<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Silatindonesia.Com &#187; Cerita Silat</title>
	<atom:link href="http://silatindonesia.com/category/cerita-silat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://silatindonesia.com</link>
	<description>Media Komunitas Pencak Silat Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Sat, 24 Jul 2010 05:02:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Brandal Lokajaya menuju jalan Sufi</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2009/06/brandal-lokajaya-menuju-jalan-sufi/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2009/06/brandal-lokajaya-menuju-jalan-sufi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Jun 2009 02:11:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Silat]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Silat]]></category>
		<category><![CDATA[Figure Pesilat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=172</guid>
		<description><![CDATA[    Bagi Majapahit (1284-1478), Tuban merupakan kota pelabuhan dagang yang cukup penting. Saat itu masa akhir kerajaan Majapahit dan yang menjadi Raja adalah Brawijaya V.   Ada sebuah kisah seorang putra dari  Adipati Tuban, Raden Mahmud Syahid atau dikenal dengan Raden Syahid, kurang lebih 1450 M. Ayahnya yang seorang adipati Tuban bernama Raden Sahur [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Bagi Majapahit (1284-1478), Tuban merupakan kota pelabuhan dagang yang cukup penting. Saat itu masa akhir kerajaan Majapahit dan yang menjadi Raja adalah Brawijaya V.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Ada sebuah kisah seorang putra dari<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>Adipati Tuban, Raden Mahmud Syahid atau dikenal dengan Raden Syahid, kurang lebih 1450 M. Ayahnya yang seorang adipati Tuban bernama Raden Sahur alias Aya Wilwatikta, masih keturunan dari Ranggalawe, Adipati Tuban yang pertama. Ibundanya bernama Dewi Nawangrum.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Sejak kecil Raden Syahid ini sudah terlihat menjadi anak yang cerdas, pandangan matanya tajam, nalurinya kuat dan kemauannya keras. Ia adalah putra adipati yang disegani di seluruh Tuban. Keluarganya pun termasuk keluarga yang saleh dan pemeluk Islam yang taat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Hampir setiap malam, ba’da<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>isya, Raden Syahid beserta kawan-kawannya tekun mempelajari Islam. Mereka belajar membaca Al-Quran. Kiyai Ahmad, guru mengaji Raden Syahid. Guru mengajinya sangat kagum kepadanya karena dari remaja sikap dan perbuatannya sudah berbeda dari remaja pada umumnya. Ia mampu berpikir dewasa. Suatu saat nanti , Raden Syahid pasti akan menjadi orang yang besar pikir guru mengajinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Raden Syahd suka menonton wayang beber, yakni wayang yang dilukis diatas kain putih. Lukisan itu merupakan adegan-adegan tertentu dari kisah Mahabarata dan Ramayana. Wayang tadi berbentuk manusia yang dilukis di candi-candi. Inilah konon yang nantinya cikal bakal beliau akan men-dakwah-kan Islam melalui wayang versi Jawa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Di siang hari, Raden Syahid mempelajari ketatanegaraan, keprajuritan dan beladiri, Ayahnya berharap putranya akan menggantikan kedudukannya sebagai Adipati<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>Tuban.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Sebagai putra adipati ia hidup dilingkungan pejabat yang mewah. Kadang-kadang ayahnya mengajaknya perjalanan bersama, Mereka melihat daerah-daerah yang jauh dari pusat kadipaten. Dari pengalaman itu, ia mengetahui bahwa kebanyakan masyarakat di pelosok masih memegang teguh kepercayaan nenek moyangnya yang merupakan agama Hindu, Budha dan kepercayaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Namun dari kemewahan yang ia dapat sebagai putra adipati itu tidak membuatnya bahagia. Ia justru melihat dengan mata kepala sendiri bahwa para pejabat istana itu ternyata suka menindas rakyat dengan pajak-pajak yang tinggi dan iuran-iuran lain yang tidak masuk akal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Meskipun berdarah bangsawan, berkat didikan Kiyai Ahmad membuat Raden Syahid berpihak kepada rakyat kecil. Ia suka bergaul dengan penduduk yang miskin dan teraniaya. Karena itu dia tahu betul penderitaan rakyat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Rakyat yang tidak mampu membayar pajak dihukum, dihajar dan kadang-kadang diserobot tanah miliknya. Hukum hanya diperuntukan bagi rakyat kecil. Para pejabat negara, baik di Majapahit sebagai pusat kerajaan, maupun didaerah Tuban selalu kebal hukum, meski mereka melakukan pelanggaran besar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Keadaan ini disaksikan setiap hari dan hal itu membuat tekanan batin baginya. Ia menolak dunia yang tidak adil seperti itu, namun sebagai anak kecil ia tidak tahu dan tidak bisa berbuat banyak, Maka ia melampiaskan diri dengan bergabung kawanan penjudi dan pemabuk. Bagi dia, justru dalam judi ia menemukan keadilan, siapa yang kalah akan ludes, dan siapa yang menang akan berjaya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Namun hal itu disaksikan oleh ayahnya sebagai kenakalan tanpa kenal ampun. Meski Raden Syahid dica sebagai anak nakal, bengal dan susah diatur, namun ia senang berguru beladiri. Ia selalu rajin dan benar-benar mematuhi nasehat setiap guru ilmu kanuragannya. Maka jadilah dia orang yang kuat, sakti dan disegani.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Sayangnya ia kecewa dengan struktur masyarakat di sekitarnya dan melampiaskannya dengan cara berbuat semaunya sendiri. Mungkin hal ini karena usianya yang masih muda. Ia belum tahu bagaimana menggunakan kemampuan beladiri, kecerdasannya dan kesaktiannya. Apalagi setelah ia mengetahui perbedaan norma-norma yang didapat dari kiyai-nya dan kenyataan yang bertolak belakang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Kerjaannya hanya bertualang dan bermain judi, Kalau ia kalah, tidak segan-segan ia merampok rumah para pejabat. Kalau sudah mendapat rampokannya kembali ia berjudi! Seluruh kesenangannya dilakukan semaunya sendiri. Untuk apa berbuat baik , karena kenyataannya orang baik tidak dihargai dan hanya didalam cerita saja, pikirnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Namun beberapa informasi yang beredar beliau tidak memakan sendiri hasil rampokannya. Kadang ia bagi-bagikan ke penduduk desa yang miskin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">“Anak kurang ajar ! Membuat malu orang tua saja. Lebih baik mati saja kamu, sebelum lebih banyak dosa-dosamu”, keluh sang Ayah yang merasa gagal mendidik putranya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Kegerahan ini mencapai puncaknya ketika suatu malam, Raden Syahid tertangkap basah sedang mencuri gabah di gudang Istana. Ayahnya tentu saja gusar dan tidak bisa mentolerir putranya lagi. Menurut informasi yang beredar kala itu gabah itu bukan untuk dimanfaatkan sendiri, tetapi untuk di bagi kepada penduduk desa yang miskin. Akan tetapi tindakan pencurian di Istana terasa seperti mencoreng arang di muka Ayahnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">“Sahid, sudah keterlaluan kamu, Nak ! Untuk apa pula kamu mencuri gabah? Kurang apa ayah memuliakan kamu? Mau jadi brandal apa? Minggat dari Tuban ini !! Jangan sekali-kali menginjakann kaki di kadipaten Tuban lagi, kalau kamu tidak bisa menggetarkan orang Tuban dengan ilmu agama !” usir Sang Adipati kepada putranya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Dari sinilah Raden Syahid<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>rasa kesedihan, duka dan kekecewaan yang mendalam di hatinya. Akhirnya ia pun pergi meninggalkan kadipaten Tuban.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Raden Syahid pun mengembara, berhari–hari ia naik dan turun gunung, masuk kampung keluar kampung dengan pikiran yang kacau balau. Ia berpikir mencari kawanan perampok untuk ditundukkan dan direbut rampokannya. Sepertinya ia sudah tidak berniat untuk hidup di dunia ini, mati tertikam atau sekalian menjadi raja rampok.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">“ Hai para perampok-perampok bodoh. Pilih harta atau nyawa?” ketika bertemu dengan segerombolan perampok di hutan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">“Kau ini yang bodoh. Kami ini perampok kok dirampok ? Apa kamu mau mencari mati ? Belum tahu rupanya siapa Kethuk Lindu”, jawab Kepala Perampok.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Akhirnya Raden Syahid dikeroyok oleh para perampok. Meski mereka bersenjata pedang, parang dan tombak dengan mudah diparahkan perlawanan mereka dengan tangan kosong. Permainan beladiri Raden Syahid yang<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>memukau dengan permainan bawahnya yang cepat membuat roboh para perampok, dengan mengambil pedang dari salah satu perampok dan memporak-porandakan para perampok. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Lalu ia berhasil memiting kepala Kethuk Lindu dengan cengkeraman tangan kirinya yang kuat dan pedang diayun-ayunkan dengan tangan kanan<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>siap memenggal batang leher. “Menyerah atau mati ?!?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Akhirnya kawanan perampok yang dipimpin Kethuk Lindu menyerah dan berjanji setia kepada Raden Syahid. Namun para perampok ini tidak mengetahu siapa nama asli tuannya yang baru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">“Siapakah tuan ini sebenarnya” Tanya kepala perampok.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Mendengar pertanyaan itu Raden Syahid teringat siapa dirinya. Ia bermaksud menghilangkan jejaknya agar tidak diketahui keluarganya<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>di tuban, Maka ia terinspirasi untuk membuat julukan baru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">“Hahahahha Namaku.. Brandal Lokajaya. Asal usulku tidak penting. Yang jelas sejak saat ini kalian adalah pengikut Brandal Lokajaya “.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Sejak saat itu Brandal Lokajaya bersama pengikutnya barunya menguasai hutan Jatiwangi, sekitar daerah Kudus dan Pati, Jawa Tengah, Ia meneguhkan profesinya menjadi “berandal gelap nyawang”.Mereka menjadi kawanan perampok yang terkenal dengan gerakan aksinya yang sangat cepat seperti kilat, sehingga sangat sulit ditangkap dan dikenali identitasnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Ternyata Brandal Lokajaya yang cerdik dan ahli strategi ini selalu membagikan hasil rampokannya kepada anak buahnya dengan adil dan diam-diam membagi habis harta curiannya kepada penduduk kampung yang sangat miskin. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Suatu ketika semua usaha rampokannya tidak mendapat hasil. Semua usaha merampoknya gagal . Dan ditengah kegalauan akibat kegagalan mereka melihat adanya seorang bersorban dan berperawakan tinggi besar, berhidung mancung dan berkulit putih bersih. Pakaiannya berbeda dengan prang jawa pada umumnya dengan<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>memegang sebuah tongkat dari emas !!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">“Berhenti !! Harta atau nyawa !!”, hardik Lokajaya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Orang tua ini dengan tenang dan tetap tersenyum pun berkata, “Aku tak punya apa-apa, Lihat aku tidak membawa harta apapun, hanya tongkat penopang tubuh”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">“Jangan banyak tingkah orang tua ! aku tak punya banyak waktu. Serahkan tongkat emasmu itu !” tekan Lokajaya sambil memberi aba-aba kepada kawanannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">“Emas ? kalau sekedar mencari emas,<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>kenapa harus menghilangkan nyawa hamba Alloh ? lagi pula aku tak punya emas, ini tongkat kayu biasa, dan kalau kau mencari emas lihatlah dibebatuan itu ada tumbuhan kolang kaling berdaun emas”. Kata orang tua itu yang ternyata tongkatnya adalah hanya sebuah tongkat kayu biasa dan menunjukkan dengan tongkat kayu biasa itu ke arah daun kolang-kaling.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Seketika daun kolang kaling itu berubah menjadi emas !! Berandal Lokajaya pun terkesima bukan kepalang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Saat daun daun emas sudah di tangan mereka tiba-tiba kembali menjadi daun seperti biasa. Karena merasa tertipu Berandal Lokajaya pun berang dan menyerang orang tua itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Kemudian dengan kesaktiannya orang tua itu berubah menjadi lima orang yang serupa dan semuanya asli.Hingga akhirnya mereka berlima mengepung dan menghadang Lokajaya. Dan akhirnya Lokajaya menyerah kalah dan ingin berguru kepadanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">“Aku Sunan Bonang. Hanya orang yang sungguh-sungguh yang bisa menjadi muridku. Kamu harus bersuci dulu dari dosa-dosamu agar mendapat ampunan Allah SWT. Apakah kamu bersedia?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">“Baik kanjeng Guru , Bagaimana caranya bertobat agar mendapat ampunan-Nya?“ </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">“Bukankah pertama kali kamu menginginkan tongkat ? Nah sekarang, bacalah kitabku ini sebagai sarana taubatmu. Kitab ini adalah Tongkat Emas Sejati, datangnya dari Tuhan<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>yang Maha Pencipta Alam Semesta, Baca dan hafalkan sampai tuntas !!, Bersihkan tubuhmu dan hatimu dari perbuatan maksiat, dirikanlah musholla di sini dan bertirakatlah, Kalau aku belum datang, kamu tidak boleh meninggalkan tempat ini, Mudah-mudahan Alloh memberimu petunjuk”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Lokajaya menjawab, “Baik, saya akan laksanakan” , gemetar Lokajaya dengan janji di hatinya sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Lelaki tua itu memberikan kitab itu lalu pergi begitu saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Lokajaya pun selalu beribadah dan membaca kitab itu setiap hari. Ia hanya berhenti sesaat-sesaat untuk membersihkan tubuhnya, berwudhu, makan dan bersembahyang. Semua dilakukan hanya sekitar pondok yang dekat dengan sungai. Mata bathinnya kini telah terbuka lebar setelah membaca kitab dari gurunya yang ternyata sebuah “Al-Quran”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Rerumputan dan akar-akaran<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>serta pohon rembete tumbuh di sekitar pondokannya. Kiri kanan telah menjadi belukar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Setahun berlalu Sunan Bonang ingat janjinya dengan Lokajaya, Maka ia mencarinya di Hutan Jatiwangi. Tempat beribadah Lokajaya telah berubah sama sekali. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Sunan Bonang pun menyalakan api , hingga api hampir melalap pondok Lokajaya. Lokajaya tidak bergerak dari tempatnya. Atas karunia Alloh, pondoknya tidak tersentuh api, konon tobatnya diterima oleh Gusti Allah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">“Sembah bhakti saya pada Kanjeng Sunan!”, katanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">“Bersucilah dan bersihkan badanmu !” .</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Lokajaya pun menuju sungai dan tak lama sudah kembali dengan penampilan suci bersih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">“Apakah kamu sudah khatam kitab ini dan tahu isi yang tersurat maupun yang tersirat?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">“Atas restu Kanjeng Sunan, saya hafal dan faham”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">“Bagus. Kamu sudah melaksanakan perintahku, Teruslah belajar dan jadikan pedoman karena itulah dasar segala dasar Ilmu Syariat, Dari setiap nafasmu jangan lupakan ilmu syariat dan AlQuran”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">“Aku punya firasat, engkau adalah manusia yang sangat dibutuhkan oleh kawula alit di tanah jawa ini. Dan itulah jalan pengampunan tobatmu berikutnya. Kamu sudah banyak dosa, Lokajaya. Tapi engkau akan diampuni, setelah menjalani lelaku suci dan pakailah </span><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">nama &#8220;Syekh Malaya&#8221;. Malaya artinya berkelana. Sedangkan syekh itu sebutan bagi orang yang mempunyai ilmu untuk menyiarkan agama-Nya dan dikasihi Allah”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">“Tunjukkanlah<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>kepada saya lebih jelas, Guru” jawab Lokajaya alias Syekh Malaya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Anakku,<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>Malaya<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>hayatilah tongkat kayu gurdha ini. Ajaran ini sangat keras, kamu boleh mundur jika kamu mau. Tapi hanya inilah titianmu mencapai keridhoan-Nya. Hidup ini tiada lain mendapat ridho Alloh SWT. Lakukan ibadah siang dan malam, jangan putus dzikirmu. Saatnya engkau membersihkan hati yang tercela dan membersihkan pribadimu dari Selain Alloh SWT”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">“Baik, guru Sendika dhawuh”. Jawab Syekh Malaya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Makna dari<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>kayu gurdha adalah sebagai berikut :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Kayu berasal dari kata “Hayu”<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>artinya Yang Maha Hidup.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Gurdha berasal dari kata “Ridho” artinya mendapat perkenaan dari Allah SWT. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"><span style="mso-spacerun: yes;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Intinya dari kata-kata itu kematian kehidupan dan ibadah bukanlah untuk mencari pahala, surga ataupun imbalan lainnya namun untuk mencari ke-ridho-an-Nya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"><span style="mso-spacerun: yes;">                     </span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;00&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">(Bersambung “Syekh Malaya meniti ke<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>Sunan Kali Jaga”)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Diceritakan kembali oleh :Sarung Kampret</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">-Dongeng </span><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Nusantara</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">-Mitos penduduk setempat</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2009/06/brandal-lokajaya-menuju-jalan-sufi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2009/03/menapaki-jejak-sang-jawara-entitas-%e2%80%9csubculture-of-violence%e2%80%9d-masyarakat-banten-dan-jawa-bagian-barat/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2009/03/menapaki-jejak-sang-jawara-entitas-%e2%80%9csubculture-of-violence%e2%80%9d-masyarakat-banten-dan-jawa-bagian-barat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Mar 2009 06:39:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Silat]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Silat]]></category>
		<category><![CDATA[Featured Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Information]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=162</guid>
		<description><![CDATA[MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA (Entitas “Subculture of Violence” Masyarakat Banten dan Jawa Bagian Barat) Oleh: Gusman “Jali” Natawidjaja Di sebagian masyarakat Jawa bagian Barat umumnya dan Banten khususnya, keberadaan jawara memiliki rentetan sejarah yang sangat panjang. Jawara bukanlah sosok penamaan yang baru muncul kemarin sore, keberadaannya ditenggarai telah ada sejak zaman kerajaan Sunda berdiri yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b></b><b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b><span><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"><img class="alignleft" src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs015.snc1/2636_58603448657_536913657_1470957_4104647_n.jpg" mce_src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs015.snc1/2636_58603448657_536913657_1470957_4104647_n.jpg" alt="jaware" width="537" height="519"></span></span></span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b></b></p>
<div><b></b></div>
<div><b></b></div>
<div><b></b></div>
<div><b><span></span></b></div>
<p><b><span><span style="" mce_style="small;"></span></span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b><b></b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b><b></b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b><b></b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b><b></b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b><b></b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b><b></b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b><b></b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b><b></b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b><b></b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b><b></b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b><b></b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b><b></b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b><b></b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b><b></b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b><b></b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b><b><span><span style="" mce_style="Times New Roman;">MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA</span></span></b></b></p>
<p><b><br />
</b></p>
<p><b><br />
</b></p>
<p><b><br />
</b></p>
<p><b><br />
</b></p>
<p><b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b><span><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;">(Entitas “Subculture of Violence” <span style="" mce_style="yes;"> </span>Masyarakat Banten dan Jawa Bagian Barat)</span></span></span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="center;" align="center"><b><span><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;"><span><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;">Oleh: <span style="" mce_style="yes;"> </span>Gusman “Jali” Natawidjaja</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;"><span><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;">Di sebagian masyarakat Jawa bagian Barat umumnya dan<span style="" mce_style="yes;"> </span>Banten khususnya, keberadaan jawara memiliki rentetan sejarah yang sangat panjang. Jawara bukanlah sosok penamaan yang baru muncul kemarin sore, keberadaannya ditenggarai telah ada sejak zaman kerajaan Sunda berdiri yang hingga kini masih tetap<span style="" mce_style="yes;"> </span>eksis, bahkan di Banten sendiri sejak abad ke 19 kelompok jawara telah menjadi bagian dari golongan elit masyarakat selain kaum ulama dan pamong praja. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"><span style="" mce_style="yes;"> </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"><span style="" mce_style="Times-Roman;">Bagi masyarakat Banten dan sekitarnya, ulama dipandang sebagai tokoh masyarakat yang menjadi sumber kepemimpinan informal terpenting. Masyarakat mematuhi perintah ulama karena memandang kaum ulama sebagai sosok yang disegani. Berbeda dengan kedudukan ulama, pamong praja dan </span><span style="" mce_style="italic;">jawara<i> </i></span><span style="" mce_style="Times-Roman;">merupakan kelompok sosial yang kedudukannya tidaklah melebihi kedudukan kaum ulama. Namun diantara ketiganya, ulama dan jawara menjadi golongan yang khas di daerah ini. Keduanya diibaratkan bagai dua sisi mata uang, bahkan karena kedekatan emosional diantara keduanya, jawara dianggap sebagai “khodam” nya para ulama. Karena dari para ulamalah sebagian besar “keilmuan” jawara itu berasal. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan kalau Taufik Abdullah menyebut Banten, sebagai “negeri para ulama dan </span><span style="" mce_style="italic;">jawara</span><span style="" mce_style="Times-Roman;">”.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="Times-Roman;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"><span>Seiring dengan perjalanan waktu, persepsi masyarakat terhadap Jawara memiliki pemahaman yang beragam, mulai dari hal yang positif sampai ke hal yang negatif. Pemahaman masyarakat yang beragam ini tidak terlepas dari sepak terjang sosok Jawara, yang memiliki peranan cukup besar dalam tiga masa perjalanan sejarah di Banten dan Jawa bagian Barat, yaitu masa kerajaan Sunda, kesultanan Banten, dan masa kolonial Belanda. Belakangan, kehidupan jawara dengan character building yang khas itu menciptakan sub kultur kebudayaan baru masyarakat Banten dan sekitarnya, yaitu Subculture of Violence (sub kultur kekerasan). </span><span style="" mce_style="Times-Roman;">Permasalahan ini muncul ke permukaan akibat terkontaminasinya nilai-nilai kejawaraan sehingga sebagian masyarakat ada yang menilai </span><span style="" mce_style="italic;">jawara </span><span style="" mce_style="Times-Roman;">identik dengan premanisme. </span><span>Sebagai subkultur kekerasan, jawara memiliki motif-motif tertentu dalam melakukan kekerasan. Merekapun mengembangkan gaya bahasa atau tutur kata yang khas, yang terkesan sangat kasar (sompral) dan penampilan diri yang berbeda dari mayoritas masyarakat. seperti berpakaian hitam dan memakai senjata golok (Atu Karomah, <i>Jawara dan Budaya Kekerasan pada Masyarakat Banten, Tesis S2 UI</i>). Penampilan terakhir inilah yang sebagian besar masyarakat umum diidentikan dengan pencak silat tradisional.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="justify;"><span><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;"><b><span><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;">Penafsiran Sejarah Istilah <span style="" mce_style="yes;"> </span>Jawara</span></span></span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"><span style="" mce_style="Times-Roman;">Belum adanya pencatatan histographia mengenai awal mula kemunculan istilah jawara di masyarakat Banten dan Jawa bagian Barat, menyulitkan </span><span style="" mce_style="italic;">untuk</span><span> diketahui secara pasti kapan dan dimana penggunaan istilah Jawara ini diberikan kepada seseorang yang memiliki kunggulan fisik dan supranatural, dan cenderung menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan setiap persoalannya. Begitupun halnya dengan istilah jawara itu sendiri. Penyusuran proses kemunculan istilah jawara baru terbatas pada sejarah sosial (budaya tutur) bersifat “stamboom” bukan “geschiedenis” atau “history”, yang secara akademis sukar untuk dipertanggung jawabkan.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"><span>Dari stamboom yang ada, sebagian besar masyarakat sepakat untuk menunjuk daerah Banten sebagai tempat dimana istilah ini pertama kali muncul, karena jawara merupakan salah satu entitas masyarakat Banten yang sangat terkenal. Hingga dalam perkembangannya menyebar ke beberapa daerah yang melingkupinya termasuk Betawi, Bekasi-Pantura, Bogor dan Priangan bersamaan dengan dimulainya proyek pembangunan Jalan Raya Pos Deandles (</span><span style="" mce_style="Times-Roman;">RM. Taufik Djajadiningrat, </span><i><span style="" mce_style="Times-Italic;">Sejarah dan Silsilah Ringkas Para Sinuhun Kesultanan Banten</span></i><span style="" mce_style="Times-Roman;">, 1995 : 121-122).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="Times-Roman;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="Times-Roman;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;">Berdasar catatan seorang peneliti sejarah kabupaten Lebak, Miftahul Falah, S.S menguraikan bahwa sejarah sosial masyarakat Banten sendiri memiliki empat penafsiran tentang proses kemunculan istilah jawara.<span style="" mce_style="yes;"> </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="Times-Roman;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"><span style="" mce_style="Times-Roman;">Penafsiran pertama ketika kerajaan Sunda menggunakan sekelompok masyarakat sebagai perantara atau penghubung antara masyarakat dengan rajanya. Mereka memiliki kewenangan tidak hanya melayani antara raja dan rakyat, tetapi juga membela dan melindunginya. Dalam keseharian mereka memiliki ke khasan dalam berpakaian dan gaya hidupnya, seperti jago dalam menyabung ayam, pandai bermain pencak silat dan memiliki ilmu “kadugalan” yang kebal senjata tajam sebagai kekuatan supranaturalnya. Dalamperkembangan selanjutnya, keterampilan bermain silat dan kekebalan tubuh yang dimilikinya menjadi ciri utama kelompok ini sehingga melahirkan sebutan </span><span style="" mce_style="italic;">jawara</span><span style="" mce_style="Times-Roman;">.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="justify;"><span><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"><span>Penafsiran kedua, ketika pada masa Kesultanan Banten dipegang oleh Maulana Hasanuddin. Dalam menghadapi pasukan Pajajaran yang teramat kuat, Sultan membentuk sekelompok orang-orang dalam satu pasukan khusus yang dipimpin oleh Maulana Yusuf. Setiap anggotanya memiliki keunggulan secara lahir dan batin, militan dan mampu mengahncurkan<span style="" mce_style="yes;"> </span>secara cepat menyusup ke pusat pemerintahan Pajajaran di Pakuan. Pasukan khusus tanpa identitas itu diberi nama <i>Tambuhsangkane</i>, yang bergerak dengan tidak mengatas namakan kesultanan Banten. </span><span style="" mce_style="Times-Roman;">Sifat militan yang dimiliki oleh pasukan khusus ini menumbuhkan sifat pemberani dan kemudian dibina secara terus menerus. Dari merekalah kemudian lahir kaum </span><span style="" mce_style="italic;">jawara</span><span style="" mce_style="Times-Roman;">.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="Times-Roman;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"><span style="" mce_style="Times-Roman;"><span style="" mce_style="small;">Penafsiran ketiga,</span></span><span style="" mce_style="Times-Roman;"> F.G. Putman Craemer, Residen Banten (1925-1931), istilah jawara dimulai dengan dibentuknya perkumpulan <i>Orok Lanjang</i> oleh golongan pemuda di Distrik Menes Pandeglang, yang bermakna harfiah sebagai “bayi yang menjelang dewasa”. Perkumpulan kampung ini pada awalnya dibentuk untuk meningkatkan hubungan kekerabatan dalam satu lingkungan, memberikan pertolongan dan pelayanan dalam segala kegiatan termasuk membantu masyarakat dalam penyelenggaraan pesta atau acara kampung. Lambat laun tugas yang diserahkan masyarakat kepada kelompok pemuda ini sebagai penyelenggara acara kampung menjadi satu kewajiban, apabila tidak diundang atau diserahkan sebagai petugas penyelenggara mereka akan mengacau atau bahkan menggagalkan jalannya acara. Pada perkembangannya, kelompok ini berkembang menjadi organisasi tukang pukul yang dikenal dengan sebutan jawara. Mereka menjadi organisasi momok yang menakutkan bagi masyarakat, sampai-sampai aparat praja setempat tidak dapat bertindak tegas kepada mereka.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"><span style="" mce_style="Times-Bold;">Penafsiran keempat</span><span style="" mce_style="Times-Roman;">, istilah jawara muncul ketika terjadi perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda di abad 19 yang digerakkan oleh kaum ulama. Kaum ulama yang umumnya memiliki dua kelompok santri yang dididik berdasar bakat dan kemampuan mereka, dimana kelompok pertama merupakan kaum santri yang memiliki bakat di bidang ilmu agama yang akan menggantikan posisi para ulama nantinya. Mereka dibekali ilmu hikmah selain ilmu agama Islam sebagai ilmu dasarnya . Sedangkan kelompok kedua merupakan kaum santri yang memiliki bakat dan kemampuan di bidang bela diri pencak silat. Kelompok kedua ini dididik dan dibina kekuatan fisiknya dengan ilmu bela diri pencak silat, dan dibekali pula dengan ilmu hikmah namun jauh lebih sedikit porsinya dibanding santri kelompok pertama. Mereka ditugasi untuk melakukan teror terhadap pemerintah kolonial Belanda dan kaki<span style="" mce_style="yes;"> </span>tangannya. Kelompok kedua inilah yang kemudian hari disebut dengan jawara.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="justify;"><span><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"><span style="" mce_style="Times-Bold;">Penafsiran kelima</span><span style="" mce_style="Times-Roman;">, istilah jawara muncul sebagaimana yang diungkapkan RM Taufik Djajadiningrat, tatkala dimulainya pembangunan Jalan Raya Pos Deandles (1808-1811) antara Anyer-Panarukan. Pembangunan jalan yang sangat merugikan rakyat ini menimbulkan pemberontakan dikalangan para pendekar persilatan, dikenal dengan peristiwa <i>Perang Pertama</i>. Dari peristiwa pemberontakan ini memunculkan julukan jawara yang ditujukan kepada mereka.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="Times-Roman;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"><span style="" mce_style="Times-Roman;">Pada awalnya istilah jawara memiliki makna sebagai<i> jagoan</i>, dengan pengertian jago dalam menyabung ayam dan bela diri pencak silat. Selain itu, mereka pun memiliki kemampuan untuk mempertontonkan ilmu kekebalan. Kemampuan-kemampuan itu dipergunakan oleh para </span><span style="" mce_style="italic;">jawara<i> </i></span><span style="" mce_style="Times-Roman;">untuk membela dan menciptakan rasa aman dan ketenangan di lingkungannya. Kemampuan itu mereka miliki karena kedudukannya sebagai pemimpin informal di tengah-tengah masyarakat, baik semasa kerajaan Sunda, kesultanan Banten, maupun pada masa pemerintahan kolonial Belanda.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="Times-Roman;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"><span style="" mce_style="Times-Roman;">Pergeseran makna jawara yang terkontaminasi dengan hal yang negatif<span style="" mce_style="yes;"> </span>terjadi pada abad ke 19 ketika Banten dan sekitarnya diwarnai oleh kekacauan dan perampokan yang tiada tara. Hal ini kemudian oleh pemerintah kolonial Belanda dimanfaatkan untuk membentuk stigma negatif kepada para pejuang dari kalangan pendekar persilatan dan kaum ulama. Stigma negatif ini sengaja diciptakan Belanda dalam upaya memprovokasi masyarakat untuk menganggap mereka sebagai pembuat onar, pengacau, dan perampok. Sehingga mencap semua kaum </span><span style="" mce_style="italic;">jawara </span><span style="" mce_style="Times-Roman;">adalah bandit sehingga perlawanan dalam bentuk gerakan sosial, yang bermaksud melawan penjajahan asing dianggap sebagai </span><i><span style="" mce_style="Times-Italic;">onsluten </span></i><span style="" mce_style="Times-Roman;">(keonaran), </span><i><span style="" mce_style="Times-Italic;">ongergeldheden </span></i><span style="" mce_style="Times-Roman;">(pemberontakan), </span><i><span style="" mce_style="Times-Italic;">complot </span></i><span style="" mce_style="Times-Roman;">(komplotan), </span><i><span style="" mce_style="Times-Italic;">woelingen </span></i><span style="" mce_style="Times-Roman;">(kekacauan), dan </span><i><span style="" mce_style="Times-Italic;">onrust </span></i><span style="" mce_style="Times-Roman;">(ketidak amanan). Sejak saat itulah para pendekar persilatan dan ulama yang mengadakan perlawanan dianggap sebagai jawara, yang merupakan akronim dari <b>ja</b>lma <b>wa</b>ni nga-<b>ra</b>mpog (orang yang berani merampok) atau orang yang beani menipu/pembohong (<b>ja</b>lma <b>wa</b>ni nga-<b>ra</b>hul). Konotasi negatif ini terus berkembang sampai abad ke 20, dan hingga kini tidak sedikit masyarakat yang termakan oleh stigma negatif Belanda tersebut.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="Times-Roman;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="Times-Roman;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;">Seiring dengan perkembangan waktu, Jawara yang merasa<span style="" mce_style="yes;"> </span>citranya terjebak dalam konotasi negatif masyarakat yang diciptakan Belanda, berusaha mengcounter dengan istilah <b>ja</b>lma jago nu <b>wa</b>ni <b>ra</b>mah (orang yang jagoan berani dan ramah). Tentu ada pula segelintir jawara yang memiliki perilaku negatif, namun hal ini dapat diselesaikan di dalam internal kelompok “kejawaraan” nya itu sendiri. Umunya dalam suatu organisasi kejawaraan terdapat aturan-aturan yang bersifat konvesional untuk menyelesaikan<span style="" mce_style="yes;"> </span>permasalahan, terutama terhadap jawara yang berperilaku negatif.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="Times-Roman;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><b><span style="" mce_style="Times-Roman;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><b><span style="" mce_style="Times-Roman;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><b><span style="" mce_style="Times-Roman;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;">Terminologi Jawara, Jagoan, dan Preman</span></span></span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"><span style="" mce_style="Times-Roman;">Secara umum jawara memiliki definisi sebagai orang yang memiliki kepandaian bermain silat dan memiliki keterampilan-keterampilan tertentu. Berbeda dengan perampok atau pencuri, mereka adalah figur seorang yang mampu menjaga keselamatan dan keamanan desa, sehingga karenanya masyarakat menghormati keberadaan mereka. Pada umumnya, </span><span style="" mce_style="italic;">jawara<i> </i></span><span style="" mce_style="Times-Roman;">sangat patuh kepada ulama, karena semangat dalam jiwa mereka diperoleh dari para kaum ulama. Di tanah Betawi sendiri hampir memiliki makna yang sama, namun istilah jawara bagi masyarakat natif Betawi berangkat dari istilah “potong letter” lidah natif Betawi yaitu <i>juware</i> atau juara yang tidak terkalahkan dalam hal bela diri “maenpukulan” atau pencak silat.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="Times-Roman;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"><span style="" mce_style="Times-Roman;">Berbeda dengan Jagoan, kata ini berasal dari kata dasar “jago” yang menurut Ridwan Saidi merupakan loanword dari bahasa Portugis <i>Jogo</i> yang artinya “champion” atau juara (Ridwan Saidi, <i>Glosari Betawi</i>: 43). Disisi lain menurut tradisi lisan, jago merupakan </span><span>istilah yang agak umum bagi golongan &#8220;tukang pukul&#8221; dan seorang yang suka berkelahi. Jagoan bernada lebih positif ketimbang istilah preman pada masa kini. Jagoan adalah sebutan untuk anggota masyarakat yang berpengaruh dan disegani di kampungnya, orang yang kuat, tukang pukul dan pemberani. Secara hirarki, jagoan dianggap lebih rendah kedudukannya dibanding jawara. Karena sebagaimana seperti yang disebutkan di atas,<span style="" mce_style="yes;"> </span>jawara dapat dikatakan sebagai istilah lain</span> <span>dari pendekar, ksatria yang ditokohkan masyarakat sebagai orang yang suka memberikan perlindungan dan keselamatan secara fisik terhadap masyarakat, juga dianggap sebagai orang yang dituakan atau sesepuh.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"><span>Lalu bagaimana dengan preman?. Secara etimologi preman merupakan loanword dari bahasa Belanda, <i>Vrijman </i>yang bermakna “orang bebas” atau dalam bahasa Inggris disebut <i>free man</i>. Dalam Kamus Bahasa Indonesia </span><span style="" mce_style="IN;">akan kita temukan paling tidak 3 arti kata preman, yaitu: <i>1. swasta, partikelir, non pemerintah, bukan tentara, sipil. 2. sebutan orang jahat (yang suka memeras dan melakukan kejahatan) 3. kuli yang bekerja menggarap sawah</i>.</span><span> Secara umum istilah preman dapat disimpulkan sebagai </span><span style="" mce_style="IN;">sebutan pejoratif </span><span>(kata sandang merendahkan) </span><span style="" mce_style="IN;">yang sering digunakan untuk merujuk kepada kegiatan sekelompok orang yang mendapatkan penghasilannya terutama dari </span><span><a title="Pemerasan (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pemerasan&amp;action=edit&amp;redlink=1" mce_href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pemerasan&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="" mce_style="IN;">pemerasan</span></a></span><span style="" mce_style="IN;"> kelompok masyarakat lain.</span><span> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;">Dari tiga terminologi di atas, hendaknya kita masih dapat membedakan makna, fungsi dan peranan masing-masing dalam masyarakat. Sehingga kita tidak terburu-buru untuk menjustifikasi seseorang berdasar perilakunya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;">Labuan, 1 Maret 2009 (5 Robiul Awal 1430 H)</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span><span style="" mce_style="Times New Roman;">Sumber tulisan:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="l0 level1 lfo1;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"><span>Atu Karomah, Jawara dan Budaya Kekerasan pada Masyarakat Banten, Tesis S2 UI, Jakarta</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="Times-Roman;"><span style="" mce_style="Times New Roman;">Kamus Besar Bahasa Indonesia, BP Jakarta 1996</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="Times-Roman;"><span style="" mce_style="Times New Roman;">Miftahul Falah, S.S, Kejawaraan Dalam Dinamika Kabupaten Lebak, Jakarta1995</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="Times-Roman;"><span style="" mce_style="Times New Roman;">Ridwan Saidi, Glosari Betawi, Jakarta 2007</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"><span style="" mce_style="Times-Roman;">RM. Taufik Djajadiningrat, </span><span style="" mce_style="italic;">Sejarah dan Silsilah Ringkas Para Sinuhun Kesultanan Banten, </span><span style="" mce_style="Times-Roman;">Jakarta1995</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="Times-Roman;"><span style="" mce_style="Times New Roman;">Tasbih &amp; Golok, Tim penelitian Studi Kharisma Kyai &amp; Jawara di Banten, STAIN Serang, 2002</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2009/03/menapaki-jejak-sang-jawara-entitas-%e2%80%9csubculture-of-violence%e2%80%9d-masyarakat-banten-dan-jawa-bagian-barat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Legenda Si Jampang Jawara Betawi</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2009/02/legenda-si-jampang-jawara-betawi/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2009/02/legenda-si-jampang-jawara-betawi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Feb 2009 18:06:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Silat]]></category>
		<category><![CDATA[Figure Pesilat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=156</guid>
		<description><![CDATA[Rumah besar yang berada dipunggung sebuah bukit kecil menjulang tinggi. Bukit itu disebut Gunung Kepuh. Rumah itu merupakan sebuah perguruan bela diri yang terkenal seantero betawi. Pemimpin dari perguruan itu bernama Ki Samad (Shomad). ia seorang jawara yang terkenal dan sulit dicari tandingannya. Pak Samad atau Ki Samad mempunyai dua murid kesayangan yang bernama Jampang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rumah besar yang berada dipunggung sebuah bukit kecil menjulang tinggi. Bukit itu disebut Gunung Kepuh. Rumah itu merupakan sebuah perguruan bela diri yang terkenal seantero betawi. Pemimpin dari perguruan itu bernama Ki Samad (Shomad). ia seorang jawara yang terkenal dan sulit dicari tandingannya. Pak Samad atau Ki Samad mempunyai dua murid kesayangan yang bernama Jampang dan Sarba. Kedua pemuda itu kononnya selain gagah dan tampan, juga mempunyai ilmu silat yang tinggi dan tangguh.Setelah sekian lama Jampang dan sarba menuntut ilmu. Tibalah waktunya mereka untuk kembali ke kampung halaman masing-masing. Inti ringkasan dari nasehat Ki Samad yang selalu mereka ingat adalah &#8220;Harus berhati-hati menggunakan ilmunya. Jangan sampai di amalkan di jalan yang salah &#8220;.</p>
<p>Di tengah perjalanan Jampang dan Sarba mampir di sebuah warung nasi. Disana melihat Gabus dan  Subro, dua orang anak buah Juragan Saud (Gan Saud), seorang tuan tanah.  Dua orang ini suka berbuat semena-mena, selalu berbuat onar dan pada waktu itu mereka makan spesial di warung itu, tapi mereka tak mau membayarnya.</p>
<p>Jampang dan Sarba pun tak mau tinggal diam. Mereka menghadapi centeng-centeng yang sombong itu. Gabus dan Subro merasa terkejut melihat ada dua orang pemuda yang berani menghalangi tindakan mereka. Selama ini setiap orang selalu takut dan tunduk kepada mereka.</p>
<p>Mereka meremehkan Jampang dan Sarba. Saat terjadi pertarungan, mereka kena batunya ternyata Jampang dan Sarba bukanlah orang biasa. Disinilah nama Jampang dan Sarba menjadi terkenal. Kedua centeng itu dibuat kewalahan, dan mereka berhasil kabur membawa dendam yang membara.</p>
<p>Konon ceritanya setelah menangani kedua tokoh itu, Jampang dan Sarba berpisah menuju kampung halamannya masing-masing.<br />
Dikampungnya, Jampang mengajarkan ilmu pengetahuan silatnya ke santri-santri Haji Baasyir. Salah satu ucapan beliau,  &#8220;Sebagai seorang Muslim, kita tidak boleh lemah. Kita harus kuat agar bisa membela diri dan melindungi orang yang lemah  dari para penjahat&#8221;.</p>
<p>Haji Baasyir sangat menyukai pemuda yang bersemangat seperti Jampang. Suatu hari, ia memberi tugas kepada Jampang untuk mengantarkan sebuah surat ke adik seperguran H. Baasyir yang bernama Haji Hasan yang tinggal di Kebayoran.</p>
<p>Jampang seorang sayang dan patuh ke H. Baasyir dan menerima tugas itu dengan senang hati.</p>
<p>Selepas dzuhur, Jampang telah berada di daerah Kebayoran dan melihat serombongan pejabat sedang mengontrol daerah kekuasaan mereka. Para penduduk yang berada di pinggir jalan menunduk seraya memberi hormat layaknya seorang raja jaman dahulu memberi hormat.</p>
<p>Jampang merasa kesal. Untuk apa mereka memberi hormat seperti itu. &#8220;Sekarang bukan jamannya raja-raja. Setiap manusia mempunyai kedudukan yang sama di hadapan Tuhan. Jadi apa perlunya memberi hormat seperti itu. Kekesalannya membuat tekad di hati dan pikirannya untuk membela dan berjuang hak-hak rakyat kecil.</p>
<p>Saat Jampang sedang di dekat aliran sungai, ia mendengar suara seorang wanita menjerit meminta pertolongan. Tampak dimatanya dia melihat seorang laki laki kasar sedang hendak berbuat senonoh kepada seorang wanita yang baru selesai mandi. Laki-laki bejat ini bernama Kepeng, anak buah Si Jabrig, jawara daerah itu. dan Gadis itu bernama Siti putri Pak Sudin.</p>
<p>Dia pun marah dan menolong wanita tersebut. Pertarungan sengit tak bisa dielakkan. Dengan kesaktiannya Jampang berhasil mengalahkan Kepeng</p>
<p>Jampang  mengantar Siti ke rumahnya. Lalu Pak Sudin orang tua Siti mengantar beliau ke rumah Pak Haji Hasan untuk mengantarkan sebuah surat titipan Haji Baasyir ke Haji Hasan.</p>
<p>Ternyata surat itu berisi anjuran agar Haji Hasan menyuruh agar anak-anak muda asuhan beliau untuk belajar ilmu beladiri. Dengan demikian mereka mampu menjaga keamanan di daerahnya. Memang kala itu tanah-tanah di pinggir kota betawi sering tidak aman. Dan Jampang mendapat tugas untuk melatih para pemuda itu.</p>
<p>Jampang pun melakukan tugasnya dengan baik. Dididiknya para pemuda dengan sungguh-sunguh. Kehadiran Jampang di daerah itu membuat Jabrig dan anak buahnya merasa tidak aman dan berniat menyingkirkan beliau.</p>
<p>Namun, Jampang bukan pemuda sembarangan. Ia adalah jebolan perguruan silat Gunung Kepuh. Gebrakan Jabrig dancurkann anak buahnya tidak berarti apa-apa. Ia bahkan mampu menghancurkan gerombolan itu. Keadaan kampung pun menjadi aman.</p>
<p>Hancurnya gerombolan Si Jabrig membuat tugas Jampang selesai. Ia pun segera pamit untuk kembali ke kampung halamannya. Hal ini membuat nama Jampang kembali terkenal karena kehebatannya.</p>
<p>Setibanya dikampung, sebuah fitnah menanti. Sebuah fitnah yang dibuat Subro dan Gabus yang menyatakan bahwa Jampang telah mencuri dua ekor kerbau milik Juragan Saud. Mereka yang pernah dikalahkan jampang ternyata masih merasa dendam dan mereka ingin menjebloskan Jampang ke penjara dengan cara melaporkan Jampang ke pihak kepolisian.</p>
<p>Jampang tahu bahwa ini adalah sebuah Jebakan. Beliau menghadap Haji Baasyir untuk diberi petunjuk. Haji Baasyir menyarankan Jampang untuk menemui Juragan Saud dan menyadarkannya.</p>
<p>Akhirnya Jampang pergi ke rumah Juragan Saud. Disana ia malah mengambil kerbau dan dan barang-barang berharga milik Juragan Saud lalu membagikannya kepada masyarakat kecil yang membutuhkan.</p>
<p>Juragan Saud yang kesal kepada Jampang yang ia fitnah, malah telah merampoknya. Ia meminta kepolisian agar mengerahkan pasukannya untuk menangkap beliau.</p>
<p>Polisi pun dikerahkan dimana-mana. Mereka berhasil  menemukan Jampang. Beberapa dari mereka telah menembak Jampang hingga tewas.</p>
<p>Namun mithos yang telah beredar Jampang tidaklah tewas. Dengan kesaktiannya, Jampang mengelabui mereka dengan mengubah sebuah gedebong (batang pohon) pisang seolah-olah menjadi dirinya. Jadi yang bunuh mereka adalah sebuah gedebong pisang, bukan jampang sebenarnya.</p>
<p>Setelah keadaan aman Jampang menikahi Siti anak dari Pak Sudin, orang yang pernah ditolongnya dulu.</p>
<p>&#8211;<br />
Ditulis ulang legenda si Jampang<br />
oleh Alamsyah aka Sarung Kampret.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2009/02/legenda-si-jampang-jawara-betawi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Silat &#8220;Kong Nizam Sang Jawara&#8221;</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2009/02/cerita-silat-kong-nizam-sang-jawara/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2009/02/cerita-silat-kong-nizam-sang-jawara/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Feb 2009 18:06:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Silat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=153</guid>
		<description><![CDATA[Mau dengar cerita lucu tentang para sahabat silat diPencak Silat Community &#8211; SahabatSilat yang dibuat cerita oleh Sarung Kampret? Sarung Kampret adalah seorang pecinta silat tradisional yang bergabung di pencak silat comunity Sahabat Silat dengan nama asli Alamsyah. Seorang yang bukan pendekar silat sejati dan berwajah lucu mengemas cerita silat ini sedemikian rupa hingga ngalor [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mau dengar cerita lucu tentang para sahabat silat di<strong><a class="nav" href="http://sahabatsilat.com/forum/index.php">Pencak Silat Community &#8211;  SahabatSilat</a></strong> yang dibuat cerita oleh Sarung Kampret?</p>
<p>Sarung Kampret adalah seorang pecinta silat tradisional yang bergabung di pencak silat comunity  Sahabat Silat dengan nama asli Alamsyah.  Seorang yang bukan pendekar silat sejati dan berwajah lucu mengemas cerita silat ini sedemikian rupa hingga ngalor ngidul tak tentu arah seenak pikirannya dalam cerita &#8220;<strong>Kong Nizam sang Jawara</strong>&#8220;.</p>
<p>Sekilas cuplikan cerita silat <strong>Kong Nizam sang Jawara </strong>:</p>
<p>====</p>
<p>Adapun murid seperguruannya kembali berdiri dengan sikap siap, walau Dbulls dapat berdiri tegak na­mun ia ragu-ragu untuk menerjang tanpa perintah . Ia maklum akan kelihaian manusia siluman ini dan menjadi gentar juga.</p>
<p>“Cuh! Cuhhhhh!” suara orang meludah dan beberapa penonton menyumpah-nyumpah karena mukanya terkena ludah kental yang tak diketahui dari mana datangnya.<br />
“Ho-ho-hah, Kang One jangan berpesta seorang diri!” Suara laki-laki seperti tambur bobrok ini terdengar dan orangnya sekaligus tampak seorang berpakaian seperti pengemis, mukanya keliatan sudah tua dan acak-acakan, mukanya pucat seperti mayat, ram­butnya panjang sampai ke pundak, awut-awutan dan riap-riapan kotor, kumisnya yang jarang-jarang, badannya kurus terlihat ongkang-ongkang kaki di atas pohon melinjo dipelataran Bek Rudyh. Pakaiannya kotor dan penuh tambalan, hanya sepasang sepatunya ma­sih baru. Ia memegang sebatang tongkat butut yang berupa pikulan, duduk di situ dengan gayanya yang pongah.</p>
<p>Dilihat sepintas lalu, ia hanya seorang pengemis kotor biasa saja, malah se­orang pengemis yang tidak normal, se­tengah gila. Hal itu tampak pada muka­nya yang mengerikan, apalagi mulutnya yang lebar dan selalu sedikit terbuka, memperlihatkan giginya yang aneh, gigi yang bercampur warna ke-emas-emasan.</p>
<p>Kembali ia meludah, “Cuh-cuh-cuh!” ke kanan kiri, menjijikkan sekali.<br />
Melihat ini, Lury marah, “Orang tua jorok (kotor), kaukah yang meludahi diriku tadi tadi?”, Luri sang pendekar Keyboard Sakti yang membawa papan yang berbentuk seperti papan cucian marah karena terkena ludah dari orang yang berada di atas nya.</p>
<p>&#8220;Anjing !! Apa loe gak kenal Pendekar Keyboard Sakti ?&#8221;, lanjut dia memaki maki.</p>
<p>“Ho-ho-hah-hah, aku memang suka meludah, biasa meludahi anjing korengan dan kucing kudisan. Lebih suka lagi me­ludahi keledai yang suka bawa papan buat bikin kandang ayam, cuh-cuh!” Mukanya menghadap ke bawah dan ia meludah ke bawah, akan tetapi anehnya, dua kali meludah, dua kali muka Lury sang Pendekar Keyboard Sakti yang berada di sebelah kanannya dalam jarak tiga meter itu terkena sambaran ludah kental yang sebagian memasuki lubang hidungnya. Entah bagaimana ludah itu bisa terbang menyeleweng dan miring.</p>
<p>“Jahanam hina!” Lury pun mana dapat menahan kesabarannya? Dengan kemarahan meluap-luap ia sudah memainkan keyboardnya dan menerjang pengemis itu.</p>
<p>“Ho-ho-ha-hah, untung besar hari ini bisa meludahi mampus keledai pembawa papan buat bikin kandang ayam!” Tiba-tiba terdengar suara keras dan papan di tangan Lury pun sudah terlempar jauh, menimpa batu gunung dan patah menjadi dua. Kemudian Orang gila pengemis itu meludah terus dan tiap kali meludah, Lury pun berseru ke­sakitan. Hujan ludah itu mengenai tubuh­nya, akan tetapi tidak hanya membikin kotor seperti tadi, kini terasa seperti pukulan-pukulan keras yang tepat me­ngenai jalan darah di tubuhnya. Tiap kali Orang gila itu meludah dan mengenai tubuh­nya, ia berteriak mengaduh, kemudian ia menggulingkan tubuh untuk menghindarkan diri. Namun Orang gila itu terus me­ludah, makin keras agaknya karena kini tubuh Lury pun bergulingan seper­ti seekor cacing terkena abu panas dan dari telinga dan hidungnya keluar darah segar!</p>
<p>“Orang gila keji, lepaskan teman kami!” Ywk dan dua orang adik se­perguruannya, Pendekar Danu Sang Pemetik Bunga dan Aguswin cepat mencabut golok dan menerjang pengemis itu. Akan tetapi pengemis itu mengangkat tongkatnya, sekaligus tiga batang golok itu ter­tangkis dan terpental. Sungguhpun tiga orang tokoh kosen itu tidak sampai melepaskan golok masing-masing, namun mereka merasakan telapak tangan<br />
mere­ka sakit dan panas. Terkejutlah mereka. Empat pendekar ini terkenal dengan ilmunya masing-masing yang digerakkan dengan tenaga dalam, kuat bukan main. Akan tetapi sekarang sekali tangkis saja Orang gila ini dapat mem­buat pedang mereka terpental. Padahal mereka adalah orang-orang yang men­duduki tingkat dua, tiga, dan empat di rimba pendekaran, yang paling lihai di bawah guru mereka, Ki Nagapasa!</p>
<p>Sementara itu, Orang gila itu terus me­ludahi tubuh Lury yang kini sudah tak dapat bersambat atau bergerak lagi. Hebatnya, kepala yang suka memakai blangkon jawa itu kini bolong-bolong dan dari situ keluar darah bercampur otak. Pendekar ke empat ini sudah tewas!</p>
<p>“Mana orang goa hydro! Mana pendekar-pendekar bau dari goa hydro?” tiba-tiba terdengar suara dan kali ini suara itu terdengar dari&#8230;. bawah! Terlalu hebat peristiwa yang terjadi berturut-turut itu, dan para penonton masih tercengang dan ngeri menyaksikan kematian seorang anggauta rombongan dari goa hydro yang membela bek Rudyh. Sekarang mendengar bentakan dari bawah tanah ini, mereka seketika menjadi pucat dan cepat memandang ke arah suara. Tentu saja pandang mata mereka tertuju ke bawah, karena dari situlah munculnya suara.</p>
<p>&#8220;Hehehehehe, Jali Jengki! Dengar itu, Si Manusia Sarung Kampret juga datang. Bakal ramai sekarang!” Raja Begal One tadi kini tertawa dan Si Jali Jengki juga tertawa dan meludah ke kanan kiri.</p>
<p>“Bagus, dan kebetulan orang-orang Perkumpulan Pendekar Goa Hydro berada di sini. Baik sekali. Hayo, Sarung Kampret busuk, perlihatkan diri, apa kau gentar melihat banyak orang-orang Forum?”</p>
<p>Diantara para penonton ditengah-tengah para pendekar ada meneer EricB, Peranakan sinyo belanda sahabat Kong Nizam. Dia dari tadi memperhatikan keadaan.</p>
<p>Mendengar disebutnya Sarung Kampret, muka meneer EricB makin pucat. Ia belum pernah bertemu dengan Sarung Kampret, akan tetapi ia mengenal nama ini yang oleh gurunya disebut sebagai se­orang tokoh hitam yang amat keji dan jahat, malah ada bibit permusuhan de­ngan tokoh-tokoh Pendekar Forum dan semua pendekar yang dikenal dari golongan putih, yaitu sahabat-sahabat meneer EricB.</p>
<p>Terdengar suara menggereng seperti harimau dari dalam tanah dan tiba-tiba tanah berikut batu berhamburan terbang dan tahu-tahu tanah itu sudah berlobang besar. Dari dalam lubang meluncur caha­ya seperti kilat yang terbang ke arah para penonton !!</p>
<p>Para penonton ini ternyata sebagian besar bukanlah orang-orang sembarangan. Tingkat ilmu silat mereka seperti juga orang-orang Perkumpulan Goa Hydro itu, sudah mencapai taraf tinggi sekali. Sekali pandang saja mereka maklum bahwa yang menyambar ini ada­lah sebuah batu-batuan yang amat tajam dan runcing, yang disusul melesatnya bayangan hitam. Cepat mereka berlima melompat ke belakang, mencabut golok dan senjata  masing-masing dan menangkis.<br />
“Trang-trang-trang&#8230;.!” terdengar bunyi nyaring. Bunga api berhamburan disusul melayangnya tiga batu besar yang tajam dan runcing, yaitu tiga batu di antara batu batuan yang bertemu dengan senjata berkilauan itu. Kemudian terdengar jerit mengerikan dan Salah satu penonton, penonton yang bertahi lalat pada hidungnya, telah roboh mandi darah. Dari leher sampai ke perutnya terdapat luka goresan yang panjang, luka kulit saja akan tetapi amat mengerikan. Apalagi kalau mereka melihat lawan mereka yang kini sudah berdiri di depan mereka, benar-benar mendirikan bulu roma.</p>
<p>Dia seorang yang tubuhnya sedang saja, malah agak gemuk. Seluruh badan, kecuali sepasang tangan yang kecil kurus, terbungkus pakaian serba hitam. Mukanya adalah muka cengangas cengenges, wajahnya yang lumayan kelihatan orang tolol kadang bertingkah laku seperti orang cacat mental, semua orang tidak akan menyangka bahwa orang ini yang telah berbuat mengerikan dengan membunuh beberapa penonton yang tidak berdosa, kepala tegak dengan pasang kopiah hitam yang miring tak beraturan, kedua kakinya memakai sepatu hitam pula. Di tangannya tampak sebuah senjata kujang tua yang amat tajam dan runcing, agak melengkung.</p>
<p>Senjata kujang tua itu kini bergerak-gerak ke arah tubuh penonton-penonton yang lain, sekali ber­kelebat tentu kulit tubuh penonton-penonton itu ter­iris robek. penonton-penonton yang terkena sabetan menggeliat-geliat, bergulingan, darah memenuhi tu­buh dan mukanya, namun kujang tua itu terus bergerak, makin lama makin cepat. Em­pat penonton menerjang lagi, yang dua orang termasuk Dolly dan pendekar Hidup menggunakan senjata keris, yang dua orang lagi karena goloknya terlempar, menerjang dengan kepalan. Akan tetapi hebatnya, si orang aneh &#8220;Sarung Kampret&#8221; ini hanya meng­gerak-gerakkan tangan kirinya dan semua serangan itu tertangkis oleh ujung lengan bajunya. Adapun kujang tua ini di tangan kanan­nya terus bergerak, merangsek pertahanan dolly, serangan yang berputar hebat menimbukan gemuruh petir di sekeliling pertempuran. namun rangsekan ini tak bisa ditolak, kujang tua telah mengiris-iris kulit tubuh dolly sampai cobak-cabik.</p>
<p>Kekejaman yang mendirikan bulu roma. pendekar dolly tak dapat mengerang lagi, tubuhnya berkelojotan, lalu diam. Gerakan kelebat kujang tua juga berhenti dan kini kujang tua itu berkelebatan menghadapi empat penonton dan pendekar hidup yang mengeroyoknya.</p>
<p>Sementara itu, Pendekar Dbulls dan dua orang konsen sudah bergerak mengeroyok si kakek gila Jali Jengki yang melayani tiga orang kosen ini sambil meludah-ludah dan memaki-maki. gerakan tongkat pikulan yang menderu seperti titiran kincir angin berkelebatan  menutup segala titik kosong yang menjadi incaran gencaran mereka. Dua orang yang mengeroyok ini adalah wanita yang gagah perkasa di rimba persilatan , siapa lagi kalau bukan : &#8220;Putri Teratai dan Black Widow&#8221;</p>
<p>Di lain fihak, empat orang tokoh hydro juga mengeroyok si Raja Begal One yang melayani mereka sambil terkekeh-kekeh. Sungguh pertempur­an yang amat seru namun tidak seimbang kekuatannya. Seperti tiga ekor harimau buas yang gila dikeroyok serombongan harimau-harimau gagah saja. Kujang tua di tangan sarung kampret itu menyambar seperti halilintar dan sebentar saja, dua orang penonton terkena angin panas dan sambaran halilintar yang ditimbulkan sudah menggeletak dengan tubuh terbacok hangus ham­pir putus menjadi dua potong, sedangkan hidup dan seorang yang membantunya sudah luka-luka pula.</p>
<p>Siapakah empat orang tokoh hydro yang konsen ini ??</p>
<p>Juga Raja Begal One mengeluarkan ilmu silaman yang mengerikan yang bernama RawaRontok (Candaan Rawa Rontek), badannya yang terluka tiba2 bisa sembuh kembali, dan tangannya yang terpotong tiba2 bisa tersambung kembali. malah sempat telah menewaskan dua orang penonton dengan ketombe-ketombe rambutnya. Tokoh konsen dari lembah hitam ini hanya berdiri te­gak, kepalanya digerak-gerakkan dan ketombe-ketombe dari rambutnya melayang-layang di sekitar tubuhnya, menangkis senjata dan meng­hantam lawan. Jangan dipandang rendah ketombe rambut ini, karena ketika menghantam lawan, ketombe rambut halus dan berbau apek itu seakan-akan telah berubah menjadi butiran butiran pasir yang amat kuat dan beracun.</p>
<p>Jali Jengki (Raja Gila Gembel bermuka aneh), meludah-ludah dan memaki-maki. Ludahnya membikin buta seorang lawan dan menimbulkan asap berlubang bagi yang terkena ludahnya, yang terus ditusuk tongkat kepalanya sehingga mati seketika.</p>
<p>Tiga tokoh konsen lembah hitam seperti penjagal di pemotongan hewan ternak, membunuh membabi buta sambil tertawa-tawa seakan akan berlomba-lomba untuk mendapatkan juara siapa yang bisa membunuh manusia lebih banyak.</p>
<p>=======</p>
<p>Mau cerita lengkap berikut mau tahu comment para sahabat silat??? dapat di temui di link http://sahabatsilat.com/forum/index.php?topic=780.45</p>
<p>-sarung kampret-</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2009/02/cerita-silat-kong-nizam-sang-jawara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendekar Lima (5)</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2009/01/pendekar-lima-5/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2009/01/pendekar-lima-5/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Jan 2009 18:18:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Silat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=152</guid>
		<description><![CDATA[by : putri teratai ( Sahabat Silat ) Kuhentikan langkahku… Seketika itu rombonganpun juga turut menghentikan langkah mereka. Di depan Nagapasa bersama pendekar yang lain saling berpandangan dan kemudian memandangku penuh heran. Kuberikan mereka tanda untuk diam di tempat dan berhati-hati… Ketika Ki Soemo hendak mendekatiku, kuberi tanda untuk diam di tempat. Dan segera telunjukku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>by : </strong><strong><a title="View the profile of putri teratai" href="http://sahabatsilat.com/forum/index.php?action=profile;u=1011">putri teratai</a> ( Sahabat Silat )<br />
</strong></p>
<p>Kuhentikan langkahku…</p>
<p>Seketika itu rombonganpun juga turut menghentikan langkah mereka.</p>
<p>Di depan Nagapasa bersama pendekar yang lain saling berpandangan dan kemudian memandangku penuh heran.</p>
<p>Kuberikan mereka tanda untuk diam di tempat dan berhati-hati…</p>
<p>Ketika Ki Soemo hendak mendekatiku, kuberi tanda untuk diam di tempat. Dan segera telunjukku mengarah ke tanah dengan guratan yang mengelilingi kami berenam.</p>
<p>Sementara bala tentara kerajaan yang mendampingan kami mulai mundur teratur menjauhi batas lingkaran yang mengelilingi kami.</p>
<p>Juru Kunci Ki Soemo melepas ikat kepalanya dan melecutkan ke tanah sementara kami terkejut dengan aksinya dan hanya diam dalam formasi siap.</p>
<p>&#8220;Hei.. Pendekar Wastu Kencana&#8230; keluarlah berhadapan dengan kami,“ lantang Ki Soemo memerintah.</p>
<p>Dengan tercengang serta saling memandang kami memperhatikan cahaya kuning yang keluar dari tanah dan melayang di udara yang lantas membentuk wujudnya menjadi seorang pemuda.</p>
<p>&#8220;Hua…ha…ha…ha…hua.ha..ha..hha…ternyata kehebatanmu sungguh luar biasa Ki Soemo,“ tawanya menggema menyeruak malam.</p>
<p>&#8220;Hormatku kepada para pendekar, maaf jika perjalanan malamku mengganggu pendekar!“ pintanya dengan merapatkan kedua tangannya yang hampir menutup mukanya.</p>
<p>Pemuda dengan perawakan yang kekar dan tatapan mata yang tegas, sungguh membuatku terkesima.</p>
<p>Hanya saja&#8230; aku tidak ingin mengatakan apa-apa untuk menyambut kedatangannya.</p>
<p>Batinku masih berkecamuk dengan banyak pertanyaan yang aku sendiri tak mampu menjawabnya.</p>
<p>&#8220;Akhh… jangan berpikiran yang bukan-bukan!!!“ Batinku mencoba menepis perasaan itu.</p>
<p>&#8220;Apa yang mengantarmu hingga di daerah Selatan ini Pendekar!,“ tanya Juru Kunci Ki Soemo.</p>
<p>&#8220;Hemm… aku sebenarnya akan mengunjungi muridku di daerah Timur, kudengar di sana perguruan Tapak Sakti sangat maju pesat,“ jawabnya dengan suara yang berat.</p>
<p>“Pendekar Wastu Kencana, di manakah tepatnya di daerah Timur yang dimaksud?&#8221; tanyaku tanpa bisa di kendalikan lagi.</p>
<p>&#8220;Di pinggiran sungai Bening di dekat perbatasan,“ jawabnya.</p>
<p>&#8220;Ku dengar juga di sana ada seorang Guru yang cukup disegani oleh penduduk dan mempunyai ilmu yang luar biasa,“ lanjutnya.</p>
<p>Pasti yang di maksud adalah ayah Bayu Sejati, sebab memang ayah sungguh di segani oleh pendusuk dan sering membantu penduduk jika mereka menemui kesulitan atau masalah.</p>
<p>&#8220;Aku ingin berkunjung dan meminta ijin atas nama muridku.“ terangnya lagi.</p>
<p>Pendekar Pengampun melangkah mendekatinya dan menepuk pundaknya,“ ikutlah kami ke kerajaan Selatan untuk sekedar beristirahat.“</p>
<p>&#8220;Ya.. perjalanan masih cukup jauh menuju ke Timur, sebaiknya lanjutkan saja esok,“ sambung pendekar Muda Respati dari Barat.</p>
<p>&#8220;Baiklah saudaraku, kuterima undangan kalian,“ sambutnya.</p>
<p>Malam itu tidak lagi sepi dan suasana itu cukup menenangkan pikiranku selama perjalanan menuju ke Kerajaan Selatan.<br />
Dan kecurigaanku terhadap pendekar Wastu Kencana sungguh tidak terbukti.</p>
<p>Nagapasa dan yang lain bergantian menceritakan pertarungan yang baru saja kita hadapi kepada Pendekar Wastu Kencana.</p>
<p>Aku… aku tak berminat untuk mengatakan sesuatu dan sesekali aku hanya tertawa kecil melihat kelucuan pendekar Cilik dalam pembicaraan mereka.</p>
<p>Kami sudah mencapai Gerbang Selatan dan disambut dengan suka cita oleh kerabat dan penghuni istana Selatan.<br />
Raja mengijinkan kami beristirahat serta melanjutkan laporan besok pagi.</p>
<p>Juru Kunci Soemo menghampiriku,“anakku, kenapa kamu terlihat gundah selama perjalanan tadi?“</p>
<p>&#8220;Pasrahkan semua kepada Yang Maha Suci, tidak akan terjadi apa-apa terhadap ayahandamu,“ nasehatnya.</p>
<p>Aku terharu dengan perkataan Ki Soemo, sungguh luar biasa ilmunya seolah dia bisa membaca pikiranku.</p>
<p>&#8220;Terimakasih Ki Soemo, bantulah Guru Bayu dengan do’a,“ pintaku.</p>
<p>&#8220;Ya.. kami akan senantiasa membantu, sudah beristirahatlah…,“ ucapnya sambil mengelus kepalaku.</p>
<p>Aku berjalan menuju bilik yang di sediakan oleh Pendekar Selatan, sebuah ruangan yang cukup nyaman untuk sekedar beristirahat.</p>
<p>Kuamati sekelilingnya dan kurasakan tidak ada sesuatu yang mencurigakan di kamar tersebut.</p>
<p>Sebuah meja dan kursi kayu kuno di ujung kamar menambah kenyamanan penghuninya, kulangkahkan kakiku menuju sebuah pintu.</p>
<p>Ketika kubuka, ternyata pintu itu menuju balkon yang mengarah tepat ke taman istana.</p>
<p>Angin malam yang semilir memasuki ruangan bilik itu dan kubiarkan pandanganku menikmati keindahan taman dengan iringan suara gemericik air mancur yang ada di taman, sementara bulan purnama menampakkan cantiknya hingga sinarnya berbinar di seluruh taman.</p>
<p>Eee..hemm… kuhembuskan nafas masih dengan perasaan yang tidak tenang, saat ini kuhanya ingin menerima pesan sakti dari kakek Guru.</p>
<p>Dengan harapan agar aku bisa pulang menyusul ayah dan adikku Teratai Merah.</p>
<p>Ini adalah perpisahanku yang kesekian kali dengan Teratai Merah dan tugas pertamaku dari Guru Bayu Sejati untuk bergabung dengan para pendekar.</p>
<p>&#8220;Bukannya aku senang menerimanya, tetapi..mampukah aku melaksanakan tugas ini?&#8221; tanyaku dalam hati dengan tidak percaya diri.</p>
<p><strong>Tiba-tiba… </strong></p>
<p>&#8220;Whuttt… whutt…,“ sekelebat bayangan menyeringai malam.</p>
<p>Tanpa pikir panjang kukejar dengan ilmu ringan tubuhku dan berusaha mencapai pohon tepat di sebelah bilikku. Kuamati bayangan hitam yang sedang mengendap memasuki halaman samping istana dan dari ketinggian itu kulihat lampu bilik pendekar muda masih menyala.</p>
<p>Bayangan hitam itu bergerak bagaikan angin telah mencapai kamar pendekar Muda . Dengan tidak tinggal diam, aku melompat untuk mencegatnya dari samping.</p>
<p>Rupanya dia menyadari kedatanganku, dan tanpa berhenti mulailah dia mengeluarkan tendangan belakang yang hampir menyentuh perutku.</p>
<p>&#8220;yaaakkk..huppp!!“ kulempar tendangannya dengan jurus lemparan harimau dengan pancer kaki kananku ke depan hingga dia mulai terjungkal.</p>
<p>Kesigapannya cukup untuk melakukan serangan lanjutan. Dengan memanfaatkan moment putar akibat lemparanku, aku cukup di buat tidak berkedip ketika tendangan lurus kedepan melayang di depan mataku.</p>
<p>Kulangkahkan kaki kananku untuk kembali maju menyerong dan menarik kaki kiriku mundur membentuk sikap Naga merendah, dan tanpa berpikir dua kali aku menjatuhkan diriku mengeluarkan tehnik sapuan untuk menjegal kaki kanannya yang dia pakai sebagai tumpuannya.</p>
<p>Hingga akhirnya dia terjerembab jatuh.</p>
<p>Aku segera melingkar dan bangun dengan masih keadaan bersedia, lalu aku bergerak menyusun langkah sambil berpikir bagaimana menghindari serangannya.</p>
<p>Melihat jurus dan tehniknya aku yakin dia bukan dari Kapak Hitam, sebab tenaga yang di gunakan adalah tenaga murni. Kuakui cukup cekatan sekali gerakannya dan luar biasa halus aliran nafasnya.</p>
<p>&#8220;Ki Sanak!!, siapakah anda dan kenapa anda memasuki halaman istana bukan sebagai ksatria,“ sapaku sambil tetap bergerak menyesuaikan langkahnya.</p>
<p>&#8220;Ciaaattttt…..,“ kembali dia melancarkan serangan tangan kosong tanpa mau menjawab pertanyaanku.</p>
<p>Tolakan dan hindaran menyamping aku gunakan untuk melindungi diriku, hemm..mulai kutemukan titik lemahnya ketika aku harus banyak meladeni serangan lurusnya.</p>
<p>Tanpa pikir panjang dan kali ini dengan tehnik pukulan pendeta merendah aku serang pinggang dengan maksud hanya untuk melemahkan saja.</p>
<p>&#8220;Ugghhhh…,“ pekiknya.</p>
<p>Dia bangkit dengan mengatur nafas, sementara ku dengar dari jauh langkah berlari menuju ke tempat pertarunganku.</p>
<p>Mendengar hal itu diapun kemudian meninggalkan asap putih menghilangkan dirinya, sementara aku yakin pukulan telakku tadi pasti meninggalkan bekas yang cukup lama.</p>
<p>&#8220;Putri…,“ teriak pemdekar Muda Respati dan pendekar Cilik yang mendapatkanku masih berdiri membiarkan si bayang hitam tadi melarikan diri.</p>
<p>&#8220;Biarkan dia pergi!“ ucapku singkat.</p>
<p>&#8220;Kita bakal tahu siapa dia,“ tambahku dengan mengusap kedua tanganku menutup pembicaraan.</p>
<p>Kutinggalkan mereka berdua dengan santai, sementara mereka saling berpandangan heran melihatku berlalu tanpa keterangan apapun.<br />
<strong><br />
*Keesokan harinya* </strong></p>
<p>Aku hadir paling akhir, sementara para pendekar sudah menungguku di ruang tengah dan langsung kuucap salam kepada mereka,“ Selamat pagi saudaraku, selamat pagi Ki Soemo semoga hari yang penuh berkah buat kita semua.“</p>
<p>&#8220;Amin…dan Selamat pagi Teratai Kuning,“ sambut mereka dengan hangat.</p>
<p>&#8220;Bagaimana istirahatmu semalam anakku,“ tanya Ki Soemo.</p>
<p>&#8220;Terimakasih Ki, cukup lelap tidurku … setelah kejadian kecil semalam …“ kalimatku terpotong ketika terdengar suara prajurit menyuarakan kedatangan raja.</p>
<p>Kami segera memberi salam hormat kepada raja Suryo Panunggal penguasa Kerajaan Banyu Biru. Raja menduduki kursi kebesarannya dengan memberikan senyum sebagai tanda menerima hormat kami.</p>
<p>&#8220;Ki Soemo dan para pendekar, terimakasih aku ucapkan atas kabar gembira yang kalian bawa. Dan aku bersyukur bahwa kalian pulang dengan keadaan selamat,“ Raja mengawali kata sambutannya.</p>
<p>&#8220;Terimakasih paduka, itu adalah bakti kami kepada Paduka serta tanah leluhur ini,“ ucap Ki Soemo mewakili kami.</p>
<p>&#8220;Teratai Kuning, anakku, aku mengutus prajurit untuk melihat keadaan Guru Bayu Sejati ayahmu. Jangan kuatirkan keadaannya, pasti akan ada prajurit yang kembali jika terjadi sesuatu disana,“ Raja menjelaskan kepadaku untuk tidak mengkhawatirkan Guru Banyu Biru.</p>
<p>&#8220;Menghaturkan sembah nuwun paduka Raja atas segala kebaikan paduka terhadap Guru Bayu Sejati, hamba akan senantiasa setia dan sungguh-sungguh menjalankan tugas mendampingi paduka menggantikan Guru Bayu,“ ucapku dengan merendahkan diri.</p>
<p>&#8220;Janganlah kuatir kamu akan aman bersama para pendekar yang lain, anggaplah Ki Soemo sebagai pengganti ayahmu selama Guru Bayu tidak di sini,“ lanjut Raja menenangkanku.</p>
<p>&#8220;Nagapasa, ini sebuah kehormatan bagiku untuk mengunjungi Gerbang Selatan dan menerima kabar kemenangan ini. Aku harapkan keadaan akan tetap aman terkendali di bawah tanggung jawabmu,“ Raja memberikan hormatnya sambil mengingatkan Pendekar Selatan.</p>
<p>Secara bergantian para pendekar menceritakan kepada Raja keadaan di medan pertarungan melawan Kapak Hitam hingga pertemuan kami dengan Pendekar Wastu Kencana.<br />
Aku sesekali melihat dan bertatapan mata dengan mereka sebagai tanda mengerti dengan keadaan yang diceritakan.</p>
<p>Ternyata pendekar Wastu Kencana berasal dari Wilayah Barat dan itu masih di bawah kekuasaan Pendekar Muda Respati.</p>
<p>Pendekar Wastu Kencana menyandang pusaka Wila Lodra ke manapun dia pergi, pusaka ini berupa golok atau bedok yang bila dikeluarkan dari sabuknya maka seketika itu alam akan berubah dari siang menjadi malam.<br />
Angin puyuh bagai tornado dan petir yang menyala serta sambar menyambar akan mengukutinya.<br />
Sehingga orang yang menyaksikannya atau  berada di situ akan ketakutan dan berlarian menghindar dari kejaran kilat yang akan terus mencari mangsa hingga puluhan kilometer.</p>
<p>Aku semakin tertegun ketika mendengar kisah perjalanannya yang senantiasa menolong sesama dan mengajarkan ilmu kebaikan kepada orang yang dijumpainya.</p>
<p>Raja mengijinkannya untuk membantu kami jika kami membutuhkan, serta perjalanan ke Timur juga mendapatkan restu Raja untuk mendampingi Guru Bayu Sejati di sana.</p>
<p>Akhirnya kami membahas pelarian si Durgo Suryo Pakso dan menyusun beberapa strategi untuk memperketat keamanan keempat wilayah Kerajaan Banyu Biru sebelum akhirnya Pendekar Wastu melanjutkan perjalanan menuju ke Timur.</p>
<p>Pangeran Pengampun dan Juru Kunci Soemo yang dikenal dengan ahli strategi membabarkan rencana penjagaan kerajaan dan juga keempat wilayah Kerajaan Banyu Biru.</p>
<p>Akupun menceritakan mengenai peristiwa semalam kepada Raja dan para pendekar dengan penuh hati-hati. Tamu yang tidak diundang semalam cukup mencurigakan dan kami yakin bahwa malam inipun dia kan beraksi kembali.</p>
<p>Tanpa menunggu perintah dari raja, Nagapasa memerintahkan anak buahnya untuk memperketat penjagaan dan memasang umpan untuk menjebak si bayang hitam.</p>
<p>Kami mengakhiri pertemuan dengan raja ketika sang surya sudah mulai tinggi, Raja mengajak kami menikmati perjamuan makan siang.</p>
<p>Setelah selesai pendekar Cilik berjalan mendekatiku dengan senyumnya yang khas. Hemm.. mau apa dia, tanyaku dalam hati.</p>
<p>&#8220;Putri…apa yang terjadi semalam aku ingin tahu lebih jelas?“ sapanya dengan pertanyaan yang harusnya penjelasanku tadi di depan Raja menjadi jawabannya.</p>
<p>&#8220;Tadi kamu tidur ya…?“ tanyaku balik tanpa ekspresi.</p>
<p>&#8220;Tidak… aku hanya ingin tahu lebih jelas saja dan jujur, aku ingin belajar ilmu silatmu,“ jelasnya kepadaku.</p>
<p>&#8220;Tidak ada yang perlu dipelajari… ilmumu sudah cukup hebat,“ cegahku.</p>
<p>Dari jauh, kulihat Pendekar Muda Respati juga berjalan ke arahku, aku berusaha menghindar sebab aku sedang tidak ada selera untuk mengurusi mereka.</p>
<p>&#8220;Putri Teratai…sebentar!!!“ cegah Respati.</p>
<p>&#8220;Jangan ganggu Putri, Pendekar Muda,“ ucap Cilik kepada Respati.</p>
<p>&#8220;Sepertinya sedang datang bulan,“jawabnya mencoba melucu.</p>
<p>Aduhh…memang pendekar Cilik suka melucu dan jawabannya membuatku lebih enggan lagi untuk tetap tinggal.</p>
<p>&#8220;Eeehhh…ehhh… kok malah lari, iyaa…iyaa.. maaf Putri,“ cegahnya lagi.</p>
<p>&#8220;Ada apa Respati?“ tanyaku tanpa memikirkan Pendekar Cilik.</p>
<p>“Ahhh tidak, aku hanya ingin bertanya tentang jurus dan teknikmu saja,” jelasnya.</p>
<p>“Memang kenapa?? Emmm ada yang anehkah?” lanjutku bertanya.</p>
<p>Kami berjalan menuju taman dan mendengarkan Pendekar Muda Respati melanjutkan kalimatnya,“ Jurus yang kamu gunakan semalam mirip sekali dengan jurus di perguruanku, aku hanya berpikir apakah dulu guruku dan Guru Bayu Sejati satu induk perguruan?“</p>
<p>&#8220;Mungkin saja, sebab ketika aku melihatmu bertarung dengan murid Kapak Hitam. Akupun berpikir hal yang sama mengenai Jurus Tongkatmu.“ Jawabku juga penasaran mengenai beberapa kemiripan jurus ataupun teknik kami.</p>
<p>&#8220;Ayoo.. kita ke taman di belakang, tunjukan kesamaan teknik dan jurus kalian,“ ajak pendekar Cilik.</p>
<p>Aku dan Respati saling berpandangan serta saling mengangguk tanda setuju. Kami segera bergegas ke taman belakang dan tingkah kami menjadi perhatian penghuni istana termasuk Nagapasa dan Pendekar Pengampun.</p>
<p>****************</p>
<p>Untuk kelanjutannya bisa di lihat di trit ini :</p>
<p>http://sahabatsilat.com/forum/index.php?topic=798.30</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2009/01/pendekar-lima-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
