<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Silatindonesia.Com</title>
	<atom:link href="http://silatindonesia.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://silatindonesia.com</link>
	<description>Komunitas Pencak Silat Indonesia</description>
	<pubDate>Tue, 30 Jun 2009 02:30:21 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5.1</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>DEMO SILAT DI SENAYAN CITY DAN SILATURAHMI SAHABAT SILAT</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2009/06/demo-silat-di-senayan-city-dan-silaturahmi-sahabat-silat/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2009/06/demo-silat-di-senayan-city-dan-silaturahmi-sahabat-silat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Jun 2009 02:21:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rimbang</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cover Story]]></category>

		<category><![CDATA[Liputan Khusus]]></category>

		<category><![CDATA[Sahabat Silat]]></category>

		<category><![CDATA[silaturahim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=170</guid>
		<description><![CDATA[
Senayan City, 22 Juni 2009 bertepatan dengan Ulang Tahun Jakarta
Berdasarkan informasi yang diposting seorang sahabat di sahabatsilat.com, malam ini akan ada acara martial art journy di Senayan City. Yang menarik dan membuat para sahabatsilat datang berbondong-bondong adalah akan tampilnya beberapa alairan silat tradisional dari betawi. Mereka adalah MUSTIKA KWITANG, SABENI, BEKSI, CINGKRIG.
Benar saja, setelah pembukaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="snap_preview">
<p>Senayan City, 22 Juni 2009 bertepatan dengan Ulang Tahun Jakarta<br />
Berdasarkan informasi yang diposting seorang sahabat di sahabatsilat.com, malam ini akan ada acara martial art journy di Senayan City. Yang menarik dan membuat para sahabatsilat datang berbondong-bondong adalah akan tampilnya beberapa alairan silat tradisional dari betawi. Mereka adalah MUSTIKA KWITANG, SABENI, BEKSI, CINGKRIG.<br />
Benar saja, setelah pembukaan pukul 18.30 yang diawali dengan sedikit hiburan musik dan lagu, demo bela diri dimulai. Penampilan pertama adalah silat Mustika Kwitang yang menyajikan jurus dan teknik, serta demo aplikasi yang sangat menarik dengan menggunakan beberapa jenis senjata tajam.<br />
Selanjutnya aliran silat Sabeni dengan jurus khas nya Kelabang Nyebrang, jurus dan aplikasi ditampilkan. Sangat unik, indah dan praktis. Setelah itu Silat Betawi yang sudah sangat terkenal, BEKSI. Dengan Kostum yang eye catching, merah menyala, ditampilkan keindahan jurus2 beksi, gerakan khas beksi yang sangat unik, indah, cepat dan keras. Tidak ketinggalan pula demo aplikasi yang sangat kentara tidak direkayasa, istilah orang betawi “maen nye bebeneran banget”.<br />
Setelah penampilan beberapa jenis bela diri lainnya, demo silat betawi ditutup dengan atraksi Cingkrig. Aliran silat Betawi yang sangat melegenda ini ditampilkan begitu atraktif. Cingkrig yang diajarkan dan diturunkan oleh Kong Goning ini dibawakan oleh Pak TB Bambang yang merupakan murid dari Kong Usup Utay, di mana Kong Usup Utay adalah salah seorang murid langsung Kong Goning. Demo jurus oleh Pak Bambang, kemudian dilanjut oleh demo aplikasi oleh dua orang murid nya, dan diakhiri dengan penampilan Pa Bambang “besambut” lawan bang Lutfi.<br />
Acara ini menarik karena dua hal : di adakan di salah satu mal termewah di jakarta oleh salah satu televisi swasta, dan silat tradisional telah makin menunjukkan jati diri nya untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri<br />
SILATURAHMI SAHABAT SILAT<br />
Setelah menonton demo bela diri, kami para sahabat silat yang hadir melanjutkan obrolan santai ke food court. Obrolan santai dengan ditemani es teh manis ini ternyata menghasilakan beberapa keputusan besar antara lain : Silaturahim pecinta dan pelestari silat akan diadakan pada pertengahan bulan juli di Padepokan Pencak Silat TMII dengan agenda diskusi dan evaluasi tiga tahun FP2ST, atraksi seni dan bela diri silat. Atraksi seni seni ini akan menampilkan ibingan silat. Acara dan agenda lainnya sedang digodok.<br />
Ide lain yang muncul adalah mengadakan SILAT CAMPAIGN. Silat campaign dengan motto, BELUM KENAL INDONESIA BILA BELUM MENGENAL SILAT ini mempunyai program SATU HARI SATU JURUS. Rencana nya acara ini akan diadakan di pusat-pusat keramaian seperti di Bundaran HI pada setiap car free day, Senayan, atau tempat2 lainnya. Tujuan dari kegiatan ini adalah jelas mengenalkan dan memasyarakatkan silat sebagai identitas bangsa. Teknis dan detil kegiatan ini sedang dalam penggodokan.<br />
Demikian sekilas catatan yang dapat saya rangkum pada pertemuan tadi malam. Kekurangan nya mohon dikoreksi dan ditambahkan oleh sahabat lainnya.</p>
<p>thx to :<br />
Bp Bambang Sarkoro, Uda Alda, Bang Ajad, kang Kiki, GAn Ery, Om Lury, Kang Ian, MAs Herman, MAs Taufan, MAs Arifin, MAs Pram, MAs Pras, MAs Eka, MAs Edwin</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2009/06/demo-silat-di-senayan-city-dan-silaturahmi-sahabat-silat/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Brandal Lokajaya menuju jalan Sufi</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2009/06/brandal-lokajaya-menuju-jalan-sufi/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2009/06/brandal-lokajaya-menuju-jalan-sufi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Jun 2009 02:11:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alam</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel Silat]]></category>

		<category><![CDATA[Cerita Silat]]></category>

		<category><![CDATA[Figure Pesilat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=172</guid>
		<description><![CDATA[ 
 
Bagi Majapahit (1284-1478), Tuban merupakan kota pelabuhan dagang yang cukup penting. Saat itu masa akhir kerajaan Majapahit dan yang menjadi Raja adalah Brawijaya V.
 
Ada sebuah kisah seorang putra dari  Adipati Tuban, Raden Mahmud Syahid atau dikenal dengan Raden Syahid, kurang lebih 1450 M. Ayahnya yang seorang adipati Tuban bernama Raden Sahur alias Aya Wilwatikta, masih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt;"><span lang="EN-US"><span style="font-size: small; font-family: Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Bagi Majapahit (1284-1478), Tuban merupakan kota pelabuhan dagang yang cukup penting. Saat itu masa akhir kerajaan Majapahit dan yang menjadi Raja adalah Brawijaya V.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Ada sebuah kisah seorang putra dari<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>Adipati Tuban, Raden Mahmud Syahid atau dikenal dengan Raden Syahid, kurang lebih 1450 M. Ayahnya yang seorang adipati Tuban bernama Raden Sahur alias Aya Wilwatikta, masih keturunan dari Ranggalawe, Adipati Tuban yang pertama. Ibundanya bernama Dewi Nawangrum.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Sejak kecil Raden Syahid ini sudah terlihat menjadi anak yang cerdas, pandangan matanya tajam, nalurinya kuat dan kemauannya keras. Ia adalah putra adipati yang disegani di seluruh Tuban. Keluarganya pun termasuk keluarga yang saleh dan pemeluk Islam yang taat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Hampir setiap malam, ba’da<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>isya, Raden Syahid beserta kawan-kawannya tekun mempelajari Islam. Mereka belajar membaca Al-Quran. Kiyai Ahmad, guru mengaji Raden Syahid. Guru mengajinya sangat kagum kepadanya karena dari remaja sikap dan perbuatannya sudah berbeda dari remaja pada umumnya. Ia mampu berpikir dewasa. Suatu saat nanti , Raden Syahid pasti akan menjadi orang yang besar pikir guru mengajinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Raden Syahd suka menonton wayang beber, yakni wayang yang dilukis diatas kain putih. Lukisan itu merupakan adegan-adegan tertentu dari kisah Mahabarata dan Ramayana. Wayang tadi berbentuk manusia yang dilukis di candi-candi. Inilah konon yang nantinya cikal bakal beliau akan men-dakwah-kan Islam melalui wayang versi Jawa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Di siang hari, Raden Syahid mempelajari ketatanegaraan, keprajuritan dan beladiri, Ayahnya berharap putranya akan menggantikan kedudukannya sebagai Adipati<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>Tuban.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Sebagai putra adipati ia hidup dilingkungan pejabat yang mewah. Kadang-kadang ayahnya mengajaknya perjalanan bersama, Mereka melihat daerah-daerah yang jauh dari pusat kadipaten. Dari pengalaman itu, ia mengetahui bahwa kebanyakan masyarakat di pelosok masih memegang teguh kepercayaan nenek moyangnya yang merupakan agama Hindu, Budha dan kepercayaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Namun dari kemewahan yang ia dapat sebagai putra adipati itu tidak membuatnya bahagia. Ia justru melihat dengan mata kepala sendiri bahwa para pejabat istana itu ternyata suka menindas rakyat dengan pajak-pajak yang tinggi dan iuran-iuran lain yang tidak masuk akal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Meskipun berdarah bangsawan, berkat didikan Kiyai Ahmad membuat Raden Syahid berpihak kepada rakyat kecil. Ia suka bergaul dengan penduduk yang miskin dan teraniaya. Karena itu dia tahu betul penderitaan rakyat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Rakyat yang tidak mampu membayar pajak dihukum, dihajar dan kadang-kadang diserobot tanah miliknya. Hukum hanya diperuntukan bagi rakyat kecil. Para pejabat negara, baik di Majapahit sebagai pusat kerajaan, maupun didaerah Tuban selalu kebal hukum, meski mereka melakukan pelanggaran besar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Keadaan ini disaksikan setiap hari dan hal itu membuat tekanan batin baginya. Ia menolak dunia yang tidak adil seperti itu, namun sebagai anak kecil ia tidak tahu dan tidak bisa berbuat banyak, Maka ia melampiaskan diri dengan bergabung kawanan penjudi dan pemabuk. Bagi dia, justru dalam judi ia menemukan keadilan, siapa yang kalah akan ludes, dan siapa yang menang akan berjaya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Namun hal itu disaksikan oleh ayahnya sebagai kenakalan tanpa kenal ampun. Meski Raden Syahid dica sebagai anak nakal, bengal dan susah diatur, namun ia senang berguru beladiri. Ia selalu rajin dan benar-benar mematuhi nasehat setiap guru ilmu kanuragannya. Maka jadilah dia orang yang kuat, sakti dan disegani.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Sayangnya ia kecewa dengan struktur masyarakat di sekitarnya dan melampiaskannya dengan cara berbuat semaunya sendiri. Mungkin hal ini karena usianya yang masih muda. Ia belum tahu bagaimana menggunakan kemampuan beladiri, kecerdasannya dan kesaktiannya. Apalagi setelah ia mengetahui perbedaan norma-norma yang didapat dari kiyai-nya dan kenyataan yang bertolak belakang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Kerjaannya hanya bertualang dan bermain judi, Kalau ia kalah, tidak segan-segan ia merampok rumah para pejabat. Kalau sudah mendapat rampokannya kembali ia berjudi! Seluruh kesenangannya dilakukan semaunya sendiri. Untuk apa berbuat baik , karena kenyataannya orang baik tidak dihargai dan hanya didalam cerita saja, pikirnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Namun beberapa informasi yang beredar beliau tidak memakan sendiri hasil rampokannya. Kadang ia bagi-bagikan ke penduduk desa yang miskin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">“Anak kurang ajar ! Membuat malu orang tua saja. Lebih baik mati saja kamu, sebelum lebih banyak dosa-dosamu”, keluh sang Ayah yang merasa gagal mendidik putranya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Kegerahan ini mencapai puncaknya ketika suatu malam, Raden Syahid tertangkap basah sedang mencuri gabah di gudang Istana. Ayahnya tentu saja gusar dan tidak bisa mentolerir putranya lagi. Menurut informasi yang beredar kala itu gabah itu bukan untuk dimanfaatkan sendiri, tetapi untuk di bagi kepada penduduk desa yang miskin. Akan tetapi tindakan pencurian di Istana terasa seperti mencoreng arang di muka Ayahnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">“Sahid, sudah keterlaluan kamu, Nak ! Untuk apa pula kamu mencuri gabah? Kurang apa ayah memuliakan kamu? Mau jadi brandal apa? Minggat dari Tuban ini !! Jangan sekali-kali menginjakann kaki di kadipaten Tuban lagi, kalau kamu tidak bisa menggetarkan orang Tuban dengan ilmu agama !” usir Sang Adipati kepada putranya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Dari sinilah Raden Syahid<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>rasa kesedihan, duka dan kekecewaan yang mendalam di hatinya. Akhirnya ia pun pergi meninggalkan kadipaten Tuban.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Raden Syahid pun mengembara, berhari–hari ia naik dan turun gunung, masuk kampung keluar kampung dengan pikiran yang kacau balau. Ia berpikir mencari kawanan perampok untuk ditundukkan dan direbut rampokannya. Sepertinya ia sudah tidak berniat untuk hidup di dunia ini, mati tertikam atau sekalian menjadi raja rampok.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">“ Hai para perampok-perampok bodoh. Pilih harta atau nyawa?” ketika bertemu dengan segerombolan perampok di hutan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">“Kau ini yang bodoh. Kami ini perampok kok dirampok ? Apa kamu mau mencari mati ? Belum tahu rupanya siapa Kethuk Lindu”, jawab Kepala Perampok.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Akhirnya Raden Syahid dikeroyok oleh para perampok. Meski mereka bersenjata pedang, parang dan tombak dengan mudah diparahkan perlawanan mereka dengan tangan kosong. Permainan beladiri Raden Syahid yang<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>memukau dengan permainan bawahnya yang cepat membuat roboh para perampok, dengan mengambil pedang dari salah satu perampok dan memporak-porandakan para perampok. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Lalu ia berhasil memiting kepala Kethuk Lindu dengan cengkeraman tangan kirinya yang kuat dan pedang diayun-ayunkan dengan tangan kanan<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>siap memenggal batang leher. “Menyerah atau mati ?!?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Akhirnya kawanan perampok yang dipimpin Kethuk Lindu menyerah dan berjanji setia kepada Raden Syahid. Namun para perampok ini tidak mengetahu siapa nama asli tuannya yang baru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">“Siapakah tuan ini sebenarnya” Tanya kepala perampok.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Mendengar pertanyaan itu Raden Syahid teringat siapa dirinya. Ia bermaksud menghilangkan jejaknya agar tidak diketahui keluarganya<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>di tuban, Maka ia terinspirasi untuk membuat julukan baru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">“Hahahahha Namaku.. Brandal Lokajaya. Asal usulku tidak penting. Yang jelas sejak saat ini kalian adalah pengikut Brandal Lokajaya “.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Sejak saat itu Brandal Lokajaya bersama pengikutnya barunya menguasai hutan Jatiwangi, sekitar daerah Kudus dan Pati, Jawa Tengah, Ia meneguhkan profesinya menjadi “berandal gelap nyawang”.Mereka menjadi kawanan perampok yang terkenal dengan gerakan aksinya yang sangat cepat seperti kilat, sehingga sangat sulit ditangkap dan dikenali identitasnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Ternyata Brandal Lokajaya yang cerdik dan ahli strategi ini selalu membagikan hasil rampokannya kepada anak buahnya dengan adil dan diam-diam membagi habis harta curiannya kepada penduduk kampung yang sangat miskin. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Suatu ketika semua usaha rampokannya tidak mendapat hasil. Semua usaha merampoknya gagal . Dan ditengah kegalauan akibat kegagalan mereka melihat adanya seorang bersorban dan berperawakan tinggi besar, berhidung mancung dan berkulit putih bersih. Pakaiannya berbeda dengan prang jawa pada umumnya dengan<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>memegang sebuah tongkat dari emas !!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">“Berhenti !! Harta atau nyawa !!”, hardik Lokajaya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Orang tua ini dengan tenang dan tetap tersenyum pun berkata, “Aku tak punya apa-apa, Lihat aku tidak membawa harta apapun, hanya tongkat penopang tubuh”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">“Jangan banyak tingkah orang tua ! aku tak punya banyak waktu. Serahkan tongkat emasmu itu !” tekan Lokajaya sambil memberi aba-aba kepada kawanannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">“Emas ? kalau sekedar mencari emas,<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>kenapa harus menghilangkan nyawa hamba Alloh ? lagi pula aku tak punya emas, ini tongkat kayu biasa, dan kalau kau mencari emas lihatlah dibebatuan itu ada tumbuhan kolang kaling berdaun emas”. Kata orang tua itu yang ternyata tongkatnya adalah hanya sebuah tongkat kayu biasa dan menunjukkan dengan tongkat kayu biasa itu ke arah daun kolang-kaling.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Seketika daun kolang kaling itu berubah menjadi emas !! Berandal Lokajaya pun terkesima bukan kepalang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Saat daun daun emas sudah di tangan mereka tiba-tiba kembali menjadi daun seperti biasa. Karena merasa tertipu Berandal Lokajaya pun berang dan menyerang orang tua itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Kemudian dengan kesaktiannya orang tua itu berubah menjadi lima orang yang serupa dan semuanya asli.Hingga akhirnya mereka berlima mengepung dan menghadang Lokajaya. Dan akhirnya Lokajaya menyerah kalah dan ingin berguru kepadanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">“Aku Sunan Bonang. Hanya orang yang sungguh-sungguh yang bisa menjadi muridku. Kamu harus bersuci dulu dari dosa-dosamu agar mendapat ampunan Allah SWT. Apakah kamu bersedia?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">“Baik kanjeng Guru , Bagaimana caranya bertobat agar mendapat ampunan-Nya?“ </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">“Bukankah pertama kali kamu menginginkan tongkat ? Nah sekarang, bacalah kitabku ini sebagai sarana taubatmu. Kitab ini adalah Tongkat Emas Sejati, datangnya dari Tuhan<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>yang Maha Pencipta Alam Semesta, Baca dan hafalkan sampai tuntas !!, Bersihkan tubuhmu dan hatimu dari perbuatan maksiat, dirikanlah musholla di sini dan bertirakatlah, Kalau aku belum datang, kamu tidak boleh meninggalkan tempat ini, Mudah-mudahan Alloh memberimu petunjuk”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Lokajaya menjawab, “Baik, saya akan laksanakan” , gemetar Lokajaya dengan janji di hatinya sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Lelaki tua itu memberikan kitab itu lalu pergi begitu saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Lokajaya pun selalu beribadah dan membaca kitab itu setiap hari. Ia hanya berhenti sesaat-sesaat untuk membersihkan tubuhnya, berwudhu, makan dan bersembahyang. Semua dilakukan hanya sekitar pondok yang dekat dengan sungai. Mata bathinnya kini telah terbuka lebar setelah membaca kitab dari gurunya yang ternyata sebuah “Al-Quran”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Rerumputan dan akar-akaran<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>serta pohon rembete tumbuh di sekitar pondokannya. Kiri kanan telah menjadi belukar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Setahun berlalu Sunan Bonang ingat janjinya dengan Lokajaya, Maka ia mencarinya di Hutan Jatiwangi. Tempat beribadah Lokajaya telah berubah sama sekali. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Sunan Bonang pun menyalakan api , hingga api hampir melalap pondok Lokajaya. Lokajaya tidak bergerak dari tempatnya. Atas karunia Alloh, pondoknya tidak tersentuh api, konon tobatnya diterima oleh Gusti Allah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">“Sembah bhakti saya pada Kanjeng Sunan!”, katanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">“Bersucilah dan bersihkan badanmu !” .</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Lokajaya pun menuju sungai dan tak lama sudah kembali dengan penampilan suci bersih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">“Apakah kamu sudah khatam kitab ini dan tahu isi yang tersurat maupun yang tersirat?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">“Atas restu Kanjeng Sunan, saya hafal dan faham”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">“Bagus. Kamu sudah melaksanakan perintahku, Teruslah belajar dan jadikan pedoman karena itulah dasar segala dasar Ilmu Syariat, Dari setiap nafasmu jangan lupakan ilmu syariat dan AlQuran”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">“Aku punya firasat, engkau adalah manusia yang sangat dibutuhkan oleh kawula alit di tanah jawa ini. Dan itulah jalan pengampunan tobatmu berikutnya. Kamu sudah banyak dosa, Lokajaya. Tapi engkau akan diampuni, setelah menjalani lelaku suci dan pakailah </span><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">nama &#8220;Syekh Malaya&#8221;. Malaya artinya berkelana. Sedangkan syekh itu sebutan bagi orang yang mempunyai ilmu untuk menyiarkan agama-Nya dan dikasihi Allah”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">“Tunjukkanlah<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>kepada saya lebih jelas, Guru” jawab Lokajaya alias Syekh Malaya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Anakku,<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>Malaya<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>hayatilah tongkat kayu gurdha ini. Ajaran ini sangat keras, kamu boleh mundur jika kamu mau. Tapi hanya inilah titianmu mencapai keridhoan-Nya. Hidup ini tiada lain mendapat ridho Alloh SWT. Lakukan ibadah siang dan malam, jangan putus dzikirmu. Saatnya engkau membersihkan hati yang tercela dan membersihkan pribadimu dari Selain Alloh SWT”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">“Baik, guru Sendika dhawuh”. Jawab Syekh Malaya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Makna dari<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>kayu gurdha adalah sebagai berikut :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Kayu berasal dari kata “Hayu”<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>artinya Yang Maha Hidup.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Gurdha berasal dari kata “Ridho” artinya mendapat perkenaan dari Allah SWT. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"><span style="mso-spacerun: yes;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Intinya dari kata-kata itu kematian kehidupan dan ibadah bukanlah untuk mencari pahala, surga ataupun imbalan lainnya namun untuk mencari ke-ridho-an-Nya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"><span style="mso-spacerun: yes;">                     </span>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;00&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">(Bersambung “Syekh Malaya meniti ke<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>Sunan Kali Jaga”)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">Diceritakan kembali oleh :Sarung Kampret</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">-Dongeng </span><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Nusantara</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="EN-US">-Mitos penduduk setempat</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2009/06/brandal-lokajaya-menuju-jalan-sufi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>MAEN GOLOK ala SELIWA</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2009/06/maen-golok-ala-seliwa/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2009/06/maen-golok-ala-seliwa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Jun 2009 06:36:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cover Story]]></category>

		<category><![CDATA[Liputan Khusus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=171</guid>
		<description><![CDATA[ 
…Sebilah golok berkelabat dengan cepat, hanya menyisakan kilau’an dari badan golok yang putih, susah diikuti dengan pandangan mata. Membentuk cahaya yang membungkus tubuh pemegangnya, berputar-putar, membacok, mengiris, dari atas kebawah, dari samping ke kanan, terkadang bersembunyi di ketiak, terlipat di tangan dan seterusnya; seperti tarian ular kobra dalam irama terompet.  Dan,.. bim salabim..!, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span></p>
<style>
st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
</style>
<p><![endif]--> <!--[if gte mso 10]></p>
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
	mso-para-margin:0in;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p><![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left;"><em>…Sebilah golok berkelabat dengan cepat, hanya menyisakan kilau’an dari badan golok yang putih,<span> </span>susah diikuti dengan pandangan mata. Membentuk<span> </span>cahaya yang membungkus tubuh pemegangnya, berputar-putar, membacok, mengiris, dari atas kebawah, dari samping ke kanan, terkadang bersembunyi di ketiak, terlipat di tangan<span> </span>dan seterusnya; seperti tarian ular kobra dalam irama terompet. <span> </span>Dan,.. bim salabim..!, golok sudah berpindah dari tangan kanan ke kanan kiri si pemegang golok, tanpa tahu kapan proses perpindahannya, nyaris tidak terlihat ..dan hoplah!..kini sudah berpindah lagi ke tangan kanan sambil dengan lincah bergerak, melangkah ke segala arah mengayunkan jurus-jurus seliwa yang cepat, tangkas dan<span> </span>telengas. </em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left;"><strong><em>Inilah ilmu golok khas betawi, Golok Seliwa</em></strong><em>. </em></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Adegan ini bukan terjadi di film, bukan juga dalam cerita silat fiksi; tapi sungguh ada dan nyata, bahkan dapat disaksikan secara langsung pada sebuah acara bertajuk ‘Workshop Golok Seliwa’. Workshop yang berlangsung pada hari minggu yang cerah, 20 Juni 2009, di bilangan Blok S, Jakarta Selatan ini diselenggarakan atas kerjasama antara Perguruan Golok Seliwa dan Komunitas Sahabat Silat yang biasanya mangkal di dunia maya (<a href="http://www.silatindonesia.com/">www.silatindonesia.com</a> dan <a href="http://www.sahabatsilat.com/">www.sahabatsilat.com</a> ). Lokakarya atau workshop yang dihadiri lebih dari 50 orang ini termasuk beberapa anak-anak, memang dimaksudkan untuk mengangkat kembali pencak silat khususnya pencak silat tradisional agar semakin dikenal dan dicintai oleh bangsa Indonesia.</p>
<p class="MsoNormal">
<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--> &lt;!&#8211;  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:&#8221;"; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;; 	mso-fareast-font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} &#8211;&gt; <!--[if gte mso 10]></p>
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
	mso-para-margin:0in;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p><![endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Mereka yang hadir pun berasal dari berbagai kalangan; laki-laki, perempuan, tua-muda, ada yang tertarik pada<span> </span>pencak silat tapi belum ada latar belakang beladiri apapun, professional muda, eksekutif di kantornya, karyawan swasta, pengangguran, pensiunan PNS, ibu rumah tangga, praktisi beladiri, pendekar hingga sesepuh pencak silat; semuanya berbaur dengan akrab, ramah, penuh persahabatan dan tanpa keinginan untuk menonjolkan diri masing-masing.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--> &lt;!&#8211;  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:&#8221;"; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;; 	mso-fareast-font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} &#8211;&gt; <!--[if gte mso 10]></p>
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
	mso-para-margin:0in;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p><![endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Tuan rumah pun yaitu Bang Husin, pewaris ilmu Golok Seliwa yang sudah langka ini, terlihat menyapa para tamunya dan berbaur dari satu tamu ke tamu yang lainnya dengan ramah dan penuh kekeluargaan.</p>
<p class="MsoNormal"><span style="text-decoration: underline;"><span style="text-decoration: none;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="text-decoration: underline;">Menjadi Tuan di Rumah Sendiri</span></strong></p>
<p class="MsoNormal">Acara workshop ini dibuka oleh moderator Mas Ekohadi, mewakili dari Komunitas Sahabat Silat, yang dalam sambutanya memberikan apresiasi pada pencak silat tradisional khususnya Seliwa yang sudah mau membuka diri dan bahkan mengadakan acara workshop untuk kalangan umum ini demi kelestarian pencak silat tradisional khususnya aliran Golok Seliwa .<span> </span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--> &lt;!&#8211;  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:&#8221;"; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;; 	mso-fareast-font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} &#8211;&gt; <!--[if gte mso 10]></p>
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
	mso-para-margin:0in;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p><![endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><em>(Dalam pict4, paling kiri berbaju putih : Ekohadi sedang membuka acara.</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>Pada pict 5, dari kiri Bang Edwel pendekar silek harimau, di tengah Bang Husin dan yang paling kanan adalah Pak Bambang Sarkoro)</em></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Setelah itu sambutan juga diberikan oleh Pak Bambang Sarkoro, selaku sesepuh dari Komunitas Sahabat Silat, yang mengungkapkan bahwa<span> </span>keberadaan kita semua (komunitas sahabat silat, dll) adalah karena keprihatinan atas nasib, silat tradional khususnya, yang semakin tersisih bahkan nyaris punah serta kurang dikenal oleh generasi penerusnya. Padahal pencak silat, selain warisan mulia dari leluhur yang harus dilestarikan, memiliki demikian banyak kekayaan budaya dan aspek pembanguan jiwa manusia;<span> </span>mulai dari aspek fisik, olahraga, mental spiritual, seni budaya dan juga kecerdasan-kecerdasan lainnya. “<em>Tujuan kita adalah agar pencak silat menjadi tuan di rumahnya sendiri! Dengan semakin dikenal dan dicintai oleh kaum mudanya”,</em> demikian Pak Bambang menegaskan sambutannya.<span> </span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><strong><span style="text-decoration: underline;">Asal Usul Seliwa <span> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal">Dalam perbincangan informal penulis, sebelum acara dimulai, Bang Husin membeberkan tentang ilmu Golok Seliwa yang langka ini. Menurut Bang Husin,<span> </span>salah satu sebab mengapa nama Seliwa dipakai<span> </span>adalah <span> </span>karena kebanyakan gerakan terakhir dalam jurus ilmu golok ini berakhir dengan Seliwa yaitu posisi kaki kiri didepan dengan tangan kanan di depan (posisi menyilang antara tangan dan kaki).<span> </span>Bang Husin sendiri mendapatkan<span> </span>ilmu ini dari keluarganya, yaitu dari ayahnya (babe—istilah betawi), Bpk Husni Embot. Sejak usia 15 tahun dia digembleng oleh babenya untuk ilmu Golok Seliwa dan beladiri tradisional<span> </span>lainnya; setelah itu dia juga sempat disuruh<span> </span>oleh ayahnya untuk berguru pada beberapa pihak lainnya.<span> </span>Babe’nya ini belajar dari kakek (engkong)-nya. <span> </span>Soal siapa guru di atas kakek’nya, Bang Husin sendiri mengaku tidak begitu tahu. Karena memang dulu waktu belajar tidak begitu banyak dikupas soal sejarah keilmuan aliran ini. Hingga praktis silsilah kelimuan berhenti di dua generasi di atas Bang Husin. Untuk saat ini praktis dapat dikatakan bahwa Bang Husin seoranglah yang masih memegang dan menguasai ilmu Golok Seliwa.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--> &lt;!&#8211;  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:&#8221;"; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;; 	mso-fareast-font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} &#8211;&gt; <!--[if gte mso 10]></p>
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
	mso-para-margin:0in;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p><![endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><em>(Ket : pict 6 tampak Bang Edwin di sebelah kanan dan Mas Harjanto di sebelah kiri sedang memperagakan ilmu Golok Seliwa..</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>Pada pict 7 ; tampak Mas Rudy yg baru belajar 3 bulan bermaen golok)</em></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Bang Husin lalu <span> </span>bertutur bahwa <span> </span>ilmu ini ya “maen golok”. Karena memang pelajaran untuk peguasaan golok adalah yang utama. Namun demikian pada tahap awal tetap saja akan diajarkan terlebih dahulu ilmu tangan kosong beberapa jurus, sebagai dasar dari permainan Golok Seliwa. Setelah menguasai jurus tangan kosong, murid baru diperbolehkan memegang golok dalam berlatih.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Untuk ukuran golok bagi seorang murid haruslah disesuaikan dengan murid itu sendiri. “Panjangnya satu jengkal masing-masing, ditambah 3 jari (direndeng). Itu untuk badan golok saja, tidak termasuk gagangnya”, kata Bang Husein. Ketika menjelaskan pentingnya ukuran golok yang sesuai untuk masing-masing murid. Hal ini dimaksudkan agar ketika bermain golok, senjata tajam ini tidak melukai pemainnya, karena ukuran panjang yang berlebih, ketika misalnya golok dilipat oleh tangan atau dilipat ke ketiak. Lebih bagus lagi, lanjut Bang Husin, jika goloknya benar pembuatannya yaitu lebih berat berada di bagian depan golok (dekat ujungnya) dan bukan di gagang. Inilah kekhasan golok betawi. Nantinya, ujar bang Husin, setelah menguasai ilmu ini dengan golok yang sesuai dengan kondisi masing-masing <span> </span>ini –istilahnya sudah mengenal sifat golok—akan lebih mudah memainkan beragam jenis dan panjang golok. “Asal kita sudah tahu dan kenal dengan sifat golok”, tandas Bang Husin.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><!--[if !mso]></p>
<style>
v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}
</style>
<p><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--> &lt;!&#8211;  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:&#8221;"; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;; 	mso-fareast-font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} &#8211;&gt; <!--[if gte mso 10]></p>
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
	mso-para-margin:0in;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p><![endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="text-decoration: underline;">Makna Seliwa</span></strong></p>
<p class="MsoNormal">Dalam workshop, pada acara pemaparan tentang ilmu golok seliwa , murid senior Perguruan Golok Seliwa, Bang Edwin mengungkapkan lebih dalam mengenai makna dari seliwa .<span> </span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Seliwa <span> </span>ternyata memiliki banyak arti yang mendalam. Pertama-tama, seliwa menunjukkan posisi fisik/tubuh yang menyilang antar tangan dan kaki. Misalnya kaki kiri di depan maka tangan kanan di depan dalam sikap pasang atau pukulan; demikian juga sebaliknya. Bahkan posisi salah satu tangan <span> </span>yang terbuka dan salah satunya menutup pun sudah dapat dikategorikan sebagai seliwa.</p>
<p class="MsoNormal">Seliwa juga dapat berarti tenaga yang bersilang. Misalnya dalam posisi kuda-kuda dengan kaki kanan dan tangan di depan; tumpu kekuatan tenaga ada di kaki kiri dan tangan kanan, ini juga sudah seliwa. Arah tenaga/energi yang berlawanan.</p>
<p class="MsoNormal">Arah yang hendak dituju juga dapat dimaknai sebagai seliwa jika untuk mencapainya tidak langsung (lurus) ke sasaran namun berputar, secara tidak langsung, melingkar atau ke bawah dulu baru ke atas, dan seterusnya. Tidak linier dan tidak satu arah tapi kaya akan berbagai kemungkinan arah. Dan yang terakhir seliwa dalam rasa. Rasa ke dalam diri dulu baru rasa ke luar diri.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Secara ringkas ada hal prinsip beladiri dalam ilmu Golok Seliwa yaitu amankan dulu (diri/posisi), bongkar dan habiskan.<span> </span>Penerapannya memang lebih mudah dilihat dalam praktek. Semisal ada lawan yang memegang leher kita, maka kita amankan dulu diri/leher kita, bongkar cekikaknya dan habiskan lawannya. Dalam prakteknya biasanya tiga hal ini bahkan dapat terjadi dalam satu gerakan saja.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><strong><span style="text-decoration: underline;">Jurus</span></strong><span style="text-decoration: underline;"> <strong>Seliwa</strong> </span></p>
<p class="MsoNormal">Untuk jurus dalam Seliwa, antara lain, ada yang namanya Pu’un (pohon) ada 6, jurus kembang ada 6; dan jurus gabungan ada 1; termasuk cara memegang senjata pada berbagai posisi, mencabut golok dari sarungnya, cara memutar, melipat, menyerang, berpindah tangan dan memulangkan kembali golok ke sarungnya tanpa melihat<span> </span>proses ini dengan pandangan mata.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 15.6pt;">Dalam setiap Jurus terkandung 8 unsur yaitu : <span style="color: black;"><br />
1. Sikap badan menghadap lurus (percaya pada yang Satu, untuk Satu Tujuan, dll);<br />
2. ada 2 bentuk tenaga yaitu tenaga.kosong dan isi (atau kombinasi setengah setengah)..dengan ibarat: kalau suami keluar rumah, harus meninggalkan bekal di rumah agar ar anak istri tidak <span> </span>kelaperan..<!--[if gte vml 1]><v:shapetype  id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" o:spt="75" o:preferrelative="t"  path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"> <v:stroke joinstyle="miter" /> <v:formulas> <v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0" /> <v:f eqn="sum @0 1 0" /> <v:f eqn="sum 0 0 @1" /> <v:f eqn="prod @2 1 2" /> <v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth" /> <v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight" /> <v:f eqn="sum @0 0 1" /> <v:f eqn="prod @6 1 2" /> <v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth" /> <v:f eqn="sum @8 21600 0" /> <v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight" /> <v:f eqn="sum @10 21600 0" /> </v:formulas> <v:path o:extrusionok="f" gradientshapeok="t" o:connecttype="rect" /> <o:lock v:ext="edit" aspectratio="t" /> </v:shapetype><v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" alt="Smiley"  style='width:14.25pt;height:14.25pt'> <v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\yk3233\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.gif" mce_src="file:///C:\DOCUME~1\yk3233\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.gif"   o:href="http://sahabatsilat.com/forum/Smileys/default/0100-smile.gif" /> </v:shape><![endif]--><!--[if !vml]--><img src="file:///C:/DOCUME~1/yk3233/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" alt="Smiley" width="19" height="19" /><!--[endif]--><br />
3. ada 3 wadah yang berisi tenaga yaitu .kaki, badan, tangan<br />
4. ada 4 cara tata cara pergerakan yakni: gerak hati, gerak badan, gerak kaki, gerak tangan dan ada 4 arah sasaran dasar.<br />
5. 4+1 gerak golok untuk 4 sehat 5 sempurna;<br />
6. Puun dan kembang masing memiliki 6 jurus;<br />
7. Setiap jurus Puun ada 7 langkah..<br />
8. Sampurna&#8230;(bulet semua sisi kayak angka 8 ini)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 15.6pt;">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 15.6pt;"><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span></p>
<style>
st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
</style>
<p><![endif]--> &lt;!&#8211;  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Wingdings; 	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:&#8221;"; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;; 	mso-fareast-font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} &#8211;&gt; <!--[if gte mso 10]></p>
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
	mso-para-margin:0in;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p><![endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Dalam belajar ilmu golok seliwa para praktisinya memang diminta untuk bersikap seperti bayi yang baru lahir; menyimpan dulu semua konsep/ketrampilanlainnya dan bersedia mengikuti contoh, bimbingan serta arahan dari perguruan. Kendari demikian, pada proses selanjutnya olah pikir juga akan mulai diterapkan<span> </span>dalam praksis beladiri atau permainan golok. Dilanjutkan dengen olah rasa ; dengan mengenal rasa, dan segala pernik-perniknya; yang kesemua hal ini diharapkan akan menumbuhkan kebijaksanaan yaitu niat yang luhur dan murni dari hati.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><strong><span style="text-decoration: underline;">Golok adalah bagian dari Diri </span></strong></p>
<p class="MsoNormal">Berbeda dengan kebanyakan konsep dalam beladiri<span> </span>lainnya. Senjata (golok) dalam Seliwa bukanlah perpanjangan dari tangan. Golok adalah bagian dari badan, bagian dari diri kita.<span> </span>Sehingga diharapkan bermain golok adalah bagian dari diri dengan segala atributnya.</p>
<p class="MsoNormal">Untuk lebih menjelaskan lagi konsep ini; Bang Edwin pun memberi contoh langsung pada peserta workshop. Katakanlah ada sebuah situasi dimana tangan kita yang memegang golok dapat dipegang dan dikunci oleh lawan sehingga menjadi ‘mati’ dalam makna beladiri. Karena golok adalah bagian tubuh praktisinya; maka bagian tubuh lainnya dapat membantu untuk meng’hidup’kan kembali golok dengan melakukan baik serangan balasan ataupun bongkar’an terhadap diri lawannya. Dengan demikian karena golok adalah satu kesatuan dengan tubuh atau dapat dikatakan sebagai bagian dari diri; maka interaksi dan<span> </span>juga gerakan golok juga tergantung dari pohon/tubuh atau diri praktisinya. Tidak peduli jika tangan praktisinya sudah ‘mati’ terkunci, selama masih ada bagian diri yang bisa meng’hidup’kan atau selama pu’un atau diri/badan masih bisa hidup maka selama itu pula golok Seliwa akan bisa tetap bisa ‘hidup’.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><strong><span style="text-decoration: underline;">Praktek ber-golok</span></strong></p>
<p class="MsoNormal">Tidak hanya mendengar ulasan tentang Seliwa ataupun sekedar melihat para praktisi seliwa memainkan golok; peserta workshop diajak untuk merasakan langsung keampuhan <span> </span>permainan golok ala Seliwa. Acara ini dilakukan selepas istirahan siang dan bertempat di lantai 2 tempat pertemuan tersebut yang adalah sebuah <span style="color: black;">Madrasah Haji Tajjudin bin Haji Syahroni.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;">Latihan ini pun dimulai dengan pengenalan dan praktek jurus tangan kosong dari Suliwa yang dicontohkan langsung oleh Bang Husin, dengan didampingi oleh para murid seniornya yaitu Bang<span> </span>Edwin, Mas Harjanto Pramono/ipam, Bang Janu, Mas Rudy, dan masih banyak senior lainnya; yang penulis sendiri kurang hapal namanya </span><span style="font-family: Wingdings; color: black;"><span>J</span></span><span style="color: black;"> &#8211;sorry ya&#8211;. Terlihat semua peserta tampak antusias dalam menjalankan jurus-demi jurus tangan kosong.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;">Memang jurus dalam seliwa <span> </span>yang diberikan memiliki tingkat kesulitan masing-masing.<span> </span>Bang Husin sendiri<span> </span>sempat memainkan beberapa jurus sebagai contoh. Terlihat gerakannya sangat cepat, tegas tapi lentur dan siap dengan banyak kemungkinan perubahan. Seorang anggota Seliwa membisiki penulis bahwa kekhasan Golok Seliwa diantaranya adalah permainan goloknya yag cepat dan tegas ini, serta perpindahan golok ke tangan yang lainnya (kanan/kiri) yang tidak terlihat atau <span> </span>nyaris tidak dapat terdeteksi oleh penonton, berikut <span> </span>cara memasukkan golok ke sarungnya yang dilakukan dengan mengandalkan rasa dengan <span> </span>tanpa melihat ke golok/sarung.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;">Dan tibalah saatnya untuk berlatih golok berdasarkan jurus tangan ksong tadi. Penulis sendiri sebetulnya tidak biasa memegang golok dan ada rasa ‘ngeri dan seram’ jika memegang atau melihat golok di tangan orang lain. Hal ini mungkin dirasakan juga oleh sebagian peserta yang belum memiliki latar belakang beladiri. Dalam memandang golok memang agak menakutkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;">Namun seiring berjalannya waktu terlihat bahwa memang dalam ilmu seliwa, golok adalah maen golok. Jadi peserta memang seakan begitu asyik bermain-main dengan golok walaupun golok yang<span> </span>penulis pegang hanyalah golok tumpul ; karena belum berani memegang golok yang tajam; seperti miliki mas rudy alias keentup tawon yang<span> </span>mampu mengiris kertas dengan hasil yang sama<span> </span>dihasilkan oleh ketajaman silet…wuiihhh…bagi penulis<span> </span>memang masih terasa agak mendebarkan jantung. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;">Lama kelamaan golok (tumpul </span><span style="font-family: Wingdings; color: black;"><span>J</span></span><span style="color: black;"> ) tidak lagi menakutkan malah menjadi sesuatu yang menyenangkan untuk diolah, digerakan dan mulai mendapat bayangan dengan apa yang dimaksud dengen golok adalah bagian dari tubuh; bahwa seliwa<span> </span>adalah maen golok.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;">Latihan tidak hanya melibatkan golok, salah seorang murid senior Bang Husin yaitu Mas Harjanto (alias ipam atawa mantrijeron, betul gak ni namanya?—maaf ya kalo salah) berbaik hati berbagi satu dua teknik pisau ; langsung dalam sebuah aplikasi praktis menghadapi serangan pisau dan melakukan serangan dengan pisau.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="text-decoration: underline;"><span style="color: black;">Penutup<span> </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;">Menjelang sore acarapun disudahi dengan harapan terus bergelora untuk semakin melestarikan budaya luhur bangsa pencak silat tradisional. Sebab memang sebagai bangsa Indonesia, kurang lengkap rasanya jika belum mengenal dan mencintai budayanya sendiri, pencak silat. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;">Jangan mengaku orang Indonesia kalau belum kenal pencak silat!&#8230;:)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;">Kenalilah pencak silat walau hanya satu jurus. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;">“Satu Jurus, Satu Hari”, untuk kelestarian budaya bangsa, warisan mulia dari leluhur kita ini. Inilah salah satu bukti nyata bahwa <span> </span>kita mencintai bangsa Indonesia,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;"><span> </span>mencintai tanah air dan tumpah darah Indonesia..</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;">Jakarta</span><span style="color: black;">, </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;">24 juni 2009</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color: black;">Ian Samsudin </span></p>
<p class="MsoNormal">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2009/06/maen-golok-ala-seliwa/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Workshop Golok &#038; Pisau khas Silat Seliwa</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2009/06/workshop-golok-pisau-khas-silat-seliwa/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2009/06/workshop-golok-pisau-khas-silat-seliwa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Jun 2009 02:35:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cover Story]]></category>

		<category><![CDATA[Featured Articles]]></category>

		<category><![CDATA[Flash Info]]></category>

		<category><![CDATA[Information]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=169</guid>
		<description><![CDATA[Sahabat Silat, Setelah tertunda sekian lama, workshop Golok &#38; Pisau  khas Silat Seliwa Insya Allah akan diselenggarakan pada:

Hari/Tanggal:  Sabtu, 20 Juni 2009


Tempat: Madrasah Haji Tajjudin bin Haji Syahroni, Jl.  Kebalen 2, Blok S, Kebayoran Baru


Jam: 10.30 - 12.00 Diskusi mengenai  kaidah Silat Seliwa


Jam 13.30 - 16.00 Workshop

Acara ini terbuka  untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sahabat Silat, Setelah tertunda sekian lama, workshop Golok &amp; Pisau  khas Silat Seliwa Insya Allah akan diselenggarakan pada:</p>
<ul>
<li>Hari/Tanggal:  Sabtu, 20 Juni 2009</li>
</ul>
<ul>
<li>Tempat: Madrasah Haji Tajjudin bin Haji Syahroni, Jl.  Kebalen 2, Blok S, Kebayoran Baru</li>
</ul>
<ul>
<li>Jam: 10.30 - 12.00 Diskusi mengenai  kaidah Silat Seliwa</li>
</ul>
<ul>
<li>Jam 13.30 - 16.00 Workshop</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Acara ini terbuka  untuk siapa saja, baik anggota maupun non anggota Komunitas  SahabatSilat.com, dipersilakan untuk berpartisipasi. Sesi pagi (diskusi)  tidak dikenakan biaya, sedangkan sesi siang (workshop) dikenakan biaya Rp  150.000,- per peserta. Bagi peserta workshop, golok untuk pelatihan akan  dipinjamkan oleh panitia, dimana saat ini telah disediakan golok sebanyak 10  buah. Apabila peserta melebihi, akan dipesan lagi golok tambahan. Untuk itu kami  mohon agar paling lambat Rabu, 10 Juni 2009, peserta telah mendaftarkan dirinya  agar mendapatkan golok.</p>
<p>Kami harapkan partisipasi dari Sahabat Silat  semua&#8230;&#8230; Dijamin enggak rugi ikutan workshop ini, permainan Silat Seliwa  sangat unik dan sangat menarik untuk dipelajari.</p>
<p>Keterangan selanjutnya,  silakan PM Mas Rudy di <a href="mailto:keentuptawon%40yahoo.com"></a></p>
<ul>
<li><a href="mailto:keentuptawon%40yahoo.com">keentuptawon(AT)yahoo.com</a></li>
<li><a href="mailto:parewa%40sahabatsilat.com">parewa(AT)sahabatsilat.com</a>.</li>
</ul>
<p><a href="http://sahabatsilat.com/forum/index.php?topic=1024.15">http://sahabatsilat.com/forum/index.php?topic=1024.15</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2009/06/workshop-golok-pisau-khas-silat-seliwa/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kredibilitas Pencak Silat Indonesia</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2009/06/kredibilitas-pencak-silat-indonesia/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2009/06/kredibilitas-pencak-silat-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 02:48:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Flash Info]]></category>

		<category><![CDATA[Serbaneka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=168</guid>
		<description><![CDATA[Bulan Agustus akan diramaikan dengan ajang pertandingan pencak silat di kawasan  Sub Mekong Region.
Asia Martial Arts Games akan digelar pada tgl 1 - 9  Agustus di Thailand sesudah ditangguhkan karena rayot di Bangkok bulan  lalu. Asia Indoor Sport Games juga akan digelar di penghujung bulan yang sama  di Hanoi Vietnam. Desember [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bulan Agustus akan diramaikan dengan ajang pertandingan pencak silat di kawasan  Sub Mekong Region.<br />
Asia Martial Arts Games akan digelar pada tgl 1 - 9  Agustus di Thailand sesudah ditangguhkan karena rayot di Bangkok bulan  lalu. Asia Indoor Sport Games juga akan digelar di penghujung bulan yang sama  di Hanoi Vietnam. Desember mendatang akan juga diramaikan pesta olahraga Sea  Games di Vientian LaosPDR</p>
<p>Persiapan pesilat sudah barang tentu menjadi  prioriti pertama, Pencak Silat sejak Sea Games 1987 mulai dipertandingkan.  Indonesia tempat tujuan negara negara tetangga untuk mempersiapkan pesilatnya  dengan berlatih bersama dan uji coba. KIni peta pemusatan latihan dan untuk  menjajal kekuatan lawan mulai berubah. Vietnam rupanya mendapat kepercayaan  dari luar negeri tempat untuk berlatih dan mempersiap diri menghadapi even yg  besar. Brunei sudah merubah pandangannya untuk berlatih berbulan bulan di  Hanoi, Pencak Silat Laos mempersiapkan pesilatnya mendapat bantuan sapenuhnya  dari pemerintah Vietnam untuk berlatih bersama sama di Vietnam.<br />
Bulan ini  juga Tim Pencak Silat Vietnam akan berlatih sebulan bersama Thailand Pencak  Silat tim di Phuket Thailand Selatan. Ada apa gerangan menjadi kan tanda  tanya mengapa mereka yang semula bertandang berlatih di Padepokan Pencak Silat  Indonesia kini beralih ke Vietnam dan Thailand. Tidak cukup kuat kah tim  Pencak Silat Indonesia atau mereka kecewa atas pelayan kita mungkin juga  bisa mereka menutup diri agar tidak diketahui tim Indonesia.</p>
<p>Patut  menjadi catatan semenjak tahun 2000 tim Vietnam kerap kali datang berlatih di  Indonesia. Tim Indonesia tahu teknik tim Vietnam di buatnya dukumentasi,  alihwal di even tim Indonesia terus kalah berkali kali. Karena prustasinya tim  Indonesia dijangkiti penyakit jiwa Vietnam Syndrom.  Mari kita pikirkan  pertahankan kredibilitas pencak silat Indonesia sebagai negara  sumber.</p>
<p>Wassalam</p>
<p>O&#8217;ong Maryono</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2009/06/kredibilitas-pencak-silat-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Seminar Pencak Silat di Universitas Indonesia kampus Depok</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2009/05/seminar-pencak-silat-di-universitas-indonesia-kampus-depok/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2009/05/seminar-pencak-silat-di-universitas-indonesia-kampus-depok/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 May 2009 15:53:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Featured Articles]]></category>

		<category><![CDATA[Flash Info]]></category>

		<category><![CDATA[Information]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=165</guid>
		<description><![CDATA[SEMINAR PENCAK SILAT
(Menggali Nilai Filosofi dan Relevansi dalam Konteks  Zaman)
Seni bela diri Pencak Silat dikenal sebagai salah satu hasil  budaya asli Indonesia. Dipercaya bermula dari bangsa Melayu yang ada di pesisir  Sumatra dan Semenanjung Malaya, Pencak Silat telah berkembang di nusantara sejak  abad Ke-VII. Dalam kelanjutannya, Pencak silat dianggap pula sebagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SEMINAR PENCAK SILAT<br />
(Menggali Nilai Filosofi dan Relevansi dalam Konteks  Zaman)</p>
<p>Seni bela diri Pencak Silat dikenal sebagai salah satu hasil  budaya asli Indonesia. Dipercaya bermula dari bangsa Melayu yang ada di pesisir  Sumatra dan Semenanjung Malaya, Pencak Silat telah berkembang di nusantara sejak  abad Ke-VII. Dalam kelanjutannya, Pencak silat dianggap pula sebagai salah satu  identitas dari bangsa Indonesia. Tidak hanya menekankan pada teknik bela diri,  melainkan pula makna filosofis dan berbagai aspek dalam masyarakat. Nilai moral  spiritual, Seni gerak, bela diri, dan olahraga adalah aspek-aspek yang  terkandung dalam pencak silat.</p>
<p>Jika dilihat sekilas, pencak silat  dianggap sebagai olahraga yang berhubungan dengan fisik saja. Namun, jika kita  melihatnya lebih dalam, akan terungkap nilai-nilai filosofis yang luhur. Tiap  gerakan dalam pencak silat itu sendiri, tidak lepas kaitannya dengan nilai moral  tata krama ketimuran danreligi. Inti dari ilmu dalam pencak silat adalah  pertahanan dan penyerahan diri pada ilahi.</p>
<p>Dalam konteks modern, pencak  silat dinilai banyak orang sebagai seni bela diri yang tidak populer untuk  dipelajari. Sangat jauh dirasakan ketika dibandingkan dengan karate, taekwondo,  dan wushu dalam bidang ketenaran. Kurangnya informasi mengenai pencak silat dan  mind set orang Indonesia yang import oriented inilah menyebabkan pencak silat  seakan tenggelam dalam negerinya sendiri. Oleh karena itu, Departemen Kajian  Budaya Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia 2009, dengan tujuan  memberikan ide, bukan informasi tanpa guna, menyelenggarakan Seminar Pencak  Silat yang bertajuk â€œMenggali Nilai Filosofi dan Relevansi dalam Konteks  Zamanâ€.</p>
<p><strong>Hari dan TEMPAT</strong><br />
Hari/tanggal : Kamis, 28 Mei 2009<br />
Jam : 10:00 â€&#8221; 16:00  WIB<br />
Tempat : Auditorium gedung IX Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya,  Universitas Indonesia kampus Depok</p>
<p><strong>Pembicara</strong><br />
1. Purwoto Hadi Purnomo  (Pendiri perguruan dan guru besar Merpati Putih).<br />
2. Bagus Takwin (Aktivis,  penulis, dan akademisi dari Fakultas Psikologi UI).<br />
Moderator: I Yudhi  Soenarto (Dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI).</p>
<p>Acara berupa  seminar, workshop, dan demo dari perguruan silat Merpati Putih dan  Cingkrik.<br />
Disediakan pula coffee break dan hiburan.</p>
<p>Seminar ini  terbuka untuk seluruh mahasiswa sevitas akademia Universitas Indonesia dan  masyarakat umum.</p>
<p>Datang dan maknai nilai luhur dalam warisan budaya  bangsa Indonesia ini, karena bangsa yang berbudaya adalah bangsa yang menghargai  tradisi lokalnya.</p>
<p><strong>Contact person:</strong><br />
1. Doni (Filsafat 2008) 021  93467734<br />
2. Alan (Sejarah 2008) 081808575525</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2009/05/seminar-pencak-silat-di-universitas-indonesia-kampus-depok/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sabtu di Padepokan Silat TMII</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2009/04/saban-sabtu-di-padepokan/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2009/04/saban-sabtu-di-padepokan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Apr 2009 08:31:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel Silat]]></category>

		<category><![CDATA[Cover Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=164</guid>
		<description><![CDATA[ 
Ada apa sih di padepokan saban sabtu? Mungki pertanyaan inilah yang kerap kali menjadi bahan pertanyaan pesilat yang dahulunya aktif di Sahabat Silat maupun pesilat yang sama sekali belum pernah datang ke padepokan.

Padepokan Pencak Silat Nasional TMII Jakarta, terletak tidak jauh dari Taman Mini Indonesia Indah yang namanya sudah amat terkenal, bersebelehan dengan Majid [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span></p>
<style>
st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
</style>
<p><![endif]--> <!--[if gte mso 10]></p>
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
	mso-para-margin:0in;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p><![endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Ada apa sih di padepokan saban sabtu? Mungki pertanyaan inilah yang kerap kali menjadi bahan pertanyaan pesilat yang dahulunya aktif di Sahabat Silat maupun pesilat yang sama sekali belum pernah datang ke padepokan.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Padepokan Pencak Silat Nasional TMII Jakarta, terletak tidak jauh dari Taman Mini Indonesia Indah yang namanya sudah amat terkenal, bersebelehan dengan Majid At-TIN, masjid yang didirikan oleh Ibu Tien Suharto, Pedepokan silat pun sebenarnya adalah prakarsa Ibu Tien Suharto, untuk bangsa kita ini dan saat ini sudah berdiri amat kokoh.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Pedepokan ini memang tidak seramai MALL TAMINI yang lokasinya memang bersebelahan, bahkan kadang selesai latihan kamipun sering meluangkan waktu kongkow2 disana untuk sekedar melepaskan lelah dan mencari pemandangan baru.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Oke, kita tinggalkan suasana TAMINI SQUARE, kita kembali masuk ke dalam Padepokan, dari kejauhan sudah nampak wajah2 yang sudah tidak asing bagi kami, beberapa guru maupun pesilat yang memang sengaja datang untuk berlatih silat tradisional di pedepokan ini, namanya juga pedepokan Silat tentunya mereka pasti belajar silat masak belajar topeng monyet hehehe.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Latihan di pagi ini ada dua aliran, Aliran Cingrik oleh pak Bambang, dan satu lagi aliran Gerak Gulung, keduanya tidak berjauhan, kami duduk sambil memandang para pesilat gerak gulung maupun cingrik.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Pagi ini ada 3 orang wanita pesilat cingrik, dan selebihnya adalah pesilat pria, Sayangnya kami tidak sempat berkenalan dengan ke tiga pesilat putri itu yang salah satunya berambut bule, tapi bahasa indonesianya udah cukup lancar.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Lalu kami berbincang-bincang dengan salah satu guru utama gerak gulung yaitu pak Awang, dan ada juga guru besar lainnya seperti kong Nizam yang penuh wibawa berbincang-bincang<span> </span>dengan Mr. Oong Maryono.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Tak Terasa hari makin siang, perut rasanya makin keroncongan, tujuan kami adalah kantin di padepokan, saat melewati hotel padepokan ada yang berbeda, yaitu fasilitas WIFI PUBLIK dari Telkom, jadi bagi pengguna Notebook ataupun Smartpone bisa bebas menggunakan WIFI nya disini tanpa di pungut bayaran.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Kesimpulan kami adalah bahwa suasan padepokan makin sepi, kegiatan silat ritun di isi oleh beberapa perguruan saja, sisanya adalah kegiatan Non Silat, namun tidak apalah silat sepi yang penting masih banyak orang yang semakin peduli dengan silat tradisional kita ini, walaupun mereka berkulit putih,<span> </span>rambut bule, toh bagi mereka budaya bangsa kita ini tinggi nilainya bagi mereka. (Yanweka)</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2009/04/saban-sabtu-di-padepokan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sahabat Silat dan stasiun televisi Perancis</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2009/04/sahabat-silat-dan-stasiun-televisi-perancis/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2009/04/sahabat-silat-dan-stasiun-televisi-perancis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Apr 2009 06:25:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Information]]></category>

		<category><![CDATA[Sahabat Silat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=163</guid>
		<description><![CDATA[Pagi itu Jum’at 17 Aril 2009, waktu sudah lewat jam setengah delapan. Berdasarkan janji dari sms yang dikirim Bang Ochid dan Bang Ajad, hari ini kami harus berkumpul di gedung Hidro jam setegah sembilan untuk mengantarkan dua orang tamu Sahabat Silat dari sebuah stasiun televisi Perancis, Singh dan Lionel yang akan meliput maenpo Cikalong di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi itu Jum’at 17 Aril 2009, waktu sudah lewat jam setengah delapan. Berdasarkan janji dari sms yang dikirim Bang Ochid dan Bang Ajad, hari ini kami harus berkumpul di gedung Hidro jam setegah sembilan untuk mengantarkan dua orang tamu Sahabat Silat dari sebuah stasiun televisi Perancis, Singh dan Lionel yang akan meliput maenpo Cikalong di tempat asalnya Cianjur. Begitu mepetnya waktu pagi itu dan karena takut ketinggalan kutelpon lebih dahulu kang Wiwit yang biasanya paling on-time untuk sekedar memberi kabar jangan sampai ditinggalkan jika terlambat barang sepuluh lima belas menit. Maklum jika dalam rombongan perjalanan yang menjadi “kepala suku” adalah bang Ajad, maka kawan yang satu ini akan dengan tegaan meninggalkan yang terlambat.</p>
<p>Setelah merapikan semua persiapan dan meminta “exit permit” ke sang istri tercinta, jam delapan pas dengan motor bebek dekil kesayangan yang mulai butut kupaksakan ngebut melibas jalan yang mulai agak lengang. Belum sampai dua kilo perjalanan dari rumah, ahhhh kameraku ketinggalan….dengan terpaksa dan dongkol ku kembali ke rumah. Waktu yang tinggal sedikit memaksa kembali menelpon kang Wiwit untuk setidaknya meminta atau sedikit merayu bang Ajad atau bang Ochid jika sampai aku tak sampai tepat waktu.</p>
<p>Sepanjang perjalanan menuju ke Cawang, terlintas ingatan beberapa obrolan dengan kedua tamu kita dari Perancis tersebut. Setelah dua kali pertemuan dengan mereka baik di tempat latihan Beksi Tradisional Haji Hasbullah, di Kebagusan yang tak jauh dari rumahku atau di rumah guru Perguruan Gerak Saka bapak Muhammad Sani, jalan H.Jamhur II – Ciganjur mengenai pencak silat itu sendiri, keduanya selalu bilang bahwa orang Indonesia sangat ramah dan beruntung memiliki kakayaan seni bela diri yang begitu beragam dan unik. Kadang dalam pikiran ini juga sebenarnya antara takut dan khawatir jika penerimaan kita tak sebaik yang mereka bayangkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun dengan beberapa kali pertemuan baik dari awal dengan Silek Harimau, Beksi Tradisional H. Hasbullah, Gerak Saka dan Golok Suliwa ternyata alhamdulillah semuanya selalu memberikan kejutan bagi mereka….Beruntung sepanjang jalan Lenteng Agung dan Pasar Minggu tidak terlalu padat, meski di beberapa perempatan jalan ada sedikit tersendat sehingga dengan motor bebek kesayanganku dapat dengan leluasa melenggang sampai di gedung Hidro-Cawang dengan keterlambatan waktu tak lebih dari tujuh menit.</p>
<p>Ternyata kedua “kepala suku” untuk perjalanan ke Cianjur belum muncul, beruntung juga saat itu karena Cuma kang Wiwit yang baru hadir. Setelah telpon sana-sini baik ke Uda Alda maupun ke bang Ajad dan Bang Ochid akhirnya mobil yang akan digunakan ke Cianjur tampak!!!! wah … kedua kawan kita ini masih menggunakan seragam dinas instansinya…he he he, mungkin ini yang sering kita dengar antara kegilaan dan kecintaan pada pencak silat begitu tipis. Meski menertawakan segala tingkah dan cara “meminta izin” ke atasannya yang saya tahu itu sebenarnya bukan hal yang lucu, karena dari kedua penuturan baik bang Ochid maupun bang Ajad yang rela “mabur” cuma untuk mengantarkan tamu Sahabat Silat di hari kerja ini di dalam hati secara pribadi saya salut buat kedua kawan kita ini, ternyata pengorbanannya tak sebatas omong semata….</p>
<p>Kamipun meluncur ke arah UKI – Cawang untuk menjemput Singh dan Lionel di Padepokan Pencak Silat Indonesia yang mungkin telah lama menunggu. Kali ini yang membawa mobil adalah bang Ochid, entah antara bingung atau apa rute yang seharusnya lurus ke arah UKI malah berbelok arah kembali ke arah Cililitan….dan kita hanya tertawa ketika bang Ajad yang kita tahu kantornya di BKN rada sewot karena setelah “mabur” eh malah kembali mendekat ke kantornya…</p>
<p>Jam sembilan empat puluh tujuh menit kita berempat sampat di padepokan dan berlima menuju ke arah Cianjur. Kali ini yang membawa mobil adalah bang Ajad yang dengan seragam instansinya mirip supir taksi Citra (sorry bang…) namun begitu biasanya untuk mengejar waktu, abang kita yang satu ini memang mahir dalam kebut-kebutan sehingga tak hanya kita yang mengakui kelihaiannya tapi kedua tamu kita juga mengacungkan jempol untuk bang Ajad . Di kilo meter dua pulu empat tol Jagorawi arah ke Bogor, kita di beritahu untuk bertemu pak Eddie Marzuki Nalapraya di kediamannya di Cipayung oleh Uda Alda. Dan pak Haji Azis Asy’arie pun sedang dalam perjalanan menuju ke sana.</p>
<p>Sepanjang perjalanan yang banyak diisi obrolan ringan dan canda sehingga tak terasa kita sampai di kediaman pak Eddie sekitar jam sepuluh lima puluh lima. Sambutan pak Eddie-pun tak kalah hangatnya dengan sambutan saudara-saudara dari berbagai perguruan, canda tawa, singkong goreng dan kopi hangat menjadi awal pembuka sambutan pak Eddie. Perkenalan, perbincangan seputar pencak silat juga obrolan yang berkaitan dengannya menjadi semakin seru, apalagi menurut Singh, baru kali ini dapat sambutan langsung dari seorang pionir ketua organisasi bela diri dunia atau seorang sesepuh yang menjabat presiden PERSILAT hingga 2008 menyambut dengan hangat dan bersahabat. Malah pak Eddie menawarkan pada Singh dan Lionel untuk bermalam jika pulang dari Cianjur terlalu malam ke Jakarta di tempat kediamannya di Cipayung.</p>
<p>Beberapa saat kemudian pak Haji Azis Asy’arie datang, hingga suasana perbincangan semakin ramai dan hangat. Tak lupa setelah berwawancara dengan pak Eddie, baik Singh maupun Lionel diberikan kesempatan untuk melihat beberapa album foto kegiatan yang pernah diikuti oleh pak Eddie di berbagai manca Negara mempromosikan dan mengembangkan pencak silat. Saat waktu menunjukkan jam sebelas empat puluh menit, dengan dua mobil bersama pak Eddie berangkat menuju masjid terdekat untuk menunaikan ibadah shalat Jum’at sementara kedua tamu, kita persilahkan beristirahat di kamar tamu yang disediakan oleh tuan rumah.</p>
<p>Selesai shalat Jum’at, kami kembali kembali ke rumah pak Eddie yang telah disediakan makan siang….. ada hidangan iga kambing, ayam, sambal, lalap, sayur wah…komplit. Sebelum makan saya sempat bertanya kepada Singh, apakah dia seorang vegetarian atau tidak? Ternyata alhamdulillah dia bukan dan boleh memakan daging (karena sebelumnya kita khawatir jangan-jangan tidak boleh memakan daging karena alasan kepercayaan misalnya) Meski sedang alergiku datang he he he demi menghormati tuan rumah (juga menghormati santapan lezat) makan siang itu kita sikat dengan lahap. Selesai makan pak Eddie menyuguhkan atraksi pencak silat dari perguruan setempat, perguruan pencak silat Paku Bumi yang diasuhnya. Kedua tamu inipun langsung melaksanakan tugas jurnalistiknya, sementara kita melanjutkan obrolan, bang Ochid ikutan mendokumentasikan. Pada jam tiga kurang lima belas, bang Ajad, bang Ochid, saya, kang Wiwit, kedua tamu kita dan pak Haji Azis berpamitan untuk segera melanjutkan perjalanan ke Cianjur. Dan saat melepas pak Eddie tak lupa menawarkan kembali kepada kedua tamu dari Perancis ini untuk bermalam, dan jika setuju tinggal sms saja..</p>
<p>Perjalanan dilanjutkan menuju Puncak, beberapa panorama yang memang indah menarik perhatian kameramen Lionel untuk mengambil beberapa gambar. Atas kesepakatan maka saat di Puncak pass kita berhenti untuk sekedar mengambil beberapa gambar, suasana dan pemandangan. Beberapa pedagang batu cincin menawarkan pada Singh, dengan maksud membantunya saya mencoba memberitahu bahwa tamu Perencis ini tidak akan membeli, eh tukang dagang itu malah berkata, “saya mah tidak menawarkan pada bapak…tapi pada orang itu…” sambil pergi meninggalkan kita wah….??!! Beberapa menit berlalu, pengambilan gambarpun selesai dan kami kembali ke mobil untuk bergegas ke Cianjur yang telah menunggu bapak Wakil Bupati Drs H. Dadang Sufianto MM dan Guru Besar Paguron Maenpo Cikalong Pancer Bumi, pak Haji Ceng Suryana dan para pengurus. Sepanjang jalan Puncak – Cianjur, kedua tamu kita mulai terasa kelelahan dan tertidur. Sementara yang lain tetap meneruskan obrolannya.</p>
<p>Memasuki gerbang Cianjur kita membangunkan kedua tamu kita untk pengambilan gambar gerbang masuk kota Cianjur. Dan tiba di kota Cianjur sekitar jam empat sepuluh menit sebelum menuju tempat latihan, kami mampir terlebih dahulu ke rumah pak haji Azis untuk mengambil baju latihan. Di tempat latihan, semua yang menunggu telah bersiap untuk latihan. Seperti biasa, begitu tamu datang selalu tersedia jamuan berua kue-kue dan minuman hangat. Sehingga membuat tamu terasa betah karena tak dianggap sebagai orang lain. Beberapa kali Singh terlibat perbincangan dengan pak WaBup, pak Dadang dan pak Haji Ceng Suryana. Beberapa kawan dari paguron ikut serta dalam perbincangan yang meambah seru suasana. Sesekali kita menyarankan Lionel atau Singh untuk sekedar “tempelan” tangan dengan pelatih atau guru paguron ini malah dengan WaBup Cianjur yang juga seorang praktisi maenpo Cikalong.</p>
<p>Semakin lama suasana semakin mengasyikan, kedua tamu yang telah menyelesaikan liputannya semakin asyik hanyut “bermain” dengan para guru dan pelatih maenpo Cikalong. Teknik yang didapat semakin membuatnya terkagum-kagum akan pengetahuannya tentang keberagaman pencak silat yang dilihat dan disaksikan langsung. Selepas maghrib semua menunaikan shalat maghrib, dan sekitar jam tujuh kami berpamitan untuk kembali ke Jakarta. Kelelahan yang dirasakan tamu kita dari Perancis membuatnya ingin segera kembali Ke Hotel di Jakarta dan dengan menyesal mereka meminta maaf kepada kita bahwa mereka tak dapat menginap di pak Eddie..kamipun berpamitan kepada para sesepuh paguron, pengurus dan pak WaBup Cianjur untuk kembali ke Jakarta.</p>
<p>Sepanjang perjalanan ke Jakarta, kedua tamu ini bilang sangat disayangkan waktu yang mereka miliki sedikit. Andaikan ada waktu sekitar satu atau dua bulan, mereka akan habiskan waktu untuk belajar pencak silat yang menurut mereka sangat unik. Persaudaraan yang diperlihatkan sangat tulus dan menyenangkan. Menurut mereka inilah makna sesungguhnya dari pelajaran bela diri yang dipelajari, bahwa bela diri sesungguhnya mewarnai persahabatan dalam kehidupan. Inilah yang menarik hati mereka….</p>
<p>Kelelahan membuat tamu kitapun tertidur kembali diperjalanan pulang menuju Jakarta, sekitar satu setengah jam perjalanan membuat perut terasa keroncongan. Bang Ochid, bang Ajad yang kembali menjadi “pilot”, kang Wiwit dan saya saling bertanya makan apa kita kali ini? Tepat di rumah makan Sunda, kami turun dan memesan makanan khas rumah makan ini, dan bang Ochid lah yang bertindak sebagai bos yang membayar semua makanan (he he he ketiban pulung lagi). Dua nasi goreng babat, jus strawberry, empat nasi timbel lengkap plus pete bakar membuat kekhusukan dan kelahapan makan bertambah… dan tamu kitapun disuguhkan nasi timbel lengkap yang juga dimakan dengan lahap he he he nyobain timbel..</p>
<p>Tiba di Jakarta lewat jam sebilan duapuluh malam, mobil begitu keluar tol Cawang dibelokkan ke arah Cililitan untuk mampir ke kantor bang Ajad yang memarkir mobilnya hingga malam dan tinggal mobilnya sendiri yang berada di sana. Kedua tamu kita hanya tertawa dan kagum begitu mendengarkan pengorbanan yang dilakukan para anggota Sahabat Silat untuk mempromosikan pencak silat hingga berani “mabur” dari kerja untuk kegiatan ini. Di deapan kantr BKN Cawang, bang Ajad berpamitan pada semua. Kamipun melanjutkan perjalanan kembali ke gedung Hidro dimana sepeda motor bebek kesayanganku terparkir sampai malam…..</p>
<p>Kamipun berpisah malam itu, sambil menunggu taksi datang Singh dan Lionel sangat berterima kasih atas segala kebaikan dan keramahan yang diterimanya selama liputan juga begitu bersahabatnya semua pesilat yang diperkenalkan kepadanya, sehingga mereka berdua berjanji suatu saat nanti jika mempunyai waktu akan kembali mengunjungi kita ntuk belajar pencak silat…..</p>
<p>Taksipun datang, kami bersalaman dan saling mengucapkan selamat tinggal, semoga apa yang mereka dapat menjadi suatu kenangan baik dihatinya dan menjadikan mereka duta yang menyampaikan pada dunia sana bahwa pencak silat tak hanya melulu sebagai alat perkelahian, pertempuran dan teknik membela diri tapi jauh di dalam sana ada persahabatan, keceriaan, kesediaan saling berbagi dan menghormati yang hanya akan dirasakan jika datang dan merasakannnya….</p>
<p>Untuk liputan Cingkrik Goning dan Gerak Gulung Budi Daya dipersilahkan pada teman-teman lainnya…</p>
<p>Jakarta, 18 April 2009</p>
<p><strong>Iwan Setiawan</strong><br />
<strong><br />
Laporan di Padepokan Sabtunya,</strong></p>
<p>Jam 9.00 WIB - Datang ke Padepokan kasih titipan yang udah lecek 3 hari di dompet ke Pak Bambang dengan bisikan : “Titipan surat cinta dari Bos Alda katanya salam sayang dari beliau”, Pak Tb Bambang ngikik. Diteruskan melihat Kong Nizam menjelaskan ke Tim Transporter 3 (Singh,and Lionel)     Jam 9.30 WIB -11.45 WIB -  Datang paman guru dari Pondok Cabe (Kang Eryanto) beserta Tante Guru, Beliau meneruskan menemani Tim Transporter 3  dan Pak Bambang (Edisi Cingkrik Goning), dengan keahlian tata bicara yang luar biasa Kang Ery menjelaskan secara mendetail dan translate dari Pak Tb Bambang. Kala Pak TB dan kang Ery ngurus tuh bule, Kong Nizam bikin ngikik Tante Guru, dengan cerita bagaimana bercekerama dan menjelaskan silat tradisional yang dia ketahui hauuahahhahhaha     Jam 11.45 WIB - 12.02 - Wawancara dengan Kang Nanong ditranslate dengan Hendro/ dan Janu… beserta Body language dari Kong Nizam huahahhahahhaa</p>
<p>Jam 12.02 -Jam 13.30 - ngajak tim transporter 3 makan cendol.. (dia bilang tape itu pepaya… huahhahahha gue gak tahu tape dari apaan jadi iyah2 aja hauhahaha) muter2 dan ngeshoot Taman Anggrek huahahahahha dia bilang gapuranya dari Bali huahuahahahhaha, Sholat di Taman Anggrek. Tinggalin dia ngeshoot Taman Anggrek disangkanya bagian dari Padepokan TMII huahuhahahhaha     Jam 13.30 - Mereka ngobrol lagi sama Kong Nizam, dari ttg india sampai kundalini… (kayak main tebak gerak, Singh said “Its meditation with moving, is it right?”, dan kong Nizam ngangguk kayak mainan bergerak selancar dan nunjuk.. benar !! ane diamin karena kocak….ampe ada kata kundalini dan suruh tarik pantatnya semua pake gerak hauhahuahahaha yang paling lucu terangin nafas gaya kong nizam…. kayak orang bengek…huahauhhahahhahha  )<br />
Jam 14.00 go to Ciomas Bogor , ane pulang… hehehehhehehhe</p>
<p>[Alamsyah]
</p>
<ul>
<li>Special thank’s : Bapak Eddie Marzuki Nalapraya</li>
<li>Bang Ochid (juragan batik yang baik hati)</li>
<li>Bang Ajad (pembalap SS)</li>
<li>Witarsa (adi sapaguron)</li>
<li>Bapak Sabenuh M dan bang Ali juga perguruan Beksi</li>
<li>Tradisional H. Hasbullah</li>
<li>Bang Nani, kang Didit, mas Agus S, Raka, PS. Gerak Saka</li>
<li>Pak H. Azis Asy’arie, pak H. Ceng Suryana, Kang Ujang Saefuddin, kang Dani, pak Junaidi dan Paguron maenpo Cikalong Pancer Bumi</li>
<li>Wakil Bupati Cianjur Drs. H. Dadang Sofianto MM</li>
<li>Paguron Pencak Silat Paku Bumi – Bogor</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">
Nb: Bang Ochid tambahin fotonya……ane up loadnye lame banget</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0pt; text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2009/04/sahabat-silat-dan-stasiun-televisi-perancis/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2009/03/menapaki-jejak-sang-jawara-entitas-%e2%80%9csubculture-of-violence%e2%80%9d-masyarakat-banten-dan-jawa-bagian-barat/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2009/03/menapaki-jejak-sang-jawara-entitas-%e2%80%9csubculture-of-violence%e2%80%9d-masyarakat-banten-dan-jawa-bagian-barat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Mar 2009 06:39:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alam</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel Silat]]></category>

		<category><![CDATA[Cerita Silat]]></category>

		<category><![CDATA[Featured Articles]]></category>

		<category><![CDATA[Information]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=162</guid>
		<description><![CDATA[






































MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA









(Entitas “Subculture of Violence”  Masyarakat Banten dan Jawa Bagian Barat)
 
Oleh:  Gusman “Jali” Natawidjaja
 
Di sebagian masyarakat Jawa bagian Barat umumnya dan Banten khususnya, keberadaan jawara memiliki rentetan sejarah yang sangat panjang. Jawara bukanlah sosok penamaan yang baru muncul kemarin sore, keberadaannya ditenggarai telah ada sejak zaman kerajaan Sunda berdiri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b></b><b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b><span><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"><img class="alignleft" src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs015.snc1/2636_58603448657_536913657_1470957_4104647_n.jpg" mce_src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs015.snc1/2636_58603448657_536913657_1470957_4104647_n.jpg" alt="jaware" width="537" height="519"></span></span></span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b></b></p>
<div><b></b></div>
<div><b></b></div>
<div><b></b></div>
<div><b><span></span></b></div>
<p><b><span><span style="" mce_style="small;"></span></span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b><b></b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b><b></b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b><b></b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b><b></b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b><b></b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b><b></b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b><b></b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b><b></b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b><b></b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b><b></b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b><b></b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b><b></b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b><b></b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b><b></b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b><b></b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b><b><span><span style="" mce_style="Times New Roman;">MENAPAKI JEJAK SANG JAWARA</span></span></b></b></p>
<p><b><br />
</b></p>
<p><b><br />
</b></p>
<p><b><br />
</b></p>
<p><b><br />
</b></p>
<p><b></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;" align="center"><b><span><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;">(Entitas “Subculture of Violence” <span style="" mce_style="yes;"> </span>Masyarakat Banten dan Jawa Bagian Barat)</span></span></span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="center;" align="center"><b><span><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;"><span><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;">Oleh: <span style="" mce_style="yes;"> </span>Gusman “Jali” Natawidjaja</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;"><span><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;">Di sebagian masyarakat Jawa bagian Barat umumnya dan<span style="" mce_style="yes;"> </span>Banten khususnya, keberadaan jawara memiliki rentetan sejarah yang sangat panjang. Jawara bukanlah sosok penamaan yang baru muncul kemarin sore, keberadaannya ditenggarai telah ada sejak zaman kerajaan Sunda berdiri yang hingga kini masih tetap<span style="" mce_style="yes;"> </span>eksis, bahkan di Banten sendiri sejak abad ke 19 kelompok jawara telah menjadi bagian dari golongan elit masyarakat selain kaum ulama dan pamong praja. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"><span style="" mce_style="yes;"> </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"><span style="" mce_style="Times-Roman;">Bagi masyarakat Banten dan sekitarnya, ulama dipandang sebagai tokoh masyarakat yang menjadi sumber kepemimpinan informal terpenting. Masyarakat mematuhi perintah ulama karena memandang kaum ulama sebagai sosok yang disegani. Berbeda dengan kedudukan ulama, pamong praja dan </span><span style="" mce_style="italic;">jawara<i> </i></span><span style="" mce_style="Times-Roman;">merupakan kelompok sosial yang kedudukannya tidaklah melebihi kedudukan kaum ulama. Namun diantara ketiganya, ulama dan jawara menjadi golongan yang khas di daerah ini. Keduanya diibaratkan bagai dua sisi mata uang, bahkan karena kedekatan emosional diantara keduanya, jawara dianggap sebagai “khodam” nya para ulama. Karena dari para ulamalah sebagian besar “keilmuan” jawara itu berasal. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan kalau Taufik Abdullah menyebut Banten, sebagai “negeri para ulama dan </span><span style="" mce_style="italic;">jawara</span><span style="" mce_style="Times-Roman;">”.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="Times-Roman;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"><span>Seiring dengan perjalanan waktu, persepsi masyarakat terhadap Jawara memiliki pemahaman yang beragam, mulai dari hal yang positif sampai ke hal yang negatif. Pemahaman masyarakat yang beragam ini tidak terlepas dari sepak terjang sosok Jawara, yang memiliki peranan cukup besar dalam tiga masa perjalanan sejarah di Banten dan Jawa bagian Barat, yaitu masa kerajaan Sunda, kesultanan Banten, dan masa kolonial Belanda. Belakangan, kehidupan jawara dengan character building yang khas itu menciptakan sub kultur kebudayaan baru masyarakat Banten dan sekitarnya, yaitu Subculture of Violence (sub kultur kekerasan). </span><span style="" mce_style="Times-Roman;">Permasalahan ini muncul ke permukaan akibat terkontaminasinya nilai-nilai kejawaraan sehingga sebagian masyarakat ada yang menilai </span><span style="" mce_style="italic;">jawara </span><span style="" mce_style="Times-Roman;">identik dengan premanisme. </span><span>Sebagai subkultur kekerasan, jawara memiliki motif-motif tertentu dalam melakukan kekerasan. Merekapun mengembangkan gaya bahasa atau tutur kata yang khas, yang terkesan sangat kasar (sompral) dan penampilan diri yang berbeda dari mayoritas masyarakat. seperti berpakaian hitam dan memakai senjata golok (Atu Karomah, <i>Jawara dan Budaya Kekerasan pada Masyarakat Banten, Tesis S2 UI</i>). Penampilan terakhir inilah yang sebagian besar masyarakat umum diidentikan dengan pencak silat tradisional.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="justify;"><span><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="1;"><b><span><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;">Penafsiran Sejarah Istilah <span style="" mce_style="yes;"> </span>Jawara</span></span></span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"><span style="" mce_style="Times-Roman;">Belum adanya pencatatan histographia mengenai awal mula kemunculan istilah jawara di masyarakat Banten dan Jawa bagian Barat, menyulitkan </span><span style="" mce_style="italic;">untuk</span><span> diketahui secara pasti kapan dan dimana penggunaan istilah Jawara ini diberikan kepada seseorang yang memiliki kunggulan fisik dan supranatural, dan cenderung menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan setiap persoalannya. Begitupun halnya dengan istilah jawara itu sendiri. Penyusuran proses kemunculan istilah jawara baru terbatas pada sejarah sosial (budaya tutur) bersifat “stamboom” bukan “geschiedenis” atau “history”, yang secara akademis sukar untuk dipertanggung jawabkan.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"><span>Dari stamboom yang ada, sebagian besar masyarakat sepakat untuk menunjuk daerah Banten sebagai tempat dimana istilah ini pertama kali muncul, karena jawara merupakan salah satu entitas masyarakat Banten yang sangat terkenal. Hingga dalam perkembangannya menyebar ke beberapa daerah yang melingkupinya termasuk Betawi, Bekasi-Pantura, Bogor dan Priangan bersamaan dengan dimulainya proyek pembangunan Jalan Raya Pos Deandles (</span><span style="" mce_style="Times-Roman;">RM. Taufik Djajadiningrat, </span><i><span style="" mce_style="Times-Italic;">Sejarah dan Silsilah Ringkas Para Sinuhun Kesultanan Banten</span></i><span style="" mce_style="Times-Roman;">, 1995 : 121-122).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="Times-Roman;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="Times-Roman;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;">Berdasar catatan seorang peneliti sejarah kabupaten Lebak, Miftahul Falah, S.S menguraikan bahwa sejarah sosial masyarakat Banten sendiri memiliki empat penafsiran tentang proses kemunculan istilah jawara.<span style="" mce_style="yes;"> </span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="Times-Roman;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"><span style="" mce_style="Times-Roman;">Penafsiran pertama ketika kerajaan Sunda menggunakan sekelompok masyarakat sebagai perantara atau penghubung antara masyarakat dengan rajanya. Mereka memiliki kewenangan tidak hanya melayani antara raja dan rakyat, tetapi juga membela dan melindunginya. Dalam keseharian mereka memiliki ke khasan dalam berpakaian dan gaya hidupnya, seperti jago dalam menyabung ayam, pandai bermain pencak silat dan memiliki ilmu “kadugalan” yang kebal senjata tajam sebagai kekuatan supranaturalnya. Dalamperkembangan selanjutnya, keterampilan bermain silat dan kekebalan tubuh yang dimilikinya menjadi ciri utama kelompok ini sehingga melahirkan sebutan </span><span style="" mce_style="italic;">jawara</span><span style="" mce_style="Times-Roman;">.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="justify;"><span><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"><span>Penafsiran kedua, ketika pada masa Kesultanan Banten dipegang oleh Maulana Hasanuddin. Dalam menghadapi pasukan Pajajaran yang teramat kuat, Sultan membentuk sekelompok orang-orang dalam satu pasukan khusus yang dipimpin oleh Maulana Yusuf. Setiap anggotanya memiliki keunggulan secara lahir dan batin, militan dan mampu mengahncurkan<span style="" mce_style="yes;"> </span>secara cepat menyusup ke pusat pemerintahan Pajajaran di Pakuan. Pasukan khusus tanpa identitas itu diberi nama <i>Tambuhsangkane</i>, yang bergerak dengan tidak mengatas namakan kesultanan Banten. </span><span style="" mce_style="Times-Roman;">Sifat militan yang dimiliki oleh pasukan khusus ini menumbuhkan sifat pemberani dan kemudian dibina secara terus menerus. Dari merekalah kemudian lahir kaum </span><span style="" mce_style="italic;">jawara</span><span style="" mce_style="Times-Roman;">.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="Times-Roman;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"><span style="" mce_style="Times-Roman;"><span style="" mce_style="small;">Penafsiran ketiga,</span></span><span style="" mce_style="Times-Roman;"> F.G. Putman Craemer, Residen Banten (1925-1931), istilah jawara dimulai dengan dibentuknya perkumpulan <i>Orok Lanjang</i> oleh golongan pemuda di Distrik Menes Pandeglang, yang bermakna harfiah sebagai “bayi yang menjelang dewasa”. Perkumpulan kampung ini pada awalnya dibentuk untuk meningkatkan hubungan kekerabatan dalam satu lingkungan, memberikan pertolongan dan pelayanan dalam segala kegiatan termasuk membantu masyarakat dalam penyelenggaraan pesta atau acara kampung. Lambat laun tugas yang diserahkan masyarakat kepada kelompok pemuda ini sebagai penyelenggara acara kampung menjadi satu kewajiban, apabila tidak diundang atau diserahkan sebagai petugas penyelenggara mereka akan mengacau atau bahkan menggagalkan jalannya acara. Pada perkembangannya, kelompok ini berkembang menjadi organisasi tukang pukul yang dikenal dengan sebutan jawara. Mereka menjadi organisasi momok yang menakutkan bagi masyarakat, sampai-sampai aparat praja setempat tidak dapat bertindak tegas kepada mereka.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"><span style="" mce_style="Times-Bold;">Penafsiran keempat</span><span style="" mce_style="Times-Roman;">, istilah jawara muncul ketika terjadi perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda di abad 19 yang digerakkan oleh kaum ulama. Kaum ulama yang umumnya memiliki dua kelompok santri yang dididik berdasar bakat dan kemampuan mereka, dimana kelompok pertama merupakan kaum santri yang memiliki bakat di bidang ilmu agama yang akan menggantikan posisi para ulama nantinya. Mereka dibekali ilmu hikmah selain ilmu agama Islam sebagai ilmu dasarnya . Sedangkan kelompok kedua merupakan kaum santri yang memiliki bakat dan kemampuan di bidang bela diri pencak silat. Kelompok kedua ini dididik dan dibina kekuatan fisiknya dengan ilmu bela diri pencak silat, dan dibekali pula dengan ilmu hikmah namun jauh lebih sedikit porsinya dibanding santri kelompok pertama. Mereka ditugasi untuk melakukan teror terhadap pemerintah kolonial Belanda dan kaki<span style="" mce_style="yes;"> </span>tangannya. Kelompok kedua inilah yang kemudian hari disebut dengan jawara.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="justify;"><span><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"><span style="" mce_style="Times-Bold;">Penafsiran kelima</span><span style="" mce_style="Times-Roman;">, istilah jawara muncul sebagaimana yang diungkapkan RM Taufik Djajadiningrat, tatkala dimulainya pembangunan Jalan Raya Pos Deandles (1808-1811) antara Anyer-Panarukan. Pembangunan jalan yang sangat merugikan rakyat ini menimbulkan pemberontakan dikalangan para pendekar persilatan, dikenal dengan peristiwa <i>Perang Pertama</i>. Dari peristiwa pemberontakan ini memunculkan julukan jawara yang ditujukan kepada mereka.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="Times-Roman;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"><span style="" mce_style="Times-Roman;">Pada awalnya istilah jawara memiliki makna sebagai<i> jagoan</i>, dengan pengertian jago dalam menyabung ayam dan bela diri pencak silat. Selain itu, mereka pun memiliki kemampuan untuk mempertontonkan ilmu kekebalan. Kemampuan-kemampuan itu dipergunakan oleh para </span><span style="" mce_style="italic;">jawara<i> </i></span><span style="" mce_style="Times-Roman;">untuk membela dan menciptakan rasa aman dan ketenangan di lingkungannya. Kemampuan itu mereka miliki karena kedudukannya sebagai pemimpin informal di tengah-tengah masyarakat, baik semasa kerajaan Sunda, kesultanan Banten, maupun pada masa pemerintahan kolonial Belanda.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="Times-Roman;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"><span style="" mce_style="Times-Roman;">Pergeseran makna jawara yang terkontaminasi dengan hal yang negatif<span style="" mce_style="yes;"> </span>terjadi pada abad ke 19 ketika Banten dan sekitarnya diwarnai oleh kekacauan dan perampokan yang tiada tara. Hal ini kemudian oleh pemerintah kolonial Belanda dimanfaatkan untuk membentuk stigma negatif kepada para pejuang dari kalangan pendekar persilatan dan kaum ulama. Stigma negatif ini sengaja diciptakan Belanda dalam upaya memprovokasi masyarakat untuk menganggap mereka sebagai pembuat onar, pengacau, dan perampok. Sehingga mencap semua kaum </span><span style="" mce_style="italic;">jawara </span><span style="" mce_style="Times-Roman;">adalah bandit sehingga perlawanan dalam bentuk gerakan sosial, yang bermaksud melawan penjajahan asing dianggap sebagai </span><i><span style="" mce_style="Times-Italic;">onsluten </span></i><span style="" mce_style="Times-Roman;">(keonaran), </span><i><span style="" mce_style="Times-Italic;">ongergeldheden </span></i><span style="" mce_style="Times-Roman;">(pemberontakan), </span><i><span style="" mce_style="Times-Italic;">complot </span></i><span style="" mce_style="Times-Roman;">(komplotan), </span><i><span style="" mce_style="Times-Italic;">woelingen </span></i><span style="" mce_style="Times-Roman;">(kekacauan), dan </span><i><span style="" mce_style="Times-Italic;">onrust </span></i><span style="" mce_style="Times-Roman;">(ketidak amanan). Sejak saat itulah para pendekar persilatan dan ulama yang mengadakan perlawanan dianggap sebagai jawara, yang merupakan akronim dari <b>ja</b>lma <b>wa</b>ni nga-<b>ra</b>mpog (orang yang berani merampok) atau orang yang beani menipu/pembohong (<b>ja</b>lma <b>wa</b>ni nga-<b>ra</b>hul). Konotasi negatif ini terus berkembang sampai abad ke 20, dan hingga kini tidak sedikit masyarakat yang termakan oleh stigma negatif Belanda tersebut.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="Times-Roman;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="Times-Roman;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;">Seiring dengan perkembangan waktu, Jawara yang merasa<span style="" mce_style="yes;"> </span>citranya terjebak dalam konotasi negatif masyarakat yang diciptakan Belanda, berusaha mengcounter dengan istilah <b>ja</b>lma jago nu <b>wa</b>ni <b>ra</b>mah (orang yang jagoan berani dan ramah). Tentu ada pula segelintir jawara yang memiliki perilaku negatif, namun hal ini dapat diselesaikan di dalam internal kelompok “kejawaraan” nya itu sendiri. Umunya dalam suatu organisasi kejawaraan terdapat aturan-aturan yang bersifat konvesional untuk menyelesaikan<span style="" mce_style="yes;"> </span>permasalahan, terutama terhadap jawara yang berperilaku negatif.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="Times-Roman;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><b><span style="" mce_style="Times-Roman;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><b><span style="" mce_style="Times-Roman;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><b><span style="" mce_style="Times-Roman;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;">Terminologi Jawara, Jagoan, dan Preman</span></span></span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"><span style="" mce_style="Times-Roman;">Secara umum jawara memiliki definisi sebagai orang yang memiliki kepandaian bermain silat dan memiliki keterampilan-keterampilan tertentu. Berbeda dengan perampok atau pencuri, mereka adalah figur seorang yang mampu menjaga keselamatan dan keamanan desa, sehingga karenanya masyarakat menghormati keberadaan mereka. Pada umumnya, </span><span style="" mce_style="italic;">jawara<i> </i></span><span style="" mce_style="Times-Roman;">sangat patuh kepada ulama, karena semangat dalam jiwa mereka diperoleh dari para kaum ulama. Di tanah Betawi sendiri hampir memiliki makna yang sama, namun istilah jawara bagi masyarakat natif Betawi berangkat dari istilah “potong letter” lidah natif Betawi yaitu <i>juware</i> atau juara yang tidak terkalahkan dalam hal bela diri “maenpukulan” atau pencak silat.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="Times-Roman;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"><span style="" mce_style="Times-Roman;">Berbeda dengan Jagoan, kata ini berasal dari kata dasar “jago” yang menurut Ridwan Saidi merupakan loanword dari bahasa Portugis <i>Jogo</i> yang artinya “champion” atau juara (Ridwan Saidi, <i>Glosari Betawi</i>: 43). Disisi lain menurut tradisi lisan, jago merupakan </span><span>istilah yang agak umum bagi golongan &#8220;tukang pukul&#8221; dan seorang yang suka berkelahi. Jagoan bernada lebih positif ketimbang istilah preman pada masa kini. Jagoan adalah sebutan untuk anggota masyarakat yang berpengaruh dan disegani di kampungnya, orang yang kuat, tukang pukul dan pemberani. Secara hirarki, jagoan dianggap lebih rendah kedudukannya dibanding jawara. Karena sebagaimana seperti yang disebutkan di atas,<span style="" mce_style="yes;"> </span>jawara dapat dikatakan sebagai istilah lain</span> <span>dari pendekar, ksatria yang ditokohkan masyarakat sebagai orang yang suka memberikan perlindungan dan keselamatan secara fisik terhadap masyarakat, juga dianggap sebagai orang yang dituakan atau sesepuh.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"><span>Lalu bagaimana dengan preman?. Secara etimologi preman merupakan loanword dari bahasa Belanda, <i>Vrijman </i>yang bermakna “orang bebas” atau dalam bahasa Inggris disebut <i>free man</i>. Dalam Kamus Bahasa Indonesia </span><span style="" mce_style="IN;">akan kita temukan paling tidak 3 arti kata preman, yaitu: <i>1. swasta, partikelir, non pemerintah, bukan tentara, sipil. 2. sebutan orang jahat (yang suka memeras dan melakukan kejahatan) 3. kuli yang bekerja menggarap sawah</i>.</span><span> Secara umum istilah preman dapat disimpulkan sebagai </span><span style="" mce_style="IN;">sebutan pejoratif </span><span>(kata sandang merendahkan) </span><span style="" mce_style="IN;">yang sering digunakan untuk merujuk kepada kegiatan sekelompok orang yang mendapatkan penghasilannya terutama dari </span><span><a title="Pemerasan (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pemerasan&amp;action=edit&amp;redlink=1" mce_href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pemerasan&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="" mce_style="IN;">pemerasan</span></a></span><span style="" mce_style="IN;"> kelompok masyarakat lain.</span><span> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;">Dari tiga terminologi di atas, hendaknya kita masih dapat membedakan makna, fungsi dan peranan masing-masing dalam masyarakat. Sehingga kita tidak terburu-buru untuk menjustifikasi seseorang berdasar perilakunya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;">Labuan, 1 Maret 2009 (5 Robiul Awal 1430 H)</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span><span style="" mce_style="small;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span><span style="" mce_style="Times New Roman;">Sumber tulisan:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="l0 level1 lfo1;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"><span>Atu Karomah, Jawara dan Budaya Kekerasan pada Masyarakat Banten, Tesis S2 UI, Jakarta</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="Times-Roman;"><span style="" mce_style="Times New Roman;">Kamus Besar Bahasa Indonesia, BP Jakarta 1996</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="Times-Roman;"><span style="" mce_style="Times New Roman;">Miftahul Falah, S.S, Kejawaraan Dalam Dinamika Kabupaten Lebak, Jakarta1995</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="Times-Roman;"><span style="" mce_style="Times New Roman;">Ridwan Saidi, Glosari Betawi, Jakarta 2007</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="Times New Roman;"><span style="" mce_style="Times-Roman;">RM. Taufik Djajadiningrat, </span><span style="" mce_style="italic;">Sejarah dan Silsilah Ringkas Para Sinuhun Kesultanan Banten, </span><span style="" mce_style="Times-Roman;">Jakarta1995</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="" mce_style="none;"><span style="" mce_style="Times-Roman;"><span style="" mce_style="Times New Roman;">Tasbih &amp; Golok, Tim penelitian Studi Kharisma Kyai &amp; Jawara di Banten, STAIN Serang, 2002</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2009/03/menapaki-jejak-sang-jawara-entitas-%e2%80%9csubculture-of-violence%e2%80%9d-masyarakat-banten-dan-jawa-bagian-barat/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Silat PSRI Syahbandar</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2009/03/silat-psri-syahbandar/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2009/03/silat-psri-syahbandar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Mar 2009 05:17:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Aliran Silat]]></category>

		<category><![CDATA[Cover Story]]></category>

		<category><![CDATA[Flash Info]]></category>

		<category><![CDATA[Serbaneka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=160</guid>
		<description><![CDATA[
-PSRI SYAHBANDAR-
 
 
Tangan yang keras, buku kepalan yang hitam menjadi pertanda seseorang pesilat Syahbandar telah mengalami “remuk daging”, sebuah istilah yang familiar di lingkungan Persatuan Silat Ras Aksa Indonesia (PSRI) Syahbandar, sebagai sebuah metode pelatihan kekuatan tangan dengan cara menghancurkan benda-benda keras. Metode ini merupakan pelatihan dasar yang juga menjadi ciri khas perguruan silat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if !mso]></p>
<style>
v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}
</style>
<p><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span></p>
<style>
st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
</style>
<p><![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span style="font-size: 16pt; line-height: 115%;">-PSRI SYAHBANDAR-</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;">Tangan yang keras, buku kepalan yang hitam menjadi pertanda seseorang pesilat Syahbandar telah mengalami “remuk daging”, sebuah istilah yang familiar di lingkungan Persatuan Silat Ras Aksa Indonesia (PSRI) Syahbandar, sebagai sebuah metode pelatihan kekuatan tangan dengan cara menghancurkan benda-benda keras. Metode ini merupakan pelatihan dasar yang juga menjadi ciri khas perguruan silat ini dalam setiap atraksinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;">Tangan yang serupa dijumpai pula pada sosok Muhammad Nuh ketika bersalaman dengannya, tangan yang dilatih sejak usia 9 tahun lewat gemblengan sang paman Bang Tjatja, yang di kalangan pendekar<span> </span>Betawi dikenal dengan sebutan Tjatja Muhammad Satiri </span><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: ">(1904-1983)</span><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: ">,</span><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"> sebagai pendiri perguruan silat Betawi ini. TM Satiri selain sebagai pendiri PSRI Syahbandar pernah pula menduduki ketua I PPS Putera Betawi dan ketua Dewan Pendekar Betawi angkatan awal, yang didirikan pada tanggal 20 Januari 1972. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;">Secara organisatoris PSRI Syahbandar lahir di Jakarta pada tahun 1952. Embrio perguruan silat ini sebenarnya telah ada 10 tahun sebelumnya ketika TM Satiri masih berkecimpung dalam kancah perang kemerdekaan, namun situasi dan kondisi pada saat itu tidak memungkinkannya untuk mendirikan sebuah perkumpulan silat. Cita-citanya untuk mendirikan perkumpulan<span> </span>pemuda-pemuda Indonesia yang tangguh dan kuat, mendorong Satiri muda berkelana mempelajari ilmu silat. Ia ini memiliki 7 orang guru silat maupun kebatinan dari berbagai daerah, dua diantara guru silatnya yang dapat diketahui adalah Mbah Djajadipura dan Pak Yosis. Dari Mbah Djajadipura, TM Satiri mewarisi sebuah kitab berisi tentang sejarah dan ajaran pencak silat. Anak Betawi satu ini, disamping menguasai hampir seluruh senjata tradisional juga menguasai senjata rahasia jarum yang ditiupkan dari mulut. Suatu keahlian sangat langka yang dapat dijumpai pada saat ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;">Makna Dibalik Nama PSRI Syahbandar</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;">Secara harfiah Ras berarti etnik atau suku bangsa, Aksa yang berasal dari bahasa Arab memiliki makna luhur, dan dihiperboliskan menjadi besar dan kuat, sedangkan Syahbandar adalah pemimpin yang mengatur segala kegiatan di pelabuhan laut. Pengertian harfiah itu oleh TM Satiri dikembangkan menjadi sebuah makna filosofis kedalam silat ini, dimana di dalamnya terdapat unsur-unsur aliran silat yang ada di Tanah Betawi yang terkenal sebagai kota pelabuhan, dimana tempat berkumpulnya beberapa aliran silat tradisional yang ada di Indonesia. Unsur-unsur silat tradisional itu disatukan (oleh Syahbandar) hingga menjadi satu kekuatan silat yang dimiliki oleh bangsa Indonesia secara keseluruhan, oleh karenanya menjadi Persatuan Silat Ras Aksa Indonesia Syahbandar. Kata pencak sengaja tidak dipakai, karena pencak bagi TM Satiri merupakan seni, sedangkan silat adalah murni bela diri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><em><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;">gbr. TM Satiri dengan sikap pasang khas PSRI Syahbandar dan Muhammad Nuh dengan jalan Koset-Golok.</span><span> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span> </span><!--[if gte vml 1]><v:shapetype id="_x0000_t75"  coordsize="21600,21600" o:spt="75" o:preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe"  filled="f" stroked="f"> <v:stroke joinstyle="miter" /> <v:formulas> <v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0" /> <v:f eqn="sum @0 1 0" /> <v:f eqn="sum 0 0 @1" /> <v:f eqn="prod @2 1 2" /> <v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth" /> <v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight" /> <v:f eqn="sum @0 0 1" /> <v:f eqn="prod @6 1 2" /> <v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth" /> <v:f eqn="sum @8 21600 0" /> <v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight" /> <v:f eqn="sum @10 21600 0" /> </v:formulas> <v:path o:extrusionok="f" gradientshapeok="t" o:connecttype="rect" /> <o:lock v:ext="edit" aspectratio="t" /> </v:shapetype><v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" style='width:220.5pt;  height:294.75pt'> <v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\yk3233\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.jpg" mce_src="file:///C:\DOCUME~1\yk3233\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.jpg"   o:title="DSC00378" /> </v:shape><![endif]--><!--[if !vml]--><img src="http://farm4.static.flickr.com/3640/3339886637_4a1770b7e9_m.jpg" alt="" width="294" height="393" /><!--[endif]--><!--[if gte vml 1]><v:shape id="_x0000_i1026"  type="#_x0000_t75" style='width:225.75pt;height:294.75pt'> <v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\yk3233\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image003.jpg" mce_src="file:///C:\DOCUME~1\yk3233\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image003.jpg"   o:title="DSC00379" /> </v:shape><![endif]--><!--[if !vml]--><img src="http://farm4.static.flickr.com/3333/3339888937_43baab0f76_m.jpg" alt="" width="301" height="393" /><!--[endif]--><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;">Orang mungkin mengira pada awalnya, bahwa perguruan silat Betawi ini adalah Sabandar, namun kenyataannya sangatlah berbeda, baik itu filosofi dan karakter gerakan maupun kaedah silat itu sendiri. PSRI Syahbandar merupakan sebuah perguruan silat yang merangkum aliran-aliran silat tradisional yang ada di Tanah Betawi, sedangkan Sabandar merupakan aliran silat tradisional yang dipopulerkan oleh Mamak Kosim di Sabandar, Cianjur. Sekalipun demikian kaedah silat Sabandar, Kari, Madi, dan Cimande menjadi “ruh” di dalam perguruan silat Betawi ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;">Filosofi utama dalam gerakan silat di PSRI Syahbandar adalah “kasih-terima, terima-kasih”, dengan pengertian setiap serangan yang datang akan diterima dengan mendahului serangan balik ke arah yang paling terdekat. Tidak menutup kemungkinan setiap pukulan atau tendangan yang datang akan “diadu” dengan salah satu bagian tubuh. Oleh karenanya unsur kekuatan dan </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;">kekerasan tubuh menjadi modal utama buat pesilat PSRI Syahbandar. Metode pelatihan pengerasan tubuh (remuk daging) adalah murni penempaan dari latihan fisik, bukan dari hasil pengolahan pernapasan atau tenaga dalam. Menurut A. Sanusi, sesepuh PPS Putera Betawi dan PS Pusaka Jakarta, PSRI Syahbandar jika digolongkan kedalam 4 aliran utama (Mainstream) silat Betawi termasuk kedalam kelompok “Gerak Kuat”. Menurutnya 4 aliran utama silat Betawi itu adalah;<span> </span>Gerak Cepat, Gerak Kuat, Gerak Teguh dan Gerak Rasa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;">Jurus PSRI Syahbandar terdiri dari 13 jurus ditambah 20 tepak pukul yang masing-masing pada awalnya memiliki pecahan 4 kurung, 4 kelima pancer,<span> </span>gelombang 9 dan 12. Pada akhirnya dari 20 tepak pukul tersebut diseragamkan menjadi 5 pecahan, yang masing-masingnya memiliki 100 pecahan lagi yang kalau ditotal memiliki 500 pecahan!.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;">Muhammad Nuh telah lama tidak aktif di PSRI Syahbandar semenjak sepeninggalan sang paman (TM Satiri) di tahun 1984, dikarenakan adanya satu dan lain hal di internal perguruan. Namun keterikatan moral pada perguruan silat Betawi ini begitu kuatnya, sampai-sampai bersedia untuk naik panggung tatkala PSRI Syahbandar beratraksi di berbagai kesempatan, meskipun usia tidak lagi memadai, beliau masih mampu untuk memecahkan benda-benda keras seperti kelapa, batang pompa, dan tiang besi sekalipun. Begitu pula halnya ketika diwawancarai mengenai<span> </span>PSRI Syahbandar, semangatnya kembali menyala sambil memperagakan jurus, jalan dan pecahan Syahbandar yang tekenal cukup rumit.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;">“The Keris Poesaka”, Film Pencak Silat PSRI Syahbandar </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;">Pada tahun 70an PSRI Syahbandar terlibat dalam pembuatan film silat dengan karakter silat tradisional Indonesia, dengan judul “The Keris Poesaka”. Film yang mengisahkan seputar bela diri pencak silat yang asli Indonesia, dengan tema utama perebutan sebuah keris pusaka yang bernama “Ki Brojol”. Seratus persen bela diri yang digunakan dalam film ini adalah pencak silat dengan setting dan latar belakang Betawi, yang dalam hal ini menggunakan para pendekar dari PSRI Syahbandar. Film ini diproduksi oleh pemerintah kerajaan Belanda, namun sayangnya tidak atau mungkin belum pernah ditayangkan di Indonesia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"><span> </span><em>gbr. para pendukung film “The Keris Poesaka” usai syuting</em></span><em><span> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span><!--[if gte vml 1]><v:shape id="_x0000_i1029" type="#_x0000_t75"  style='width:331.5pt;height:235.5pt'> <v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\yk3233\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image005.jpg" mce_src="file:///C:\DOCUME~1\yk3233\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image005.jpg"   o:title="DSC00372" /> </v:shape><![endif]--><!--[if !vml]--><img src="http://farm4.static.flickr.com/3377/3339882211_bf20f7c63b_m.jpg" alt="" width="442" height="314" /><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;">Nafas Gang Toapekong dalam PSRI Syahbandar</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;">Secara pribadi penulis berasumsi bahwa pengaruh bela diri Cina (Kuntao) juga merupakan mozaik dalam membentuk “ruh” perguruan silat ini, hal ini dapat dilihat dari gerakan dan nama langkah atau jalan, seperti jalan Cengcorang, Naga Nyebrang dan salam hormat Saowja. Begitupun dengan penggunaan senjata, tampak jelas pengaruh dari senjata beladiri Cina, seperti piauw, teco (trisula), toya dan tombak. Hal ini dimungkinkan dengan lingkungan tempat tinggal TM Satiri sendiri yang dibesarkan di Jalan Laksana Dalam, Gg Toapekong Pasar Baru. Gang Toapekong pada masanya, disamping sebagai kantong imigran Cina, banyak pula dijumpai pendekar-pendekar Kuntao Cina peranakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><em><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><em><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"><span> </span>Gbr. Tombak khas PSRI Syahbandar yang diyakini terpengaruh oleh Kuntao.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"><!--[if gte vml 1]><v:shape id="_x0000_i1027" type="#_x0000_t75"  style='width:467.25pt;height:61.5pt'> <v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\yk3233\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image007.jpg" mce_src="file:///C:\DOCUME~1\yk3233\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image007.jpg"   o:title="TombakSyahbandar copy" /> </v:shape><![endif]--><!--[if !vml]--><img src="http://farm4.static.flickr.com/3619/3340710186_f162f6c4ab_m.jpg" alt="" width="623" height="82" /><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;">Beberapa murid TM Satiri diantaranya dikenal sebagai organisatoris di lingkungan masyarakat Betawi, seperti TM Chaidir (alm) yang pernah menjabat sebagai Sekjen PPS Putra Betawi tahun 1987, selain itu terdapat peranakan Tionghoa Djien Djien (alm), Musa, Fachruddin Pane, dan tidak ketinggalan Zainul Arifin yang sampai kini eksis mengusung PSRI Syahbandar dan FORKABI.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"><span> </span><!--[if gte vml 1]><v:shape  id="_x0000_i1028" type="#_x0000_t75" style='width:223.5pt;height:300.75pt'> <v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\yk3233\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image009.jpg" mce_src="file:///C:\DOCUME~1\yk3233\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image009.jpg"   o:title="DSC00374" /> </v:shape><![endif]--><!--[if !vml]--><img src="http://farm4.static.flickr.com/3399/3339883945_58981260dd_m.jpg" alt="" width="298" height="401" /><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify;"><em><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"><span> </span><span> </span>Gbr. Sikap pasang Jalan Naga Nyebrang</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;">Tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul 22.00 WIB, kami pamit undur diri.<span> </span>Sebagai salam penutup seorang teman dari FP2STI memainkan senjata tombak khas PSRI Syahbandar dengan lihainya, yang menggiring kenangan Muhammad Nuh kembali kepada masa mudanya sebagai seorang pesilat PSRI Syahbandar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;">Betawi, 17 Januari 2009 (20 Muharam 1430 H)- (<strong>Gusman “Jali” Natawidjaja</strong>)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"><em><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;">Nara</span></em><em><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"> Sumber:<span> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"><em><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;">- Muhammad Nuh, murid dan keponakan TM Satiri, PSRI Syahbandar</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"><em><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;">- A. Sanusi, sesepuh PPS Putera Betawi-PS Pusaka Jakarta</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"><em><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"><em><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;">Foto-foto: dok. pribadi</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2009/03/silat-psri-syahbandar/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
