<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Silat Indonesia &#187; Figure Pesilat</title>
	<atom:link href="http://silatindonesia.com/category/figure/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://silatindonesia.com</link>
	<description>Pusat Informasi Pencak Silat Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 09:13:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Semua silat sih bagus, tapi kita harus cinta sama mainan kita sendiri, Gerak Rasa Babeh Acul Slipi</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2012/05/semua-silat-sih-bagus-tapi-kita-harus-cinta-sama-mainan-kita-sendiri-gerak-rasa-babeh-acul-slipi/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2012/05/semua-silat-sih-bagus-tapi-kita-harus-cinta-sama-mainan-kita-sendiri-gerak-rasa-babeh-acul-slipi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 May 2012 09:13:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cover Story]]></category>
		<category><![CDATA[Figure Pesilat]]></category>
		<category><![CDATA[Liputan Khusus]]></category>
		<category><![CDATA[Babeh Acul]]></category>
		<category><![CDATA[Gerak Rasa]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[mainan]]></category>
		<category><![CDATA[mencintai]]></category>
		<category><![CDATA[silat]]></category>
		<category><![CDATA[Slipi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=1690</guid>
		<description><![CDATA[Matahari telah mulai terbenam. Sinarnya berwarna kuning kemerahan mulai menghilang. Tampak rona bahagia menerpa kota Jakarta menghiasi raut wajah para penghuninya. Dengan semangat kami  buat pergi ke sebuah tempat pelosok Kota Jakarta untuk  liputan khusus mengenai aliran silat atau ke guru-guru silat yang mengajar. Menghabiskan waktu malam dengan melihat tebenamnya semburat cahaya jingga bersama. Bermodal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Matahari telah mulai terbenam. Sinarnya berwarna kuning kemerahan mulai menghilang. Tampak rona bahagia menerpa kota Jakarta menghiasi raut wajah para penghuninya. Dengan semangat kami  buat pergi ke sebuah tempat pelosok Kota Jakarta untuk  liputan khusus mengenai aliran silat atau ke guru-guru silat yang mengajar. Menghabiskan waktu malam dengan melihat tebenamnya semburat cahaya jingga bersama.</p>
<p>Bermodal kenalan dari seorang teman yang memberitahu tentang nama Babeh Acul, kami putuskan untuk keluar dari kantor menuju daerah Slipi, kami langkahkan kaki menelusuri daerah sekitaran Kantor Pos Jl. KS Tubun IV Belakang Hotel Shantika, malam yang begitu menusuk sungsum tulang tidak kami rasakan untuk semangat mencari <a href="http://silatindonesia.com/tag/babeh-acul">Babeh Acul</a>, salah satu seorang Guru silat daerah ini. Jalanan masih ramai walau hujan sisa semalam masih menutupi jalan.<span id="more-1690"></span></p>
<p>Dari alamat yang diberikan ternyata orang yang kami cari tidak ada di rumahnya. Kamipun terus melangkahkan kaki. Mata kami mengembara memperhatikan alamat kantor pos yang diberitahu <a href="http://silatindonesia.com/tag/babeh-acul">Babeh Acul</a> ada di daerah sana.<br />
Kuputuskan untuk masuk ke sebuah tempat tongkrongan. Sebuah bambu panjang, aku duduk di dibangku itu. Mataku langsung tertuju ke sebelah orang tua disebelahku.</p>
<p>“<em>Pak maaf kalau boleh bertanya kami bisa ketemui Babeh Acul dimana ya?</em>”<br />
“<em>Laah saya Babeh Acul…</em>”, katanya mengakui dirinya</p>
<p>Ternyata Babeh Acul yang bernama asli Mashuri ini adalah seorang lelaki tua yang sedang duduk menyaksikan pemandangan jalan, yang pernah kami lewati tadi.</p>
<p>Lalu kami berbincang-bincang dengan dirinya yang selalu penuh canda tawa. Sedikit-sedikit tangannya bergerak luwes menceritakan silat aliran “<a href="http://silatindonesia.com/tag/gerak-rasa">Gerak Rasa Babeh Acul Slipi</a>” yang ia miliki.</p>
<p>“Kalau &#8220;GR&#8221; disini (maksudnya <a href="http://silatindonesia.com/tag/gerak-rasa">Gerak Rasa Babeh Acul Slipi</a>),  modelnye yang  ane mainin mainannya rapet dan serangannya ngikutin geraknya tergantung lawannya mau kemane memakai Rasa, terus kayak begitu tergantung lawannya mau kemane&#8230;”</p>
<p>“<em>Maenan ini silatnya bang Pi&#8217;i dulunya, bang Pi&#8217;i belajar dari Om Wid atau Raden Widarma, Bang pii juga dulu sebelumnya mainannya udah banyak</em>”<br />
<em>*mainan = silat</em></p>
<p>Kalau dilihat dari penjelasan babeh Acul mengenai permainan Gerak Rasa-nya, Pelatihan yang  dilatih sehingga muncul rasa dan reflek sehingga bisa dilakukan tanpa melihat lawan, karena mampu membaca pergerakan lawan, bukan dengan ilmu magis atau ghaib. ini karakteristik yang sangat berbahaya pada silat <a href="http://silatindonesia.com/tag/gerak-rasa">Gerak Rasa</a>, Gerakannya selalu “merangsek” masuk, tidak menunggu diserang, serangan tidak dilakukan dengan menghindar atau menangkis lebih dulu. Karena menurut beliau tidak efektif. Kata Beliau permainannya tidak pernah mundur kebelakang,  tapi “merangsek masuk”, sehingga dlm sekejap tangannya sudah ada menempel di area vital lawannya, leher mata dan lain lain.</p>
<p>“Semua silat sih bagus, tapi kita harus cinta sama mainan kite sendiri, ane sendiri sudah cinta sama ini mainan yang ane punya, kalau mainan satu aja ditekunin terus  dan dicintai pasti bagus”, katanya</p>
<p>“Rasa cinta dan hormat itu harus ada, sampai sekarang ane masih hormatin para petinggi-petinggi Gerak dan juga Kesepuhannya di Bogor”</p>
<p>“Dari Rasa Cinta itu ane kutrak-kutrik  Gerak  jadi deh mainan 9 jurus,walau sebenarnya ane dapat  5 gerak dasarnya”, lanjutnya</p>
<p>“Tapi bukan keluar dari pemahaman “Gerak” yang ane tahu lho?!?, itu hasil kecintaan ane sama “Gerak” yang ane punya”</p>
<p>Terlihat wajahnya yang mengharukan dari lelaki tua ini tiba-tiba mulai termenung menunduk seakan-akan  kegagahan beliau saat memainkan silat sebelumnya yang terlihat ganas, mulai sirna saat dia bilang “mencintai” silatnya, tanpa terasa matanya terlihat berkaca-kaca.</p>
<p>Karena waktu yang demikian sempit kamipun pamit kepada Babeh Acul untuk pulang.</p>
<p>Saat perjalanan pulang, Kamipun  masih termenung dari makna dalam kata-katanya bahwa kita harus belajar  “mencintai “.</p>
<p>“Seberapa banyakkah para penduduk di negeri ini yang mampu mencintai produk negerinya sendiri khususnya Silat sebagai salah satu ikon beladiri di Indonesia?”</p>
<p><a href="http://silatindonesia.com/tag/fp2sti">FP2STI</a> adalah <a href="http://silatindonesia.com/tag/fp2sti">Forum Pecinta dan Pelestari Silat Tradisional Indonesia</a>, yang mempunyai salah satu misi “Menumbuhkan kembali kecintaan dan pelestarian Silat Tradisional”.</p>
<p>Mencintai adalah satu proses, proses yang panjang, nyata dan memerlukan usaha dan istiqamah yang bukan sedikit, mungkin akan butuh sebuah pengorbanan. Sepanjang proses itu, pasti akan banyak dugaan yg silih berganti, untuk menguji kekuatan hati, pikiran  dan emosi bermain.</p>
<p>Jatuh cinta segalanya indah. Mencintai itu lebih payah, menjerihkan dan melelahkan. Namun Kita semua berharap bahwa semua itu pasti dapat diarungi karena kekuatan cinta itu menjadikan siapa saja mampu melalui apa saja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Alamat Pelatihan :</p>
<p>Kantor Pos Daerah Slipi</p>
<p>Sekitaran Jl. KS TUBUN IV Belakang Hotel Shantika</p>
<p>Telp. 021 96046828 (Babeh Acul)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2012/05/semua-silat-sih-bagus-tapi-kita-harus-cinta-sama-mainan-kita-sendiri-gerak-rasa-babeh-acul-slipi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aom Tur&#8217;at : Sang Perintis Pencak Silat di Tatar Galuh Ciamis</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2012/01/aom-turat-sang-perintis-pencak-silat-di-tatar-galuh-ciamis/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2012/01/aom-turat-sang-perintis-pencak-silat-di-tatar-galuh-ciamis/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jan 2012 20:44:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>repo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Silat]]></category>
		<category><![CDATA[Figure Pesilat]]></category>
		<category><![CDATA[Information]]></category>
		<category><![CDATA[Aom Tur'at]]></category>
		<category><![CDATA[Ciamis]]></category>
		<category><![CDATA[maenpo]]></category>
		<category><![CDATA[Tatar Galuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=1567</guid>
		<description><![CDATA[”Mama guru cumarios, ‘Naha lain kuring geus nyaritakeun pamaksudan ka anjeun’, sarta karuhun baheula ogé geus nyarita, yén éta para utusan anu satia satuhu seja unjukkan ka Gusti Alloh” RADEN AOM TUR&#8217;AT Salah satu aliran pencak silat (maénpo) yang asli dari Tatar Galuh Ciamis adalah Aliran AOM TUR’AT. Menurut tuturan dari para muridnya, AOM TUR’AT [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>”<em>Mama guru cumarios, ‘Naha lain kuring geus nyaritakeun pamaksudan ka anjeun’, sarta karuhun baheula ogé geus nyarita, yén éta para utusan anu satia satuhu seja unjukkan ka Gusti Alloh</em>”</p>
<p><a href="http://silatindonesia.com/tag/aom-turat/"><strong>RADEN AOM TUR&#8217;AT</strong></a><br />
Salah satu aliran pencak silat (<a href="http://silatindonesia.com/tag/maenpo">maénpo</a>) yang asli dari <a href="http://silatindonesia.com/tag/ciamis">Tatar Galuh Ciamis</a> adalah Aliran AOM TUR’AT. Menurut tuturan dari para muridnya, AOM TUR’AT berasal dari kota Bandung. Ia lahir pada tahun 1878, kemudian pada tahun 1935 ia berkelana ke Tatar Galuh Ciamis untuk menyebarkan seni bela diri tradisional yang diciptakannya. Pertama kali ia mengembangkan ajarannya di daerah Cijantung Ciamis, karena ia menikah dengan seorang gadis Cijantung. Namun beberapa tahun kemudian istrinya meninggal dunia.<br />
<span id="more-1567"></span><br />
Setahun setelah Indonesia Merdeka (1946), ia menikah lagi dengan seorang janda dari kampung Cikatomas Desa Handapherang Ciamis, yang bernama Nyi Arsitem (yang acapkali dipanggil Nyi Itong). Dari daerah Handapherang inilah, ia terus mengembangkan ajaran pencak silatnya, bahkan menyebar ke berbagai daerah, seperti daerah Cidewa Dewasari, Janggala Cidolog, Cimaragas, Karangampel Baregbeg, dan Ciparigi Sukadana Ciamis.</p>
<p>Pada waktu itu istilah pencak silat disebut dengan maénpo (maén usik nu tara méré témpo). AOM TUR’AT mengatakan bahwa pencak silat (maénpo) itu ada tiga pengertian, yakni 1) usik (gerakan), 2) karep (kemauan/niat yang kuat), 3) rasa (dorongan batin). Adapun gerakan jurus-jurus AOM TUR’AT merupakan gabungan dari berbagai guru yang telah teruji kemahirannya. Untuk mendapatkan kesempurnaan ilmunya, ia berguru ke sepuluh orang guru, yang salah satunya ia pernah belajar silat Cikalong ciptaan Juragan Haji Ibrahim atau Raden Djajaperbata. Dari kesepuluh guru yang ia pelajari, lalu diambil intisarinya yang telah ia uji kehebatan gerakannya, dan ia gabungkan menjadi gerakan silat tersendiri yang dinamakan Pencak Silat (Maénpo) Aliran AOM TUR’AT, yang terdiri dari :</p>
<ul>
<li>30 Gerakan Jurus Dasar</li>
<li>11 Gerakan Lapisan (Gerakan gabungan dari jurus dasar)</li>
<li>5 Gerakan Pecahan (Gerakan gabungan dari jurus dasar dan lapisan yang diiringi gerak langkah kaki/mecah)</li>
<li>Kaedah (Isi dari gerakan jurus dasar, lapisan dan pecahan)</li>
<li>Jurus Bedog (diambil dari gerakan pecahan)</li>
<li>Usik (gerak reflek)</li>
<li>Akal (gerak rasa).</li>
</ul>
<p>Selanjutnya dalam gerakan pencak silat ini mengandung gerakan néwak (menangkap, miceun (membuang); neunggeul (memukul); ngelés/nyingcet (menghindar), dan ngalumpuhkeun (melumpuhkan lawan). Ketiga bentuk gerakan tersebut secara filosofis berarti kita harus mampu menangkap nafsu jahat yang datang pada diri yang seterusnya harus segera dibuang, namun apabila nafsu terus berkobar maka harus dipatahkan dengan cara memukulnya, dan apabila membahayakan pada diri maka harus segera dilumpuhkan.</p>
<p>AOM TUR’AT terkenal sebagai orang yang taat menjalankan ajaran agama, dan dekat dengan guru-guru ngaji di madrasah. Sehingga setiap akan mengajarkan silat kepada murid-muridnya, ia selalu berpesan untuk tidak meninggalkan shalat wajib yang lima waktu dan mengajarkan agar senantiasa menjaga hubungan tali silaturrahim. Sehingga falsafahnya, ”Ngaliwatan silat sing ngetol sholat, jeung ulah pegat silaturrahim.” Dalam hal ini, jurus hanya boleh digunakan untuk menjaga diri bukan untuk menyombongkan diri.</p>
<p>Pada waktu itu, warna seragama yang dipakai untuk latihan, AOM TUR’AT menyarankan untuk memakai pakaian putih, dengan ikat pinggang berwarna kuning. Dari sini dapat kita pahami bahwa warna putih merupakan lambang kesucian dan kebersihan lahir batin, sedangkan warna kuning perlambang keagungan, kewibawaan dan persahabatan.</p>
<p><a href="http://silatindonesia.com/tag/aom-turat/">AOM TUR&#8217;AT</a> yang mahir juga berbahasa Belanda ini wafat pada jaman revolusi bertepatan dengan Agresi Militer Belanda ke II yang terjadi pada tahun 1949 dalam usia 71 tahun. Ketika wafatnya tidak seperti halnya kebanyakan orang pada umumnya, ia wafat secara tiba-tiba dan langsung lenyap (sunda: silem). Sehingga pada waktu itu, masyarakat pun tersentak kaget. Sebelum wafat ia memang mengalami sakit, namun sakitnya pun tidak seperti kita berbaring di tempat tidur. Ketika sakit, ia masih sempat jalan-jalan ke sana ke mari tanpa pakai baju, sehingga orang-orang pun keheranan sambil bergumam (ting kecewis). Maka sampai saat ini, kuburannya pun tidak ada yang tahu di mana sebenarnya dia meninggal, karena ia lenyap tanpa ada yang mengetahuinya.</p>
<p>Murid-murid <a href="http://silatindonesia.com/tag/aom-turat/">AOM TUR&#8217;AT</a> yang terkenal adalah:<br />
1) Wikatma (Bah Emo) dari Handapherang<br />
2) Fachrudin (ayahanda Empud Saepudin) dari Handapherang<br />
3) Abas Masduki dari Janggala<br />
4) Den Emod dari Cimaragas.</p>
<p>Adapun murid-muridnya yang lain di antaranya: H. Hasan (Mantan Kepala Desa Handapherang), Achmad Djalaludin (Kepala Desa Handapherang pada saat itu = Ayahanda Kang Hasbi), Ijazi (anak dari Ny Arsitem sebelum nikah dengan Aom Tur’at), Sasmita, Sukinta, Suwanta, Ahmad, H. Tahya, Tahyudin, Sayubi, Samsudin, Muchtar, Al Hapi, Atmaja, Jajuli, Ahyar, Lomri, Madrofi, Ojo, Wanta, Jae/Sasmita, Hambali, Sukaeri, Fahroji dan Djuhana.</p>
<p>AOM TUR&#8217;AT berpesan pada murid-muridnya dengan kalimat: ”Kudu hormat ka saluhureun, nyaah ka sahandapeun, deudeuh ka sasama”. Ini adalah bagian dari gerak rasa, karena itu beliau berkata, “rasa sajeroning rasa” (bagian rasa mesti diterima oleh rasa). Jangan malah sebaliknya, ”resep maledog kanu gedé, nalipak kanu leutik, resep pasea”. Sehingga jika ada yang sedang latihan pencak silat dalam kondisi penuh dengan nafsu amarah, beliau acap kali berkata, ”beu lapur” (tidak ada manfaatnya –belajar silat). Dalam hal ini ketika menghadapi lawan, kata beliau, kuncinya adalah: ”Ulah hayang menang, ulah sieun éléh, babakuna kedah teger, kumpulkeun dina manah; kantun nengetan usikna jalmi” (Jangan ingin menang, jangan takut kalah, tapi harus konsentrasi yang dipusatkan di hati, perhatikan gerak langkahnya orang lain).</p>
<p>Selain itu, dalam belajar usik (gerak jurus dengan rasa) harus memiliki tiga kontrol utama, yaitu :<br />
1. Kedah tiasa ngosongkeun émutan sareng minuhan émutan (gembleng kana hiji hal). Maksudnya kita harus mampu mengosongkan pikiran dan mengisinya pikiran itu untuk fokus pada satu hal/tujuan.<br />
2. Kedah bedas, hartosna bedas nyaéta sanés tanaga namung manah kedah teguh, kedah tiasa merangan nafsu anu awon. Artinya hati harus teguh, dan harus mampu memerangi hawa nafsu yang jelek.<br />
3. Kedah ikhlas, hartosna manah kedah suci, margi kedah tiasa ningali batin salira ku anjeun, sareng kedah nyaksi ku manah kana kaagungan Gusti anu Maha Suci. Maksudnya, harus ikhlas, dalam arti hati harus suci, sebab harus bisa melihat diri dengan batin kita sendiri, serta harus meyakini akan keagungan Allah Yang Maha Suci.</p>
<p>Dalam masalah peralatan pencak silat pun memiliki makna tersendiri, yakni :<br />
a. Kendang indung, artinya bahwa fungsi sang bunda (indung) merupakan wujud yang mesti menjadi patokan yang dapat menuntut jalan hidup kita (nu nungtun jalan hirup urang saréréa) dalam menjalankan derap langkah kehidupan.<br />
b. Kendang anak, artinya anak mesti tunduk kepada tuntunan ibundanya (indung).<br />
c. Kuluwung (kula suwung) jeung kulitna, artinya bahwa diri kita sudah semestinya banyak diingatkan oleh diri kita sendiri sebelum diingatkan oleh orang lain.<br />
d. Sora Goong (gung&#8230; gung… gung&#8230;), artinya dalam setiap langkah kita senantiasa menyuarakan pujian kepada Allah Yang Maha Agung.<br />
e. Sora Tarompet, artinya ajakan untuk senantiasa serempak untuk giat bekerja (ngehempak-hempak nitah prak gawé).</p>
<p>Sebagai kata penutup, sudah semestinya siapa saja yang akan mempelajari gerakan pencak silat aliran AOM TUR’AT memahami 11 (sebelas) hal, sebagaimana amanat dari penggagasnya, yakni:<br />
1. Kedah ngabdi ka Alloh<br />
2. Hidmah ka Ibu rama<br />
3. Ta’at ka pamaréntah salagi aya dina jalan bener<br />
4. Ta’at kana kawajiban diajar<br />
5. Sopan santun<br />
6. Silih ma’afkeun<br />
7. Silih wasiatan dina jalan kasaéan<br />
8. Silih tulungan<br />
9. Ngaberesihkeun laku tina mipit teu amit ngala teu ménta<br />
10. Ngaberesihkeun tékad<br />
11. Jihadun-nafsi (ngendalikeun nafsu).</p>
<p>Mari kita lestarikan pencak silat di Tatar Sunda yang mengandung nilai-nilai spiritual dan budaya luhur. Melalui khazanah budaya luhur pencak silat itu sendiri, maka akan terwujud hakikat dan tingkatan tertinggi ilmu silat yakni silaturrahim.</p>
<p>Salam silaturrahim ka sadayana!</p>
<p>sumber:<a href="http://www.facebook.com/groups/silattradisional/permalink/419889904980/">facebook group silat tradisional</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<h6 class="uiStreamMessage" data-ft="{&quot;type&quot;:1}"></h6>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2012/01/aom-turat-sang-perintis-pencak-silat-di-tatar-galuh-ciamis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Silat Sebagai Ekstrakurikuler Sekolah</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2011/03/silat-sebagai-ekstrakurikuler-sekolah/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2011/03/silat-sebagai-ekstrakurikuler-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Mar 2011 14:12:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>repo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Silat]]></category>
		<category><![CDATA[Figure Pesilat]]></category>
		<category><![CDATA[bang ali]]></category>
		<category><![CDATA[beksi]]></category>
		<category><![CDATA[ekstrakulikuler]]></category>
		<category><![CDATA[kampung silat jampang]]></category>
		<category><![CDATA[ksj]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=1140</guid>
		<description><![CDATA[Siapa bilang silat sulit masuk sekolahan. Silat adlah jenis latihan yang digemari pihak sekolah karena akan mendukung sekolah dan guru mendapatan karakter anak didik yang santun, lemah lembut, disiplin, berprestasi dan sehat. Latihan silat sebagai sebuah kegiatan ekstrakurikuler sekolah yang resmi dapat dikembangkan dengan menampilkan pelatihan silat yg metodis dan dengan merubah kurikulum asli menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="shutterset_" href="http://silatindonesia.com/id/wp-content/gallery/artikel/20110327-bang-ali.jpg"><img class="ngg-singlepic ngg-left" src="http://silatindonesia.com/id/wp-content/gallery/artikel/thumbs/thumbs_20110327-bang-ali.jpg" alt="bang ali  beksi" /></a>Siapa bilang silat sulit masuk sekolahan. <a href="http://silatindonesia.com/tag/silat">Silat</a> adlah jenis latihan yang  digemari pihak sekolah karena akan mendukung sekolah dan guru  mendapatan karakter anak didik yang santun, lemah lembut, disiplin,  berprestasi dan sehat.<br />
<span id="more-1140"></span><br />
Latihan silat sebagai sebuah kegiatan <a title="ekstrakulikuler" href="http://silatindonesia.com/tag/ekstrakulikuler"> ekstrakurikuler</a> sekolah yang resmi dapat dikembangkan dengan menampilkan  pelatihan silat yg metodis dan dengan merubah kurikulum asli menjadi  kurikulum khushs anak didik.</p>
<p>Biasanya sekolah akan lebih senang  jika muridnya mendapat prestasi silat, oleh sebab itu perguruan dapat  mengembangkan bebagai model <a title="festival silat" href="http://silatindonesia.com/tag/festival">festival</a> agar murud murid dapat menujukkan  hasil belajarnya.</p>
<p><strong>sumber: <a title="Kampung Silat Jampang" href="http://kampoengsilat.blogspot.com/2011/03/silat-sebagai-ekstrakurikuler-sekolah.html">Kampung Silat Jampang</a></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2011/03/silat-sebagai-ekstrakurikuler-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gus Mus seorang Kiyai dan Pendekar</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2010/06/gus-mus-seorang-kiyai-dan-pendekar/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2010/06/gus-mus-seorang-kiyai-dan-pendekar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jun 2010 07:16:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cover Story]]></category>
		<category><![CDATA[Figure Pesilat]]></category>
		<category><![CDATA[gus kholil]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Mus]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Mus seorang Kiyai dan Pendekar]]></category>
		<category><![CDATA[kediri]]></category>
		<category><![CDATA[Kiai]]></category>
		<category><![CDATA[krapyak]]></category>
		<category><![CDATA[lirboyo]]></category>
		<category><![CDATA[Pendekar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=622</guid>
		<description><![CDATA[Nama beliau, Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), beliau kini pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibin, Rembang.  Mantan Rais PBNU ini dilahirkan di Rembang, 10 Agustus 1944. Nyantri di berbagai pesantren seperti Pesantren Lirboyo Kediri di bawah asuhan KH Marzuqi dan KH Mahrus Ali; Al Munawwar Krapyak Yogyakarta di bawah asuhan KH Ali Ma&#8217;shum dan KH Abdul [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="shutterset_" href="http://silatindonesia.com/id/wp-content/gallery/person/gusmus.jpg"><img class="ngg-singlepic ngg-left" src="http://silatindonesia.com/id/wp-content/gallery/person/thumbs/thumbs_gusmus.jpg" alt="gusmus" /></a>Nama beliau, Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), beliau kini pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibin, Rembang.  Mantan Rais PBNU ini dilahirkan di Rembang, 10 Agustus 1944. Nyantri di berbagai pesantren seperti Pesantren Lirboyo Kediri di bawah asuhan KH Marzuqi dan KH Mahrus Ali; Al Munawwar Krapyak Yogyakarta di bawah asuhan KH Ali Ma&#8217;shum dan KH Abdul Qadir; dan Universitas Al Azhar Cairo di samping di pesantren milik ayahnya sendiri, KH Bisri Mustofa, Raudlatuth Thalibin Rembang.</p>
<p>Menikah dengan St. Fatma, dikaruniai 6 (enam) orang anak perempuan : Ienas Tsuroiya, Kutsar Uzmut, Raudloh Quds, Rabiatul Bisriyah, Nada dan Almas serta seorang anak laki-laki: Muhammad Bisri Mustofa.  Kini beliau telah memiliki 5 (lima) orang menantu: Ulil Abshar Abdalla, Reza Shafi Habibi,  Ahmad Sampton, Wahyu Salvana, dan Fadel Irawan serta 7 (tujuh) orang cucu: Ektada Bennabi Muhammad; Ektada Bilhadi Muhammad; Muhammad Ravi Hamadah, Muhammad Raqie Haidarah Habibi; Muhammad Najie Ukasyah, Ahmad Naqie Usamah; dan Samih Wahyu Maulana.</p>
<p><span id="more-622"></span></p>
<p>Selain sebagai ulama dan Rais Syuriah PBNU, Gus Mus juga dikenal sebagai budayawan,Pelukis, Pujangga dan penulis produktif.</p>
<p>Tapi adakah yang tahu bahwa beliau adalah seorang <strong>Pendekar</strong> yang mencintai silat sebagai khasanah budayanya sendiri?</p>
<p>Ini kisah lucu tentang beliau (Gus Mus) dan kakaknya, Gus Kholil yang ditulis oleh Gus Yahya Cholil Staquf dalam notesnya :</p>
<p>Sebelum mondok di Krapyak, Yogya, Gus Mus dan Gus Kholil muda sempat mondok di Lirboyo, Kediri. Pada waktu itu Lirboyo terkenal gudangnya ilmu hikmah dan kanuragan. Maka dua santri kakak-beradik ini pun tak ketinggalan, getol <em>mesu diri</em>, tirakat, menekuni gemblengan untuk mempelajari berbagai ilmu kejadugan.</p>
<p>Sampailah akhirnya kesempatan pulang kampung di waktu liburan. Sebagai orang-orang<em> &#8220;dhugdheng alu gembreng&#8221;</em>, dua bersaudara ini pulang ke Rembang dengan bersengaja mengenakan pakaian dan perhiasan yang menegaskan kejadugan mereka:</p>
<ol>
<li>Rambut gondrong sampai ke punggung pertanda tak mempan dicukur</li>
<li>Baju kutung dan celana komprang sebatas dengkul, semua serba hitam, khas pendekar</li>
<li>Ikat kepala batik dan terompah kayu yang tebalnya hampir sehasta yang mungkin mereka kira mirip kepunyaan Sunan Kalijaga; dan lain-lain.</li>
</ol>
<p>Sepanjang perjalanan, mereka benar-benar bergaya super-pendekar yang membuat jerih siapa pun disekitarnya. Memandang langsung kepada mereka pun orang tak berani, takut dikira nantang.</p>
<p>Tak dinyana, begitu sampai di rumah, Mbah Bisri, ayahanda mereka marah besar!<br />
Segala pakaian dan perhiasan kependekaran mereka dilucuti dan dibakar. Karena tak ada yang mampu mencukur rambut mereka —benar-benar jadug rupanya, Mbah Bisri sendiri yang turun tangan membabat habis rambut mereka. Pendek kata mereka divonis harus berhenti main jadug-jadugan!</p>
<p><img title="mbahkangkung" src="http://silatindonesia.com/id/wp-content/uploads/mbahkangkung.jpg" alt="" /></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kenapa Mbah Bisri melakukan semua itu<br />
<strong>&#8220;AKU SAJA CUMA KIYAI KOK KALIAN MAU JADI WALI!&#8221;</strong></p>
<p>Kakak-beradik itu akhirnya dipindahkan mondoknya ke Krapyak, Yogya.</p>
<p>-sumber : GusMusdotNet, Gus Yahya Cholil Staquf</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2010/06/gus-mus-seorang-kiyai-dan-pendekar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekilas Abah Andadinata &#8211; Margaluyu</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2009/09/sekilas-abah-andadinata-margaluyu/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2009/09/sekilas-abah-andadinata-margaluyu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Sep 2009 03:32:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Figure Pesilat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=368</guid>
		<description><![CDATA[Sekilas tentang sejarah Abah Andadinata. Beliau dilahirkan didesa kecil Ranca Bayawak disebelah selatan kota Majalaya kira-kira 30 km dari kota Bandung. Sejak usia muda beliau berkelana ke seantero Jawa Barat untuk belajar silat dan spritual. Mimpi yang ada didalam dirinya adalah bercita-cita menjadi sosok yang bisa menyumbangkan pengetahuannya kepada orang lain. Dengan tekad yang kuat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span>Sekilas tentang sejarah Abah Andadinata.</p>
<p>Beliau dilahirkan didesa kecil Ranca Bayawak disebelah selatan kota Majalaya kira-kira 30 km dari kota Bandung. Sejak usia muda beliau berkelana ke seantero Jawa Barat untuk belajar silat dan spritual.</p>
<p>Mimpi yang ada didalam dirinya adalah bercita-cita menjadi sosok yang bisa menyumbangkan pengetahuannya kepada orang lain. Dengan tekad yang kuat tanpa mengenal, akhirnya Allah SWT mewujudkan mimpinya menjadi kenyataan. Beliau menjadi seorang yang memiliki keterampilan silat luar dalam yang sangat tangguh.</p>
<p>Disisi lain beliau memiliki kepribadian yang prima berkat ketekunananya menjalankan syariat agama. Sehingga Abah Andadinata hingga saat ini dikenal sebagai pribadi yang keteladananya bisa menjadi contoh.</p>
<p>Pada awalnya beliau mendirikan gerak badan pencak Margaluyu pada dekade tahun 1920an, tetapi baru ditahun 1930 Margaluyu dikenal pada kalangan yang sangat terbatas. Mengingat kondisi pada saat itu adalah bukan saat yang tepat, mengingat Indonesia masih berada dalam era penjajahan yang tentunya bukanlah hal yang mudah untuk melatih beladiri secara terbuka.</p>
<p>Margaluyu mulai dikenal sejak abah Andadinata berhasil mengamankan daerah Cicalengka tepatnya desa Cikuya dari gangguan gerombolan sekitar tahun 1946. Oleh karena itu lurah desa Cikuya pada waktu itu bapak Ibrahim meminta beliau menetap di desa Cikuya untuk melatih sport (olah raga) Margaluyu-pusat kepada warga desa.</p>
<p>Dengan dibantu oleh Mang Ulis, Mang Andi Rohandi, Mang Suwandi dan Mang Uwen warga desa berlatih Gerak Badan Margaluyu. Dan baru pada tahun 1948 secara resmi Gerak Badan Penca Margaluyu-pusat didaftarkan ke PPSI dan Departemen Pendidikan &amp; Kebudayaan</p>
<p>Sumber : Anggota Margaluyu<br />
Di Publish untuk Silatindonesia.com</p>
<p><strong>www.silatindonesia.com</strong><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2009/09/sekilas-abah-andadinata-margaluyu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dewi Yanti Kosasih,mantan pesilat putri Jawa Barat</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2009/08/dewi-yanti-kosasihmantan-pesilat-putri-jawa-barat/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2009/08/dewi-yanti-kosasihmantan-pesilat-putri-jawa-barat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Aug 2009 03:12:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Figure Pesilat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=270</guid>
		<description><![CDATA[UNTUK ukuran atlet, tubuh Dewi terbilang mungil. Tingginya hanya 154 cm. Jika berhadapan dengan lawan yang bertubuh tinggi besar, tendangan yang masuk ke tubuhnya sangat berarti. Patah tulang di sekujur tubuhnya tak pernah menjadi alasan Dewi menghentikan langkah. Jika sekadar jempol patah atau kaki bonyok, Dewi pantang berhenti bertarung. Kalaupun berhenti biasanya karena pertandingan dihentikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span>UNTUK ukuran atlet, tubuh Dewi terbilang mungil. Tingginya hanya 154 cm. Jika berhadapan dengan lawan yang bertubuh tinggi besar, tendangan yang masuk ke tubuhnya sangat berarti. Patah tulang di sekujur tubuhnya tak pernah menjadi alasan Dewi menghentikan langkah. Jika sekadar jempol patah atau kaki bonyok, Dewi pantang berhenti bertarung. Kalaupun berhenti biasanya karena pertandingan dihentikan wasit .</p>
<p>Biar lawan jauh lebih besar, badan sakit-sakit kena tendang, masa bodoh! Saya harus menang. Pulang harus bawa medali, Begitu selalu tekad Dewi Yanti Kosasih (40), mantan pesilat putri Jawa Barat.</p>
<p>Pada masa jayanya, ia sering mengharumkan dunia persilatan Jawa Barat hingga ke tingkat dunia. Medali yang pernah dibawanya pulang antara lain dari Kejuaraan Dunia Kuala lumpur 1989, Kejuaraan Dunia Belanda 1991, SEA Games Singapura 1993, dan Thailand Open 1992. Belum masuk hitungan puluhan medali yang disambarnya di arena PON (Pekan Olahraga Nasional) atau Porda (Pekan Olahraga Daerah).</p>
<p>Dia tuh memang obsesif. Kalau belum dapet sesuai target, belum berhenti, tambah suaminya, Dani Wisnu (42), juga pesilat tingkat dunia yang kini menjadi pelatih di pelatnas sebagai persiapan Indonesia Bangkit 2005</p>
<p>Perempuan tomboy yang suka berbicara ceplas-ceplos ini mengaku karena obsesifnya mengejar target itulah ia bisa menjadi pesilat tangguh. Saya baru mengenal silat ketika usia 20 tahun. Sayalah yang tertua di antara teman-teman seangkatan di Perguruan Tajimalela. Tetapi saya bertekad, harus bisa menjadi juara seperti senior-senior saya, ceritanya.</p>
<p>Tak ada kata terlambat bagi Dewi. Pada usia 21 tahun, saat teman-teman sebayanya sudah merasakan pertarungan yang sesungguhnya di berbagai even, Dewi baru menapakkan kakinya.</p>
<p>Keinginannya berprestasi terpengaruh dari kegemarannya membaca buku biografi orang-orang terkenal. Semula ia sendiri tak tahu harus berprestasi di bidang apa. Sampai suatu ketika Dewi yang juga aktivis masjid di dekat rumah orang tuanya dahulu, wilayah Sekelimus Bandung, berjalan melintasi perguruan silat Tajimalela. Tak banyak berpikir, Dewi menghentikan langkahnya dan langsung mendaftarkan diri. Semula ayahnya, Achmad Kosasih, mantan penjaga gawang Persib menentang keinginan putrinya masuk perguruan silat.</p>
<p>Ayah takut, saya terbawa pergaulan tidak benar. Beliau bilang itu sih tempatnya &#8216;jawara wungkul&#8217;. Masa itu silat memang identik dengan kalangan masyarakat bawah, ujar Dewi.</p>
<p>Tetapi Dewi tidak terseret arus. Seiring berjalannya waktu silat bahkan membuktikan bisa mengharumkan Indonesia di mata dunia. Dewi pun bertekad ambisi dan obsesinya tidak boleh sebatas benak alias hanya angan-angan. Semua harus diiringi tindakan nyata. Saat pertama masuk perguruan silat Tajimalela, ia langsung menetapkan target demi target. Mula-mula saya incar seorang pesilat putri, saya harus menang melawan dia. Begitulah seterusnya. Setiap saya mengincar seorang calon lawan, saya selalu memiliki target untuk menang. Untuk dapat menang saya tidak dapat bersantai-santai. Saya latihan lebih keras dari yang lainnya, ceritanya.</p>
<p>Jika pesilat lainnya berlatih hanya seminggu 2 atau 3 kali, Dewi mendisiplinkan dirinya untuk berlatih setiap hari! Paling siang saya pulang ke rumah jam 8 malam, seringnya jam 11 malam, imbuhnya. Ia tidak hanya berkutat di unit latihan (unlat)-nya sendiri. Ia juga rajin jalan-jalan dan mencoba berbagai unlat-unlat lainnya.</p>
<p>Selain itu ia juga mendapat genjotan fisik dari ayahnya. Setelah tahu saya tak main-main di dunia silat, ayah saya mendukung bahkan melatih fisik saya.</p>
<p>Kendati telah mempersiapkan diri sebaik mungkin, jalan tak selalu mulus di hadapannya. Dewi baru bisa tembus mewakili Indonesia ke arena SEA Games pada tahun 1993 setelah sebelumnya tiga kali gagal menembus arena bergengsi ini. Untuk berbagai prestasinya Dewi dianugerahi Presiden Soeharto penghargaan berupa Parama Krida Pratama, penghargaan pemerintahan bagi warga negara berprestasi.</p>
<p>Sayang, masa keemasan bangsa Indonesia di dunia silat saat ini mulai suram. Ketika Dewi dan Dani masih malang melintang di dunia silat, dunia persilatan Indonesia dengan kokoh bertengger di puncak kejayaannya. Indonesia selalu nomor satu. Kini posisi Indonesia menjadi yang ketiga setelah Vietnam dan Malaysia.</p>
<p>Menurut Dewi dan Dani, kemerosotan prestasi ini lebih kepada soal mentalitas anak bangsa. Saat ini Dani mengaku sulit menemukan bibit pesilat yang berkarakter.</p>
<p>Gaya hidup remaja sekarang juga sangat berpengaruh pada prestasi silat kita. Anak-anak sekarang kalau disuruh berlatih silat, ya hanya sesuai jadwal pengurus saja. Di luar itu mereka tak mau mencari tambahan, tambah Dewi.</p>
<p>Diakui Dewi, saat masih menjadi atlet ia juga merasakan masa-masa manisnya remaja berpacaran. Saya pacaran dengan Dani, dan banyak lagi pesilat pacaran dengan pesilat. Tetapi itu tak memengaruhi prestasi kami. Saatnya serius, kami serius, cerita Dewi.</p>
<p>Mungkin soal fasilitas juga ada pengaruhnya. Dibandingkan Vietnam yang kini membina 50.000 atlet silat secara serius dengan dana yang luar biasa, kita Indonesia sulit menandinginya. Jelas Dani yang juga pengurus Pengda IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia) Jawa Barat.</p>
<p>Soal fasilitas, menurut Dewi, jauh lebih baik pesilat sekarang. Dulu kami prihatin sekali. Sampai-sampai mau bertanding saja kita hanya mampu makan kangkung dan ikan asin. Padahal sebagai atlet kita memerlukan nutrisi yang baik, kenang Dewi.</p>
<p>Sebagai cabang olah raga yang berakar asli Indonesia, silat memang tak mungkin menunggu uluran tangan negara induk olah raga, seperti Taekwondo yang di-support oleh Korea atau Karate dan Kendo oleh negara asalnya Jepang.</p>
<p>Tetapi cabang silat kini juga lumayan terbantu dengan masuknya Pak Rachmat Gobel dari Panasonic sebagai salah seorang pengurus IPSI. Saya berharap pemerintah juga mau bahu- membahu memajukan kembali olah raga ini, harap Dani.</p>
<p>**</p>
<p>SECARA pribadi, silat juga sudah membuahkan hasil yang manis bagi keluarga pesilat ini. Yang jelas, dapet jodoh juga dari silat he..he..he, kata Dewi.</p>
<p>Dani adalah seniornya di Tajimalela. Dia itu dulu uwak guru. Yang jadi guru saya sebenarnya adiknya Kang Dani, kenang Dewi.</p>
<p>Baik Dani dan Dewi memperoleh pekerjaannya di pemerintahan Kota Bandung dan Kabupaten Bandung ini karena prestasi mereka juga. Anak sulung mereka, Ahmad Yusuf Ferdian, menjadi mahasiswa UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) Jurusan Pelatihan karena prestasinya di dunia silat juga. Pada Porda 2003 di Indramayu, Yusuf berhasil menggaet medali perak untuk Kabupaten Bandung. Lucunya, saat itu Yusuf harus bersaing dengan ibunya yang mewakili Kota Bandung dalam memperebutkan medali bagi perwakilan kota masing-masing. Saat itu Dewi masih mampu menggaet medali emas.</p>
<p>Karena sama-sama pesilat, pasangan ini selalu nyambung. Untuk bertanding membela negara, kita juga sering pergi bareng ke luar negeri. Tapi penginapan sih masing-masing sesuai aturan untuk atlet putra dan putri lo, kata Dewi.</p>
<p>Walaupun tahun ini ia mulai pensiun sebagai atlet, bukan berarti Dewi meninggalkan dunia yang telah dikecap asam manisnya ini. Di rumahnya yang berhalaman luas, ia mendirikan unlat silat untuk regenerasi pesilat-pesilat Indonesia. Tercatat 30 anak dan remaja di bawah bimbingannya, termasuk anak bungsunya Hanifan Yudani Kusumah , yang baru duduk di bangku kelas 1 SD.</p>
<p>Kami tak pernah menyuruh anak untuk mengikuti jejak saya dan ayahnya. Mungkin karena lingkungannya silat semua, ia jadi sangat tertarik, kata Dewi</p>
<p>Sebagai balas budi pada dunia yang telah membesarkannya, Dewi berobsesi ingin menjadi pelatih silat yang bagus. Namun kesempatan itu belum ada, katanya. Maksudnya, kesempatan melatih dalam skala lebih besar selain di unlat.***</p>
<p>Uci Anwar<br />
www.pikiran-rakyat.com</p>
<p><strong>www.silatindonesia.com</strong></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2009/08/dewi-yanti-kosasihmantan-pesilat-putri-jawa-barat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagus Made Rai Keplag</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2009/08/bagus-made-rai-keplag/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2009/08/bagus-made-rai-keplag/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Aug 2009 02:49:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Figure Pesilat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/2009/08/bagus-made-rai-keplag/</guid>
		<description><![CDATA[Nama lengkapnya adalah Bagus Made Rai Keplag; tetapi di kalangan masyarakat luas almarhum dikenal dengan sebutan Bagus Aji Keplag. Almarhum dilahirkan pada tahun 1915 di Br. Tampakgangsul, Denpasar. Pada tahun 1932 beliau mulai berlatih seni pencak silat dan dapat dikatakan setengah abad kehidupannya dicurahkan kepada olah raga seni pencak silat itu. Pada masa mudanya Bagus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span>Nama lengkapnya adalah Bagus Made Rai Keplag; tetapi di kalangan masyarakat luas almarhum dikenal dengan sebutan Bagus Aji Keplag. Almarhum dilahirkan pada tahun 1915 di Br. Tampakgangsul, Denpasar.</p>
<p>Pada tahun 1932 beliau mulai berlatih seni pencak silat dan dapat dikatakan setengah abad kehidupannya dicurahkan kepada olah raga seni pencak silat itu.</p>
<p>Pada masa mudanya Bagus Rai Keplag mendapat didikan olah raga bela diri pencak silat dari Ida Bagus Tantera (alm) dan Pak Jayadi (Bang Jedi; alm).</p>
<p>Setelah menamatkan pelajarannya ia berkelana mengelilingi Pulau Bali dari satu daerah ke daerah lainnya untuk lebih memperdalam dan menambah pengalamannya di dalam seni pencak silat.</p>
<p>Pada tahun 1940 s.d. 1949 ia ikut aktif secara langsung dalam perjuangan kemerdekaan dan revolusi fisik. Sekitar tahun 1945 ia secara sembunyi-sembunyi memberikan pelajaran pencak silat kepada para pemuda di samping mengumpulkan dana untuk para pejuang.</p>
<p>Ia tidak berani terang-terangan sebab kalau sampai diketahui oleh Belanda pastilah akan ditangkap dan dihukum berat.</p>
<p>Anak Agung Rai Tokir, Bang Alim, dan I Gusti Ketut Adi Ndang (semuanya almarhum) adalah teman-teman latihan terdekat almarhum.</p>
<p>Setelah Indonesia merdeka, di Bali terdapat tidak kurang dari dua puluh jenis aliran seni pencak silat dengan berbagai nama. Pada tahun 1953 di dalam suatu rapat di Tonja, Denpasar kedua puluh aliran ini mempersatukan diri dengan nama BAKTI, yaitu singkatan dari Bawa Aksara Tunggal Ika. Yang menjadi ketua BAKTI pada waktu itu adalah Cokorde Bagus Sayoga, Anak Agung Rai Tokir dan Bagus Rai Keplag.</p>
<p>Ketika terjadi gejolak Pemilihan Umum tahun 1955 di Bali, tiap-tiap aliran pencak silat membentuk pengurusnya sendiri-sendiri. Anak Agung Rai Tokir dan Bagus Made Rai Keplag menjadi pengurus Bhakti Negara dengan harapan seluruh anggotanya kelak tetap berbakti kepada negara, nusa, dan bangsa.<br />
Jenis Karya Seni : Seni Pencak Silat</p>
<p>Alamat  : Br.Tampakgangsul, Denpasar<br />
Kabupaten/Kota  : Denpasar</p>
<p><strong>www.silatindonesia.com</strong><br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2009/08/bagus-made-rai-keplag/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inyiak Upiak Palatiang, Semangat Tradisi Minang</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2009/08/inyiak-upiak-palatiang-semangat-tradisi-minang/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2009/08/inyiak-upiak-palatiang-semangat-tradisi-minang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Aug 2009 09:03:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Figure Pesilat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=224</guid>
		<description><![CDATA[Jumat, 09 Januari 2004 Inyiak Upiak Palatiang, Semangat Tradisi Minang DINGIN membalut Kota Bukittinggi. Jam Gadang di depan Istana Bung Hatta menunjukkan pukul 23.30. Minggu, 14 Desember 2003, itu berlangsung pertemuan bersejarah, diprakarsai Perhimpunan Aliran Silat Tradisional (Pasti) Minangkabau. Untuk pertama kalinya 79 orang pandeka (guru besar) silek tuo (silat tua) dari berbagai aliran bersilaturahmi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="smalltype">Jumat, 09 Januari 2004</p>
<p><strong>Inyiak Upiak Palatiang, Semangat Tradisi Minang<br />
</strong><br />
DINGIN membalut Kota Bukittinggi. Jam Gadang di depan Istana Bung Hatta menunjukkan pukul 23.30. Minggu, 14 Desember 2003, itu berlangsung pertemuan bersejarah, diprakarsai Perhimpunan Aliran Silat Tradisional (Pasti) Minangkabau. Untuk pertama kalinya 79 orang pandeka (guru besar) silek tuo (silat tua) dari berbagai aliran bersilaturahmi dan unjuk kebolehan. Mereka semua berusia 70 tahun ke atas.</p>
<p>Yang mengejutkan sekitar 200 hadirin adalah munculnya perempuan pandeka satu-satunya, yang dalam usia 104 tahun masih tetap berkesenian, melestarikan, dan mewariskan silat tradisi Minang. Namanya Inyiak Upiak Palatiang atau disapa Inyiak. Ia tampil bersama anak dan cucunya.</p>
<p>Di hadapan para pejabat dan Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), Inyiak menampilkan silat tua Gunuang. Gerakannya lincah, sorot matanya tajam dan waspada. Ia menghalau serangan dengan elakan (gelek) dan tangkisan (tangkih). Ketika tangan lawan mengarah ke dadanya, dengan secepat kilat ia tangkap dan memelintirnya dengan satu gerakan mengunci. Inyiak memberi hormat, permainan usai. Tepuk tangan riuh, pertanda salut dan kagum.</p>
<p>Kecepatan dan ketangkasan gerak silat Inyiak sepertinya menyaksikan perempuan berusia 30-40 tahun. Padahal Inyiak telah berusia 104 tahun. Luar biasa dan mengagumkan, kata H Indra Catri, pengamat seni tradisi dan Kepala Dinas Informasi dan Komunikasi Kota Padang.</p>
<p>TIDAK sulit mencari Inyiak di kediamannya di Dusun Kubugadang, Kecamatan Batipuah, Nagari IV Koto, Kabupaten Tanah Datar. Semua orang tahu.</p>
<p>Pagi itu Inyiak tengah beristirahat sembari menikmati rokok keretek setelah membersihkan halaman rumahnya. Duduk lesehan, Inyiak bercerita dengan penuh semangat, sesekali mencontohkan gerakan silat dengan jurus-jurus unggulannya, baik dalam posisi berdiri maupun dalam posisi rebah di lantai.</p>
<p>Inyiak masih melakukan pekerjaan sehari-hari di rumah, bahkan ke sawah, menyiangi padi. Ingatan, pendengaran, dan penglihatannya ternyata masih normal dan tajam.</p>
<p>Inyiak mengatakan, silat merupakan salah satu jenis tradisi Minang yang banyak diminati masyarakat. Silat di lahirnya mencari kawan, sedang di batinnya mencari Tuhan. Maksudnya, silat adalah ajang untuk silaturahmi, memperkokoh persaudaraan dan persatuan. Dari mana saja mereka berasal, kalau sudah menyebut nama sang guru, berarti mereka bersaudara. Karena itu, amat jarang ada perkelahian antarkampung, antardaerah.</p>
<p>Mencari Tuhan, maksudnya, bagaimana mendekatkan diri kepada-Nya. Menyadarkan orang yang berniat jahat sekaligus menyadarkan kita sendiri. Makanya, dalam prosesi bersilat, turun ke gelanggang, berdoa kepada Tuhan dan keselamatan atas Nabi menjadi yang utama. Murid yang ingin menuntut ilmu silat pun harus memenuhi persyaratan, misalnya mempunyai niat dan hati bersih, tidak untuk gagah-gagahan. Perlu diingat, silat bukan untuk membunuh orang, tapi membunuh sifat-sifat buruk seseorang, seperti busuk hati, dengki, buruk sangka, sok jagoan, dan sebagainya. Pada akhirnya murid silat akan dekat kepada Tuhan, katanya menjelaskan.</p>
<p>Sebagai ilmu bela diri, silat tak kalah hebat dari ilmu bela diri lainnya. Silat itu ilmu Tuhan. Ia runcing tapi tidak menusuk, ia tajam tapi tak menyayat. Begitu salah satu filosofinya.</p>
<p>Menurut Inyiak, keunggulan silat tradisi Minang itu di gelek, semacam gerak refleks yang bagaikan kilat. Pada saat lawan mau menghunjamkan pisaunya, misalnya, tendangan atau gerakan tangan kita sudah bersarang di titik-titik vital di tangan lawan sehingga senjata tajam terlepas.</p>
<p>Apa pun jenis senjata, termasuk peluru yang ditembakkan, bukan hal aneh dalam silat tradisi Minang. Secepat peluru melesat, lebih cepat lagi tangan menangkap peluru tersebut. Seseorang yang mendalami ilmu silat bisa jatuh bak kapas atau hinggap di daun seperti kapas, papar Inyiak.</p>
<p>Didampingi anaknya kemudian, Mawardi (58) dan Zulfachri (42) alias Uncu, Inyiak mengiyakan apa yang dijelaskan anaknya itu. Aliran silat tua di Minang cukup banyak, puluhan. Salah satunya, yang kini diajarkan dan diwarisi Inyiak, adalah silat Gunung (Marapi), kata Uncu.</p>
<p>INYIAK Upiak Palatiang tidak hanya seorang perempuan pendekar satu-satunya yang masih hidup dan masih tetap bersilat, tetapi juga seniman yang telah menciptakan ratusan syair/lagu dendang saluang dan pantun-pantun pertunjukan randai. Bahkan, ia juga seorang pendendang terkenal.</p>
<p>Inyiak telah menciptakan ratusan syair/lagu dendang saluang dan pantun-pantun untuk randai, yang sampai kini karya-karyanya masih dikagumi orang. Inyiak juga seorang pendendang terkenal dan mempunyai karisma. Pitunang (daya pikat, bagai magnet) suaranya mengagumkan, kata Musra Darizal Rajo Mangkuto (56), seniman tradisi Minang dan murid Inyiak.</p>
<p>Lagu/syair dendang ciptaan Inyiak yang terkenal antara lain Singgalang Kubu Diateh, Singgalang Gunuang Gabalo Itiak, Singgalang Ratok Sabu, Singgalang Layah, Singgalang Kariang, Singgalang Alai, Indang Batipuah, dan Parambahan Batusangka.</p>
<p>Menurut Musra, atau lebih dikenal Dakatik, lagu terakhir yang sempat ia pelajari dari Inyiak adalah Singgalang Gubalo Itiak. Syairnya begini: Urang Gunuang gubalo itiak/ Hari sadang pukua duo/ Kalau rancak usah diambiak/ Nantikan rila dek nan punyo//. Syair ini bercerita tentang seorang perempuan cantik, yang membuat banyak pemuda tergila-gila. Namun, meski ia cantik, tak usah diambil (digaet), tanpa seizin yang punya (pacar atau suaminya). Pesan yang hendak disampaikan adalah hidup ini harus berjelas-jelas.</p>
<p>Yang khas dari syair-syair ciptaan Inyiak adalah ia suka lagu-lagu ratok (ratap) atau lagu-lagu rusuah (risau hati). Pilihan kata atau sampiran pada lagu/syair ciptaannya cerdas dan punya logika. Tidak asal bunyinya sama. Sampirannya tidak terlalu jauh.</p>
<p>Contohnya Manga dek bolai nan dibubuik/ Bungo tampunik lareh balun/ Manga dek carai tuan sabuik/ Niaik di hati sampai balun//. Bolai adalah jenis kunyit yang harum. Namun, bungo tampunik lebih harum lagi. Di situ terlihat bahwa sampirannya lebih mengandung isi. Pesannya adalah janganlah ada niat memperistri lagi perempuan cantik, sementara istri yang lebih cantik belum terniat untuk menceraikannya.</p>
<p>Menurut Musra, kalau syair-syair itu didendangkan sendiri oleh Inyiak, kekuatannya menjadi lain. Sebab, garinyiak suaro (vibra, semacam anak suara yang diiringi cengkok) atau pitunang suaro Inyiak memukau. Katanya, Mendengar suara Inyiak, orang bisa tertarik, terkesima, dan jatuh hati. Sesuatu yang tidak dipunyai oleh banyak pendendang lain.</p>
<p>Kelebihan lain, Inyiak juga guru bagi sejumlah peniup saluang. Inyiak pandai mengajarkan garitiak saluang, bagaimana menikam garinyiak suara/dendang.</p>
<p>Melihat peran yang begitu besar dan kecintaan Inyiak kepada kesenian tradisi Minang, seperti silat, randai, saluang, hingga menciptakan ratusan syair/lagu yang abadi sampai kini, bahkan di usianya yang lebih 100 tahun masih terus berbuat, seharusnya pemerintah atau lembaga kesenian memberikan penghargaan buat beliau, kata Musra dan Indra Catri. (YURNALDI)</p>
<p>Sumber : kompas.com</p>
<p><strong>www.silatindonesia.com</strong></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2009/08/inyiak-upiak-palatiang-semangat-tradisi-minang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inyiak Upiak Palatiang Mengkhawatirkan Silat Tradisi</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2009/08/inyiak-upiak-palatiang-mengkhawatirkan-silat-tradisi/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2009/08/inyiak-upiak-palatiang-mengkhawatirkan-silat-tradisi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Aug 2009 09:02:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Figure Pesilat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=223</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu, 24 Januari 2004 Inyiak Upiak Palatiang Mengkhawatirkan Silat Tradisi Laporan : Khairul Jasmi Kubu Gadang, Batipuah, sebuah desa kecil dekat Padangpanjang, Sumbar, terlihat lengang, 14 Januari lalu. Beberapa orang wanita, bergegas menyelamatkan jemurannya, sebab sebentar lagi hujan akan turun. Di sebuah rumah kecil di desa yang sama, seorang nenek bernama Inyiak Upiak Palatiang, berusia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="smalltype">Sabtu, 24 Januari 2004<br />
<strong>Inyiak Upiak Palatiang Mengkhawatirkan Silat Tradisi<br />
</strong><br />
Laporan : Khairul Jasmi</p>
<p>Kubu Gadang, Batipuah, sebuah desa kecil dekat Padangpanjang, Sumbar, terlihat lengang, 14 Januari lalu. Beberapa orang wanita, bergegas menyelamatkan jemurannya, sebab sebentar lagi hujan akan turun. Di sebuah rumah kecil di desa yang sama, seorang nenek bernama Inyiak Upiak Palatiang, berusia 105 tahun, sedang menangis.</p>
<p>Ia tak kuasa melihat anaknya yang nestapa karena sakit. Anak satu-satunya itu bernama Upiak Lamsinar (50 tahun). Upiak Lamsinar, yang terbaring di kasur tipis, seperti melupakan sakit yang menderanya: kanker<br />
payudaranya meradang. Sudah hampir dua bulan ia terbaring lemah. Penyakitnya kambuh lagi, sejak dioperasi tahun 1991 silam.</p>
<p>Lamsinar meneteskan air mata bukan karena penyakitnya, bukan pula karena hari hendak hujan, tapi karena meminta tukang saluang (musik tiup minang) naik ke rumahnya. Saluang pun ditiup dan Upiak Lamsinar &#8212; masih terbaring&#8211; mengalunkan suara rancaknya. Ia seperti lupa pada sakitnya. Rona mukanya memerah, berseri. Lagu saluang yang ia bawakan, meruntuhkan perasaan. Suaranya indah sekali. Ibunya, Inyak Upiak Palatiang, terlihat menunduk. Air matanya pun jatuh. Alangkah indahnya suara anak saya, kata Palatiang parau.</p>
<p>Upiak Palatiang masih tangkas. Apa pekerjaannya sehari-hari? Paling ia hanya lima menit di rumah, kemudian pergi lagi, kecuali malam, ia memang di rumah saja, kata menantunya. Palatiang seperti memiliki kaki beroda. Maunya berjalan terus, ke sawah, ladang, ke rumah saudaranya.</p>
<p>Ia punya tiga orang anak: dua lelaki dan satu wanita &#8211;yaitu Upiak Lamsinar tadi. Palatiang (mungkin) adalah warisan terakhir dari sosok komplet wanita Minang. Ia wanita yang berprofesi sebagai dukun beranak. Selain itu, ia adalah penutur yang baik<br />
cerita-cerita nabi, penutur sifat 20, hafal cerita-cerita surga dan neraka. Juga pandai mengaji. Palatiang juga pesilat ulung. Tubuh tua ringkihnya, seperti akan jatuh disapu angin. Ia bisa meliuk, kakinya bisa terbang, dan tangannya cekatan. Bahkan, ia bisa bersalto. Palatiang adalah nenek yang piawai berdendang. Syair-syair saluang yang ia ciptakan sudah ratusan banyaknya dan semua melankolis.</p>
<p>Tapi, yang ia sedihkan adalah silat tradisi. Karena, sudah jarang yang belajar dan jarang pula guru yang menguasai ilmu silat tradisi secara utuh, ia khawatir silat tradisi akan punah. Silat, tuturnya, adalah ilmu bela diri yang dimaksudkan bukan untuk mencari lawan, tapi mencari kawan. Dengan ilmu silat, seseorang bisa lebih dekat kepada Tuhan. Pesilat, kata Palatiang,<br />
bisa melambung bagai kapas dan hingga di tanah bagai kapas pula.</p>
<p>Kalau soal saluang ia tak risau benar, sebab saat ini industri rekaman saluang cukup menggembirakan, meski tidak banyak syair baru yang muncul. Di Minangkabau ada dua bentuk kesenian yang menonjol. Pertama randai dan kedua saluang. Yang pertama adalah perpaduan dari sastra, musik, seni suara, seni tari, teater, pencak silat komedi, dan seni dekorasi. Yang kedua adalah alat musik tiup yang dipakai untuk mengiringi syair-syair Minang klasik. Syair klasik ini dipetik dari gejala alam, dari pengalaman batin, dan peristiwa-peristiwa hebat. Semua disyairkan dalam bentuk petatah-petitih.</p>
<p>Palatiang adalah sosok yang riang. Bersamanya, kita tak henti-henti tertawa. Ia tidak seperti orang tua yang pikun, bongkok, atau sesak napas. Ibunya, Upiak Aji, adalah seorang pendendang ulung di kampungnya. Menurut salah seorang murid Palatiang, Musra Darizal Rajo Mangkuto (56 tahun), Palatiang telah menciptakan ratusan syair saluang. Syair-syairnya banyak diilhami oleh Gunung Singgalang dan Gunung Merapi, dua gunung yang ditakuti sekaligus dikagumi orang Minang.</p>
<p>Upiak Palatiang sangat jago membuat dan mendendangkan syair-syair saluang dengan pitunang. Jika, misalnya, Palatiang menyukai seorang lelaki, maka ia cukup berdendang saja, maka si<br />
lelaki akan tergila-gila padanya. Itulah pitunang, daya pikat magis yang memancar lewat suara. Tapi, Palatiang tak mau menggunakan ilmunya itu untuk hal-hal semacam itu. Tiga orang suaminya &#8211;semua sudah meninggal&#8211; didapatnya bukan dengan cara yang demikian.</p>
<p>Menyayangi Inyiak Upiak Palatiang berarti menyayangi silat tradisi Minang. Palatiang sendiri tidak bisa dipisahkan dari silat. Ia berguru pada ayah dan pamannya. Pada suatu malam yang dingin di Istana Bung Hatta Bukittinggi, Ahad 14 Desember 2003 lalu, berlangsung pertemuan bersejarah, diprakarsai Perhimpunan Aliran Silat Tradisional (Pasti) Minangkabau. Untuk pertama kalinya 79 orang pandeka (guru besar) silek tuo (silat tua) dari berbagai aliran bersilaturahmi dan unjuk kebolehan. Mereka semua berusia 70<br />
tahun ke atas. Salah satu sosok yang mengejutkan adalah seorang wanita tua. Itulah Upiak Palatiang.</p>
<p>Di hadapan para pejabat dan Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), Inyiak menampilkan silat tua Gunuang. Ia lincah bergerak. Sorot matanya tajam. Ketika ia diserang, ratusan hadirin menahan napas. Ia menghalau serangan dengan elakan (gelek) dan tangkisan (tangkih) yang gesit. Lawan tak bergerak. Kalah! Inyiak memberi hormat. Tepuk tangan riuh, pertanda salut dan kagum.<br />
</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2009/08/inyiak-upiak-palatiang-mengkhawatirkan-silat-tradisi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Riwayat Singkat Ki Ngabei Ageng Soerodiwirdjo</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2009/08/riwayat-singkat-ki-ngabei-ageng-soerodiwirdjo/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2009/08/riwayat-singkat-ki-ngabei-ageng-soerodiwirdjo/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Aug 2009 08:57:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Figure Pesilat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=215</guid>
		<description><![CDATA[Friday, August 12, 2005 23:15:48 Ki Ngabei Ageng Soerodiwirdjo nama kecilnya adalah Muhamad Masdan, yang lahir pada tahun 1876 di Surabaya putra sulung Ki Ngabei Soeromihardjo (mantri cacar di ngimbang kab: jombang Ki ngabei Soeromihardjo adalah saudara sepupu RAA Soeronegoro (bupati Kediri pada saat itu). Ki Ageng soerodiwirdjo mempunyai garis keterunan batoro katong di Ponorogo, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="smalltype">Friday, August 12, 2005 23:15:48</span><br />
<span class="smalltype"></p>
<p>Ki Ngabei Ageng Soerodiwirdjo nama kecilnya adalah Muhamad Masdan, yang lahir pada tahun 1876 di Surabaya putra sulung Ki Ngabei Soeromihardjo (mantri cacar di ngimbang kab: jombang Ki ngabei Soeromihardjo adalah saudara sepupu RAA Soeronegoro (bupati Kediri pada saat itu). Ki Ageng soerodiwirdjo mempunyai garis keterunan batoro katong di Ponorogo, beliau kawin dengan ibu sarijati umur 29 tahun di surabaya dari perkawinan itu dianugrahi 3 anak laki-2 dan 2 anak perempuan namun semuanya meninggal dunia sewaktu masih kecil.</p>
<p>Pada usia 14 tahun (th 1890) beliau lulus SR sekarang SD kemudian diambil putra oleh pamanya (wedono di wonokromo) dan tahun 1891 yaitu tepat berusia 15 tahun ikut seorang kontrolir belanda di pekerjakan sebagai juru tulis tetapi harus magang dahulu (sekarang capeg). Pada usia yang relatif masih muda Ki Ageng Soerodiwirdjo mengaji di pondok pesantren tibu ireng jombang, dan disini lah beliau belajar pencak silat pada tahun 1892 pindah ke bandung tepatnya di parahyangan di daerah ini beliau berksempatan menambah kepandaian ilmu pencak silat. Ki Ageng Soerodiwirdjo adalah seorang yang berbakat, berkemauan keras dan dapat berfikir cepat serta dapat menghimpun bermacam-macam gerak langkah permainan. Pencak silat yang di ikuti antar lain:<br />
* Cimande<br />
* Cikalong<br />
* Cibaduyut<br />
* Ciampea<br />
* Sumedangan</p>
<p>Tahun 1893 beliau pindah ke jakarta, di kota betawi ini hanya satu tahun tetapi dapat mempergunakan waktunya untuk menambah pengetahuan dalam belajar pencak silat yaitu:<br />
* Betawian<br />
* Kwitangan<br />
* Monyetan<br />
* Toya</p>
<p>Pada tahun 1894 Ki Ageng Soerodiwirdjo pindah ke bengkulu karena pada saat itu orang yang di ikutinya (orang belanda) pindah kesana.di bengkulu permainanya sama dengan di jawa barat, enam bulan kemudian pindah ke padang. Di kedua daerah ini Ki Ageng Soerodiwirdjo juga memperdalam dan menambah pengetahuannya tentang dunia pencak silat. Permainan yang diperolehnya antara lain : minangkabau<br />
* Permainan padang Pariaman<br />
* Permainan padang Sidempoan<br />
* Permainan padang Panjang<br />
* Permainan padang Pesur / padang baru<br />
* Permainan padang sikante<br />
* Permainan padang alai<br />
* Permainan padang partaikan</p>
<p>Permainan yang di dapat dari bukit tinggi yakni :<br />
* Permainan Orang lawah<br />
* Permainan lintang<br />
* Permainan solok<br />
* Permainan singkarak<br />
* Permainan sipei<br />
* Permainan paya punggung<br />
* Permainan katak gadang<br />
* Permainan air bangis<br />
* Permainan tariakan</p>
<p>Dari daerah tersebut salah satu gurunya adalah Datuk Rajo Batuah. Beliau disamping mengajarkan ilmu kerohanian. Dimana ilmu kerohanian ini diberikan kepada murid-murid beliau di tingkat II.<br />
Pada tahun 1898 beliau melanjutkan perantuanya ke banda aceh, di tempat ini Ki Ageng Soerodiwirdjo berguru kepada beberapa guru pencak silat, diantarnya :<br />
* Tengku Achamd mulia Ibrahim<br />
* Gusti kenongo mangga tengah<br />
* Cik bedoyo</p>
<p>Dari sini diperoleh pelajaran ? pelajaran, yakni:<br />
* Permainan aceh pantai<br />
* Permainan kucingan<br />
* Permainan bengai lancam<br />
* Permainan simpangan<br />
* Permainan turutung</p>
<p>Pada tahun 1902 Ki Ageng Soerodiwirdjo kembali ke Surabaya dan bekerja sebagai anggota polisi dengan pangkat mayor polisi. Tahun 1903 di daerah tambak Gringsing untuk pertama kali Ki Ageng Soerodiwirdjo mendirikan perkumpulan mula-mula di beri nama ?SEDULUR TUNGGAL KECER? dan permainan pencak silatnya bernama ? JOYO GENDELO? .</p>
<p>Pada tahun 1917 nama tersebut berubah, dan berdirilah pencak silat PERSAUDARAAN SETIA HATI, (SH) yang berpusat di madiun tujuan perkumpulan tersebut diantaranya, agar para anggota (warga) nya mempunyai rasa Persaudaraan dan kepribadian Nasional yang kuat karena pada saat itu Indonesia sedang di jajah oleh bangsa belanda. Ki Ageng Soerodiwirdjo wafat pada hari jum`at legi tanggal 10 nopember 1944 dan di makamkan di makam Winongo madiun dalam usia enam puluh delapan tahun (68).</p>
<p><strong>www.silatindonesia.com</strong></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2009/08/riwayat-singkat-ki-ngabei-ageng-soerodiwirdjo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

