beberapa ensambel pelengkap yang terdiri dari kecrek, bonang, dan bedug. Kadang-kadang untuk kebutuhan suasana tertentu dipakai juga kacapi dan suling.

                          Walaupun pada awalnya Tepak Gonjing menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan penggemar pencak silat, namun lambat laun akhirnya dapat diterima. Para pesilat anak-anak dan remaja kebanyakan lebih menyukai irama ini untuk mengiringi ibingannya dengan alasan lebih dinamis.

                          Munculnya Tepak Tungbreng sebagai karya baru dalam blantika ibing penca dianggap sebagai prestasi bagi para tokoh, pendekar, dan seniman yang berkiprah di dunia persilatan Jawa Barat. Hal ini terbukti dengan adanya fenomena penampilan Tepak Tungbreng di setiap pasanggiri atau festival pencak silat di Bandung, bahkan di Jawa Barat. Tepak Tungbreng kini sudah menyebar dari Bandung ke daerah-daerah lain di Jawa Barat.

                          9. Penutup

                          Ibing penca harus dipandang sebagai bagian integral dari suatu ilmu pencak silat di suatu perguruan, sehingga akan banyak manfaat yang bisa diambil dari mempelajari ibing penca. Keberadaan ibing penca di perguruan pencak silat tergantung pada kebijakan perguruan itu sendiri. Jika secara tradisi di suatu perguruan diajarkan ibing penca, maka hal itu patut dilestarikan keberadaanya bahkan harus lebih dikembangkan lagi dengan menciptakan ibingan-ibingan penca yang baru disesuaikan dengan kebutuhan. Bagi perguruan yang tidak memiliki tradisi ibing penca tidak usah memaksakan diri agar ada materi ibing penca, namun jika ingin mencoba sebenarnya bisa saja dengan cara menyusun ibing penca dengan menggunakan patokan irama yang sudah baku atau dengan memodifikasi irama tertentu.

                          Ibing penca jika ditempatkan pada tempat semestinya akan banyak manfaatnya yang bisa diambil. Namun paling tidak, dengan mempelajari ibing penca kita sudah turut melestarikan salah satu seni budaya peninggalan para pendekar pendahulu kita.

                          Graspuzi 16022011

                          dikutip dari:
                          facebook Gending Raspuzi




                          Tags: , , ,


                          Artikel Ibing Penca dan Beladiri Pencak Silat yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


                            - Powered by BING [2014-04-14 01:02]

                            Comments are closed.