<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Silatindonesia.Com &#187; Liputan Khusus</title>
	<atom:link href="http://silatindonesia.com/category/liputan-khusus/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://silatindonesia.com</link>
	<description>Media Komunitas Pencak Silat Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Sat, 24 Jul 2010 05:02:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Menilik Sejarah Merpati Putih</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2010/07/menilik-sejarah-merpati-putih/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2010/07/menilik-sejarah-merpati-putih/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Jul 2010 06:54:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aliran Silat]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Silat]]></category>
		<category><![CDATA[Liputan Khusus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=662</guid>
		<description><![CDATA[Siapa yang tak mengenal perguruan silat Merpati Putih ? beberapa praktisi silat pasti mengenal perguruan ini. Namun apakah adakah yang tahu mengenai sejarahnya  dan perkembangannya? Berikut artikel yang didapat Tim SI mengenai sejarah dan perkembangannya dari panitia Kejurnas MP V/2010 . Sekitar tahun 1960 Bapak Saring Hadi Poernomo aktif membina kedua puteranya sekaligus yaitu Poerwoto [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa yang tak mengenal perguruan silat Merpati Putih ? beberapa praktisi silat pasti mengenal perguruan ini. Namun apakah adakah yang tahu mengenai sejarahnya  dan perkembangannya? Berikut artikel yang didapat Tim SI mengenai sejarah dan perkembangannya dari panitia Kejurnas MP V/2010 .</p>
<p><span id="more-662"></span></p>
<p>Sekitar tahun 1960 Bapak Saring Hadi Poernomo aktif membina kedua puteranya sekaligus yaitu Poerwoto Hadi Poernomo dan Budisantoso Hadi Poernomo merupakan pewaris termuda yang dikenal dengan panggilan Mas Poeng dan Mas Budi.</p>
<p>Pada tahun 1962 mas Poeng dan mas Budi mendapat amanat dari ayahnya Sang Guru Bapak Saring Hadi Poernomo agar ilmu beladiri yang sebelumnya merupakan milik keluarga itu disebarluaskan kepada umum demi kepentingan bangsa.</p>
<p>Tanggal 2 April 1963 di Yogyakarta, Merpati Putih resmi didirikan. Sejak inilah Merpati Putih dikenal masyarakat berkat usaha yang keras dan tekun dari kedua putera Sang Guru Saring Hadi Poernomo, yang tidak segan-segan turun langsung menangani latihan atau dengan wejangan-wejangan yang pada dasarnya untuk membangkitkan gairah dan perkembangan Merpati Putih.</p>
<p>Tahun 1968 kedua putera Sang Guru mencoba mengembangkan sayap dengan dibentuknya cabang pertama Madiun JawaTimur. Selanjutnya pihak militer juga mulai ditembus dan berhasil. Dari hasil peragaannya mendapat kehormatan melatih seksi I Korem 072 dan Batalyon 403/Diponegoro di Yogyakarta.  Ketika itu  suasana memasuki era Orde baru.</p>
<p>Pada Tahun 1969 atau tepatnya 2 April 1969 Sang Guru Sarengat Hadi Poernomo wafat. Tahun 1973 Merpati Putih mendapat undangan untuk diadakan penelitian dari segi-segi yang menyangkut metode latihan yang diselenggarakannya. Penelitian di AKABRI udara ditangani langsung oleh tenaga-tenaga ahli, antara lain Prof. Dr. Achmad Muhammad Guru Besar Fakultas Kedokteran UGM dibantu beberapa ahli lainnya dari AKABRI udara sendiri. Hasilnya menggembirakan dan ini mendorong pengembangan yang lebih luas wawasan Merpati Putih.Di Ibukota Jakarta pada tahun 1976 mendapat kehormatan melatih para anggota Pasukan Pengawal Presiden(PasWalPres).</p>
<p>Tahun 1977 komisariat cabang Jakarta dibentuk, dan mendapat peluang melatih para anggota Koppasandha di Cijantung sampai para anggota Kopassandha sanggup memperagakan keahliannya pada kemeriahan acara peringatan HUT ABRI 5 Oktober 1978.</p>
<p>Hingga kini, PPS. Betako Merpati Putih tersebar di tanah air dengan mempunyai hampir 100 cabang</p>
<p>dan lebih dari 10 pengurus daerah. Tidak hanya di Indonesia, Merpati Putih juga tersebar di manca negara seperti Amerika, Jepang, Paris, Belanda, Australia, Austria, NewZealand,dll.</p>
<p>Agar perguruan ini dapat dinikmati oleh masyarakat luas dan terorganisir dengan baik, maka pada  17 April 1998, Mas Poeng dan Mas Budi mendirikan Yayasan Saring Hadipoernomo.  Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, ilmu kanuragan warisan orangtuanya mulai dikembangkan dan diteliti secara ilmiah bersama dengan adiknya, R Budi Santoso.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://silatindonesia.com/id/wp-content/uploads/mp.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-666" title="mp" src="id/wp-content/uploads/mp-300x101.jpg" alt="" /></a></p>
<p>Pada tanggal 7- 11 Juli 2010, Setelah vakum lebih dari 12 (dua belas) tahun, Merpati Putih menyelenggarakan Kejuaraan Nasional PPS. Betako Merpati Putih V/2010 bertempat di Padepokan Nasional Pencak Silat – Taman Mini. Disamping untuk mempertahankan keutuhan budaya bangsa Indonesia yang saat ini diakui oleh negara lain, Indonesia juga membutuhkan generasi yang berkualitas, berprestasi, tangguh dan sportif. Tema Kejurnas PPS. Betako Merpati PutihV/2010 adalah:</p>
<p>“Melalui Kejuaraan Nasional PPS. Betako Merpati Putih ke V kita kukuhkan kiprah dan peran Merpati Putih sebagai pilar pelestarian nilai budaya dan jati diri ”- “SaveOurCulture”</p>
<p>Materi yang dipertandingkan pada Kejurnas MP V/2010 :</p>
<p>1.  Laga(fighting)</p>
<p>2.  Stamina dan tenaga(pemecahan benda-benda keras)</p>
<p>3.  Getaran(tutup mata dan pemukulan benda keras dengan getaran)</p>
<p>4.  Seni tunggal,berpasangan dan regu</p>
<p>Pesan yang ingin disampaikan dari Kejurnas MP V/2010:</p>
<p>1.  Mempertahankan seni budaya bangsa dan menjaga kemurniannya</p>
<p>2.  Memantapkan ketangkasan dalam seni beladiri Merpati putih dikalangan anggota</p>
<p>3.  Lebih memasyarakatkan seni beladiri Merpati Putih di masyarakat</p>
<p>4.  Menggali potensi pesilat yang tangguh</p>
<p>Sampai saat ini PPS Betako Merpati Putih merupakan salah satu budaya bangsa Indonesia yang berada dibawah naungan Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) salah satu Pencak Silat kebanggaan bangsa dan merupakan salah satu wadah pengembangan diri menjadi manusia yang mencintai budayanya sendiri, terutama seni bela diri.</p>
<p><em><strong>*Team SI : Kong Nizam, Ipam MJ,Sarkam</strong></em></p>
<p><img class="ngg-singlepic ngg-none" src="http://silatindonesia.com/id/wp-content/gallery/kegiatan/20100713-mp_0.jpg" alt="20100713 merpati putih" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2010/07/menilik-sejarah-merpati-putih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perisai Diri International Championship VI &#8211; 2010</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2010/07/perisai-diri-international-championship-vi-2010/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2010/07/perisai-diri-international-championship-vi-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Jul 2010 11:13:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cover Story]]></category>
		<category><![CDATA[Information]]></category>
		<category><![CDATA[Liputan Khusus]]></category>
		<category><![CDATA[championship]]></category>
		<category><![CDATA[diri]]></category>
		<category><![CDATA[international]]></category>
		<category><![CDATA[perisai]]></category>
		<category><![CDATA[perisai diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=655</guid>
		<description><![CDATA[Kejuaraan ini rencananya akan diikuti oleh kurang lebih 600 pesilat dari luar maupun dalam negeri, dan akan digelar di Padepokan Nasional Pencak Silat TMII yang berkapasitas 5.000 penonton dan akan diliput baik oleh media cetak maupun elektronik. 600 pesilat (athletes) from Indonesia and overseas are expected to take part in the Championship and which will [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="shutterset_" href="http://silatindonesia.com/id/wp-content/gallery/kegiatan/20100723-pdic02.jpg"><img class="ngg-singlepic ngg-left" src="http://silatindonesia.com/id/wp-content/gallery/kegiatan/thumbs/thumbs_20100723-pdic02.jpg" alt="Perisai Diri International Championship" /></a>Kejuaraan ini rencananya akan diikuti oleh kurang lebih 600 pesilat dari luar maupun dalam negeri, dan akan digelar di Padepokan Nasional Pencak Silat TMII yang berkapasitas 5.000 penonton dan akan diliput baik oleh media cetak maupun elektronik.</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p><em>600 pesilat (athletes) from Indonesia and overseas are expected to take part in the Championship and which will be held in Padepokan Nasional Pencak Silat TMII, (capacity up to 5000 supporters) and be broadcasted by national</em></p>
<p><span id="more-655"></span><br />
Selain sebagai sarana untuk mengukur kemam-puan atlit Perisai Diri dalam prestasi, kejuaraan ini juga merupakan suatu wadah silaturahmi untuk mempererat tali kekeluargaan diantara sesama anggota Kelatnas Indonesia Perisai Did yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan negara lain. Oleh karena itu, prinsip asah, asih, asuh diharapkan dapat diterapkan dalam pelaksanaan kejuaraan ini.</p>
<p style="padding-left: 30px;">
<p><em>This event, apart from its function as a tool to explore the performance of the Perisai Diri athlete (pesilat), is also as a media of communication and gathering between the members of Kelatnas Indonesia Perisai Diri from Indonesia and abroad. Thus, the principle of silih asah (mutual practice), silih asih (mutual respect), and silih asuh (mutual concern), is expected to be implemented during the event.</em></p>
<p>Pembukaan acara Perisai Diri International Championship (PDIC) VI 2010 akan diselenggarakan pada<br />
hari <span style="text-decoration: underline;"><strong>Minggu, 18 Juli 2010</strong></span><br />
pukul 18:00 hingga selesai<br />
di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.</p>
<p>Acara penutupan PDIC akan diselenggarakan pada hari Jumat 23 Juli 2010.</p>
<p>Silakan beramai-ramai menonton dan memeriahkan perhelatan ini.</p>
<p>Acara ini terbuka untuk umum dan GRATIS, alias tidak dipungut biaya apa pun.</p>
<p><strong>Kami tunggu kedatangan para sahabat sekalian di PDIC VI 2010 di Padepokan  Pencak Silat TMII.</strong></p>
<p>ref:<br />
<a href="http://pdic.silatperisaidiri.com/" target="_blank">http://pdic.silatperisaidiri.com/</a><br />
<a title="Perisai Diri International Championship" href="http://sahabatsilat.com/forum/index.php/topic,1264.msg25686.html#msg25686" target="_blank">http://sahabatsilat.com/forum/index.php/topic,1264.msg25686.html#msg25686</a></p>
<p><a title="Perisai Diri International Championship" href="http://sahabatsilat.com/forum/index.php/topic,1264.msg25686.html#msg25686" target="_blank"><img class="ngg-singlepic ngg-none" src="http://silatindonesia.com/id/wp-content/gallery/kegiatan/20100723-pdic01.jpg" alt="20100723 - Perisai Diri International Championship" width="500" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2010/07/perisai-diri-international-championship-vi-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gelanggang Siliah Baganti</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2010/04/gelanggang-siliah-baganti/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2010/04/gelanggang-siliah-baganti/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Apr 2010 14:35:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rasyid.aj</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cover Story]]></category>
		<category><![CDATA[Liputan Khusus]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Silat]]></category>
		<category><![CDATA[baganti]]></category>
		<category><![CDATA[gelanggang]]></category>
		<category><![CDATA[siliah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=598</guid>
		<description><![CDATA[Perjalanan yang cukup melelahkan dari Jakarta ke Batu Sangkar terbayar lunas oleh indah nya pemandangan alam Sumatera Barat dan sajian festival silek Minang dalam acara Gelanggang Siliah Baganti dan aneka kuliner (ini terjadi keesokan hari nya) Kedatangan dan Hari Pertama Kami berangkat dari bandara Sukarno-Hatta Cengkareng kurang lebih pukul 15.30 dari jadwal penerbangan pukul 13.15 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Perjalanan yang cukup melelahkan dari Jakarta ke Batu Sangkar terbayar lunas oleh indah nya pemandangan alam Sumatera Barat dan sajian festival silek Minang dalam acara Gelanggang Siliah Baganti dan aneka kuliner (ini terjadi keesokan hari nya)</em></p>
<p><strong>Kedatangan dan Hari Pertama</strong></p>
<p><a class="shutterset_" href="http://silatindonesia.com/id/wp-content/gallery/kegiatan/20100417-siliahbaganti-logo_.jpg"><img class="ngg-singlepic ngg-left" src="http://silatindonesia.com/id/wp-content/gallery/kegiatan/thumbs/thumbs_20100417-siliahbaganti-logo_.jpg" alt="Gelanggang Siliah Baganti" /></a>Kami berangkat dari bandara Sukarno-Hatta Cengkareng kurang lebih pukul 15.30 dari jadwal penerbangan pukul 13.15 dan harus puas dengan hanya permintaan maaf karena penerbangan yang tertunda. Saya, Kang Ujang, Uda Aslim Nurhasan, Pak Sudirman Yan beserta Istri tiba di Bandara Padang satu setengah jam kemudian. Tujuan pertama adalah mencari rumah makan.</p>
<p>Perjalanan menuju Batu Sangkar dilanjutkan dengan mobil yang langsung &#8220;disopiri&#8221; oleh Uda Aslim dengan rute melalui Lembah Anai, menjelang malam tiba diringi gerimis yang makin menderas.<br />
Gelap nya malam dan tikungan-tikungan tajam serasa jalanan benderang, lurus dan lengang bagi &#8220;sang sopir&#8221;. Hanya saja mendekati Lembah Anai hambatan pertama mulai ditemui, LONGSOR, yang rupanya sudah terjadi beberapa hari yang lalu. Ada tiga titik longsor, tapi kami sepakat meneruskan perjalanan. Titik pertama kami lewati, titik kedua kami berhenti. Pemandangan indah sekaligus membuat hati miris, air terjun dipinggir jalan menderas dengan ganas, guyuran air berwarna coklat bercampur tanah menciprat sampai ke tengah jalan menciptakan tirai kabut air. Kami terpaksa berhenti. Ternyata baru saja kembali terjadi longsor antara titik kedua dan ketiga. Uda Aslim yang asli Batu Sangkar memutuskan untuk berputar dan menuju Batu Sangkar melalui Solok. Keputusan yang tepat karena kalau tidak kami akan terjebak di tengah Lembah Anai dalam hujan dan kegelapan malam.<br />
Perjalanan panjang dan melelahkan -apa lagi bagi sang mengemudi- dari Lembah Anai menuju Batu Sangkar memutari danau singkarak  akhirnya berakhir jua sekitar pukul 12 malam . Kami menginap di rumah kakak pertama Uda Aslim, berisitrahat sejenak dan tidur.<br />
Keesokan hari nya keramahan tuan rumah menyambut kami dengan sajian sarapan ketupat sayur khas Minang dan ketan+pisang goreng. Bagi saya yang ga tahan pedas tentu saja memilih ketan + pisang goreng dan kopi tentu nya.<br />
Acara di hari pertama ini adalah menuju GOR untuk mengikuti upacara pembukaan Gelanggang Siliah Baganti, sebuah festival silek tradisional Minang karena memang ini tujuan utama kami. Festival ini diikuti oleh 16 aliran silat dari 45 nagari antara lain aliran silek : Kumango, Silek Tuo, Silek Tuo Langkah Duo, Silek Tuo Langkah Tigo, Silek Tuo Langkah Ampek, Sungai Patay, Harimau Campo, Harimau Minang, Kuciang Lalo, Lintau, sitaralak, Harimau Tangki, Gajah Badorong,dll.</p>
<p><a class="shutterset_" href="http://silatindonesia.com/id/wp-content/gallery/kegiatan/20100417-siliahbaganti-pasang.jpg"><img class="ngg-singlepic ngg-left" src="http://silatindonesia.com/id/wp-content/gallery/kegiatan/thumbs/thumbs_20100417-siliahbaganti-pasang.jpg" alt="Gelanggang Siliah Baganti - pasang" /></a>Setelah sempat tertunda beberapa jam, acara pembukaan di mulai. Sambutan-sambutan adalah hal yang lumrah dalam setiap seremonial dan tidak perlu diuraikan di sini.  Cuma satu yang menarik, dalam sambutan pembukaan,  Wakil Bupati menyebutkan selamat datang bagi teman-teman dari Jakarta dan terima kasih telah hadir. Disebutkan pula bahwa kami berasal dari silat Cikalong, Golok Seliwa dan Perisai Putih. Rupanya jauh-jauh hari Uda Aslim sudah menginformasikan kedatangan kami dan memberikan data kepada panitia.<br />
Sajian pembukaan terdiri dari atraksi silek kumango oleh dua orang tuo silek (sebutan bagi senior/pelatih di silek Minang), Silek Lintau, tari piring oleh anak-anak usia SD dan &#8220;debus&#8221; ala Minang. Selanjut nya festival hari pertama menampilkan hanya beberapa aliran antar lain LINTAU, SUNGAI PATAY dan KUMANGO. Setiap aliran menampilkan enam pasangan yaitu kelompok anak-anak, remaja, dan dewasa masing-masing putra dan putri. Di tengah acara pada saat istirahat ditampilkan peragaan oleh para tuo silek berganti-ganti aliran. Sungguh menarik.<br />
Hari pertama ini kami beraktivitas di GOR, merekam peristiwa (banyak moment yang luput karena kendala teknis seperti batrei yang habis dan memory card yang penuh-kesalahan yang tidak boleh diulangi). Tidak ketinggalan juga kesempatan berkenalan dengan tokoh-tokoh sepuh silek Minang, Alhamdulillah.<br />
Kembali ke rumah sekitar pukul sebelas malam, bercengkerama, dan beristirahat sampai akhir nya tertidur kelelahan. Oh iya, sore hari nya datang sahabat silat yang lama tidak jumpa yaitu Yoga Putra Setiawan yang tinggal di Pekan Baru, datang khusus membantu meliput event ini dengan kamera profesional nya.</p>
<p><strong>Hari Kedua</strong></p>
<p>Jadwal pertama ke bandara, menjemput Ipam yang memang datang belakangan. Perjalanan dari Batu Sangkar ke Bandara melalui Lembah Anai, kali ini udara cerah dan bersahabat (walau kadang diselingi sedikit gerimis) sehingga kami dapat menikmati sajian pemandangan indah sepanjang jalan.</p>
<p>Perhentian pertama, makan Sate Mak Syukur yang sangat direkomendasikan kawan-kawan dari Minang. Jadi,  ini lah wisata silat dan wisata kuliner. Perjalanan dilanjutkan menuju Lembah Anai diiringi hujan gerimis. Kali ini tanpa hambatan berarti hanya sedikit antrian kendaraan di tiap titik longsor. Kami pun tiba di air terjun Lembah Anai, sungguh indah dan menarik karena berada tepat disisi jalan utama. Sungguh sayang anugerah Tuhan ini yang indah ini malah dirusak oleh tangan-tangan serakah manusia. Longsor ini tentu saja karena area hutan di atas nya, wilayah sekitar nya telah gundul habis dibabat.<br />
Melanjutkan perjalanan, kali ini singgah terakhir sebelum ke bandara adalah ziarah ke makam Syech Burhanudin di Pariaman, menyusuri tepi pantai dan beberapa sisa gempa yang belum terurus. Tidak lama kami di sana karena harus segera ke bandara menjemput Ipam yang sudah landing. Tidak banyak cerita dalam perjalanan kembali ke Tanah Datar, kecuali hujan sepanjang jalan.<br />
Sehabis makan malam kami kembali ke GOR untuk melihat dan meliput festival selanjut nya.  Malam kedua ini aliran silat KUMANGO yang banyak tampil. Satu hal yang dapat saya catat, dari beraneka ragam nya silek tradisional Minang kesamaan tetap ada, antara lain tata cara menghormat, pola langkah, kuda-kuda yang cenderung rendah walaupun ada juga yang tegak tetapi pada saat  melangkah rata-rata rendah dan kaki yang bersilang. Gerakan tangan yang gemulai juga menjadi ciri khas silek Minang. Keras dalam aplikasi tetapi lembut dalam melangkah dan &#8220;menari dalam rangkaian jurus&#8221;. Sungguh menarik. Apa yang ditampilkan dalam festival ini adalah seni semata, tidak ditunjukkan aplikasi sebenar nya dalam pertarungan. Karena ini adalah semata pentas seni untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan menumbuhkan rasa cinta terhadap silek tradisional Minang.<br />
Para peserta berpasangan sesuai kelompok umur dan jenis kelamin. Mereka memainkan jurus dan aplikasi dari alirannya masing-masing. Sistem penilaian menyangkut antara lain : keaslian jurus dan teknik, kekayaan teknik kuncian dan jatuhan, keindahan, stamina, dll. Tim penilai terdiri dari tiga orang juri dengan satu tim pengawas yang terdiri dari sesepuh. Penilaian juri harus obyektif, apabila ada salah satu orang juri yang memberikan nilai sangat menonjol (terlalu tinggi atau terlalu rendah) maka nilai itu akan diabaikan.</p>
<p>Malam kedua ini kelelahan mulai menghinggapi kami, aktivitas yang terus menerus dan penyesuaian perut dengan masakan ala Minang membuat saya tidak berani untuk terlalu banyak makan, bahkan &#8220;berhenti makan seharian&#8221;.  Ada yang masuk angin ada yang sakit perut. Malam ini kami beristirahat untuk besok melanjutkan aktivitas.<br />
Hari Ketiga<br />
Hari ketiga kami isi dengan wisata ziarah dan melihat berbagai situs peninggalan bersejarah. Pertama kami berziarah ke makam Guru Gadang Silek Kumango, kemudian dilanjutkan ke makam SYECH KUMANGO. Sebuah tempat peristirahatan yang indah di tengah lembah, sayang nya peninggalan bersejarah ini tidak terawat sebagaimana situs-situs yang lain. Surau peninggalan SYECH KUMANGO dibiarkan melapuk, menyedihkan.<br />
Kunjungan lainnya tidak terlalu penting untuk diceritakan karena bisa dilihat di brosur wisata Kabupaten Tanah Datar seperti Istana Pagaruyung, Prasasti Adityawarman, makam Ustano Rajo Alam, dll. Satu hal yang menyolok adalah semua situs tersebut TIDAK TERAWAT.<br />
Tujuan akhir adalah BUKIT TINGGI, makan dan belanja. Tidak asing dan tidak aneh soal nya kata teman-teman &#8220;rugi ke Minang kalau tidak wisata kuliner&#8221; . sayang nya beberapa dari kami sudah tak kuat makan lagi.</p>
<p>Dari Bukit Tinggi malam hari nya kami kembali meliput Gelanggang Siliah Baganti. Karena ini malam terakhir saya di Tanah Datar, esok hari sudah harus kembali ke jakarta. Saya terpaksa pulang lebih dulu karena Kang Ujang harus berada di Cianjur pada hari rabu disebabkan tanggung jawab pekerjaan. Kegiatan hari terakhir dan penutupan terpaksa saya lewatkan dengan berat hati. Kelelahan malam ini terbayar lunas dengan kepuasan menikmati indah nya alam Minangkabau dan sajian silek Minang yang sangat menarik. Malam ini semua kelelahan, masuk angin, sakit perut dan ngantuk tak tertahan. Ipam pun terpaksa minum obat.</p>
<p><strong>Hari selasa pagi</strong></p>
<p>Ini hari terakhir saya dan Kang Ujang, badan sudah terasa segar. Nafsu makan kembali datang dan kami semua sudah bugar kembali. Sayang sekali saya harus pulang. Kami ke pasar menikmati sarapan pagi, bubur kampiun, nasi goreng, ketan dan teh manis. Nimat sekali. Saya pun berangkat ke bandara, tinggallah Ipam, uda aslim dan yoga di sana meliput kegiatan hari terakhir. Dengan ini maka cerita yang saya sampaikan berakhir di sini.<br />
Ini adalah catatan saya, yang saya tulis berdasarkan persepsi dan pengalaman yang saya tangkap selama berada di sana, tentu saja ada banyak kekurangan dan perhatian yang luput di sana-sini. Kalau pun ada penafsiran dan deskripsi yang kurang tepat, sudilah menerima nya karena sebatas ini lah kemampuan saya.</p>
<p>Wabillahi taufik wal hidayah</p>
<p><em>link terkait:<br />
<a href="http://sahabatsilat.com/forum/index.php/topic,1547.0.html" target="_blank">http://sahabatsilat.com/forum/index.php/topic,1547.0.html</a><br />
<a href="http://sahabatsilat.com/forum/index.php/topic,1579.msg32667/topicseen.html#new" target="_blank">http://sahabatsilat.com/forum/index.php/topic,1579.msg32667/topicseen.html#new</a><br />
<a href="http://picasaweb.google.com/rasyid.aj/AJourneyToWestSumatera?feat=content_notification#" target="_blank">http://picasaweb.google.com/rasyid.aj/AJourneyToWestSumatera?feat=content_notification#</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2010/04/gelanggang-siliah-baganti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pencak Silat dan Pramuka, Kenapa Tidak?</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2010/03/pencak-silat-dan-pramuka-kenapa-tidak/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2010/03/pencak-silat-dan-pramuka-kenapa-tidak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Mar 2010 16:27:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>iwan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Silat]]></category>
		<category><![CDATA[Cover Story]]></category>
		<category><![CDATA[Featured Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Liputan Khusus]]></category>
		<category><![CDATA[cianjur]]></category>
		<category><![CDATA[esi]]></category>
		<category><![CDATA[pramuka]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=577</guid>
		<description><![CDATA[Ada hal yang menarik pada acara peresmian Gedung Sekretariat Pramuka Kwartir Cabang Cianjur yang dilakukan oleh Menteri Negara Pemuda dan Olahraga yang dilanjutkan dengan acara peletakan batu pertama pembangunan Bale Kitri oleh Gubernur Jawa Barat H. Akhmad Heryawan 18 Maret 2010 lalu, di mana acara yang ditampilkan adalah merupakan tiga pilar budaya yang ada di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="shutterset_" href="http://silatindonesia.com/id/wp-content/gallery/kegiatan/20100318-cianjur-pin_-menpora.jpg"><img class="ngg-singlepic ngg-left" src="http://silatindonesia.com/id/wp-content/gallery/kegiatan/thumbs/thumbs_20100318-cianjur-pin_-menpora.jpg" alt="Menpora menerima penyematan PIN Sahabat Silat" width="200" height="150" /></a>Ada hal yang menarik pada acara peresmian <span style="text-decoration: underline;">Gedung Sekretariat Pramuka Kwartir Cabang Cianjur</span> yang dilakukan oleh <span style="text-decoration: underline;">Menteri Negara Pemuda dan Olahraga</span> yang dilanjutkan dengan acara peletakan batu pertama pembangunan Bale Kitri oleh Gubernur Jawa Barat H. Akhmad Heryawan 18 Maret 2010 lalu, di mana acara yang ditampilkan adalah merupakan tiga pilar budaya yang ada di daerah Cianjur yakni <strong>Ngaos</strong>, <strong>Mamaos </strong>dan <strong>Maenpo</strong>.<br />
<strong>Ngaos </strong>yang dalam bahasa Sunda berarti mengaji dan mengkaji yang dalam implementasi keseharian dapat diartikan sebagai mencari ilmu, sementara <strong>mamaos </strong>adalah tembang Cianjuran yang diartikan sebagai berkesenian dan <strong>maenpo </strong>adalah seni bela diri atau dapat juga diartikan sebagai bagian dari pertahanan dan ketahanan. Ketiga pilar budaya ini adalah merupakan cerminan dari masyarakat daerah Cianjur.</p>
<p>Berkaitan dengan pencak silat, sebagaimana kita ketahui daerah ini adalah salah satu tempat lahirnya beberapa aliran besar dalam percaturan pencak silat tanah air, maenpo sendiri adalah istilah setempat yang memiliki kesamaam arti dengan seni bela diri pencak silat. Penampilan pramuka mulai dari anak hingga dewasa yang mempertunjukan pencak silat merupakan hal yang positif dalam mengupayakan kembali pencak silat tetap di hati masyarakat kita. Terlepas dari penilaian tampilan tersebut, merupakan hal yang elok dan pantas kiranya jika setiap tempat yang merupakan sumber pencak silat tetap dengan bangga memperlihatkan apa yang dimilikinya. Keengganan pemerintah setempat menampilkan pencak silat baik secara utuh apa adanya maupun sebagai seni pertunjukan sedikit banyak dapat berpengaruh pada perkembang pencak silat itu sendiri.</p>
<p><span id="more-577"></span></p>
<p><strong><a class="shutterset_" href="http://silatindonesia.com/id/wp-content/gallery/kegiatan/20100318-cianjur-pramukasilat.jpg"><img class="ngg-singlepic ngg-right" src="http://silatindonesia.com/id/wp-content/gallery/kegiatan/thumbs/thumbs_20100318-cianjur-pramukasilat.jpg" alt="Pramuka Silat" width="200" height="150" /></a>Cianjur </strong>adalah salah satu daerah yang dengan bangga mau memperlihatkan pada khlayak ramai bahwa daerah ini konsens pada usaha pelestarian budaya terutama pencak silat atau maenpo. Pemerintah Daerah Kabupaten Cianjur membuka pintu keleluasaan pada setiap usaha pelestarian pencak silat, ini dibuktikan dengan diberikannya porsi waktu dalam acara tersebut bagi para anggota dari <a title="Sahabat Silat" href="http://sahabatsilat.com"><strong>Komunitas Sahabat Silat</strong></a> dan sahabat dari <strong>ESI </strong>(<strong>Enslikopedi Silat Indonesia</strong>) juga mengundang <span style="text-decoration: underline;">Bapak Eddie Marzuki Nalapraya</span> yang sekaligus memberikan ucapan terima kasih atas usaha yang dilakukan <strong>PERSILAT </strong>dalam mempromosikan maenpo Cikalong ke luar negeri. Ketika awal acara, kebingungan menyelimuti kami (Sahabat Silat) karena bagi beberapa anggota acara ini jauh dari harapan tentang gayung bersambutnya promosi pencak silat yang kami lakukan dihadapan para pejabat. Meski diselingi pemutaran film dokumenter mengenai Maenpo Cikalong disela acara makan pagi rombongan Menpora dan rombongan Gubernur Jawa Barat namun target pencapaian ini menurut saya pribadi sangat minim dan tidak memuaskan. Mungkin ini terjadi karena sempitnya waktu dan urusan yang berkaitan dengan protokoler.</p>
<p>Pada saat di lapangan Gedung Sekretariat Pramuka Kwartir Cabang Cianjur, dan berbagai acara  kesenian ditampilkan, sungguh suatu hal yang mengejutkan baik bagi kami dari anggota Komunitas Sahabat Silat maupun ESI, ternyata kami diberikan waktu yang lebih leluasa selain untuk <span style="text-decoration: underline;">menyematkan pin Sahabat Silat dan Gerakan Peduli Silat pada Menpora</span>, Gubernur Jawa Barat, Bupati dan Wakil Bupati juga sempat menitipkan pesan bahwa telah dimulai Gerakan Peduli Silat dari tempat ini pada Menpora dan Gubernur Jawa Barat. Ini bukanlah omong belaka, karena sepenuhnya gerakan ini ternyata diamini oleh Wakil Bupati DR.H.Dadang Sufianto, Drs., MM yang telah memberitahukan bahwa daerah Cianjur menjadi salah satu daerah yang akan memasukkan pencak silat atau maenpo dalam kurikulum muatan lokal dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Dan acara ini merupakan suatu penegasan bahwa daerah Cianjur sungguh-sungguh dalam melestarikan maenpo <strong>bukan sekedar slogan belaka</strong>. Dalam acara tersebut juga tampil Wakil Bupati memperlihatkan kepiawaiannya dalam memainkan kendang penca yang disambut gegap gempita hadirin yang hadir.</p>
<p><a class="shutterset_" href="http://silatindonesia.com/id/wp-content/gallery/kegiatan/20100318-cianjur-cikalong.jpg"><img class="ngg-singlepic ngg-left" src="http://silatindonesia.com/id/wp-content/gallery/kegiatan/thumbs/thumbs_20100318-cianjur-cikalong.jpg" alt="Cikalong" width="200" height="150" /></a>Ketika selesainya acara ini, menjadi bahan renungan bagi kita bahwa sangat diperlukan kecerdasan dalam usaha pelestarian pencak silat. Mengkolaborasikan kegiatan kepanduan (Pramuka) di tanah air dengan pencak silat adalah ide sederhana cemerlang yang merupakan suatu simbiosis mutualisma. Karena keduanya selain sebagai wahana pendidikan bagi anak bangsa juga untuk memperdalam rasa kecintaan pada tanah air yang sudah barang tentu ada pada kedua kegiatan ini. Tak pelak lagi memasukkan ide sederhana yang ada di depan kita dapat menjadikan begitu besarnya jumlah pesilat di tanah air yang kini dilanda krisis minat. Jika kabupaten Cianjur memiliki sekitar 143,853 personil yang tersebar pada 32 kwartir ranting dan 2894 gugus depan. Bisa kita bayangkan jika semua potensi kabupaten / kota di Indonesia kompak melakukannya dan minimal 25% keberhasilan, bukan hal yang mustahil jika dalam beberapa tahun kedepan baik jumlah, kompetisi, kejuaraan bahkan festival pencak silat sekalipun pasti akan ramai. Dan dengan banyaknya pesilat tentunya akan semakin banyak berbagai kejuaraan, rotasi kejuaraan yang banyak tentunya akan menambah jam terbang jga  keahlian pesilat menjadi atlit&#8230;.bukan hal mustahil kejayan pencak silat yang terhempas akan dapat kita rebut kembali.</p>
<p><em><strong>Nah, bisakah Pencak Silat bergandeng tangan dengan Pramuka untuk kemajuan keduanya?<br />
Kenapa Tidak &#8230;.</strong></em></p>
<p>Jakarta, 21 Maret 2010</p>
<p><strong>Iwan Setiawan</strong><br />
Anggota Komunitas Sahabat Silat dan ESI</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2010/03/pencak-silat-dan-pramuka-kenapa-tidak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melihat langit bisa lewat kubangan air, mengukurnya? Jangan&#8230;.</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2010/02/melihat-langit-bisa-lewat-kubangan-air-mengukurnya-jangan/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2010/02/melihat-langit-bisa-lewat-kubangan-air-mengukurnya-jangan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Feb 2010 02:04:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cover Story]]></category>
		<category><![CDATA[Featured Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Liputan Khusus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=559</guid>
		<description><![CDATA[Dalam sebuah acara yang baru kuhadiri hari ini Pemberian Gelar Pendekar bagi warga Spanyol oleh PERSILAT (14 Pebruari 2010), sempat dipertontonkan video proposal ESI (Enslikopedi Silat Indonesia) garapan para teman dan sahabatku. Berbagai tangggapan bermunculan. Ada menarik dan menggelitik hatiku mengenai tanggapan seseorang yang mengatakan yang ditampilkan itu bukan silat asli, baik Pamacan, Cimande, Cikalong [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam sebuah acara yang baru kuhadiri hari ini Pemberian Gelar Pendekar bagi warga Spanyol oleh PERSILAT (14 Pebruari 2010), sempat dipertontonkan video proposal ESI (Enslikopedi Silat Indonesia) garapan para teman dan sahabatku.<br />
Berbagai tangggapan bermunculan.<br />
Ada menarik dan menggelitik hatiku mengenai tanggapan seseorang yang mengatakan yang ditampilkan itu bukan silat asli, baik Pamacan, Cimande, Cikalong dan Kumangonya. Beliau (yang mengatakan hal tersebut) dengan serta merta menerangkan apa itu Cikalong, apa itu Cimande dan juga Kumango. Sayang aku tak sempat berdiskusi dengannya. Sahabatku dan saudara perguruanku yang turut larut dalam pembicaraan itupun hanya mengiyakan dan mengangguk-angguk. Mungkin karena menjaga sikap santunnya yang selama ini jarang menempel di kepalaku.<br />
Namun dalam hatiku cukup membuatku terhenyak, bagaimana mungkin sesuatu yang kami sedang angkat dan cukup berhati-hati dalam mengkaji yang memakan cukup banyak waktu langsung ke nara sumber yang terkait dibilang: <strong>”Itu bukan asli&#8230;”</strong></p>
<p><span id="more-559"></span></p>
<p>Tak hanya cukup bingung namun aku juga prihatin mendengarkan perkataannya, dalam beberapa penerangannya ternyata penggambaran tentang dari mana Cimande, apa itu Cikalong dan Kumango masih pada tataran sangat dasar yang diketahui banyak orang dan sama sekali tidak menggambarkan utuh bagaimana ciri suatu penggambaran bela diri pencak silat. Ketika berbicara Cimande dari kampung Mande, ternyata beliau tidak tahu bahwa sejak lama beberapa daerah di sana telah ditenggelamkan menjadi waduk. Saat berbicara mengenai Cikalong ternyata beliaupun tidak mengenal siapa penerus aliran ini dari garis penerus Gan Uweh ”Pasar Baru” yang ditampilkan begitu juga tentang pencak silat yang memiliki sikap pasang panjang adalah Cikalong dan Cimande rapat, inipun adalah gambaran umum yang dengan mudah didapat dari menguping atau katanya dengan sumber yang tidak jelas. Khusus Cikalong (maenpo Cikalong), penggambaran sikap yang panjang dan posisi kuda-kuda ringan adalah pola umum bukan merupakan indentitas khusus. Sebagaimana kita ketahui, aliran Cikalong adalah salah satu aliran pencak silat yang memberikan warna pada perkembangan pencak silat Jawa Barat juga tanah air. Apakah ketika kita ini bingung dengan warna asli Cikalong itu sendiri karena kita terbiasa dengan ”warna” yang berkembang??? Bagaimana mungkin menilai sebuah bentuk bela diri asli atau bukan tanpa mempelajari dan mendalami? Dengan latar belakang sama-sama pesilat, menurut saya hal tersebut melampaui kewenangan penilaiannya (dalam istilah anak gaul, belajar juga kagak kok berani monten?). tanpa mengurangi rasa hormat pada beliau sebagai sesepuh pencak silat, kiranya juga beliau mau kita ajak diskusi dan membaca bahwa banyak lho kekayaan pencak silat kita itu.</p>
<p>Kumango yang kami jadikan bahan dalam garapan video proposal ESI adalah salah satu penerus yang juga diketahui oleh banyak orang dari Nagari Kumango sendiri dan itupun merupakan penerus aliran Syech Kumango ini (Almarhum Guru Gadangnyapun kami kenal dekat). Begitu juga dengan Pamacan, Gerak Gulung Budi Daya yang menampilkan beberapa Raka Wiranya, Cikalong yang menampilkan Guru Besar, Guru dan para murid yang merupakan penerus aliran ini yang telah diketahui oleh pemda Kabupaten Cianjur yang masuk ke dalam daftar pelestari seni budaya Cianjur yang insya Allah akan dimasukan dalam hak paten sebagai HAKI anak bangsa sebagai salah satu kekayaaan budaya bangsa, Si Bunder yang menampilkan generasi mudanya, Golok Suliwa yang langsung menampilkan sang Gurunya, Beksi Tradisional Haji Hasbullah yang merupakan salah satu perguruan yang memegang tradisi dan pakem yang berlaku. Mungkin menjadi hal yang biasa ketika pembicaraan ini adalah ajang tanya jawab.</p>
<p>Sebenarnya hal tersebut tak perlu aku pusingkan jika yang dibahas adalah bukan ranah dan apa yang sedang aku pelajari dan amanahkan menjaganya. Namun ketika berbicara maenpo Cikalong dan para guruku dianggap bukan asli, aku teringat kejadian yang berulang di Bandung tahun 1984 di mana ketika penampilan para murid waktu itu dianggap bukan asli karena tidak gagah dan di katakan sebagai silat perempuan (padahal saat itu maestro Cikalong, Raden Haji O. Soleh / Gan Uweh masih ada) Namun penilaian ini malah tidak membuat Guru Besar generasi IV marah, malah dikatakannya, ” keun bae disebut silat awewe oge&#8230;../ biar saja disebut silat perempuan juga” sekaligus menepis keraguan para murid terdahulu, beliau bilang semakin dianggap bukan Cikalong itu menandakan semakin tidak tahunya orang tersebut, maka biarkanlah&#8230;.<br />
Bukan bermaksud menempatkan menerapkan perkataan Guru Besar Raden Haji O. Soleh pada hal ini. Namun alangkah elok dan baik jika beliau yang mengatakan bahwa apa yang telah kami kerjakan ini bukan asli maka sebagai orang yang jauh lebih muda dan sebagai murid dari aliran Cikalong, adalah pantas jika aku juga meminta beliau ini untuk menerangkan Cikalong ”asli” versinya. Begitu senangnya aku berdiskusi aliran Cikalong yang dapat membukakan mata dan hatiku, tidak menepis kemungkinan akupun meminta data dan bagaimana mengenal Cikalong ”asli” nantinya dari beliau ini. Sekaligus meminta data dengan memulai diskusi yang santun dan elegan, aku mencoba menyampaikan hal ini.</p>
<p>Mungkin antara kenal dengan sok kenal itu dekat, tapi antara tahu dengan sok tahu, ahli dengan sok ahli itu jauh dan sangat jauh&#8230;..</p>
<p><em><strong>Air kubangan memang dapat dijadikan alat melihat langit, namun jangan kita mengukur ketinggian langit dari air di kubangan.</strong></em></p>
<p><em>notes of Iwan Setiawan<br />
di kutip dari <a href="http://www.facebook.com/notes/iwan-setiawan/melihat-langit-bisa-lewat-kubangan-air-mengukurnya-jangan/308047761911">facebook Iwan Setiawan</a></em></p>
<p><em> <img class="alignleft" title="Liputan di Acaranya Kedutaan Spanyol" src="http://silatindonesia.com/id/wp-content/uploads/foto.jpg" alt="" width="180" height="134" /></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2010/02/melihat-langit-bisa-lewat-kubangan-air-mengukurnya-jangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pencak Silat dalam Era Kolaborasi dan Komunitas</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2009/12/pencak-silat-dalam-era-kolaborasi-dan-komunitas/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2009/12/pencak-silat-dalam-era-kolaborasi-dan-komunitas/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Dec 2009 10:45:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Liputan Khusus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=504</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin terasa janggal makna dari kolaborasi dalam dunia pencak silat di era modern saat ini, banyak pula kritikan bahkan kecurigaan yang berlebih menanggapi pencak silat dalam kolaborasinya dalam sebuah komunitas. Batasan atau skat-skat yang selama ini menjadi penjara informasi menyebabkan banyak ketertinggalan dalam dunia pencak silat, penggalian informasi sudah sejak lama dilakukan dengan dan oleh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: justify;">Mungkin terasa janggal makna dari kolaborasi dalam dunia pencak silat di era modern saat ini, banyak pula kritikan bahkan kecurigaan yang berlebih menanggapi pencak silat dalam kolaborasinya dalam sebuah komunitas.</p>
<p>Batasan atau skat-skat yang selama ini menjadi penjara informasi menyebabkan banyak ketertinggalan dalam dunia pencak silat, penggalian informasi sudah sejak lama dilakukan dengan dan oleh beragam media sebut saja Majalah maupun media elekronik lainnya.</p>
<p>Batasan-batasan informasi pun semakin diperluas oleh gerakan komunitas dalam pencak silat yang menyebabkan pesilat melakukan kerjasama yang apik, unik dalam menggali dan bertukar informasi tentang pencak silat dalam kaidah kolaborasi.</p>
<p>Sebagai contoh wikipedia adalah salah satu media web yang menggunakan kekuatan kolaborasi ini, setiap orang dari di belahan dunia manapun saling berbagi dan memberi informasi tentang apa yang mereka ketahui dan menjadikan wikipedia sebagai salah satu ensiklopedia terluas dan terlengkap saat ini.</p>
<p>Hal ini dibangun oleh komunitas “open mind” yang menyadari bahwa informasi sangatlah penting bagi kehidupan manusia baik sejarah dan perkembangannya, lalu bagaimana dengan pencak silat?.</p>
<p>Kolaborasi bisa terjadi bila masing-masing individu dalam hal ini pesilat yang telah menyadari bahwa informasi mengenai pencak silat adalah milik umum, apalagi kebenaran informasi akan menjadi tolak ukur karena saling melengkapi satu dengan yang lainnya.</p></div>
<div style="text-align: justify;"><a name="more"></a>Sebagai contoh sebuah aliran yang sulit di telusuri karena ada perguruan silat yang merahasiakan sejarah aliran tertentu, lalu bagaimana informasi tentang kebenaran bisa di ungkapkan?, salah satunya karena sesunggunya informasi adalah milik umum dan apapun yang dirahasiakan atau di tutupi akan tetap kembali menjadi milik umum atau public.</div>
<div style="text-align: justify;">
Dalam fenomena berkomunitas dibutuhkan hal-hal berikut antara lain:<br />
1. Opennes – keterbukaan<br />
2. Sharing – berbagi<br />
3. Action global – bertindak global<br />
4. Peering – kerjasama</p>
<p>Empat syarat inilah yang akan menentukan berkembangnya komunitas dalam menggali pencak silat dalam berbagai aspek dan sejarahnya. Dalam komunitas pola hubungan antar pesilat dibentuk, dan disertai dengan kegiatan, kecendurungan ini akan menghasilkan sebuah fenomena pencak silat menjadi sebuah beladiri yang terjaga, terlindungi, terawat dan terbuka.</p>
<p>Walaupun ada sebagian pesilat yang mengkritik dengan tajam tentang tujuan berkomunitas tapi hal ini tidak akan berlangsung lama, karena umumnya setalah mereka mengetahui, merasakan bagaimana komunitas itu bekerja disinilah kesadaran dan kerbukaannya mulai tumbuh.</p>
<p>Komunitas hadir karena ruang informasi yang sempit dan terbatas, dan situasi ini memang sengaja di ciptakan oleh beberapa perguruan yang sengaja menutup rapat-rapat perguruannya karena ada hal-hal yang tidak ingin diketahui public, padahal kalau mau jujur perguruan tersebut mendapatkan atau mengolah jurus-jurusnya dari aliran yang berkembang saat itu, lalu di kolaborasikan di dalam perguruannya dan jadilah sebuah perguruan yang memiliki jurus-jurus yang handal. Lain halnya bila perguruan tersebut memang terbatas dalam pengelolaannya, sehingga tidak tersedia Sumber daya manusia yang mampu.</p>
<p>Dari sini bisa di tarik kesimpulan bahwa silat bukanlah milik sebuah perguruan tertentu, kewajiban sebuah perguruan adalah menjaga kemurnian alirannya dengan baik dengan memberikan informasi yang benar, bukan di tutupi. Karena dengan menutup diri, informasi akan tersumbat dan menyebabkan orang lain salah dalam memandang perguruan tersebut.</p>
<p>Kini saatnya pesilat harus membuka diri, tidak ada batasan seorang pesilat untuk belajar lebih jauh, berikan informasi yang benar dan catatlah semua sejarah dalam dokumentasi yang baik, jangan sampai silat kita ini terus menerus menjadi anak tiri di negerinya sendiri. (Yanweka)</p></div>
<p><em>Sumber : www.silat.blogsome.com </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2009/12/pencak-silat-dalam-era-kolaborasi-dan-komunitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pencak Silat Indonesia dalam Sea Games 2005 &#8211; Filipina</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2009/08/pencak-silat-indonesia-dalam-sea-games-2005-filipina/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2009/08/pencak-silat-indonesia-dalam-sea-games-2005-filipina/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Aug 2009 02:51:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Liputan Khusus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=259</guid>
		<description><![CDATA[BY : O&#8217;ong Maryono Salam pencak silat Saya baru semalam tiba di Bangkok. Sehabis Sea Games berahir , tgl.5 Des 2006 pagi terus ke Manila , mengadakan pencak silat workshop selama 8 hari di PETA (Philippines Education Teahter Assosiation. Jika di Indonesia seperti teaher KOMA hanya jumlah anggotanya ribuan dan teather ini sangat memiliki pengaruh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BY : O&#8217;ong Maryono</p>
<p>Salam pencak silat</p>
<p>Saya baru semalam tiba di Bangkok. Sehabis Sea Games berahir , tgl.5 Des 2006 pagi terus ke Manila , mengadakan pencak silat workshop selama 8 hari di PETA (Philippines Education Teahter Assosiation. Jika di Indonesia seperti teaher KOMA hanya jumlah anggotanya ribuan dan teather ini sangat memiliki pengaruh kuat dalam percaturan politiek di Filipina, Ferdinan Marcos jatuh karena klompok ini sangat berperan untuk membangunkan masyarakat untuk melawan dictator. Workshop berjalan lancar dan succes dan akan dilanjutkan lagi tahun depan pada bulan july.</p>
<p>Berita sea games khususnya team Indonesia sangat menyedihkan, dengan biaya yang tinggi menggunakan pendekatan kepelatihan individual dengan 8 pelatih. Tidak berhasil &#8230;&#8230;.. Pencak silat olag raga hanya berhasil membawa pulang 2 emas saja yaitu Ronny dan Haris yg keduanya pesilat senior dan berasal dari Jawa Tengah.</p>
<p>Pencak Silat seni berhasil menggondol 3 emas saja. Pada hal kesehariannya pencak silat seni ini selalu didiskrimasikan dalam segala hal. Cukup dengan 5 emas IPSI membawa pulang , dengan tidak mencapai target sebanyak 6 emas sesuai dengan permintaan KONI. Padahal pelatih kepala Johansyah Lubis sudah bekoar di KOMPAS jangan kan 6 emas 8 emas kemugkinan besar pasti ditangan. Menurut pengamatan saya pesilat Indon nyalinya kecil&#8230;..sudah takut duluan dengan pesilat luar negeri. Khususnya pesilat Indon sudah<br />
kena Vietcyndrom gemetar dan takut tidak dapat tidur mendengar nama Vietnam. Coba teman teman pikirkan bagaimana memecahkan masalah ini dominasi pencak silat Vietnam. Silahkan anda pikirkan harus kah Indonesia sebagai negara pendiri terus dapat mendominasi disegala event pencak silat.</p>
<p><strong>hasil keseluruhan perolehan medali emas di Sea Games Cebu Filipinas 2005:</strong></p>
<p>Class A putra dimenangi oleh Abang Erdie Faizeri (Malaysia)<br />
Class B putra dimenangi oleh Tran Van Toan (Vietnam)<br />
Class C putra dimenangani oleh Nguyen Ba Trinh (Vietnam)<br />
Class D putra dimenangani oleh  Ahmad Shani Bin Zailudin(Malaysia)<br />
Class E putra dimenangani oleh Haris Nogroho(Indonesia)<br />
Class F putra dimenangani oleh Marniel Dimia (Filipina)<br />
Class G putra dimenangani oleh Ronny Saifullah(Indonesia)<br />
Class H putra dimenangani oleh MOh.Imran bin Abdul Rachman(Singapore)<br />
Class I putra dimenangani oleh Nguyen Van Hung(Vietnam)</p>
<p>Class A putri dimenangi oleh Le Thi Hang (Vietnam)<br />
Class B putri dimenangi oleh Huynh Thi Thu Hong (Vietnam)<br />
Class C putri dimenangi oleh Trinh Thi Nga (Vietnam)<br />
Class D putri dimenangi oleh Nguyen Thi Phuong Thuy (Vietnam)</p>
<p>Khususnya class putri mereka sapu habis&#8230;&#8230;.kemana pesilat putri Indonesia, apa mau tiduran terus atau pikir kenaikan bensin.<br />
Saya sebagai ex pesilat Indonesia mengkritik pembinaan pencak silat di tanah air, saudara saudara pendekar di tanah air, teknik pesilat Vietnam adalah sederhana, hanya kekuatan dan stamina mereka tidak terkalahkan. Yang perlu dikagumi adalah kecepatan dan ketepatan dalam melontarkan serangan , nampak dari penampilannya tidak pernah takut maupun sangsi.<br />
Itu yang tidak dipunyai oleh kebanyakan pesilat Indon.<br />
Dear pendekar tolong pikirkan masa depan pencak silat Indonesia.</p>
<p>Ciao</p>
<p>O&#8217;ong Maryono<br />
silatindonesia.com</p>
<p><strong>Tanggapan dan opini</strong><br />
THARYANA</p>
<p>Salm Pencak Silat<br />
Vietnam punya masa silam dalam peperangan yang mempu mengalahkan negara adi- daya -USA. Itu suatu spirit bangsa asia yang mempu menggulingkan negara super power, mereka yang akan membangun kemashuran reputasinya di dunia international.</p>
<p>Saya kira strategy atau taktik perang bangsa Vietnam hampir sama dalam Sea Games di Manila, jadi perlu belajar dari pengalaman mereka. Bahkan kalau tidak salah seorang pelatihnya dari Indonesia. Bisa dibayangkan pelatihnya akan menjadi wise man yang akan disanjung di negara Vietnam, kita perlu bangga adanya beliausebagai misi bangsa yang mampu menebarkan ilmu silat karenanya.</p>
<p>Bangsa Indonesia yang ciut sebelum tempur, baru mendengar nama pesilat Vietnam, seharusnya dihilangkan sifat yang demikian itu, dalam arti lain<br />
sudah mengurangi beberapa persen saja tenaganya (dalam arti luas konsentrasinya hilang untuk bertanding).</p>
<p>Padahal dari kaca-masa kita dari USA toh mereka saudaranya juga kalah menang anggap saja silaturahmi. Masalah biaya cukup besar untuk melatih seorang atlit anggap saja bukan jadi persoalan toh yang nanggung negara kita yang kaya.</p>
<p>Kembali kejaman Yunani pesta olah raga diperuntukan untuk seni olah tubuh bagi kaum- kaum yang kaya / bangsawan dengan acara ritual yang sangat menarik di dojo Acropolis dan Delphy saya sempat mengunjungi dua tempat tersebut di Greek.Yang sekarang menjadi pesta olah raga Olimpiade antar kentinen, untuk Asia Sea Games adalah peniruan dari pesta para olah-gerak, seni-gerak berupa gulat dll. yang persiapanya penuh ritual menurut mitos Yunani, demikan juga dalam presentasinya.</p>
<p>Saya dengar pesilat pd juga gagal yang diwakili dari Bali, belajarlah dari pengalaman orang lain, menimba ilmu tidak akan pernah habis walaupun sampai badan kita sudah dekat ke bau tanah. Amin&#8230;&#8230;Bukan &#8211; kalah dan menang yang penting silaturahmi bukankah itu tujuan akhir dari pesta olah raga. Kalau ada diskriminasi dari oknum tertentu yang namanya manusia punya empat sifat emosi seunneu-taneuh-cai-<br />
hawa, artinya dia belum ngerti apa arti silaturahmi.</p>
<p>Salam  Yana<br />
www.silatpdusa.com</p>
<p>From: yanweka Date: Sun Dec 18, 2005  11:17 pm<br />
Subject: Re: MInta kabar terakhir Kejuaraan silat di Filipina</p>
<p>Kami mengucapkan terima kasih atas infonya Pak Oong yang secara langsung mengikuti kegiatan Sea Games di Filipina beberapa waktu lalu.</p>
<p>Sayang IPSI tidak menyediakan kami tiket untuk menyaksikan secara langsung kejuaraan Sea Games di Filipina he he he he. ( Bisa tidak<br />
ya?.???)</p>
<p>Melihat penampilan atlit Silat Indonesia yang kurang bagus akhir-akhir ini terutama pada kejuaraan di tingkat international sebenarnya hati kita ikut sedih dan prihatin, ada fenomena apakah di atlit-atlit kita.</p>
<p>Melihat latihan meraka sesungguahnya meraka sdh di siapkan baik fisik dan mental, bila hanya melihat atlit Vienam saja sdh gentar, tentu ada tanda tanya besar yang semestinya harus di telaah lebih<br />
baik, apakah atlit hanya di jejeli / di ajarkan materi teknik semata dan melupakan aspek mental ?</p>
<p>Padahal bertanding mental yang prima merupakan modal utama dibandingkan teknik yang bagus. Sebangus teknik atlit tersebut bila mentalnya kurang, hasilnya tentunya adalah kosong.</p>
<p>Dewasa ini Pembinaan Terhadap atlit yang dilakukan oleh IPSI terutama saat TC / Training center seperti apa?</p>
<p>Tentunya kita juga harus mengetahui kwalitas dari atlit tersebut, apalagi di terjunkan untuk membela nama bangsa, baru melihat penampilan atlit vietnama saja sdh gentar sebaiaknya atlit tersebut<br />
tidak usah di ikutkan pada kejuraan yang akan datang.</p>
<p>Atau jangan-jangan IPSI sdh tidak memiliki Atlit yang bagus lagi krn kurangnya SDM, Hahaha ini mungkin saja, karena perhatian IPSI terhadap Kegiatan silat di Indonesia seperti tidak terprogram dengan<br />
baik.</p>
<p>Kalau hanya jago kandang tentu semua orang bisa, namun seharusnya jadilah ATLIT yang sesunggunya. Memang TIDAK mudah, sayapun merakananya, namun sekali lagi IPSI harus berani memilih Atlit yang<br />
berjiwa Pendekar.</p>
<p>BTW, Ok Untuk IPSI lain kali belajarlah terbuka ada apa dengan Tubuhmu yang gembul itu. Kita mengkritik bukan karena benci tapi Karena saya sayang kami terhadap pencak silat.</p>
<p>Oke IPSI selamat bekerja lebih baik lagi, Salam Indonesia, semangat Terus&#8230;:)</p>
<p><strong>www.silatindonesia.com</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2009/08/pencak-silat-indonesia-dalam-sea-games-2005-filipina/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DEMO SILAT DI SENAYAN CITY DAN SILATURAHMI SAHABAT SILAT</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2009/06/demo-silat-di-senayan-city-dan-silaturahmi-sahabat-silat/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2009/06/demo-silat-di-senayan-city-dan-silaturahmi-sahabat-silat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Jun 2009 02:21:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rimbang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cover Story]]></category>
		<category><![CDATA[Liputan Khusus]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Silat]]></category>
		<category><![CDATA[silaturahim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=170</guid>
		<description><![CDATA[Senayan City, 22 Juni 2009 bertepatan dengan Ulang Tahun Jakarta Berdasarkan informasi yang diposting seorang sahabat di sahabatsilat.com, malam ini akan ada acara martial art journy di Senayan City. Yang menarik dan membuat para sahabatsilat datang berbondong-bondong adalah akan tampilnya beberapa alairan silat tradisional dari betawi. Mereka adalah MUSTIKA KWITANG, SABENI, BEKSI, CINGKRIG. Benar saja, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="snap_preview">
<p>Senayan City, 22 Juni 2009 bertepatan dengan Ulang Tahun Jakarta<br />
Berdasarkan informasi yang diposting seorang sahabat di sahabatsilat.com, malam ini akan ada acara martial art journy di Senayan City. Yang menarik dan membuat para sahabatsilat datang berbondong-bondong adalah akan tampilnya beberapa alairan silat tradisional dari betawi. Mereka adalah MUSTIKA KWITANG, SABENI, BEKSI, CINGKRIG.<br />
Benar saja, setelah pembukaan pukul 18.30 yang diawali dengan sedikit hiburan musik dan lagu, demo bela diri dimulai. Penampilan pertama adalah silat Mustika Kwitang yang menyajikan jurus dan teknik, serta demo aplikasi yang sangat menarik dengan menggunakan beberapa jenis senjata tajam.<br />
Selanjutnya aliran silat Sabeni dengan jurus khas nya Kelabang Nyebrang, jurus dan aplikasi ditampilkan. Sangat unik, indah dan praktis. Setelah itu Silat Betawi yang sudah sangat terkenal, BEKSI. Dengan Kostum yang eye catching, merah menyala, ditampilkan keindahan jurus2 beksi, gerakan khas beksi yang sangat unik, indah, cepat dan keras. Tidak ketinggalan pula demo aplikasi yang sangat kentara tidak direkayasa, istilah orang betawi “maen nye bebeneran banget”.<br />
Setelah penampilan beberapa jenis bela diri lainnya, demo silat betawi ditutup dengan atraksi Cingkrig. Aliran silat Betawi yang sangat melegenda ini ditampilkan begitu atraktif. Cingkrig yang diajarkan dan diturunkan oleh Kong Goning ini dibawakan oleh Pak TB Bambang yang merupakan murid dari Kong Usup Utay, di mana Kong Usup Utay adalah salah seorang murid langsung Kong Goning. Demo jurus oleh Pak Bambang, kemudian dilanjut oleh demo aplikasi oleh dua orang murid nya, dan diakhiri dengan penampilan Pa Bambang “besambut” lawan bang Lutfi.<br />
Acara ini menarik karena dua hal : di adakan di salah satu mal termewah di jakarta oleh salah satu televisi swasta, dan silat tradisional telah makin menunjukkan jati diri nya untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri<br />
SILATURAHMI SAHABAT SILAT<br />
Setelah menonton demo bela diri, kami para sahabat silat yang hadir melanjutkan obrolan santai ke food court. Obrolan santai dengan ditemani es teh manis ini ternyata menghasilakan beberapa keputusan besar antara lain : Silaturahim pecinta dan pelestari silat akan diadakan pada pertengahan bulan juli di Padepokan Pencak Silat TMII dengan agenda diskusi dan evaluasi tiga tahun FP2ST, atraksi seni dan bela diri silat. Atraksi seni seni ini akan menampilkan ibingan silat. Acara dan agenda lainnya sedang digodok.<br />
Ide lain yang muncul adalah mengadakan SILAT CAMPAIGN. Silat campaign dengan motto, BELUM KENAL INDONESIA BILA BELUM MENGENAL SILAT ini mempunyai program SATU HARI SATU JURUS. Rencana nya acara ini akan diadakan di pusat-pusat keramaian seperti di Bundaran HI pada setiap car free day, Senayan, atau tempat2 lainnya. Tujuan dari kegiatan ini adalah jelas mengenalkan dan memasyarakatkan silat sebagai identitas bangsa. Teknis dan detil kegiatan ini sedang dalam penggodokan.<br />
Demikian sekilas catatan yang dapat saya rangkum pada pertemuan tadi malam. Kekurangan nya mohon dikoreksi dan ditambahkan oleh sahabat lainnya.</p>
<p>thx to :<br />
Bp Bambang Sarkoro, Uda Alda, Bang Ajad, kang Kiki, GAn Ery, Om Lury, Kang Ian, MAs Herman, MAs Taufan, MAs Arifin, MAs Pram, MAs Pras, MAs Eka, MAs Edwin</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2009/06/demo-silat-di-senayan-city-dan-silaturahmi-sahabat-silat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MAEN GOLOK ala SELIWA</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2009/06/maen-golok-ala-seliwa/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2009/06/maen-golok-ala-seliwa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Jun 2009 06:36:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cover Story]]></category>
		<category><![CDATA[Liputan Khusus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=171</guid>
		<description><![CDATA[…Sebilah golok berkelabat dengan cepat, hanya menyisakan kilau’an dari badan golok yang putih, susah diikuti dengan pandangan mata. Membentuk cahaya yang membungkus tubuh pemegangnya, berputar-putar, membacok, mengiris, dari atas kebawah, dari samping ke kanan, terkadang bersembunyi di ketiak, terlipat di tangan dan seterusnya; seperti tarian ular kobra dalam irama terompet. Dan,.. bim salabim..!, golok sudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span></p>
<style>
st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
</style>
<p><![endif]--> <!--[if gte mso 10]></p>
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
	mso-para-margin:0in;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p><![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left;"><em>…Sebilah golok berkelabat dengan cepat, hanya menyisakan kilau’an dari badan golok yang putih,<span> </span>susah diikuti dengan pandangan mata. Membentuk<span> </span>cahaya yang membungkus tubuh pemegangnya, berputar-putar, membacok, mengiris, dari atas kebawah, dari samping ke kanan, terkadang bersembunyi di ketiak, terlipat di tangan<span> </span>dan seterusnya; seperti tarian ular kobra dalam irama terompet. <span> </span>Dan,.. bim salabim..!, golok sudah berpindah dari tangan kanan ke kanan kiri si pemegang golok, tanpa tahu kapan proses perpindahannya, nyaris tidak terlihat ..dan hoplah!..kini sudah berpindah lagi ke tangan kanan sambil dengan lincah bergerak, melangkah ke segala arah mengayunkan jurus-jurus seliwa yang cepat, tangkas dan<span> </span>telengas. </em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left;"><strong><em>Inilah ilmu golok khas betawi, Golok Seliwa</em></strong><em>. </em></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Adegan ini bukan terjadi di film, bukan juga dalam cerita silat fiksi; tapi sungguh ada dan nyata, bahkan dapat disaksikan secara langsung pada sebuah acara bertajuk ‘Workshop Golok Seliwa’. Workshop yang berlangsung pada hari minggu yang cerah, 20 Juni 2009, di bilangan Blok S, Jakarta Selatan ini diselenggarakan atas kerjasama antara Perguruan Golok Seliwa dan Komunitas Sahabat Silat yang biasanya mangkal di dunia maya (<a href="http://www.silatindonesia.com/">www.silatindonesia.com</a> dan <a href="http://www.sahabatsilat.com/">www.sahabatsilat.com</a> ). Lokakarya atau workshop yang dihadiri lebih dari 50 orang ini termasuk beberapa anak-anak, memang dimaksudkan untuk mengangkat kembali pencak silat khususnya pencak silat tradisional agar semakin dikenal dan dicintai oleh bangsa Indonesia.</p>
<p class="MsoNormal">
<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--> &lt;!&#8211;  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:&#8221;"; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;; 	mso-fareast-font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} &#8211;&gt; <!--[if gte mso 10]></p>
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
	mso-para-margin:0in;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p><![endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Mereka yang hadir pun berasal dari berbagai kalangan; laki-laki, perempuan, tua-muda, ada yang tertarik pada<span> </span>pencak silat tapi belum ada latar belakang beladiri apapun, professional muda, eksekutif di kantornya, karyawan swasta, pengangguran, pensiunan PNS, ibu rumah tangga, praktisi beladiri, pendekar hingga sesepuh pencak silat; semuanya berbaur dengan akrab, ramah, penuh persahabatan dan tanpa keinginan untuk menonjolkan diri masing-masing.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--> &lt;!&#8211;  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:&#8221;"; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;; 	mso-fareast-font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} &#8211;&gt; <!--[if gte mso 10]></p>
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
	mso-para-margin:0in;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p><![endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Tuan rumah pun yaitu Bang Husin, pewaris ilmu Golok Seliwa yang sudah langka ini, terlihat menyapa para tamunya dan berbaur dari satu tamu ke tamu yang lainnya dengan ramah dan penuh kekeluargaan.</p>
<p class="MsoNormal"><span style="text-decoration: underline;"><span style="text-decoration: none;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="text-decoration: underline;">Menjadi Tuan di Rumah Sendiri</span></strong></p>
<p class="MsoNormal">Acara workshop ini dibuka oleh moderator Mas Ekohadi, mewakili dari Komunitas Sahabat Silat, yang dalam sambutanya memberikan apresiasi pada pencak silat tradisional khususnya Seliwa yang sudah mau membuka diri dan bahkan mengadakan acara workshop untuk kalangan umum ini demi kelestarian pencak silat tradisional khususnya aliran Golok Seliwa .<span> </span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--> &lt;!&#8211;  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:&#8221;"; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;; 	mso-fareast-font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} &#8211;&gt; <!--[if gte mso 10]></p>
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
	mso-para-margin:0in;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p><![endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><em>(Dalam pict4, paling kiri berbaju putih : Ekohadi sedang membuka acara.</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>Pada pict 5, dari kiri Bang Edwel pendekar silek harimau, di tengah Bang Husin dan yang paling kanan adalah Pak Bambang Sarkoro)</em></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Setelah itu sambutan juga diberikan oleh Pak Bambang Sarkoro, selaku sesepuh dari Komunitas Sahabat Silat, yang mengungkapkan bahwa<span> </span>keberadaan kita semua (komunitas sahabat silat, dll) adalah karena keprihatinan atas nasib, silat tradional khususnya, yang semakin tersisih bahkan nyaris punah serta kurang dikenal oleh generasi penerusnya. Padahal pencak silat, selain warisan mulia dari leluhur yang harus dilestarikan, memiliki demikian banyak kekayaan budaya dan aspek pembanguan jiwa manusia;<span> </span>mulai dari aspek fisik, olahraga, mental spiritual, seni budaya dan juga kecerdasan-kecerdasan lainnya. “<em>Tujuan kita adalah agar pencak silat menjadi tuan di rumahnya sendiri! Dengan semakin dikenal dan dicintai oleh kaum mudanya”,</em> demikian Pak Bambang menegaskan sambutannya.<span> </span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><strong><span style="text-decoration: underline;">Asal Usul Seliwa <span> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal">Dalam perbincangan informal penulis, sebelum acara dimulai, Bang Husin membeberkan tentang ilmu Golok Seliwa yang langka ini. Menurut Bang Husin,<span> </span>salah satu sebab mengapa nama Seliwa dipakai<span> </span>adalah <span> </span>karena kebanyakan gerakan terakhir dalam jurus ilmu golok ini berakhir dengan Seliwa yaitu posisi kaki kiri didepan dengan tangan kanan di depan (posisi menyilang antara tangan dan kaki).<span> </span>Bang Husin sendiri mendapatkan<span> </span>ilmu ini dari keluarganya, yaitu dari ayahnya (babe—istilah betawi), Bpk Husni Embot. Sejak usia 15 tahun dia digembleng oleh babenya untuk ilmu Golok Seliwa dan beladiri tradisional<span> </span>lainnya; setelah itu dia juga sempat disuruh<span> </span>oleh ayahnya untuk berguru pada beberapa pihak lainnya.<span> </span>Babe’nya ini belajar dari kakek (engkong)-nya. <span> </span>Soal siapa guru di atas kakek’nya, Bang Husin sendiri mengaku tidak begitu tahu. Karena memang dulu waktu belajar tidak begitu banyak dikupas soal sejarah keilmuan aliran ini. Hingga praktis silsilah kelimuan berhenti di dua generasi di atas Bang Husin. Untuk saat ini praktis dapat dikatakan bahwa Bang Husin seoranglah yang masih memegang dan menguasai ilmu Golok Seliwa.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--> &lt;!&#8211;  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:&#8221;"; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;; 	mso-fareast-font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} &#8211;&gt; <!--[if gte mso 10]></p>
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
	mso-para-margin:0in;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p><![endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><em>(Ket : pict 6 tampak Bang Edwin di sebelah kanan dan Mas Harjanto di sebelah kiri sedang memperagakan ilmu Golok Seliwa..</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>Pada pict 7 ; tampak Mas Rudy yg baru belajar 3 bulan bermaen golok)</em></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Bang Husin lalu <span> </span>bertutur bahwa <span> </span>ilmu ini ya “maen golok”. Karena memang pelajaran untuk peguasaan golok adalah yang utama. Namun demikian pada tahap awal tetap saja akan diajarkan terlebih dahulu ilmu tangan kosong beberapa jurus, sebagai dasar dari permainan Golok Seliwa. Setelah menguasai jurus tangan kosong, murid baru diperbolehkan memegang golok dalam berlatih.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Untuk ukuran golok bagi seorang murid haruslah disesuaikan dengan murid itu sendiri. “Panjangnya satu jengkal masing-masing, ditambah 3 jari (direndeng). Itu untuk badan golok saja, tidak termasuk gagangnya”, kata Bang Husein. Ketika menjelaskan pentingnya ukuran golok yang sesuai untuk masing-masing murid. Hal ini dimaksudkan agar ketika bermain golok, senjata tajam ini tidak melukai pemainnya, karena ukuran panjang yang berlebih, ketika misalnya golok dilipat oleh tangan atau dilipat ke ketiak. Lebih bagus lagi, lanjut Bang Husin, jika goloknya benar pembuatannya yaitu lebih berat berada di bagian depan golok (dekat ujungnya) dan bukan di gagang. Inilah kekhasan golok betawi. Nantinya, ujar bang Husin, setelah menguasai ilmu ini dengan golok yang sesuai dengan kondisi masing-masing <span> </span>ini –istilahnya sudah mengenal sifat golok—akan lebih mudah memainkan beragam jenis dan panjang golok. “Asal kita sudah tahu dan kenal dengan sifat golok”, tandas Bang Husin.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><!--[if !mso]></p>
<style>
v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}
</style>
<p><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--> &lt;!&#8211;  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:&#8221;"; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;; 	mso-fareast-font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} &#8211;&gt; <!--[if gte mso 10]></p>
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
	mso-para-margin:0in;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p><![endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="text-decoration: underline;">Makna Seliwa</span></strong></p>
<p class="MsoNormal">Dalam workshop, pada acara pemaparan tentang ilmu golok seliwa , murid senior Perguruan Golok Seliwa, Bang Edwin mengungkapkan lebih dalam mengenai makna dari seliwa .<span> </span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Seliwa <span> </span>ternyata memiliki banyak arti yang mendalam. Pertama-tama, seliwa menunjukkan posisi fisik/tubuh yang menyilang antar tangan dan kaki. Misalnya kaki kiri di depan maka tangan kanan di depan dalam sikap pasang atau pukulan; demikian juga sebaliknya. Bahkan posisi salah satu tangan <span> </span>yang terbuka dan salah satunya menutup pun sudah dapat dikategorikan sebagai seliwa.</p>
<p class="MsoNormal">Seliwa juga dapat berarti tenaga yang bersilang. Misalnya dalam posisi kuda-kuda dengan kaki kanan dan tangan di depan; tumpu kekuatan tenaga ada di kaki kiri dan tangan kanan, ini juga sudah seliwa. Arah tenaga/energi yang berlawanan.</p>
<p class="MsoNormal">Arah yang hendak dituju juga dapat dimaknai sebagai seliwa jika untuk mencapainya tidak langsung (lurus) ke sasaran namun berputar, secara tidak langsung, melingkar atau ke bawah dulu baru ke atas, dan seterusnya. Tidak linier dan tidak satu arah tapi kaya akan berbagai kemungkinan arah. Dan yang terakhir seliwa dalam rasa. Rasa ke dalam diri dulu baru rasa ke luar diri.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Secara ringkas ada hal prinsip beladiri dalam ilmu Golok Seliwa yaitu amankan dulu (diri/posisi), bongkar dan habiskan.<span> </span>Penerapannya memang lebih mudah dilihat dalam praktek. Semisal ada lawan yang memegang leher kita, maka kita amankan dulu diri/leher kita, bongkar cekikaknya dan habiskan lawannya. Dalam prakteknya biasanya tiga hal ini bahkan dapat terjadi dalam satu gerakan saja.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><strong><span style="text-decoration: underline;">Jurus</span></strong><span style="text-decoration: underline;"> <strong>Seliwa</strong> </span></p>
<p class="MsoNormal">Untuk jurus dalam Seliwa, antara lain, ada yang namanya Pu’un (pohon) ada 6, jurus kembang ada 6; dan jurus gabungan ada 1; termasuk cara memegang senjata pada berbagai posisi, mencabut golok dari sarungnya, cara memutar, melipat, menyerang, berpindah tangan dan memulangkan kembali golok ke sarungnya tanpa melihat<span> </span>proses ini dengan pandangan mata.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 15.6pt;">Dalam setiap Jurus terkandung 8 unsur yaitu : <span style="color: black;"><br />
1. Sikap badan menghadap lurus (percaya pada yang Satu, untuk Satu Tujuan, dll);<br />
2. ada 2 bentuk tenaga yaitu tenaga.kosong dan isi (atau kombinasi setengah setengah)..dengan ibarat: kalau suami keluar rumah, harus meninggalkan bekal di rumah agar ar anak istri tidak <span> </span>kelaperan..<!--[if gte vml 1]><v:shapetype  id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" o:spt="75" o:preferrelative="t"  path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"> <v:stroke joinstyle="miter" /> <v:formulas> <v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0" /> <v:f eqn="sum @0 1 0" /> <v:f eqn="sum 0 0 @1" /> <v:f eqn="prod @2 1 2" /> <v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth" /> <v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight" /> <v:f eqn="sum @0 0 1" /> <v:f eqn="prod @6 1 2" /> <v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth" /> <v:f eqn="sum @8 21600 0" /> <v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight" /> <v:f eqn="sum @10 21600 0" /> </v:formulas> <v:path o:extrusionok="f" gradientshapeok="t" o:connecttype="rect" /> <o:lock v:ext="edit" aspectratio="t" /> </v:shapetype><v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" alt="Smiley"  style='width:14.25pt;height:14.25pt'> <v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\yk3233\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.gif" mce_src="file:///C:\DOCUME~1\yk3233\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.gif"   o:href="http://sahabatsilat.com/forum/Smileys/default/0100-smile.gif" /> </v:shape><![endif]--><!--[if !vml]--><img src="file:///C:/DOCUME~1/yk3233/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" alt="Smiley" width="19" height="19" /><!--[endif]--><br />
3. ada 3 wadah yang berisi tenaga yaitu .kaki, badan, tangan<br />
4. ada 4 cara tata cara pergerakan yakni: gerak hati, gerak badan, gerak kaki, gerak tangan dan ada 4 arah sasaran dasar.<br />
5. 4+1 gerak golok untuk 4 sehat 5 sempurna;<br />
6. Puun dan kembang masing memiliki 6 jurus;<br />
7. Setiap jurus Puun ada 7 langkah..<br />
8. Sampurna&#8230;(bulet semua sisi kayak angka 8 ini)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 15.6pt;">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 15.6pt;"><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span></p>
<style>
st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
</style>
<p><![endif]--> &lt;!&#8211;  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Wingdings; 	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:&#8221;"; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;; 	mso-fareast-font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} &#8211;&gt; <!--[if gte mso 10]></p>
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
	mso-para-margin:0in;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p><![endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Dalam belajar ilmu golok seliwa para praktisinya memang diminta untuk bersikap seperti bayi yang baru lahir; menyimpan dulu semua konsep/ketrampilanlainnya dan bersedia mengikuti contoh, bimbingan serta arahan dari perguruan. Kendari demikian, pada proses selanjutnya olah pikir juga akan mulai diterapkan<span> </span>dalam praksis beladiri atau permainan golok. Dilanjutkan dengen olah rasa ; dengan mengenal rasa, dan segala pernik-perniknya; yang kesemua hal ini diharapkan akan menumbuhkan kebijaksanaan yaitu niat yang luhur dan murni dari hati.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><strong><span style="text-decoration: underline;">Golok adalah bagian dari Diri </span></strong></p>
<p class="MsoNormal">Berbeda dengan kebanyakan konsep dalam beladiri<span> </span>lainnya. Senjata (golok) dalam Seliwa bukanlah perpanjangan dari tangan. Golok adalah bagian dari badan, bagian dari diri kita.<span> </span>Sehingga diharapkan bermain golok adalah bagian dari diri dengan segala atributnya.</p>
<p class="MsoNormal">Untuk lebih menjelaskan lagi konsep ini; Bang Edwin pun memberi contoh langsung pada peserta workshop. Katakanlah ada sebuah situasi dimana tangan kita yang memegang golok dapat dipegang dan dikunci oleh lawan sehingga menjadi ‘mati’ dalam makna beladiri. Karena golok adalah bagian tubuh praktisinya; maka bagian tubuh lainnya dapat membantu untuk meng’hidup’kan kembali golok dengan melakukan baik serangan balasan ataupun bongkar’an terhadap diri lawannya. Dengan demikian karena golok adalah satu kesatuan dengan tubuh atau dapat dikatakan sebagai bagian dari diri; maka interaksi dan<span> </span>juga gerakan golok juga tergantung dari pohon/tubuh atau diri praktisinya. Tidak peduli jika tangan praktisinya sudah ‘mati’ terkunci, selama masih ada bagian diri yang bisa meng’hidup’kan atau selama pu’un atau diri/badan masih bisa hidup maka selama itu pula golok Seliwa akan bisa tetap bisa ‘hidup’.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><strong><span style="text-decoration: underline;">Praktek ber-golok</span></strong></p>
<p class="MsoNormal">Tidak hanya mendengar ulasan tentang Seliwa ataupun sekedar melihat para praktisi seliwa memainkan golok; peserta workshop diajak untuk merasakan langsung keampuhan <span> </span>permainan golok ala Seliwa. Acara ini dilakukan selepas istirahan siang dan bertempat di lantai 2 tempat pertemuan tersebut yang adalah sebuah <span style="color: black;">Madrasah Haji Tajjudin bin Haji Syahroni.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;">Latihan ini pun dimulai dengan pengenalan dan praktek jurus tangan kosong dari Suliwa yang dicontohkan langsung oleh Bang Husin, dengan didampingi oleh para murid seniornya yaitu Bang<span> </span>Edwin, Mas Harjanto Pramono/ipam, Bang Janu, Mas Rudy, dan masih banyak senior lainnya; yang penulis sendiri kurang hapal namanya </span><span style="font-family: Wingdings; color: black;"><span>J</span></span><span style="color: black;"> &#8211;sorry ya&#8211;. Terlihat semua peserta tampak antusias dalam menjalankan jurus-demi jurus tangan kosong.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;">Memang jurus dalam seliwa <span> </span>yang diberikan memiliki tingkat kesulitan masing-masing.<span> </span>Bang Husin sendiri<span> </span>sempat memainkan beberapa jurus sebagai contoh. Terlihat gerakannya sangat cepat, tegas tapi lentur dan siap dengan banyak kemungkinan perubahan. Seorang anggota Seliwa membisiki penulis bahwa kekhasan Golok Seliwa diantaranya adalah permainan goloknya yag cepat dan tegas ini, serta perpindahan golok ke tangan yang lainnya (kanan/kiri) yang tidak terlihat atau <span> </span>nyaris tidak dapat terdeteksi oleh penonton, berikut <span> </span>cara memasukkan golok ke sarungnya yang dilakukan dengan mengandalkan rasa dengan <span> </span>tanpa melihat ke golok/sarung.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;">Dan tibalah saatnya untuk berlatih golok berdasarkan jurus tangan ksong tadi. Penulis sendiri sebetulnya tidak biasa memegang golok dan ada rasa ‘ngeri dan seram’ jika memegang atau melihat golok di tangan orang lain. Hal ini mungkin dirasakan juga oleh sebagian peserta yang belum memiliki latar belakang beladiri. Dalam memandang golok memang agak menakutkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;">Namun seiring berjalannya waktu terlihat bahwa memang dalam ilmu seliwa, golok adalah maen golok. Jadi peserta memang seakan begitu asyik bermain-main dengan golok walaupun golok yang<span> </span>penulis pegang hanyalah golok tumpul ; karena belum berani memegang golok yang tajam; seperti miliki mas rudy alias keentup tawon yang<span> </span>mampu mengiris kertas dengan hasil yang sama<span> </span>dihasilkan oleh ketajaman silet…wuiihhh…bagi penulis<span> </span>memang masih terasa agak mendebarkan jantung. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;">Lama kelamaan golok (tumpul </span><span style="font-family: Wingdings; color: black;"><span>J</span></span><span style="color: black;"> ) tidak lagi menakutkan malah menjadi sesuatu yang menyenangkan untuk diolah, digerakan dan mulai mendapat bayangan dengan apa yang dimaksud dengen golok adalah bagian dari tubuh; bahwa seliwa<span> </span>adalah maen golok.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;">Latihan tidak hanya melibatkan golok, salah seorang murid senior Bang Husin yaitu Mas Harjanto (alias ipam atawa mantrijeron, betul gak ni namanya?—maaf ya kalo salah) berbaik hati berbagi satu dua teknik pisau ; langsung dalam sebuah aplikasi praktis menghadapi serangan pisau dan melakukan serangan dengan pisau.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="text-decoration: underline;"><span style="color: black;">Penutup<span> </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;">Menjelang sore acarapun disudahi dengan harapan terus bergelora untuk semakin melestarikan budaya luhur bangsa pencak silat tradisional. Sebab memang sebagai bangsa Indonesia, kurang lengkap rasanya jika belum mengenal dan mencintai budayanya sendiri, pencak silat. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;">Jangan mengaku orang Indonesia kalau belum kenal pencak silat!&#8230;:)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;">Kenalilah pencak silat walau hanya satu jurus. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;">“Satu Jurus, Satu Hari”, untuk kelestarian budaya bangsa, warisan mulia dari leluhur kita ini. Inilah salah satu bukti nyata bahwa <span> </span>kita mencintai bangsa Indonesia,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;"><span> </span>mencintai tanah air dan tumpah darah Indonesia..</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;">Jakarta</span><span style="color: black;">, </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;">24 juni 2009</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;">Ian Samsudin </span></p>
<p class="MsoNormal">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2009/06/maen-golok-ala-seliwa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gerak Gulung, Silat Tua yang tetap terjaga</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2008/12/gerak-gulung-silat-tua-yang-tetap-terjaga/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2008/12/gerak-gulung-silat-tua-yang-tetap-terjaga/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Dec 2008 15:01:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aliran Silat]]></category>
		<category><![CDATA[Cover Story]]></category>
		<category><![CDATA[Liputan Khusus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=130</guid>
		<description><![CDATA[Dari ratusan aliran silat di Nusantara tidak semuanya muncul kepermukaan, bahkan hingga kini masih sebagian kecil yang bisa terungkap dan membuka diri, salah satunya silat Gerak Gulung Budi Daya ( Gerak Gulung) yang berusaha memperkenalkan diri melalui kegiatan Workshop dan diskusi yang di selenggarakan oleh Komunitas Silat Indonesia dan Sahabat Silat pada Sabtu 20 Desember [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span></p>
<style>
st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
</style>
<p><![endif]--> <!--[if gte mso 10]></p>
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
	mso-para-margin:0in;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p><![endif]--></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Dari ratusan aliran silat di Nusantara tidak semuanya muncul kepermukaan, bahkan hingga kini masih sebagian kecil yang bisa terungkap dan membuka diri, salah satunya silat Gerak Gulung Budi Daya ( Gerak Gulung) yang berusaha memperkenalkan diri melalui kegiatan Workshop dan diskusi yang di selenggarakan oleh Komunitas Silat Indonesia dan Sahabat Silat pada Sabtu 20 Desember 2008 di Teater Utan Kayu Jakarta Timur.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;"><img src="http://silatindonesia.com/id/wp-content/uploads/2008/12/ggbd2.png" alt="" /></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Tepat Jam 9.30 wib Workshop di mulai dengan sambutan dari penitia dan sesepuh Komunitas yaitu Bapak Bambang Sarkoro dan Bapak Eddy M Nalapraya<span> </span>yang menyempatkan diri Hadir. “Saya hadir jauh-jauh dari Cipayung<span> </span>karena saya masih perduli dengan pencak silat tradisional”, kata Eddy M Nalapraya memulai sambutannya, Ia pun berpesan untuk menjaga silat tradisional ini tetap di jaga kelestariannya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">“Biasanya kami mengadakan kegiatan seperti ini di Pedepokan Nasional Pencak Silat TMII Jakarta, kali ini kita coba di tempat lain yang lebih mudah di jaungkau oleh banyak orang yaitu di pusat kota”, ujar Bambang Sarkoro dalam sambutannya di hadapan 40 orang.peserta Workshop. “Apalagi ini kegiatan perdana komunitas sahabat silat,karena selama 2 tahun lalu <span> </span>kegiatan ini bernama “Diskusi Bulanan”,<span> </span>Kata Bapak Bambang menambahkan.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Workshop Silat Gerak Gulung Kali ini mengambil Tema “Mengungkap Tabir beladiri Kerajaan Sunda Padjadjaran”, di hadiri pula oleh sesepuh aliran silat ini seperti Bapak Awang, Bapak R. Oto dan rekan-rekan lainnya yang khusus datang dari Ciomas Bogor Jawa Barat. Silat gerak Gulung kali ini memperagakan beberapa jurus dasar seperti selancar dan beberapa aplikasi demo yang cukup memukau peserta yang hadir, dari sesi Tanya jawab pun perserta di persilahkan bertanya tentang silat ini baik sejarah, teknik dan lainnya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Salah satu pertanyaan yang cukup menarik dari peserta adalah, silat yang kita kenal ini tertutup ternyata silat gerak gulung pada tahun 1980an sudah dipelajari oleh orang-orang Mancanegara yang datang khusus untuk mengenal faham / teknik langkah golok.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Menurut Kang Awang “keterbukaan gerak gulung kepada masyarakat luas karena aliran silat ini memang harus di perkenalkan kepada anak muda khususnya dan umumnya bangsa Indonesia, karena Budaya permainan gerak gulung akan sangat positif bagi generasi muda untuk olahraga dan beladiri, Ujar Kang Awang dalam menjawab beberapa pertanyaan dalam sesi Tanya jawab.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Setelah sesi Tanya jawab, Demo jurus dan Teknik praktis di lanjutkan dengan acara makan siang bersama, Suasana semakin akrab karena hujan rintik-rintik memberikan warna tersendiri pada acara kali ini. Apalagi menurut beberapa kawan yang mencoba masakan yang dihidangkan menurut mereka makanannya enak banget.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Setalah Sholat Zhuhur, acara dilanjutkan dengan Workshop jurus gerak Gulung, di ikuti oleh 20 orang lebih peserta dan di awasi oleh Akang dari Gerak Gulung. Menurut Maulana salah satu peserta workshop mengatakan, “Jurus Selancar kelihatannya mudah tapi teryata susah juga ya” kata Maulana sambil tertawa.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Sementara itu Alda M. Amta dan Eko Hadi serta kawan-kawan panitia lainnya berujar bahwa “ Mungkin acara seperti ini harus Rutin, bagaimana kita memperkenalkan silat tradisional maupun silat lainnya kepada masyarakat luas, apalagi selama ini masyarakat masih belum berubah dalam hal menanggapi image silat yang tetap pada posisi kurang menyenangkan, padahal kita sudah membuktikan bahwa silat pun sangatlah menarik untuk di pelajari, dan semoga saja dikit demi sedikit masyarakat mengetahui silat tradisionalpun tidak kalah bagusnya dengan beladiri Impor sekalipun.”</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Segenap panitia mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta, keluarga besar GGBD dan juga para panitia lainnya yang telah bekerja keras untuk mensukseskan acara ini, dan mohon maaf bila banyak kekurangan disana-sini. Dan mohon dukungan anda semua agar kegiatan ini tetap terus berjalan. (<strong>Tim Liputan SilatIndonesia)</strong></p>
<p class="MsoNormal">
<blockquote>
<p class="MsoNormal"><strong>Thanks To :</strong></p>
<p class="MsoNormal">
<ul style="margin-top: 0in;" type="disc">
<li class="MsoNormal"><strong>Rasa Syukur kepada Allah SWT</strong></li>
<li class="MsoNormal"><strong>Members Milis, forum Sahabatsilat.com</strong></li>
<li class="MsoNormal"><strong>Peserta Workshop</strong></li>
<li class="MsoNormal"><strong>Keluarga Besar GGBD</strong></li>
<li class="MsoNormal"><strong>Panitia</strong></li>
<li class="MsoNormal"><strong>Bapak Edy M Nalapraya</strong></li>
<li class="MsoNormal"><strong>Tim Liputan ( Astro Awani, RCTI, SCTV)</strong></li>
<li class="MsoNormal"><strong>Dan semua pihak yang telah      mensukseskan acara ini.</strong></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in;"><strong> </strong></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2008/12/gerak-gulung-silat-tua-yang-tetap-terjaga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
