Cingkrig Gerak Cipta – Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong.

    [
in English ]

May 2nd, 2011 | By | Category: Aliran Silat, Artikel Silat [ in English ]

CINGKRIG GERAK CIPTA
MAENPUKULAN KHAS BETAWI RAWA BELONG

20110502-cingkrig-gerak-cipta-logoMaenpukulan (Silat) Cingkrig Gerak Cipta tidak akan terlepas dari silat Cingkrig pada umumnya serta kampung Rawa Belong sebagai tempat kelahiran dan perkembangannya, demikian juga sebaliknya, keduanya sangat erat dan identik tidak bisa di pisahkan satu sama lainnya, karena tidak dapat dipungkiri bahwa di Rawa Belonglah maenpukulan Cingkrig dilahirkan dan dikembangkan

Kata Cingkrig berasal dari ungkapan Bahasa Betawi yakni Jingkrak-jingkrik atau Cingkrak-cingkrik yang dapat diartikan gesit dan lincah. Oleh karena itu disetiap gerakan Cingkrig dibutuhkan kegesitan dan kelincahan, hal ini mengacu pada gerakan natural dari gerakan kera yang sangat gesit dan lincah, hingga dikembangkan menjadi sebuah jurus Silat (maenpukulan) yang lincah dan atraktif dalam setiap serangan yang sekaligus merupakan pertahanan dan pertahanan sekaligus juga serangan.
Kata Cingkrig disini menggunakan hurup “G” pada hurup terakhirnya, bukan Cingkrik yang menggunakan hurup “K” pada hurup terakhirnya, hal ini mengacu pada kebiasaan logat Betawi dimana akhiran hurup “k” bisa berubah jadi “g” seperti kata beduk menjadi bedug, gerobak menjadi gerobag, gubuk menjadi gubug dan lain sebagainya

GEOGRAFIS

Rawa Belong adalah sebuah kampung yang terletak di wilayah barat Jakarta dan sekarang telah berkembang menjadi sebuah kelurahan, yakni Kelurahan Sukabumi Utara. Terletak di wilayah Kota Madya Jakarta Barat dengan batas-batas wilayah; sebelah Utara berbatasan dengan kelurahan Kebon Jeruk, sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Sukabumi Selatan (Pos pengumben), sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Pal Merah Utara dan Gerogol Utara, sebelah Barat berbatasan dengan kelurahan Kelapa Dua.

SOSIO KULTURAL

Kehidupan masyarakat Rawa Belong rata-rata pada umumnya adalah para pedagang, petani bunga atau tanaman hias, Alim ulama, sopir dan lain sebagainya. Bahasa kesehariannya adalah bahasa daerah Betawi tengah dengan ciri pengucapan vokal “e” untuk kata yang berakhiran vokal “a”, secara umum karakter dan adat-istiadatnya sama dengan masyarakat betawi daerah lainnya, dimana unsur Agama Islam sangat kental mewarnai kehidupan sehari-hari, dan secara geneologis serta akar budaya masyarakat Rawa Belong sangat kental dengan perpaduan budaya Melayu, China dan Arab.

TOKOH SEJARAH DAN ASAL-USUL

Bila berbiacara Maen pukulan (Silat) Cingkrig, tidak bisa dipisahlan dengan tokoh yang membawa dan mengembangkan maen pukulan itu sendiri yaitu :  Ki Ma’ing
Alkisah dimasa lalu, banyak orang Rawa Belong yang menimba dan menuntut ilmu ke daerah Kulon (tidak dapat dipastikan tempatnya) karena berdasarkan informasi dari para orang tua, bahwa daerah Meruya dan Tanggerang sudah dianggap Kulon oleh orang-orang Rawa Belong pada waktu itu. Mereka menimba ilmu dengan belajar Ilmu Agama dan juga Ilmu beladiri, baik itu ilmu olah bathin maupun ilmu olah kanuragan.

Dari sekian banyak orang Rawa Belong yang menimba ilmu di Kulon, salah satunya adalah Ki Ma’ing, namun belum tuntas belajar, Ki Ma’ing memutuskan untuk kembali ke Rawa Belong. Pada suatu ketika Ki Ma’ing yang sedang berjalan, tongkatnya di rebut oleh seekor Kera milik tetangganya yang ber nama Nyi Saereh, spontan Ki Ma’ing menarik tongkatnya, dan selanjutnya terjadilah perebutan tongkat antara Ki Ma’ing dan Si Kera milik Nyi Saereh, Si Kera tidak mau mengalah begitu saja, dengan sigap dan lincahnya berusaha menarik tongkat Ki Ma’ing dengan di sertai beberapa gerakan serangan dan pertahanan yang menyerupai jurus silat.
Ki Ma’ing sangat terkesan dengan gerakan Kera tersebut, hampir setiiap hari Ki Ma’ing mendatangi Kera tersebut untuk mempelajari dan menganalisanya, setiap gerakan pertahanan si Kera diiringi dengan serangan yang lincah, dan begitu pula sebaliknya setiap gerakan serangan merupakan juga pertahanan dengan kombinasi antara kaki dan tangan yang begitu gesit dan lincah. Dari pengamatan gerakan natural Kera tersebut serta ketekunannya berlatih, oleh Ki Ma’ing dikembangkan menjadi gerakan jurus silat yang kemudian hari dikenal dengan sebutan CINGKRIG.
Ki Ma’ing menyebarluaskan dan menularkan jurus-jurusnya itu kepada murid-nuridnya yang pada masa itu mulai di kenal dengan sebutan Maenpukulan Cingkrig, karena sebelumnya orang Rawa belong hanya mengenal Cingkrig dengan sebutan Maenpukul. Ki Ma’ing menurunkan Maenpukulan ini kepada murid-muridnya  diantranya yang di kenal:  Ki Saari,  Ki Ali,  Ki Ajid.

Ki Saari

Ki Saari juga turut mengembangkan Maenpukulan Cingkrig dan mengajarkan kepada murid-muridnya, salah satu di antaranya adalah Kong Wahab.
Kong Wahab juga mengembangkan maenpukulan ini serta mengajarkan kepada murid-muridnya, di antaranya; anaknya sendiri yaitu Babe NUR.

Ki Ali

Ki Ali turut mengembangkan maenpukulan Cingkrig serta mengajarkan kepada murid-muridnya yang kebanyakan dari luar Rawa Belong diantaranya;

“    Ki Sinan yang mengembangkan di wilayah Kebon Jeruk dan sekitarnya dan mempunyai murid diantaranya; Babe Melik,  Babe Entong,  Babe Abu Hasyim.
“    Ki Goning yang mengembangkan di wilayah Kemanggisan dan sekitarnya dan mempunyai murid diantaranya; Babe Hamdan,  Babe Usup Utay dan sekarang di kembangkan oleh Bapak Tubagus Bambang.
“    Ki Legot yang mengmbangkan di wilayah Muara Angke, Pesing dan sekitarnya.
“    Ki Sakam yang mengembangkan di wilayah Depok dan sekitarnya dan sekarang di kembangkan oleh Babe Popon

Ki Ajid

Ki Ajid turut mengembangkan maenpukulan cingkrig di daerah Rawabelong dan mengajarkan kepada murid-muridnya diantaranya;

“    Kong Uming yang mengembangkan dan mengajarkan kepada murid-muridnya diantaranya; Babe Nunung,  Babe Hasan Kumis,  Babe Akib. Dan yang masih mengembangkan serta mengajarkan maenpukulan Cingkrig dari Kong Uming saat ini diantaranya; Babe Warno,  Babe Manaf,  dan masih ada yang lainnya yang belum di ketahui oleh penulis.
“    Kong Hayat yang mengembaqngkan dan mengajarkan kepada murid-muridnya di antaranya; Kong Majid,  Kong Acik (Munasik), dan yang masih mengembangkan dan mengajarkan maenpukulan cingkrig dari Kong Hayat  saat ini di antaranya; Bang Satria Jaya

CINGKRIG GERAK CIPTA

Membicarakan tentang Cingkrig Gerak Cipta tidak terlepas dari tokoh yang memberi nama Gerak Cipta  dibelakang kata Cingkrig yaitu Kong Acik (Munasik bin Hamim).
Kong Acik pertama kali belajar cingkrig kepada Kong Hayat karena kemauan dan tekadnya yang keras untuk mengetahui cingkrig lebih dalam, kong Acik memperdalam pelajarannya kepada Ki Ajid, Ki Saari dan juga Ki Ali.
Belum puas dengan hasil yang di dapatkannya, Kong Acik sering bersilaturahmi ke berbagai perguruan aliran lain untuk menambah pengetahuan dan pengalaman.
Perguruan yang di kunjungi bukan Cuma yang di Jakarta saja, tetapi sampai ke Tanggerang, Depok, Bekasi bahkan sampai Cianjur dan Garut, serta bukan hanya silat asli indonesia saja tetapi juga yang dari luar seperti Karate, taekwondo dan Kuntaw.
Dan akhirnya Kong Acik berhasil memadukan jurus cingkrig dengan gerak dan tekhnik yang di dapat dari aliran lain tanpa merubah atau menghilangkan jurus dasar cingkrig itu sendiri.
Maka oleh karena itulah Kong Acik menambahkan nama Gerak Cipta di belakang nama Cingkrig sebagai identiras/ciri dari aliran ini.

Kong Acik mengembangkan dan mengajarkan Cingkrig Gerak Cipta di wilayah Rawa Belong dan luar Rawa Belong seperti didaerah Rawamangun, Mampang, Bekasi  Tanggerang dan Bogor.
Saat ini salah satu murid Kong Acik yang masih mengajarkan Cingkrig Gerak Cipta yang juga masih keponakan beliau sendiri yaitu Bang Amri bin H. Abbas

JURUS – JURUS CINGKRIG GERAK CIPTA

Konon menurut beberapa sumber, di awal perkembangannya jurus cingkrig hanya berjumlah lima jurus dengan urutan:

“    1. Langkah Satu
“    2. Langkah Dua
“    3. Langkah Tiga
“    4. Langkah Empat
“    5. Langkah Lima

Pada perkembangan selanjutnya menjadi delapan jurus dan kemudian dikembangkan lagi setelah memasukan beberapa gerak tambahan menjadi dua belas jurus, adapun nama-nama jurus dan urutannya berbeda antara aliran Cingkrig yang satu dengan aliran cingkrig lainnya yang berkembang saat ini.

Ketidak seragaman dan perbedaan baik dalam jurus dan sambut pada cingkrig, dalam perkembangannya bukan masalah yang mendasar bagi yang mendalami Cingkrig itu sendiri, karena flexibilitasnya yang berkembang tergantung kepada siapa Kita belajar/berguru.
Namun yang paling penting adalah JANGANLAH KITA MELUPAKAN SEJARAH ASAL-USUL CINGKRIG,  yang di bawa dan di kembangkan oleh orang Rawa Belong yakni Ki Ma’ing.

Jurus-jurus yang di ajarkan dalam Cingkrig Gerak Cipta yaitu;

1.    Langkah Beset
2.    Cingkrig
3.    Buka Satu
4.    Satu Kurung
5.    Saup
6.    Langkah Tiga
7.    Langkah Empat
8.    Langkah Lima
9.    Lok Be
10.    Singa
11.    Macan
12.    Longok

Di tambah Pancer yang diturunkan setelah menguasai jurus dengan sempurna tapi bukan merupakan jurus ke tigabelas, tetapi hanya sebagai bekal tambahan.

Didalam Cingkrig Gerak Cipta diajarkan pula Gerak Dasar yang diturunkan sebelum jurus, tujuan dari Gerak Dasar adalah untuk melatih kuda-kuda,  kelincahan tangan dan kaki serta kelenturan tubuh/badan, Gerak Dasar juga difungsikan sebagai pemanasan jurus sebelum menjalankan atau melancarkan jurus Cingkrig.

Gerak Dasar didalam Cingkrig Gerak Cipta berjumlah tujuhbelas yaitu;

1.    Gerak Beset Tarik
2.    Gerak Beset Gedor
3.    Gerak Pasang Pukul
4.    Gerak Cingkrig
5.    Gerak Sangkol
6.    Gerak Rambet
7.    Gerak bacok Rimpes
8.    Gerak Saup
9.    Gerak kodek
10.    Gerak Seser
11.    Gerak Kosrek/Gobrek
12.    Gerak Tiktuk
13.    Gerak Bendrong
14.    Gerak Lokbe
15.    Gerak Sikut Atas
16.    Gerak Cakar Macan
17.    Gerak Longok

POLA LANGKAH DAN CIRI KHAS

Setiap langkah dalam Cingkrig Gerak Cipta mengikuti pola empat penjuru di setiap langkah, dijalankan dengan kombinasi gerak tangan dan kaki secara simultan dan hampir bersamaan. Ciri khas adalah kuda-kuda yang rendah, gerak kaki dan tangan yang cepat serta luwes dan tidak Kaku dalam terminologi menggunakan Rasa, serta tenaga pukulan di  ujung, sabetan kaki hampir bersamaan dengan gerakan tangan.

APLIKASI / SAMBUT

Dalam Cingkrig Gerak Cipta, Aflikasi/sambut di ajarkan setelah si murid menguasai jurus minimal delapan jurus, aflikasi tidak terpola dan tidak baku, dalam arti aflikasinya tergantung situasi, karena dalam jurus yang dimainkan sudah di latih pola langkah menyerang, menghindar, memukul, menangkis, menjatuhkan dan mematahkan/kuncian.
Beberapa istilah dalam Aplikasi sambut Cingkrig Gerak Cipta yaitu;

“    Sambut Gulung
Bertujuannya melatih gerak tangan dan kaki, kuda-kuda, kelenturan tubuh dalam menyerang dan menghidari serangan.
“    Sambut Rimpes
Bertujuan melatih refleks tangan yang dapat dilatih sambil duduk.
“    Sambut Pintas
Tujuan berlatih sambut pintas yakni agar dapat melumpuhkan lawan dengan cepat/sekali gebrak

SISTIM BELAJAR

Pembelajaran dalam Cingkrig Gerak Cipta adalah berlatih dan melancarkan Gerak Dasar dari satu s/d tujuhbelas, yang kemudian dilanjutkan dengan menjalankan jurus-jurus cingkrig, bilamana sang murid sudah menguasai sampai jurus delapan maka dilanjutkan dengan melatih Sambut yang di barengi dengan melatih jurus berikutnya hingga jurus dua belas, setelah tuntas dan halus jurus satu hingga dua belas di lanjutkan dengan jurus kombinasi atau BOMBANG kemudian di tambah PANCER.

FILOSOFI

Di awal perkembangannya, Cingkrig di ajarkan bersamaan/berdampingan dengan belajar ngaji (ilmu Agama Islam), dan oleh karenanya di gunakan sebagai media dakwah. Bagi murid yang ingin belajar cingkrig harus belajar ngaji, jadi pada masa itu bagi yang non Muslim harus masuk Islam terlebih dahulu baru kemudian diajarkan cingkrig.
Maka dari itu filosopi yang terkandung dalam cingkrig sangat-sangat Islami, seperti yang akan dijelaskan sedikit mengenai filosopi yang terkandung dalam cingkrig Gerak Cipta diantaranya;

“    Kata Gerak Cipta
Gerak Cipta melambangkan hubungan makluk dengan sang pencipta (Allah SWT.), karena setiap gerak atau langkah kita tidak bisa dipisahkan dengan sang Pencipta, maka wajib menjalankan apa yang di perintah dan menjauhi apa yang menjadi larangannya.
“    Lima Langkah dalam Cingkrig
Lima Langkah melambangkan Sholat Lima Waktu yang wajib didirikan sehari semalam, karena Sholat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar, maka ini dapat berfungsi sebagai peredam emosi dalam cingkrig yang bersifat keras.
“    Gerak Dasar
Gerak Dasar yang berjumlah Tujuh belas melambangkan tujuhbelas rokaat dalam sholat wajib.
“    Jurus
Jurus dalam Cingkrig Gerak Cipta ada dua belas di tambah satu Pancer melambangkkan tiga belas Rukun Sholat.
“    Awal Gerak
Setiap mengawali gerakan Silat Cingkrig Gerak Cipta selalu di awali dan di akhiri dengan mengangkat kedua belah tangan dengan cara telapak tangan menghadap keatas setinggi dada, melambangkan setiap gerak dan langkah diawali dengan Do’a dan di akhiri dengan Syukur

Demikianlah sekelumit tentang Maenpukulan (Silat) Cingkrig Gerak Cipta yang kami perkenalkan sebagai salah satu khasanah warisan Budaya Masyarakat Betawi, dengan harapan dapat diterima di segala lapisan masyrakat, dan kami sebagai penulis mohon maaf, karena tidak tertutup kemungkinan terjadi kesalahan dan kekhilafan dalam penulisan ini, mengingat minimnya data-data yang kami dapatkan. Namun setidaknya dengan hadirnya tulisan ini, semoga bisa menjadi motivasi bagi generasi muda untuk lebih mencintai budaya sendiri, ditengah gencarnya budaya Asing yang masuk ke Indonesia.

Rawa belong, 1 April 2011

Ditulis oleh Zay ibnu Siddiq

 

 

 

ayo diskusi tentang cingkrig gerak cipta di forum sahabat silat

 




Tags: , , , , ,


Artikel Cingkrig Gerak Cipta – Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


    - Powered by BING [2014-02-05 07:40]

    Comments are closed.

    Cingkrig Gerak Cipta – Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong - Silat Indonesia

    Cingkrig Gerak Cipta – Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong.

        [
    in English ]

    May 2nd, 2011 | By | Category: Aliran Silat, Artikel Silat [ in English ]

    CINGKRIG GERAK CIPTA
    MAENPUKULAN KHAS BETAWI RAWA BELONG

    20110502-cingkrig-gerak-cipta-logoMaenpukulan (Silat) Cingkrig Gerak Cipta tidak akan terlepas dari silat Cingkrig pada umumnya serta kampung Rawa Belong sebagai tempat kelahiran dan perkembangannya, demikian juga sebaliknya, keduanya sangat erat dan identik tidak bisa di pisahkan satu sama lainnya, karena tidak dapat dipungkiri bahwa di Rawa Belonglah maenpukulan Cingkrig dilahirkan dan dikembangkan

    Kata Cingkrig berasal dari ungkapan Bahasa Betawi yakni Jingkrak-jingkrik atau Cingkrak-cingkrik yang dapat diartikan gesit dan lincah. Oleh karena itu disetiap gerakan Cingkrig dibutuhkan kegesitan dan kelincahan, hal ini mengacu pada gerakan natural dari gerakan kera yang sangat gesit dan lincah, hingga dikembangkan menjadi sebuah jurus Silat (maenpukulan) yang lincah dan atraktif dalam setiap serangan yang sekaligus merupakan pertahanan dan pertahanan sekaligus juga serangan.
    Kata Cingkrig disini menggunakan hurup “G” pada hurup terakhirnya, bukan Cingkrik yang menggunakan hurup “K” pada hurup terakhirnya, hal ini mengacu pada kebiasaan logat Betawi dimana akhiran hurup “k” bisa berubah jadi “g” seperti kata beduk menjadi bedug, gerobak menjadi gerobag, gubuk menjadi gubug dan lain sebagainya

    GEOGRAFIS

    Rawa Belong adalah sebuah kampung yang terletak di wilayah barat Jakarta dan sekarang telah berkembang menjadi sebuah kelurahan, yakni Kelurahan Sukabumi Utara. Terletak di wilayah Kota Madya Jakarta Barat dengan batas-batas wilayah; sebelah Utara berbatasan dengan kelurahan Kebon Jeruk, sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Sukabumi Selatan (Pos pengumben), sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Pal Merah Utara dan Gerogol Utara, sebelah Barat berbatasan dengan kelurahan Kelapa Dua.

    SOSIO KULTURAL

    Kehidupan masyarakat Rawa Belong rata-rata pada umumnya adalah para pedagang, petani bunga atau tanaman hias, Alim ulama, sopir dan lain sebagainya. Bahasa kesehariannya adalah bahasa daerah Betawi tengah dengan ciri pengucapan vokal “e” untuk kata yang berakhiran vokal “a”, secara umum karakter dan adat-istiadatnya sama dengan masyarakat betawi daerah lainnya, dimana unsur Agama Islam sangat kental mewarnai kehidupan sehari-hari, dan secara geneologis serta akar budaya masyarakat Rawa Belong sangat kental dengan perpaduan budaya Melayu, China dan Arab.

    TOKOH SEJARAH DAN ASAL-USUL

    Bila berbiacara Maen pukulan (Silat) Cingkrig, tidak bisa dipisahlan dengan tokoh yang membawa dan mengembangkan maen pukulan itu sendiri yaitu :  Ki Ma’ing
    Alkisah dimasa lalu, banyak orang Rawa Belong yang menimba dan menuntut ilmu ke daerah Kulon (tidak dapat dipastikan tempatnya) karena berdasarkan informasi dari para orang tua, bahwa daerah Meruya dan Tanggerang sudah dianggap Kulon oleh orang-orang Rawa Belong pada waktu itu. Mereka menimba ilmu dengan belajar Ilmu Agama dan juga Ilmu beladiri, baik itu ilmu olah bathin maupun ilmu olah kanuragan.

    Dari sekian banyak orang Rawa Belong yang menimba ilmu di Kulon, salah satunya adalah Ki Ma’ing, namun belum tuntas belajar, Ki Ma’ing memutuskan untuk kembali ke Rawa Belong. Pada suatu ketika Ki Ma’ing yang sedang berjalan, tongkatnya di rebut oleh seekor Kera milik tetangganya yang ber nama Nyi Saereh, spontan Ki Ma’ing menarik tongkatnya, dan selanjutnya terjadilah perebutan tongkat antara Ki Ma’ing dan Si Kera milik Nyi Saereh, Si Kera tidak mau mengalah begitu saja, dengan sigap dan lincahnya berusaha menarik tongkat Ki Ma’ing dengan di sertai beberapa gerakan serangan dan pertahanan yang menyerupai jurus silat.
    Ki Ma’ing sangat terkesan dengan gerakan Kera tersebut, hampir setiiap hari Ki Ma’ing mendatangi Kera tersebut untuk mempelajari dan menganalisanya, setiap gerakan pertahanan si Kera diiringi dengan serangan yang lincah, dan begitu pula sebaliknya setiap gerakan serangan merupakan juga pertahanan dengan kombinasi antara kaki dan tangan yang begitu gesit dan lincah. Dari pengamatan gerakan natural Kera tersebut serta ketekunannya berlatih, oleh Ki Ma’ing dikembangkan menjadi gerakan jurus silat yang kemudian hari dikenal dengan sebutan CINGKRIG.
    Ki Ma’ing menyebarluaskan dan menularkan jurus-jurusnya itu kepada murid-nuridnya yang pada masa itu mulai di kenal dengan sebutan Maenpukulan Cingkrig, karena sebelumnya orang Rawa belong hanya mengenal Cingkrig dengan sebutan Maenpukul. Ki Ma’ing menurunkan Maenpukulan ini kepada murid-muridnya  diantranya yang di kenal:  Ki Saari,  Ki Ali,  Ki Ajid.

    Ki Saari

    Ki Saari juga turut mengembangkan Maenpukulan Cingkrig dan mengajarkan kepada murid-muridnya, salah satu di antaranya adalah Kong Wahab.
    Kong Wahab juga mengembangkan maenpukulan ini serta mengajarkan kepada murid-muridnya, di antaranya; anaknya sendiri yaitu Babe NUR.

    Ki Ali

    Ki Ali turut mengembangkan maenpukulan Cingkrig serta mengajarkan kepada murid-muridnya yang kebanyakan dari luar Rawa Belong diantaranya;

    “    Ki Sinan yang mengembangkan di wilayah Kebon Jeruk dan sekitarnya dan mempunyai murid diantaranya; Babe Melik,  Babe Entong,  Babe Abu Hasyim.
    “    Ki Goning yang mengembangkan di wilayah Kemanggisan dan sekitarnya dan mempunyai murid diantaranya; Babe Hamdan,  Babe Usup Utay dan sekarang di kembangkan oleh Bapak Tubagus Bambang.
    “    Ki Legot yang mengmbangkan di wilayah Muara Angke, Pesing dan sekitarnya.
    “    Ki Sakam yang mengembangkan di wilayah Depok dan sekitarnya dan sekarang di kembangkan oleh Babe Popon

    Ki Ajid

    Ki Ajid turut mengembangkan maenpukulan cingkrig di daerah Rawabelong dan mengajarkan kepada murid-muridnya diantaranya;

    “    Kong Uming yang mengembangkan dan mengajarkan kepada murid-muridnya diantaranya; Babe Nunung,  Babe Hasan Kumis,  Babe Akib. Dan yang masih mengembangkan serta mengajarkan maenpukulan Cingkrig dari Kong Uming saat ini diantaranya; Babe Warno,  Babe Manaf,  dan masih ada yang lainnya yang belum di ketahui oleh penulis.
    “    Kong Hayat yang mengembaqngkan dan mengajarkan kepada murid-muridnya di antaranya; Kong Majid,  Kong Acik (Munasik), dan yang masih mengembangkan dan mengajarkan maenpukulan cingkrig dari Kong Hayat  saat ini di antaranya; Bang Satria Jaya

    CINGKRIG GERAK CIPTA

    Membicarakan tentang Cingkrig Gerak Cipta tidak terlepas dari tokoh yang memberi nama Gerak Cipta  dibelakang kata Cingkrig yaitu Kong Acik (Munasik bin Hamim).
    Kong Acik pertama kali belajar cingkrig kepada Kong Hayat karena kemauan dan tekadnya yang keras untuk mengetahui cingkrig lebih dalam, kong Acik memperdalam pelajarannya kepada Ki Ajid, Ki Saari dan juga Ki Ali.
    Belum puas dengan hasil yang di dapatkannya, Kong Acik sering bersilaturahmi ke berbagai perguruan aliran lain untuk menambah pengetahuan dan pengalaman.
    Perguruan yang di kunjungi bukan Cuma yang di Jakarta saja, tetapi sampai ke Tanggerang, Depok, Bekasi bahkan sampai Cianjur dan Garut, serta bukan hanya silat asli indonesia saja tetapi juga yang dari luar seperti Karate, taekwondo dan Kuntaw.
    Dan akhirnya Kong Acik berhasil memadukan jurus cingkrig dengan gerak dan tekhnik yang di dapat dari aliran lain tanpa merubah atau menghilangkan jurus dasar cingkrig itu sendiri.
    Maka oleh karena itulah Kong Acik menambahkan nama Gerak Cipta di belakang nama Cingkrig sebagai identiras/ciri dari aliran ini.

    Kong Acik mengembangkan dan mengajarkan Cingkrig Gerak Cipta di wilayah Rawa Belong dan luar Rawa Belong seperti didaerah Rawamangun, Mampang, Bekasi  Tanggerang dan Bogor.
    Saat ini salah satu murid Kong Acik yang masih mengajarkan Cingkrig Gerak Cipta yang juga masih keponakan beliau sendiri yaitu Bang Amri bin H. Abbas

    JURUS – JURUS CINGKRIG GERAK CIPTA

    Konon menurut beberapa sumber, di awal perkembangannya jurus cingkrig hanya berjumlah lima jurus dengan urutan:

    “    1. Langkah Satu
    “    2. Langkah Dua
    “    3. Langkah Tiga
    “    4. Langkah Empat
    “    5. Langkah Lima

    Pada perkembangan selanjutnya menjadi delapan jurus dan kemudian dikembangkan lagi setelah memasukan beberapa gerak tambahan menjadi dua belas jurus, adapun nama-nama jurus dan urutannya berbeda antara aliran Cingkrig yang satu dengan aliran cingkrig lainnya yang berkembang saat ini.

    Ketidak seragaman dan perbedaan baik dalam jurus dan sambut pada cingkrig, dalam perkembangannya bukan masalah yang mendasar bagi yang mendalami Cingkrig itu sendiri, karena flexibilitasnya yang berkembang tergantung kepada siapa Kita belajar/berguru.
    Namun yang paling penting adalah JANGANLAH KITA MELUPAKAN SEJARAH ASAL-USUL CINGKRIG,  yang di bawa dan di kembangkan oleh orang Rawa Belong yakni Ki Ma’ing.

    Jurus-jurus yang di ajarkan dalam Cingkrig Gerak Cipta yaitu;

    1.    Langkah Beset
    2.    Cingkrig
    3.    Buka Satu
    4.    Satu Kurung
    5.    Saup
    6.    Langkah Tiga
    7.    Langkah Empat
    8.    Langkah Lima
    9.    Lok Be
    10.    Singa
    11.    Macan
    12.    Longok

    Di tambah Pancer yang diturunkan setelah menguasai jurus dengan sempurna tapi bukan merupakan jurus ke tigabelas, tetapi hanya sebagai bekal tambahan.

    Didalam Cingkrig Gerak Cipta diajarkan pula Gerak Dasar yang diturunkan sebelum jurus, tujuan dari Gerak Dasar adalah untuk melatih kuda-kuda,  kelincahan tangan dan kaki serta kelenturan tubuh/badan, Gerak Dasar juga difungsikan sebagai pemanasan jurus sebelum menjalankan atau melancarkan jurus Cingkrig.

    Gerak Dasar didalam Cingkrig Gerak Cipta berjumlah tujuhbelas yaitu;

    1.    Gerak Beset Tarik
    2.    Gerak Beset Gedor
    3.    Gerak Pasang Pukul
    4.    Gerak Cingkrig
    5.    Gerak Sangkol
    6.    Gerak Rambet
    7.    Gerak bacok Rimpes
    8.    Gerak Saup
    9.    Gerak kodek
    10.    Gerak Seser
    11.    Gerak Kosrek/Gobrek
    12.    Gerak Tiktuk
    13.    Gerak Bendrong
    14.    Gerak Lokbe
    15.    Gerak Sikut Atas
    16.    Gerak Cakar Macan
    17.    Gerak Longok

    POLA LANGKAH DAN CIRI KHAS

    Setiap langkah dalam Cingkrig Gerak Cipta mengikuti pola empat penjuru di setiap langkah, dijalankan dengan kombinasi gerak tangan dan kaki secara simultan dan hampir bersamaan. Ciri khas adalah kuda-kuda yang rendah, gerak kaki dan tangan yang cepat serta luwes dan tidak Kaku dalam terminologi menggunakan Rasa, serta tenaga pukulan di  ujung, sabetan kaki hampir bersamaan dengan gerakan tangan.

    APLIKASI / SAMBUT

    Dalam Cingkrig Gerak Cipta, Aflikasi/sambut di ajarkan setelah si murid menguasai jurus minimal delapan jurus, aflikasi tidak terpola dan tidak baku, dalam arti aflikasinya tergantung situasi, karena dalam jurus yang dimainkan sudah di latih pola langkah menyerang, menghindar, memukul, menangkis, menjatuhkan dan mematahkan/kuncian.
    Beberapa istilah dalam Aplikasi sambut Cingkrig Gerak Cipta yaitu;

    “    Sambut Gulung
    Bertujuannya melatih gerak tangan dan kaki, kuda-kuda, kelenturan tubuh dalam menyerang dan menghidari serangan.
    “    Sambut Rimpes
    Bertujuan melatih refleks tangan yang dapat dilatih sambil duduk.
    “    Sambut Pintas
    Tujuan berlatih sambut pintas yakni agar dapat melumpuhkan lawan dengan cepat/sekali gebrak

    SISTIM BELAJAR

    Pembelajaran dalam Cingkrig Gerak Cipta adalah berlatih dan melancarkan Gerak Dasar dari satu s/d tujuhbelas, yang kemudian dilanjutkan dengan menjalankan jurus-jurus cingkrig, bilamana sang murid sudah menguasai sampai jurus delapan maka dilanjutkan dengan melatih Sambut yang di barengi dengan melatih jurus berikutnya hingga jurus dua belas, setelah tuntas dan halus jurus satu hingga dua belas di lanjutkan dengan jurus kombinasi atau BOMBANG kemudian di tambah PANCER.

    FILOSOFI

    Di awal perkembangannya, Cingkrig di ajarkan bersamaan/berdampingan dengan belajar ngaji (ilmu Agama Islam), dan oleh karenanya di gunakan sebagai media dakwah. Bagi murid yang ingin belajar cingkrig harus belajar ngaji, jadi pada masa itu bagi yang non Muslim harus masuk Islam terlebih dahulu baru kemudian diajarkan cingkrig.
    Maka dari itu filosopi yang terkandung dalam cingkrig sangat-sangat Islami, seperti yang akan dijelaskan sedikit mengenai filosopi yang terkandung dalam cingkrig Gerak Cipta diantaranya;

    “    Kata Gerak Cipta
    Gerak Cipta melambangkan hubungan makluk dengan sang pencipta (Allah SWT.), karena setiap gerak atau langkah kita tidak bisa dipisahkan dengan sang Pencipta, maka wajib menjalankan apa yang di perintah dan menjauhi apa yang menjadi larangannya.
    “    Lima Langkah dalam Cingkrig
    Lima Langkah melambangkan Sholat Lima Waktu yang wajib didirikan sehari semalam, karena Sholat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar, maka ini dapat berfungsi sebagai peredam emosi dalam cingkrig yang bersifat keras.
    “    Gerak Dasar
    Gerak Dasar yang berjumlah Tujuh belas melambangkan tujuhbelas rokaat dalam sholat wajib.
    “    Jurus
    Jurus dalam Cingkrig Gerak Cipta ada dua belas di tambah satu Pancer melambangkkan tiga belas Rukun Sholat.
    “    Awal Gerak
    Setiap mengawali gerakan Silat Cingkrig Gerak Cipta selalu di awali dan di akhiri dengan mengangkat kedua belah tangan dengan cara telapak tangan menghadap keatas setinggi dada, melambangkan setiap gerak dan langkah diawali dengan Do’a dan di akhiri dengan Syukur

    Demikianlah sekelumit tentang Maenpukulan (Silat) Cingkrig Gerak Cipta yang kami perkenalkan sebagai salah satu khasanah warisan Budaya Masyarakat Betawi, dengan harapan dapat diterima di segala lapisan masyrakat, dan kami sebagai penulis mohon maaf, karena tidak tertutup kemungkinan terjadi kesalahan dan kekhilafan dalam penulisan ini, mengingat minimnya data-data yang kami dapatkan. Namun setidaknya dengan hadirnya tulisan ini, semoga bisa menjadi motivasi bagi generasi muda untuk lebih mencintai budaya sendiri, ditengah gencarnya budaya Asing yang masuk ke Indonesia.

    Rawa belong, 1 April 2011

    Ditulis oleh Zay ibnu Siddiq

     

     

     

    ayo diskusi tentang cingkrig gerak cipta di forum sahabat silat

     




    Tags: , , , , ,


    Artikel Cingkrig Gerak Cipta – Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


      - Powered by BING [2014-02-11 02:36]

      Comments are closed.

      Cingkrig Gerak Cipta – Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong - Silat Indonesia

      Cingkrig Gerak Cipta – Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong.

          [
      in English ]

      May 2nd, 2011 | By | Category: Aliran Silat, Artikel Silat [ in English ]

      CINGKRIG GERAK CIPTA
      MAENPUKULAN KHAS BETAWI RAWA BELONG

      20110502-cingkrig-gerak-cipta-logoMaenpukulan (Silat) Cingkrig Gerak Cipta tidak akan terlepas dari silat Cingkrig pada umumnya serta kampung Rawa Belong sebagai tempat kelahiran dan perkembangannya, demikian juga sebaliknya, keduanya sangat erat dan identik tidak bisa di pisahkan satu sama lainnya, karena tidak dapat dipungkiri bahwa di Rawa Belonglah maenpukulan Cingkrig dilahirkan dan dikembangkan

      Kata Cingkrig berasal dari ungkapan Bahasa Betawi yakni Jingkrak-jingkrik atau Cingkrak-cingkrik yang dapat diartikan gesit dan lincah. Oleh karena itu disetiap gerakan Cingkrig dibutuhkan kegesitan dan kelincahan, hal ini mengacu pada gerakan natural dari gerakan kera yang sangat gesit dan lincah, hingga dikembangkan menjadi sebuah jurus Silat (maenpukulan) yang lincah dan atraktif dalam setiap serangan yang sekaligus merupakan pertahanan dan pertahanan sekaligus juga serangan.
      Kata Cingkrig disini menggunakan hurup “G” pada hurup terakhirnya, bukan Cingkrik yang menggunakan hurup “K” pada hurup terakhirnya, hal ini mengacu pada kebiasaan logat Betawi dimana akhiran hurup “k” bisa berubah jadi “g” seperti kata beduk menjadi bedug, gerobak menjadi gerobag, gubuk menjadi gubug dan lain sebagainya

      GEOGRAFIS

      Rawa Belong adalah sebuah kampung yang terletak di wilayah barat Jakarta dan sekarang telah berkembang menjadi sebuah kelurahan, yakni Kelurahan Sukabumi Utara. Terletak di wilayah Kota Madya Jakarta Barat dengan batas-batas wilayah; sebelah Utara berbatasan dengan kelurahan Kebon Jeruk, sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Sukabumi Selatan (Pos pengumben), sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Pal Merah Utara dan Gerogol Utara, sebelah Barat berbatasan dengan kelurahan Kelapa Dua.

      SOSIO KULTURAL

      Kehidupan masyarakat Rawa Belong rata-rata pada umumnya adalah para pedagang, petani bunga atau tanaman hias, Alim ulama, sopir dan lain sebagainya. Bahasa kesehariannya adalah bahasa daerah Betawi tengah dengan ciri pengucapan vokal “e” untuk kata yang berakhiran vokal “a”, secara umum karakter dan adat-istiadatnya sama dengan masyarakat betawi daerah lainnya, dimana unsur Agama Islam sangat kental mewarnai kehidupan sehari-hari, dan secara geneologis serta akar budaya masyarakat Rawa Belong sangat kental dengan perpaduan budaya Melayu, China dan Arab.

      TOKOH SEJARAH DAN ASAL-USUL

      Bila berbiacara Maen pukulan (Silat) Cingkrig, tidak bisa dipisahlan dengan tokoh yang membawa dan mengembangkan maen pukulan itu sendiri yaitu :  Ki Ma’ing
      Alkisah dimasa lalu, banyak orang Rawa Belong yang menimba dan menuntut ilmu ke daerah Kulon (tidak dapat dipastikan tempatnya) karena berdasarkan informasi dari para orang tua, bahwa daerah Meruya dan Tanggerang sudah dianggap Kulon oleh orang-orang Rawa Belong pada waktu itu. Mereka menimba ilmu dengan belajar Ilmu Agama dan juga Ilmu beladiri, baik itu ilmu olah bathin maupun ilmu olah kanuragan.

      Dari sekian banyak orang Rawa Belong yang menimba ilmu di Kulon, salah satunya adalah Ki Ma’ing, namun belum tuntas belajar, Ki Ma’ing memutuskan untuk kembali ke Rawa Belong. Pada suatu ketika Ki Ma’ing yang sedang berjalan, tongkatnya di rebut oleh seekor Kera milik tetangganya yang ber nama Nyi Saereh, spontan Ki Ma’ing menarik tongkatnya, dan selanjutnya terjadilah perebutan tongkat antara Ki Ma’ing dan Si Kera milik Nyi Saereh, Si Kera tidak mau mengalah begitu saja, dengan sigap dan lincahnya berusaha menarik tongkat Ki Ma’ing dengan di sertai beberapa gerakan serangan dan pertahanan yang menyerupai jurus silat.
      Ki Ma’ing sangat terkesan dengan gerakan Kera tersebut, hampir setiiap hari Ki Ma’ing mendatangi Kera tersebut untuk mempelajari dan menganalisanya, setiap gerakan pertahanan si Kera diiringi dengan serangan yang lincah, dan begitu pula sebaliknya setiap gerakan serangan merupakan juga pertahanan dengan kombinasi antara kaki dan tangan yang begitu gesit dan lincah. Dari pengamatan gerakan natural Kera tersebut serta ketekunannya berlatih, oleh Ki Ma’ing dikembangkan menjadi gerakan jurus silat yang kemudian hari dikenal dengan sebutan CINGKRIG.
      Ki Ma’ing menyebarluaskan dan menularkan jurus-jurusnya itu kepada murid-nuridnya yang pada masa itu mulai di kenal dengan sebutan Maenpukulan Cingkrig, karena sebelumnya orang Rawa belong hanya mengenal Cingkrig dengan sebutan Maenpukul. Ki Ma’ing menurunkan Maenpukulan ini kepada murid-muridnya  diantranya yang di kenal:  Ki Saari,  Ki Ali,  Ki Ajid.

      Ki Saari

      Ki Saari juga turut mengembangkan Maenpukulan Cingkrig dan mengajarkan kepada murid-muridnya, salah satu di antaranya adalah Kong Wahab.
      Kong Wahab juga mengembangkan maenpukulan ini serta mengajarkan kepada murid-muridnya, di antaranya; anaknya sendiri yaitu Babe NUR.

      Ki Ali

      Ki Ali turut mengembangkan maenpukulan Cingkrig serta mengajarkan kepada murid-muridnya yang kebanyakan dari luar Rawa Belong diantaranya;

      “    Ki Sinan yang mengembangkan di wilayah Kebon Jeruk dan sekitarnya dan mempunyai murid diantaranya; Babe Melik,  Babe Entong,  Babe Abu Hasyim.
      “    Ki Goning yang mengembangkan di wilayah Kemanggisan dan sekitarnya dan mempunyai murid diantaranya; Babe Hamdan,  Babe Usup Utay dan sekarang di kembangkan oleh Bapak Tubagus Bambang.
      “    Ki Legot yang mengmbangkan di wilayah Muara Angke, Pesing dan sekitarnya.
      “    Ki Sakam yang mengembangkan di wilayah Depok dan sekitarnya dan sekarang di kembangkan oleh Babe Popon

      Ki Ajid

      Ki Ajid turut mengembangkan maenpukulan cingkrig di daerah Rawabelong dan mengajarkan kepada murid-muridnya diantaranya;

      “    Kong Uming yang mengembangkan dan mengajarkan kepada murid-muridnya diantaranya; Babe Nunung,  Babe Hasan Kumis,  Babe Akib. Dan yang masih mengembangkan serta mengajarkan maenpukulan Cingkrig dari Kong Uming saat ini diantaranya; Babe Warno,  Babe Manaf,  dan masih ada yang lainnya yang belum di ketahui oleh penulis.
      “    Kong Hayat yang mengembaqngkan dan mengajarkan kepada murid-muridnya di antaranya; Kong Majid,  Kong Acik (Munasik), dan yang masih mengembangkan dan mengajarkan maenpukulan cingkrig dari Kong Hayat  saat ini di antaranya; Bang Satria Jaya

      CINGKRIG GERAK CIPTA

      Membicarakan tentang Cingkrig Gerak Cipta tidak terlepas dari tokoh yang memberi nama Gerak Cipta  dibelakang kata Cingkrig yaitu Kong Acik (Munasik bin Hamim).
      Kong Acik pertama kali belajar cingkrig kepada Kong Hayat karena kemauan dan tekadnya yang keras untuk mengetahui cingkrig lebih dalam, kong Acik memperdalam pelajarannya kepada Ki Ajid, Ki Saari dan juga Ki Ali.
      Belum puas dengan hasil yang di dapatkannya, Kong Acik sering bersilaturahmi ke berbagai perguruan aliran lain untuk menambah pengetahuan dan pengalaman.
      Perguruan yang di kunjungi bukan Cuma yang di Jakarta saja, tetapi sampai ke Tanggerang, Depok, Bekasi bahkan sampai Cianjur dan Garut, serta bukan hanya silat asli indonesia saja tetapi juga yang dari luar seperti Karate, taekwondo dan Kuntaw.
      Dan akhirnya Kong Acik berhasil memadukan jurus cingkrig dengan gerak dan tekhnik yang di dapat dari aliran lain tanpa merubah atau menghilangkan jurus dasar cingkrig itu sendiri.
      Maka oleh karena itulah Kong Acik menambahkan nama Gerak Cipta di belakang nama Cingkrig sebagai identiras/ciri dari aliran ini.

      Kong Acik mengembangkan dan mengajarkan Cingkrig Gerak Cipta di wilayah Rawa Belong dan luar Rawa Belong seperti didaerah Rawamangun, Mampang, Bekasi  Tanggerang dan Bogor.
      Saat ini salah satu murid Kong Acik yang masih mengajarkan Cingkrig Gerak Cipta yang juga masih keponakan beliau sendiri yaitu Bang Amri bin H. Abbas

      JURUS – JURUS CINGKRIG GERAK CIPTA

      Konon menurut beberapa sumber, di awal perkembangannya jurus cingkrig hanya berjumlah lima jurus dengan urutan:

      “    1. Langkah Satu
      “    2. Langkah Dua
      “    3. Langkah Tiga
      “    4. Langkah Empat
      “    5. Langkah Lima

      Pada perkembangan selanjutnya menjadi delapan jurus dan kemudian dikembangkan lagi setelah memasukan beberapa gerak tambahan menjadi dua belas jurus, adapun nama-nama jurus dan urutannya berbeda antara aliran Cingkrig yang satu dengan aliran cingkrig lainnya yang berkembang saat ini.

      Ketidak seragaman dan perbedaan baik dalam jurus dan sambut pada cingkrig, dalam perkembangannya bukan masalah yang mendasar bagi yang mendalami Cingkrig itu sendiri, karena flexibilitasnya yang berkembang tergantung kepada siapa Kita belajar/berguru.
      Namun yang paling penting adalah JANGANLAH KITA MELUPAKAN SEJARAH ASAL-USUL CINGKRIG,  yang di bawa dan di kembangkan oleh orang Rawa Belong yakni Ki Ma’ing.

      Jurus-jurus yang di ajarkan dalam Cingkrig Gerak Cipta yaitu;

      1.    Langkah Beset
      2.    Cingkrig
      3.    Buka Satu
      4.    Satu Kurung
      5.    Saup
      6.    Langkah Tiga
      7.    Langkah Empat
      8.    Langkah Lima
      9.    Lok Be
      10.    Singa
      11.    Macan
      12.    Longok

      Di tambah Pancer yang diturunkan setelah menguasai jurus dengan sempurna tapi bukan merupakan jurus ke tigabelas, tetapi hanya sebagai bekal tambahan.

      Didalam Cingkrig Gerak Cipta diajarkan pula Gerak Dasar yang diturunkan sebelum jurus, tujuan dari Gerak Dasar adalah untuk melatih kuda-kuda,  kelincahan tangan dan kaki serta kelenturan tubuh/badan, Gerak Dasar juga difungsikan sebagai pemanasan jurus sebelum menjalankan atau melancarkan jurus Cingkrig.

      Gerak Dasar didalam Cingkrig Gerak Cipta berjumlah tujuhbelas yaitu;

      1.    Gerak Beset Tarik
      2.    Gerak Beset Gedor
      3.    Gerak Pasang Pukul
      4.    Gerak Cingkrig
      5.    Gerak Sangkol
      6.    Gerak Rambet
      7.    Gerak bacok Rimpes
      8.    Gerak Saup
      9.    Gerak kodek
      10.    Gerak Seser
      11.    Gerak Kosrek/Gobrek
      12.    Gerak Tiktuk
      13.    Gerak Bendrong
      14.    Gerak Lokbe
      15.    Gerak Sikut Atas
      16.    Gerak Cakar Macan
      17.    Gerak Longok

      POLA LANGKAH DAN CIRI KHAS

      Setiap langkah dalam Cingkrig Gerak Cipta mengikuti pola empat penjuru di setiap langkah, dijalankan dengan kombinasi gerak tangan dan kaki secara simultan dan hampir bersamaan. Ciri khas adalah kuda-kuda yang rendah, gerak kaki dan tangan yang cepat serta luwes dan tidak Kaku dalam terminologi menggunakan Rasa, serta tenaga pukulan di  ujung, sabetan kaki hampir bersamaan dengan gerakan tangan.

      APLIKASI / SAMBUT

      Dalam Cingkrig Gerak Cipta, Aflikasi/sambut di ajarkan setelah si murid menguasai jurus minimal delapan jurus, aflikasi tidak terpola dan tidak baku, dalam arti aflikasinya tergantung situasi, karena dalam jurus yang dimainkan sudah di latih pola langkah menyerang, menghindar, memukul, menangkis, menjatuhkan dan mematahkan/kuncian.
      Beberapa istilah dalam Aplikasi sambut Cingkrig Gerak Cipta yaitu;

      “    Sambut Gulung
      Bertujuannya melatih gerak tangan dan kaki, kuda-kuda, kelenturan tubuh dalam menyerang dan menghidari serangan.
      “    Sambut Rimpes
      Bertujuan melatih refleks tangan yang dapat dilatih sambil duduk.
      “    Sambut Pintas
      Tujuan berlatih sambut pintas yakni agar dapat melumpuhkan lawan dengan cepat/sekali gebrak

      SISTIM BELAJAR

      Pembelajaran dalam Cingkrig Gerak Cipta adalah berlatih dan melancarkan Gerak Dasar dari satu s/d tujuhbelas, yang kemudian dilanjutkan dengan menjalankan jurus-jurus cingkrig, bilamana sang murid sudah menguasai sampai jurus delapan maka dilanjutkan dengan melatih Sambut yang di barengi dengan melatih jurus berikutnya hingga jurus dua belas, setelah tuntas dan halus jurus satu hingga dua belas di lanjutkan dengan jurus kombinasi atau BOMBANG kemudian di tambah PANCER.

      FILOSOFI

      Di awal perkembangannya, Cingkrig di ajarkan bersamaan/berdampingan dengan belajar ngaji (ilmu Agama Islam), dan oleh karenanya di gunakan sebagai media dakwah. Bagi murid yang ingin belajar cingkrig harus belajar ngaji, jadi pada masa itu bagi yang non Muslim harus masuk Islam terlebih dahulu baru kemudian diajarkan cingkrig.
      Maka dari itu filosopi yang terkandung dalam cingkrig sangat-sangat Islami, seperti yang akan dijelaskan sedikit mengenai filosopi yang terkandung dalam cingkrig Gerak Cipta diantaranya;

      “    Kata Gerak Cipta
      Gerak Cipta melambangkan hubungan makluk dengan sang pencipta (Allah SWT.), karena setiap gerak atau langkah kita tidak bisa dipisahkan dengan sang Pencipta, maka wajib menjalankan apa yang di perintah dan menjauhi apa yang menjadi larangannya.
      “    Lima Langkah dalam Cingkrig
      Lima Langkah melambangkan Sholat Lima Waktu yang wajib didirikan sehari semalam, karena Sholat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar, maka ini dapat berfungsi sebagai peredam emosi dalam cingkrig yang bersifat keras.
      “    Gerak Dasar
      Gerak Dasar yang berjumlah Tujuh belas melambangkan tujuhbelas rokaat dalam sholat wajib.
      “    Jurus
      Jurus dalam Cingkrig Gerak Cipta ada dua belas di tambah satu Pancer melambangkkan tiga belas Rukun Sholat.
      “    Awal Gerak
      Setiap mengawali gerakan Silat Cingkrig Gerak Cipta selalu di awali dan di akhiri dengan mengangkat kedua belah tangan dengan cara telapak tangan menghadap keatas setinggi dada, melambangkan setiap gerak dan langkah diawali dengan Do’a dan di akhiri dengan Syukur

      Demikianlah sekelumit tentang Maenpukulan (Silat) Cingkrig Gerak Cipta yang kami perkenalkan sebagai salah satu khasanah warisan Budaya Masyarakat Betawi, dengan harapan dapat diterima di segala lapisan masyrakat, dan kami sebagai penulis mohon maaf, karena tidak tertutup kemungkinan terjadi kesalahan dan kekhilafan dalam penulisan ini, mengingat minimnya data-data yang kami dapatkan. Namun setidaknya dengan hadirnya tulisan ini, semoga bisa menjadi motivasi bagi generasi muda untuk lebih mencintai budaya sendiri, ditengah gencarnya budaya Asing yang masuk ke Indonesia.

      Rawa belong, 1 April 2011

      Ditulis oleh Zay ibnu Siddiq

       

       

       

      ayo diskusi tentang cingkrig gerak cipta di forum sahabat silat

       




      Tags: , , , , ,


      Artikel Cingkrig Gerak Cipta – Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


        - Powered by BING [2014-02-17 05:36]

        Comments are closed.

        Cingkrig Gerak Cipta – Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong - Silat Indonesia

        Cingkrig Gerak Cipta – Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong.

            [
        in English ]

        May 2nd, 2011 | By | Category: Aliran Silat, Artikel Silat [ in English ]

        CINGKRIG GERAK CIPTA
        MAENPUKULAN KHAS BETAWI RAWA BELONG

        20110502-cingkrig-gerak-cipta-logoMaenpukulan (Silat) Cingkrig Gerak Cipta tidak akan terlepas dari silat Cingkrig pada umumnya serta kampung Rawa Belong sebagai tempat kelahiran dan perkembangannya, demikian juga sebaliknya, keduanya sangat erat dan identik tidak bisa di pisahkan satu sama lainnya, karena tidak dapat dipungkiri bahwa di Rawa Belonglah maenpukulan Cingkrig dilahirkan dan dikembangkan

        Kata Cingkrig berasal dari ungkapan Bahasa Betawi yakni Jingkrak-jingkrik atau Cingkrak-cingkrik yang dapat diartikan gesit dan lincah. Oleh karena itu disetiap gerakan Cingkrig dibutuhkan kegesitan dan kelincahan, hal ini mengacu pada gerakan natural dari gerakan kera yang sangat gesit dan lincah, hingga dikembangkan menjadi sebuah jurus Silat (maenpukulan) yang lincah dan atraktif dalam setiap serangan yang sekaligus merupakan pertahanan dan pertahanan sekaligus juga serangan.
        Kata Cingkrig disini menggunakan hurup “G” pada hurup terakhirnya, bukan Cingkrik yang menggunakan hurup “K” pada hurup terakhirnya, hal ini mengacu pada kebiasaan logat Betawi dimana akhiran hurup “k” bisa berubah jadi “g” seperti kata beduk menjadi bedug, gerobak menjadi gerobag, gubuk menjadi gubug dan lain sebagainya

        GEOGRAFIS

        Rawa Belong adalah sebuah kampung yang terletak di wilayah barat Jakarta dan sekarang telah berkembang menjadi sebuah kelurahan, yakni Kelurahan Sukabumi Utara. Terletak di wilayah Kota Madya Jakarta Barat dengan batas-batas wilayah; sebelah Utara berbatasan dengan kelurahan Kebon Jeruk, sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Sukabumi Selatan (Pos pengumben), sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Pal Merah Utara dan Gerogol Utara, sebelah Barat berbatasan dengan kelurahan Kelapa Dua.

        SOSIO KULTURAL

        Kehidupan masyarakat Rawa Belong rata-rata pada umumnya adalah para pedagang, petani bunga atau tanaman hias, Alim ulama, sopir dan lain sebagainya. Bahasa kesehariannya adalah bahasa daerah Betawi tengah dengan ciri pengucapan vokal “e” untuk kata yang berakhiran vokal “a”, secara umum karakter dan adat-istiadatnya sama dengan masyarakat betawi daerah lainnya, dimana unsur Agama Islam sangat kental mewarnai kehidupan sehari-hari, dan secara geneologis serta akar budaya masyarakat Rawa Belong sangat kental dengan perpaduan budaya Melayu, China dan Arab.

        TOKOH SEJARAH DAN ASAL-USUL

        Bila berbiacara Maen pukulan (Silat) Cingkrig, tidak bisa dipisahlan dengan tokoh yang membawa dan mengembangkan maen pukulan itu sendiri yaitu :  Ki Ma’ing
        Alkisah dimasa lalu, banyak orang Rawa Belong yang menimba dan menuntut ilmu ke daerah Kulon (tidak dapat dipastikan tempatnya) karena berdasarkan informasi dari para orang tua, bahwa daerah Meruya dan Tanggerang sudah dianggap Kulon oleh orang-orang Rawa Belong pada waktu itu. Mereka menimba ilmu dengan belajar Ilmu Agama dan juga Ilmu beladiri, baik itu ilmu olah bathin maupun ilmu olah kanuragan.

        Dari sekian banyak orang Rawa Belong yang menimba ilmu di Kulon, salah satunya adalah Ki Ma’ing, namun belum tuntas belajar, Ki Ma’ing memutuskan untuk kembali ke Rawa Belong. Pada suatu ketika Ki Ma’ing yang sedang berjalan, tongkatnya di rebut oleh seekor Kera milik tetangganya yang ber nama Nyi Saereh, spontan Ki Ma’ing menarik tongkatnya, dan selanjutnya terjadilah perebutan tongkat antara Ki Ma’ing dan Si Kera milik Nyi Saereh, Si Kera tidak mau mengalah begitu saja, dengan sigap dan lincahnya berusaha menarik tongkat Ki Ma’ing dengan di sertai beberapa gerakan serangan dan pertahanan yang menyerupai jurus silat.
        Ki Ma’ing sangat terkesan dengan gerakan Kera tersebut, hampir setiiap hari Ki Ma’ing mendatangi Kera tersebut untuk mempelajari dan menganalisanya, setiap gerakan pertahanan si Kera diiringi dengan serangan yang lincah, dan begitu pula sebaliknya setiap gerakan serangan merupakan juga pertahanan dengan kombinasi antara kaki dan tangan yang begitu gesit dan lincah. Dari pengamatan gerakan natural Kera tersebut serta ketekunannya berlatih, oleh Ki Ma’ing dikembangkan menjadi gerakan jurus silat yang kemudian hari dikenal dengan sebutan CINGKRIG.
        Ki Ma’ing menyebarluaskan dan menularkan jurus-jurusnya itu kepada murid-nuridnya yang pada masa itu mulai di kenal dengan sebutan Maenpukulan Cingkrig, karena sebelumnya orang Rawa belong hanya mengenal Cingkrig dengan sebutan Maenpukul. Ki Ma’ing menurunkan Maenpukulan ini kepada murid-muridnya  diantranya yang di kenal:  Ki Saari,  Ki Ali,  Ki Ajid.

        Ki Saari

        Ki Saari juga turut mengembangkan Maenpukulan Cingkrig dan mengajarkan kepada murid-muridnya, salah satu di antaranya adalah Kong Wahab.
        Kong Wahab juga mengembangkan maenpukulan ini serta mengajarkan kepada murid-muridnya, di antaranya; anaknya sendiri yaitu Babe NUR.

        Ki Ali

        Ki Ali turut mengembangkan maenpukulan Cingkrig serta mengajarkan kepada murid-muridnya yang kebanyakan dari luar Rawa Belong diantaranya;

        “    Ki Sinan yang mengembangkan di wilayah Kebon Jeruk dan sekitarnya dan mempunyai murid diantaranya; Babe Melik,  Babe Entong,  Babe Abu Hasyim.
        “    Ki Goning yang mengembangkan di wilayah Kemanggisan dan sekitarnya dan mempunyai murid diantaranya; Babe Hamdan,  Babe Usup Utay dan sekarang di kembangkan oleh Bapak Tubagus Bambang.
        “    Ki Legot yang mengmbangkan di wilayah Muara Angke, Pesing dan sekitarnya.
        “    Ki Sakam yang mengembangkan di wilayah Depok dan sekitarnya dan sekarang di kembangkan oleh Babe Popon

        Ki Ajid

        Ki Ajid turut mengembangkan maenpukulan cingkrig di daerah Rawabelong dan mengajarkan kepada murid-muridnya diantaranya;

        “    Kong Uming yang mengembangkan dan mengajarkan kepada murid-muridnya diantaranya; Babe Nunung,  Babe Hasan Kumis,  Babe Akib. Dan yang masih mengembangkan serta mengajarkan maenpukulan Cingkrig dari Kong Uming saat ini diantaranya; Babe Warno,  Babe Manaf,  dan masih ada yang lainnya yang belum di ketahui oleh penulis.
        “    Kong Hayat yang mengembaqngkan dan mengajarkan kepada murid-muridnya di antaranya; Kong Majid,  Kong Acik (Munasik), dan yang masih mengembangkan dan mengajarkan maenpukulan cingkrig dari Kong Hayat  saat ini di antaranya; Bang Satria Jaya

        CINGKRIG GERAK CIPTA

        Membicarakan tentang Cingkrig Gerak Cipta tidak terlepas dari tokoh yang memberi nama Gerak Cipta  dibelakang kata Cingkrig yaitu Kong Acik (Munasik bin Hamim).
        Kong Acik pertama kali belajar cingkrig kepada Kong Hayat karena kemauan dan tekadnya yang keras untuk mengetahui cingkrig lebih dalam, kong Acik memperdalam pelajarannya kepada Ki Ajid, Ki Saari dan juga Ki Ali.
        Belum puas dengan hasil yang di dapatkannya, Kong Acik sering bersilaturahmi ke berbagai perguruan aliran lain untuk menambah pengetahuan dan pengalaman.
        Perguruan yang di kunjungi bukan Cuma yang di Jakarta saja, tetapi sampai ke Tanggerang, Depok, Bekasi bahkan sampai Cianjur dan Garut, serta bukan hanya silat asli indonesia saja tetapi juga yang dari luar seperti Karate, taekwondo dan Kuntaw.
        Dan akhirnya Kong Acik berhasil memadukan jurus cingkrig dengan gerak dan tekhnik yang di dapat dari aliran lain tanpa merubah atau menghilangkan jurus dasar cingkrig itu sendiri.
        Maka oleh karena itulah Kong Acik menambahkan nama Gerak Cipta di belakang nama Cingkrig sebagai identiras/ciri dari aliran ini.

        Kong Acik mengembangkan dan mengajarkan Cingkrig Gerak Cipta di wilayah Rawa Belong dan luar Rawa Belong seperti didaerah Rawamangun, Mampang, Bekasi  Tanggerang dan Bogor.
        Saat ini salah satu murid Kong Acik yang masih mengajarkan Cingkrig Gerak Cipta yang juga masih keponakan beliau sendiri yaitu Bang Amri bin H. Abbas

        JURUS – JURUS CINGKRIG GERAK CIPTA

        Konon menurut beberapa sumber, di awal perkembangannya jurus cingkrig hanya berjumlah lima jurus dengan urutan:

        “    1. Langkah Satu
        “    2. Langkah Dua
        “    3. Langkah Tiga
        “    4. Langkah Empat
        “    5. Langkah Lima

        Pada perkembangan selanjutnya menjadi delapan jurus dan kemudian dikembangkan lagi setelah memasukan beberapa gerak tambahan menjadi dua belas jurus, adapun nama-nama jurus dan urutannya berbeda antara aliran Cingkrig yang satu dengan aliran cingkrig lainnya yang berkembang saat ini.

        Ketidak seragaman dan perbedaan baik dalam jurus dan sambut pada cingkrig, dalam perkembangannya bukan masalah yang mendasar bagi yang mendalami Cingkrig itu sendiri, karena flexibilitasnya yang berkembang tergantung kepada siapa Kita belajar/berguru.
        Namun yang paling penting adalah JANGANLAH KITA MELUPAKAN SEJARAH ASAL-USUL CINGKRIG,  yang di bawa dan di kembangkan oleh orang Rawa Belong yakni Ki Ma’ing.

        Jurus-jurus yang di ajarkan dalam Cingkrig Gerak Cipta yaitu;

        1.    Langkah Beset
        2.    Cingkrig
        3.    Buka Satu
        4.    Satu Kurung
        5.    Saup
        6.    Langkah Tiga
        7.    Langkah Empat
        8.    Langkah Lima
        9.    Lok Be
        10.    Singa
        11.    Macan
        12.    Longok

        Di tambah Pancer yang diturunkan setelah menguasai jurus dengan sempurna tapi bukan merupakan jurus ke tigabelas, tetapi hanya sebagai bekal tambahan.

        Didalam Cingkrig Gerak Cipta diajarkan pula Gerak Dasar yang diturunkan sebelum jurus, tujuan dari Gerak Dasar adalah untuk melatih kuda-kuda,  kelincahan tangan dan kaki serta kelenturan tubuh/badan, Gerak Dasar juga difungsikan sebagai pemanasan jurus sebelum menjalankan atau melancarkan jurus Cingkrig.

        Gerak Dasar didalam Cingkrig Gerak Cipta berjumlah tujuhbelas yaitu;

        1.    Gerak Beset Tarik
        2.    Gerak Beset Gedor
        3.    Gerak Pasang Pukul
        4.    Gerak Cingkrig
        5.    Gerak Sangkol
        6.    Gerak Rambet
        7.    Gerak bacok Rimpes
        8.    Gerak Saup
        9.    Gerak kodek
        10.    Gerak Seser
        11.    Gerak Kosrek/Gobrek
        12.    Gerak Tiktuk
        13.    Gerak Bendrong
        14.    Gerak Lokbe
        15.    Gerak Sikut Atas
        16.    Gerak Cakar Macan
        17.    Gerak Longok

        POLA LANGKAH DAN CIRI KHAS

        Setiap langkah dalam Cingkrig Gerak Cipta mengikuti pola empat penjuru di setiap langkah, dijalankan dengan kombinasi gerak tangan dan kaki secara simultan dan hampir bersamaan. Ciri khas adalah kuda-kuda yang rendah, gerak kaki dan tangan yang cepat serta luwes dan tidak Kaku dalam terminologi menggunakan Rasa, serta tenaga pukulan di  ujung, sabetan kaki hampir bersamaan dengan gerakan tangan.

        APLIKASI / SAMBUT

        Dalam Cingkrig Gerak Cipta, Aflikasi/sambut di ajarkan setelah si murid menguasai jurus minimal delapan jurus, aflikasi tidak terpola dan tidak baku, dalam arti aflikasinya tergantung situasi, karena dalam jurus yang dimainkan sudah di latih pola langkah menyerang, menghindar, memukul, menangkis, menjatuhkan dan mematahkan/kuncian.
        Beberapa istilah dalam Aplikasi sambut Cingkrig Gerak Cipta yaitu;

        “    Sambut Gulung
        Bertujuannya melatih gerak tangan dan kaki, kuda-kuda, kelenturan tubuh dalam menyerang dan menghidari serangan.
        “    Sambut Rimpes
        Bertujuan melatih refleks tangan yang dapat dilatih sambil duduk.
        “    Sambut Pintas
        Tujuan berlatih sambut pintas yakni agar dapat melumpuhkan lawan dengan cepat/sekali gebrak

        SISTIM BELAJAR

        Pembelajaran dalam Cingkrig Gerak Cipta adalah berlatih dan melancarkan Gerak Dasar dari satu s/d tujuhbelas, yang kemudian dilanjutkan dengan menjalankan jurus-jurus cingkrig, bilamana sang murid sudah menguasai sampai jurus delapan maka dilanjutkan dengan melatih Sambut yang di barengi dengan melatih jurus berikutnya hingga jurus dua belas, setelah tuntas dan halus jurus satu hingga dua belas di lanjutkan dengan jurus kombinasi atau BOMBANG kemudian di tambah PANCER.

        FILOSOFI

        Di awal perkembangannya, Cingkrig di ajarkan bersamaan/berdampingan dengan belajar ngaji (ilmu Agama Islam), dan oleh karenanya di gunakan sebagai media dakwah. Bagi murid yang ingin belajar cingkrig harus belajar ngaji, jadi pada masa itu bagi yang non Muslim harus masuk Islam terlebih dahulu baru kemudian diajarkan cingkrig.
        Maka dari itu filosopi yang terkandung dalam cingkrig sangat-sangat Islami, seperti yang akan dijelaskan sedikit mengenai filosopi yang terkandung dalam cingkrig Gerak Cipta diantaranya;

        “    Kata Gerak Cipta
        Gerak Cipta melambangkan hubungan makluk dengan sang pencipta (Allah SWT.), karena setiap gerak atau langkah kita tidak bisa dipisahkan dengan sang Pencipta, maka wajib menjalankan apa yang di perintah dan menjauhi apa yang menjadi larangannya.
        “    Lima Langkah dalam Cingkrig
        Lima Langkah melambangkan Sholat Lima Waktu yang wajib didirikan sehari semalam, karena Sholat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar, maka ini dapat berfungsi sebagai peredam emosi dalam cingkrig yang bersifat keras.
        “    Gerak Dasar
        Gerak Dasar yang berjumlah Tujuh belas melambangkan tujuhbelas rokaat dalam sholat wajib.
        “    Jurus
        Jurus dalam Cingkrig Gerak Cipta ada dua belas di tambah satu Pancer melambangkkan tiga belas Rukun Sholat.
        “    Awal Gerak
        Setiap mengawali gerakan Silat Cingkrig Gerak Cipta selalu di awali dan di akhiri dengan mengangkat kedua belah tangan dengan cara telapak tangan menghadap keatas setinggi dada, melambangkan setiap gerak dan langkah diawali dengan Do’a dan di akhiri dengan Syukur

        Demikianlah sekelumit tentang Maenpukulan (Silat) Cingkrig Gerak Cipta yang kami perkenalkan sebagai salah satu khasanah warisan Budaya Masyarakat Betawi, dengan harapan dapat diterima di segala lapisan masyrakat, dan kami sebagai penulis mohon maaf, karena tidak tertutup kemungkinan terjadi kesalahan dan kekhilafan dalam penulisan ini, mengingat minimnya data-data yang kami dapatkan. Namun setidaknya dengan hadirnya tulisan ini, semoga bisa menjadi motivasi bagi generasi muda untuk lebih mencintai budaya sendiri, ditengah gencarnya budaya Asing yang masuk ke Indonesia.

        Rawa belong, 1 April 2011

        Ditulis oleh Zay ibnu Siddiq

         

         

         

        ayo diskusi tentang cingkrig gerak cipta di forum sahabat silat

         




        Tags: , , , , ,


        Artikel Cingkrig Gerak Cipta – Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


          - Powered by BING [2014-02-22 23:12]

          Comments are closed.

          Cingkrig Gerak Cipta – Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong - Silat Indonesia

          Cingkrig Gerak Cipta – Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong.

              [
          in English ]

          May 2nd, 2011 | By | Category: Aliran Silat, Artikel Silat [ in English ]

          CINGKRIG GERAK CIPTA
          MAENPUKULAN KHAS BETAWI RAWA BELONG

          20110502-cingkrig-gerak-cipta-logoMaenpukulan (Silat) Cingkrig Gerak Cipta tidak akan terlepas dari silat Cingkrig pada umumnya serta kampung Rawa Belong sebagai tempat kelahiran dan perkembangannya, demikian juga sebaliknya, keduanya sangat erat dan identik tidak bisa di pisahkan satu sama lainnya, karena tidak dapat dipungkiri bahwa di Rawa Belonglah maenpukulan Cingkrig dilahirkan dan dikembangkan

          Kata Cingkrig berasal dari ungkapan Bahasa Betawi yakni Jingkrak-jingkrik atau Cingkrak-cingkrik yang dapat diartikan gesit dan lincah. Oleh karena itu disetiap gerakan Cingkrig dibutuhkan kegesitan dan kelincahan, hal ini mengacu pada gerakan natural dari gerakan kera yang sangat gesit dan lincah, hingga dikembangkan menjadi sebuah jurus Silat (maenpukulan) yang lincah dan atraktif dalam setiap serangan yang sekaligus merupakan pertahanan dan pertahanan sekaligus juga serangan.
          Kata Cingkrig disini menggunakan hurup “G” pada hurup terakhirnya, bukan Cingkrik yang menggunakan hurup “K” pada hurup terakhirnya, hal ini mengacu pada kebiasaan logat Betawi dimana akhiran hurup “k” bisa berubah jadi “g” seperti kata beduk menjadi bedug, gerobak menjadi gerobag, gubuk menjadi gubug dan lain sebagainya

          GEOGRAFIS

          Rawa Belong adalah sebuah kampung yang terletak di wilayah barat Jakarta dan sekarang telah berkembang menjadi sebuah kelurahan, yakni Kelurahan Sukabumi Utara. Terletak di wilayah Kota Madya Jakarta Barat dengan batas-batas wilayah; sebelah Utara berbatasan dengan kelurahan Kebon Jeruk, sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Sukabumi Selatan (Pos pengumben), sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Pal Merah Utara dan Gerogol Utara, sebelah Barat berbatasan dengan kelurahan Kelapa Dua.

          SOSIO KULTURAL

          Kehidupan masyarakat Rawa Belong rata-rata pada umumnya adalah para pedagang, petani bunga atau tanaman hias, Alim ulama, sopir dan lain sebagainya. Bahasa kesehariannya adalah bahasa daerah Betawi tengah dengan ciri pengucapan vokal “e” untuk kata yang berakhiran vokal “a”, secara umum karakter dan adat-istiadatnya sama dengan masyarakat betawi daerah lainnya, dimana unsur Agama Islam sangat kental mewarnai kehidupan sehari-hari, dan secara geneologis serta akar budaya masyarakat Rawa Belong sangat kental dengan perpaduan budaya Melayu, China dan Arab.

          TOKOH SEJARAH DAN ASAL-USUL

          Bila berbiacara Maen pukulan (Silat) Cingkrig, tidak bisa dipisahlan dengan tokoh yang membawa dan mengembangkan maen pukulan itu sendiri yaitu :  Ki Ma’ing
          Alkisah dimasa lalu, banyak orang Rawa Belong yang menimba dan menuntut ilmu ke daerah Kulon (tidak dapat dipastikan tempatnya) karena berdasarkan informasi dari para orang tua, bahwa daerah Meruya dan Tanggerang sudah dianggap Kulon oleh orang-orang Rawa Belong pada waktu itu. Mereka menimba ilmu dengan belajar Ilmu Agama dan juga Ilmu beladiri, baik itu ilmu olah bathin maupun ilmu olah kanuragan.

          Dari sekian banyak orang Rawa Belong yang menimba ilmu di Kulon, salah satunya adalah Ki Ma’ing, namun belum tuntas belajar, Ki Ma’ing memutuskan untuk kembali ke Rawa Belong. Pada suatu ketika Ki Ma’ing yang sedang berjalan, tongkatnya di rebut oleh seekor Kera milik tetangganya yang ber nama Nyi Saereh, spontan Ki Ma’ing menarik tongkatnya, dan selanjutnya terjadilah perebutan tongkat antara Ki Ma’ing dan Si Kera milik Nyi Saereh, Si Kera tidak mau mengalah begitu saja, dengan sigap dan lincahnya berusaha menarik tongkat Ki Ma’ing dengan di sertai beberapa gerakan serangan dan pertahanan yang menyerupai jurus silat.
          Ki Ma’ing sangat terkesan dengan gerakan Kera tersebut, hampir setiiap hari Ki Ma’ing mendatangi Kera tersebut untuk mempelajari dan menganalisanya, setiap gerakan pertahanan si Kera diiringi dengan serangan yang lincah, dan begitu pula sebaliknya setiap gerakan serangan merupakan juga pertahanan dengan kombinasi antara kaki dan tangan yang begitu gesit dan lincah. Dari pengamatan gerakan natural Kera tersebut serta ketekunannya berlatih, oleh Ki Ma’ing dikembangkan menjadi gerakan jurus silat yang kemudian hari dikenal dengan sebutan CINGKRIG.
          Ki Ma’ing menyebarluaskan dan menularkan jurus-jurusnya itu kepada murid-nuridnya yang pada masa itu mulai di kenal dengan sebutan Maenpukulan Cingkrig, karena sebelumnya orang Rawa belong hanya mengenal Cingkrig dengan sebutan Maenpukul. Ki Ma’ing menurunkan Maenpukulan ini kepada murid-muridnya  diantranya yang di kenal:  Ki Saari,  Ki Ali,  Ki Ajid.

          Ki Saari

          Ki Saari juga turut mengembangkan Maenpukulan Cingkrig dan mengajarkan kepada murid-muridnya, salah satu di antaranya adalah Kong Wahab.
          Kong Wahab juga mengembangkan maenpukulan ini serta mengajarkan kepada murid-muridnya, di antaranya; anaknya sendiri yaitu Babe NUR.

          Ki Ali

          Ki Ali turut mengembangkan maenpukulan Cingkrig serta mengajarkan kepada murid-muridnya yang kebanyakan dari luar Rawa Belong diantaranya;

          “    Ki Sinan yang mengembangkan di wilayah Kebon Jeruk dan sekitarnya dan mempunyai murid diantaranya; Babe Melik,  Babe Entong,  Babe Abu Hasyim.
          “    Ki Goning yang mengembangkan di wilayah Kemanggisan dan sekitarnya dan mempunyai murid diantaranya; Babe Hamdan,  Babe Usup Utay dan sekarang di kembangkan oleh Bapak Tubagus Bambang.
          “    Ki Legot yang mengmbangkan di wilayah Muara Angke, Pesing dan sekitarnya.
          “    Ki Sakam yang mengembangkan di wilayah Depok dan sekitarnya dan sekarang di kembangkan oleh Babe Popon

          Ki Ajid

          Ki Ajid turut mengembangkan maenpukulan cingkrig di daerah Rawabelong dan mengajarkan kepada murid-muridnya diantaranya;

          “    Kong Uming yang mengembangkan dan mengajarkan kepada murid-muridnya diantaranya; Babe Nunung,  Babe Hasan Kumis,  Babe Akib. Dan yang masih mengembangkan serta mengajarkan maenpukulan Cingkrig dari Kong Uming saat ini diantaranya; Babe Warno,  Babe Manaf,  dan masih ada yang lainnya yang belum di ketahui oleh penulis.
          “    Kong Hayat yang mengembaqngkan dan mengajarkan kepada murid-muridnya di antaranya; Kong Majid,  Kong Acik (Munasik), dan yang masih mengembangkan dan mengajarkan maenpukulan cingkrig dari Kong Hayat  saat ini di antaranya; Bang Satria Jaya

          CINGKRIG GERAK CIPTA

          Membicarakan tentang Cingkrig Gerak Cipta tidak terlepas dari tokoh yang memberi nama Gerak Cipta  dibelakang kata Cingkrig yaitu Kong Acik (Munasik bin Hamim).
          Kong Acik pertama kali belajar cingkrig kepada Kong Hayat karena kemauan dan tekadnya yang keras untuk mengetahui cingkrig lebih dalam, kong Acik memperdalam pelajarannya kepada Ki Ajid, Ki Saari dan juga Ki Ali.
          Belum puas dengan hasil yang di dapatkannya, Kong Acik sering bersilaturahmi ke berbagai perguruan aliran lain untuk menambah pengetahuan dan pengalaman.
          Perguruan yang di kunjungi bukan Cuma yang di Jakarta saja, tetapi sampai ke Tanggerang, Depok, Bekasi bahkan sampai Cianjur dan Garut, serta bukan hanya silat asli indonesia saja tetapi juga yang dari luar seperti Karate, taekwondo dan Kuntaw.
          Dan akhirnya Kong Acik berhasil memadukan jurus cingkrig dengan gerak dan tekhnik yang di dapat dari aliran lain tanpa merubah atau menghilangkan jurus dasar cingkrig itu sendiri.
          Maka oleh karena itulah Kong Acik menambahkan nama Gerak Cipta di belakang nama Cingkrig sebagai identiras/ciri dari aliran ini.

          Kong Acik mengembangkan dan mengajarkan Cingkrig Gerak Cipta di wilayah Rawa Belong dan luar Rawa Belong seperti didaerah Rawamangun, Mampang, Bekasi  Tanggerang dan Bogor.
          Saat ini salah satu murid Kong Acik yang masih mengajarkan Cingkrig Gerak Cipta yang juga masih keponakan beliau sendiri yaitu Bang Amri bin H. Abbas

          JURUS – JURUS CINGKRIG GERAK CIPTA

          Konon menurut beberapa sumber, di awal perkembangannya jurus cingkrig hanya berjumlah lima jurus dengan urutan:

          “    1. Langkah Satu
          “    2. Langkah Dua
          “    3. Langkah Tiga
          “    4. Langkah Empat
          “    5. Langkah Lima

          Pada perkembangan selanjutnya menjadi delapan jurus dan kemudian dikembangkan lagi setelah memasukan beberapa gerak tambahan menjadi dua belas jurus, adapun nama-nama jurus dan urutannya berbeda antara aliran Cingkrig yang satu dengan aliran cingkrig lainnya yang berkembang saat ini.

          Ketidak seragaman dan perbedaan baik dalam jurus dan sambut pada cingkrig, dalam perkembangannya bukan masalah yang mendasar bagi yang mendalami Cingkrig itu sendiri, karena flexibilitasnya yang berkembang tergantung kepada siapa Kita belajar/berguru.
          Namun yang paling penting adalah JANGANLAH KITA MELUPAKAN SEJARAH ASAL-USUL CINGKRIG,  yang di bawa dan di kembangkan oleh orang Rawa Belong yakni Ki Ma’ing.

          Jurus-jurus yang di ajarkan dalam Cingkrig Gerak Cipta yaitu;

          1.    Langkah Beset
          2.    Cingkrig
          3.    Buka Satu
          4.    Satu Kurung
          5.    Saup
          6.    Langkah Tiga
          7.    Langkah Empat
          8.    Langkah Lima
          9.    Lok Be
          10.    Singa
          11.    Macan
          12.    Longok

          Di tambah Pancer yang diturunkan setelah menguasai jurus dengan sempurna tapi bukan merupakan jurus ke tigabelas, tetapi hanya sebagai bekal tambahan.

          Didalam Cingkrig Gerak Cipta diajarkan pula Gerak Dasar yang diturunkan sebelum jurus, tujuan dari Gerak Dasar adalah untuk melatih kuda-kuda,  kelincahan tangan dan kaki serta kelenturan tubuh/badan, Gerak Dasar juga difungsikan sebagai pemanasan jurus sebelum menjalankan atau melancarkan jurus Cingkrig.

          Gerak Dasar didalam Cingkrig Gerak Cipta berjumlah tujuhbelas yaitu;

          1.    Gerak Beset Tarik
          2.    Gerak Beset Gedor
          3.    Gerak Pasang Pukul
          4.    Gerak Cingkrig
          5.    Gerak Sangkol
          6.    Gerak Rambet
          7.    Gerak bacok Rimpes
          8.    Gerak Saup
          9.    Gerak kodek
          10.    Gerak Seser
          11.    Gerak Kosrek/Gobrek
          12.    Gerak Tiktuk
          13.    Gerak Bendrong
          14.    Gerak Lokbe
          15.    Gerak Sikut Atas
          16.    Gerak Cakar Macan
          17.    Gerak Longok

          POLA LANGKAH DAN CIRI KHAS

          Setiap langkah dalam Cingkrig Gerak Cipta mengikuti pola empat penjuru di setiap langkah, dijalankan dengan kombinasi gerak tangan dan kaki secara simultan dan hampir bersamaan. Ciri khas adalah kuda-kuda yang rendah, gerak kaki dan tangan yang cepat serta luwes dan tidak Kaku dalam terminologi menggunakan Rasa, serta tenaga pukulan di  ujung, sabetan kaki hampir bersamaan dengan gerakan tangan.

          APLIKASI / SAMBUT

          Dalam Cingkrig Gerak Cipta, Aflikasi/sambut di ajarkan setelah si murid menguasai jurus minimal delapan jurus, aflikasi tidak terpola dan tidak baku, dalam arti aflikasinya tergantung situasi, karena dalam jurus yang dimainkan sudah di latih pola langkah menyerang, menghindar, memukul, menangkis, menjatuhkan dan mematahkan/kuncian.
          Beberapa istilah dalam Aplikasi sambut Cingkrig Gerak Cipta yaitu;

          “    Sambut Gulung
          Bertujuannya melatih gerak tangan dan kaki, kuda-kuda, kelenturan tubuh dalam menyerang dan menghidari serangan.
          “    Sambut Rimpes
          Bertujuan melatih refleks tangan yang dapat dilatih sambil duduk.
          “    Sambut Pintas
          Tujuan berlatih sambut pintas yakni agar dapat melumpuhkan lawan dengan cepat/sekali gebrak

          SISTIM BELAJAR

          Pembelajaran dalam Cingkrig Gerak Cipta adalah berlatih dan melancarkan Gerak Dasar dari satu s/d tujuhbelas, yang kemudian dilanjutkan dengan menjalankan jurus-jurus cingkrig, bilamana sang murid sudah menguasai sampai jurus delapan maka dilanjutkan dengan melatih Sambut yang di barengi dengan melatih jurus berikutnya hingga jurus dua belas, setelah tuntas dan halus jurus satu hingga dua belas di lanjutkan dengan jurus kombinasi atau BOMBANG kemudian di tambah PANCER.

          FILOSOFI

          Di awal perkembangannya, Cingkrig di ajarkan bersamaan/berdampingan dengan belajar ngaji (ilmu Agama Islam), dan oleh karenanya di gunakan sebagai media dakwah. Bagi murid yang ingin belajar cingkrig harus belajar ngaji, jadi pada masa itu bagi yang non Muslim harus masuk Islam terlebih dahulu baru kemudian diajarkan cingkrig.
          Maka dari itu filosopi yang terkandung dalam cingkrig sangat-sangat Islami, seperti yang akan dijelaskan sedikit mengenai filosopi yang terkandung dalam cingkrig Gerak Cipta diantaranya;

          “    Kata Gerak Cipta
          Gerak Cipta melambangkan hubungan makluk dengan sang pencipta (Allah SWT.), karena setiap gerak atau langkah kita tidak bisa dipisahkan dengan sang Pencipta, maka wajib menjalankan apa yang di perintah dan menjauhi apa yang menjadi larangannya.
          “    Lima Langkah dalam Cingkrig
          Lima Langkah melambangkan Sholat Lima Waktu yang wajib didirikan sehari semalam, karena Sholat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar, maka ini dapat berfungsi sebagai peredam emosi dalam cingkrig yang bersifat keras.
          “    Gerak Dasar
          Gerak Dasar yang berjumlah Tujuh belas melambangkan tujuhbelas rokaat dalam sholat wajib.
          “    Jurus
          Jurus dalam Cingkrig Gerak Cipta ada dua belas di tambah satu Pancer melambangkkan tiga belas Rukun Sholat.
          “    Awal Gerak
          Setiap mengawali gerakan Silat Cingkrig Gerak Cipta selalu di awali dan di akhiri dengan mengangkat kedua belah tangan dengan cara telapak tangan menghadap keatas setinggi dada, melambangkan setiap gerak dan langkah diawali dengan Do’a dan di akhiri dengan Syukur

          Demikianlah sekelumit tentang Maenpukulan (Silat) Cingkrig Gerak Cipta yang kami perkenalkan sebagai salah satu khasanah warisan Budaya Masyarakat Betawi, dengan harapan dapat diterima di segala lapisan masyrakat, dan kami sebagai penulis mohon maaf, karena tidak tertutup kemungkinan terjadi kesalahan dan kekhilafan dalam penulisan ini, mengingat minimnya data-data yang kami dapatkan. Namun setidaknya dengan hadirnya tulisan ini, semoga bisa menjadi motivasi bagi generasi muda untuk lebih mencintai budaya sendiri, ditengah gencarnya budaya Asing yang masuk ke Indonesia.

          Rawa belong, 1 April 2011

          Ditulis oleh Zay ibnu Siddiq

           

           

           

          ayo diskusi tentang cingkrig gerak cipta di forum sahabat silat

           




          Tags: , , , , ,


          Artikel Cingkrig Gerak Cipta – Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


            - Powered by BING [2014-02-26 08:11]

            Comments are closed.

            Cingkrig Gerak Cipta – Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong - Silat Indonesia

            Cingkrig Gerak Cipta – Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong.

                [
            in English ]

            May 2nd, 2011 | By | Category: Aliran Silat, Artikel Silat [ in English ]

            CINGKRIG GERAK CIPTA
            MAENPUKULAN KHAS BETAWI RAWA BELONG

            20110502-cingkrig-gerak-cipta-logoMaenpukulan (Silat) Cingkrig Gerak Cipta tidak akan terlepas dari silat Cingkrig pada umumnya serta kampung Rawa Belong sebagai tempat kelahiran dan perkembangannya, demikian juga sebaliknya, keduanya sangat erat dan identik tidak bisa di pisahkan satu sama lainnya, karena tidak dapat dipungkiri bahwa di Rawa Belonglah maenpukulan Cingkrig dilahirkan dan dikembangkan

            Kata Cingkrig berasal dari ungkapan Bahasa Betawi yakni Jingkrak-jingkrik atau Cingkrak-cingkrik yang dapat diartikan gesit dan lincah. Oleh karena itu disetiap gerakan Cingkrig dibutuhkan kegesitan dan kelincahan, hal ini mengacu pada gerakan natural dari gerakan kera yang sangat gesit dan lincah, hingga dikembangkan menjadi sebuah jurus Silat (maenpukulan) yang lincah dan atraktif dalam setiap serangan yang sekaligus merupakan pertahanan dan pertahanan sekaligus juga serangan.
            Kata Cingkrig disini menggunakan hurup “G” pada hurup terakhirnya, bukan Cingkrik yang menggunakan hurup “K” pada hurup terakhirnya, hal ini mengacu pada kebiasaan logat Betawi dimana akhiran hurup “k” bisa berubah jadi “g” seperti kata beduk menjadi bedug, gerobak menjadi gerobag, gubuk menjadi gubug dan lain sebagainya

            GEOGRAFIS

            Rawa Belong adalah sebuah kampung yang terletak di wilayah barat Jakarta dan sekarang telah berkembang menjadi sebuah kelurahan, yakni Kelurahan Sukabumi Utara. Terletak di wilayah Kota Madya Jakarta Barat dengan batas-batas wilayah; sebelah Utara berbatasan dengan kelurahan Kebon Jeruk, sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Sukabumi Selatan (Pos pengumben), sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Pal Merah Utara dan Gerogol Utara, sebelah Barat berbatasan dengan kelurahan Kelapa Dua.

            SOSIO KULTURAL

            Kehidupan masyarakat Rawa Belong rata-rata pada umumnya adalah para pedagang, petani bunga atau tanaman hias, Alim ulama, sopir dan lain sebagainya. Bahasa kesehariannya adalah bahasa daerah Betawi tengah dengan ciri pengucapan vokal “e” untuk kata yang berakhiran vokal “a”, secara umum karakter dan adat-istiadatnya sama dengan masyarakat betawi daerah lainnya, dimana unsur Agama Islam sangat kental mewarnai kehidupan sehari-hari, dan secara geneologis serta akar budaya masyarakat Rawa Belong sangat kental dengan perpaduan budaya Melayu, China dan Arab.

            TOKOH SEJARAH DAN ASAL-USUL

            Bila berbiacara Maen pukulan (Silat) Cingkrig, tidak bisa dipisahlan dengan tokoh yang membawa dan mengembangkan maen pukulan itu sendiri yaitu :  Ki Ma’ing
            Alkisah dimasa lalu, banyak orang Rawa Belong yang menimba dan menuntut ilmu ke daerah Kulon (tidak dapat dipastikan tempatnya) karena berdasarkan informasi dari para orang tua, bahwa daerah Meruya dan Tanggerang sudah dianggap Kulon oleh orang-orang Rawa Belong pada waktu itu. Mereka menimba ilmu dengan belajar Ilmu Agama dan juga Ilmu beladiri, baik itu ilmu olah bathin maupun ilmu olah kanuragan.

            Dari sekian banyak orang Rawa Belong yang menimba ilmu di Kulon, salah satunya adalah Ki Ma’ing, namun belum tuntas belajar, Ki Ma’ing memutuskan untuk kembali ke Rawa Belong. Pada suatu ketika Ki Ma’ing yang sedang berjalan, tongkatnya di rebut oleh seekor Kera milik tetangganya yang ber nama Nyi Saereh, spontan Ki Ma’ing menarik tongkatnya, dan selanjutnya terjadilah perebutan tongkat antara Ki Ma’ing dan Si Kera milik Nyi Saereh, Si Kera tidak mau mengalah begitu saja, dengan sigap dan lincahnya berusaha menarik tongkat Ki Ma’ing dengan di sertai beberapa gerakan serangan dan pertahanan yang menyerupai jurus silat.
            Ki Ma’ing sangat terkesan dengan gerakan Kera tersebut, hampir setiiap hari Ki Ma’ing mendatangi Kera tersebut untuk mempelajari dan menganalisanya, setiap gerakan pertahanan si Kera diiringi dengan serangan yang lincah, dan begitu pula sebaliknya setiap gerakan serangan merupakan juga pertahanan dengan kombinasi antara kaki dan tangan yang begitu gesit dan lincah. Dari pengamatan gerakan natural Kera tersebut serta ketekunannya berlatih, oleh Ki Ma’ing dikembangkan menjadi gerakan jurus silat yang kemudian hari dikenal dengan sebutan CINGKRIG.
            Ki Ma’ing menyebarluaskan dan menularkan jurus-jurusnya itu kepada murid-nuridnya yang pada masa itu mulai di kenal dengan sebutan Maenpukulan Cingkrig, karena sebelumnya orang Rawa belong hanya mengenal Cingkrig dengan sebutan Maenpukul. Ki Ma’ing menurunkan Maenpukulan ini kepada murid-muridnya  diantranya yang di kenal:  Ki Saari,  Ki Ali,  Ki Ajid.

            Ki Saari

            Ki Saari juga turut mengembangkan Maenpukulan Cingkrig dan mengajarkan kepada murid-muridnya, salah satu di antaranya adalah Kong Wahab.
            Kong Wahab juga mengembangkan maenpukulan ini serta mengajarkan kepada murid-muridnya, di antaranya; anaknya sendiri yaitu Babe NUR.

            Ki Ali

            Ki Ali turut mengembangkan maenpukulan Cingkrig serta mengajarkan kepada murid-muridnya yang kebanyakan dari luar Rawa Belong diantaranya;

            “    Ki Sinan yang mengembangkan di wilayah Kebon Jeruk dan sekitarnya dan mempunyai murid diantaranya; Babe Melik,  Babe Entong,  Babe Abu Hasyim.
            “    Ki Goning yang mengembangkan di wilayah Kemanggisan dan sekitarnya dan mempunyai murid diantaranya; Babe Hamdan,  Babe Usup Utay dan sekarang di kembangkan oleh Bapak Tubagus Bambang.
            “    Ki Legot yang mengmbangkan di wilayah Muara Angke, Pesing dan sekitarnya.
            “    Ki Sakam yang mengembangkan di wilayah Depok dan sekitarnya dan sekarang di kembangkan oleh Babe Popon

            Ki Ajid

            Ki Ajid turut mengembangkan maenpukulan cingkrig di daerah Rawabelong dan mengajarkan kepada murid-muridnya diantaranya;

            “    Kong Uming yang mengembangkan dan mengajarkan kepada murid-muridnya diantaranya; Babe Nunung,  Babe Hasan Kumis,  Babe Akib. Dan yang masih mengembangkan serta mengajarkan maenpukulan Cingkrig dari Kong Uming saat ini diantaranya; Babe Warno,  Babe Manaf,  dan masih ada yang lainnya yang belum di ketahui oleh penulis.
            “    Kong Hayat yang mengembaqngkan dan mengajarkan kepada murid-muridnya di antaranya; Kong Majid,  Kong Acik (Munasik), dan yang masih mengembangkan dan mengajarkan maenpukulan cingkrig dari Kong Hayat  saat ini di antaranya; Bang Satria Jaya

            CINGKRIG GERAK CIPTA

            Membicarakan tentang Cingkrig Gerak Cipta tidak terlepas dari tokoh yang memberi nama Gerak Cipta  dibelakang kata Cingkrig yaitu Kong Acik (Munasik bin Hamim).
            Kong Acik pertama kali belajar cingkrig kepada Kong Hayat karena kemauan dan tekadnya yang keras untuk mengetahui cingkrig lebih dalam, kong Acik memperdalam pelajarannya kepada Ki Ajid, Ki Saari dan juga Ki Ali.
            Belum puas dengan hasil yang di dapatkannya, Kong Acik sering bersilaturahmi ke berbagai perguruan aliran lain untuk menambah pengetahuan dan pengalaman.
            Perguruan yang di kunjungi bukan Cuma yang di Jakarta saja, tetapi sampai ke Tanggerang, Depok, Bekasi bahkan sampai Cianjur dan Garut, serta bukan hanya silat asli indonesia saja tetapi juga yang dari luar seperti Karate, taekwondo dan Kuntaw.
            Dan akhirnya Kong Acik berhasil memadukan jurus cingkrig dengan gerak dan tekhnik yang di dapat dari aliran lain tanpa merubah atau menghilangkan jurus dasar cingkrig itu sendiri.
            Maka oleh karena itulah Kong Acik menambahkan nama Gerak Cipta di belakang nama Cingkrig sebagai identiras/ciri dari aliran ini.

            Kong Acik mengembangkan dan mengajarkan Cingkrig Gerak Cipta di wilayah Rawa Belong dan luar Rawa Belong seperti didaerah Rawamangun, Mampang, Bekasi  Tanggerang dan Bogor.
            Saat ini salah satu murid Kong Acik yang masih mengajarkan Cingkrig Gerak Cipta yang juga masih keponakan beliau sendiri yaitu Bang Amri bin H. Abbas

            JURUS – JURUS CINGKRIG GERAK CIPTA

            Konon menurut beberapa sumber, di awal perkembangannya jurus cingkrig hanya berjumlah lima jurus dengan urutan:

            “    1. Langkah Satu
            “    2. Langkah Dua
            “    3. Langkah Tiga
            “    4. Langkah Empat
            “    5. Langkah Lima

            Pada perkembangan selanjutnya menjadi delapan jurus dan kemudian dikembangkan lagi setelah memasukan beberapa gerak tambahan menjadi dua belas jurus, adapun nama-nama jurus dan urutannya berbeda antara aliran Cingkrig yang satu dengan aliran cingkrig lainnya yang berkembang saat ini.

            Ketidak seragaman dan perbedaan baik dalam jurus dan sambut pada cingkrig, dalam perkembangannya bukan masalah yang mendasar bagi yang mendalami Cingkrig itu sendiri, karena flexibilitasnya yang berkembang tergantung kepada siapa Kita belajar/berguru.
            Namun yang paling penting adalah JANGANLAH KITA MELUPAKAN SEJARAH ASAL-USUL CINGKRIG,  yang di bawa dan di kembangkan oleh orang Rawa Belong yakni Ki Ma’ing.

            Jurus-jurus yang di ajarkan dalam Cingkrig Gerak Cipta yaitu;

            1.    Langkah Beset
            2.    Cingkrig
            3.    Buka Satu
            4.    Satu Kurung
            5.    Saup
            6.    Langkah Tiga
            7.    Langkah Empat
            8.    Langkah Lima
            9.    Lok Be
            10.    Singa
            11.    Macan
            12.    Longok

            Di tambah Pancer yang diturunkan setelah menguasai jurus dengan sempurna tapi bukan merupakan jurus ke tigabelas, tetapi hanya sebagai bekal tambahan.

            Didalam Cingkrig Gerak Cipta diajarkan pula Gerak Dasar yang diturunkan sebelum jurus, tujuan dari Gerak Dasar adalah untuk melatih kuda-kuda,  kelincahan tangan dan kaki serta kelenturan tubuh/badan, Gerak Dasar juga difungsikan sebagai pemanasan jurus sebelum menjalankan atau melancarkan jurus Cingkrig.

            Gerak Dasar didalam Cingkrig Gerak Cipta berjumlah tujuhbelas yaitu;

            1.    Gerak Beset Tarik
            2.    Gerak Beset Gedor
            3.    Gerak Pasang Pukul
            4.    Gerak Cingkrig
            5.    Gerak Sangkol
            6.    Gerak Rambet
            7.    Gerak bacok Rimpes
            8.    Gerak Saup
            9.    Gerak kodek
            10.    Gerak Seser
            11.    Gerak Kosrek/Gobrek
            12.    Gerak Tiktuk
            13.    Gerak Bendrong
            14.    Gerak Lokbe
            15.    Gerak Sikut Atas
            16.    Gerak Cakar Macan
            17.    Gerak Longok

            POLA LANGKAH DAN CIRI KHAS

            Setiap langkah dalam Cingkrig Gerak Cipta mengikuti pola empat penjuru di setiap langkah, dijalankan dengan kombinasi gerak tangan dan kaki secara simultan dan hampir bersamaan. Ciri khas adalah kuda-kuda yang rendah, gerak kaki dan tangan yang cepat serta luwes dan tidak Kaku dalam terminologi menggunakan Rasa, serta tenaga pukulan di  ujung, sabetan kaki hampir bersamaan dengan gerakan tangan.

            APLIKASI / SAMBUT

            Dalam Cingkrig Gerak Cipta, Aflikasi/sambut di ajarkan setelah si murid menguasai jurus minimal delapan jurus, aflikasi tidak terpola dan tidak baku, dalam arti aflikasinya tergantung situasi, karena dalam jurus yang dimainkan sudah di latih pola langkah menyerang, menghindar, memukul, menangkis, menjatuhkan dan mematahkan/kuncian.
            Beberapa istilah dalam Aplikasi sambut Cingkrig Gerak Cipta yaitu;

            “    Sambut Gulung
            Bertujuannya melatih gerak tangan dan kaki, kuda-kuda, kelenturan tubuh dalam menyerang dan menghidari serangan.
            “    Sambut Rimpes
            Bertujuan melatih refleks tangan yang dapat dilatih sambil duduk.
            “    Sambut Pintas
            Tujuan berlatih sambut pintas yakni agar dapat melumpuhkan lawan dengan cepat/sekali gebrak

            SISTIM BELAJAR

            Pembelajaran dalam Cingkrig Gerak Cipta adalah berlatih dan melancarkan Gerak Dasar dari satu s/d tujuhbelas, yang kemudian dilanjutkan dengan menjalankan jurus-jurus cingkrig, bilamana sang murid sudah menguasai sampai jurus delapan maka dilanjutkan dengan melatih Sambut yang di barengi dengan melatih jurus berikutnya hingga jurus dua belas, setelah tuntas dan halus jurus satu hingga dua belas di lanjutkan dengan jurus kombinasi atau BOMBANG kemudian di tambah PANCER.

            FILOSOFI

            Di awal perkembangannya, Cingkrig di ajarkan bersamaan/berdampingan dengan belajar ngaji (ilmu Agama Islam), dan oleh karenanya di gunakan sebagai media dakwah. Bagi murid yang ingin belajar cingkrig harus belajar ngaji, jadi pada masa itu bagi yang non Muslim harus masuk Islam terlebih dahulu baru kemudian diajarkan cingkrig.
            Maka dari itu filosopi yang terkandung dalam cingkrig sangat-sangat Islami, seperti yang akan dijelaskan sedikit mengenai filosopi yang terkandung dalam cingkrig Gerak Cipta diantaranya;

            “    Kata Gerak Cipta
            Gerak Cipta melambangkan hubungan makluk dengan sang pencipta (Allah SWT.), karena setiap gerak atau langkah kita tidak bisa dipisahkan dengan sang Pencipta, maka wajib menjalankan apa yang di perintah dan menjauhi apa yang menjadi larangannya.
            “    Lima Langkah dalam Cingkrig
            Lima Langkah melambangkan Sholat Lima Waktu yang wajib didirikan sehari semalam, karena Sholat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar, maka ini dapat berfungsi sebagai peredam emosi dalam cingkrig yang bersifat keras.
            “    Gerak Dasar
            Gerak Dasar yang berjumlah Tujuh belas melambangkan tujuhbelas rokaat dalam sholat wajib.
            “    Jurus
            Jurus dalam Cingkrig Gerak Cipta ada dua belas di tambah satu Pancer melambangkkan tiga belas Rukun Sholat.
            “    Awal Gerak
            Setiap mengawali gerakan Silat Cingkrig Gerak Cipta selalu di awali dan di akhiri dengan mengangkat kedua belah tangan dengan cara telapak tangan menghadap keatas setinggi dada, melambangkan setiap gerak dan langkah diawali dengan Do’a dan di akhiri dengan Syukur

            Demikianlah sekelumit tentang Maenpukulan (Silat) Cingkrig Gerak Cipta yang kami perkenalkan sebagai salah satu khasanah warisan Budaya Masyarakat Betawi, dengan harapan dapat diterima di segala lapisan masyrakat, dan kami sebagai penulis mohon maaf, karena tidak tertutup kemungkinan terjadi kesalahan dan kekhilafan dalam penulisan ini, mengingat minimnya data-data yang kami dapatkan. Namun setidaknya dengan hadirnya tulisan ini, semoga bisa menjadi motivasi bagi generasi muda untuk lebih mencintai budaya sendiri, ditengah gencarnya budaya Asing yang masuk ke Indonesia.

            Rawa belong, 1 April 2011

            Ditulis oleh Zay ibnu Siddiq

             

             

             

            ayo diskusi tentang cingkrig gerak cipta di forum sahabat silat

             




            Tags: , , , , ,


            Artikel Cingkrig Gerak Cipta – Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


              - Powered by BING [2014-03-06 07:23]

              Comments are closed.

              Cingkrig Gerak Cipta – Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong - Silat Indonesia

              Cingkrig Gerak Cipta – Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong.

                  [
              in English ]

              May 2nd, 2011 | By | Category: Aliran Silat, Artikel Silat [ in English ]

              CINGKRIG GERAK CIPTA
              MAENPUKULAN KHAS BETAWI RAWA BELONG

              20110502-cingkrig-gerak-cipta-logoMaenpukulan (Silat) Cingkrig Gerak Cipta tidak akan terlepas dari silat Cingkrig pada umumnya serta kampung Rawa Belong sebagai tempat kelahiran dan perkembangannya, demikian juga sebaliknya, keduanya sangat erat dan identik tidak bisa di pisahkan satu sama lainnya, karena tidak dapat dipungkiri bahwa di Rawa Belonglah maenpukulan Cingkrig dilahirkan dan dikembangkan

              Kata Cingkrig berasal dari ungkapan Bahasa Betawi yakni Jingkrak-jingkrik atau Cingkrak-cingkrik yang dapat diartikan gesit dan lincah. Oleh karena itu disetiap gerakan Cingkrig dibutuhkan kegesitan dan kelincahan, hal ini mengacu pada gerakan natural dari gerakan kera yang sangat gesit dan lincah, hingga dikembangkan menjadi sebuah jurus Silat (maenpukulan) yang lincah dan atraktif dalam setiap serangan yang sekaligus merupakan pertahanan dan pertahanan sekaligus juga serangan.
              Kata Cingkrig disini menggunakan hurup “G” pada hurup terakhirnya, bukan Cingkrik yang menggunakan hurup “K” pada hurup terakhirnya, hal ini mengacu pada kebiasaan logat Betawi dimana akhiran hurup “k” bisa berubah jadi “g” seperti kata beduk menjadi bedug, gerobak menjadi gerobag, gubuk menjadi gubug dan lain sebagainya

              GEOGRAFIS

              Rawa Belong adalah sebuah kampung yang terletak di wilayah barat Jakarta dan sekarang telah berkembang menjadi sebuah kelurahan, yakni Kelurahan Sukabumi Utara. Terletak di wilayah Kota Madya Jakarta Barat dengan batas-batas wilayah; sebelah Utara berbatasan dengan kelurahan Kebon Jeruk, sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Sukabumi Selatan (Pos pengumben), sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Pal Merah Utara dan Gerogol Utara, sebelah Barat berbatasan dengan kelurahan Kelapa Dua.

              SOSIO KULTURAL

              Kehidupan masyarakat Rawa Belong rata-rata pada umumnya adalah para pedagang, petani bunga atau tanaman hias, Alim ulama, sopir dan lain sebagainya. Bahasa kesehariannya adalah bahasa daerah Betawi tengah dengan ciri pengucapan vokal “e” untuk kata yang berakhiran vokal “a”, secara umum karakter dan adat-istiadatnya sama dengan masyarakat betawi daerah lainnya, dimana unsur Agama Islam sangat kental mewarnai kehidupan sehari-hari, dan secara geneologis serta akar budaya masyarakat Rawa Belong sangat kental dengan perpaduan budaya Melayu, China dan Arab.

              TOKOH SEJARAH DAN ASAL-USUL

              Bila berbiacara Maen pukulan (Silat) Cingkrig, tidak bisa dipisahlan dengan tokoh yang membawa dan mengembangkan maen pukulan itu sendiri yaitu :  Ki Ma’ing
              Alkisah dimasa lalu, banyak orang Rawa Belong yang menimba dan menuntut ilmu ke daerah Kulon (tidak dapat dipastikan tempatnya) karena berdasarkan informasi dari para orang tua, bahwa daerah Meruya dan Tanggerang sudah dianggap Kulon oleh orang-orang Rawa Belong pada waktu itu. Mereka menimba ilmu dengan belajar Ilmu Agama dan juga Ilmu beladiri, baik itu ilmu olah bathin maupun ilmu olah kanuragan.

              Dari sekian banyak orang Rawa Belong yang menimba ilmu di Kulon, salah satunya adalah Ki Ma’ing, namun belum tuntas belajar, Ki Ma’ing memutuskan untuk kembali ke Rawa Belong. Pada suatu ketika Ki Ma’ing yang sedang berjalan, tongkatnya di rebut oleh seekor Kera milik tetangganya yang ber nama Nyi Saereh, spontan Ki Ma’ing menarik tongkatnya, dan selanjutnya terjadilah perebutan tongkat antara Ki Ma’ing dan Si Kera milik Nyi Saereh, Si Kera tidak mau mengalah begitu saja, dengan sigap dan lincahnya berusaha menarik tongkat Ki Ma’ing dengan di sertai beberapa gerakan serangan dan pertahanan yang menyerupai jurus silat.
              Ki Ma’ing sangat terkesan dengan gerakan Kera tersebut, hampir setiiap hari Ki Ma’ing mendatangi Kera tersebut untuk mempelajari dan menganalisanya, setiap gerakan pertahanan si Kera diiringi dengan serangan yang lincah, dan begitu pula sebaliknya setiap gerakan serangan merupakan juga pertahanan dengan kombinasi antara kaki dan tangan yang begitu gesit dan lincah. Dari pengamatan gerakan natural Kera tersebut serta ketekunannya berlatih, oleh Ki Ma’ing dikembangkan menjadi gerakan jurus silat yang kemudian hari dikenal dengan sebutan CINGKRIG.
              Ki Ma’ing menyebarluaskan dan menularkan jurus-jurusnya itu kepada murid-nuridnya yang pada masa itu mulai di kenal dengan sebutan Maenpukulan Cingkrig, karena sebelumnya orang Rawa belong hanya mengenal Cingkrig dengan sebutan Maenpukul. Ki Ma’ing menurunkan Maenpukulan ini kepada murid-muridnya  diantranya yang di kenal:  Ki Saari,  Ki Ali,  Ki Ajid.

              Ki Saari

              Ki Saari juga turut mengembangkan Maenpukulan Cingkrig dan mengajarkan kepada murid-muridnya, salah satu di antaranya adalah Kong Wahab.
              Kong Wahab juga mengembangkan maenpukulan ini serta mengajarkan kepada murid-muridnya, di antaranya; anaknya sendiri yaitu Babe NUR.

              Ki Ali

              Ki Ali turut mengembangkan maenpukulan Cingkrig serta mengajarkan kepada murid-muridnya yang kebanyakan dari luar Rawa Belong diantaranya;

              “    Ki Sinan yang mengembangkan di wilayah Kebon Jeruk dan sekitarnya dan mempunyai murid diantaranya; Babe Melik,  Babe Entong,  Babe Abu Hasyim.
              “    Ki Goning yang mengembangkan di wilayah Kemanggisan dan sekitarnya dan mempunyai murid diantaranya; Babe Hamdan,  Babe Usup Utay dan sekarang di kembangkan oleh Bapak Tubagus Bambang.
              “    Ki Legot yang mengmbangkan di wilayah Muara Angke, Pesing dan sekitarnya.
              “    Ki Sakam yang mengembangkan di wilayah Depok dan sekitarnya dan sekarang di kembangkan oleh Babe Popon

              Ki Ajid

              Ki Ajid turut mengembangkan maenpukulan cingkrig di daerah Rawabelong dan mengajarkan kepada murid-muridnya diantaranya;

              “    Kong Uming yang mengembangkan dan mengajarkan kepada murid-muridnya diantaranya; Babe Nunung,  Babe Hasan Kumis,  Babe Akib. Dan yang masih mengembangkan serta mengajarkan maenpukulan Cingkrig dari Kong Uming saat ini diantaranya; Babe Warno,  Babe Manaf,  dan masih ada yang lainnya yang belum di ketahui oleh penulis.
              “    Kong Hayat yang mengembaqngkan dan mengajarkan kepada murid-muridnya di antaranya; Kong Majid,  Kong Acik (Munasik), dan yang masih mengembangkan dan mengajarkan maenpukulan cingkrig dari Kong Hayat  saat ini di antaranya; Bang Satria Jaya

              CINGKRIG GERAK CIPTA

              Membicarakan tentang Cingkrig Gerak Cipta tidak terlepas dari tokoh yang memberi nama Gerak Cipta  dibelakang kata Cingkrig yaitu Kong Acik (Munasik bin Hamim).
              Kong Acik pertama kali belajar cingkrig kepada Kong Hayat karena kemauan dan tekadnya yang keras untuk mengetahui cingkrig lebih dalam, kong Acik memperdalam pelajarannya kepada Ki Ajid, Ki Saari dan juga Ki Ali.
              Belum puas dengan hasil yang di dapatkannya, Kong Acik sering bersilaturahmi ke berbagai perguruan aliran lain untuk menambah pengetahuan dan pengalaman.
              Perguruan yang di kunjungi bukan Cuma yang di Jakarta saja, tetapi sampai ke Tanggerang, Depok, Bekasi bahkan sampai Cianjur dan Garut, serta bukan hanya silat asli indonesia saja tetapi juga yang dari luar seperti Karate, taekwondo dan Kuntaw.
              Dan akhirnya Kong Acik berhasil memadukan jurus cingkrig dengan gerak dan tekhnik yang di dapat dari aliran lain tanpa merubah atau menghilangkan jurus dasar cingkrig itu sendiri.
              Maka oleh karena itulah Kong Acik menambahkan nama Gerak Cipta di belakang nama Cingkrig sebagai identiras/ciri dari aliran ini.

              Kong Acik mengembangkan dan mengajarkan Cingkrig Gerak Cipta di wilayah Rawa Belong dan luar Rawa Belong seperti didaerah Rawamangun, Mampang, Bekasi  Tanggerang dan Bogor.
              Saat ini salah satu murid Kong Acik yang masih mengajarkan Cingkrig Gerak Cipta yang juga masih keponakan beliau sendiri yaitu Bang Amri bin H. Abbas

              JURUS – JURUS CINGKRIG GERAK CIPTA

              Konon menurut beberapa sumber, di awal perkembangannya jurus cingkrig hanya berjumlah lima jurus dengan urutan:

              “    1. Langkah Satu
              “    2. Langkah Dua
              “    3. Langkah Tiga
              “    4. Langkah Empat
              “    5. Langkah Lima

              Pada perkembangan selanjutnya menjadi delapan jurus dan kemudian dikembangkan lagi setelah memasukan beberapa gerak tambahan menjadi dua belas jurus, adapun nama-nama jurus dan urutannya berbeda antara aliran Cingkrig yang satu dengan aliran cingkrig lainnya yang berkembang saat ini.

              Ketidak seragaman dan perbedaan baik dalam jurus dan sambut pada cingkrig, dalam perkembangannya bukan masalah yang mendasar bagi yang mendalami Cingkrig itu sendiri, karena flexibilitasnya yang berkembang tergantung kepada siapa Kita belajar/berguru.
              Namun yang paling penting adalah JANGANLAH KITA MELUPAKAN SEJARAH ASAL-USUL CINGKRIG,  yang di bawa dan di kembangkan oleh orang Rawa Belong yakni Ki Ma’ing.

              Jurus-jurus yang di ajarkan dalam Cingkrig Gerak Cipta yaitu;

              1.    Langkah Beset
              2.    Cingkrig
              3.    Buka Satu
              4.    Satu Kurung
              5.    Saup
              6.    Langkah Tiga
              7.    Langkah Empat
              8.    Langkah Lima
              9.    Lok Be
              10.    Singa
              11.    Macan
              12.    Longok

              Di tambah Pancer yang diturunkan setelah menguasai jurus dengan sempurna tapi bukan merupakan jurus ke tigabelas, tetapi hanya sebagai bekal tambahan.

              Didalam Cingkrig Gerak Cipta diajarkan pula Gerak Dasar yang diturunkan sebelum jurus, tujuan dari Gerak Dasar adalah untuk melatih kuda-kuda,  kelincahan tangan dan kaki serta kelenturan tubuh/badan, Gerak Dasar juga difungsikan sebagai pemanasan jurus sebelum menjalankan atau melancarkan jurus Cingkrig.

              Gerak Dasar didalam Cingkrig Gerak Cipta berjumlah tujuhbelas yaitu;

              1.    Gerak Beset Tarik
              2.    Gerak Beset Gedor
              3.    Gerak Pasang Pukul
              4.    Gerak Cingkrig
              5.    Gerak Sangkol
              6.    Gerak Rambet
              7.    Gerak bacok Rimpes
              8.    Gerak Saup
              9.    Gerak kodek
              10.    Gerak Seser
              11.    Gerak Kosrek/Gobrek
              12.    Gerak Tiktuk
              13.    Gerak Bendrong
              14.    Gerak Lokbe
              15.    Gerak Sikut Atas
              16.    Gerak Cakar Macan
              17.    Gerak Longok

              POLA LANGKAH DAN CIRI KHAS

              Setiap langkah dalam Cingkrig Gerak Cipta mengikuti pola empat penjuru di setiap langkah, dijalankan dengan kombinasi gerak tangan dan kaki secara simultan dan hampir bersamaan. Ciri khas adalah kuda-kuda yang rendah, gerak kaki dan tangan yang cepat serta luwes dan tidak Kaku dalam terminologi menggunakan Rasa, serta tenaga pukulan di  ujung, sabetan kaki hampir bersamaan dengan gerakan tangan.

              APLIKASI / SAMBUT

              Dalam Cingkrig Gerak Cipta, Aflikasi/sambut di ajarkan setelah si murid menguasai jurus minimal delapan jurus, aflikasi tidak terpola dan tidak baku, dalam arti aflikasinya tergantung situasi, karena dalam jurus yang dimainkan sudah di latih pola langkah menyerang, menghindar, memukul, menangkis, menjatuhkan dan mematahkan/kuncian.
              Beberapa istilah dalam Aplikasi sambut Cingkrig Gerak Cipta yaitu;

              “    Sambut Gulung
              Bertujuannya melatih gerak tangan dan kaki, kuda-kuda, kelenturan tubuh dalam menyerang dan menghidari serangan.
              “    Sambut Rimpes
              Bertujuan melatih refleks tangan yang dapat dilatih sambil duduk.
              “    Sambut Pintas
              Tujuan berlatih sambut pintas yakni agar dapat melumpuhkan lawan dengan cepat/sekali gebrak

              SISTIM BELAJAR

              Pembelajaran dalam Cingkrig Gerak Cipta adalah berlatih dan melancarkan Gerak Dasar dari satu s/d tujuhbelas, yang kemudian dilanjutkan dengan menjalankan jurus-jurus cingkrig, bilamana sang murid sudah menguasai sampai jurus delapan maka dilanjutkan dengan melatih Sambut yang di barengi dengan melatih jurus berikutnya hingga jurus dua belas, setelah tuntas dan halus jurus satu hingga dua belas di lanjutkan dengan jurus kombinasi atau BOMBANG kemudian di tambah PANCER.

              FILOSOFI

              Di awal perkembangannya, Cingkrig di ajarkan bersamaan/berdampingan dengan belajar ngaji (ilmu Agama Islam), dan oleh karenanya di gunakan sebagai media dakwah. Bagi murid yang ingin belajar cingkrig harus belajar ngaji, jadi pada masa itu bagi yang non Muslim harus masuk Islam terlebih dahulu baru kemudian diajarkan cingkrig.
              Maka dari itu filosopi yang terkandung dalam cingkrig sangat-sangat Islami, seperti yang akan dijelaskan sedikit mengenai filosopi yang terkandung dalam cingkrig Gerak Cipta diantaranya;

              “    Kata Gerak Cipta
              Gerak Cipta melambangkan hubungan makluk dengan sang pencipta (Allah SWT.), karena setiap gerak atau langkah kita tidak bisa dipisahkan dengan sang Pencipta, maka wajib menjalankan apa yang di perintah dan menjauhi apa yang menjadi larangannya.
              “    Lima Langkah dalam Cingkrig
              Lima Langkah melambangkan Sholat Lima Waktu yang wajib didirikan sehari semalam, karena Sholat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar, maka ini dapat berfungsi sebagai peredam emosi dalam cingkrig yang bersifat keras.
              “    Gerak Dasar
              Gerak Dasar yang berjumlah Tujuh belas melambangkan tujuhbelas rokaat dalam sholat wajib.
              “    Jurus
              Jurus dalam Cingkrig Gerak Cipta ada dua belas di tambah satu Pancer melambangkkan tiga belas Rukun Sholat.
              “    Awal Gerak
              Setiap mengawali gerakan Silat Cingkrig Gerak Cipta selalu di awali dan di akhiri dengan mengangkat kedua belah tangan dengan cara telapak tangan menghadap keatas setinggi dada, melambangkan setiap gerak dan langkah diawali dengan Do’a dan di akhiri dengan Syukur

              Demikianlah sekelumit tentang Maenpukulan (Silat) Cingkrig Gerak Cipta yang kami perkenalkan sebagai salah satu khasanah warisan Budaya Masyarakat Betawi, dengan harapan dapat diterima di segala lapisan masyrakat, dan kami sebagai penulis mohon maaf, karena tidak tertutup kemungkinan terjadi kesalahan dan kekhilafan dalam penulisan ini, mengingat minimnya data-data yang kami dapatkan. Namun setidaknya dengan hadirnya tulisan ini, semoga bisa menjadi motivasi bagi generasi muda untuk lebih mencintai budaya sendiri, ditengah gencarnya budaya Asing yang masuk ke Indonesia.

              Rawa belong, 1 April 2011

              Ditulis oleh Zay ibnu Siddiq

               

               

               

              ayo diskusi tentang cingkrig gerak cipta di forum sahabat silat

               




              Tags: , , , , ,


              Artikel Cingkrig Gerak Cipta – Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


                - Powered by BING [2014-03-11 18:50]

                Comments are closed.

                Cingkrig Gerak Cipta – Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong - Silat Indonesia

                Cingkrig Gerak Cipta – Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong.

                    [
                in English ]

                May 2nd, 2011 | By | Category: Aliran Silat, Artikel Silat [ in English ]

                CINGKRIG GERAK CIPTA
                MAENPUKULAN KHAS BETAWI RAWA BELONG

                20110502-cingkrig-gerak-cipta-logoMaenpukulan (Silat) Cingkrig Gerak Cipta tidak akan terlepas dari silat Cingkrig pada umumnya serta kampung Rawa Belong sebagai tempat kelahiran dan perkembangannya, demikian juga sebaliknya, keduanya sangat erat dan identik tidak bisa di pisahkan satu sama lainnya, karena tidak dapat dipungkiri bahwa di Rawa Belonglah maenpukulan Cingkrig dilahirkan dan dikembangkan

                Kata Cingkrig berasal dari ungkapan Bahasa Betawi yakni Jingkrak-jingkrik atau Cingkrak-cingkrik yang dapat diartikan gesit dan lincah. Oleh karena itu disetiap gerakan Cingkrig dibutuhkan kegesitan dan kelincahan, hal ini mengacu pada gerakan natural dari gerakan kera yang sangat gesit dan lincah, hingga dikembangkan menjadi sebuah jurus Silat (maenpukulan) yang lincah dan atraktif dalam setiap serangan yang sekaligus merupakan pertahanan dan pertahanan sekaligus juga serangan.
                Kata Cingkrig disini menggunakan hurup “G” pada hurup terakhirnya, bukan Cingkrik yang menggunakan hurup “K” pada hurup terakhirnya, hal ini mengacu pada kebiasaan logat Betawi dimana akhiran hurup “k” bisa berubah jadi “g” seperti kata beduk menjadi bedug, gerobak menjadi gerobag, gubuk menjadi gubug dan lain sebagainya

                GEOGRAFIS

                Rawa Belong adalah sebuah kampung yang terletak di wilayah barat Jakarta dan sekarang telah berkembang menjadi sebuah kelurahan, yakni Kelurahan Sukabumi Utara. Terletak di wilayah Kota Madya Jakarta Barat dengan batas-batas wilayah; sebelah Utara berbatasan dengan kelurahan Kebon Jeruk, sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Sukabumi Selatan (Pos pengumben), sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Pal Merah Utara dan Gerogol Utara, sebelah Barat berbatasan dengan kelurahan Kelapa Dua.

                SOSIO KULTURAL

                Kehidupan masyarakat Rawa Belong rata-rata pada umumnya adalah para pedagang, petani bunga atau tanaman hias, Alim ulama, sopir dan lain sebagainya. Bahasa kesehariannya adalah bahasa daerah Betawi tengah dengan ciri pengucapan vokal “e” untuk kata yang berakhiran vokal “a”, secara umum karakter dan adat-istiadatnya sama dengan masyarakat betawi daerah lainnya, dimana unsur Agama Islam sangat kental mewarnai kehidupan sehari-hari, dan secara geneologis serta akar budaya masyarakat Rawa Belong sangat kental dengan perpaduan budaya Melayu, China dan Arab.

                TOKOH SEJARAH DAN ASAL-USUL

                Bila berbiacara Maen pukulan (Silat) Cingkrig, tidak bisa dipisahlan dengan tokoh yang membawa dan mengembangkan maen pukulan itu sendiri yaitu :  Ki Ma’ing
                Alkisah dimasa lalu, banyak orang Rawa Belong yang menimba dan menuntut ilmu ke daerah Kulon (tidak dapat dipastikan tempatnya) karena berdasarkan informasi dari para orang tua, bahwa daerah Meruya dan Tanggerang sudah dianggap Kulon oleh orang-orang Rawa Belong pada waktu itu. Mereka menimba ilmu dengan belajar Ilmu Agama dan juga Ilmu beladiri, baik itu ilmu olah bathin maupun ilmu olah kanuragan.

                Dari sekian banyak orang Rawa Belong yang menimba ilmu di Kulon, salah satunya adalah Ki Ma’ing, namun belum tuntas belajar, Ki Ma’ing memutuskan untuk kembali ke Rawa Belong. Pada suatu ketika Ki Ma’ing yang sedang berjalan, tongkatnya di rebut oleh seekor Kera milik tetangganya yang ber nama Nyi Saereh, spontan Ki Ma’ing menarik tongkatnya, dan selanjutnya terjadilah perebutan tongkat antara Ki Ma’ing dan Si Kera milik Nyi Saereh, Si Kera tidak mau mengalah begitu saja, dengan sigap dan lincahnya berusaha menarik tongkat Ki Ma’ing dengan di sertai beberapa gerakan serangan dan pertahanan yang menyerupai jurus silat.
                Ki Ma’ing sangat terkesan dengan gerakan Kera tersebut, hampir setiiap hari Ki Ma’ing mendatangi Kera tersebut untuk mempelajari dan menganalisanya, setiap gerakan pertahanan si Kera diiringi dengan serangan yang lincah, dan begitu pula sebaliknya setiap gerakan serangan merupakan juga pertahanan dengan kombinasi antara kaki dan tangan yang begitu gesit dan lincah. Dari pengamatan gerakan natural Kera tersebut serta ketekunannya berlatih, oleh Ki Ma’ing dikembangkan menjadi gerakan jurus silat yang kemudian hari dikenal dengan sebutan CINGKRIG.
                Ki Ma’ing menyebarluaskan dan menularkan jurus-jurusnya itu kepada murid-nuridnya yang pada masa itu mulai di kenal dengan sebutan Maenpukulan Cingkrig, karena sebelumnya orang Rawa belong hanya mengenal Cingkrig dengan sebutan Maenpukul. Ki Ma’ing menurunkan Maenpukulan ini kepada murid-muridnya  diantranya yang di kenal:  Ki Saari,  Ki Ali,  Ki Ajid.

                Ki Saari

                Ki Saari juga turut mengembangkan Maenpukulan Cingkrig dan mengajarkan kepada murid-muridnya, salah satu di antaranya adalah Kong Wahab.
                Kong Wahab juga mengembangkan maenpukulan ini serta mengajarkan kepada murid-muridnya, di antaranya; anaknya sendiri yaitu Babe NUR.

                Ki Ali

                Ki Ali turut mengembangkan maenpukulan Cingkrig serta mengajarkan kepada murid-muridnya yang kebanyakan dari luar Rawa Belong diantaranya;

                “    Ki Sinan yang mengembangkan di wilayah Kebon Jeruk dan sekitarnya dan mempunyai murid diantaranya; Babe Melik,  Babe Entong,  Babe Abu Hasyim.
                “    Ki Goning yang mengembangkan di wilayah Kemanggisan dan sekitarnya dan mempunyai murid diantaranya; Babe Hamdan,  Babe Usup Utay dan sekarang di kembangkan oleh Bapak Tubagus Bambang.
                “    Ki Legot yang mengmbangkan di wilayah Muara Angke, Pesing dan sekitarnya.
                “    Ki Sakam yang mengembangkan di wilayah Depok dan sekitarnya dan sekarang di kembangkan oleh Babe Popon

                Ki Ajid

                Ki Ajid turut mengembangkan maenpukulan cingkrig di daerah Rawabelong dan mengajarkan kepada murid-muridnya diantaranya;

                “    Kong Uming yang mengembangkan dan mengajarkan kepada murid-muridnya diantaranya; Babe Nunung,  Babe Hasan Kumis,  Babe Akib. Dan yang masih mengembangkan serta mengajarkan maenpukulan Cingkrig dari Kong Uming saat ini diantaranya; Babe Warno,  Babe Manaf,  dan masih ada yang lainnya yang belum di ketahui oleh penulis.
                “    Kong Hayat yang mengembaqngkan dan mengajarkan kepada murid-muridnya di antaranya; Kong Majid,  Kong Acik (Munasik), dan yang masih mengembangkan dan mengajarkan maenpukulan cingkrig dari Kong Hayat  saat ini di antaranya; Bang Satria Jaya

                CINGKRIG GERAK CIPTA

                Membicarakan tentang Cingkrig Gerak Cipta tidak terlepas dari tokoh yang memberi nama Gerak Cipta  dibelakang kata Cingkrig yaitu Kong Acik (Munasik bin Hamim).
                Kong Acik pertama kali belajar cingkrig kepada Kong Hayat karena kemauan dan tekadnya yang keras untuk mengetahui cingkrig lebih dalam, kong Acik memperdalam pelajarannya kepada Ki Ajid, Ki Saari dan juga Ki Ali.
                Belum puas dengan hasil yang di dapatkannya, Kong Acik sering bersilaturahmi ke berbagai perguruan aliran lain untuk menambah pengetahuan dan pengalaman.
                Perguruan yang di kunjungi bukan Cuma yang di Jakarta saja, tetapi sampai ke Tanggerang, Depok, Bekasi bahkan sampai Cianjur dan Garut, serta bukan hanya silat asli indonesia saja tetapi juga yang dari luar seperti Karate, taekwondo dan Kuntaw.
                Dan akhirnya Kong Acik berhasil memadukan jurus cingkrig dengan gerak dan tekhnik yang di dapat dari aliran lain tanpa merubah atau menghilangkan jurus dasar cingkrig itu sendiri.
                Maka oleh karena itulah Kong Acik menambahkan nama Gerak Cipta di belakang nama Cingkrig sebagai identiras/ciri dari aliran ini.

                Kong Acik mengembangkan dan mengajarkan Cingkrig Gerak Cipta di wilayah Rawa Belong dan luar Rawa Belong seperti didaerah Rawamangun, Mampang, Bekasi  Tanggerang dan Bogor.
                Saat ini salah satu murid Kong Acik yang masih mengajarkan Cingkrig Gerak Cipta yang juga masih keponakan beliau sendiri yaitu Bang Amri bin H. Abbas

                JURUS – JURUS CINGKRIG GERAK CIPTA

                Konon menurut beberapa sumber, di awal perkembangannya jurus cingkrig hanya berjumlah lima jurus dengan urutan:

                “    1. Langkah Satu
                “    2. Langkah Dua
                “    3. Langkah Tiga
                “    4. Langkah Empat
                “    5. Langkah Lima

                Pada perkembangan selanjutnya menjadi delapan jurus dan kemudian dikembangkan lagi setelah memasukan beberapa gerak tambahan menjadi dua belas jurus, adapun nama-nama jurus dan urutannya berbeda antara aliran Cingkrig yang satu dengan aliran cingkrig lainnya yang berkembang saat ini.

                Ketidak seragaman dan perbedaan baik dalam jurus dan sambut pada cingkrig, dalam perkembangannya bukan masalah yang mendasar bagi yang mendalami Cingkrig itu sendiri, karena flexibilitasnya yang berkembang tergantung kepada siapa Kita belajar/berguru.
                Namun yang paling penting adalah JANGANLAH KITA MELUPAKAN SEJARAH ASAL-USUL CINGKRIG,  yang di bawa dan di kembangkan oleh orang Rawa Belong yakni Ki Ma’ing.

                Jurus-jurus yang di ajarkan dalam Cingkrig Gerak Cipta yaitu;

                1.    Langkah Beset
                2.    Cingkrig
                3.    Buka Satu
                4.    Satu Kurung
                5.    Saup
                6.    Langkah Tiga
                7.    Langkah Empat
                8.    Langkah Lima
                9.    Lok Be
                10.    Singa
                11.    Macan
                12.    Longok

                Di tambah Pancer yang diturunkan setelah menguasai jurus dengan sempurna tapi bukan merupakan jurus ke tigabelas, tetapi hanya sebagai bekal tambahan.

                Didalam Cingkrig Gerak Cipta diajarkan pula Gerak Dasar yang diturunkan sebelum jurus, tujuan dari Gerak Dasar adalah untuk melatih kuda-kuda,  kelincahan tangan dan kaki serta kelenturan tubuh/badan, Gerak Dasar juga difungsikan sebagai pemanasan jurus sebelum menjalankan atau melancarkan jurus Cingkrig.

                Gerak Dasar didalam Cingkrig Gerak Cipta berjumlah tujuhbelas yaitu;

                1.    Gerak Beset Tarik
                2.    Gerak Beset Gedor
                3.    Gerak Pasang Pukul
                4.    Gerak Cingkrig
                5.    Gerak Sangkol
                6.    Gerak Rambet
                7.    Gerak bacok Rimpes
                8.    Gerak Saup
                9.    Gerak kodek
                10.    Gerak Seser
                11.    Gerak Kosrek/Gobrek
                12.    Gerak Tiktuk
                13.    Gerak Bendrong
                14.    Gerak Lokbe
                15.    Gerak Sikut Atas
                16.    Gerak Cakar Macan
                17.    Gerak Longok

                POLA LANGKAH DAN CIRI KHAS

                Setiap langkah dalam Cingkrig Gerak Cipta mengikuti pola empat penjuru di setiap langkah, dijalankan dengan kombinasi gerak tangan dan kaki secara simultan dan hampir bersamaan. Ciri khas adalah kuda-kuda yang rendah, gerak kaki dan tangan yang cepat serta luwes dan tidak Kaku dalam terminologi menggunakan Rasa, serta tenaga pukulan di  ujung, sabetan kaki hampir bersamaan dengan gerakan tangan.

                APLIKASI / SAMBUT

                Dalam Cingkrig Gerak Cipta, Aflikasi/sambut di ajarkan setelah si murid menguasai jurus minimal delapan jurus, aflikasi tidak terpola dan tidak baku, dalam arti aflikasinya tergantung situasi, karena dalam jurus yang dimainkan sudah di latih pola langkah menyerang, menghindar, memukul, menangkis, menjatuhkan dan mematahkan/kuncian.
                Beberapa istilah dalam Aplikasi sambut Cingkrig Gerak Cipta yaitu;

                “    Sambut Gulung
                Bertujuannya melatih gerak tangan dan kaki, kuda-kuda, kelenturan tubuh dalam menyerang dan menghidari serangan.
                “    Sambut Rimpes
                Bertujuan melatih refleks tangan yang dapat dilatih sambil duduk.
                “    Sambut Pintas
                Tujuan berlatih sambut pintas yakni agar dapat melumpuhkan lawan dengan cepat/sekali gebrak

                SISTIM BELAJAR

                Pembelajaran dalam Cingkrig Gerak Cipta adalah berlatih dan melancarkan Gerak Dasar dari satu s/d tujuhbelas, yang kemudian dilanjutkan dengan menjalankan jurus-jurus cingkrig, bilamana sang murid sudah menguasai sampai jurus delapan maka dilanjutkan dengan melatih Sambut yang di barengi dengan melatih jurus berikutnya hingga jurus dua belas, setelah tuntas dan halus jurus satu hingga dua belas di lanjutkan dengan jurus kombinasi atau BOMBANG kemudian di tambah PANCER.

                FILOSOFI

                Di awal perkembangannya, Cingkrig di ajarkan bersamaan/berdampingan dengan belajar ngaji (ilmu Agama Islam), dan oleh karenanya di gunakan sebagai media dakwah. Bagi murid yang ingin belajar cingkrig harus belajar ngaji, jadi pada masa itu bagi yang non Muslim harus masuk Islam terlebih dahulu baru kemudian diajarkan cingkrig.
                Maka dari itu filosopi yang terkandung dalam cingkrig sangat-sangat Islami, seperti yang akan dijelaskan sedikit mengenai filosopi yang terkandung dalam cingkrig Gerak Cipta diantaranya;

                “    Kata Gerak Cipta
                Gerak Cipta melambangkan hubungan makluk dengan sang pencipta (Allah SWT.), karena setiap gerak atau langkah kita tidak bisa dipisahkan dengan sang Pencipta, maka wajib menjalankan apa yang di perintah dan menjauhi apa yang menjadi larangannya.
                “    Lima Langkah dalam Cingkrig
                Lima Langkah melambangkan Sholat Lima Waktu yang wajib didirikan sehari semalam, karena Sholat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar, maka ini dapat berfungsi sebagai peredam emosi dalam cingkrig yang bersifat keras.
                “    Gerak Dasar
                Gerak Dasar yang berjumlah Tujuh belas melambangkan tujuhbelas rokaat dalam sholat wajib.
                “    Jurus
                Jurus dalam Cingkrig Gerak Cipta ada dua belas di tambah satu Pancer melambangkkan tiga belas Rukun Sholat.
                “    Awal Gerak
                Setiap mengawali gerakan Silat Cingkrig Gerak Cipta selalu di awali dan di akhiri dengan mengangkat kedua belah tangan dengan cara telapak tangan menghadap keatas setinggi dada, melambangkan setiap gerak dan langkah diawali dengan Do’a dan di akhiri dengan Syukur

                Demikianlah sekelumit tentang Maenpukulan (Silat) Cingkrig Gerak Cipta yang kami perkenalkan sebagai salah satu khasanah warisan Budaya Masyarakat Betawi, dengan harapan dapat diterima di segala lapisan masyrakat, dan kami sebagai penulis mohon maaf, karena tidak tertutup kemungkinan terjadi kesalahan dan kekhilafan dalam penulisan ini, mengingat minimnya data-data yang kami dapatkan. Namun setidaknya dengan hadirnya tulisan ini, semoga bisa menjadi motivasi bagi generasi muda untuk lebih mencintai budaya sendiri, ditengah gencarnya budaya Asing yang masuk ke Indonesia.

                Rawa belong, 1 April 2011

                Ditulis oleh Zay ibnu Siddiq

                 

                 

                 

                ayo diskusi tentang cingkrig gerak cipta di forum sahabat silat

                 




                Tags: , , , , ,


                Artikel Cingkrig Gerak Cipta – Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


                  - Powered by BING [2014-03-17 06:40]

                  Comments are closed.

                  Cingkrig Gerak Cipta – Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong - Silat Indonesia

                  Cingkrig Gerak Cipta – Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong.

                      [
                  in English ]

                  May 2nd, 2011 | By | Category: Aliran Silat, Artikel Silat [ in English ]

                  CINGKRIG GERAK CIPTA
                  MAENPUKULAN KHAS BETAWI RAWA BELONG

                  20110502-cingkrig-gerak-cipta-logoMaenpukulan (Silat) Cingkrig Gerak Cipta tidak akan terlepas dari silat Cingkrig pada umumnya serta kampung Rawa Belong sebagai tempat kelahiran dan perkembangannya, demikian juga sebaliknya, keduanya sangat erat dan identik tidak bisa di pisahkan satu sama lainnya, karena tidak dapat dipungkiri bahwa di Rawa Belonglah maenpukulan Cingkrig dilahirkan dan dikembangkan

                  Kata Cingkrig berasal dari ungkapan Bahasa Betawi yakni Jingkrak-jingkrik atau Cingkrak-cingkrik yang dapat diartikan gesit dan lincah. Oleh karena itu disetiap gerakan Cingkrig dibutuhkan kegesitan dan kelincahan, hal ini mengacu pada gerakan natural dari gerakan kera yang sangat gesit dan lincah, hingga dikembangkan menjadi sebuah jurus Silat (maenpukulan) yang lincah dan atraktif dalam setiap serangan yang sekaligus merupakan pertahanan dan pertahanan sekaligus juga serangan.
                  Kata Cingkrig disini menggunakan hurup “G” pada hurup terakhirnya, bukan Cingkrik yang menggunakan hurup “K” pada hurup terakhirnya, hal ini mengacu pada kebiasaan logat Betawi dimana akhiran hurup “k” bisa berubah jadi “g” seperti kata beduk menjadi bedug, gerobak menjadi gerobag, gubuk menjadi gubug dan lain sebagainya

                  GEOGRAFIS

                  Rawa Belong adalah sebuah kampung yang terletak di wilayah barat Jakarta dan sekarang telah berkembang menjadi sebuah kelurahan, yakni Kelurahan Sukabumi Utara. Terletak di wilayah Kota Madya Jakarta Barat dengan batas-batas wilayah; sebelah Utara berbatasan dengan kelurahan Kebon Jeruk, sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Sukabumi Selatan (Pos pengumben), sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Pal Merah Utara dan Gerogol Utara, sebelah Barat berbatasan dengan kelurahan Kelapa Dua.

                  SOSIO KULTURAL

                  Kehidupan masyarakat Rawa Belong rata-rata pada umumnya adalah para pedagang, petani bunga atau tanaman hias, Alim ulama, sopir dan lain sebagainya. Bahasa kesehariannya adalah bahasa daerah Betawi tengah dengan ciri pengucapan vokal “e” untuk kata yang berakhiran vokal “a”, secara umum karakter dan adat-istiadatnya sama dengan masyarakat betawi daerah lainnya, dimana unsur Agama Islam sangat kental mewarnai kehidupan sehari-hari, dan secara geneologis serta akar budaya masyarakat Rawa Belong sangat kental dengan perpaduan budaya Melayu, China dan Arab.

                  TOKOH SEJARAH DAN ASAL-USUL

                  Bila berbiacara Maen pukulan (Silat) Cingkrig, tidak bisa dipisahlan dengan tokoh yang membawa dan mengembangkan maen pukulan itu sendiri yaitu :  Ki Ma’ing
                  Alkisah dimasa lalu, banyak orang Rawa Belong yang menimba dan menuntut ilmu ke daerah Kulon (tidak dapat dipastikan tempatnya) karena berdasarkan informasi dari para orang tua, bahwa daerah Meruya dan Tanggerang sudah dianggap Kulon oleh orang-orang Rawa Belong pada waktu itu. Mereka menimba ilmu dengan belajar Ilmu Agama dan juga Ilmu beladiri, baik itu ilmu olah bathin maupun ilmu olah kanuragan.

                  Dari sekian banyak orang Rawa Belong yang menimba ilmu di Kulon, salah satunya adalah Ki Ma’ing, namun belum tuntas belajar, Ki Ma’ing memutuskan untuk kembali ke Rawa Belong. Pada suatu ketika Ki Ma’ing yang sedang berjalan, tongkatnya di rebut oleh seekor Kera milik tetangganya yang ber nama Nyi Saereh, spontan Ki Ma’ing menarik tongkatnya, dan selanjutnya terjadilah perebutan tongkat antara Ki Ma’ing dan Si Kera milik Nyi Saereh, Si Kera tidak mau mengalah begitu saja, dengan sigap dan lincahnya berusaha menarik tongkat Ki Ma’ing dengan di sertai beberapa gerakan serangan dan pertahanan yang menyerupai jurus silat.
                  Ki Ma’ing sangat terkesan dengan gerakan Kera tersebut, hampir setiiap hari Ki Ma’ing mendatangi Kera tersebut untuk mempelajari dan menganalisanya, setiap gerakan pertahanan si Kera diiringi dengan serangan yang lincah, dan begitu pula sebaliknya setiap gerakan serangan merupakan juga pertahanan dengan kombinasi antara kaki dan tangan yang begitu gesit dan lincah. Dari pengamatan gerakan natural Kera tersebut serta ketekunannya berlatih, oleh Ki Ma’ing dikembangkan menjadi gerakan jurus silat yang kemudian hari dikenal dengan sebutan CINGKRIG.
                  Ki Ma’ing menyebarluaskan dan menularkan jurus-jurusnya itu kepada murid-nuridnya yang pada masa itu mulai di kenal dengan sebutan Maenpukulan Cingkrig, karena sebelumnya orang Rawa belong hanya mengenal Cingkrig dengan sebutan Maenpukul. Ki Ma’ing menurunkan Maenpukulan ini kepada murid-muridnya  diantranya yang di kenal:  Ki Saari,  Ki Ali,  Ki Ajid.

                  Ki Saari

                  Ki Saari juga turut mengembangkan Maenpukulan Cingkrig dan mengajarkan kepada murid-muridnya, salah satu di antaranya adalah Kong Wahab.
                  Kong Wahab juga mengembangkan maenpukulan ini serta mengajarkan kepada murid-muridnya, di antaranya; anaknya sendiri yaitu Babe NUR.

                  Ki Ali

                  Ki Ali turut mengembangkan maenpukulan Cingkrig serta mengajarkan kepada murid-muridnya yang kebanyakan dari luar Rawa Belong diantaranya;

                  “    Ki Sinan yang mengembangkan di wilayah Kebon Jeruk dan sekitarnya dan mempunyai murid diantaranya; Babe Melik,  Babe Entong,  Babe Abu Hasyim.
                  “    Ki Goning yang mengembangkan di wilayah Kemanggisan dan sekitarnya dan mempunyai murid diantaranya; Babe Hamdan,  Babe Usup Utay dan sekarang di kembangkan oleh Bapak Tubagus Bambang.
                  “    Ki Legot yang mengmbangkan di wilayah Muara Angke, Pesing dan sekitarnya.
                  “    Ki Sakam yang mengembangkan di wilayah Depok dan sekitarnya dan sekarang di kembangkan oleh Babe Popon

                  Ki Ajid

                  Ki Ajid turut mengembangkan maenpukulan cingkrig di daerah Rawabelong dan mengajarkan kepada murid-muridnya diantaranya;

                  “    Kong Uming yang mengembangkan dan mengajarkan kepada murid-muridnya diantaranya; Babe Nunung,  Babe Hasan Kumis,  Babe Akib. Dan yang masih mengembangkan serta mengajarkan maenpukulan Cingkrig dari Kong Uming saat ini diantaranya; Babe Warno,  Babe Manaf,  dan masih ada yang lainnya yang belum di ketahui oleh penulis.
                  “    Kong Hayat yang mengembaqngkan dan mengajarkan kepada murid-muridnya di antaranya; Kong Majid,  Kong Acik (Munasik), dan yang masih mengembangkan dan mengajarkan maenpukulan cingkrig dari Kong Hayat  saat ini di antaranya; Bang Satria Jaya

                  CINGKRIG GERAK CIPTA

                  Membicarakan tentang Cingkrig Gerak Cipta tidak terlepas dari tokoh yang memberi nama Gerak Cipta  dibelakang kata Cingkrig yaitu Kong Acik (Munasik bin Hamim).
                  Kong Acik pertama kali belajar cingkrig kepada Kong Hayat karena kemauan dan tekadnya yang keras untuk mengetahui cingkrig lebih dalam, kong Acik memperdalam pelajarannya kepada Ki Ajid, Ki Saari dan juga Ki Ali.
                  Belum puas dengan hasil yang di dapatkannya, Kong Acik sering bersilaturahmi ke berbagai perguruan aliran lain untuk menambah pengetahuan dan pengalaman.
                  Perguruan yang di kunjungi bukan Cuma yang di Jakarta saja, tetapi sampai ke Tanggerang, Depok, Bekasi bahkan sampai Cianjur dan Garut, serta bukan hanya silat asli indonesia saja tetapi juga yang dari luar seperti Karate, taekwondo dan Kuntaw.
                  Dan akhirnya Kong Acik berhasil memadukan jurus cingkrig dengan gerak dan tekhnik yang di dapat dari aliran lain tanpa merubah atau menghilangkan jurus dasar cingkrig itu sendiri.
                  Maka oleh karena itulah Kong Acik menambahkan nama Gerak Cipta di belakang nama Cingkrig sebagai identiras/ciri dari aliran ini.

                  Kong Acik mengembangkan dan mengajarkan Cingkrig Gerak Cipta di wilayah Rawa Belong dan luar Rawa Belong seperti didaerah Rawamangun, Mampang, Bekasi  Tanggerang dan Bogor.
                  Saat ini salah satu murid Kong Acik yang masih mengajarkan Cingkrig Gerak Cipta yang juga masih keponakan beliau sendiri yaitu Bang Amri bin H. Abbas

                  JURUS – JURUS CINGKRIG GERAK CIPTA

                  Konon menurut beberapa sumber, di awal perkembangannya jurus cingkrig hanya berjumlah lima jurus dengan urutan:

                  “    1. Langkah Satu
                  “    2. Langkah Dua
                  “    3. Langkah Tiga
                  “    4. Langkah Empat
                  “    5. Langkah Lima

                  Pada perkembangan selanjutnya menjadi delapan jurus dan kemudian dikembangkan lagi setelah memasukan beberapa gerak tambahan menjadi dua belas jurus, adapun nama-nama jurus dan urutannya berbeda antara aliran Cingkrig yang satu dengan aliran cingkrig lainnya yang berkembang saat ini.

                  Ketidak seragaman dan perbedaan baik dalam jurus dan sambut pada cingkrig, dalam perkembangannya bukan masalah yang mendasar bagi yang mendalami Cingkrig itu sendiri, karena flexibilitasnya yang berkembang tergantung kepada siapa Kita belajar/berguru.
                  Namun yang paling penting adalah JANGANLAH KITA MELUPAKAN SEJARAH ASAL-USUL CINGKRIG,  yang di bawa dan di kembangkan oleh orang Rawa Belong yakni Ki Ma’ing.

                  Jurus-jurus yang di ajarkan dalam Cingkrig Gerak Cipta yaitu;

                  1.    Langkah Beset
                  2.    Cingkrig
                  3.    Buka Satu
                  4.    Satu Kurung
                  5.    Saup
                  6.    Langkah Tiga
                  7.    Langkah Empat
                  8.    Langkah Lima
                  9.    Lok Be
                  10.    Singa
                  11.    Macan
                  12.    Longok

                  Di tambah Pancer yang diturunkan setelah menguasai jurus dengan sempurna tapi bukan merupakan jurus ke tigabelas, tetapi hanya sebagai bekal tambahan.

                  Didalam Cingkrig Gerak Cipta diajarkan pula Gerak Dasar yang diturunkan sebelum jurus, tujuan dari Gerak Dasar adalah untuk melatih kuda-kuda,  kelincahan tangan dan kaki serta kelenturan tubuh/badan, Gerak Dasar juga difungsikan sebagai pemanasan jurus sebelum menjalankan atau melancarkan jurus Cingkrig.

                  Gerak Dasar didalam Cingkrig Gerak Cipta berjumlah tujuhbelas yaitu;

                  1.    Gerak Beset Tarik
                  2.    Gerak Beset Gedor
                  3.    Gerak Pasang Pukul
                  4.    Gerak Cingkrig
                  5.    Gerak Sangkol
                  6.    Gerak Rambet
                  7.    Gerak bacok Rimpes
                  8.    Gerak Saup
                  9.    Gerak kodek
                  10.    Gerak Seser
                  11.    Gerak Kosrek/Gobrek
                  12.    Gerak Tiktuk
                  13.    Gerak Bendrong
                  14.    Gerak Lokbe
                  15.    Gerak Sikut Atas
                  16.    Gerak Cakar Macan
                  17.    Gerak Longok

                  POLA LANGKAH DAN CIRI KHAS

                  Setiap langkah dalam Cingkrig Gerak Cipta mengikuti pola empat penjuru di setiap langkah, dijalankan dengan kombinasi gerak tangan dan kaki secara simultan dan hampir bersamaan. Ciri khas adalah kuda-kuda yang rendah, gerak kaki dan tangan yang cepat serta luwes dan tidak Kaku dalam terminologi menggunakan Rasa, serta tenaga pukulan di  ujung, sabetan kaki hampir bersamaan dengan gerakan tangan.

                  APLIKASI / SAMBUT

                  Dalam Cingkrig Gerak Cipta, Aflikasi/sambut di ajarkan setelah si murid menguasai jurus minimal delapan jurus, aflikasi tidak terpola dan tidak baku, dalam arti aflikasinya tergantung situasi, karena dalam jurus yang dimainkan sudah di latih pola langkah menyerang, menghindar, memukul, menangkis, menjatuhkan dan mematahkan/kuncian.
                  Beberapa istilah dalam Aplikasi sambut Cingkrig Gerak Cipta yaitu;

                  “    Sambut Gulung
                  Bertujuannya melatih gerak tangan dan kaki, kuda-kuda, kelenturan tubuh dalam menyerang dan menghidari serangan.
                  “    Sambut Rimpes
                  Bertujuan melatih refleks tangan yang dapat dilatih sambil duduk.
                  “    Sambut Pintas
                  Tujuan berlatih sambut pintas yakni agar dapat melumpuhkan lawan dengan cepat/sekali gebrak

                  SISTIM BELAJAR

                  Pembelajaran dalam Cingkrig Gerak Cipta adalah berlatih dan melancarkan Gerak Dasar dari satu s/d tujuhbelas, yang kemudian dilanjutkan dengan menjalankan jurus-jurus cingkrig, bilamana sang murid sudah menguasai sampai jurus delapan maka dilanjutkan dengan melatih Sambut yang di barengi dengan melatih jurus berikutnya hingga jurus dua belas, setelah tuntas dan halus jurus satu hingga dua belas di lanjutkan dengan jurus kombinasi atau BOMBANG kemudian di tambah PANCER.

                  FILOSOFI

                  Di awal perkembangannya, Cingkrig di ajarkan bersamaan/berdampingan dengan belajar ngaji (ilmu Agama Islam), dan oleh karenanya di gunakan sebagai media dakwah. Bagi murid yang ingin belajar cingkrig harus belajar ngaji, jadi pada masa itu bagi yang non Muslim harus masuk Islam terlebih dahulu baru kemudian diajarkan cingkrig.
                  Maka dari itu filosopi yang terkandung dalam cingkrig sangat-sangat Islami, seperti yang akan dijelaskan sedikit mengenai filosopi yang terkandung dalam cingkrig Gerak Cipta diantaranya;

                  “    Kata Gerak Cipta
                  Gerak Cipta melambangkan hubungan makluk dengan sang pencipta (Allah SWT.), karena setiap gerak atau langkah kita tidak bisa dipisahkan dengan sang Pencipta, maka wajib menjalankan apa yang di perintah dan menjauhi apa yang menjadi larangannya.
                  “    Lima Langkah dalam Cingkrig
                  Lima Langkah melambangkan Sholat Lima Waktu yang wajib didirikan sehari semalam, karena Sholat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar, maka ini dapat berfungsi sebagai peredam emosi dalam cingkrig yang bersifat keras.
                  “    Gerak Dasar
                  Gerak Dasar yang berjumlah Tujuh belas melambangkan tujuhbelas rokaat dalam sholat wajib.
                  “    Jurus
                  Jurus dalam Cingkrig Gerak Cipta ada dua belas di tambah satu Pancer melambangkkan tiga belas Rukun Sholat.
                  “    Awal Gerak
                  Setiap mengawali gerakan Silat Cingkrig Gerak Cipta selalu di awali dan di akhiri dengan mengangkat kedua belah tangan dengan cara telapak tangan menghadap keatas setinggi dada, melambangkan setiap gerak dan langkah diawali dengan Do’a dan di akhiri dengan Syukur

                  Demikianlah sekelumit tentang Maenpukulan (Silat) Cingkrig Gerak Cipta yang kami perkenalkan sebagai salah satu khasanah warisan Budaya Masyarakat Betawi, dengan harapan dapat diterima di segala lapisan masyrakat, dan kami sebagai penulis mohon maaf, karena tidak tertutup kemungkinan terjadi kesalahan dan kekhilafan dalam penulisan ini, mengingat minimnya data-data yang kami dapatkan. Namun setidaknya dengan hadirnya tulisan ini, semoga bisa menjadi motivasi bagi generasi muda untuk lebih mencintai budaya sendiri, ditengah gencarnya budaya Asing yang masuk ke Indonesia.

                  Rawa belong, 1 April 2011

                  Ditulis oleh Zay ibnu Siddiq

                   

                   

                   

                  ayo diskusi tentang cingkrig gerak cipta di forum sahabat silat

                   




                  Tags: , , , , ,


                  Artikel Cingkrig Gerak Cipta – Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


                    - Powered by BING [2014-03-24 21:48]

                    Comments are closed.

                    Cingkrig Gerak Cipta – Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong - Silat Indonesia

                    Cingkrig Gerak Cipta – Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong.

                        [
                    in English ]

                    May 2nd, 2011 | By | Category: Aliran Silat, Artikel Silat [ in English ]

                    CINGKRIG GERAK CIPTA
                    MAENPUKULAN KHAS BETAWI RAWA BELONG

                    20110502-cingkrig-gerak-cipta-logoMaenpukulan (Silat) Cingkrig Gerak Cipta tidak akan terlepas dari silat Cingkrig pada umumnya serta kampung Rawa Belong sebagai tempat kelahiran dan perkembangannya, demikian juga sebaliknya, keduanya sangat erat dan identik tidak bisa di pisahkan satu sama lainnya, karena tidak dapat dipungkiri bahwa di Rawa Belonglah maenpukulan Cingkrig dilahirkan dan dikembangkan

                    Kata Cingkrig berasal dari ungkapan Bahasa Betawi yakni Jingkrak-jingkrik atau Cingkrak-cingkrik yang dapat diartikan gesit dan lincah. Oleh karena itu disetiap gerakan Cingkrig dibutuhkan kegesitan dan kelincahan, hal ini mengacu pada gerakan natural dari gerakan kera yang sangat gesit dan lincah, hingga dikembangkan menjadi sebuah jurus Silat (maenpukulan) yang lincah dan atraktif dalam setiap serangan yang sekaligus merupakan pertahanan dan pertahanan sekaligus juga serangan.
                    Kata Cingkrig disini menggunakan hurup “G” pada hurup terakhirnya, bukan Cingkrik yang menggunakan hurup “K” pada hurup terakhirnya, hal ini mengacu pada kebiasaan logat Betawi dimana akhiran hurup “k” bisa berubah jadi “g” seperti kata beduk menjadi bedug, gerobak menjadi gerobag, gubuk menjadi gubug dan lain sebagainya

                    GEOGRAFIS

                    Rawa Belong adalah sebuah kampung yang terletak di wilayah barat Jakarta dan sekarang telah berkembang menjadi sebuah kelurahan, yakni Kelurahan Sukabumi Utara. Terletak di wilayah Kota Madya Jakarta Barat dengan batas-batas wilayah; sebelah Utara berbatasan dengan kelurahan Kebon Jeruk, sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Sukabumi Selatan (Pos pengumben), sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Pal Merah Utara dan Gerogol Utara, sebelah Barat berbatasan dengan kelurahan Kelapa Dua.

                    SOSIO KULTURAL

                    Kehidupan masyarakat Rawa Belong rata-rata pada umumnya adalah para pedagang, petani bunga atau tanaman hias, Alim ulama, sopir dan lain sebagainya. Bahasa kesehariannya adalah bahasa daerah Betawi tengah dengan ciri pengucapan vokal “e” untuk kata yang berakhiran vokal “a”, secara umum karakter dan adat-istiadatnya sama dengan masyarakat betawi daerah lainnya, dimana unsur Agama Islam sangat kental mewarnai kehidupan sehari-hari, dan secara geneologis serta akar budaya masyarakat Rawa Belong sangat kental dengan perpaduan budaya Melayu, China dan Arab.

                    TOKOH SEJARAH DAN ASAL-USUL

                    Bila berbiacara Maen pukulan (Silat) Cingkrig, tidak bisa dipisahlan dengan tokoh yang membawa dan mengembangkan maen pukulan itu sendiri yaitu :  Ki Ma’ing
                    Alkisah dimasa lalu, banyak orang Rawa Belong yang menimba dan menuntut ilmu ke daerah Kulon (tidak dapat dipastikan tempatnya) karena berdasarkan informasi dari para orang tua, bahwa daerah Meruya dan Tanggerang sudah dianggap Kulon oleh orang-orang Rawa Belong pada waktu itu. Mereka menimba ilmu dengan belajar Ilmu Agama dan juga Ilmu beladiri, baik itu ilmu olah bathin maupun ilmu olah kanuragan.

                    Dari sekian banyak orang Rawa Belong yang menimba ilmu di Kulon, salah satunya adalah Ki Ma’ing, namun belum tuntas belajar, Ki Ma’ing memutuskan untuk kembali ke Rawa Belong. Pada suatu ketika Ki Ma’ing yang sedang berjalan, tongkatnya di rebut oleh seekor Kera milik tetangganya yang ber nama Nyi Saereh, spontan Ki Ma’ing menarik tongkatnya, dan selanjutnya terjadilah perebutan tongkat antara Ki Ma’ing dan Si Kera milik Nyi Saereh, Si Kera tidak mau mengalah begitu saja, dengan sigap dan lincahnya berusaha menarik tongkat Ki Ma’ing dengan di sertai beberapa gerakan serangan dan pertahanan yang menyerupai jurus silat.
                    Ki Ma’ing sangat terkesan dengan gerakan Kera tersebut, hampir setiiap hari Ki Ma’ing mendatangi Kera tersebut untuk mempelajari dan menganalisanya, setiap gerakan pertahanan si Kera diiringi dengan serangan yang lincah, dan begitu pula sebaliknya setiap gerakan serangan merupakan juga pertahanan dengan kombinasi antara kaki dan tangan yang begitu gesit dan lincah. Dari pengamatan gerakan natural Kera tersebut serta ketekunannya berlatih, oleh Ki Ma’ing dikembangkan menjadi gerakan jurus silat yang kemudian hari dikenal dengan sebutan CINGKRIG.
                    Ki Ma’ing menyebarluaskan dan menularkan jurus-jurusnya itu kepada murid-nuridnya yang pada masa itu mulai di kenal dengan sebutan Maenpukulan Cingkrig, karena sebelumnya orang Rawa belong hanya mengenal Cingkrig dengan sebutan Maenpukul. Ki Ma’ing menurunkan Maenpukulan ini kepada murid-muridnya  diantranya yang di kenal:  Ki Saari,  Ki Ali,  Ki Ajid.

                    Ki Saari

                    Ki Saari juga turut mengembangkan Maenpukulan Cingkrig dan mengajarkan kepada murid-muridnya, salah satu di antaranya adalah Kong Wahab.
                    Kong Wahab juga mengembangkan maenpukulan ini serta mengajarkan kepada murid-muridnya, di antaranya; anaknya sendiri yaitu Babe NUR.

                    Ki Ali

                    Ki Ali turut mengembangkan maenpukulan Cingkrig serta mengajarkan kepada murid-muridnya yang kebanyakan dari luar Rawa Belong diantaranya;

                    “    Ki Sinan yang mengembangkan di wilayah Kebon Jeruk dan sekitarnya dan mempunyai murid diantaranya; Babe Melik,  Babe Entong,  Babe Abu Hasyim.
                    “    Ki Goning yang mengembangkan di wilayah Kemanggisan dan sekitarnya dan mempunyai murid diantaranya; Babe Hamdan,  Babe Usup Utay dan sekarang di kembangkan oleh Bapak Tubagus Bambang.
                    “    Ki Legot yang mengmbangkan di wilayah Muara Angke, Pesing dan sekitarnya.
                    “    Ki Sakam yang mengembangkan di wilayah Depok dan sekitarnya dan sekarang di kembangkan oleh Babe Popon

                    Ki Ajid

                    Ki Ajid turut mengembangkan maenpukulan cingkrig di daerah Rawabelong dan mengajarkan kepada murid-muridnya diantaranya;

                    “    Kong Uming yang mengembangkan dan mengajarkan kepada murid-muridnya diantaranya; Babe Nunung,  Babe Hasan Kumis,  Babe Akib. Dan yang masih mengembangkan serta mengajarkan maenpukulan Cingkrig dari Kong Uming saat ini diantaranya; Babe Warno,  Babe Manaf,  dan masih ada yang lainnya yang belum di ketahui oleh penulis.
                    “    Kong Hayat yang mengembaqngkan dan mengajarkan kepada murid-muridnya di antaranya; Kong Majid,  Kong Acik (Munasik), dan yang masih mengembangkan dan mengajarkan maenpukulan cingkrig dari Kong Hayat  saat ini di antaranya; Bang Satria Jaya

                    CINGKRIG GERAK CIPTA

                    Membicarakan tentang Cingkrig Gerak Cipta tidak terlepas dari tokoh yang memberi nama Gerak Cipta  dibelakang kata Cingkrig yaitu Kong Acik (Munasik bin Hamim).
                    Kong Acik pertama kali belajar cingkrig kepada Kong Hayat karena kemauan dan tekadnya yang keras untuk mengetahui cingkrig lebih dalam, kong Acik memperdalam pelajarannya kepada Ki Ajid, Ki Saari dan juga Ki Ali.
                    Belum puas dengan hasil yang di dapatkannya, Kong Acik sering bersilaturahmi ke berbagai perguruan aliran lain untuk menambah pengetahuan dan pengalaman.
                    Perguruan yang di kunjungi bukan Cuma yang di Jakarta saja, tetapi sampai ke Tanggerang, Depok, Bekasi bahkan sampai Cianjur dan Garut, serta bukan hanya silat asli indonesia saja tetapi juga yang dari luar seperti Karate, taekwondo dan Kuntaw.
                    Dan akhirnya Kong Acik berhasil memadukan jurus cingkrig dengan gerak dan tekhnik yang di dapat dari aliran lain tanpa merubah atau menghilangkan jurus dasar cingkrig itu sendiri.
                    Maka oleh karena itulah Kong Acik menambahkan nama Gerak Cipta di belakang nama Cingkrig sebagai identiras/ciri dari aliran ini.

                    Kong Acik mengembangkan dan mengajarkan Cingkrig Gerak Cipta di wilayah Rawa Belong dan luar Rawa Belong seperti didaerah Rawamangun, Mampang, Bekasi  Tanggerang dan Bogor.
                    Saat ini salah satu murid Kong Acik yang masih mengajarkan Cingkrig Gerak Cipta yang juga masih keponakan beliau sendiri yaitu Bang Amri bin H. Abbas

                    JURUS – JURUS CINGKRIG GERAK CIPTA

                    Konon menurut beberapa sumber, di awal perkembangannya jurus cingkrig hanya berjumlah lima jurus dengan urutan:

                    “    1. Langkah Satu
                    “    2. Langkah Dua
                    “    3. Langkah Tiga
                    “    4. Langkah Empat
                    “    5. Langkah Lima

                    Pada perkembangan selanjutnya menjadi delapan jurus dan kemudian dikembangkan lagi setelah memasukan beberapa gerak tambahan menjadi dua belas jurus, adapun nama-nama jurus dan urutannya berbeda antara aliran Cingkrig yang satu dengan aliran cingkrig lainnya yang berkembang saat ini.

                    Ketidak seragaman dan perbedaan baik dalam jurus dan sambut pada cingkrig, dalam perkembangannya bukan masalah yang mendasar bagi yang mendalami Cingkrig itu sendiri, karena flexibilitasnya yang berkembang tergantung kepada siapa Kita belajar/berguru.
                    Namun yang paling penting adalah JANGANLAH KITA MELUPAKAN SEJARAH ASAL-USUL CINGKRIG,  yang di bawa dan di kembangkan oleh orang Rawa Belong yakni Ki Ma’ing.

                    Jurus-jurus yang di ajarkan dalam Cingkrig Gerak Cipta yaitu;

                    1.    Langkah Beset
                    2.    Cingkrig
                    3.    Buka Satu
                    4.    Satu Kurung
                    5.    Saup
                    6.    Langkah Tiga
                    7.    Langkah Empat
                    8.    Langkah Lima
                    9.    Lok Be
                    10.    Singa
                    11.    Macan
                    12.    Longok

                    Di tambah Pancer yang diturunkan setelah menguasai jurus dengan sempurna tapi bukan merupakan jurus ke tigabelas, tetapi hanya sebagai bekal tambahan.

                    Didalam Cingkrig Gerak Cipta diajarkan pula Gerak Dasar yang diturunkan sebelum jurus, tujuan dari Gerak Dasar adalah untuk melatih kuda-kuda,  kelincahan tangan dan kaki serta kelenturan tubuh/badan, Gerak Dasar juga difungsikan sebagai pemanasan jurus sebelum menjalankan atau melancarkan jurus Cingkrig.

                    Gerak Dasar didalam Cingkrig Gerak Cipta berjumlah tujuhbelas yaitu;

                    1.    Gerak Beset Tarik
                    2.    Gerak Beset Gedor
                    3.    Gerak Pasang Pukul
                    4.    Gerak Cingkrig
                    5.    Gerak Sangkol
                    6.    Gerak Rambet
                    7.    Gerak bacok Rimpes
                    8.    Gerak Saup
                    9.    Gerak kodek
                    10.    Gerak Seser
                    11.    Gerak Kosrek/Gobrek
                    12.    Gerak Tiktuk
                    13.    Gerak Bendrong
                    14.    Gerak Lokbe
                    15.    Gerak Sikut Atas
                    16.    Gerak Cakar Macan
                    17.    Gerak Longok

                    POLA LANGKAH DAN CIRI KHAS

                    Setiap langkah dalam Cingkrig Gerak Cipta mengikuti pola empat penjuru di setiap langkah, dijalankan dengan kombinasi gerak tangan dan kaki secara simultan dan hampir bersamaan. Ciri khas adalah kuda-kuda yang rendah, gerak kaki dan tangan yang cepat serta luwes dan tidak Kaku dalam terminologi menggunakan Rasa, serta tenaga pukulan di  ujung, sabetan kaki hampir bersamaan dengan gerakan tangan.

                    APLIKASI / SAMBUT

                    Dalam Cingkrig Gerak Cipta, Aflikasi/sambut di ajarkan setelah si murid menguasai jurus minimal delapan jurus, aflikasi tidak terpola dan tidak baku, dalam arti aflikasinya tergantung situasi, karena dalam jurus yang dimainkan sudah di latih pola langkah menyerang, menghindar, memukul, menangkis, menjatuhkan dan mematahkan/kuncian.
                    Beberapa istilah dalam Aplikasi sambut Cingkrig Gerak Cipta yaitu;

                    “    Sambut Gulung
                    Bertujuannya melatih gerak tangan dan kaki, kuda-kuda, kelenturan tubuh dalam menyerang dan menghidari serangan.
                    “    Sambut Rimpes
                    Bertujuan melatih refleks tangan yang dapat dilatih sambil duduk.
                    “    Sambut Pintas
                    Tujuan berlatih sambut pintas yakni agar dapat melumpuhkan lawan dengan cepat/sekali gebrak

                    SISTIM BELAJAR

                    Pembelajaran dalam Cingkrig Gerak Cipta adalah berlatih dan melancarkan Gerak Dasar dari satu s/d tujuhbelas, yang kemudian dilanjutkan dengan menjalankan jurus-jurus cingkrig, bilamana sang murid sudah menguasai sampai jurus delapan maka dilanjutkan dengan melatih Sambut yang di barengi dengan melatih jurus berikutnya hingga jurus dua belas, setelah tuntas dan halus jurus satu hingga dua belas di lanjutkan dengan jurus kombinasi atau BOMBANG kemudian di tambah PANCER.

                    FILOSOFI

                    Di awal perkembangannya, Cingkrig di ajarkan bersamaan/berdampingan dengan belajar ngaji (ilmu Agama Islam), dan oleh karenanya di gunakan sebagai media dakwah. Bagi murid yang ingin belajar cingkrig harus belajar ngaji, jadi pada masa itu bagi yang non Muslim harus masuk Islam terlebih dahulu baru kemudian diajarkan cingkrig.
                    Maka dari itu filosopi yang terkandung dalam cingkrig sangat-sangat Islami, seperti yang akan dijelaskan sedikit mengenai filosopi yang terkandung dalam cingkrig Gerak Cipta diantaranya;

                    “    Kata Gerak Cipta
                    Gerak Cipta melambangkan hubungan makluk dengan sang pencipta (Allah SWT.), karena setiap gerak atau langkah kita tidak bisa dipisahkan dengan sang Pencipta, maka wajib menjalankan apa yang di perintah dan menjauhi apa yang menjadi larangannya.
                    “    Lima Langkah dalam Cingkrig
                    Lima Langkah melambangkan Sholat Lima Waktu yang wajib didirikan sehari semalam, karena Sholat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar, maka ini dapat berfungsi sebagai peredam emosi dalam cingkrig yang bersifat keras.
                    “    Gerak Dasar
                    Gerak Dasar yang berjumlah Tujuh belas melambangkan tujuhbelas rokaat dalam sholat wajib.
                    “    Jurus
                    Jurus dalam Cingkrig Gerak Cipta ada dua belas di tambah satu Pancer melambangkkan tiga belas Rukun Sholat.
                    “    Awal Gerak
                    Setiap mengawali gerakan Silat Cingkrig Gerak Cipta selalu di awali dan di akhiri dengan mengangkat kedua belah tangan dengan cara telapak tangan menghadap keatas setinggi dada, melambangkan setiap gerak dan langkah diawali dengan Do’a dan di akhiri dengan Syukur

                    Demikianlah sekelumit tentang Maenpukulan (Silat) Cingkrig Gerak Cipta yang kami perkenalkan sebagai salah satu khasanah warisan Budaya Masyarakat Betawi, dengan harapan dapat diterima di segala lapisan masyrakat, dan kami sebagai penulis mohon maaf, karena tidak tertutup kemungkinan terjadi kesalahan dan kekhilafan dalam penulisan ini, mengingat minimnya data-data yang kami dapatkan. Namun setidaknya dengan hadirnya tulisan ini, semoga bisa menjadi motivasi bagi generasi muda untuk lebih mencintai budaya sendiri, ditengah gencarnya budaya Asing yang masuk ke Indonesia.

                    Rawa belong, 1 April 2011

                    Ditulis oleh Zay ibnu Siddiq

                     

                     

                     

                    ayo diskusi tentang cingkrig gerak cipta di forum sahabat silat

                     




                    Tags: , , , , ,


                    Artikel Cingkrig Gerak Cipta – Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


                      - Powered by BING [2014-03-31 06:31]

                      Comments are closed.

                      Cingkrig Gerak Cipta – Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong - Silat Indonesia

                      Cingkrig Gerak Cipta – Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong.

                          [
                      in English ]

                      May 2nd, 2011 | By | Category: Aliran Silat, Artikel Silat [ in English ]

                      CINGKRIG GERAK CIPTA
                      MAENPUKULAN KHAS BETAWI RAWA BELONG

                      20110502-cingkrig-gerak-cipta-logoMaenpukulan (Silat) Cingkrig Gerak Cipta tidak akan terlepas dari silat Cingkrig pada umumnya serta kampung Rawa Belong sebagai tempat kelahiran dan perkembangannya, demikian juga sebaliknya, keduanya sangat erat dan identik tidak bisa di pisahkan satu sama lainnya, karena tidak dapat dipungkiri bahwa di Rawa Belonglah maenpukulan Cingkrig dilahirkan dan dikembangkan

                      Kata Cingkrig berasal dari ungkapan Bahasa Betawi yakni Jingkrak-jingkrik atau Cingkrak-cingkrik yang dapat diartikan gesit dan lincah. Oleh karena itu disetiap gerakan Cingkrig dibutuhkan kegesitan dan kelincahan, hal ini mengacu pada gerakan natural dari gerakan kera yang sangat gesit dan lincah, hingga dikembangkan menjadi sebuah jurus Silat (maenpukulan) yang lincah dan atraktif dalam setiap serangan yang sekaligus merupakan pertahanan dan pertahanan sekaligus juga serangan.
                      Kata Cingkrig disini menggunakan hurup “G” pada hurup terakhirnya, bukan Cingkrik yang menggunakan hurup “K” pada hurup terakhirnya, hal ini mengacu pada kebiasaan logat Betawi dimana akhiran hurup “k” bisa berubah jadi “g” seperti kata beduk menjadi bedug, gerobak menjadi gerobag, gubuk menjadi gubug dan lain sebagainya

                      GEOGRAFIS

                      Rawa Belong adalah sebuah kampung yang terletak di wilayah barat Jakarta dan sekarang telah berkembang menjadi sebuah kelurahan, yakni Kelurahan Sukabumi Utara. Terletak di wilayah Kota Madya Jakarta Barat dengan batas-batas wilayah; sebelah Utara berbatasan dengan kelurahan Kebon Jeruk, sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Sukabumi Selatan (Pos pengumben), sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Pal Merah Utara dan Gerogol Utara, sebelah Barat berbatasan dengan kelurahan Kelapa Dua.

                      SOSIO KULTURAL

                      Kehidupan masyarakat Rawa Belong rata-rata pada umumnya adalah para pedagang, petani bunga atau tanaman hias, Alim ulama, sopir dan lain sebagainya. Bahasa kesehariannya adalah bahasa daerah Betawi tengah dengan ciri pengucapan vokal “e” untuk kata yang berakhiran vokal “a”, secara umum karakter dan adat-istiadatnya sama dengan masyarakat betawi daerah lainnya, dimana unsur Agama Islam sangat kental mewarnai kehidupan sehari-hari, dan secara geneologis serta akar budaya masyarakat Rawa Belong sangat kental dengan perpaduan budaya Melayu, China dan Arab.

                      TOKOH SEJARAH DAN ASAL-USUL

                      Bila berbiacara Maen pukulan (Silat) Cingkrig, tidak bisa dipisahlan dengan tokoh yang membawa dan mengembangkan maen pukulan itu sendiri yaitu :  Ki Ma’ing
                      Alkisah dimasa lalu, banyak orang Rawa Belong yang menimba dan menuntut ilmu ke daerah Kulon (tidak dapat dipastikan tempatnya) karena berdasarkan informasi dari para orang tua, bahwa daerah Meruya dan Tanggerang sudah dianggap Kulon oleh orang-orang Rawa Belong pada waktu itu. Mereka menimba ilmu dengan belajar Ilmu Agama dan juga Ilmu beladiri, baik itu ilmu olah bathin maupun ilmu olah kanuragan.

                      Dari sekian banyak orang Rawa Belong yang menimba ilmu di Kulon, salah satunya adalah Ki Ma’ing, namun belum tuntas belajar, Ki Ma’ing memutuskan untuk kembali ke Rawa Belong. Pada suatu ketika Ki Ma’ing yang sedang berjalan, tongkatnya di rebut oleh seekor Kera milik tetangganya yang ber nama Nyi Saereh, spontan Ki Ma’ing menarik tongkatnya, dan selanjutnya terjadilah perebutan tongkat antara Ki Ma’ing dan Si Kera milik Nyi Saereh, Si Kera tidak mau mengalah begitu saja, dengan sigap dan lincahnya berusaha menarik tongkat Ki Ma’ing dengan di sertai beberapa gerakan serangan dan pertahanan yang menyerupai jurus silat.
                      Ki Ma’ing sangat terkesan dengan gerakan Kera tersebut, hampir setiiap hari Ki Ma’ing mendatangi Kera tersebut untuk mempelajari dan menganalisanya, setiap gerakan pertahanan si Kera diiringi dengan serangan yang lincah, dan begitu pula sebaliknya setiap gerakan serangan merupakan juga pertahanan dengan kombinasi antara kaki dan tangan yang begitu gesit dan lincah. Dari pengamatan gerakan natural Kera tersebut serta ketekunannya berlatih, oleh Ki Ma’ing dikembangkan menjadi gerakan jurus silat yang kemudian hari dikenal dengan sebutan CINGKRIG.
                      Ki Ma’ing menyebarluaskan dan menularkan jurus-jurusnya itu kepada murid-nuridnya yang pada masa itu mulai di kenal dengan sebutan Maenpukulan Cingkrig, karena sebelumnya orang Rawa belong hanya mengenal Cingkrig dengan sebutan Maenpukul. Ki Ma’ing menurunkan Maenpukulan ini kepada murid-muridnya  diantranya yang di kenal:  Ki Saari,  Ki Ali,  Ki Ajid.

                      Ki Saari

                      Ki Saari juga turut mengembangkan Maenpukulan Cingkrig dan mengajarkan kepada murid-muridnya, salah satu di antaranya adalah Kong Wahab.
                      Kong Wahab juga mengembangkan maenpukulan ini serta mengajarkan kepada murid-muridnya, di antaranya; anaknya sendiri yaitu Babe NUR.

                      Ki Ali

                      Ki Ali turut mengembangkan maenpukulan Cingkrig serta mengajarkan kepada murid-muridnya yang kebanyakan dari luar Rawa Belong diantaranya;

                      “    Ki Sinan yang mengembangkan di wilayah Kebon Jeruk dan sekitarnya dan mempunyai murid diantaranya; Babe Melik,  Babe Entong,  Babe Abu Hasyim.
                      “    Ki Goning yang mengembangkan di wilayah Kemanggisan dan sekitarnya dan mempunyai murid diantaranya; Babe Hamdan,  Babe Usup Utay dan sekarang di kembangkan oleh Bapak Tubagus Bambang.
                      “    Ki Legot yang mengmbangkan di wilayah Muara Angke, Pesing dan sekitarnya.
                      “    Ki Sakam yang mengembangkan di wilayah Depok dan sekitarnya dan sekarang di kembangkan oleh Babe Popon

                      Ki Ajid

                      Ki Ajid turut mengembangkan maenpukulan cingkrig di daerah Rawabelong dan mengajarkan kepada murid-muridnya diantaranya;

                      “    Kong Uming yang mengembangkan dan mengajarkan kepada murid-muridnya diantaranya; Babe Nunung,  Babe Hasan Kumis,  Babe Akib. Dan yang masih mengembangkan serta mengajarkan maenpukulan Cingkrig dari Kong Uming saat ini diantaranya; Babe Warno,  Babe Manaf,  dan masih ada yang lainnya yang belum di ketahui oleh penulis.
                      “    Kong Hayat yang mengembaqngkan dan mengajarkan kepada murid-muridnya di antaranya; Kong Majid,  Kong Acik (Munasik), dan yang masih mengembangkan dan mengajarkan maenpukulan cingkrig dari Kong Hayat  saat ini di antaranya; Bang Satria Jaya

                      CINGKRIG GERAK CIPTA

                      Membicarakan tentang Cingkrig Gerak Cipta tidak terlepas dari tokoh yang memberi nama Gerak Cipta  dibelakang kata Cingkrig yaitu Kong Acik (Munasik bin Hamim).
                      Kong Acik pertama kali belajar cingkrig kepada Kong Hayat karena kemauan dan tekadnya yang keras untuk mengetahui cingkrig lebih dalam, kong Acik memperdalam pelajarannya kepada Ki Ajid, Ki Saari dan juga Ki Ali.
                      Belum puas dengan hasil yang di dapatkannya, Kong Acik sering bersilaturahmi ke berbagai perguruan aliran lain untuk menambah pengetahuan dan pengalaman.
                      Perguruan yang di kunjungi bukan Cuma yang di Jakarta saja, tetapi sampai ke Tanggerang, Depok, Bekasi bahkan sampai Cianjur dan Garut, serta bukan hanya silat asli indonesia saja tetapi juga yang dari luar seperti Karate, taekwondo dan Kuntaw.
                      Dan akhirnya Kong Acik berhasil memadukan jurus cingkrig dengan gerak dan tekhnik yang di dapat dari aliran lain tanpa merubah atau menghilangkan jurus dasar cingkrig itu sendiri.
                      Maka oleh karena itulah Kong Acik menambahkan nama Gerak Cipta di belakang nama Cingkrig sebagai identiras/ciri dari aliran ini.

                      Kong Acik mengembangkan dan mengajarkan Cingkrig Gerak Cipta di wilayah Rawa Belong dan luar Rawa Belong seperti didaerah Rawamangun, Mampang, Bekasi  Tanggerang dan Bogor.
                      Saat ini salah satu murid Kong Acik yang masih mengajarkan Cingkrig Gerak Cipta yang juga masih keponakan beliau sendiri yaitu Bang Amri bin H. Abbas

                      JURUS – JURUS CINGKRIG GERAK CIPTA

                      Konon menurut beberapa sumber, di awal perkembangannya jurus cingkrig hanya berjumlah lima jurus dengan urutan:

                      “    1. Langkah Satu
                      “    2. Langkah Dua
                      “    3. Langkah Tiga
                      “    4. Langkah Empat
                      “    5. Langkah Lima

                      Pada perkembangan selanjutnya menjadi delapan jurus dan kemudian dikembangkan lagi setelah memasukan beberapa gerak tambahan menjadi dua belas jurus, adapun nama-nama jurus dan urutannya berbeda antara aliran Cingkrig yang satu dengan aliran cingkrig lainnya yang berkembang saat ini.

                      Ketidak seragaman dan perbedaan baik dalam jurus dan sambut pada cingkrig, dalam perkembangannya bukan masalah yang mendasar bagi yang mendalami Cingkrig itu sendiri, karena flexibilitasnya yang berkembang tergantung kepada siapa Kita belajar/berguru.
                      Namun yang paling penting adalah JANGANLAH KITA MELUPAKAN SEJARAH ASAL-USUL CINGKRIG,  yang di bawa dan di kembangkan oleh orang Rawa Belong yakni Ki Ma’ing.

                      Jurus-jurus yang di ajarkan dalam Cingkrig Gerak Cipta yaitu;

                      1.    Langkah Beset
                      2.    Cingkrig
                      3.    Buka Satu
                      4.    Satu Kurung
                      5.    Saup
                      6.    Langkah Tiga
                      7.    Langkah Empat
                      8.    Langkah Lima
                      9.    Lok Be
                      10.    Singa
                      11.    Macan
                      12.    Longok

                      Di tambah Pancer yang diturunkan setelah menguasai jurus dengan sempurna tapi bukan merupakan jurus ke tigabelas, tetapi hanya sebagai bekal tambahan.

                      Didalam Cingkrig Gerak Cipta diajarkan pula Gerak Dasar yang diturunkan sebelum jurus, tujuan dari Gerak Dasar adalah untuk melatih kuda-kuda,  kelincahan tangan dan kaki serta kelenturan tubuh/badan, Gerak Dasar juga difungsikan sebagai pemanasan jurus sebelum menjalankan atau melancarkan jurus Cingkrig.

                      Gerak Dasar didalam Cingkrig Gerak Cipta berjumlah tujuhbelas yaitu;

                      1.    Gerak Beset Tarik
                      2.    Gerak Beset Gedor
                      3.    Gerak Pasang Pukul
                      4.    Gerak Cingkrig
                      5.    Gerak Sangkol
                      6.    Gerak Rambet
                      7.    Gerak bacok Rimpes
                      8.    Gerak Saup
                      9.    Gerak kodek
                      10.    Gerak Seser
                      11.    Gerak Kosrek/Gobrek
                      12.    Gerak Tiktuk
                      13.    Gerak Bendrong
                      14.    Gerak Lokbe
                      15.    Gerak Sikut Atas
                      16.    Gerak Cakar Macan
                      17.    Gerak Longok

                      POLA LANGKAH DAN CIRI KHAS

                      Setiap langkah dalam Cingkrig Gerak Cipta mengikuti pola empat penjuru di setiap langkah, dijalankan dengan kombinasi gerak tangan dan kaki secara simultan dan hampir bersamaan. Ciri khas adalah kuda-kuda yang rendah, gerak kaki dan tangan yang cepat serta luwes dan tidak Kaku dalam terminologi menggunakan Rasa, serta tenaga pukulan di  ujung, sabetan kaki hampir bersamaan dengan gerakan tangan.

                      APLIKASI / SAMBUT

                      Dalam Cingkrig Gerak Cipta, Aflikasi/sambut di ajarkan setelah si murid menguasai jurus minimal delapan jurus, aflikasi tidak terpola dan tidak baku, dalam arti aflikasinya tergantung situasi, karena dalam jurus yang dimainkan sudah di latih pola langkah menyerang, menghindar, memukul, menangkis, menjatuhkan dan mematahkan/kuncian.
                      Beberapa istilah dalam Aplikasi sambut Cingkrig Gerak Cipta yaitu;

                      “    Sambut Gulung
                      Bertujuannya melatih gerak tangan dan kaki, kuda-kuda, kelenturan tubuh dalam menyerang dan menghidari serangan.
                      “    Sambut Rimpes
                      Bertujuan melatih refleks tangan yang dapat dilatih sambil duduk.
                      “    Sambut Pintas
                      Tujuan berlatih sambut pintas yakni agar dapat melumpuhkan lawan dengan cepat/sekali gebrak

                      SISTIM BELAJAR

                      Pembelajaran dalam Cingkrig Gerak Cipta adalah berlatih dan melancarkan Gerak Dasar dari satu s/d tujuhbelas, yang kemudian dilanjutkan dengan menjalankan jurus-jurus cingkrig, bilamana sang murid sudah menguasai sampai jurus delapan maka dilanjutkan dengan melatih Sambut yang di barengi dengan melatih jurus berikutnya hingga jurus dua belas, setelah tuntas dan halus jurus satu hingga dua belas di lanjutkan dengan jurus kombinasi atau BOMBANG kemudian di tambah PANCER.

                      FILOSOFI

                      Di awal perkembangannya, Cingkrig di ajarkan bersamaan/berdampingan dengan belajar ngaji (ilmu Agama Islam), dan oleh karenanya di gunakan sebagai media dakwah. Bagi murid yang ingin belajar cingkrig harus belajar ngaji, jadi pada masa itu bagi yang non Muslim harus masuk Islam terlebih dahulu baru kemudian diajarkan cingkrig.
                      Maka dari itu filosopi yang terkandung dalam cingkrig sangat-sangat Islami, seperti yang akan dijelaskan sedikit mengenai filosopi yang terkandung dalam cingkrig Gerak Cipta diantaranya;

                      “    Kata Gerak Cipta
                      Gerak Cipta melambangkan hubungan makluk dengan sang pencipta (Allah SWT.), karena setiap gerak atau langkah kita tidak bisa dipisahkan dengan sang Pencipta, maka wajib menjalankan apa yang di perintah dan menjauhi apa yang menjadi larangannya.
                      “    Lima Langkah dalam Cingkrig
                      Lima Langkah melambangkan Sholat Lima Waktu yang wajib didirikan sehari semalam, karena Sholat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar, maka ini dapat berfungsi sebagai peredam emosi dalam cingkrig yang bersifat keras.
                      “    Gerak Dasar
                      Gerak Dasar yang berjumlah Tujuh belas melambangkan tujuhbelas rokaat dalam sholat wajib.
                      “    Jurus
                      Jurus dalam Cingkrig Gerak Cipta ada dua belas di tambah satu Pancer melambangkkan tiga belas Rukun Sholat.
                      “    Awal Gerak
                      Setiap mengawali gerakan Silat Cingkrig Gerak Cipta selalu di awali dan di akhiri dengan mengangkat kedua belah tangan dengan cara telapak tangan menghadap keatas setinggi dada, melambangkan setiap gerak dan langkah diawali dengan Do’a dan di akhiri dengan Syukur

                      Demikianlah sekelumit tentang Maenpukulan (Silat) Cingkrig Gerak Cipta yang kami perkenalkan sebagai salah satu khasanah warisan Budaya Masyarakat Betawi, dengan harapan dapat diterima di segala lapisan masyrakat, dan kami sebagai penulis mohon maaf, karena tidak tertutup kemungkinan terjadi kesalahan dan kekhilafan dalam penulisan ini, mengingat minimnya data-data yang kami dapatkan. Namun setidaknya dengan hadirnya tulisan ini, semoga bisa menjadi motivasi bagi generasi muda untuk lebih mencintai budaya sendiri, ditengah gencarnya budaya Asing yang masuk ke Indonesia.

                      Rawa belong, 1 April 2011

                      Ditulis oleh Zay ibnu Siddiq

                       

                       

                       

                      ayo diskusi tentang cingkrig gerak cipta di forum sahabat silat

                       




                      Tags: , , , , ,


                      Artikel Cingkrig Gerak Cipta – Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


                        - Powered by BING [2014-04-05 18:36]

                        Comments are closed.

                        Cingkrig Gerak Cipta – Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong - Silat Indonesia

                        Cingkrig Gerak Cipta – Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong.

                            [
                        in English ]

                        May 2nd, 2011 | By | Category: Aliran Silat, Artikel Silat [ in English ]

                        CINGKRIG GERAK CIPTA
                        MAENPUKULAN KHAS BETAWI RAWA BELONG

                        20110502-cingkrig-gerak-cipta-logoMaenpukulan (Silat) Cingkrig Gerak Cipta tidak akan terlepas dari silat Cingkrig pada umumnya serta kampung Rawa Belong sebagai tempat kelahiran dan perkembangannya, demikian juga sebaliknya, keduanya sangat erat dan identik tidak bisa di pisahkan satu sama lainnya, karena tidak dapat dipungkiri bahwa di Rawa Belonglah maenpukulan Cingkrig dilahirkan dan dikembangkan

                        Kata Cingkrig berasal dari ungkapan Bahasa Betawi yakni Jingkrak-jingkrik atau Cingkrak-cingkrik yang dapat diartikan gesit dan lincah. Oleh karena itu disetiap gerakan Cingkrig dibutuhkan kegesitan dan kelincahan, hal ini mengacu pada gerakan natural dari gerakan kera yang sangat gesit dan lincah, hingga dikembangkan menjadi sebuah jurus Silat (maenpukulan) yang lincah dan atraktif dalam setiap serangan yang sekaligus merupakan pertahanan dan pertahanan sekaligus juga serangan.
                        Kata Cingkrig disini menggunakan hurup “G” pada hurup terakhirnya, bukan Cingkrik yang menggunakan hurup “K” pada hurup terakhirnya, hal ini mengacu pada kebiasaan logat Betawi dimana akhiran hurup “k” bisa berubah jadi “g” seperti kata beduk menjadi bedug, gerobak menjadi gerobag, gubuk menjadi gubug dan lain sebagainya

                        GEOGRAFIS

                        Rawa Belong adalah sebuah kampung yang terletak di wilayah barat Jakarta dan sekarang telah berkembang menjadi sebuah kelurahan, yakni Kelurahan Sukabumi Utara. Terletak di wilayah Kota Madya Jakarta Barat dengan batas-batas wilayah; sebelah Utara berbatasan dengan kelurahan Kebon Jeruk, sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Sukabumi Selatan (Pos pengumben), sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Pal Merah Utara dan Gerogol Utara, sebelah Barat berbatasan dengan kelurahan Kelapa Dua.

                        SOSIO KULTURAL

                        Kehidupan masyarakat Rawa Belong rata-rata pada umumnya adalah para pedagang, petani bunga atau tanaman hias, Alim ulama, sopir dan lain sebagainya. Bahasa kesehariannya adalah bahasa daerah Betawi tengah dengan ciri pengucapan vokal “e” untuk kata yang berakhiran vokal “a”, secara umum karakter dan adat-istiadatnya sama dengan masyarakat betawi daerah lainnya, dimana unsur Agama Islam sangat kental mewarnai kehidupan sehari-hari, dan secara geneologis serta akar budaya masyarakat Rawa Belong sangat kental dengan perpaduan budaya Melayu, China dan Arab.

                        TOKOH SEJARAH DAN ASAL-USUL

                        Bila berbiacara Maen pukulan (Silat) Cingkrig, tidak bisa dipisahlan dengan tokoh yang membawa dan mengembangkan maen pukulan itu sendiri yaitu :  Ki Ma’ing
                        Alkisah dimasa lalu, banyak orang Rawa Belong yang menimba dan menuntut ilmu ke daerah Kulon (tidak dapat dipastikan tempatnya) karena berdasarkan informasi dari para orang tua, bahwa daerah Meruya dan Tanggerang sudah dianggap Kulon oleh orang-orang Rawa Belong pada waktu itu. Mereka menimba ilmu dengan belajar Ilmu Agama dan juga Ilmu beladiri, baik itu ilmu olah bathin maupun ilmu olah kanuragan.

                        Dari sekian banyak orang Rawa Belong yang menimba ilmu di Kulon, salah satunya adalah Ki Ma’ing, namun belum tuntas belajar, Ki Ma’ing memutuskan untuk kembali ke Rawa Belong. Pada suatu ketika Ki Ma’ing yang sedang berjalan, tongkatnya di rebut oleh seekor Kera milik tetangganya yang ber nama Nyi Saereh, spontan Ki Ma’ing menarik tongkatnya, dan selanjutnya terjadilah perebutan tongkat antara Ki Ma’ing dan Si Kera milik Nyi Saereh, Si Kera tidak mau mengalah begitu saja, dengan sigap dan lincahnya berusaha menarik tongkat Ki Ma’ing dengan di sertai beberapa gerakan serangan dan pertahanan yang menyerupai jurus silat.
                        Ki Ma’ing sangat terkesan dengan gerakan Kera tersebut, hampir setiiap hari Ki Ma’ing mendatangi Kera tersebut untuk mempelajari dan menganalisanya, setiap gerakan pertahanan si Kera diiringi dengan serangan yang lincah, dan begitu pula sebaliknya setiap gerakan serangan merupakan juga pertahanan dengan kombinasi antara kaki dan tangan yang begitu gesit dan lincah. Dari pengamatan gerakan natural Kera tersebut serta ketekunannya berlatih, oleh Ki Ma’ing dikembangkan menjadi gerakan jurus silat yang kemudian hari dikenal dengan sebutan CINGKRIG.
                        Ki Ma’ing menyebarluaskan dan menularkan jurus-jurusnya itu kepada murid-nuridnya yang pada masa itu mulai di kenal dengan sebutan Maenpukulan Cingkrig, karena sebelumnya orang Rawa belong hanya mengenal Cingkrig dengan sebutan Maenpukul. Ki Ma’ing menurunkan Maenpukulan ini kepada murid-muridnya  diantranya yang di kenal:  Ki Saari,  Ki Ali,  Ki Ajid.

                        Ki Saari

                        Ki Saari juga turut mengembangkan Maenpukulan Cingkrig dan mengajarkan kepada murid-muridnya, salah satu di antaranya adalah Kong Wahab.
                        Kong Wahab juga mengembangkan maenpukulan ini serta mengajarkan kepada murid-muridnya, di antaranya; anaknya sendiri yaitu Babe NUR.

                        Ki Ali

                        Ki Ali turut mengembangkan maenpukulan Cingkrig serta mengajarkan kepada murid-muridnya yang kebanyakan dari luar Rawa Belong diantaranya;

                        “    Ki Sinan yang mengembangkan di wilayah Kebon Jeruk dan sekitarnya dan mempunyai murid diantaranya; Babe Melik,  Babe Entong,  Babe Abu Hasyim.
                        “    Ki Goning yang mengembangkan di wilayah Kemanggisan dan sekitarnya dan mempunyai murid diantaranya; Babe Hamdan,  Babe Usup Utay dan sekarang di kembangkan oleh Bapak Tubagus Bambang.
                        “    Ki Legot yang mengmbangkan di wilayah Muara Angke, Pesing dan sekitarnya.
                        “    Ki Sakam yang mengembangkan di wilayah Depok dan sekitarnya dan sekarang di kembangkan oleh Babe Popon

                        Ki Ajid

                        Ki Ajid turut mengembangkan maenpukulan cingkrig di daerah Rawabelong dan mengajarkan kepada murid-muridnya diantaranya;

                        “    Kong Uming yang mengembangkan dan mengajarkan kepada murid-muridnya diantaranya; Babe Nunung,  Babe Hasan Kumis,  Babe Akib. Dan yang masih mengembangkan serta mengajarkan maenpukulan Cingkrig dari Kong Uming saat ini diantaranya; Babe Warno,  Babe Manaf,  dan masih ada yang lainnya yang belum di ketahui oleh penulis.
                        “    Kong Hayat yang mengembaqngkan dan mengajarkan kepada murid-muridnya di antaranya; Kong Majid,  Kong Acik (Munasik), dan yang masih mengembangkan dan mengajarkan maenpukulan cingkrig dari Kong Hayat  saat ini di antaranya; Bang Satria Jaya

                        CINGKRIG GERAK CIPTA

                        Membicarakan tentang Cingkrig Gerak Cipta tidak terlepas dari tokoh yang memberi nama Gerak Cipta  dibelakang kata Cingkrig yaitu Kong Acik (Munasik bin Hamim).
                        Kong Acik pertama kali belajar cingkrig kepada Kong Hayat karena kemauan dan tekadnya yang keras untuk mengetahui cingkrig lebih dalam, kong Acik memperdalam pelajarannya kepada Ki Ajid, Ki Saari dan juga Ki Ali.
                        Belum puas dengan hasil yang di dapatkannya, Kong Acik sering bersilaturahmi ke berbagai perguruan aliran lain untuk menambah pengetahuan dan pengalaman.
                        Perguruan yang di kunjungi bukan Cuma yang di Jakarta saja, tetapi sampai ke Tanggerang, Depok, Bekasi bahkan sampai Cianjur dan Garut, serta bukan hanya silat asli indonesia saja tetapi juga yang dari luar seperti Karate, taekwondo dan Kuntaw.
                        Dan akhirnya Kong Acik berhasil memadukan jurus cingkrig dengan gerak dan tekhnik yang di dapat dari aliran lain tanpa merubah atau menghilangkan jurus dasar cingkrig itu sendiri.
                        Maka oleh karena itulah Kong Acik menambahkan nama Gerak Cipta di belakang nama Cingkrig sebagai identiras/ciri dari aliran ini.

                        Kong Acik mengembangkan dan mengajarkan Cingkrig Gerak Cipta di wilayah Rawa Belong dan luar Rawa Belong seperti didaerah Rawamangun, Mampang, Bekasi  Tanggerang dan Bogor.
                        Saat ini salah satu murid Kong Acik yang masih mengajarkan Cingkrig Gerak Cipta yang juga masih keponakan beliau sendiri yaitu Bang Amri bin H. Abbas

                        JURUS – JURUS CINGKRIG GERAK CIPTA

                        Konon menurut beberapa sumber, di awal perkembangannya jurus cingkrig hanya berjumlah lima jurus dengan urutan:

                        “    1. Langkah Satu
                        “    2. Langkah Dua
                        “    3. Langkah Tiga
                        “    4. Langkah Empat
                        “    5. Langkah Lima

                        Pada perkembangan selanjutnya menjadi delapan jurus dan kemudian dikembangkan lagi setelah memasukan beberapa gerak tambahan menjadi dua belas jurus, adapun nama-nama jurus dan urutannya berbeda antara aliran Cingkrig yang satu dengan aliran cingkrig lainnya yang berkembang saat ini.

                        Ketidak seragaman dan perbedaan baik dalam jurus dan sambut pada cingkrig, dalam perkembangannya bukan masalah yang mendasar bagi yang mendalami Cingkrig itu sendiri, karena flexibilitasnya yang berkembang tergantung kepada siapa Kita belajar/berguru.
                        Namun yang paling penting adalah JANGANLAH KITA MELUPAKAN SEJARAH ASAL-USUL CINGKRIG,  yang di bawa dan di kembangkan oleh orang Rawa Belong yakni Ki Ma’ing.

                        Jurus-jurus yang di ajarkan dalam Cingkrig Gerak Cipta yaitu;

                        1.    Langkah Beset
                        2.    Cingkrig
                        3.    Buka Satu
                        4.    Satu Kurung
                        5.    Saup
                        6.    Langkah Tiga
                        7.    Langkah Empat
                        8.    Langkah Lima
                        9.    Lok Be
                        10.    Singa
                        11.    Macan
                        12.    Longok

                        Di tambah Pancer yang diturunkan setelah menguasai jurus dengan sempurna tapi bukan merupakan jurus ke tigabelas, tetapi hanya sebagai bekal tambahan.

                        Didalam Cingkrig Gerak Cipta diajarkan pula Gerak Dasar yang diturunkan sebelum jurus, tujuan dari Gerak Dasar adalah untuk melatih kuda-kuda,  kelincahan tangan dan kaki serta kelenturan tubuh/badan, Gerak Dasar juga difungsikan sebagai pemanasan jurus sebelum menjalankan atau melancarkan jurus Cingkrig.

                        Gerak Dasar didalam Cingkrig Gerak Cipta berjumlah tujuhbelas yaitu;

                        1.    Gerak Beset Tarik
                        2.    Gerak Beset Gedor
                        3.    Gerak Pasang Pukul
                        4.    Gerak Cingkrig
                        5.    Gerak Sangkol
                        6.    Gerak Rambet
                        7.    Gerak bacok Rimpes
                        8.    Gerak Saup
                        9.    Gerak kodek
                        10.    Gerak Seser
                        11.    Gerak Kosrek/Gobrek
                        12.    Gerak Tiktuk
                        13.    Gerak Bendrong
                        14.    Gerak Lokbe
                        15.    Gerak Sikut Atas
                        16.    Gerak Cakar Macan
                        17.    Gerak Longok

                        POLA LANGKAH DAN CIRI KHAS

                        Setiap langkah dalam Cingkrig Gerak Cipta mengikuti pola empat penjuru di setiap langkah, dijalankan dengan kombinasi gerak tangan dan kaki secara simultan dan hampir bersamaan. Ciri khas adalah kuda-kuda yang rendah, gerak kaki dan tangan yang cepat serta luwes dan tidak Kaku dalam terminologi menggunakan Rasa, serta tenaga pukulan di  ujung, sabetan kaki hampir bersamaan dengan gerakan tangan.

                        APLIKASI / SAMBUT

                        Dalam Cingkrig Gerak Cipta, Aflikasi/sambut di ajarkan setelah si murid menguasai jurus minimal delapan jurus, aflikasi tidak terpola dan tidak baku, dalam arti aflikasinya tergantung situasi, karena dalam jurus yang dimainkan sudah di latih pola langkah menyerang, menghindar, memukul, menangkis, menjatuhkan dan mematahkan/kuncian.
                        Beberapa istilah dalam Aplikasi sambut Cingkrig Gerak Cipta yaitu;

                        “    Sambut Gulung
                        Bertujuannya melatih gerak tangan dan kaki, kuda-kuda, kelenturan tubuh dalam menyerang dan menghidari serangan.
                        “    Sambut Rimpes
                        Bertujuan melatih refleks tangan yang dapat dilatih sambil duduk.
                        “    Sambut Pintas
                        Tujuan berlatih sambut pintas yakni agar dapat melumpuhkan lawan dengan cepat/sekali gebrak

                        SISTIM BELAJAR

                        Pembelajaran dalam Cingkrig Gerak Cipta adalah berlatih dan melancarkan Gerak Dasar dari satu s/d tujuhbelas, yang kemudian dilanjutkan dengan menjalankan jurus-jurus cingkrig, bilamana sang murid sudah menguasai sampai jurus delapan maka dilanjutkan dengan melatih Sambut yang di barengi dengan melatih jurus berikutnya hingga jurus dua belas, setelah tuntas dan halus jurus satu hingga dua belas di lanjutkan dengan jurus kombinasi atau BOMBANG kemudian di tambah PANCER.

                        FILOSOFI

                        Di awal perkembangannya, Cingkrig di ajarkan bersamaan/berdampingan dengan belajar ngaji (ilmu Agama Islam), dan oleh karenanya di gunakan sebagai media dakwah. Bagi murid yang ingin belajar cingkrig harus belajar ngaji, jadi pada masa itu bagi yang non Muslim harus masuk Islam terlebih dahulu baru kemudian diajarkan cingkrig.
                        Maka dari itu filosopi yang terkandung dalam cingkrig sangat-sangat Islami, seperti yang akan dijelaskan sedikit mengenai filosopi yang terkandung dalam cingkrig Gerak Cipta diantaranya;

                        “    Kata Gerak Cipta
                        Gerak Cipta melambangkan hubungan makluk dengan sang pencipta (Allah SWT.), karena setiap gerak atau langkah kita tidak bisa dipisahkan dengan sang Pencipta, maka wajib menjalankan apa yang di perintah dan menjauhi apa yang menjadi larangannya.
                        “    Lima Langkah dalam Cingkrig
                        Lima Langkah melambangkan Sholat Lima Waktu yang wajib didirikan sehari semalam, karena Sholat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar, maka ini dapat berfungsi sebagai peredam emosi dalam cingkrig yang bersifat keras.
                        “    Gerak Dasar
                        Gerak Dasar yang berjumlah Tujuh belas melambangkan tujuhbelas rokaat dalam sholat wajib.
                        “    Jurus
                        Jurus dalam Cingkrig Gerak Cipta ada dua belas di tambah satu Pancer melambangkkan tiga belas Rukun Sholat.
                        “    Awal Gerak
                        Setiap mengawali gerakan Silat Cingkrig Gerak Cipta selalu di awali dan di akhiri dengan mengangkat kedua belah tangan dengan cara telapak tangan menghadap keatas setinggi dada, melambangkan setiap gerak dan langkah diawali dengan Do’a dan di akhiri dengan Syukur

                        Demikianlah sekelumit tentang Maenpukulan (Silat) Cingkrig Gerak Cipta yang kami perkenalkan sebagai salah satu khasanah warisan Budaya Masyarakat Betawi, dengan harapan dapat diterima di segala lapisan masyrakat, dan kami sebagai penulis mohon maaf, karena tidak tertutup kemungkinan terjadi kesalahan dan kekhilafan dalam penulisan ini, mengingat minimnya data-data yang kami dapatkan. Namun setidaknya dengan hadirnya tulisan ini, semoga bisa menjadi motivasi bagi generasi muda untuk lebih mencintai budaya sendiri, ditengah gencarnya budaya Asing yang masuk ke Indonesia.

                        Rawa belong, 1 April 2011

                        Ditulis oleh Zay ibnu Siddiq

                         

                         

                         

                        ayo diskusi tentang cingkrig gerak cipta di forum sahabat silat

                         




                        Tags: , , , , ,


                        Artikel Cingkrig Gerak Cipta – Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


                          - Powered by BING [2014-04-10 17:16]

                          Comments are closed.

                          Cingkrig Gerak Cipta – Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong - Silat Indonesia

                          Cingkrig Gerak Cipta – Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong.

                              [
                          in English ]

                          May 2nd, 2011 | By | Category: Aliran Silat, Artikel Silat [ in English ]

                          CINGKRIG GERAK CIPTA
                          MAENPUKULAN KHAS BETAWI RAWA BELONG

                          20110502-cingkrig-gerak-cipta-logoMaenpukulan (Silat) Cingkrig Gerak Cipta tidak akan terlepas dari silat Cingkrig pada umumnya serta kampung Rawa Belong sebagai tempat kelahiran dan perkembangannya, demikian juga sebaliknya, keduanya sangat erat dan identik tidak bisa di pisahkan satu sama lainnya, karena tidak dapat dipungkiri bahwa di Rawa Belonglah maenpukulan Cingkrig dilahirkan dan dikembangkan

                          Kata Cingkrig berasal dari ungkapan Bahasa Betawi yakni Jingkrak-jingkrik atau Cingkrak-cingkrik yang dapat diartikan gesit dan lincah. Oleh karena itu disetiap gerakan Cingkrig dibutuhkan kegesitan dan kelincahan, hal ini mengacu pada gerakan natural dari gerakan kera yang sangat gesit dan lincah, hingga dikembangkan menjadi sebuah jurus Silat (maenpukulan) yang lincah dan atraktif dalam setiap serangan yang sekaligus merupakan pertahanan dan pertahanan sekaligus juga serangan.
                          Kata Cingkrig disini menggunakan hurup “G” pada hurup terakhirnya, bukan Cingkrik yang menggunakan hurup “K” pada hurup terakhirnya, hal ini mengacu pada kebiasaan logat Betawi dimana akhiran hurup “k” bisa berubah jadi “g” seperti kata beduk menjadi bedug, gerobak menjadi gerobag, gubuk menjadi gubug dan lain sebagainya

                          GEOGRAFIS

                          Rawa Belong adalah sebuah kampung yang terletak di wilayah barat Jakarta dan sekarang telah berkembang menjadi sebuah kelurahan, yakni Kelurahan Sukabumi Utara. Terletak di wilayah Kota Madya Jakarta Barat dengan batas-batas wilayah; sebelah Utara berbatasan dengan kelurahan Kebon Jeruk, sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Sukabumi Selatan (Pos pengumben), sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Pal Merah Utara dan Gerogol Utara, sebelah Barat berbatasan dengan kelurahan Kelapa Dua.

                          SOSIO KULTURAL

                          Kehidupan masyarakat Rawa Belong rata-rata pada umumnya adalah para pedagang, petani bunga atau tanaman hias, Alim ulama, sopir dan lain sebagainya. Bahasa kesehariannya adalah bahasa daerah Betawi tengah dengan ciri pengucapan vokal “e” untuk kata yang berakhiran vokal “a”, secara umum karakter dan adat-istiadatnya sama dengan masyarakat betawi daerah lainnya, dimana unsur Agama Islam sangat kental mewarnai kehidupan sehari-hari, dan secara geneologis serta akar budaya masyarakat Rawa Belong sangat kental dengan perpaduan budaya Melayu, China dan Arab.

                          TOKOH SEJARAH DAN ASAL-USUL

                          Bila berbiacara Maen pukulan (Silat) Cingkrig, tidak bisa dipisahlan dengan tokoh yang membawa dan mengembangkan maen pukulan itu sendiri yaitu :  Ki Ma’ing
                          Alkisah dimasa lalu, banyak orang Rawa Belong yang menimba dan menuntut ilmu ke daerah Kulon (tidak dapat dipastikan tempatnya) karena berdasarkan informasi dari para orang tua, bahwa daerah Meruya dan Tanggerang sudah dianggap Kulon oleh orang-orang Rawa Belong pada waktu itu. Mereka menimba ilmu dengan belajar Ilmu Agama dan juga Ilmu beladiri, baik itu ilmu olah bathin maupun ilmu olah kanuragan.

                          Dari sekian banyak orang Rawa Belong yang menimba ilmu di Kulon, salah satunya adalah Ki Ma’ing, namun belum tuntas belajar, Ki Ma’ing memutuskan untuk kembali ke Rawa Belong. Pada suatu ketika Ki Ma’ing yang sedang berjalan, tongkatnya di rebut oleh seekor Kera milik tetangganya yang ber nama Nyi Saereh, spontan Ki Ma’ing menarik tongkatnya, dan selanjutnya terjadilah perebutan tongkat antara Ki Ma’ing dan Si Kera milik Nyi Saereh, Si Kera tidak mau mengalah begitu saja, dengan sigap dan lincahnya berusaha menarik tongkat Ki Ma’ing dengan di sertai beberapa gerakan serangan dan pertahanan yang menyerupai jurus silat.
                          Ki Ma’ing sangat terkesan dengan gerakan Kera tersebut, hampir setiiap hari Ki Ma’ing mendatangi Kera tersebut untuk mempelajari dan menganalisanya, setiap gerakan pertahanan si Kera diiringi dengan serangan yang lincah, dan begitu pula sebaliknya setiap gerakan serangan merupakan juga pertahanan dengan kombinasi antara kaki dan tangan yang begitu gesit dan lincah. Dari pengamatan gerakan natural Kera tersebut serta ketekunannya berlatih, oleh Ki Ma’ing dikembangkan menjadi gerakan jurus silat yang kemudian hari dikenal dengan sebutan CINGKRIG.
                          Ki Ma’ing menyebarluaskan dan menularkan jurus-jurusnya itu kepada murid-nuridnya yang pada masa itu mulai di kenal dengan sebutan Maenpukulan Cingkrig, karena sebelumnya orang Rawa belong hanya mengenal Cingkrig dengan sebutan Maenpukul. Ki Ma’ing menurunkan Maenpukulan ini kepada murid-muridnya  diantranya yang di kenal:  Ki Saari,  Ki Ali,  Ki Ajid.

                          Ki Saari

                          Ki Saari juga turut mengembangkan Maenpukulan Cingkrig dan mengajarkan kepada murid-muridnya, salah satu di antaranya adalah Kong Wahab.
                          Kong Wahab juga mengembangkan maenpukulan ini serta mengajarkan kepada murid-muridnya, di antaranya; anaknya sendiri yaitu Babe NUR.

                          Ki Ali

                          Ki Ali turut mengembangkan maenpukulan Cingkrig serta mengajarkan kepada murid-muridnya yang kebanyakan dari luar Rawa Belong diantaranya;

                          “    Ki Sinan yang mengembangkan di wilayah Kebon Jeruk dan sekitarnya dan mempunyai murid diantaranya; Babe Melik,  Babe Entong,  Babe Abu Hasyim.
                          “    Ki Goning yang mengembangkan di wilayah Kemanggisan dan sekitarnya dan mempunyai murid diantaranya; Babe Hamdan,  Babe Usup Utay dan sekarang di kembangkan oleh Bapak Tubagus Bambang.
                          “    Ki Legot yang mengmbangkan di wilayah Muara Angke, Pesing dan sekitarnya.
                          “    Ki Sakam yang mengembangkan di wilayah Depok dan sekitarnya dan sekarang di kembangkan oleh Babe Popon

                          Ki Ajid

                          Ki Ajid turut mengembangkan maenpukulan cingkrig di daerah Rawabelong dan mengajarkan kepada murid-muridnya diantaranya;

                          “    Kong Uming yang mengembangkan dan mengajarkan kepada murid-muridnya diantaranya; Babe Nunung,  Babe Hasan Kumis,  Babe Akib. Dan yang masih mengembangkan serta mengajarkan maenpukulan Cingkrig dari Kong Uming saat ini diantaranya; Babe Warno,  Babe Manaf,  dan masih ada yang lainnya yang belum di ketahui oleh penulis.
                          “    Kong Hayat yang mengembaqngkan dan mengajarkan kepada murid-muridnya di antaranya; Kong Majid,  Kong Acik (Munasik), dan yang masih mengembangkan dan mengajarkan maenpukulan cingkrig dari Kong Hayat  saat ini di antaranya; Bang Satria Jaya

                          CINGKRIG GERAK CIPTA

                          Membicarakan tentang Cingkrig Gerak Cipta tidak terlepas dari tokoh yang memberi nama Gerak Cipta  dibelakang kata Cingkrig yaitu Kong Acik (Munasik bin Hamim).
                          Kong Acik pertama kali belajar cingkrig kepada Kong Hayat karena kemauan dan tekadnya yang keras untuk mengetahui cingkrig lebih dalam, kong Acik memperdalam pelajarannya kepada Ki Ajid, Ki Saari dan juga Ki Ali.
                          Belum puas dengan hasil yang di dapatkannya, Kong Acik sering bersilaturahmi ke berbagai perguruan aliran lain untuk menambah pengetahuan dan pengalaman.
                          Perguruan yang di kunjungi bukan Cuma yang di Jakarta saja, tetapi sampai ke Tanggerang, Depok, Bekasi bahkan sampai Cianjur dan Garut, serta bukan hanya silat asli indonesia saja tetapi juga yang dari luar seperti Karate, taekwondo dan Kuntaw.
                          Dan akhirnya Kong Acik berhasil memadukan jurus cingkrig dengan gerak dan tekhnik yang di dapat dari aliran lain tanpa merubah atau menghilangkan jurus dasar cingkrig itu sendiri.
                          Maka oleh karena itulah Kong Acik menambahkan nama Gerak Cipta di belakang nama Cingkrig sebagai identiras/ciri dari aliran ini.

                          Kong Acik mengembangkan dan mengajarkan Cingkrig Gerak Cipta di wilayah Rawa Belong dan luar Rawa Belong seperti didaerah Rawamangun, Mampang, Bekasi  Tanggerang dan Bogor.
                          Saat ini salah satu murid Kong Acik yang masih mengajarkan Cingkrig Gerak Cipta yang juga masih keponakan beliau sendiri yaitu Bang Amri bin H. Abbas

                          JURUS – JURUS CINGKRIG GERAK CIPTA

                          Konon menurut beberapa sumber, di awal perkembangannya jurus cingkrig hanya berjumlah lima jurus dengan urutan:

                          “    1. Langkah Satu
                          “    2. Langkah Dua
                          “    3. Langkah Tiga
                          “    4. Langkah Empat
                          “    5. Langkah Lima

                          Pada perkembangan selanjutnya menjadi delapan jurus dan kemudian dikembangkan lagi setelah memasukan beberapa gerak tambahan menjadi dua belas jurus, adapun nama-nama jurus dan urutannya berbeda antara aliran Cingkrig yang satu dengan aliran cingkrig lainnya yang berkembang saat ini.

                          Ketidak seragaman dan perbedaan baik dalam jurus dan sambut pada cingkrig, dalam perkembangannya bukan masalah yang mendasar bagi yang mendalami Cingkrig itu sendiri, karena flexibilitasnya yang berkembang tergantung kepada siapa Kita belajar/berguru.
                          Namun yang paling penting adalah JANGANLAH KITA MELUPAKAN SEJARAH ASAL-USUL CINGKRIG,  yang di bawa dan di kembangkan oleh orang Rawa Belong yakni Ki Ma’ing.

                          Jurus-jurus yang di ajarkan dalam Cingkrig Gerak Cipta yaitu;

                          1.    Langkah Beset
                          2.    Cingkrig
                          3.    Buka Satu
                          4.    Satu Kurung
                          5.    Saup
                          6.    Langkah Tiga
                          7.    Langkah Empat
                          8.    Langkah Lima
                          9.    Lok Be
                          10.    Singa
                          11.    Macan
                          12.    Longok

                          Di tambah Pancer yang diturunkan setelah menguasai jurus dengan sempurna tapi bukan merupakan jurus ke tigabelas, tetapi hanya sebagai bekal tambahan.

                          Didalam Cingkrig Gerak Cipta diajarkan pula Gerak Dasar yang diturunkan sebelum jurus, tujuan dari Gerak Dasar adalah untuk melatih kuda-kuda,  kelincahan tangan dan kaki serta kelenturan tubuh/badan, Gerak Dasar juga difungsikan sebagai pemanasan jurus sebelum menjalankan atau melancarkan jurus Cingkrig.

                          Gerak Dasar didalam Cingkrig Gerak Cipta berjumlah tujuhbelas yaitu;

                          1.    Gerak Beset Tarik
                          2.    Gerak Beset Gedor
                          3.    Gerak Pasang Pukul
                          4.    Gerak Cingkrig
                          5.    Gerak Sangkol
                          6.    Gerak Rambet
                          7.    Gerak bacok Rimpes
                          8.    Gerak Saup
                          9.    Gerak kodek
                          10.    Gerak Seser
                          11.    Gerak Kosrek/Gobrek
                          12.    Gerak Tiktuk
                          13.    Gerak Bendrong
                          14.    Gerak Lokbe
                          15.    Gerak Sikut Atas
                          16.    Gerak Cakar Macan
                          17.    Gerak Longok

                          POLA LANGKAH DAN CIRI KHAS

                          Setiap langkah dalam Cingkrig Gerak Cipta mengikuti pola empat penjuru di setiap langkah, dijalankan dengan kombinasi gerak tangan dan kaki secara simultan dan hampir bersamaan. Ciri khas adalah kuda-kuda yang rendah, gerak kaki dan tangan yang cepat serta luwes dan tidak Kaku dalam terminologi menggunakan Rasa, serta tenaga pukulan di  ujung, sabetan kaki hampir bersamaan dengan gerakan tangan.

                          APLIKASI / SAMBUT

                          Dalam Cingkrig Gerak Cipta, Aflikasi/sambut di ajarkan setelah si murid menguasai jurus minimal delapan jurus, aflikasi tidak terpola dan tidak baku, dalam arti aflikasinya tergantung situasi, karena dalam jurus yang dimainkan sudah di latih pola langkah menyerang, menghindar, memukul, menangkis, menjatuhkan dan mematahkan/kuncian.
                          Beberapa istilah dalam Aplikasi sambut Cingkrig Gerak Cipta yaitu;

                          “    Sambut Gulung
                          Bertujuannya melatih gerak tangan dan kaki, kuda-kuda, kelenturan tubuh dalam menyerang dan menghidari serangan.
                          “    Sambut Rimpes
                          Bertujuan melatih refleks tangan yang dapat dilatih sambil duduk.
                          “    Sambut Pintas
                          Tujuan berlatih sambut pintas yakni agar dapat melumpuhkan lawan dengan cepat/sekali gebrak

                          SISTIM BELAJAR

                          Pembelajaran dalam Cingkrig Gerak Cipta adalah berlatih dan melancarkan Gerak Dasar dari satu s/d tujuhbelas, yang kemudian dilanjutkan dengan menjalankan jurus-jurus cingkrig, bilamana sang murid sudah menguasai sampai jurus delapan maka dilanjutkan dengan melatih Sambut yang di barengi dengan melatih jurus berikutnya hingga jurus dua belas, setelah tuntas dan halus jurus satu hingga dua belas di lanjutkan dengan jurus kombinasi atau BOMBANG kemudian di tambah PANCER.

                          FILOSOFI

                          Di awal perkembangannya, Cingkrig di ajarkan bersamaan/berdampingan dengan belajar ngaji (ilmu Agama Islam), dan oleh karenanya di gunakan sebagai media dakwah. Bagi murid yang ingin belajar cingkrig harus belajar ngaji, jadi pada masa itu bagi yang non Muslim harus masuk Islam terlebih dahulu baru kemudian diajarkan cingkrig.
                          Maka dari itu filosopi yang terkandung dalam cingkrig sangat-sangat Islami, seperti yang akan dijelaskan sedikit mengenai filosopi yang terkandung dalam cingkrig Gerak Cipta diantaranya;

                          “    Kata Gerak Cipta
                          Gerak Cipta melambangkan hubungan makluk dengan sang pencipta (Allah SWT.), karena setiap gerak atau langkah kita tidak bisa dipisahkan dengan sang Pencipta, maka wajib menjalankan apa yang di perintah dan menjauhi apa yang menjadi larangannya.
                          “    Lima Langkah dalam Cingkrig
                          Lima Langkah melambangkan Sholat Lima Waktu yang wajib didirikan sehari semalam, karena Sholat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar, maka ini dapat berfungsi sebagai peredam emosi dalam cingkrig yang bersifat keras.
                          “    Gerak Dasar
                          Gerak Dasar yang berjumlah Tujuh belas melambangkan tujuhbelas rokaat dalam sholat wajib.
                          “    Jurus
                          Jurus dalam Cingkrig Gerak Cipta ada dua belas di tambah satu Pancer melambangkkan tiga belas Rukun Sholat.
                          “    Awal Gerak
                          Setiap mengawali gerakan Silat Cingkrig Gerak Cipta selalu di awali dan di akhiri dengan mengangkat kedua belah tangan dengan cara telapak tangan menghadap keatas setinggi dada, melambangkan setiap gerak dan langkah diawali dengan Do’a dan di akhiri dengan Syukur

                          Demikianlah sekelumit tentang Maenpukulan (Silat) Cingkrig Gerak Cipta yang kami perkenalkan sebagai salah satu khasanah warisan Budaya Masyarakat Betawi, dengan harapan dapat diterima di segala lapisan masyrakat, dan kami sebagai penulis mohon maaf, karena tidak tertutup kemungkinan terjadi kesalahan dan kekhilafan dalam penulisan ini, mengingat minimnya data-data yang kami dapatkan. Namun setidaknya dengan hadirnya tulisan ini, semoga bisa menjadi motivasi bagi generasi muda untuk lebih mencintai budaya sendiri, ditengah gencarnya budaya Asing yang masuk ke Indonesia.

                          Rawa belong, 1 April 2011

                          Ditulis oleh Zay ibnu Siddiq

                           

                           

                           

                          ayo diskusi tentang cingkrig gerak cipta di forum sahabat silat

                           




                          Tags: , , , , ,


                          Artikel Cingkrig Gerak Cipta – Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong yang 'mungkin' berkaitan di situs lain:


                            - Powered by BING [2014-04-19 08:14]

                            Comments are closed.