<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Silatindonesia.Com &#187; luri</title>
	<atom:link href="http://silatindonesia.com/author/luri/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://silatindonesia.com</link>
	<description>Media Komunitas Pencak Silat Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Sat, 24 Jul 2010 05:02:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Perisai Diri International Championship VI &#8211; 2010</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2010/07/perisai-diri-international-championship-vi-2010/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2010/07/perisai-diri-international-championship-vi-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Jul 2010 11:13:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cover Story]]></category>
		<category><![CDATA[Information]]></category>
		<category><![CDATA[Liputan Khusus]]></category>
		<category><![CDATA[championship]]></category>
		<category><![CDATA[diri]]></category>
		<category><![CDATA[international]]></category>
		<category><![CDATA[perisai]]></category>
		<category><![CDATA[perisai diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=655</guid>
		<description><![CDATA[Kejuaraan ini rencananya akan diikuti oleh kurang lebih 600 pesilat dari luar maupun dalam negeri, dan akan digelar di Padepokan Nasional Pencak Silat TMII yang berkapasitas 5.000 penonton dan akan diliput baik oleh media cetak maupun elektronik. 600 pesilat (athletes) from Indonesia and overseas are expected to take part in the Championship and which will [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="shutterset_" href="http://silatindonesia.com/id/wp-content/gallery/kegiatan/20100723-pdic02.jpg"><img class="ngg-singlepic ngg-left" src="http://silatindonesia.com/id/wp-content/gallery/kegiatan/thumbs/thumbs_20100723-pdic02.jpg" alt="Perisai Diri International Championship" /></a>Kejuaraan ini rencananya akan diikuti oleh kurang lebih 600 pesilat dari luar maupun dalam negeri, dan akan digelar di Padepokan Nasional Pencak Silat TMII yang berkapasitas 5.000 penonton dan akan diliput baik oleh media cetak maupun elektronik.</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p><em>600 pesilat (athletes) from Indonesia and overseas are expected to take part in the Championship and which will be held in Padepokan Nasional Pencak Silat TMII, (capacity up to 5000 supporters) and be broadcasted by national</em></p>
<p><span id="more-655"></span><br />
Selain sebagai sarana untuk mengukur kemam-puan atlit Perisai Diri dalam prestasi, kejuaraan ini juga merupakan suatu wadah silaturahmi untuk mempererat tali kekeluargaan diantara sesama anggota Kelatnas Indonesia Perisai Did yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan negara lain. Oleh karena itu, prinsip asah, asih, asuh diharapkan dapat diterapkan dalam pelaksanaan kejuaraan ini.</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p><em>This event, apart from its function as a tool to explore the performance of the Perisai Diri athlete (pesilat), is also as a media of communication and gathering between the members of Kelatnas Indonesia Perisai Diri from Indonesia and abroad. Thus, the principle of silih asah (mutual practice), silih asih (mutual respect), and silih asuh (mutual concern), is expected to be implemented during the event.</em></p>
<p>Pembukaan acara Perisai Diri International Championship (PDIC) VI 2010 akan diselenggarakan pada<br />
hari <span style="text-decoration: underline;"><strong>Minggu, 18 Juli 2010</strong></span><br />
pukul 18:00 hingga selesai<br />
di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.</p>
<p>Acara penutupan PDIC akan diselenggarakan pada hari Jumat 23 Juli 2010.</p>
<p>Silakan beramai-ramai menonton dan memeriahkan perhelatan ini.</p>
<p>Acara ini terbuka untuk umum dan GRATIS, alias tidak dipungut biaya apa pun.</p>
<p><strong>Kami tunggu kedatangan para sahabat sekalian di PDIC VI 2010 di Padepokan  Pencak Silat TMII.</strong></p>
<p>ref:<br />
<a href="http://pdic.silatperisaidiri.com/" target="_blank">http://pdic.silatperisaidiri.com/</a><br />
<a title="Perisai Diri International Championship" href="http://sahabatsilat.com/forum/index.php/topic,1264.msg25686.html#msg25686" target="_blank">http://sahabatsilat.com/forum/index.php/topic,1264.msg25686.html#msg25686</a></p>
<p><a title="Perisai Diri International Championship" href="http://sahabatsilat.com/forum/index.php/topic,1264.msg25686.html#msg25686" target="_blank"><img class="ngg-singlepic ngg-none" src="http://silatindonesia.com/id/wp-content/gallery/kegiatan/20100723-pdic01.jpg" alt="20100723 - Perisai Diri International Championship" width="500" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2010/07/perisai-diri-international-championship-vi-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ciaat! Silat Betawi Rasa Shaolin (r)</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2010/05/ciaat-silat-betawi-rasa-shaolin-r/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2010/05/ciaat-silat-betawi-rasa-shaolin-r/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 May 2010 00:15:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Silat]]></category>
		<category><![CDATA[beksi]]></category>
		<category><![CDATA[betawi]]></category>
		<category><![CDATA[saolin]]></category>
		<category><![CDATA[shaolin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=607</guid>
		<description><![CDATA[Kalau menyebut kata &#8216;pendekar&#8217;, yang terbayang adalah orang kekar berwajah garang. Senjata tajam entah pisau atau golok, mungkin terselip di pinggang. Namun dua pria yang ditemui detikcom, jauh dari kesan itu. Yang satu tinggi berkacamata, satu lagi pendek dan agak gemuk. Keduanya ramah dan banyak guyon. Rasanya hampir tidak percaya kalau mereka adalah pendekar pencak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="shutterset_" href="http://silatindonesia.com/id/wp-content/gallery/umum/detikbeksi.jpg"><img class="ngg-singlepic ngg-left" src="http://silatindonesia.com/id/wp-content/gallery/umum/thumbs/thumbs_detikbeksi.jpg" alt="detikbeksi" /></a>Kalau menyebut kata &#8216;pendekar&#8217;, yang terbayang adalah orang kekar berwajah garang.<br />
Senjata tajam entah pisau atau golok, mungkin terselip di pinggang. Namun dua pria<br />
yang ditemui detikcom, jauh dari kesan itu. Yang satu tinggi berkacamata, satu lagi pendek dan agak gemuk. Keduanya ramah dan banyak guyon. Rasanya hampir tidak percaya kalau mereka adalah pendekar pencak silat Beksi dari Betawi.</p>
<p>&#8220;Wah kirain belum sampe, nyok masuk,&#8221; sapa Haji Basyir (41) dengan logat Betawi kental kepada detikcom di rumahnya di Jl KPBD, Kampung Baru, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa (25/5/2010).</p>
<p>Haji Basyir adalah Ketua Umum Perguruan Pencak Silat (PPS) Beksi H Hasbullah, sementara temannya Endang, adalah Koordinator Pelatih di PPS Beksi H Hasbullah. Dalam obrolan sore itu, Basyir membandingkan pencak silat dengan karate, taekwondo<br />
dan sejumlah beladiri lain yang menjadi eskul di sekolah.</p>
<p>&#8220;Di Jakarta, pencak silat jarang jadi eskul di sekolah kalau dibanding olah raga bela diri dari luar. Aneh kan? Padahal silat adalah budaya bangsa sendiri,&#8221; kata Basyir.</p>
<p>Pencak silat, juga merupakan bagian yang tidak bisa dilepaskan dari budaya Betawi. Basyir menjelaskan silat Betawi tidak hanya Beksi. Menurut Basyir, ada juga silat Cingkrik, Kotek, Honje, Golok Seliwa dan Mustika Kwitang. Belum lagi, silat Cimande asal Jawa Barat dan Banten yang ikut meramaikan khasanah ilmu beladiri di Jakarta, namun lagi-lagi pamornya dikalahkan dengan ilmu beladiri dari China, Jepang, Korea dan Brazil. Banyak juga perguruan yang bubar atau hilang, ketika sang guru meninggal. Para pengurus Beksi kini berencana membuat yayasan agar bisa mempertahankan paguyuban para pendekar Beksi.</p>
<p>&#8220;Kita sudah masuk Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), tapi Beksi belum bisa ikut pertandingan. Kita dianggap keras tekniknya, padahal pertandingan ini menjadi salah satu cara mempopulerkan Beksi,&#8221; ungkapnya panjang lebar.</p>
<p>Di tengah obrolannya itu, Basyir dan Endang pun memperaktekkan beberapa jurus Beksi. Gerakannya cepat dan banyak permainan tangan. Sekilas jadi mirip dengan aikido, bela diri kegemaran aktor Steven Seagal. &#8220;Gerakan dan jurus Beksi murni kekuatan fisik,<br />
kecepatan berpikir untuk melumpuhkan musuh. Jadi, kita tidak menggunakan ilmu tenaga dalam,&#8221; tegasnya.</p>
<p>Dalam Beksi ada ada 9 formasi, 12 jurus dan 6 jurus kembangan yang harus dikuasai setiap murid. Beksi mengandung filosofi dari setiap hurufnya, &#8216;Berbaktilah Engkau Kepada Sesama Insan&#8217;. Filosofi ini menjadi landasan kebijaksanaan para pendekar Beksi. Sementara kata &#8216;Beksi&#8217; aslinya berasal dari bahasa China, Bek berarti pertahanan, Si berarti empat. Sehingga Beksi berarti empat pertahanan. Kenapa memakai bahasa China? Rupanya silat Beksi adalah hasil akulturasi budaya China dan Betawi.</p>
<p>Basyir pun mengisahkan, silat Beksi diciptakan Lie Cheng Oek, warga keturunan China yang tinggal di Kampung Dadap, Tangerang, Banten. Lie adalah seorang pendekar silat beraliran Shaolin Utara di China. &#8220;Beliau diakui bersama sebagai guru besar yang pertama di Indonesia. Tepatnya di wilayah Tangerang dan Jakarta yang daerahnya dihuni oleh komunitas masyarakat etnis Betawi,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Ilmu Lie Cheng Oek diturunkan ke anaknya Lie Tong San, dan lalu diturunkan lagi ke cucunya, Lie Gie Tong. Selain itu, Lie Cheng Oek juga punya beberapa murid lain yaitu Ki Marhali, Engkong Haji Ghozali dan Engkong Haji Hasbullah. Lie Gie Tong pun mengakui ketiga orang ini sebagai pewaris ilmu sang kakek. Pencak silat Beksi banyak berkembang di Jakarta Selatan seperti di Cipulir, Kebayoran Lama, ada juga di Bintaro, Karawang dan Bekasi.</p>
<p>&#8220;Harapan kita, agar Beksi atau pencak silat lainnya tidak hilang ditelan zaman dan kalah dengan bela diri asing yang masuk ke sini,&#8221; ujar Basyir berharap.</p>
<p>Baysir mengatakan, Beksi juga digemari oleh orang asing. Silat Beksi juga sudah dipelajari sejumlah orang dari beberapa negara. &#8220;Nah, kenapa kita sendiri tidak mau belajar silat? Gerakan dan jurus kita berbeda, nggak apa-apa. Yang penting, pencak silat tetap jadi tuan rumah di negeri sendiri,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>sumber: <a href="http://www.detiknews.com/read/2010/05/26/162101/1364601/159/ciaat-silat-betawi-rasa-shaolin" target="_blank">detik</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2010/05/ciaat-silat-betawi-rasa-shaolin-r/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menabur Benih Pendekar Muda (r)</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2010/05/menabur-benih-pendekar-muda-r/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2010/05/menabur-benih-pendekar-muda-r/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 May 2010 00:11:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Silat]]></category>
		<category><![CDATA[beksi]]></category>
		<category><![CDATA[detik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=605</guid>
		<description><![CDATA[Sejumlah ilmu beladiri, seperti karate, judo, taekwondo, sudah menjadi kegiatan ekstrakulikuler baik di SD, SMP dan SMU di Jakarta. Pencak silat yang merupakan kebudayaan bangsa sendiri, juga ikut menjadi kegiatan eskul. Namun rupanya, tidak semua jenis pencak silat mantap bertahan. Silat Betawi seperti Beksi, rupanya agak terseok-seok untuk maju. &#8220;Hambatan pencak silat, seperti Beksi (pencak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="shutterset_" href="http://silatindonesia.com/id/wp-content/gallery/umum/detikbeksi.jpg"><img class="ngg-singlepic ngg-left" src="http://silatindonesia.com/id/wp-content/gallery/umum/thumbs/thumbs_detikbeksi.jpg" alt="detikbeksi" /></a>Sejumlah ilmu beladiri, seperti karate, judo, taekwondo, sudah menjadi kegiatan ekstrakulikuler baik di SD, SMP dan SMU di Jakarta. Pencak silat yang merupakan kebudayaan bangsa sendiri, juga ikut menjadi kegiatan eskul. Namun rupanya, tidak semua jenis pencak silat mantap bertahan. Silat Betawi seperti Beksi, rupanya agak terseok-seok untuk maju.</p>
<p>&#8220;Hambatan pencak silat, seperti Beksi (pencak silat khas Jakarta) ini, kurangnya manajemen organisasi dengan baik, belum lagi soal dana,&#8221; kata Ketua Umum Perguruan Pencak Silat (PPS) Beksi H Hasbullah, Haji Basyir, dalam obrolannya bersama detikcom di kediaman dan padepokannya di Jl KPBD, Kampung Baru, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa (25/5/2010).</p>
<p>Pencak silat Beksi, lanjut Basyir, saat ini baru diajarkan di tiga sekolah, yaitu di Putra Satria, Maambaul Ulum dan SMUN 90 Petukangan, Jakarta Selatan. Beksi diharapkan bisa memasuki semua sekolah di DKI Jakarta, karena merupakan bagian dari kebudayaan Betawi.</p>
<p>&#8220;Tidak tertutup kemungkinan kita bisa mengajak Dinas Pendidikan agar ini dijadikan kurikulum. Tapi kita harus berbentuk lembaga hukum, seperti yayasan. Ini sedang kita rintis,&#8221; terangnya.</p>
<p>Basyir mengakui anak muda memang kurang berminat mempelajari silat Beksi. Apalagi di Jakarta, banyak ilmu beladiri luar negeri yang baru masuk dan dianggap lebih modern misalnya saja Capoeira dari Brazil. Para guru silat Beksi pun melakukan sejumlah modifikasi dengan membuat formasi jurus, agar silat Beksi lebih mudah dipelajari.</p>
<p>&#8220;Kalau orang sudah tahu kegunaan atau makna jurus itu, akan lebih tertarik. Orang Swedia saja ada yang belajar, karena tekniknya tidak kalah dengan Aikido dan Jujitsu. Jurus kunciannya mematikan juga,&#8221; tegasnya.</p>
<p>Silat Beksi adalah hasil akulturasi budaya Betawi dan China. Dahulu, penciptanya adalah Lie Cheng Oek, warga keturunan China dari Kampung Dadap, Tangerang Banten. Silat Beksi kini sudah diajarkan sekitar empat generasi, termasuk salah satu cabangnya, silat Beksi Haji Hasbullah yang merupakan murid Lie Cheng Oek. Para murid silat Beksi mencoba membangun komunikasi terutama dengan generasi tua, namun itu bukan perkara gampang.</p>
<p>&#8220;Orang Betawi kan adatnya, siapa elu mau ajak-ajak gue?&#8221; kata Basyir.</p>
<p>Basyir mengakui, orang mulai tertarik belajar silat Beksi karena ketokohan guru besar PPS Beksi H Hasbullah yang menampilkan silat Beksi dalam film &#8216;Darah Muda&#8217; yang dibintangi Rhoma Irama. &#8220;Belum lagi adanya film Si Pitung, termasuk sinetronya di televisi, itu ada pengaruhnya juga,&#8221; kata Basyir yang saat ini berprofesi sebagai pedagang di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat itu.</p>
<p>Sementara, Koordinator Pelatih PPS Beksi H Hasbullah, Endang (42) juga menambahkan, saat ini pihaknya tengah mengajukan sejumlah proposal kepada seluruh sekolah yang ada di DKI Jakarta. Isinya antara lain, mengajukan agar silat Beksi bisa mendapatkan tempat sebagai pelajaran tambahan.</p>
<p>&#8220;Beksi, atau silat lainnya sebenarnya bisa menjadi media dakwah, pembinaan mental. Bukan berarti belajar silat, itu siswa diajarkan berantem, tawuran. Justru sebaliknya, bagaimana mengendalikan emosi dan mental. Silat itu olahraga dan seni juga,&#8221; terangnya.</p>
<p>sumber: <a href="http://www.detiknews.com/read/2010/05/26/163110/1364615/159/menabur-benih-pendekar-muda" target="_blank">detik</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2010/05/menabur-benih-pendekar-muda-r/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diskusi Silat: Permainan Clurit Are&#8217; Sekak dan silat Pukul Hilang</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2010/04/diskusi-silat-permainan-clurit-are-sekak-dan-silat-pukul-hilang/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2010/04/diskusi-silat-permainan-clurit-are-sekak-dan-silat-pukul-hilang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Apr 2010 04:24:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Information]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Silat]]></category>
		<category><![CDATA[clurit]]></category>
		<category><![CDATA[hilang]]></category>
		<category><![CDATA[pukul]]></category>
		<category><![CDATA[sekak]]></category>
		<category><![CDATA[silat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=592</guid>
		<description><![CDATA[Diskusi Silat :  Permainan Clurit Are&#8217; Sekak dan silat Pukul Hilang Sejarah, Filosofi dan Konsep Permainan Clurit Are&#8217; Sekak dan silat Pukul Hilang Tanggal : 24 April 2010 Jam : 09:00 &#8211; 13:00 Lokasi : Madrasah Haji Sahroni, Jl. Kebalen 2, Bilangan, Blok S 09-11 Disikusi Sejarah, Filosofi dan Konsep Permainan Clurit Are&#8217; Sekak dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Diskusi Silat :  Permainan Clurit Are&#8217; Sekak dan silat Pukul Hilang</strong></p>
<p>Sejarah, Filosofi dan Konsep Permainan Clurit Are&#8217; Sekak dan silat Pukul Hilang<br />
Tanggal : <strong>24 April 2010</strong><br />
Jam : 09:00 &#8211; 13:00<br />
Lokasi : Madrasah Haji Sahroni, Jl. Kebalen 2, Bilangan, Blok S<br />
<span id="more-592"></span><br />
09-11 Disikusi Sejarah, Filosofi dan Konsep Permainan Clurit Are&#8217; Sekak dan silat Pukul Hilang.<br />
Tentu saja seperti biasa, hadirin disediakan sesi tanya jawab untuk menambah pemahaman atas aliran ini.<br />
11-13 Diskusi teknik, praktek/aplikasi dan tanya jawab teknik.</p>
<p>Sahabats&#8230;<br />
silakan dateng <strong>Tidak</strong> dipungut biaya, alias : <strong>GRATIS</strong>.</p>
<p><strong>Jalur Donasi</strong> bisa ke:</p>
<p>Mandiri KCP Ketapang<br />
1150004380657<br />
a.n Pramono harjanto</p>
<p>Konfirmasi bisa email ke:<br />
mantrijeron14 _at_ sahabatsilat.com</p>
<p>Wassalam,</p>
<p><em>informasi lanjut, bisa juga ke:<br />
<a href="http://sahabatsilat.com/forum/index.php/topic,1573.msg32510.html#msg32510" target="_blank">http://sahabatsilat.com/forum/index.php/topic,1573.msg32510.html#msg32510</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2010/04/diskusi-silat-permainan-clurit-are-sekak-dan-silat-pukul-hilang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemerintah dan Sahabat Silat, Catatan Perjalanan</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2010/03/pemerintah-dan-sahabat-silat-catatan-perjalanan/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2010/03/pemerintah-dan-sahabat-silat-catatan-perjalanan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Mar 2010 06:16:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cover Story]]></category>
		<category><![CDATA[Featured Articles]]></category>
		<category><![CDATA[cianjur]]></category>
		<category><![CDATA[pemerintah]]></category>
		<category><![CDATA[perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[silat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=585</guid>
		<description><![CDATA[Informasi ini saya dapat sudah sekitar tiga bulan lalu bahwa Menpora dan Gubernur Jawa Barat akan berkunjung ke Cianjur dalam rangka peresmian gedung baru Kwarcab Pramuka Cianjur. Dalam acara ini Wakil Bupati Cianjur yang merupakan seorang pecinta dan praktisi silat akan menyisipkan demonstrasi Maenpo sebagai bagian dari slogan Kabupaten Cianjur : ngaos, mamaos dan maenpo. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="shutterset_" href="http://silatindonesia.com/id/wp-content/gallery/kegiatan/20100318ochid.jpg"><img class="ngg-singlepic ngg-left" src="http://silatindonesia.com/id/wp-content/gallery/kegiatan/thumbs/thumbs_20100318ochid.jpg" alt="20100318ochid" width="200" height="150" /></a>Informasi ini saya dapat sudah sekitar tiga bulan lalu bahwa Menpora dan Gubernur Jawa Barat akan berkunjung ke Cianjur dalam rangka peresmian gedung baru Kwarcab Pramuka Cianjur. Dalam acara ini Wakil Bupati Cianjur yang merupakan seorang pecinta dan praktisi silat akan menyisipkan demonstrasi Maenpo sebagai bagian dari slogan Kabupaten Cianjur : <strong>ngaos, mamaos dan maenpo</strong>.<br />
Mengingat ini kesempatan yang sangat bagus untuk  promosi pencak silat, alangkah baiknya dalam kesempatan ini Forum dan komunitas Sahabat Silat dapat bertatap muka dan ber-audiensi dengan Menpora dan Gubernur Jabar. Dengan demikian gaung dan gerakan peduli silat akan makin menasional.<br />
<span id="more-585"></span></p>
<p>Setelah sempat tenggelam beberapa lama, akhir nya datang juga berita bahwa acara ini jadi terselenggara tanggal 17 Maret 2010.<br />
Saya sempat berkunjung ke Cianjur pada malam Jumat tanggal 11 Maret 2010, dan berkesempatan melihat persiapan demonstrasi Maenpo Cikalong (Pabuci) dan bertemu dengan Wakil Bupati Cianjur. Pada kesempatan itu terlihat sekali antusias orang nomor dua di Cianjur ini memperkenalkan pencak silat ke pemerintah pusat. Sayang sekali, informasi yang saya dapat, waktu dan jadwal sang Menteri sudah ditentukan dan sangat singkat. Sangat kecil peluang untuk bertatap muka dan ber-audiensi. Demonstrasi maenpo saja hanya diberikan waktu 15 menit, tidak boleh lebih. Bagaimana waktu yang sangat singkat ini bisa dimanfaatkan untuk memperkenalkan Forum dan Sahabat Silat serta Gerakan Peduli Silat?</p>
<p>Kebetulan siang hari  nya saya sedang iseng berjalan-jalan dan mampir ke satu tempat pembuatan PIN.<br />
Rencana nya PIN Sahabat Silat dan Gerakan Peduli Silat ini akan saya bagikan ke para sahabat yang berkumpul pada hari Sabtu di Padepokan Pencak Silat dalam rangka peliputan kegiatan Forum oleh RCTI. Ide muncul : “<em>bagaimana jika di waktu yang sangat sempit ini disisipkan acara penyematan Pin tersebut ke Menpora, Gubernur Jawa Barat dan Bupati Cianjur?</em>”<br />
Ide ini segera saya sampaikan ke Pak Haji Ceng Suryana sebagai Gubesa Pabuci , Wakil Bupati Cianjur dan beberapa teman senior di sahabat silat. Pak Haji sangat setuju, Pak wakil Bupati juga setuju. Alhamdulillah, dari rekan sahabat silat, Uda Aslim dan Bang Syamsul meenyambut baik ide saya ini.<br />
Informasi terakhir, acara diundur satu hari menjadi hari <strong>Kamis tanggal 18 Maret 2010</strong>.<br />
“<span style="text-decoration: underline;"><em>wah bakalan bolos kerja lagi nih, pikir saya.. Oke lah kalau begitu, panggilan silat rupanya lebih kuat, hehehe…</em></span>”</p>
<p>Bertiga dengan Kang Iwan Setiawan dan Kang Mas Priatna, saya meluncur ke Cianjur hari Rabu sore. Bermalam di sana dan bertemu dengan Uda Aslim, Bang Syamsul dan Mas Adi yang bertugas meliput acara. Dengan demikian, kehadiran Forum dan Sahabat Silat diwakili oleh kami berenam.<br />
Rupanya kehebohan menyambut acara ini tidak hanya terjadi di jajaran Pemkab Cianjur sebagai tuan rumah. Paguron Pabuci sendiri secara intensif telah mempersiapkan diri selama tiga bulan –maklum pertama kali mau demo dihadapan Menteri-, dan persiapan juga oleh Tim Sahabat Silat : Bang Syamsul dan Uda Aslim rela meninjau lokasi pada jam 11 malam untuk memastikan lokasi liputan di pendopo kabupaten sudah matang. Menghabiskan malam di kediaman Pak Haji diisi dengan ngobrol santai dan bercanda ria seperti biasa nya.</p>
<h4>Kamis pagi hari, tanggal 18 Maret 2010</h4>
<p><a class="shutterset_" href="http://silatindonesia.com/id/wp-content/gallery/kegiatan/20100318pedi.jpg"><img class="ngg-singlepic ngg-left" src="http://silatindonesia.com/id/wp-content/gallery/kegiatan/thumbs/thumbs_20100318pedi.jpg" alt="20100318pedi" width="200" height="150" /></a>Acara ini diadakan di dua lokasi, pagi hari di pendopo kabupaten dengan acara makan pagi bersama dan pemutaran film Ensiklopedi Silat Indonesia (ESI), setelah itu acara puncak di gedung kwarcab pramuka Cianjur yaitu peresmian gedung dan demo serta atraksi-atraksi. Oleh karena itu kami berenam dibagi menjadi dua tim. Tim pertama terdiri dari Kang Iwan, Uda Aslim, Bang Syamsul dan Mas adi yang bertugas menemani Bpk Edy Nalapraya pada saat jamuan makan pagi dan pemutaran filem ESI. Tim kedua saya dan mas Pri menuju lokasi acara. Perlu dicatat bahwa acara ini adalah acaranya PRAMUKA, Silat dan Sahabat Silat hanya “memanfaatkan kesempatan dengan  fasilitas waktu dari Bapak wakil Bupati Cianjur”.</p>
<p>Jam tujuh pagi tim pertama berangkat. Tim kedua satu jam berikut nya menuju gedung kwarcab pramuka Cianjur.  Kemeriahan penyambutan Menpora sudah terasa di jalan-jalan menuju lokasi oleh para pejabat kabupaten dan pelajar pramuka. Tidak ketinggalan sinar matahari yang cukup menyengat.<br />
Demonstrasi maenpo/pencak silat terjadwal pada acara keempat setelah pembukaan, demonstrasi ibing pencak silat oleh para pelajar pramuka, dan sambutan ketua panitia (Wakil Bupati Cianjur), sekitar pukul 10.30 waktu Cianjur. Ide ini, yang sudah saya sampaikan sebelum nya yaitu  penyematan PIN setelah demonstrasi maenpo. Mmasalah nya adalah Menpora dan rombongan datang terlambat (ga perlu heran sih..) dan dalam susunan acara yang saya intip belum ada jadwal  ini. Waktu nya telah disusun sedemikian rupa, time by time.</p>
<p>Sekitar jam 8, Uda Aslim telpon dari pendopo kabupaten bahwa protokol menpora bersedia menyisipkan waktu untuk penyematan PIN Sahabat Silat dan penyerahan Proposal ESI. Kini tugas saya menghubungi panitia dan melobi agar dalam susunan acara setelah demo maenpo akan ada acara tambahan yaitu “penyematan PIN Sahabat Silat dan GPS serta penyerahan proposal ESI”.<br />
Setelah menemui seksi acara di kepanitiaan setempat, saya dapat ijin untuk “mendiktekan” acara tambahan ini. Lengkap nya sebagai berikut :<br />
1.Penyematan PIN Sahabat Silat kepada Menpora, Gubernur Jawa Barat, Bupati Cianjur dan Wakil Bupati oleh Kang Iwan Setiawan<br />
2.Penyerahan Proposal ESI kepada Menpora dan Gubernur Jabar oleh Bang Ochid</p>
<p>Pembawa acara juga saya minta untuk menyampaikan bahwa acara ini dihadiri pula oleh Bpk Edy Nalapraya selaku Presiden Persilat dan Oong Maryono sebagai Mantan juara dunia pencak silat.<br />
Sekitar Jam 9 rombongan Menporan dan Gubernur Jawa Barat tiba di lokasi acara. Setelah acara penyambutan, tibalah waktu nya memperlihat kan kepada Menpora salah satu pilar Kabupaten Cianjur yaitu MAENPO. Didahului dengan atraksi ibing dan aplikasi pencak silat oleh para pelajar pramuka, diselingi oleh sambutan ketua Panitia, pada pukul setengah sebelas tampillah Paguron Maenpo Cikalong Pancerbumi, menunjukkan beberapa jurus dan aplikasi di atas matras yang tersengat panas matahari.</p>
<p>Ada sedikit gangguan teknis, pembawa acara menyampaikan kepada saya bahwa acara penyematan PIN dan penyerahan Proposal tidak bisa dilaksanakan, karena jam 11 tepat Menpora harus meninggalkan lokasi dan waktu nya tidak cukup. Saya berkeras bahwa acara ini harus tetap dilaksanakan, setelah sedikit kebingungan, akhir nya panitia setuju dan memutuskan bahwa acara makan siang bagi Menpora yang ditiadakan, saya legaaa…<br />
Tetapi sayang nya narator demo maenpo ikut terpengaruh mepet nya waktu, persiapan demo maenpo yang intensif selama tiga bulan tidak dapat tampil maksimal karena  dikejar-kejar waktu.  Nara tor selalu minta waktu dipercepat. Positif nya adalah para guru dan teman-teman jadi tidak terlalu lama terjemur di atas matras <img src='http://silatindonesia.com/id/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Tiba lah waktu nya penyematan PIN sahabat silat dan penyerahan proposal ESI, tepat beberapa menit menjelang pukul 11. Dengan serbuan para juru kamera, Menpora kami “perkenalkan” dengan Forum Pecinta dan Pelestari Silat Indonesia dan  Komunitas Sahabat Silat.</p>
<p><strong>Semoga peristiwa ini menjadi awal dari lahir nya kesadaran pemerintah bahwa ada warisan budaya bangsa yang selama ini terabaikan, PENCAK SILAT.</strong></p>
<p>Wabillahi taufik wal hidayah<br />
-ochid-</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2010/03/pemerintah-dan-sahabat-silat-catatan-perjalanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melihat langit bisa lewat kubangan air, mengukurnya? Jangan&#8230;.</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2010/02/melihat-langit-bisa-lewat-kubangan-air-mengukurnya-jangan/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2010/02/melihat-langit-bisa-lewat-kubangan-air-mengukurnya-jangan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Feb 2010 02:04:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cover Story]]></category>
		<category><![CDATA[Featured Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Liputan Khusus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=559</guid>
		<description><![CDATA[Dalam sebuah acara yang baru kuhadiri hari ini Pemberian Gelar Pendekar bagi warga Spanyol oleh PERSILAT (14 Pebruari 2010), sempat dipertontonkan video proposal ESI (Enslikopedi Silat Indonesia) garapan para teman dan sahabatku. Berbagai tangggapan bermunculan. Ada menarik dan menggelitik hatiku mengenai tanggapan seseorang yang mengatakan yang ditampilkan itu bukan silat asli, baik Pamacan, Cimande, Cikalong [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam sebuah acara yang baru kuhadiri hari ini Pemberian Gelar Pendekar bagi warga Spanyol oleh PERSILAT (14 Pebruari 2010), sempat dipertontonkan video proposal ESI (Enslikopedi Silat Indonesia) garapan para teman dan sahabatku.<br />
Berbagai tangggapan bermunculan.<br />
Ada menarik dan menggelitik hatiku mengenai tanggapan seseorang yang mengatakan yang ditampilkan itu bukan silat asli, baik Pamacan, Cimande, Cikalong dan Kumangonya. Beliau (yang mengatakan hal tersebut) dengan serta merta menerangkan apa itu Cikalong, apa itu Cimande dan juga Kumango. Sayang aku tak sempat berdiskusi dengannya. Sahabatku dan saudara perguruanku yang turut larut dalam pembicaraan itupun hanya mengiyakan dan mengangguk-angguk. Mungkin karena menjaga sikap santunnya yang selama ini jarang menempel di kepalaku.<br />
Namun dalam hatiku cukup membuatku terhenyak, bagaimana mungkin sesuatu yang kami sedang angkat dan cukup berhati-hati dalam mengkaji yang memakan cukup banyak waktu langsung ke nara sumber yang terkait dibilang: <strong>”Itu bukan asli&#8230;”</strong></p>
<p><span id="more-559"></span></p>
<p>Tak hanya cukup bingung namun aku juga prihatin mendengarkan perkataannya, dalam beberapa penerangannya ternyata penggambaran tentang dari mana Cimande, apa itu Cikalong dan Kumango masih pada tataran sangat dasar yang diketahui banyak orang dan sama sekali tidak menggambarkan utuh bagaimana ciri suatu penggambaran bela diri pencak silat. Ketika berbicara Cimande dari kampung Mande, ternyata beliau tidak tahu bahwa sejak lama beberapa daerah di sana telah ditenggelamkan menjadi waduk. Saat berbicara mengenai Cikalong ternyata beliaupun tidak mengenal siapa penerus aliran ini dari garis penerus Gan Uweh ”Pasar Baru” yang ditampilkan begitu juga tentang pencak silat yang memiliki sikap pasang panjang adalah Cikalong dan Cimande rapat, inipun adalah gambaran umum yang dengan mudah didapat dari menguping atau katanya dengan sumber yang tidak jelas. Khusus Cikalong (maenpo Cikalong), penggambaran sikap yang panjang dan posisi kuda-kuda ringan adalah pola umum bukan merupakan indentitas khusus. Sebagaimana kita ketahui, aliran Cikalong adalah salah satu aliran pencak silat yang memberikan warna pada perkembangan pencak silat Jawa Barat juga tanah air. Apakah ketika kita ini bingung dengan warna asli Cikalong itu sendiri karena kita terbiasa dengan ”warna” yang berkembang??? Bagaimana mungkin menilai sebuah bentuk bela diri asli atau bukan tanpa mempelajari dan mendalami? Dengan latar belakang sama-sama pesilat, menurut saya hal tersebut melampaui kewenangan penilaiannya (dalam istilah anak gaul, belajar juga kagak kok berani monten?). tanpa mengurangi rasa hormat pada beliau sebagai sesepuh pencak silat, kiranya juga beliau mau kita ajak diskusi dan membaca bahwa banyak lho kekayaan pencak silat kita itu.</p>
<p>Kumango yang kami jadikan bahan dalam garapan video proposal ESI adalah salah satu penerus yang juga diketahui oleh banyak orang dari Nagari Kumango sendiri dan itupun merupakan penerus aliran Syech Kumango ini (Almarhum Guru Gadangnyapun kami kenal dekat). Begitu juga dengan Pamacan, Gerak Gulung Budi Daya yang menampilkan beberapa Raka Wiranya, Cikalong yang menampilkan Guru Besar, Guru dan para murid yang merupakan penerus aliran ini yang telah diketahui oleh pemda Kabupaten Cianjur yang masuk ke dalam daftar pelestari seni budaya Cianjur yang insya Allah akan dimasukan dalam hak paten sebagai HAKI anak bangsa sebagai salah satu kekayaaan budaya bangsa, Si Bunder yang menampilkan generasi mudanya, Golok Suliwa yang langsung menampilkan sang Gurunya, Beksi Tradisional Haji Hasbullah yang merupakan salah satu perguruan yang memegang tradisi dan pakem yang berlaku. Mungkin menjadi hal yang biasa ketika pembicaraan ini adalah ajang tanya jawab.</p>
<p>Sebenarnya hal tersebut tak perlu aku pusingkan jika yang dibahas adalah bukan ranah dan apa yang sedang aku pelajari dan amanahkan menjaganya. Namun ketika berbicara maenpo Cikalong dan para guruku dianggap bukan asli, aku teringat kejadian yang berulang di Bandung tahun 1984 di mana ketika penampilan para murid waktu itu dianggap bukan asli karena tidak gagah dan di katakan sebagai silat perempuan (padahal saat itu maestro Cikalong, Raden Haji O. Soleh / Gan Uweh masih ada) Namun penilaian ini malah tidak membuat Guru Besar generasi IV marah, malah dikatakannya, ” keun bae disebut silat awewe oge&#8230;../ biar saja disebut silat perempuan juga” sekaligus menepis keraguan para murid terdahulu, beliau bilang semakin dianggap bukan Cikalong itu menandakan semakin tidak tahunya orang tersebut, maka biarkanlah&#8230;.<br />
Bukan bermaksud menempatkan menerapkan perkataan Guru Besar Raden Haji O. Soleh pada hal ini. Namun alangkah elok dan baik jika beliau yang mengatakan bahwa apa yang telah kami kerjakan ini bukan asli maka sebagai orang yang jauh lebih muda dan sebagai murid dari aliran Cikalong, adalah pantas jika aku juga meminta beliau ini untuk menerangkan Cikalong ”asli” versinya. Begitu senangnya aku berdiskusi aliran Cikalong yang dapat membukakan mata dan hatiku, tidak menepis kemungkinan akupun meminta data dan bagaimana mengenal Cikalong ”asli” nantinya dari beliau ini. Sekaligus meminta data dengan memulai diskusi yang santun dan elegan, aku mencoba menyampaikan hal ini.</p>
<p>Mungkin antara kenal dengan sok kenal itu dekat, tapi antara tahu dengan sok tahu, ahli dengan sok ahli itu jauh dan sangat jauh&#8230;..</p>
<p><em><strong>Air kubangan memang dapat dijadikan alat melihat langit, namun jangan kita mengukur ketinggian langit dari air di kubangan.</strong></em></p>
<p><em>notes of Iwan Setiawan<br />
di kutip dari <a href="http://www.facebook.com/notes/iwan-setiawan/melihat-langit-bisa-lewat-kubangan-air-mengukurnya-jangan/308047761911">facebook Iwan Setiawan</a></em></p>
<p><em> <img class="alignleft" title="Liputan di Acaranya Kedutaan Spanyol" src="http://silatindonesia.com/id/wp-content/uploads/foto.jpg" alt="" width="180" height="134" /></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2010/02/melihat-langit-bisa-lewat-kubangan-air-mengukurnya-jangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sahabat Silat Peduli ke Padang</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2009/10/sahabat-silat-peduli-ke-padang/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2009/10/sahabat-silat-peduli-ke-padang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Oct 2009 06:10:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cover Story]]></category>
		<category><![CDATA[Flash Info]]></category>
		<category><![CDATA[Information]]></category>
		<category><![CDATA[gempa]]></category>
		<category><![CDATA[padang]]></category>
		<category><![CDATA[peduli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=401</guid>
		<description><![CDATA[Sahabat Silat memfasilitasi keberangkatan tim dari Cimande dipimpin Pak Cemong (kusmedi), Pendekar Pamacan Cimande, untuk membantu pengobatan korban gempa di Sumatera Barat dengan cara tradisional khas Cimande. Insya Allah tim akan berangkat dari Bogor, besok tanggal 6 oktober 2009. Hal ini bisa terlaksana, antara lain dengan kerjasama antara sahabat silat dan warga minang di Jakarta, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://sahabatsilat.com">Sahabat Silat</a></strong> memfasilitasi keberangkatan tim dari <strong>Cimande</strong> dipimpin Pak Cemong (kusmedi), Pendekar Pamacan Cimande, untuk membantu pengobatan korban gempa di Sumatera Barat dengan cara tradisional <strong>khas Cimande</strong>.<br />
Insya Allah tim akan berangkat dari Bogor, besok tanggal 6 oktober 2009.</p>
<p>Hal ini bisa terlaksana,<br />
antara lain dengan kerjasama antara sahabat silat dan warga minang di Jakarta, tanah abang dibantu oleh Guru Silek Harimau, Edwel Datuk Rajo Gampo Alam..</p>
<p>Kita doakan Pak Cemong beserta tim dapat segera membantu saudara-saudara kita yg tertimpa musibah di Sumbar dan segala daya upaya beliau beserta semua yg terlibat mendapat rahmat dan berkah dari Allah SWT.</p>
<p>ref: <a href="http://sahabatsilat.com/forum/index.php/topic,1341.msg26913/topicseen.html#new" target="_blank">SahabatSilat</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2009/10/sahabat-silat-peduli-ke-padang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenapa Pilih Silat, Bah?</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2009/10/kenapa-pilih-silat-bah/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2009/10/kenapa-pilih-silat-bah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Oct 2009 06:02:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Silat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=397</guid>
		<description><![CDATA[(catatan kecil dari Iwan Setiawan) Anakku yang pertama sering bertanya seperti itu. Kadang jawabanku ya sekenanya, tergantung keadaan hati saat ditanyakan. Mungkin hal yang sama juga sering kali terlintas di benak istri tercintaku yang sama sekali tidak dan bahkan tak mau mengenal pencak silat. Mungkin baginya cukuplah satu orang ”gila” silat di rumah tak perlu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><span style="color: #333399;">(catatan kecil dari Iwan Setiawan)</span></em></p>
<p>Anakku yang pertama sering bertanya seperti itu. Kadang jawabanku ya sekenanya, tergantung keadaan hati saat ditanyakan. Mungkin hal yang sama juga sering kali terlintas di benak istri tercintaku yang sama sekali tidak dan bahkan tak mau mengenal pencak silat. Mungkin baginya cukuplah satu orang ”gila” silat di rumah tak perlu ditambah. Terkadang hati ini trenyuh juga, cuma seorang yang belajar silat di rumahku. Ke”gila”an silat sama sekali tak mempengaruhi istri tercintaku untuk mengetahui apa sebenarnya yang digilai suami. Meski sesekali anakku mulai menanyakan apa dan mengapa, namun larangan ibundanya cukup membuat pintu yang kubuka lebar-lebar terasa menjadi jauh.<span id="more-397"></span></p>
<p>Oh ya, pencak silat adalah seni bela diri asal Indonesia, mungkin itu adalah kata pembuka yang seringkali kita dengar sebelum mengupas pencak silat. Perkembangannya kini telah telah merambah ke berbagai benua. Di berbagai negara kini banyak yang mempelajarinya baik secara langsung dengan perwakilan perguruan yang memang telah mengembangkannya hingga ke manca negera atau dengan pelatih yang resmi atas nama perguruan atau sebagai wakil negeri ini juga pada orang secara pribadi yang telah belajar. Pengembangan dan perkembangan pencak silat ke berbagai negara adalah buah hasil dari para guru, pendekar maupun pelatih terdahulu. Suatu prestasi yang luar biasa jika dilihat dari rentang waktu yang tidak terlampau lama.</p>
<p>Secara organisasi, perguruan dan aliran pencak silat Indonesia membuahkan organisasi induk sekitar tahun 1940-an tepatnya tanggal 18 Mei 1948 di Surakarta dengan nama Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia disingkat IPSI dan pada Munas pertama diubah menjadi Ikatan Pencak Silat Indonesia dengan singkatan yang sama. Dan pada tanggal 11 Maret 1980 didirikan PERSILAT atas prakarsa IPSI yang merupakan induk organisasi pencak silat sedunia dengan beberapa perwakilan, dari PERSISI (Persekutuan Silat Singapura) dan Kementerian Kebudayaan, Belia dan Sukan Malaysia yang saat itu belum berdiri PESAKA. Dan baru pada tahun 1985 di Sidang Umum I PERSILAT di Malaysia setelah PESAKA berdiri kementerian tersebut mengalihkan keanggotaannya. Dan pada tahun 1988 di Sidang Umun II di Singapura, Persekutuan Silat Kebangsaan Brunei Darussalam resmi menjadi anggota pendiri. Sejak keempat induk organisasi negara Indonesia (IPSI), Singapura (PERSISI), Malaysia (PESAKA) dan Brunei Darussalam (PERSIB) bergabung saat itu pula pencak silat memiliki induk organisasi internasional dengan Presiden PERSILAT-nya bapak Eddie M. Nalapraya. Perjalanan ini merupakan buah prestasi yang luar biasa bagi pengembangan pencak silat hingga tataran internasional.</p>
<p>Namun apa yang kini terjadi di negeri ini? Pencak silat bagaikan tuan rumah yang tidak diakui keberadaannya. Hingga dalam beberapa diskusi sering saya katakan bahwa adalah salah menyebutkan ”jadikan pencak silat tuan rumah di negeri ini” karena secara de facto ataupun de jure pencak silat adalah bela diri tradisonal bangsa Indonesia yang memang tuan rumah. Kenapa kita selalu meneriakkan hal yang sebenarnya telah menjadi hak milik kita? Kenapa kita tidak bersikap dan berperilaku sebagai layaknya tuan rumah sesungguhnya dan bukan sebagai tamu dirumah sendiri? Keadaan lesunya pengembangan dan perkembangan pencak silat yang bagaikan episode yang seakan berganti dan berakhir anti klimaks. Perdebatan yang sering muncul dan dimunculkan adalah kenapa pencak silat tidak berkembang sepesat bela diri lain yang kini digandrungi generasi muda bahkan kalangan eksekutif sekalipun. Dan pembahasan jalan keluarnya adalah selalu berkutat tak jauh dari organisasi dan manajemen modern atau kemasan yang harus dibuat cantik dan menarik agar minat mempelajarinya bertambah. Atau banyaknya keluhan dan ungkapan miris tentang pencak silat yang seolah tertidur dalam hiruk pikuk perkembangan seni bela diri tanah air. Kadang kepala ini berpikir (meski sebenarnya malas untuk berpikir) betulkah solusi tersebut memberikan jawaban akan kemajuan pencak silat?</p>
<p>Ketika kita lihat perjalanan pencak silat hingga tingkat dunia, ini adalah sebuah hasil karya yang patut diacungi jempol begitu juga dengan dibentuknya induk organisasi di tanah air tahun 1940-an, itupun suatu prestasi dan terobosan yang sangat fantastis dan luar biasa. Ketika pencak silat bersinggungan dengan sentuhan moderen hingga menjadikan perguruan / paguron menjadi organisasi dan memiliki bentuk pengelolaan / manajeman moderen, namun apakah itu cukup untuk menjadikan pencak silat langgeng dan lestari?</p>
<p>Pada saat yang berlainan seringkali keluhan yang tampak adalah pencak silat kurang memiliki kemasan yang menarik. Mungkin ada benarnya juga&#8230;karena dalam beberapa kali saya mempelajari pencak silat, hal yang pertama datang adalah pandangan pertama saat menyaksikan atraksi atau demontrasi pencak silat. Betapa saya dulu ingin sekali mematahkan tumpukan balok es, beton maupun batangan besi malah terkadang belajar silat adalah karena ingin dengan mudah melemparkan lawan tanpa menyentuh alias memukul jarak jauh dengan tenaga dalam&#8230;.wah, suatu hal yang menakjubkan jika semua itu dapat dilakukan, mematahkan batang pompa hanya dengan selembar gulungan koran. Atau tak mempan dan kebal senjata tajam bahkan keinginan bisa ”melihat” dalam kegelapan atau dengan mata ditutup sekalipun. Ini merupakan hal yang lumrah, menapikan segala bentuk tampilan tentunya akan sedikit yang berkeinginan datang mempelajari pencak silat. Namun sekali lagi yang menjadi pertanyaan apakah penampilan kemasan pencak silat juga akan membuat pencak silat akan semakin membuatnya langgeng dan lestari? Kedua solusi yang kerap menjadi bahan perbincangan ini juga menjadi bahan pikir bagi kita yang berkeinginan terus agar pencak silat maju berkembang sesuai harapan.</p>
<p>Mengkaji kembali usulan yang kerap kita lontarkan untuk kemajuan pencak silat adalah hal yang patut kita pertimbangkan, jangan sampai kebosanan kita terhadap persoalan yang sama kembali terjadi hanya karena penanganan permasalahan tak pernah menyentuh akar permasalahan yang sebenarnya. Dalam satu seminar pencak silat di UI, seorang pembicara yang merupakan pendekar senior memberikan jawaban yang harusnya menjadi bahan renungan bagi penanya yang mewakili generasi muda (juga kita) ketika ditanya, mengapa pencak silat kurang berkembang? Dan dengan diplomatis pendekar inipun menjawab,”Seharusnya hal-hal ini tak perlu lagi ditanyakan sekarang, karena sejak dulupun pertanyaan semacam ini sudah ada&#8230;” Miris sekali mendengarkan jawaban seperti itu setelah besar pengorbanan dan apa yang mereka lakukan terhadap pencak silat, pertanyaan ini seharusnya sudah tidak lagi menjadi pertanyaan padanya. Namun juga merupakan suatu kemunduran berpikir jika tetap kita hanya mempermasalahkan segala kekurangan tanggap dan penanganan yang dilakukan induk organisasi pencak silat negeri ini terhadap kronisnya penelitian, pengembangan, informasi dan segala tetek bengek yang seharusnya menjadi urusannya. Ketika semua usaha dan pikiran yang telah tertuang dalam bentuk karya nyata, hendaknya kita juga arif menghargainya jangan sampai kita hanya mempermasalahkan hal-hal sepele, seperti pertandingan pencak silat kini tiada beda dengan bela diri lain, kaidahnya tak terlihat, seni pencak silatnya lebih menonjolkan seni ketimbang pencak silat itu sendiri dan berbagai alasan yang sebenarnya gampang di jawab.</p>
<p>Kembali pada permasalah solusi yang sering kita ajukan mengenai memodernkan ”paguron”, manajemen dan kemasan. Menurut pengamatan saya (meski kadang mengamati kadang tidak) kedua hal ini telah dilakukan sejak pendahulu pencak silat duduk bersama membuat induk organisasi. Terobosan ini telah dilakukan dan bukan merupakan hal baru. Jadi ketika kita mengajukan dua solusi (menurut kita ..) sebenarnya tak lain dan tak bukan kita hanya mengulang usulan para perintis terdahulu. Ketika kita telah memiliki induk organisasi bukankah itu merupakan suatu buah pemikiran dan karya yang moderen? Ketika kita menampilkan pencak silat lewat duta-dutanya ke luar negeri, bukankah itu juga suatu kemasan yang ciamik dan cantik yang tentunya sangat menarik. Lalu apakah kita akan membungkus kembali kemasan pencak silat dengan kemasan lagi??? Jika itu yang terjadi, maka sebenarnya kita tidak mengerti apa yang kita ”jual”, kita hanya akan menjadi penjual kemasan dari pencak silat yang telah dikemas. Ibarat menjual kantong ”kresek” pembungkus untuk buah yang terbungkus rapi.</p>
<p>Seorang kawan menginspirasikan saya, kenapa kita tidak berpikir dengan kearifan purbakala? (meski dalam beberapa hal saya menentang namun dalam hal ini ada benarnya juga). Ketika kita berbicara kemajuan dan pengembangan pencak silat, kenapa kita tidak berpikir juga sebagaimana leluhur pendiri dan para penerus atau pewaris melanggengkan keilmuannya hingga pada kita? Bukankah dari mereka ke kita merupakan rentang watu yang sangat etramat panjang dan patut menjadi renungan ? Kenapa kita tidak berpikir seperti halnya mereka mengamanahkan pada generasi berikutnya? Atau berpikir bahwa pencak silat adalah ”permata” yang harus dijualnya, bukan bungkus permata tersebut. Karena biar bagaimanapun ketika menjual bungkus (permata) sekalipun akan jauh lebih murah ketimbang permatanya, dan yang dapat bungkuspun akan berbeda memegangnya dengan mendapatkan permatanya. Mungkin pikiran saya terlampau cetek alias dangkal, tapi bagi saya kedangkalan air sekalipun dapat melihat langit melalui bayangannya. Ketika kita berpikir organisasi modern, para guru dan pendekar tempo dulu bahwa mengembangkan pencak silat adalah melalui jalur keluarga dan kerabat, andaikan ke luar keluarga maka ada sumpah dan janji yang mengikat dan mutlak harus ditaati. Juga seleksi berdasarkan perilaku atau ahlak, tidak diterimanya murid karena tidak memiliki sifat dan tabiat yang baik adalah hal biasa terjadi, serta mengamanahkan tampuk keilmuan berdasarkan kriteria yang pantas dan patut. Ketika seorang murid sekalipun hebat namun tidak dapat mentranfer keilmuannnya maka guru akan melarangnya mengajar dan ini dipatuhi. Sehingga sering kita dengar pendekar yang tidak mau memiliki murid karena hal tersebut. Ini juga mengartikan bahwa seseorang dituntut mengerti akan posisi dirinya.. Pemikiran sederhana ini sebenarnya adalah salah satu prasyarat utama dalam organisasi modern, bahwa kepercayaan akan pribadi perorangan, kemampuan, sikap dan sifat baik adalah dasar langgeng atau tidaknya sebuah keilmuan pencak silat (kini ”organisasi” pencak silat / perguruan) yang akan turunkan dan pengawasan melekat. Ini semua telah ada sejak pencak silat itu ada, kenapa kita tidak menelaahnya?.</p>
<p>Ketika berbicara kemasanpun, seharusnya kita tidak melupakan pencak silatnya. Karena begitu kita mengemas dan orang tertarik pada kemasan, akan celaka sekali kita karena ternyata kita hanya mampu menjual pada tahap kemasan semata. Saat seseorang telah bisa mematahkan es balok bertumpuk, mematahkan beton atau besi batangan, bisa melemparkan lawan denag tenaga dalam, bisa melihat dalam kegelapan dengan mata tertutup bahkan kebal senjata sekalipun, setelah itu apa?? Selesaikah pencak silat sampai di situ?? Tentu saja tidak, kan? Namun kenyataan yang terjadi adalah setelah hal itu didapat, satu persatu yang belajar berhenti dan tak muncul lagi. Hingga pencak silat yang katanya long life education hanya berhenti pada tataran ”bisa”. Kenapa kita juga tidak berpikir sebagaimana orang dahulu? Di mana belajar pencak silat selalu diiringi belajar agama, dan menekankan mempelajarinya adalah salah satu cara menjadikan kita manusia yang berpribadian atau berakhlak baik. Keilmuan pencak silat bukanlah oleh-oleh yang mudah didapat tanpa susah payah, dan kematangan emosi dan jiwa menjadi pertaruhan untuk mendapatkan meteri lanjutannya. Sehingga keilmuan yang dimiliki memberi warna dalam keseharian kehidupan seseorang. Dan sangat berbeda dengan sekarang, dimana ujian kenaikan tingkat kadang bukan lagi merupakan titian kematangan baik emosi maupun jiwa seorang pesilat mencapai tahapan lanjut. Kenapa kita menggabungkan pemikiran lampau dengan sekarang?</p>
<p>Kenapa setelah berkembang hingga ke manca negara dengan terobosan lalu, kita tidak melakukan terobosan mengembalikan konteks berpikir pencak silat sebagai sebuah budaya bukan sebagai barang, dan berpikirlah sebagaimana seorang pesilat berpikir. Hingga pada saatnya nanti saya, anda dan siapaun yang menjadi pesilat akan mantap menjawab pertanyaan tiap orang, mengapa kita memilih pencak silat? Dan kita akan menjawab, ”pencak silat mengajarkan dan menjadikan kita manusia yang baik dengan pemikiran tradisional yang baik di alam moderen&#8230;.” anak-anakku pasti bangga abahnya pesilat sedangkan istriku paling tertawa, atau ya minimal tersenyum&#8230;..aahhhh, ada-ada saja&#8230;</p>
<p>Iwan Setiawan</p>
<p>Pesilat<br />
Thank to mas Bram, pak Monu, dan sahabat silat semua</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2009/10/kenapa-pilih-silat-bah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Opini &#8220;Pencak Silat&#8221;ku Tentang Pahlawan</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2009/08/opini-pencak-silatku-tentang-pahlawan/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2009/08/opini-pencak-silatku-tentang-pahlawan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Aug 2009 02:31:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Silat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=191</guid>
		<description><![CDATA[tulisan : Iwan Setiawan Hari ini tepat tanggal 17 Agustus 2009, hari sakral yang merupakan momen bersejarah bagi bangsa Indonesia yang genap berumur 64 tahun. Tidak biasanya di tempatku tinggal siang hari yang biasanya terik panas dan menyengat, hari ini turun hujan. Tidak terlalu deras memang, bagaikan sedikit isak tangis anak yang hanya cukup membasahi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>tulisan : Iwan Setiawan</em></p>
<p>Hari ini tepat tanggal 17 Agustus 2009, hari sakral yang merupakan momen bersejarah bagi bangsa Indonesia yang genap berumur 64 tahun. Tidak biasanya di tempatku tinggal siang hari yang biasanya terik panas dan menyengat, hari ini turun hujan. Tidak terlalu deras memang, bagaikan sedikit isak tangis anak yang hanya cukup membasahi mata dan pipinya. Imajinasi liarku kadang membuat rasionalitas akal ini menertawakan diri sendiri, apakah ibu pertiwi sedang bersedu sedan? Atau ibu pertiwi kami terisak melihat perilaku nakal anak bangsanya? Ah, pikiran bodoh macam apa ini, akal ini akhirnya mampu mematahkan kekonyolan ruang imajinasi yang terlanjur sering menggayuti alam pikiran ini.</p>
<p>Hari ini kita peringati kemerdekaan bangsa kita, meski para pendiri dan para pahlawan tak pernah menjanjikan apapun dalam perjuangannya tapi sedikitnya tersirat bahwa mereka meninggalkan amanat yang cukup berat dan dalam. Mereka hanya ”berani” mengantarkan rakyat Indonesia ini sampai di depan pintu gerbang kemerdekaannya, sehingga  merdeka bagi sebahagian  anak bangsa ini belum terasa bahkan ada yang tidak merasakannya sama sekali. Lalu salahkan para pahlawan dan para pendiri negeri ini? Bagiku sama sekali tidak, kemerdekaan bukanlah hal yang harus diberikan dan dihadiahkan sekalipun oleh para pahlawan dan pendiri negeri ini, kata itu menurutku yang awam ini merdeka mengandung artian bagian dasar pencapaian awal dari segala upaya optimal personal / pribadi yang tetap akan terasa dan dirasa oleh pribadi itu sendiri. Jadi jika ada yang belum merasa merdeka ya itu adalah haknya mengatakan, karena merasa dan dirasa bahwa upayanya tidak sebanding dengan yang dibayang. Jadi alangkah baiknya dalam hari yang bersejarah ini jika ada ang masih belum merasa merdeka, maka merdekakanlah diri anda dengan segala upaya hingga batas kemampuan yang dimiliki. Karena jika upaya telah dilakukan maka hasil adalah bagian yang tinggal kita tunggu&#8230;</p>
<p>Jika berbicara kemerdekaan maka tak luput kita juga berbicara tentang pahlawan dan segala tindakannya. Kadang aku sering bertanya, setelah 64 tahun merdeka lalu siapakah pahlawan kita nantinya? Satu persatu saksi sejarah dan para pelaku sejarah telah meninggalkan kita untuk selamanya, apakah setelah 10-20 tahun lagi saat kita memperingati kemerdekaan bangsa ini nantinya kita hanya akan memandangi foto dan lukisan mereka yang telah tiada yang ”hanya” menjadi pahlawan? Setelah kita merdeka ini siapa pahlawan kita selanjutnya? Semenjak kecil kita dininabobokan dengan pengertian pahlawan itu sendiri Sebenarnya ada banyak pahlawan di sekeliling kita, mereka tersembunyi dibalik balutan nama yang menyamarkannya dan ketidakberdayaan kita menempatkannya dalam posisi yang luhur dan terhormat. Ketika kita acuh dengan kebersihan lingkungan dan seenaknya membuang sampah ke setiap sudut bagian kota, maka kita mengabaikan suatu nilai luhur yang telah dijunjung tinggi agama dan telah diakui oleh negeri maju yang sekaligus menjadikan diri kita penjajah yang juga menempatkan ”pahlawan” yang memelihara kebersihan tersebut jatuh ke lubuk jurang dengan sebutan merendahkan : tukang sampah !</p>
<p>Guru,<br />
sejak kita sekolah dasar dulu kita kenal sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, dan itu juga menjadi simbol identitas guru itu sendiri. Terlebih kita juga diajarkan nyanyian / hymne tentang guru yang merupakan pahlawan tanpa tanda jasa sehingga jika kini kita ditanya oleh anak-anak kita siapa pahlawan tanpa tanda jasa, maka tanpa perasaan berdosa kita bilang,”Guru&#8230;!!!”.sungguh suatu ironi yang hingga kita menjadi bahan pemikiran . Belum lagi pahlawan lainya, seperti petani yang hingga kita tahu meski negeri ini sebenarnya negara ini adalah agraris tapi ’pahlawan’ kita merana disudut jari tangan para pengijon dan lintah darat serta bandar pengepul.</p>
<p>Belum lagi yang dekat dengan kita yakni orang tua. Gelar pahlawan tak menyentuhnya, padahal merekalah yang memberi kasih sayang kehidupan pada kita dan pahlawan kehidupan kita.</p>
<p><strong>Lalu bagaimana dengan pencak silat?</strong></p>
<p>Ketika saya dan kawan-kawan pencak silat dalam sebuah acara peringatan 3 tahun Forum Pecinta dan Pelestari Silat Tradsional Indonesia 15 Agustus 2009 di Padepokan Nasional Pencak Silat Indonesia  dan pertemuan para tokoh maenpo Cianjur tanggal 16 Agustus 2009 di Cianjur lalu, membicarakan tentang bagaimana pencak silat ke depan. Secara pribadi saya sangat terkesima ketika salah satu pembicara dalam obrolan santainya menceritakan bagaimana pencak silat merambah ke berbagai negara, dan banyak diantaranya menjadi rancu dan diterjemahkan dengan pemikiran personal pembawa yang notabenenya bukanlah anak negeri ini, maka dengan mantap sang pembicara menjelaskan dan meminta bahwa alangkah baiknya para sesepuh, pendekar dan pelatih pencak silat melatih orang asing denga segala kesungguhan dan tidak setengah-setengah sehingga pencak silat itu tidak akan menjadi rancu di tangan mereka.</p>
<p>Awalnya saya merasakan itu sebuah solusi yang cukup baik namun setelah pengkajian lebih mendasar, sungguh ini adalah suatu hal yang sama sekali tidak menghargai suatu nilai tradisi yang lama dianut. Mengapa? Mengajarkan itu adalah hak perogatif dari guru aliran dan perguruan sehingga menyesaki dengan ide harus diberikan semua adalah intimidasi yang sistematis yang menghilangkan pencak silat dari unsur pilihan hidup dan pengabdian pada tatanan nilai. Jika kita membalik logika berpikirnya, memberikan setengah-setengah saja tidak menjadi benar dan ngawur, apakah ada jaminan jika memberikan dengan penuh tidak akan menjadi jauh lebih ngawur?</p>
<p>Pencak silat adalah merupakan tradisi budaya lokal bangsa ini yang berdasar pada pemahaman budaya setempat, adalah baik memberi setengah dengan harapan menjaga nilai yang hanya setengahnya adalah merupakan suatu hal yang tidak berat seperti menjaga yang sepenuhnya, namun menjadi tanda tanya besar jika yang setengah kita berikan dan titipkan menjadi kacau dan rancu bagaimana jika memberikannya yang penuh? Menjadi pertanyaan menarik jika kita menengok ke belakang, bagaimana seorang guru pencak silat kukuh dan kokoh menjaga nilai-nilainya tatanan tradisi (meski kini kita banyak kehilangan mereka) yang masih tersisa padanya dan menjaga dengan baik selama berpuluh-puluh tahun, lalu dengan harapan ”keutuhan” pencak silat diajarkan sepenuhnya keluar dengan waktu yang singkat, apakah  kita tega ”permata” yang dijaga dengan cucuran keringat dan perputaran waktu yang sangat lama ini diboyong bagaikan sebuah souvenir di kedai-kedai tanpa mempertimbangkan sebuah nilai juang yang telah dilakukannya?</p>
<p><strong>Mereka Juga Pahlawan !!! </strong></p>
<p>Beberapa guru yang pernah kutemui baik yang telah berumur lanjut hingga yang masih muda belia semuanya ketika ditanya memiliki sebuah pernyataan yang mengungkapkan mempelajari pencak silat adalah pencapaian hasil sulit yang membanggakan dari upaya juga usaha dan berpikir yang memakan waktu tidaklah sebentar. Buah ketekunan mereka itu yang bisa kita lihat dan nikmati. Hingga kita kini dapat tetap melihat apa itu Cimande, Cikalong, Gulung, Beksi, Sera, Pamacan, Paseban, Cingkrik, Gerak Rasa, Cikaret, Kumango, Silek Tuo, Silek Harimau, Lintau, Sitaralak, dan silat lainnya. Begitu nikmat dan mudahnya kita melihat kadang membuat kita lupa, bagaimana sulitnya menjaga kesemuanya itu dalam kurun waktu yang cukup lama.</p>
<p>Sungguh merupakan suatu yang tidak elok dan pantas jika kita meminta namun hendak memiliki kesemuanya dari apa yang telah dipelajari para pendekar, penerus dan pewaris aliran ataupun perguruan pencak silat tanpa mempertimbangkan betapa beratnya mereka mempertahankan dan menjaga amanat dari nilai luhur tradisi yang sebenarnya sama sekali kita abaikan dalam proses pencapaian hasil yang telah mereka miliki. Merupakan suatu kewajiban moral bagi kita mengembalikan dan membalikkan logika berpikir kita dalam hal ini. Jika kita menghendaki keutuhan baik dari tatanan gerak, pemaknaan tata gerak, kaidah hingga falsafah pencak silat itu sendiri terjaga utuh di luar sana maka yang harus dilakukan adalah bukan dengan meminta para pendekar, guru, pelatih dan pewaris atau penerus aliran memberikan segala yang dipunyai dengan waktu yang jauh lebih singkat. Namun mengembalikannya pada dasar berpikir setiap pribadi calon pesilat baik dalam maupun luar negeri bahwa mempelajari pencak silat adalah suatu pelajaran yang tidak hanya ilmu bak bik buk (berkelahi dan bela diri) semata, tapi merupakan suatu tatanan yang komplek meliputi berbagai macam aspek hingga penggunaan pemikiran kitapun harus mengikuti alur bepikir orang atau masyarakat setempat di mana aliran tersebut berasal dan tumbuh. Jika kita tetap menggunakan pikiran kita sebagai etnis lain sementara apa yang kita pelajari adalah kekayaan budaya etnis tertentu, maka yang didapat bukanlah apa yang menjadi tolak ukur bagi keinginan atau pencapaian etns tersebut. Ketika kita mempelajari aliran silat / maen pukulan Betawi namun kita selalu ”mempertentangkan” logika berpikir kita sebagai orang Sunda (misalkan) maka keutuhan  silat yang dipelajarinya tidaklah tercapai. Lalu bagaimana jika hal ini terjadi pada anak negeri lain? Bagaimana jika seorang Eropa tetap menggunakan pola pikirnya dalam mempelajari pencak silat namun mengesampingkan pola pikir orang Betawi? Maka akan kita alami apa yang disebut penerjemahan pola pikir budaya dengan sudut pandang pribadi, dan yang akan banyak terjadi adalah ”semau gue” dan ”seenaknya gue berimprovisasi” dalam menerjemahkan produk budaya loka yang sebenarnya belum dipahami dan malah tidak dipahami. Maka alangkah lebih baiknya untuk menjaga keutuhan pencak silat itu sendiri adalah menanamkan pengertian bahwa mempejarinya adalah merupakan keharusan penyelarasan berpola pikir sebagaimana muasal aliran itu ada dan berkembang. Sementara untuk masalah memberikan keilmuan itu kita kembalikan kepada sang guru yang (harus juga kita hargai sebagai pemegang kuasa penuh) memberinya, terserah seberapa banyaknya&#8230;..</p>
<p>Keberhati-hatian guru pencak silat yang kadang hanya memberikan sebahagian dari ilmu yang dimiliki hendaknya kita pandang arif sebagai ujian amanat yang harus dijalani sang murid. Hingga apabila dengan sedikit yang dimilikinya sanggup dijaga utuh dan dipertahankan bukanlah suatu hal yang mustahil jika nantinya keseluruhan apa yang dimiliki sang guru akan diberikan dengan hati ikhlas dan lapang.</p>
<p>Begitu lama para pendekar, guru, penerus dan pewaris aliran berbagai macam pencak silat mempertahankan dan menjaga keilmuan yang dimiliki (ini belum menghitung pengeluaran meteri mereka lho!!!), hingga bukanlah suatu yang mustahil jika saja mereka tidak mempelajari  dahulu maka apa yang kita sebut sekarang sebagai aliran pencak silat sudah tinggal kenangan dan hanya tinggal cerita yang mungkin akan kita dengarkan dalam obrolan pengisi waktu luang. Dapatkah kita mengukur pengabdian mereka dengan materi? Tentu saja tidak. Apakah kita akan tetap dapat mendengar, melihat atau bahkan mempelari jika para pendekar, guru, penerus dan pewaris ini tidak mau mempertahankan dan menjaganya? Atau paling tidak mereka tak mau memberikannya. Alangkah merananya kita jika satu persatu khazanah budaya yang adiluhung ini hilang. Dan menjadi suatu hal yang menyedihkan jika bangsa kita yang dikenal sebagai bangsa yang berbudaya ini kehilangan produk budayanya sendiri karena keengganan kita menghargai usaha yang telah dilakukannya. Ataukah kita tega ia mati di tangan kita sendiri karena ”memaksanya” tumbuh lebih mekar.</p>
<p>Maka bukanlah suatu hal yang mustahil jika gelar pahlawan disematkan pada dada mereka yang dengan susah menjaga, mempertahankan bahkan mengembangkan pencak silat dengan waktu yang tidak sebentar. Dan negeri inilah yang sebenarnya berhutang budi pada merekan. Maka adalah pantas jika sebutan Pahlawan Penjaga Tradisi dan Budaya Leluhur diberikan padanya.</p>
<p>Salam takzimku untuk semua pendekar, guru, penerus dan pewaris berbagai aliran pencak silat yang tetap membuat pencak silat lestari di muka bumi.</p>
<p>Iwan Setiawan</p>
<p><em>(tulisan ini sekaligus membantah sebuah pemikiran ”kakakku” O’ong Maryono dalam dua pertemuan di atas) </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2009/08/opini-pencak-silatku-tentang-pahlawan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kejuaraan Pencak Silat antar Perguruan Tinggi se DKI Jaya</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2008/12/kejuaraan-pencak-silat-antar-perguruan-tinggi-se-dki-jaya/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2008/12/kejuaraan-pencak-silat-antar-perguruan-tinggi-se-dki-jaya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Dec 2008 04:58:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Flash Info]]></category>
		<category><![CDATA[Information]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=125</guid>
		<description><![CDATA[By O&#8217;ong Maryono Padepokan Pencak Silat Indonesia yang megah disela-sela kesunyian yang ditinggalkan kepelatihan tim pecak silat Indonesia yang dipersiapkan untuk menghadapi Kejuaraan Dunia Pencak Silat yang direncanakan akan digelar Desember 2008 mendatang di Bali ternyata gagal dikarenakan, minat peserta jumlahnya kurang dari 20 negara yang bersedia mengirimkan pesilatnya. Kekosongan agenda kegiatan masih tertolong dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>By O&#8217;ong Maryono</em></p>
<p>Padepokan Pencak Silat Indonesia yang megah disela-sela kesunyian yang ditinggalkan<br />
kepelatihan tim pecak silat Indonesia yang dipersiapkan untuk menghadapi Kejuaraan<br />
Dunia Pencak Silat yang direncanakan akan digelar Desember 2008 mendatang di Bali<br />
ternyata gagal dikarenakan, minat peserta jumlahnya kurang dari 20 negara yang bersedia<br />
mengirimkan pesilatnya. Kekosongan agenda kegiatan masih tertolong dengan adanya kegiatan pertandingan Pencak silat antar perguruan tinggi se DKI Jaya.</p>
<p>Seperti biasa kegiatan event diperingkat perguruan tinggi tidak selalu dipromosikan<br />
kepada publik umum, kegiatan semacam ini terbatas dikalangan mahasiswa pencinta<br />
pencak silat semata. Jika dilihat tujuannya untuk membina silaturahmi dikalangan pesilat<br />
antar perguruan tinggi, merupakan upaya yang sangat mulia.</p>
<p>Pertandingan ini diikuti 16 perguruan tinggi yaitu UNJ, UMJ, APP, Politeknik Jakarta, ST<br />
Perikanan, UIN, STEI, YARSI, GUNADARMA, UI dll.<br />
Kelas yang dipertanding dari kelas A-G putra, sedang kelas putri mulai kelas A- E . Untuk<br />
kelas TGR mempertandingkan tunggal putra/putri dan kelas ganda putra saja dengan<br />
diramaikan total peserta seratus lebih pesilat.</p>
<p>Seperti biasa setiap pertandingan pencak silat di adakan di Padepokan Pencak Silat<br />
Indonesia yang berada dikawasan TMII Jakarta Timur, selalu sepi akan penonton.<br />
Pengunjung hanya sekelompok mahasiswa pendukung yang berasal dari pesilat yang<br />
terlibat dalam kegiatan campus semata.<br />
Pertandingan yang berlangsung singkat selama 2 hari menghasilkan keputusan perolehan<br />
medali terbanyak diraup UNJ satu satunya tim terkuat dan memiliki kemampuan teknik<br />
merata disetiap klas yang dipertandingkan, posisi kedua direbut oleh PERBANAS dan<br />
ketiga diambil oleh UPN. Menurut sumber yang dapat dipercaya para pesilat baru<br />
mendengar berita adanya pertandingan pencak silat 2 minggu yang lalu, hampir semua<br />
pesilat tidak siap untuk mengikuti pertandingan, rancunya informasi kalender<br />
pertandingan dan kurangnya dukungan dari perguruan tinggi membuat pelatihan pencak<br />
silat di campus mati suri. Wajah pertandingan yang ada, jika dilihat dari view mutu sport<br />
prestasi sangat mengawatirkan. Kurangnya persiapan para pesilat memberikan gambaran<br />
wajah pertandingan pencak silat jauh dari harapan, lesunya minat mahasiswa akan pencak<br />
silat dari tahun ke tahun semakin menajam menjadikan pertanyaan kita semua.</p>
<p>Sepatutnya kita acungkan jempol kepada panitia pelaksana yang masih mau<br />
memperjuangkan keberadaan pertandingan pencak silat antar perguruan tinggi se DKI.</p>
<p>Sepinya minat remaja akan pencak silat kurun beberapa tahun ditanggapi dengan serius<br />
oleh PB.IPSI, organisasi pengayom pencak silat mencoba secara konsisten mengadakan<br />
banyak kegiatan pertandingan, seperti pencak silat sirkuit di tanah air, dengan harapan<br />
dapat menjaring pesilat pesilat yang tangguh.</p>
<p>Jika menoleh kebelakang pertandingan pencak silat pantai ABG di Bali jumlah perolehan<br />
emas pencak silat olahraga tim tuan rumah hanya merebut 1 emas sedangkan 4 emas<br />
lainnya diperoleh dari pencak silat seni. Keadaan ini sangat mengawatirkan perolehan<br />
emas pada event internasional berikutnya.</p>
<p>Pertengahan dan penghunjung tahun 2009 kita akan dihadapkan pertandingan pencak<br />
silat Asia Indoor Games di Vietnam dan SEA Games di Vientien Laos.<br />
Kecenderungan besar tuan rumah tidak akan mempertandingkan pencak silat seni yang<br />
selalu memberikan perolehan emas bagi tim pencak silat kita.</p>
<p>Jika kembali menelaah ke atas dimana kalangan mahasiswa sebagai pesilat intelektual<br />
sudah dihinggapi rasa ketidak tertarikan akan pencak silat olahraga, memungkinkan akan<br />
juga dapat mempercepat keterpurukan perkembangan pencak silat nasional, dimana saat<br />
pencak silat di kawasan ASEAN memiliki kekuatan yang sudah merata.<br />
Lalu bagaimana pendapat anda agar hypotesa keterpurukan pencak silat olahraga<br />
Indonesia tidak</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2008/12/kejuaraan-pencak-silat-antar-perguruan-tinggi-se-dki-jaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
