<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Silat Indonesia &#187; Sahabat Silat</title>
	<atom:link href="http://silatindonesia.com/category/sahabat-silat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://silatindonesia.com</link>
	<description>Pusat Informasi Pencak Silat Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 09:13:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Acara Kramasan/HUT PS Bandrong Karang Tunggal</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2011/06/acara-kramasanhut-ps-bandrong-karang-tunggal/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2011/06/acara-kramasanhut-ps-bandrong-karang-tunggal/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Jun 2011 08:06:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Information]]></category>
		<category><![CDATA[Liputan Khusus]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Silat]]></category>
		<category><![CDATA[bandrong]]></category>
		<category><![CDATA[banten]]></category>
		<category><![CDATA[karang tunggal]]></category>
		<category><![CDATA[kramasan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=1332</guid>
		<description><![CDATA[Acara Kramasan/HUT PS Bandrong Karang Tunggal Pimpinan Abah Astare di Karang Dalan &#8211; Bojonegara &#8211; Banten pada malam minggu, 18 Juni 2011. Dihadiri oleh 17 perguruan beraliran bandrong yang ada di Bojonegara. FP2STI merasa sangat beruntung bisa menghadiri acara yang langka ini, walau harus menempuh perjalanan hampir 5 jam dari Jakarta. source: Taufan Prasetya]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Acara Kramasan/HUT PS Bandrong Karang Tunggal Pimpinan Abah Astare</p>
<p>di Karang Dalan &#8211; Bojonegara &#8211; Banten</p>
<p>pada malam minggu, 18 Juni 2011.</p>
<p>Dihadiri oleh 17 perguruan beraliran bandrong yang ada di Bojonegara.</p>
<p>FP2STI merasa sangat beruntung bisa menghadiri acara yang langka ini,</p>
<p>walau harus menempuh perjalanan hampir 5 jam dari Jakarta.</p>
<p>source: Taufan Prasetya</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2011/06/acara-kramasanhut-ps-bandrong-karang-tunggal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gelanggang Siliah Baganti</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2010/04/gelanggang-siliah-baganti/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2010/04/gelanggang-siliah-baganti/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Apr 2010 14:35:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rasyid.aj</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cover Story]]></category>
		<category><![CDATA[Liputan Khusus]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Silat]]></category>
		<category><![CDATA[baganti]]></category>
		<category><![CDATA[gelanggang]]></category>
		<category><![CDATA[siliah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=598</guid>
		<description><![CDATA[Perjalanan yang cukup melelahkan dari Jakarta ke Batu Sangkar terbayar lunas oleh indah nya pemandangan alam Sumatera Barat dan sajian festival silek Minang dalam acara Gelanggang Siliah Baganti dan aneka kuliner (ini terjadi keesokan hari nya) Kedatangan dan Hari Pertama Kami berangkat dari bandara Sukarno-Hatta Cengkareng kurang lebih pukul 15.30 dari jadwal penerbangan pukul 13.15 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Perjalanan yang cukup melelahkan dari Jakarta ke Batu Sangkar terbayar lunas oleh indah nya pemandangan alam Sumatera Barat dan sajian festival silek Minang dalam acara Gelanggang Siliah Baganti dan aneka kuliner (ini terjadi keesokan hari nya)</em></p>
<p><strong>Kedatangan dan Hari Pertama</strong></p>
<p><a class="shutterset_" href="http://silatindonesia.com/id/wp-content/gallery/kegiatan/20100417-siliahbaganti-logo_.jpg"><img class="ngg-singlepic ngg-left" src="http://silatindonesia.com/id/wp-content/gallery/kegiatan/thumbs/thumbs_20100417-siliahbaganti-logo_.jpg" alt="Gelanggang Siliah Baganti" /></a>Kami berangkat dari bandara Sukarno-Hatta Cengkareng kurang lebih pukul 15.30 dari jadwal penerbangan pukul 13.15 dan harus puas dengan hanya permintaan maaf karena penerbangan yang tertunda. Saya, Kang Ujang, Uda Aslim Nurhasan, Pak Sudirman Yan beserta Istri tiba di Bandara Padang satu setengah jam kemudian. Tujuan pertama adalah mencari rumah makan.</p>
<p>Perjalanan menuju Batu Sangkar dilanjutkan dengan mobil yang langsung &#8220;disopiri&#8221; oleh Uda Aslim dengan rute melalui Lembah Anai, menjelang malam tiba diringi gerimis yang makin menderas.<br />
Gelap nya malam dan tikungan-tikungan tajam serasa jalanan benderang, lurus dan lengang bagi &#8220;sang sopir&#8221;. Hanya saja mendekati Lembah Anai hambatan pertama mulai ditemui, LONGSOR, yang rupanya sudah terjadi beberapa hari yang lalu. Ada tiga titik longsor, tapi kami sepakat meneruskan perjalanan. Titik pertama kami lewati, titik kedua kami berhenti. Pemandangan indah sekaligus membuat hati miris, air terjun dipinggir jalan menderas dengan ganas, guyuran air berwarna coklat bercampur tanah menciprat sampai ke tengah jalan menciptakan tirai kabut air. Kami terpaksa berhenti. Ternyata baru saja kembali terjadi longsor antara titik kedua dan ketiga. Uda Aslim yang asli Batu Sangkar memutuskan untuk berputar dan menuju Batu Sangkar melalui Solok. Keputusan yang tepat karena kalau tidak kami akan terjebak di tengah Lembah Anai dalam hujan dan kegelapan malam.<br />
Perjalanan panjang dan melelahkan -apa lagi bagi sang mengemudi- dari Lembah Anai menuju Batu Sangkar memutari danau singkarak  akhirnya berakhir jua sekitar pukul 12 malam . Kami menginap di rumah kakak pertama Uda Aslim, berisitrahat sejenak dan tidur.<br />
Keesokan hari nya keramahan tuan rumah menyambut kami dengan sajian sarapan ketupat sayur khas Minang dan ketan+pisang goreng. Bagi saya yang ga tahan pedas tentu saja memilih ketan + pisang goreng dan kopi tentu nya.<br />
Acara di hari pertama ini adalah menuju GOR untuk mengikuti upacara pembukaan Gelanggang Siliah Baganti, sebuah festival silek tradisional Minang karena memang ini tujuan utama kami. Festival ini diikuti oleh 16 aliran silat dari 45 nagari antara lain aliran silek : Kumango, Silek Tuo, Silek Tuo Langkah Duo, Silek Tuo Langkah Tigo, Silek Tuo Langkah Ampek, Sungai Patay, Harimau Campo, Harimau Minang, Kuciang Lalo, Lintau, sitaralak, Harimau Tangki, Gajah Badorong,dll.</p>
<p><a class="shutterset_" href="http://silatindonesia.com/id/wp-content/gallery/kegiatan/20100417-siliahbaganti-pasang.jpg"><img class="ngg-singlepic ngg-left" src="http://silatindonesia.com/id/wp-content/gallery/kegiatan/thumbs/thumbs_20100417-siliahbaganti-pasang.jpg" alt="Gelanggang Siliah Baganti - pasang" /></a>Setelah sempat tertunda beberapa jam, acara pembukaan di mulai. Sambutan-sambutan adalah hal yang lumrah dalam setiap seremonial dan tidak perlu diuraikan di sini.  Cuma satu yang menarik, dalam sambutan pembukaan,  Wakil Bupati menyebutkan selamat datang bagi teman-teman dari Jakarta dan terima kasih telah hadir. Disebutkan pula bahwa kami berasal dari silat Cikalong, Golok Seliwa dan Perisai Putih. Rupanya jauh-jauh hari Uda Aslim sudah menginformasikan kedatangan kami dan memberikan data kepada panitia.<br />
Sajian pembukaan terdiri dari atraksi silek kumango oleh dua orang tuo silek (sebutan bagi senior/pelatih di silek Minang), Silek Lintau, tari piring oleh anak-anak usia SD dan &#8220;debus&#8221; ala Minang. Selanjut nya festival hari pertama menampilkan hanya beberapa aliran antar lain LINTAU, SUNGAI PATAY dan KUMANGO. Setiap aliran menampilkan enam pasangan yaitu kelompok anak-anak, remaja, dan dewasa masing-masing putra dan putri. Di tengah acara pada saat istirahat ditampilkan peragaan oleh para tuo silek berganti-ganti aliran. Sungguh menarik.<br />
Hari pertama ini kami beraktivitas di GOR, merekam peristiwa (banyak moment yang luput karena kendala teknis seperti batrei yang habis dan memory card yang penuh-kesalahan yang tidak boleh diulangi). Tidak ketinggalan juga kesempatan berkenalan dengan tokoh-tokoh sepuh silek Minang, Alhamdulillah.<br />
Kembali ke rumah sekitar pukul sebelas malam, bercengkerama, dan beristirahat sampai akhir nya tertidur kelelahan. Oh iya, sore hari nya datang sahabat silat yang lama tidak jumpa yaitu Yoga Putra Setiawan yang tinggal di Pekan Baru, datang khusus membantu meliput event ini dengan kamera profesional nya.</p>
<p><strong>Hari Kedua</strong></p>
<p>Jadwal pertama ke bandara, menjemput Ipam yang memang datang belakangan. Perjalanan dari Batu Sangkar ke Bandara melalui Lembah Anai, kali ini udara cerah dan bersahabat (walau kadang diselingi sedikit gerimis) sehingga kami dapat menikmati sajian pemandangan indah sepanjang jalan.</p>
<p>Perhentian pertama, makan Sate Mak Syukur yang sangat direkomendasikan kawan-kawan dari Minang. Jadi,  ini lah wisata silat dan wisata kuliner. Perjalanan dilanjutkan menuju Lembah Anai diiringi hujan gerimis. Kali ini tanpa hambatan berarti hanya sedikit antrian kendaraan di tiap titik longsor. Kami pun tiba di air terjun Lembah Anai, sungguh indah dan menarik karena berada tepat disisi jalan utama. Sungguh sayang anugerah Tuhan ini yang indah ini malah dirusak oleh tangan-tangan serakah manusia. Longsor ini tentu saja karena area hutan di atas nya, wilayah sekitar nya telah gundul habis dibabat.<br />
Melanjutkan perjalanan, kali ini singgah terakhir sebelum ke bandara adalah ziarah ke makam Syech Burhanudin di Pariaman, menyusuri tepi pantai dan beberapa sisa gempa yang belum terurus. Tidak lama kami di sana karena harus segera ke bandara menjemput Ipam yang sudah landing. Tidak banyak cerita dalam perjalanan kembali ke Tanah Datar, kecuali hujan sepanjang jalan.<br />
Sehabis makan malam kami kembali ke GOR untuk melihat dan meliput festival selanjut nya.  Malam kedua ini aliran silat KUMANGO yang banyak tampil. Satu hal yang dapat saya catat, dari beraneka ragam nya silek tradisional Minang kesamaan tetap ada, antara lain tata cara menghormat, pola langkah, kuda-kuda yang cenderung rendah walaupun ada juga yang tegak tetapi pada saat  melangkah rata-rata rendah dan kaki yang bersilang. Gerakan tangan yang gemulai juga menjadi ciri khas silek Minang. Keras dalam aplikasi tetapi lembut dalam melangkah dan &#8220;menari dalam rangkaian jurus&#8221;. Sungguh menarik. Apa yang ditampilkan dalam festival ini adalah seni semata, tidak ditunjukkan aplikasi sebenar nya dalam pertarungan. Karena ini adalah semata pentas seni untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan menumbuhkan rasa cinta terhadap silek tradisional Minang.<br />
Para peserta berpasangan sesuai kelompok umur dan jenis kelamin. Mereka memainkan jurus dan aplikasi dari alirannya masing-masing. Sistem penilaian menyangkut antara lain : keaslian jurus dan teknik, kekayaan teknik kuncian dan jatuhan, keindahan, stamina, dll. Tim penilai terdiri dari tiga orang juri dengan satu tim pengawas yang terdiri dari sesepuh. Penilaian juri harus obyektif, apabila ada salah satu orang juri yang memberikan nilai sangat menonjol (terlalu tinggi atau terlalu rendah) maka nilai itu akan diabaikan.</p>
<p>Malam kedua ini kelelahan mulai menghinggapi kami, aktivitas yang terus menerus dan penyesuaian perut dengan masakan ala Minang membuat saya tidak berani untuk terlalu banyak makan, bahkan &#8220;berhenti makan seharian&#8221;.  Ada yang masuk angin ada yang sakit perut. Malam ini kami beristirahat untuk besok melanjutkan aktivitas.<br />
Hari Ketiga<br />
Hari ketiga kami isi dengan wisata ziarah dan melihat berbagai situs peninggalan bersejarah. Pertama kami berziarah ke makam Guru Gadang Silek Kumango, kemudian dilanjutkan ke makam SYECH KUMANGO. Sebuah tempat peristirahatan yang indah di tengah lembah, sayang nya peninggalan bersejarah ini tidak terawat sebagaimana situs-situs yang lain. Surau peninggalan SYECH KUMANGO dibiarkan melapuk, menyedihkan.<br />
Kunjungan lainnya tidak terlalu penting untuk diceritakan karena bisa dilihat di brosur wisata Kabupaten Tanah Datar seperti Istana Pagaruyung, Prasasti Adityawarman, makam Ustano Rajo Alam, dll. Satu hal yang menyolok adalah semua situs tersebut TIDAK TERAWAT.<br />
Tujuan akhir adalah BUKIT TINGGI, makan dan belanja. Tidak asing dan tidak aneh soal nya kata teman-teman &#8220;rugi ke Minang kalau tidak wisata kuliner&#8221; . sayang nya beberapa dari kami sudah tak kuat makan lagi.</p>
<p>Dari Bukit Tinggi malam hari nya kami kembali meliput Gelanggang Siliah Baganti. Karena ini malam terakhir saya di Tanah Datar, esok hari sudah harus kembali ke jakarta. Saya terpaksa pulang lebih dulu karena Kang Ujang harus berada di Cianjur pada hari rabu disebabkan tanggung jawab pekerjaan. Kegiatan hari terakhir dan penutupan terpaksa saya lewatkan dengan berat hati. Kelelahan malam ini terbayar lunas dengan kepuasan menikmati indah nya alam Minangkabau dan sajian silek Minang yang sangat menarik. Malam ini semua kelelahan, masuk angin, sakit perut dan ngantuk tak tertahan. Ipam pun terpaksa minum obat.</p>
<p><strong>Hari selasa pagi</strong></p>
<p>Ini hari terakhir saya dan Kang Ujang, badan sudah terasa segar. Nafsu makan kembali datang dan kami semua sudah bugar kembali. Sayang sekali saya harus pulang. Kami ke pasar menikmati sarapan pagi, bubur kampiun, nasi goreng, ketan dan teh manis. Nimat sekali. Saya pun berangkat ke bandara, tinggallah Ipam, uda aslim dan yoga di sana meliput kegiatan hari terakhir. Dengan ini maka cerita yang saya sampaikan berakhir di sini.<br />
Ini adalah catatan saya, yang saya tulis berdasarkan persepsi dan pengalaman yang saya tangkap selama berada di sana, tentu saja ada banyak kekurangan dan perhatian yang luput di sana-sini. Kalau pun ada penafsiran dan deskripsi yang kurang tepat, sudilah menerima nya karena sebatas ini lah kemampuan saya.</p>
<p>Wabillahi taufik wal hidayah</p>
<p><em>link terkait:<br />
<a href="http://sahabatsilat.com/forum/index.php/topic,1547.0.html" target="_blank">http://sahabatsilat.com/forum/index.php/topic,1547.0.html</a><br />
<a href="http://sahabatsilat.com/forum/index.php/topic,1579.msg32667/topicseen.html#new" target="_blank">http://sahabatsilat.com/forum/index.php/topic,1579.msg32667/topicseen.html#new</a><br />
<a href="http://picasaweb.google.com/rasyid.aj/AJourneyToWestSumatera?feat=content_notification#" target="_blank">http://picasaweb.google.com/rasyid.aj/AJourneyToWestSumatera?feat=content_notification#</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2010/04/gelanggang-siliah-baganti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diskusi Silat: Permainan Clurit Are&#8217; Sekak dan silat Pukul Hilang</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2010/04/diskusi-silat-permainan-clurit-are-sekak-dan-silat-pukul-hilang/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2010/04/diskusi-silat-permainan-clurit-are-sekak-dan-silat-pukul-hilang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Apr 2010 04:24:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Information]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Silat]]></category>
		<category><![CDATA[clurit]]></category>
		<category><![CDATA[hilang]]></category>
		<category><![CDATA[pukul]]></category>
		<category><![CDATA[sekak]]></category>
		<category><![CDATA[silat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=592</guid>
		<description><![CDATA[Diskusi Silat :  Permainan Clurit Are&#8217; Sekak dan silat Pukul Hilang Sejarah, Filosofi dan Konsep Permainan Clurit Are&#8217; Sekak dan silat Pukul Hilang Tanggal : 24 April 2010 Jam : 09:00 &#8211; 13:00 Lokasi : Madrasah Haji Sahroni, Jl. Kebalen 2, Bilangan, Blok S 09-11 Disikusi Sejarah, Filosofi dan Konsep Permainan Clurit Are&#8217; Sekak dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Diskusi Silat :  Permainan Clurit Are&#8217; Sekak dan silat Pukul Hilang</strong></p>
<p>Sejarah, Filosofi dan Konsep Permainan Clurit Are&#8217; Sekak dan silat Pukul Hilang<br />
Tanggal : <strong>24 April 2010</strong><br />
Jam : 09:00 &#8211; 13:00<br />
Lokasi : Madrasah Haji Sahroni, Jl. Kebalen 2, Bilangan, Blok S<br />
<span id="more-592"></span><br />
09-11 Disikusi Sejarah, Filosofi dan Konsep Permainan Clurit Are&#8217; Sekak dan silat Pukul Hilang.<br />
Tentu saja seperti biasa, hadirin disediakan sesi tanya jawab untuk menambah pemahaman atas aliran ini.<br />
11-13 Diskusi teknik, praktek/aplikasi dan tanya jawab teknik.</p>
<p>Sahabats&#8230;<br />
silakan dateng <strong>Tidak</strong> dipungut biaya, alias : <strong>GRATIS</strong>.</p>
<p><strong>Jalur Donasi</strong> bisa ke:</p>
<p>Mandiri KCP Ketapang<br />
1150004380657<br />
a.n Pramono harjanto</p>
<p>Konfirmasi bisa email ke:<br />
mantrijeron14 _at_ sahabatsilat.com</p>
<p>Wassalam,</p>
<p><em>informasi lanjut, bisa juga ke:<br />
<a href="http://sahabatsilat.com/forum/index.php/topic,1573.msg32510.html#msg32510" target="_blank">http://sahabatsilat.com/forum/index.php/topic,1573.msg32510.html#msg32510</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2010/04/diskusi-silat-permainan-clurit-are-sekak-dan-silat-pukul-hilang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Situs Forum Diskusi Komunitas pencak silat Indonesia</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2009/12/situs-forum-diskusi-komunitas-pencak-silat-indonesia/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2009/12/situs-forum-diskusi-komunitas-pencak-silat-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Dec 2009 10:52:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sahabat Silat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=506</guid>
		<description><![CDATA[Situs Forum Diskusi Komunitas pencak silat Indonesia Kalau dipikir-pikir berapa banyak sih pesilat di Indonesia, dan berapa pula yang aktif di Internet sehingga di perlukannya web forum khusus pencak silat. Jawabnya adalah tidaklah terlalu banyak pesilat yang aktif di dunia maya, itupun dalam jumlah yang belum fantastis. Seperti Milis dan juga forum diskusi, memang lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> <a title="Permanent Link: Situs Forum Diskusi Komunitas pencak silat Indonesia" rel="bookmark" href="http://silat.blogsome.com/2007/05/02/situs-forum-diskusi-komunitas-pencak-silat-indonesia/"><br />
</a></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><strong>Situs Forum Diskusi Komunitas pencak silat Indonesia</strong> </strong></p>
<p><strong><img style="width: 264px; height: 182px;" src="http://silat.blogsome.com/wp-admin/images/for.jpg" border="1" alt="" hspace="5" vspace="5" width="264" height="182" align="right" /> Kalau dipikir-pikir berapa banyak sih pesilat di Indonesia, dan berapa pula yang aktif di Internet sehingga di perlukannya web forum khusus pencak silat. Jawabnya adalah tidaklah terlalu banyak pesilat yang aktif di dunia maya, itupun dalam jumlah yang belum fantastis. Seperti Milis dan juga forum diskusi, memang lebih ramai oleh pesilat asing, mengapa? Silahkan jawab sendiri. </strong></p>
<p><strong>Tapi sepertinya usaha komunitas pencak silat yang bernaung di bawah bendera silatindinesia.com ( silatindonesia network) berserta jajaran Forum Pecinta Pelestari Silat Tradisional (FP2TS) atau “sahabat silat” tetap bersemangat membuka wahana dunia Silat di jalur maya. </strong></p>
<p><strong>Tidak sedikit yang meragukan mereka, tapi keraguan ini sudah mulai terjawab, dengan pembuktian komitment mereka dalam dunia maya maupun dalam kegiatan hariannya. Tidak ada fanatic ke perguruan tertentu menyebabkan anggota komunitas ini selalu terbuka dengan hal-hal baru disekitar mereka. Karena dengan bekomunitas identitas perguruan yang pernah mereka ikuti juga tidak akan luntur bahkan mungkin akan semakin bertambah wawasannya. </strong></p>
<p><strong>Sayangnya banyak kawan-kawan pesilat yang belum menyadari arti pentingnya berkomunitas dalam artian bergaul di luar lingkungan perguruannya, sehingga konsep pemikiran sebagain pesilat masih tertuju pada loyalitas perguruan, padahal kalau mau jujur dan berpikir terbuka, akan banyak kegiatan yang dapat dilakukan bersama dan akan menguntungkan semua pihak, dan ini juga tidakakan mengurangi sikap loyal kepada perguruan dimana ia berasal. </strong></p>
<p><strong>Tapi bagaimanapun juga kita tetap menghargai mereka yang masih menutup diri (bukan perguruan yang menutup diri, tapi dirinya sendiri yang tertutup dengan alasan loyalitas perguruannya tadi) dalam bincang-bincang dengan orang nomor satu di jajaran <span>IPSI</span> dan <span>PERSILAT</span> juga di akui bahwa pesilat di Indonesia umumnya kurang begitu peduli dengan silat lainnya, pada umumnya akan begitu fanatic dengan perguruannya. </strong></p>
<p><strong>Hal inilah salah satu penyebab silat di Indonesia kurang begitu berkembang, satu sama lain, tidak saling membantu apalagi bersilaturahmi padahal kalau di selidiki hampir semua aliran silat dahulunya bersaudara ( satu rumpun) sebut saja silat cimande, Cikalong, Sabandar, karimadi, cikaret, silek toa, dan masih banyak aliran lainnya yang berasal dari rumpun Nusantara. </strong></p>
<p><strong>Mengapa kita harus berdiri sendiri, mengapa kita harus membusungkan dada, mengapa sulitnya bergaul dengan perguruan lainnya, kalau asal-usulnya perguruan tersebut adalah satu rumpun, atau takut rahasinya terbongkar? atau ilmunya di curi? atau dan atau lainnya. Banyak juga yang salah kaprah dengan silat tradisional yang kesannya tertutup, nyatanya umumnya mereka terbuka, ini dibuktikan dengan hasil pertemuan-pertemuan dengan pewaris silat dari betawi, sebut saja, silat Sabeni, Silat Cingrik, silat Paseban, dan masih banyak lainnya. Kalau saja pewarisnya saja terbuka kenapa yang sudah menjadi organisasi (perguruan) kesannya lebih menutup diri ?, ada apa dengan perguruan silat di Indonesia. </strong></p>
<p><strong>Oleh sebab itu dibutuhkan saluran komunikasi yang jujur, terbuka dan saling menguntungkan, melalui media online salah satunya, dimana seorang pesilat dapat berinteraksi dengan pesilat lainnya, bertukar informasi yang berguna dan saling mendukung satu sama lainnya. Apalagi sekarang jamannya globalisasi jadi apapun, dimanapun informasi begitu cepatnya. Dimana beladiri lain telah berlari kencang didukung oleh organisasi dan anggota-anggotanya, perguruasn silat kita malah sibuk menutup diri dan tidak mau bergaul. Melalui media Forum Diskusi dibuka seluas-luasnya aliran informasi yang masuk, yang dapat dicerna oleh semua orang dan harapannya informasi tersebut menjadi bagian silaturahmi yang memperkuat jatidiri pencak silat, karena para pecintanya begitu peduli dan bangga dengan seni beladiri bangsanya. </strong></p>
<p><strong>Yang tidak kalah pentingnya ternyata banyak simpati dari pengemar beladiri lain yang mendukung Komunitas Online ini, karena selama ini banyak yang tidak tahu apa sesungguhnya pencak silat itu sebenarnya, apakah ilmu klenik semata atau ada Intan dan berlian di dalam pencak silat yang tidak diketahui. </strong></p>
<p><strong>Akhir kata, mohon maaf bila tulisan ini agak menggurui, ini hanyalah konsep semata dimana kita sebagai pesilat yang mencintai pencak silat, agar dapat membuka diri kita masing-masing, tujuannya agar pesilat dapat duduk manis bersama-sama dan melakukan kegiatan yang bermanfaat, karena pendekar sejati tidak hanya dikenal di lingkungan dimana dia lahir, tapi bagaimana seorang pendekar mampu mengamalkan ilmunya untuk masyarakat banyak. Amin(Yanweka)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2009/12/situs-forum-diskusi-komunitas-pencak-silat-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Profile Oong Maryono</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2009/09/profile-oong-maryono/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2009/09/profile-oong-maryono/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Sep 2009 03:27:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sahabat Silat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=354</guid>
		<description><![CDATA[Bapak Oong lahir pada tanggal 28 Juli 1953 di Bondowoso Jawa Timur, Sejak usia 9 tahun sudah gemar dengan berlatih pencak silat Madura, silat Baweaan dan juga silat kunto. sejak pencak silat mulai dipertandingkan sebagai olahraga prestasi pada tahun 1973, ia menunjukkan prestasi sebagai juara ditingkat regional di Bondowoso. Setelah pindah ke Jakarta Oong belajar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span>Bapak Oong lahir pada tanggal 28 Juli 1953 di Bondowoso Jawa Timur, Sejak usia 9 tahun sudah gemar dengan berlatih pencak silat Madura, silat Baweaan dan juga silat kunto. sejak pencak silat mulai dipertandingkan sebagai olahraga prestasi pada tahun 1973, ia menunjukkan prestasi sebagai juara ditingkat regional di Bondowoso. Setelah pindah ke Jakarta Oong belajar karate, Yudo, Aikido, Jitsu dan Tae Kwon Do, dan memperdalam ilmu silat di perguruan KPS Nusantara oleh guru besar Moh. Hadimulyo.</p>
<p>Dari tahun 1979 sampai 1987 prestasi dari tingkat nasional hingga Internasional diraihnya dengan kemenangan yang gemilang, sehingga namanya cukup dikenal oleh pesilat Indonesia hingga mancanegara. Yang unik dari bapak ini adalah pernah menjuarai pula beladiri Taekwondo tingkat nasional dikelas berat</p>
<p>Sekarang Oong Maryono lebih memfokuskan pada penelitian pencak silat baik di Indonesia hingga negera rumpun melayu, bahkan pengembaraannya dalam dunia persilatan hingga ke benua lain seperti Afrika, eropa dan amerika.</p>
<p>Sebagai bukti kecintaanya pada pencak silat ada sebuah buku yang tak asing lagi bagi sebagian pesilat, yang pernah di terbitkannya berjudul ?pencak silat merentang waktu? dalam beberapa bahasa. Sampai saat ini Oong Maryono masih menulis tentang pencak silat dibeberapa majalah seperti Rapit jurnal terbit di Thailand dimana Ia tinggal sekarang.</p>
<p>Disela-sela kesibukannya, pak Oong bisa ditemui dipadepokan pencak silat Indonesia TMII Jakarta, bila ada event nasional hingga dunia ia sering hadir meliput kegiatan tersebut, dan kabar terakhir beliau sedang menulis mengenai silat dari tanah Betawi.</p>
<p>Selain menulis ternyata ia masih sibuk melatih di KPS Nusantara Thailand, dan perlu diakui kepedulian terhadap pencak silat memang luar biasa, dan ini adalah sebuah contoh yang menarik bagi pesilat lainnya.</p>
<p>Saat kunjungannya beliau di Indonesia ia tidak melupakan kawan-kawan pesilat dari ragam organisasi, baik di IPSI, Persilat, hingga ke komunitas silat lainnya. Jadi wajarlah bila kawan-kawannya cukup menghargainya sebagai teman, sahabat dan juga orang tua dimana kita di ajarkan bagaimana membuka wawasan tentang pencak silat di Era Globalisasi ini.</p>
<p>Selain itu ia aktif juga dibeberapa forum diskusi online, seperti diwebsite miliknya di <a href="http://www.kpsnusantara.com/" target="_blank">www.KPSNusantara.com</a> dan tercatat pula aktif di milis silatbogor Indonesia, beliau pun duduk sebagai penasehat di situs silatindonesia.com yang merupakan situsnya komunitas pencak silat di Indonesia.</p>
<p>Walaupun tinggal di negera lain, ia mudah dihubungi melalui e-mail, jangan takut bila tidak dibalas, beliau sangat perhatian terhadap segala masukan yang ditujukan padanya. Bahkan Pak Oong menyempatkan hadir dalam pembentukan sebuah forum komunikasi pecinta dan pelestari silat tradisional tahun 2006 yang lalu. Banyak yang luar biasa padanya, tentunya walaupun silat tidak popular di dalam negeri namun kerjakerasnya tidak akan pernah terlupakan oleh siapapun.</p>
<p>Ditulis oleh Yanweka<br />
Bila ada yang salah mohon di Ralat</p>
<p><strong>www.silatindonesia.com</strong></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2009/09/profile-oong-maryono/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Salam dari silatindonesia.com</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2009/08/salam-dari-silatindonesiacom/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2009/08/salam-dari-silatindonesiacom/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Aug 2009 08:18:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sahabat Silat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=206</guid>
		<description><![CDATA[Assalamualaikum wr wb Puji syukur kami haturkan atas segala karunia, rejeki, dan hidyah-nya yang senantiasa tiada henti. Pembaca senang rasanya bisa bersua bersama anda, seakan kami tak tahu lagi bagaimana kami harus mengungkapkan rasa bahagia itu.Tapi paling tidak kami telah memulai berbagi rasa kebahagiaan kita dengan hadirnya situs silatindonesia.com yang tak lain adalah upaya kami [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="smalltype"><strong>Assalamualaikum wr wb</strong></p>
<p>Puji syukur kami haturkan atas segala karunia, rejeki, dan hidyah-nya yang senantiasa tiada henti. Pembaca senang rasanya bisa bersua bersama anda, seakan kami tak tahu lagi bagaimana kami harus mengungkapkan rasa bahagia itu.Tapi paling tidak kami telah memulai berbagi rasa kebahagiaan kita dengan hadirnya situs silatindonesia.com yang tak lain adalah upaya kami untuk bisa lebih memberikan ispirasi bagi kita bersama khususnya bagi anda yang perduli kepada seni beladiri dan budaya yang mengakar dari masyarakat indonesia.</p>
<p>Pembaca, dengan hadirnya situs ini maka diupayakan sebagai wahana untuk kebersamaan, semua itu tak lebih agar kita bisa saling menjebatani, memahami, saling berbagi, saling mengisi. Rasa persaudaraan dan tali silaturahmi kita semakin erat dalam bentuk yang lebih nyata, kami mengundang anda dalam wadah kebersamaan untuk saling bertukar ide dan gagasan dalam menumbuhkan ispirasi amal soleh dan karya dalam situs ini maupun dalam mailing-list yang telah kami kembangkan, ini adalah wadah bagi kita untuk berkarya bersama, menggali ide, menumbuhkan kreasi dan menstimulasikan ispirasi dan yang pasti kami sangat merindukan kehadiran saudara dalam komunitas pencak silat indonesia.</p>
<p>Silatindonesia.com dikembangkan oleh kalangan anak muda yang masih memiliki idealis dengan latarbelakang yang berbeda namun satu dalam visi, yaitu membangun wadah sebagai komunitas pecinta pencak silat dari berbagai perguruan maupun aliran, sehingga dengan terbentuknya wadah ini, diharapkan silat menjadi sebuah olahraga beladiri yang komplit dalam bingkai yang harmonis.</p>
<p>Sepertinya tidak pernah ada kata mustahil dalam semangat yang memberikan dukungan kepada situs ini agar lebih berkembang dan tetap bersifat umum dan sosial, tentunya kehadiran anda dan dukungannya sangat kami harapkan dalam berbagai bentuk, semoga semangat ini terus berkobar dihati kita bersama untuk mencari wacana terbaik dalam memberikan konstrubusi kepada pencak silat yang kami cintai ini agar tetap lestari dan terus diupayakan perkembangannya.</p>
<p>Situs silatindonesia.com menanti keterbukaan pemahaman dan pemikiran sebagai proses dimana silat adalah seni bela diri yang universal, yang dapat diterima oleh berbagai kalangan dimasyarakat publik. Tidak ada yang kami ingin tonjolkan selain pencak silat, semoga niat luhur ini diberikan kekuatan dan petunjuk-nya selalau, amin</p>
<p>Wassalam wr wb</p>
<p>Pengelola<br />
situs silatindonesia.com </span></p>
<table border="0" cellspacing="2" cellpadding="3" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td class="mainboxtitle"></td>
</tr>
<tr>
<td><span class="smalltype">Post By indosilat</span></td>
</tr>
<tr>
<td>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="75%"><span class="smalltype">Monday, August 29, 2005 23:38:05</span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2009/08/salam-dari-silatindonesiacom/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memperkenalkan website Pencak Silat Indonesia</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2009/08/memperkenalkan-website-pencak-silat-indonesia/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2009/08/memperkenalkan-website-pencak-silat-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Aug 2009 08:14:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sahabat Silat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=203</guid>
		<description><![CDATA[Assalamualikum Wr wb Kepada Yth : -Pengurus IPSI -Pengurus PERSILAT -Dan Pesilat / Masyarakat pecinta olahraga beladiri Pencak Silat dimanapun berada. Kami mengucapkan terima kasih atas kesempatan memperkenalkan website pencak silat www.silatindonesia.com, melihat alamat situs ini maka anda dapat memperkirakan bahwa website ini ditujukan untuk seluruh kalangan pesilat secara umum bersifat sosial (non-komersial), tujuannya adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="smalltype">Assalamualikum Wr wb</p>
<p>Kepada Yth :<br />
-Pengurus IPSI<br />
-Pengurus PERSILAT<br />
-Dan Pesilat / Masyarakat pecinta olahraga beladiri Pencak Silat dimanapun berada.</p>
<p>Kami mengucapkan terima kasih atas kesempatan memperkenalkan website pencak silat <a href="http://www.silatindonesia.com/" target="_blank">www.silatindonesia.com</a>, melihat alamat situs ini maka anda dapat memperkirakan bahwa website ini ditujukan untuk seluruh kalangan pesilat secara umum bersifat sosial (non-komersial), tujuannya adalah memberikan gambaran ataupun ilustrasi tentang olahraga ini agar lebih dikenal oleh masyarakat pada umumnya.</p>
<p>Pencak Silat sudah sangat familiar pada masyarakat umumnya, karena Indonesia adalah salahsatu pusat tumbuh dan berkembangnya olahraga beladiri ini. Dilihat dari keragaman aliran yang ada, maka pencak silat yang berasal dari Indonesia. memang lebih kaya seni dan bentuk gerakkan yang indah dan juga teknik beladiri yang memukau. Sehingga tidak salah lagi banyak pesilat-pesilat dari negeri lain berguru dan berlatih secara intensif di negeri kita.</p>
<p>Namun di tengah daya tariknya yang membuat penasaran masyarakat dunia, pencak silat di tanah air masih dinilai sebagai olahraga yang belum layak untuk di pelajari maupun di andalkan, pemikiran seperti ini merupakan sebuah warisan pemahaman yang kurang tepat, padahal pencak silat di Indonesia memiliki ratusan aliran beladiri dari seluruh Nusantara dan beratus-ratus perguruan modern maupun tradisional yang mewarnai ragam budaya bangsa ini.</p>
<p>Warga yang baik adalah warga yang dapat menghargai budayanya, itu sebuah pepatah yang mengisyarakatkan kita bahwa seni dan budaya adalah tatanan moral dan etika yang terkandang didalam kehidupan masyarakat yang luhur yang hingga saat ini tetap dipertahankan.</p>
<p>Salah satu keunggulan PENCAK SILAT dibandingkan olahraga lain adalah bahwa pencak silat tidak hanya menitik beratkan pada olahraga beladiri yang berfungsi untuk mematahkan serangan lawan namun masih banyak nilai-nilai filosofis yang terkandung didalamnnya berupa nilai tatakrama ketimuran yaitu saling toleransi hormat menghormati, baik Orang tua, Guru maupun teman. Pencak Silat tidak pula untuk dipertontonkan sebagai layaknya seorang pendekar yang dapat mematahkan serangan lawan, namun sang pendekar sesungguhnya adalah orang yang mampu menahan diri dari sifat Rya, Uzub, dan Takabur.</p>
<p>Apalagi nilai &#8211; nilai religius di dalam pencak silat sangat terasa, diharapkan sang pesilat menjadi seorang yang tunduk dan patuh pada Tuhan YME. Sebagai manusia yang taat kepada Tuhannya Yaitu Allah Swt.</p>
<p>Misi dan Visi kami dalam media Informasi ini adalah mengangkat kembali apa itu pencak silat yang kita kenal, dan bagiamana sesungguhnya yang menjadikan pencak silat digemari oleh bangsa lain. Tentunya daya tarik ini menjadikan kita mulai kembali memahami dan mempelajari, tidak hanya sekedar mengetahui tapi juga mengerti dan memahami.</p>
<p>Karena itulah kami mencoba memberanikan diri untuk merupaya mengumpukan data dan informasi tentang keberadaan pencak silat di Tanah Air dan mengangkat sebagai wahana Ilmu dan pengetahuan dalam mendistribusikan informasi kepada masyarakat umum dan pada khususnya pesilat dimana saja berada.</p>
<p>Dukunganpun kami harapkan dari saudara-saudara semua karena tanpa adanya konstribusi / masukkan-masukkan akan terasa hampa, mulailah perduli kepada Pencak silat secara umum karena pada dasarnya pencak silat adalah kebanggaan bersama milik bangsa Indonesia. Tanpa adanya kerjakersa dan kerjasama pengurus IPSI, Persilat dan Pesilat, mungkin Pencak Silat masih akan tetap jalan ditempat, semoga website ini berguna dan bermanfaat bagi seluruh masyarakat pengemar pencak silat dan tentunya kami menanti peran aktifnya dalam bentuk pemikiran yang dapat anda tuangkan dalam tulisan dan artikel yang semoga pemikiran anda akan meberikan manfaat yang selalu manjadikan pencak silat lebih baik dan lebih digemari oleh semua kalangan masyarakat.</p>
<p>Dari pada itu kami mengucapkan banyak terima kasih kepada banyak pihak yang telah membantu dalam dukungannya di website ini, dan kami menantikan dukungan anda secara aktif dalam website ini.</p>
<p>Salam Kami<br />
Silatindonesia.com</p>
<p>Mengirim artikel :<br />
kirimkan artikel / tulisan anda melalui forum ini atau melalui emaill kami : <a href="mailto:silatindonesia@yahoo.co.id">silatindonesia@yahoo.co.id</a><br />
atau melalui website <a href="http://www.silatindonesia.com/" target="_blank">www.silatindonesia.com</a></p>
<p>(mohon bantuannya menyebarluaskan informasi ini kepada pesilat / organisasi untuk mensosialisasikan kegiatan pencak-silat Indonesia)</p>
<p><strong>Terima kasih Kepada:<br />
-Servermerdeka.com<br />
-Kioss.com<br />
-Pesilat pada Umumnya<br />
</strong></p>
<p><strong>www.silatindonesia.com</strong></span></p>
<p><span class="smalltype">Tuesday, July 26, 2005 10:23:51</span> <span class="smalltype">Clicks: 1222</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2009/08/memperkenalkan-website-pencak-silat-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tubagus Bambang Sudrajat Penerus Ilmu Silat Asli Betawi</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2009/08/tubagus-bambang-sudrajat-penerus-ilmu-silat-asli-betawi/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2009/08/tubagus-bambang-sudrajat-penerus-ilmu-silat-asli-betawi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Aug 2009 08:11:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aliran Silat]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Silat]]></category>
		<category><![CDATA[bambang]]></category>
		<category><![CDATA[betawi]]></category>
		<category><![CDATA[cingkrik]]></category>
		<category><![CDATA[goning]]></category>
		<category><![CDATA[silat]]></category>
		<category><![CDATA[tubagus]]></category>
		<category><![CDATA[usup utay]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=193</guid>
		<description><![CDATA[Seorang pria mengayunkan golok di tangannya dengan sekuat tenaga, berusaha untuk melukai pria lain di hadapannya. Tiba-tiba, sebelum mata sempat melihat dengan seksama, si pria pemegang golok malah jatuh tersungkur akibat terkena tangkisan lawannya. Aksi di atas hanyalah latihan yang dilakukan di aula Padepokan Silat Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, beberapa waktu lalu. Dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="snap_preview">
<p>Seorang pria mengayunkan golok di tangannya dengan sekuat tenaga, berusaha untuk melukai pria lain di hadapannya. Tiba-tiba, sebelum mata sempat melihat dengan seksama, si pria pemegang golok malah jatuh tersungkur akibat terkena tangkisan lawannya.</p>
<p>Aksi di atas hanyalah latihan yang dilakukan di aula Padepokan Silat Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, beberapa waktu lalu. Dan pria yang berhasil menghela serangan tadi tak lain adalah Tubagus Bambang Sudrajat, guru besar silat asli dari Betawi.</p>
<p>”Cingkrik goning adalah aliran silat yang mengandalkan kecepatan. Tidak ada hitungan satu, dua, tiga seperti bela diri lain. Yang ada hanya hitungan satu, dan lawan sudah harus jatuh,” ujar Bambang, menjelaskan seputar ilmu silat cingkring goning yang ditekuninya.</p>
<p>Ruangan terbuka seluas 10×10 meter persegi, yang letaknya di dalam kompleks padepokan silat TMII itu, setiap Sabtu pagi diramaikan oleh para pecinta silat. Ada para peserta cingkrik goning yang sedang berlatih, anggota forum silat yang asyik mengobrol, bahkan para pengemar silat lainnya yang hanya datang untuk menonton atau berbagi cerita.</p>
<p>”Disini memang pusat latihan cingkrik goning, maka semua orang bisa mencari kami disini setiap Sabtu,” sahut Bambang.<br />
<strong>Wasiat</strong><br />
Nama cingkrik tercetus karena beberapa gerakan utama dalam silat ini menggunakan satu kaki untuk berlompatan. Nah, lantaran orang Betawi biasa menyebutnya jejingkrikan, maka silat ini kemudian disebut jingkrik atau cingkrik.</p>
<p>Dalam perjalanannya, cingkrik kemudian terbagi dua, menjadi cingkrik sinan dan cingkrik goning. Perbedaan yang paling mencolok dalam duo cingkrik ini adalah, dalam cingkrik sinan, setiap ‘permainan’ menggunakan tenaga dalam atau tenaga gaib.</p>
<p>”Sementara cingkrik goning merupakan silat yang murni menggunakan teknik fisik semata,” tambah Bambang.</p>
<p>Seseorang bernama Ainin bin Urim yang biasa dipanggil Engkong Goning-lah yang mendiirikan aliran ini. Orang yang lahir di 1895 dan wafat pada 1975 ini mengajarkan ilmu silat goning di Rawa Belong, Kebon Jeruk dan Jembatan Dua. ”Tidak ada yang tahu dari mana Engkong Goning mendapatkan ilmunya,” kata Bambang.</p>
<p>Ilmu cingkrik ini, menurut Bambang, ia dapatkan dari salah satu murid Engkong Goning, Usup Utai, yang juga mertuanya. Sambil menyender dengan santai, Bambang mengenang wasiat terakhir Usup Utai sebelum meninggal di tahun 1993.</p>
<p>”Saya dipanggil dan diberikan pesan untuk melanjutkan ilmu silat ini, Usup Utai berkata agar silat ini jangan sampai mati obor,” katanya.</p>
<p>Dijelaskan, untuk menguasai ilmu warisan leluhur ini, seseorang harus menguasai empat tahapan. Tahap pertama yaitu menguasai 12 jurus dasar cingkrik goning. Kedua, belajar sambut, ketiga mempelajari aplikasi dari 12 jurus dasar yaitu 80 bantingan khas cingkrik goning, dan yang terakhir adalah jual beli atau <em>sparring</em>.</p>
<p>Keahlian bela diri ini menjadi menarik karena diidentikan dengan kisah Bang Pitung, seorang tokoh jagoan Betawi tempo dulu. Ditambah lagi dengan gerakan-gerakan yang mengandalkan kelenturan dan kecepatan.</p>
<p>”Kebutuhan untuk membela diri sekarang ini cukup tinggi, karena maraknya kejahatan di tengah-tengah kita,” kata Bambang.</p>
<p>Seperti bela diri lainnya, cingkrik goning juga mengaplikasi sistem tingkatan, yang tertinggi adalah saat seorang pesilat mendapatkan sabuk merah dengan lima strip. Untuk mencapai tingkatan tersebut memakan waktu maksimal 7 tahun. Bambang sendiri belajar sejak usianya masih 11 tahun, dan mulai mengajarkan ilmu warisan leluhur ini di usia 30 hingga kini di usianya yang sudah 54 tahun.</p>
<p><strong>Kendala SDM</strong><br />
Kehidupannya sehari-hari pun disibukkan dengan menurunkan ilmu warisan ini di berbagai tempat. ”Padepokan silat TMII, Pondok Cabe, Ponpes Darul Ikhsan dan Darul Hikam, serta berbagai tempat yang meminta pengajaran privat,” ujarnya sambil tersenyum.</p>
<p>Biaya yang harus dikeluarkan untuk mengikuti cingkrik goning di Padepokan Silat TMII adalah Rp 20 ribu setiap kali datang, dengan frekuensi latihan satu kali seminggu. Sedangkan untuk latihan di Candradimuka Martial Art adalah sebesar Rp 200 ribu per bulan dan kelas privat di rumah peserta, seseorang harus merogoh kocek sebanyak Rp 500.000 per bulan, untuk dua jam latihan setiap sepekan sekali.</p>
<p>”Sebenarnya guru silat enggan memungut bayaran, karena tujuan kami adalah menurunkan ilmu agar tidak punah di kemudian hari,” tandasnya. Namun, bagaimana pun, mereka tetap membutuhkan biaya untuk kehidupan sehari-hari karena tidak ada pihak yang bisa menjamin kesejahteraan seorang pahlawan pelestari kebudayaan.</p>
<p>Untuk tetap melestarikan seni bela diri versi lokal ini, Bambang mengaku mengalami banyak kesulitan, salah satunya adalah sumber daya manusia. Diungkapkan bahwa hingga kini anggotanya hanya berjumlah kurang dari 50 orang. ”Malah yang berhasil mencapai tingkatan tertinggi baru dua orang, mereka saya jadikan asisten,” katanya. Maka dalam rangka menyosialisasikan cingkrik goning, Bambang bergabung dalam FP2STI.</p>
<p>Dia juga berharap, pemerintah lebih memerhatikan keberlangsungan cingkrik goning yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan visit Indonesia ini. ”Sebenarnya kami juga berminat untuk melatih aparat keamanan Negara, namun ya itu tadi masalahnya, kami kekurangan tenaga pengajar yang kompeten,” tambah pria kelahiran Bengkulu ini.</p>
<p>Hingga kini, usia tua bagi Bambang bukan hambatan untuk terus melatih dan menurunkan ilmu warisan dari gurunya. Demi satu tujuan, ”Agar cingkrik goning, sebagai salah satu kebudayaan tradisional Indonesia tidak musnah dimakan jaman,” katanya. c88</p>
<p>http://www.republika.co.id/koran/14/12749.html</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2009/08/tubagus-bambang-sudrajat-penerus-ilmu-silat-asli-betawi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DEMO SILAT DI SENAYAN CITY DAN SILATURAHMI SAHABAT SILAT</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2009/06/demo-silat-di-senayan-city-dan-silaturahmi-sahabat-silat/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2009/06/demo-silat-di-senayan-city-dan-silaturahmi-sahabat-silat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Jun 2009 02:21:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rimbang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cover Story]]></category>
		<category><![CDATA[Liputan Khusus]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Silat]]></category>
		<category><![CDATA[silaturahim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=170</guid>
		<description><![CDATA[Senayan City, 22 Juni 2009 bertepatan dengan Ulang Tahun Jakarta Berdasarkan informasi yang diposting seorang sahabat di sahabatsilat.com, malam ini akan ada acara martial art journy di Senayan City. Yang menarik dan membuat para sahabatsilat datang berbondong-bondong adalah akan tampilnya beberapa alairan silat tradisional dari betawi. Mereka adalah MUSTIKA KWITANG, SABENI, BEKSI, CINGKRIG. Benar saja, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="snap_preview">
<p>Senayan City, 22 Juni 2009 bertepatan dengan Ulang Tahun Jakarta<br />
Berdasarkan informasi yang diposting seorang sahabat di sahabatsilat.com, malam ini akan ada acara martial art journy di Senayan City. Yang menarik dan membuat para sahabatsilat datang berbondong-bondong adalah akan tampilnya beberapa alairan silat tradisional dari betawi. Mereka adalah MUSTIKA KWITANG, SABENI, BEKSI, CINGKRIG.<br />
Benar saja, setelah pembukaan pukul 18.30 yang diawali dengan sedikit hiburan musik dan lagu, demo bela diri dimulai. Penampilan pertama adalah silat Mustika Kwitang yang menyajikan jurus dan teknik, serta demo aplikasi yang sangat menarik dengan menggunakan beberapa jenis senjata tajam.<br />
Selanjutnya aliran silat Sabeni dengan jurus khas nya Kelabang Nyebrang, jurus dan aplikasi ditampilkan. Sangat unik, indah dan praktis. Setelah itu Silat Betawi yang sudah sangat terkenal, BEKSI. Dengan Kostum yang eye catching, merah menyala, ditampilkan keindahan jurus2 beksi, gerakan khas beksi yang sangat unik, indah, cepat dan keras. Tidak ketinggalan pula demo aplikasi yang sangat kentara tidak direkayasa, istilah orang betawi “maen nye bebeneran banget”.<br />
Setelah penampilan beberapa jenis bela diri lainnya, demo silat betawi ditutup dengan atraksi Cingkrig. Aliran silat Betawi yang sangat melegenda ini ditampilkan begitu atraktif. Cingkrig yang diajarkan dan diturunkan oleh Kong Goning ini dibawakan oleh Pak TB Bambang yang merupakan murid dari Kong Usup Utay, di mana Kong Usup Utay adalah salah seorang murid langsung Kong Goning. Demo jurus oleh Pak Bambang, kemudian dilanjut oleh demo aplikasi oleh dua orang murid nya, dan diakhiri dengan penampilan Pa Bambang “besambut” lawan bang Lutfi.<br />
Acara ini menarik karena dua hal : di adakan di salah satu mal termewah di jakarta oleh salah satu televisi swasta, dan silat tradisional telah makin menunjukkan jati diri nya untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri<br />
SILATURAHMI SAHABAT SILAT<br />
Setelah menonton demo bela diri, kami para sahabat silat yang hadir melanjutkan obrolan santai ke food court. Obrolan santai dengan ditemani es teh manis ini ternyata menghasilakan beberapa keputusan besar antara lain : Silaturahim pecinta dan pelestari silat akan diadakan pada pertengahan bulan juli di Padepokan Pencak Silat TMII dengan agenda diskusi dan evaluasi tiga tahun FP2ST, atraksi seni dan bela diri silat. Atraksi seni seni ini akan menampilkan ibingan silat. Acara dan agenda lainnya sedang digodok.<br />
Ide lain yang muncul adalah mengadakan SILAT CAMPAIGN. Silat campaign dengan motto, BELUM KENAL INDONESIA BILA BELUM MENGENAL SILAT ini mempunyai program SATU HARI SATU JURUS. Rencana nya acara ini akan diadakan di pusat-pusat keramaian seperti di Bundaran HI pada setiap car free day, Senayan, atau tempat2 lainnya. Tujuan dari kegiatan ini adalah jelas mengenalkan dan memasyarakatkan silat sebagai identitas bangsa. Teknis dan detil kegiatan ini sedang dalam penggodokan.<br />
Demikian sekilas catatan yang dapat saya rangkum pada pertemuan tadi malam. Kekurangan nya mohon dikoreksi dan ditambahkan oleh sahabat lainnya.</p>
<p>thx to :<br />
Bp Bambang Sarkoro, Uda Alda, Bang Ajad, kang Kiki, GAn Ery, Om Lury, Kang Ian, MAs Herman, MAs Taufan, MAs Arifin, MAs Pram, MAs Pras, MAs Eka, MAs Edwin</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2009/06/demo-silat-di-senayan-city-dan-silaturahmi-sahabat-silat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sahabat Silat dan stasiun televisi Perancis</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2009/04/sahabat-silat-dan-stasiun-televisi-perancis/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2009/04/sahabat-silat-dan-stasiun-televisi-perancis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Apr 2009 06:25:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Information]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Silat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=163</guid>
		<description><![CDATA[Pagi itu Jum’at 17 Aril 2009, waktu sudah lewat jam setengah delapan. Berdasarkan janji dari sms yang dikirim Bang Ochid dan Bang Ajad, hari ini kami harus berkumpul di gedung Hidro jam setegah sembilan untuk mengantarkan dua orang tamu Sahabat Silat dari sebuah stasiun televisi Perancis, Singh dan Lionel yang akan meliput maenpo Cikalong di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi itu Jum’at 17 Aril 2009, waktu sudah lewat jam setengah delapan. Berdasarkan janji dari sms yang dikirim Bang Ochid dan Bang Ajad, hari ini kami harus berkumpul di gedung Hidro jam setegah sembilan untuk mengantarkan dua orang tamu Sahabat Silat dari sebuah stasiun televisi Perancis, Singh dan Lionel yang akan meliput maenpo Cikalong di tempat asalnya Cianjur. Begitu mepetnya waktu pagi itu dan karena takut ketinggalan kutelpon lebih dahulu kang Wiwit yang biasanya paling on-time untuk sekedar memberi kabar jangan sampai ditinggalkan jika terlambat barang sepuluh lima belas menit. Maklum jika dalam rombongan perjalanan yang menjadi “kepala suku” adalah bang Ajad, maka kawan yang satu ini akan dengan tegaan meninggalkan yang terlambat.</p>
<p>Setelah merapikan semua persiapan dan meminta “exit permit” ke sang istri tercinta, jam delapan pas dengan motor bebek dekil kesayangan yang mulai butut kupaksakan ngebut melibas jalan yang mulai agak lengang. Belum sampai dua kilo perjalanan dari rumah, ahhhh kameraku ketinggalan….dengan terpaksa dan dongkol ku kembali ke rumah. Waktu yang tinggal sedikit memaksa kembali menelpon kang Wiwit untuk setidaknya meminta atau sedikit merayu bang Ajad atau bang Ochid jika sampai aku tak sampai tepat waktu.</p>
<p>Sepanjang perjalanan menuju ke Cawang, terlintas ingatan beberapa obrolan dengan kedua tamu kita dari Perancis tersebut. Setelah dua kali pertemuan dengan mereka baik di tempat latihan Beksi Tradisional Haji Hasbullah, di Kebagusan yang tak jauh dari rumahku atau di rumah guru Perguruan Gerak Saka bapak Muhammad Sani, jalan H.Jamhur II – Ciganjur mengenai pencak silat itu sendiri, keduanya selalu bilang bahwa orang Indonesia sangat ramah dan beruntung memiliki kakayaan seni bela diri yang begitu beragam dan unik. Kadang dalam pikiran ini juga sebenarnya antara takut dan khawatir jika penerimaan kita tak sebaik yang mereka bayangkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun dengan beberapa kali pertemuan baik dari awal dengan Silek Harimau, Beksi Tradisional H. Hasbullah, Gerak Saka dan Golok Suliwa ternyata alhamdulillah semuanya selalu memberikan kejutan bagi mereka….Beruntung sepanjang jalan Lenteng Agung dan Pasar Minggu tidak terlalu padat, meski di beberapa perempatan jalan ada sedikit tersendat sehingga dengan motor bebek kesayanganku dapat dengan leluasa melenggang sampai di gedung Hidro-Cawang dengan keterlambatan waktu tak lebih dari tujuh menit.</p>
<p>Ternyata kedua “kepala suku” untuk perjalanan ke Cianjur belum muncul, beruntung juga saat itu karena Cuma kang Wiwit yang baru hadir. Setelah telpon sana-sini baik ke Uda Alda maupun ke bang Ajad dan Bang Ochid akhirnya mobil yang akan digunakan ke Cianjur tampak!!!! wah … kedua kawan kita ini masih menggunakan seragam dinas instansinya…he he he, mungkin ini yang sering kita dengar antara kegilaan dan kecintaan pada pencak silat begitu tipis. Meski menertawakan segala tingkah dan cara “meminta izin” ke atasannya yang saya tahu itu sebenarnya bukan hal yang lucu, karena dari kedua penuturan baik bang Ochid maupun bang Ajad yang rela “mabur” cuma untuk mengantarkan tamu Sahabat Silat di hari kerja ini di dalam hati secara pribadi saya salut buat kedua kawan kita ini, ternyata pengorbanannya tak sebatas omong semata….</p>
<p>Kamipun meluncur ke arah UKI – Cawang untuk menjemput Singh dan Lionel di Padepokan Pencak Silat Indonesia yang mungkin telah lama menunggu. Kali ini yang membawa mobil adalah bang Ochid, entah antara bingung atau apa rute yang seharusnya lurus ke arah UKI malah berbelok arah kembali ke arah Cililitan….dan kita hanya tertawa ketika bang Ajad yang kita tahu kantornya di BKN rada sewot karena setelah “mabur” eh malah kembali mendekat ke kantornya…</p>
<p>Jam sembilan empat puluh tujuh menit kita berempat sampat di padepokan dan berlima menuju ke arah Cianjur. Kali ini yang membawa mobil adalah bang Ajad yang dengan seragam instansinya mirip supir taksi Citra (sorry bang…) namun begitu biasanya untuk mengejar waktu, abang kita yang satu ini memang mahir dalam kebut-kebutan sehingga tak hanya kita yang mengakui kelihaiannya tapi kedua tamu kita juga mengacungkan jempol untuk bang Ajad . Di kilo meter dua pulu empat tol Jagorawi arah ke Bogor, kita di beritahu untuk bertemu pak Eddie Marzuki Nalapraya di kediamannya di Cipayung oleh Uda Alda. Dan pak Haji Azis Asy’arie pun sedang dalam perjalanan menuju ke sana.</p>
<p>Sepanjang perjalanan yang banyak diisi obrolan ringan dan canda sehingga tak terasa kita sampai di kediaman pak Eddie sekitar jam sepuluh lima puluh lima. Sambutan pak Eddie-pun tak kalah hangatnya dengan sambutan saudara-saudara dari berbagai perguruan, canda tawa, singkong goreng dan kopi hangat menjadi awal pembuka sambutan pak Eddie. Perkenalan, perbincangan seputar pencak silat juga obrolan yang berkaitan dengannya menjadi semakin seru, apalagi menurut Singh, baru kali ini dapat sambutan langsung dari seorang pionir ketua organisasi bela diri dunia atau seorang sesepuh yang menjabat presiden PERSILAT hingga 2008 menyambut dengan hangat dan bersahabat. Malah pak Eddie menawarkan pada Singh dan Lionel untuk bermalam jika pulang dari Cianjur terlalu malam ke Jakarta di tempat kediamannya di Cipayung.</p>
<p>Beberapa saat kemudian pak Haji Azis Asy’arie datang, hingga suasana perbincangan semakin ramai dan hangat. Tak lupa setelah berwawancara dengan pak Eddie, baik Singh maupun Lionel diberikan kesempatan untuk melihat beberapa album foto kegiatan yang pernah diikuti oleh pak Eddie di berbagai manca Negara mempromosikan dan mengembangkan pencak silat. Saat waktu menunjukkan jam sebelas empat puluh menit, dengan dua mobil bersama pak Eddie berangkat menuju masjid terdekat untuk menunaikan ibadah shalat Jum’at sementara kedua tamu, kita persilahkan beristirahat di kamar tamu yang disediakan oleh tuan rumah.</p>
<p>Selesai shalat Jum’at, kami kembali kembali ke rumah pak Eddie yang telah disediakan makan siang….. ada hidangan iga kambing, ayam, sambal, lalap, sayur wah…komplit. Sebelum makan saya sempat bertanya kepada Singh, apakah dia seorang vegetarian atau tidak? Ternyata alhamdulillah dia bukan dan boleh memakan daging (karena sebelumnya kita khawatir jangan-jangan tidak boleh memakan daging karena alasan kepercayaan misalnya) Meski sedang alergiku datang he he he demi menghormati tuan rumah (juga menghormati santapan lezat) makan siang itu kita sikat dengan lahap. Selesai makan pak Eddie menyuguhkan atraksi pencak silat dari perguruan setempat, perguruan pencak silat Paku Bumi yang diasuhnya. Kedua tamu inipun langsung melaksanakan tugas jurnalistiknya, sementara kita melanjutkan obrolan, bang Ochid ikutan mendokumentasikan. Pada jam tiga kurang lima belas, bang Ajad, bang Ochid, saya, kang Wiwit, kedua tamu kita dan pak Haji Azis berpamitan untuk segera melanjutkan perjalanan ke Cianjur. Dan saat melepas pak Eddie tak lupa menawarkan kembali kepada kedua tamu dari Perancis ini untuk bermalam, dan jika setuju tinggal sms saja..</p>
<p>Perjalanan dilanjutkan menuju Puncak, beberapa panorama yang memang indah menarik perhatian kameramen Lionel untuk mengambil beberapa gambar. Atas kesepakatan maka saat di Puncak pass kita berhenti untuk sekedar mengambil beberapa gambar, suasana dan pemandangan. Beberapa pedagang batu cincin menawarkan pada Singh, dengan maksud membantunya saya mencoba memberitahu bahwa tamu Perencis ini tidak akan membeli, eh tukang dagang itu malah berkata, “saya mah tidak menawarkan pada bapak…tapi pada orang itu…” sambil pergi meninggalkan kita wah….??!! Beberapa menit berlalu, pengambilan gambarpun selesai dan kami kembali ke mobil untuk bergegas ke Cianjur yang telah menunggu bapak Wakil Bupati Drs H. Dadang Sufianto MM dan Guru Besar Paguron Maenpo Cikalong Pancer Bumi, pak Haji Ceng Suryana dan para pengurus. Sepanjang jalan Puncak – Cianjur, kedua tamu kita mulai terasa kelelahan dan tertidur. Sementara yang lain tetap meneruskan obrolannya.</p>
<p>Memasuki gerbang Cianjur kita membangunkan kedua tamu kita untk pengambilan gambar gerbang masuk kota Cianjur. Dan tiba di kota Cianjur sekitar jam empat sepuluh menit sebelum menuju tempat latihan, kami mampir terlebih dahulu ke rumah pak haji Azis untuk mengambil baju latihan. Di tempat latihan, semua yang menunggu telah bersiap untuk latihan. Seperti biasa, begitu tamu datang selalu tersedia jamuan berua kue-kue dan minuman hangat. Sehingga membuat tamu terasa betah karena tak dianggap sebagai orang lain. Beberapa kali Singh terlibat perbincangan dengan pak WaBup, pak Dadang dan pak Haji Ceng Suryana. Beberapa kawan dari paguron ikut serta dalam perbincangan yang meambah seru suasana. Sesekali kita menyarankan Lionel atau Singh untuk sekedar “tempelan” tangan dengan pelatih atau guru paguron ini malah dengan WaBup Cianjur yang juga seorang praktisi maenpo Cikalong.</p>
<p>Semakin lama suasana semakin mengasyikan, kedua tamu yang telah menyelesaikan liputannya semakin asyik hanyut “bermain” dengan para guru dan pelatih maenpo Cikalong. Teknik yang didapat semakin membuatnya terkagum-kagum akan pengetahuannya tentang keberagaman pencak silat yang dilihat dan disaksikan langsung. Selepas maghrib semua menunaikan shalat maghrib, dan sekitar jam tujuh kami berpamitan untuk kembali ke Jakarta. Kelelahan yang dirasakan tamu kita dari Perancis membuatnya ingin segera kembali Ke Hotel di Jakarta dan dengan menyesal mereka meminta maaf kepada kita bahwa mereka tak dapat menginap di pak Eddie..kamipun berpamitan kepada para sesepuh paguron, pengurus dan pak WaBup Cianjur untuk kembali ke Jakarta.</p>
<p>Sepanjang perjalanan ke Jakarta, kedua tamu ini bilang sangat disayangkan waktu yang mereka miliki sedikit. Andaikan ada waktu sekitar satu atau dua bulan, mereka akan habiskan waktu untuk belajar pencak silat yang menurut mereka sangat unik. Persaudaraan yang diperlihatkan sangat tulus dan menyenangkan. Menurut mereka inilah makna sesungguhnya dari pelajaran bela diri yang dipelajari, bahwa bela diri sesungguhnya mewarnai persahabatan dalam kehidupan. Inilah yang menarik hati mereka….</p>
<p>Kelelahan membuat tamu kitapun tertidur kembali diperjalanan pulang menuju Jakarta, sekitar satu setengah jam perjalanan membuat perut terasa keroncongan. Bang Ochid, bang Ajad yang kembali menjadi “pilot”, kang Wiwit dan saya saling bertanya makan apa kita kali ini? Tepat di rumah makan Sunda, kami turun dan memesan makanan khas rumah makan ini, dan bang Ochid lah yang bertindak sebagai bos yang membayar semua makanan (he he he ketiban pulung lagi). Dua nasi goreng babat, jus strawberry, empat nasi timbel lengkap plus pete bakar membuat kekhusukan dan kelahapan makan bertambah… dan tamu kitapun disuguhkan nasi timbel lengkap yang juga dimakan dengan lahap he he he nyobain timbel..</p>
<p>Tiba di Jakarta lewat jam sebilan duapuluh malam, mobil begitu keluar tol Cawang dibelokkan ke arah Cililitan untuk mampir ke kantor bang Ajad yang memarkir mobilnya hingga malam dan tinggal mobilnya sendiri yang berada di sana. Kedua tamu kita hanya tertawa dan kagum begitu mendengarkan pengorbanan yang dilakukan para anggota Sahabat Silat untuk mempromosikan pencak silat hingga berani “mabur” dari kerja untuk kegiatan ini. Di deapan kantr BKN Cawang, bang Ajad berpamitan pada semua. Kamipun melanjutkan perjalanan kembali ke gedung Hidro dimana sepeda motor bebek kesayanganku terparkir sampai malam…..</p>
<p>Kamipun berpisah malam itu, sambil menunggu taksi datang Singh dan Lionel sangat berterima kasih atas segala kebaikan dan keramahan yang diterimanya selama liputan juga begitu bersahabatnya semua pesilat yang diperkenalkan kepadanya, sehingga mereka berdua berjanji suatu saat nanti jika mempunyai waktu akan kembali mengunjungi kita ntuk belajar pencak silat…..</p>
<p>Taksipun datang, kami bersalaman dan saling mengucapkan selamat tinggal, semoga apa yang mereka dapat menjadi suatu kenangan baik dihatinya dan menjadikan mereka duta yang menyampaikan pada dunia sana bahwa pencak silat tak hanya melulu sebagai alat perkelahian, pertempuran dan teknik membela diri tapi jauh di dalam sana ada persahabatan, keceriaan, kesediaan saling berbagi dan menghormati yang hanya akan dirasakan jika datang dan merasakannnya….</p>
<p>Untuk liputan Cingkrik Goning dan Gerak Gulung Budi Daya dipersilahkan pada teman-teman lainnya…</p>
<p>Jakarta, 18 April 2009</p>
<p><strong>Iwan Setiawan</strong><br />
<strong><br />
Laporan di Padepokan Sabtunya,</strong></p>
<p>Jam 9.00 WIB &#8211; Datang ke Padepokan kasih titipan yang udah lecek 3 hari di dompet ke Pak Bambang dengan bisikan : “Titipan surat cinta dari Bos Alda katanya salam sayang dari beliau”, Pak Tb Bambang ngikik. Diteruskan melihat Kong Nizam menjelaskan ke Tim Transporter 3 (Singh,and Lionel)     Jam 9.30 WIB -11.45 WIB -  Datang paman guru dari Pondok Cabe (Kang Eryanto) beserta Tante Guru, Beliau meneruskan menemani Tim Transporter 3  dan Pak Bambang (Edisi Cingkrik Goning), dengan keahlian tata bicara yang luar biasa Kang Ery menjelaskan secara mendetail dan translate dari Pak Tb Bambang. Kala Pak TB dan kang Ery ngurus tuh bule, Kong Nizam bikin ngikik Tante Guru, dengan cerita bagaimana bercekerama dan menjelaskan silat tradisional yang dia ketahui hauuahahhahhaha     Jam 11.45 WIB &#8211; 12.02 &#8211; Wawancara dengan Kang Nanong ditranslate dengan Hendro/ dan Janu… beserta Body language dari Kong Nizam huahahhahahhaa</p>
<p>Jam 12.02 -Jam 13.30 &#8211; ngajak tim transporter 3 makan cendol.. (dia bilang tape itu pepaya… huahhahahha gue gak tahu tape dari apaan jadi iyah2 aja hauhahaha) muter2 dan ngeshoot Taman Anggrek huahahahahha dia bilang gapuranya dari Bali huahuahahahhaha, Sholat di Taman Anggrek. Tinggalin dia ngeshoot Taman Anggrek disangkanya bagian dari Padepokan TMII huahuhahahhaha     Jam 13.30 &#8211; Mereka ngobrol lagi sama Kong Nizam, dari ttg india sampai kundalini… (kayak main tebak gerak, Singh said “Its meditation with moving, is it right?”, dan kong Nizam ngangguk kayak mainan bergerak selancar dan nunjuk.. benar !! ane diamin karena kocak….ampe ada kata kundalini dan suruh tarik pantatnya semua pake gerak hauhahuahahaha yang paling lucu terangin nafas gaya kong nizam…. kayak orang bengek…huahauhhahahhahha  )<br />
Jam 14.00 go to Ciomas Bogor , ane pulang… hehehehhehehhe</p>
<p>[Alamsyah]
</p>
<ul>
<li>Special thank’s : Bapak Eddie Marzuki Nalapraya</li>
<li>Bang Ochid (juragan batik yang baik hati)</li>
<li>Bang Ajad (pembalap SS)</li>
<li>Witarsa (adi sapaguron)</li>
<li>Bapak Sabenuh M dan bang Ali juga perguruan Beksi</li>
<li>Tradisional H. Hasbullah</li>
<li>Bang Nani, kang Didit, mas Agus S, Raka, PS. Gerak Saka</li>
<li>Pak H. Azis Asy’arie, pak H. Ceng Suryana, Kang Ujang Saefuddin, kang Dani, pak Junaidi dan Paguron maenpo Cikalong Pancer Bumi</li>
<li>Wakil Bupati Cianjur Drs. H. Dadang Sofianto MM</li>
<li>Paguron Pencak Silat Paku Bumi – Bogor</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">
Nb: Bang Ochid tambahin fotonya……ane up loadnye lame banget</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2009/04/sahabat-silat-dan-stasiun-televisi-perancis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

