<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Silat Indonesia &#187; Traditional Ethnic</title>
	<atom:link href="http://silatindonesia.com/category/ethnic-art/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://silatindonesia.com</link>
	<description>Pusat Informasi Pencak Silat Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 09:13:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>PPS Betako Merpati Putih Menduniakan Ilmu Getaran</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2008/12/pps-betako-merpati-putih-menduniakan-ilmu-getaran/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2008/12/pps-betako-merpati-putih-menduniakan-ilmu-getaran/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Dec 2008 06:32:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Traditional Ethnic]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=141</guid>
		<description><![CDATA[Salah besar jika kita selalu berpandangan bahwa orang belajar bela diri, lebih dikarenakan alasan menjaga keselamatan. Bagi masyarakat, ada hal lebih besar yang ingin diperolehnya dalam mempelajari beladiri, selain sekadar mendapatkan kemampuan bertarung. Saat ini, belajar bela diri justru lebih pada keinginan hidup sehat dan menjalin persaudaraan. Dalam kehidupan zaman kuno, orang belajar bela diri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="snap_preview">
<p>Salah besar jika kita selalu berpandangan bahwa orang belajar bela diri, lebih dikarenakan alasan menjaga keselamatan. Bagi masyarakat, ada hal lebih besar yang ingin diperolehnya dalam mempelajari beladiri, selain sekadar mendapatkan kemampuan bertarung. Saat ini, belajar bela diri justru lebih pada keinginan hidup sehat dan menjalin persaudaraan.</p>
<p>Dalam kehidupan zaman kuno, orang belajar bela diri karena memang kondisi sosial dan alam membutuhkan manusia mempunyai kemampuan bertarung secara fisik. Bahkan status sosial seseorang juga tak lepas dari kekuatan fisik. Semakin seseorang jago berkelahi atau sakti, maka orang itu akan makin mendapat posisi yang tinggi di masyarakat.</p>
<p>Tapi kalau model itu diterapkan sekarang kondisinya justru akan berbalik 180 derajat. Orang yang hanya mengandalkan kekuatan fisik, justru menjadi bahan tertawaan orang lain. Kemampuan beladiri memang dibutuhkan, tetapi tak berarti kekuatan fisik adalah segalanya.</p>
<p>Perubahan ini ternyata ditangkap dengan cepat oleh Perguruan Pencak Silat Bela Diri Tangan Kosong (PPS Betako) Merpati Putih. Perguruan silat yang lahir tahun 1963 ini, sanggup menyulap diri menjadi perguruan yang tidak hanya punya jurus maut dalam pertarungan, tetapi juga bisa berguna bagi kesehatan dan bidang-bidang lainnya.</p>
<p>Sejak tahun 1989 Merpati Putih mengembangkan sebuah metode getaran dalam sebuah latihan yang alami. Dengan mempelajari getaran ini, seorang pesilat Merpati Putih sanggup membesarkan getaran di sekelilingnya.</p>
<p>”Kalau seseorang sudah terlatih maka dia akan bisa melakukan pendeteksian atas objek tersembunyi, maupun membaca situasi berdasarkan energi yang ada di sekelilingnya” ungkap Wakil Ketua Merpati Putih, Bambang Rus Effendi. Bahkan mereka sanggup melakukan pedeteksian radiasi nuklir. ”Ini telah dikaji di BATAN (Badan Tenaga Atom Nasional) dan hasilnya sangat memuaskan.”</p>
<p>Pengembangan metode getaran ini jelas sangat berguna bagi tuna netra. Meski tidak bisa melihat, namun melalui latihan getaran tuna netra pun akan mampu membedakan dan mengidentifikasi bentuk, warna, tekstur, arah, kecepatan, volume, dan komposisi berbagai objek.</p>
<p>Kesadaran akan besarnya manfaat metode getaran ini bagi tuna netra mendorong perguruan ini pada 1995 mendirikan Yayasan Destarata. Keberadaan yayasan ini dimaksudkan untuk membuat dan melaksanakan program pembinaan bagi tuna netra. ”Khusus tuna netra, ada metode tersendiri, sehingga mereka hanya butuh waktu 1 tahun untuk menguasai energi getaran,” tandas Bambang.</p>
<p>Dalam perkembangannya, terdapat kurang lebih 3000 orang tunanetra di Indonesia yang telah berlatih Ilmu Getaran Merpati Putih. Manfaatnya, sekarang mereka sudah bisa hidup secara mandiri.</p>
<p>Tidak ada unsur magic dalam pengembangan Merpati Putih. Menurut Bambang, pada dasarnya dalam tubuh manusia terdapat energi yang besar. Namun energi ini tidak bisa dikendalikan, sehingga hanya muncul pada saat tertentu saja.</p>
<p>”Misalnya waktu kita dikejar anjing, terkadang kita bisa melompati pagar yang tinggi. Padahal kalau saat normal mungkin kita tidak bisa melakukannya,” jelas Bambang. Ini menunjukkan dalam diri manusia itu sebenarnya terdapat energi yang besar. Sayangnya energi ini muncul dalam kondisi tertentu saja.</p>
<p>Merpati Putih kemudian menjabarkannya dalam proses latihan-latihan. Dari sini energi yang besar itu bisa dikendalikan dan bisa dimunculkan sewaktu-waktu. ”Awalnya, energi itu muncul dalam bentuk energi kasar, yang bisa digunakan untuk melakukan pematahan benda-benda keras.</p>
<p>Seperti batu kali, kikir, balok, dan sebagainya” kata Bambang. Sedang dalam proses deteksi getaran, energi kasar dari dalam tubuh ini justru diperhalus dan disalurkan ke otak. Dari proses ini energi ini kemudian dilepaskan lagi untuk mendeteksi keberadaan benda yang ada disekelilingnya.</p>
<p>Keberhasilan Merpati Putih dalam mengembangkan metode getaran, memukau banyak negara tetangga. Singapura telah mengirim beberapa tuna netra untuk mendalaminya. Hal yang tak kalah pentingnya adalah Merpati Putih juga bisa dikembangkan untuk pengobatan dan kebugaran. Ilmu pengobatan Merpati Putih juga mampu mengobati sejumlah penyakit.</p>
<p>”Pernafasan yang kita kembangkan akan bisa digunakan untuk mengobati diabetes, asma, maupun jantung. Lewat proses latihan yang intensif, penyakit-penyakit itu Insyaallah bisa disembuhkan,” jelasnya. Pengidap penyakit dalam, seperti kanker, juga bisa disembuhkan tapi prosesnya melalui tehnik getaran.</p>
<p>Keberadaan Merpati Putih, telah memberikan warna baru dalam dunia beladiri Indonesia. Keberhasilan mereka dalam mengembangkan tenaga dalam, ternyata bisa memberikan manfaat yang besar bagi pengobatan maupun kepentingan para tunanetra.</p>
<p>Nama bangsa Indonesia juga beberapakali diharumkam para pesilat dari Merpati Putih. Saat ini atlet-atlet silat Indonesia, juga banyak yang dilahirkan dari Merpati Putih. Bahkan mereka tercatat sebagai pemegang rekor Museum Record Indonesia (MURI), saat 11 orang pesilatnya melakukan aksi tutup mata dari Istana Bogor hingga Balaikota DKI. Aksi yang menempuh perjalanan sejauh 60 km itu bisa dilakukan secara lancar. (dwo)</p>
<p>Sumber : Republika online</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2008/12/pps-betako-merpati-putih-menduniakan-ilmu-getaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ayo Patenkan Pencak Silat!</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2008/11/ayo-patenkan-pencak-silat/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2008/11/ayo-patenkan-pencak-silat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Nov 2008 17:28:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Traditional Ethnic]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=108</guid>
		<description><![CDATA[Melly Febrida &#8211; detikFinan Bangkalan &#8211; Tak sedikit seni budaya Indonesia yang dipatenkan negara lain. Supaya kejadian serupa tak terulang lagi, seni pencak silat pun dianjurkan segera dipatenkan. &#8220;Jangan lupa mendaftarkan ke Depkum dan HAM. Agar seni bela diri pencak silat dengan berbagai jurusnya dipatenkan,&#8221; kata Ketua DPR Agung Laksono dalam sambutan acara Gebyar Pencak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="reporter"><strong>Melly Febrida</strong> &#8211; detikFinan</span><strong></strong></p>
<p><strong>Bangkalan</strong> &#8211; Tak sedikit seni budaya Indonesia yang dipatenkan negara lain. Supaya kejadian serupa tak terulang lagi, seni pencak silat pun dianjurkan segera dipatenkan.</p>
<p>&#8220;Jangan lupa mendaftarkan ke Depkum dan HAM. Agar seni bela diri pencak silat dengan berbagai jurusnya dipatenkan,&#8221; kata Ketua DPR Agung Laksono dalam sambutan acara Gebyar Pencak Silat Joko Tole, di GOR Bangkalan, Bangkalan, Madura, Rabu (9/1/2008).</p>
<p>Politisi Golkar ini mengingatkan, pencak silat jangan sampai diakui negara lain. Apalagi Padepokan Joko Tole Bangkalan sudah mengembangkan seni bela diri pencak silat ini berpuluh-puluh tahun lamanya.</p>
<p>&#8220;Apabila dipatenkan, maka pemerintah akan melindungi,&#8221; imbuh Agung.</p>
<p>Selain dipandang sebagai seni budaya Indonesia, Agung menilai ada 3 unsur latar belakang nuansa moralitas yang terkandung dalam pencak silat. Yakni unsur sportifitas dan menjunjung disiplin, unsur kemasyarakatan, serta semangat sosial keagamaan.</p>
<p>&#8220;Contohnya saja meski menggunakan senjata tajam dan berbahaya, tapi dengan disiplin jadinya tak terluka,&#8221; tandas dia.<strong>(mly/nvt)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2008/11/ayo-patenkan-pencak-silat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keris sebagai warisan INDONESIA</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2008/09/keris-sudah-dikukuhkan-unesco-sebagai-warisan-indonesia/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2008/09/keris-sudah-dikukuhkan-unesco-sebagai-warisan-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Sep 2008 23:00:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Traditional Ethnic]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[DENPASAR, RABU &#8211; UNESCO yang merupakan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengukuhkan keris Indonesia sebagai karya agung warisan kemanusiaan milik seluruh bangsa di dunia. &#8220;Dunia telah mengakui keberadaan keris Indonesia sekaligus mendapat penghargaan dunia sejak 25 November 2005,&#8221; kata pendiri sekaligus Direktur Museum Neka Ubud Pande Wayan Suteja Neka, Kamis (17/7). [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>DENPASAR, RABU &#8211; UNESCO yang merupakan Organisasi Pendidikan,  Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa  (PBB) mengukuhkan keris Indonesia sebagai karya agung warisan  kemanusiaan<br />
milik seluruh bangsa di dunia.</strong></p>
<p>&#8220;Dunia telah mengakui  keberadaan keris Indonesia sekaligus mendapat<br />
penghargaan dunia sejak 25  November 2005,&#8221; kata pendiri sekaligus<br />
Direktur Museum Neka Ubud Pande Wayan  Suteja Neka, Kamis (17/7).</p>
<p>Ia mengatakan, sejumlah negara, antara lain  Singapura, Brunei<br />
Darussalam, dan Filipina, hingga kini belum berhasil  mengukuhkan<br />
kerisnya untuk diakui dunia.<br />
Keris Indonesia, termasuk Bali,  diakui sebagai karya agung warisan<br />
dunia, dan ini mendorong Suteja Neka  menambah koleksi museum yang<br />
telah dirintisnya sejak 26 tahun  silam.</p>
<p>&#8220;Sejak tahun 1970 saya telah memburu dan mengoleksi keris, namun  baru<br />
ada keinginan untuk dijadikan koleksi museum bersama 413  koleksi<br />
lukisan dan patung,&#8221; tutur Suteja Neka.</p>
<p>Penambahan 218 keris  tersebut merupakan hasil seleksi ketat yang<br />
dilakukan pakar dan pejuang keris  (Mpu) Indonesia, Ir Haryono<br />
Haryoguritno dan Sukoyo Hadi Nagoro.</p>
<p>Keris  merupakan senjata tradisional yang sangat berperan dalam<br />
kehidupan manusia  pada zaman dahulu hingga sekarang. Kebiasaan<br />
memanfaatkan keris sebagai  senjata, benda berwasiat, dan kelengkapan<br />
upacara keagamaan telah membudaya  dalam kehidupan masyarakat<br />
Indonesia, khususnya masyarakan Hindu di  Bali.</p>
<p>&#8220;Keris yang dijadikan koleksi museum karena unsur keindahan dan  seni,<br />
bukan karena berwasiat,&#8221; ujar Suteja Neka.</p>
<p>Ia adalah pewaris  pembuat peralatan perang, khususnya keris bertuah,<br />
bahkan leluhurnya, Pande  Pan Nedeng, adalah mpu keris dari Kerajaan<br />
Peliatan-Ubud semasa Raja Peliatan  ke-3 Ida Dewa Agung Djelantik yang<br />
menduduki takhta pada abad ke-19  (1823-1845).</p>
<p>Pande Wayan Neka (1917-1980), ayah Pande Wayan Suteja Neka,  dikenal<br />
sebagai seniman patung dengan karya-karya yang unik dan  bermutu,<br />
antara lain patung garuda yang dibuat setinggi tiga meter untuk  New<br />
York World Fair, Amerika (1964).</p>
<p>Suteja Neka berharap, melalui  museum ini mampu melestarikan dan<br />
mengembangkan keris sebagai karya agung  yang keberadaannya kini telah<br />
diakui dunia.</p>
<p>MBK<br />
Sumber : Antara</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2008/09/keris-sudah-dikukuhkan-unesco-sebagai-warisan-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Golok Tak Terpisahkan Dengan Pencak Silat</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2008/06/ketika-golok-tak-terpisahkan-dengan-pencak-silat/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2008/06/ketika-golok-tak-terpisahkan-dengan-pencak-silat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jun 2008 04:40:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Traditional Ethnic]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/id/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Pencak silat lama dikenal sebagai seni beladiri yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Seni olah tubuh ini begitu membudaya hingga keberadaannya hampir dikenali setiap wilayah pelosok Tanah Air. Di masyarakat Sunda, misalnya. Kepopuleran pencak silat sungguh melegenda. Hampir setiap warga mengenalinya, tak terkecuali warga di Desa Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Sejarah ilmu silat ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><strong></strong>Pencak silat lama dikenal sebagai seni beladiri yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Seni olah tubuh ini begitu membudaya hingga keberadaannya hampir dikenali setiap wilayah pelosok Tanah Air. Di masyarakat Sunda, misalnya. Kepopuleran pencak silat sungguh melegenda. Hampir setiap warga mengenalinya, tak terkecuali warga di Desa Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.</p>
<p align="justify">Sejarah ilmu silat ini memiliki akar kuat yang sangat panjang, meski belum diketahui secara pasti sejak kapan ilmu bela diri ini masuk ke Bumi Pasundan. Yang jelas keberadaannya sudah dikenali semenjak ratusan tahun yang lampau. Bahkan, di dalam Serat Centini disebutkan bahwa pada masa pra-Islam istilah padepokan sudah dikenal. Kini, pencak silat di Jabar juga sudah berkembang dengan masing-masing daerah memiliki ciri khas perguruan dengan jurus-jurus temuannya.</p>
<p align="justify">Seperti umumnya seni beladiri, silat pun berkembang mulai dari gerakan bela diri tangan kosong hingga pesilat diajarkan cara menggunakan senjata tajam. Uniknya, hampir semua perguruan pencak silat di Tanah Air ini mengkombinasikan gerakan silat dengan menggunakan senjata tajam khas daerah masing-masing, termasuk golok senjata tradisional keseharian masyarakat Sunda.</p>
<p align="justify">Golok yang biasa menjadi alat keseharian ke ladang kini menjadi sebuah alat beladiri yang disegani. Sang pendekar tak sekadar mengajarkan ilmu golok yang lebih penting dari itu ketajaman golok harus disertai dengan ketajaman hati yang bersih. Disaksikan pesilatnya, biasanya sang guru selalu mengajarkan filosofi sebuah golok.</p>
<p align="justify">Sogong adalah salah satu pendekar silat Sukabumi yang masih mengamalkan silat menggunakan golok. Namun, golok biasanya hanya digunakan jika kondisi benar-benar dalam keadaan terpojok. Golok terkadang juga digunakan oleh para pesilat untuk atraksi seni. Sebagai seorang guru silat, Sogong juga melatih dan membekali belasan muridnya dengan jurus-jurus tangan kosong, termasuk tenaga dalam ataupun kebatinan. Namun, mengingat jurus golok dengan tenaga dalam cukup berbahaya, Sogong tak ingin membiarkan muridnya berlama-lama dalam pengaruh ilmu gaib itu.</p>
<p align="justify">Untuk memperoleh golok atau bedog pusaka yang sejiwa dengan si empunya, berbagai macam ritual harus dilakukan seorang pendekar. Salah satunya dengan menyucikan diri. Setelah dalam kondisi suci diri, sang pendekar membawa goloknya ke ajengan atau pemuka agama agar goloknya didoakan sehingga membawa berkah dan kebaikan kepada pemiliknya. Biasanya, upacara ritual ini dilakukan pada saat bulan Maulud atau hari-hari tertentu yang dianggap keramat. Ada juga ritual-ritual yang bersifat lebih pribadi sesuai kepercayaan yang dianut sang pendekar.</p>
<p align="justify">Dalam pelaksanaan ritual, biasanya pendekar membawa sejumlah muridnya, rekan ataupun kerabat untuk ikut berdoa supaya mendapatkan rido dari sang pencipta. Para pengikut ini juga harus membawa dirinya dalam keadaan suci yaitu dengan berwudu. Setelah menyucikan diri, doa-doa pun dikumandangkan. Setelah golok didoakan oleh ajengan, sang pendekar disatukan jiwanya dengan golok. Ritual diakhiri dengan pesan ajengan kepada pendekar agar senjata goloknya dipergunakan untuk kebaikan.</p>
<p align="justify">Golok pusaka di tangan pendekar akan sangat berbahaya jika tidak diiringi kematangan mental pemiliknya. Pesan yang disampaikan ajengan menjadi bekal sang pendekar dalam memanfaatkan goloknya. Golok pusaka yang diperolehnya adalah amanah untuk digunakan di jalan yang benar.</p>
<p align="justify">Desa Cibatu, Cisaat, Sukabumi, selama ini dikenal salah satu penghasil berbagai macam senjata tajam yang salah satunya adalah golok. Meskipun dengan teknologi yang sederhana, mereka sudah menghasilkan ribuan senjata tajam yang didistribusikan di sejumlah daerah di Indonesia.</p>
<p align="justify">Umumnya budaya membuat senjata ini di sana sebagai tradisi turun temurun dari para leluhurnya. Namun, dalam perkembangannya desa ini kemudian dikenal sebagai desa pembuat golok. Golok buatan Desa Cibatu ini kini mulai banyak dijumpai di gerai-gerai toko di kawasan Jabar. Baik golok untuk kebutuhan senjata di ladang maupun golok yang dibuat khusus untuk pesilat.</p>
<p align="justify">Salah seorang penerus pembuat golok mumpuni di Desa Cibatu ini adalah Haji Aas As’ari. Lelaki separuh baya ini tumbuh dan besar di Desa Cibatu. Haji Aas mengenal pembuatan golok sejak usia belia. Ketika menginjak dewasa, ia mulai ditempa dengan olah batin yang diajarkan orang tuanya. Maklum, seorang empu golok pusaka harus memilki ilmu dan kesucian hati agar buatannya memiliki keampuhan supranatural bagi pemiliknya. Kesucian hati dan berdoa diperlukan agar pembuatan goloknya diridoi Yang Maha Pencipta.</p>
<p align="justify">Dalam proses pembentukan golok, Haji Aas selalu mengutamakan mutu. Tak heran, Haji Aas teliti dalam memperhatikan model, ukuran serta bentuk golok. Soal bahan mentah golok, Haji Aas selalu memilih besi mentah yang terbaik. Sementara gagang golok, Haji Aas memilih tanduk kerbau. Dalam proses pembuatannya, Haji Aas selalu mengerjakan sendiri. Ini dilakukan agar hasil yang didapat golok yang berkualitas terbaik. Yang pasti, golok akan menjadi dua sisi mata, yakni untuk kebaikan atau keburukan tergantung bagaimana si pemilik menggunakannya.(<em>ORS/Joy Astro dan Teguh Prihantoro &#8211; Liputan6.com</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2008/06/ketika-golok-tak-terpisahkan-dengan-pencak-silat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

