<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Silat Indonesia &#187; cingkrig</title>
	<atom:link href="http://silatindonesia.com/tag/cingkrig/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://silatindonesia.com</link>
	<description>Pusat Informasi Pencak Silat Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 09:13:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Rukun dan Pakai Hati, Cingkrig Nasrullah Rawa Belong</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2012/04/rukun-dan-pakai-hati-cingkrig-nasrullah-rawa-belong/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2012/04/rukun-dan-pakai-hati-cingkrig-nasrullah-rawa-belong/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Apr 2012 08:37:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Silat]]></category>
		<category><![CDATA[Cover Story]]></category>
		<category><![CDATA[Liputan Khusus]]></category>
		<category><![CDATA[betawi]]></category>
		<category><![CDATA[cingkrig]]></category>
		<category><![CDATA[forkabi]]></category>
		<category><![CDATA[Nasrullah]]></category>
		<category><![CDATA[rawa belong]]></category>
		<category><![CDATA[rawabelong]]></category>
		<category><![CDATA[sukabumi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=1648</guid>
		<description><![CDATA[Ini sudah kedua kali kami saya mewakili dari Silat Indonesia bertemu dengan beliau . Kian hari wajahnya semakin ceria menunjukan keramah tamahan dengan mata yang selalu berbinar-binar bila Beliau cerita tentang Silat dan Betawi. Pertama kali bertemu di lapangan Futsal di daerah Jl. Berdikari Raya (Kebayoran Lama), kemudian kedua kalinya saya bertemu di rumahnya di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini sudah kedua kali kami saya mewakili dari <a href="http://silatindonesia.com">Silat Indonesia</a> bertemu dengan beliau . Kian hari wajahnya semakin ceria menunjukan keramah tamahan dengan mata yang selalu berbinar-binar bila Beliau cerita tentang Silat dan Betawi.</p>
<p>Pertama kali bertemu di lapangan Futsal di daerah Jl. Berdikari Raya (Kebayoran Lama), kemudian kedua kalinya saya bertemu di rumahnya di daerah Jl Adam Ujung, saya merasa dijamu dengan segala keramahtamahannya dan kebaikan budinya.</p>
<p>Beliau adalah Bang Abdul Basit M.S.I , Beliau salah Satu Guru Besar Padepokan Cingkrig Nasrullah Rawa Belong dan Ketua <a href="http://silatindonesia.com/tag/forkabi">FORKABI</a> <a href="http://silatindonesia.com/tag/rawa-belong">Rawa Belong</a>, juga salah satu tokoh Tiga Serangkai.<span id="more-1648"></span></p>
<p>Sebetulnya saya agak sungkan bertemu dengan beliau. Karena sederet nama harum beliau di daerah Rawa Belong. Belum lama diriku mengenal beliau  baru dua kali. Tetapi entah kenapa saya langsung menyukainya.</p>
<p>Beliau berapi-api menceritakan Betawi tempo dulu dan bermacam-macam aliran silat yang ada di tanah betawi. Salah satu aliran silat terkenal di tanah betawi adalah aliran Cingkrig.</p>
<p>Si Pitung hanyalah salah satu kisah dari sekian banyak kisah legenda  jawara-jawara Betawi zaman silam yang diidentikan dengan daerah Rawa Belong. Hingga di tengah-tengah masyarakat Betawi pun muncul menjadi simbol sebuah semacam bentuk keyakinan, bahwa memperdalam pencak silat adalah salah satu upaya memelihara warisan leluhur.</p>
<p>Peragaan Jurus dasar dan Bong Bang oleh Murid-Murid Padepokan Cingkrig Nasrullah Rawa Belong di bawah asuhan dan bimbingan Bang Basit pun sempat diperlihatkan kepada saya. Saya melihat kehebatan, kelincahan dan keluwesan tata gerak Cingkrig Nasrullah Rawa Belong di depan mata saya. Saya tak henti-hentinya berdecak kagum melihatnya.</p>
<p>Di sela-sela perbincangan kami, Beliau tak ada henti-hentinya berbicara masalah &#8220;kerukunan&#8221; walau kadang diselingi canda tawa. Dibalik ke-sahaja-an beliau terlihat kecerdasan pola pikir beliau, yang berpikir mengenai masa depan Betawi dan Silat.</p>
<p>Mengenang Betawi tidak terlepas dari sejarah perkembangan dan dinamika Jakarta tempo dulu dan sekarang. Sejak dahulu Jakarta sudah menjadi kota kosmopolitan tempat di mana pertemuan berbagai ragam budaya, suku bangsa, hingga bangsa lain seperti Arab, Melayu, India, China, Portugal, Belanda, dan lain-lainnya.</p>
<p>Kemajemukan ini pula yang menyebabkan terjadinya pertukaran seni, budaya, adat istiadat hingga ilmu bela diri yang berkembang saat itu. Betawi memang dikenal memiliki banyak cerita dan kenangan di dunia pencak silat. Konon kabarnya di Jakarta terdapat ratusan aliran silat. Begitu juga silat tak lepas dari nuansa Betawi yang yang banyak alirannya hingga bermacam sepertinya ada di tanah Betawi.Keragaman aliran silat Betawi turut diwarnai oleh latarbelakang silat dari pendatang-pendatang yang ada di tanah Betawi, berasimilasi dengan aliran silat yang ada di Tanah Betawi. Proses asimilasi ini mendapatkan nama aliran ataupun bentuk bentuk baru. Nampaknya ciri khas dan latar belakang betawi tetap kuat mewarnai gerakan jurus-jurusnya yang ada di Tanah Betawi.</p>
<p>Dan menurut cerita Bang Basit, silat di Tanah Betawi disebut &#8220;Maenan&#8221;.</p>
<p>&#8220;Dulu ane diajar maenan harus pake hati, kalau bisa semua mencintai maenannya masing-masing, dan semua maenan semuanya bagus, tinggal pelakunye yang bermain bagus atau nggak, kalau bisa dibarengin sama tabiat-nye yang bagus, walau ane juga dulu bandel&#8221;, tutur beliau sambil tertawa, dengan logat betawinya yang kental.</p>
<p>&#8220;Kalau bise semua aliran di Betawi atawe seluruh Indonesia semuanye bersatu saling hormat-menghormatin, bekumpul semuanye, saling silahturahmi, saling sayang, gak ada bentrok-bentrokan atawa adu-aduan dan maju bersama, itu impian ane. Jangan kalah sama mainan luar negeri yang dikemas sangat bagus&#8221;, sambung beliau.</p>
<p><strong>Alamat Padepokan Cingkrig Nasrullah Rawa Belong</strong> :</p>
<p>Jl. Masjid Al Anwar Gg Berdikari Kav 2. Rt. 002 Rw.001<br />
Rawabelong, Sukabumi Utara, Jakarta Barat</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2012/04/rukun-dan-pakai-hati-cingkrig-nasrullah-rawa-belong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cingkrig Gerak Cipta &#8211; Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2011/05/cingkrig-gerak-cipta-maenpukulan-khas-betawi-rawa-belong/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2011/05/cingkrig-gerak-cipta-maenpukulan-khas-betawi-rawa-belong/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 May 2011 04:59:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aliran Silat]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Silat]]></category>
		<category><![CDATA[cingkrig]]></category>
		<category><![CDATA[cipta]]></category>
		<category><![CDATA[gerak]]></category>
		<category><![CDATA[gerak cipta]]></category>
		<category><![CDATA[maen pukulan]]></category>
		<category><![CDATA[rawa belong]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=1218</guid>
		<description><![CDATA[CINGKRIG GERAK CIPTA MAENPUKULAN KHAS BETAWI RAWA BELONG Maenpukulan (Silat) Cingkrig Gerak Cipta tidak akan terlepas dari silat Cingkrig pada umumnya serta kampung Rawa Belong sebagai tempat kelahiran dan perkembangannya, demikian juga sebaliknya, keduanya sangat erat dan identik tidak bisa di pisahkan satu sama lainnya, karena tidak dapat dipungkiri bahwa di Rawa Belonglah maenpukulan Cingkrig [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>CINGKRIG GERAK CIPTA</strong><br />
<strong>MAENPUKULAN KHAS BETAWI RAWA BELONG</strong></p>
<p><img class="ngg-singlepic ngg-left" src="http://silatindonesia.com/id/wp-content/gallery/artikel/20110502-cingkrig-gerak-cipta-logo.png" alt="20110502-cingkrig-gerak-cipta-logo" width="87" height="80" />Maenpukulan (Silat) <a title="gerak cipta" href="http://silatindonesia.com/tag/gerak-cipta">Cingkrig Gerak Cipta</a> tidak akan terlepas dari silat <a href="http://silatindonesia.com/tag/cingkrig">Cingkrig </a>pada umumnya serta kampung Rawa Belong sebagai tempat kelahiran dan perkembangannya, demikian juga sebaliknya, keduanya sangat erat dan identik tidak bisa di pisahkan satu sama lainnya, karena tidak dapat dipungkiri bahwa di Rawa Belonglah maenpukulan Cingkrig dilahirkan dan dikembangkan<br />
<span id="more-1218"></span><br />
Kata Cingkrig berasal dari ungkapan Bahasa Betawi yakni Jingkrak-jingkrik atau Cingkrak-cingkrik yang dapat diartikan gesit dan lincah. Oleh karena itu disetiap gerakan Cingkrig dibutuhkan kegesitan dan kelincahan, hal ini mengacu pada gerakan natural dari gerakan kera yang sangat gesit dan lincah, hingga dikembangkan menjadi sebuah jurus <a href="http://silatindonesia.com/tag/silat">Silat </a>(<a href="http://silatindonesia.com/tag/maen-pukulan">maenpukulan</a>) yang lincah dan atraktif dalam setiap serangan yang sekaligus merupakan pertahanan dan pertahanan sekaligus juga serangan.<br />
Kata Cingkrig disini menggunakan hurup &#8220;G&#8221; pada hurup terakhirnya, bukan Cingkrik yang menggunakan hurup &#8220;K&#8221; pada hurup terakhirnya, hal ini mengacu pada kebiasaan logat Betawi dimana akhiran hurup &#8220;k&#8221; bisa berubah jadi &#8220;g&#8221; seperti kata beduk menjadi bedug, gerobak menjadi gerobag, gubuk menjadi gubug dan lain sebagainya</p>
<p><strong>GEOGRAFIS</strong></p>
<p><a href="http://silatindonesia.com/tag/rawa-belong">Rawa Belong</a> adalah sebuah kampung yang terletak di wilayah barat Jakarta dan sekarang telah berkembang menjadi sebuah kelurahan, yakni Kelurahan Sukabumi Utara. Terletak di wilayah Kota Madya Jakarta Barat dengan batas-batas wilayah; sebelah Utara berbatasan dengan kelurahan Kebon Jeruk, sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Sukabumi Selatan (Pos pengumben), sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Pal Merah Utara dan Gerogol Utara, sebelah Barat berbatasan dengan kelurahan Kelapa Dua.</p>
<p><strong>SOSIO KULTURAL</strong></p>
<p>Kehidupan masyarakat Rawa Belong rata-rata pada umumnya adalah para pedagang, petani bunga atau tanaman hias, Alim ulama, sopir dan lain sebagainya. Bahasa kesehariannya adalah bahasa daerah Betawi tengah dengan ciri pengucapan vokal &#8220;e&#8221; untuk kata yang berakhiran vokal &#8220;a&#8221;, secara umum karakter dan adat-istiadatnya sama dengan masyarakat betawi daerah lainnya, dimana unsur Agama Islam sangat kental mewarnai kehidupan sehari-hari, dan secara geneologis serta akar budaya masyarakat Rawa Belong sangat kental dengan perpaduan budaya Melayu, China dan Arab.</p>
<p><strong>TOKOH SEJARAH DAN ASAL-USUL</strong></p>
<p>Bila berbiacara Maen pukulan (Silat) Cingkrig, tidak bisa dipisahlan dengan tokoh yang membawa dan mengembangkan maen pukulan itu sendiri yaitu :  Ki Ma&#8217;ing<br />
Alkisah dimasa lalu, banyak orang Rawa Belong yang menimba dan menuntut ilmu ke daerah Kulon (tidak dapat dipastikan tempatnya) karena berdasarkan informasi dari para orang tua, bahwa daerah Meruya dan Tanggerang sudah dianggap Kulon oleh orang-orang Rawa Belong pada waktu itu. Mereka menimba ilmu dengan belajar Ilmu Agama dan juga Ilmu beladiri, baik itu ilmu olah bathin maupun ilmu olah kanuragan.</p>
<p>Dari sekian banyak orang Rawa Belong yang menimba ilmu di Kulon, salah satunya adalah Ki Ma&#8217;ing, namun belum tuntas belajar, Ki Ma&#8217;ing memutuskan untuk kembali ke Rawa Belong. Pada suatu ketika <a href="http://silatindonesia.com/">Ki Ma&#8217;ing</a> yang sedang berjalan, tongkatnya di rebut oleh seekor Kera milik tetangganya yang ber nama Nyi Saereh, spontan Ki Ma&#8217;ing menarik tongkatnya, dan selanjutnya terjadilah perebutan tongkat antara Ki Ma&#8217;ing dan Si Kera milik Nyi Saereh, Si Kera tidak mau mengalah begitu saja, dengan sigap dan lincahnya berusaha menarik tongkat Ki Ma&#8217;ing dengan di sertai beberapa gerakan serangan dan pertahanan yang menyerupai jurus silat.<br />
Ki Ma&#8217;ing sangat terkesan dengan gerakan Kera tersebut, hampir setiiap hari Ki Ma&#8217;ing mendatangi Kera tersebut untuk mempelajari dan menganalisanya, setiap gerakan pertahanan si Kera diiringi dengan serangan yang lincah, dan begitu pula sebaliknya setiap gerakan serangan merupakan juga pertahanan dengan kombinasi antara kaki dan tangan yang begitu gesit dan lincah. Dari pengamatan gerakan natural Kera tersebut serta ketekunannya berlatih, oleh Ki Ma&#8217;ing dikembangkan menjadi gerakan jurus silat yang kemudian hari dikenal dengan sebutan CINGKRIG.<br />
Ki Ma&#8217;ing menyebarluaskan dan menularkan jurus-jurusnya itu kepada murid-nuridnya yang pada masa itu mulai di kenal dengan sebutan Maenpukulan Cingkrig, karena sebelumnya orang Rawa belong hanya mengenal Cingkrig dengan sebutan Maenpukul. Ki Ma&#8217;ing menurunkan Maenpukulan ini kepada murid-muridnya  diantranya yang di kenal:  Ki Saari,  Ki Ali,  Ki Ajid.</p>
<p><strong>Ki Saari</strong></p>
<p><a href="http://silatindonesia.com">Ki Saari</a> juga turut mengembangkan Maenpukulan Cingkrig dan mengajarkan kepada murid-muridnya, salah satu di antaranya adalah Kong Wahab.<br />
Kong Wahab juga mengembangkan maenpukulan ini serta mengajarkan kepada murid-muridnya, di antaranya; anaknya sendiri yaitu Babe NUR.</p>
<p><strong>Ki Ali</strong></p>
<p>Ki Ali turut mengembangkan maenpukulan Cingkrig serta mengajarkan kepada murid-muridnya yang kebanyakan dari luar Rawa Belong diantaranya;</p>
<p>&#8220;    Ki Sinan yang mengembangkan di wilayah Kebon Jeruk dan sekitarnya dan mempunyai murid diantaranya; Babe Melik,  Babe Entong,  Babe Abu Hasyim.<br />
&#8220;    Ki Goning yang mengembangkan di wilayah Kemanggisan dan sekitarnya dan mempunyai murid diantaranya; Babe Hamdan,  Babe Usup Utay dan sekarang di kembangkan oleh Bapak Tubagus Bambang.<br />
&#8220;    Ki Legot yang mengmbangkan di wilayah Muara Angke, Pesing dan sekitarnya.<br />
&#8220;    Ki Sakam yang mengembangkan di wilayah Depok dan sekitarnya dan sekarang di kembangkan oleh Babe Popon</p>
<p><strong>Ki Ajid</strong></p>
<p>Ki Ajid turut mengembangkan maenpukulan cingkrig di daerah Rawabelong dan mengajarkan kepada murid-muridnya diantaranya;</p>
<p>&#8220;    Kong Uming yang mengembangkan dan mengajarkan kepada murid-muridnya diantaranya; Babe Nunung,  Babe Hasan Kumis,  Babe Akib. Dan yang masih mengembangkan serta mengajarkan maenpukulan Cingkrig dari Kong Uming saat ini diantaranya; Babe Warno,  Babe Manaf,  dan masih ada yang lainnya yang belum di ketahui oleh penulis.<br />
&#8220;    Kong Hayat yang mengembaqngkan dan mengajarkan kepada murid-muridnya di antaranya; Kong Majid,  Kong Acik (Munasik), dan yang masih mengembangkan dan mengajarkan maenpukulan cingkrig dari Kong Hayat  saat ini di antaranya; Bang Satria Jaya</p>
<p><a href="http://silatindonesia.com/tag/cingkrig"><strong>CINGKRIG GERAK CIPTA</strong></a></p>
<p>Membicarakan tentang Cingkrig Gerak Cipta tidak terlepas dari tokoh yang memberi nama Gerak Cipta  dibelakang kata Cingkrig yaitu Kong Acik (Munasik bin Hamim).<br />
Kong Acik pertama kali belajar cingkrig kepada Kong Hayat karena kemauan dan tekadnya yang keras untuk mengetahui cingkrig lebih dalam, kong Acik memperdalam pelajarannya kepada Ki Ajid, Ki Saari dan juga Ki Ali.<br />
Belum puas dengan hasil yang di dapatkannya, Kong Acik sering bersilaturahmi ke berbagai perguruan aliran lain untuk menambah pengetahuan dan pengalaman.<br />
Perguruan yang di kunjungi bukan Cuma yang di Jakarta saja, tetapi sampai ke Tanggerang, Depok, Bekasi bahkan sampai Cianjur dan Garut, serta bukan hanya silat asli indonesia saja tetapi juga yang dari luar seperti Karate, taekwondo dan Kuntaw.<br />
Dan akhirnya Kong Acik berhasil memadukan jurus cingkrig dengan gerak dan tekhnik yang di dapat dari aliran lain tanpa merubah atau menghilangkan jurus dasar cingkrig itu sendiri.<br />
Maka oleh karena itulah Kong Acik menambahkan nama Gerak Cipta di belakang nama Cingkrig sebagai identiras/ciri dari aliran ini.</p>
<p>Kong Acik mengembangkan dan mengajarkan <a href="http://silatindonesia.com/tag/gerak-cipta">Cingkrig Gerak Cipta</a> di wilayah Rawa Belong dan luar Rawa Belong seperti didaerah Rawamangun, Mampang, Bekasi  Tanggerang dan Bogor.<br />
Saat ini salah satu murid Kong Acik yang masih mengajarkan Cingkrig Gerak Cipta yang juga masih keponakan beliau sendiri yaitu Bang Amri bin H. Abbas</p>
<p><strong>JURUS &#8211; JURUS CINGKRIG GERAK CIPTA</strong></p>
<p>Konon menurut beberapa sumber, di awal perkembangannya jurus cingkrig hanya berjumlah lima jurus dengan urutan:</p>
<p>&#8220;    1. Langkah Satu<br />
&#8220;    2. Langkah Dua<br />
&#8220;    3. Langkah Tiga<br />
&#8220;    4. Langkah Empat<br />
&#8220;    5. Langkah Lima</p>
<p>Pada perkembangan selanjutnya menjadi delapan jurus dan kemudian dikembangkan lagi setelah memasukan beberapa gerak tambahan menjadi dua belas jurus, adapun nama-nama jurus dan urutannya berbeda antara aliran Cingkrig yang satu dengan aliran cingkrig lainnya yang berkembang saat ini.</p>
<p>Ketidak seragaman dan perbedaan baik dalam jurus dan sambut pada cingkrig, dalam perkembangannya bukan masalah yang mendasar bagi yang mendalami Cingkrig itu sendiri, karena flexibilitasnya yang berkembang tergantung kepada siapa Kita belajar/berguru.<br />
Namun yang paling penting adalah <strong>JANGANLAH KITA MELUPAKAN SEJARAH ASAL-USUL CINGKRIG</strong>,  yang di bawa dan di kembangkan oleh orang Rawa Belong yakni Ki Ma&#8217;ing.</p>
<p>Jurus-jurus yang di ajarkan dalam Cingkrig Gerak Cipta yaitu;</p>
<p>1.    Langkah Beset<br />
2.    Cingkrig<br />
3.    Buka Satu<br />
4.    Satu Kurung<br />
5.    Saup<br />
6.    Langkah Tiga<br />
7.    Langkah Empat<br />
8.    Langkah Lima<br />
9.    Lok Be<br />
10.    Singa<br />
11.    Macan<br />
12.    Longok</p>
<p>Di tambah Pancer yang diturunkan setelah menguasai jurus dengan sempurna tapi bukan merupakan jurus ke tigabelas, tetapi hanya sebagai bekal tambahan.</p>
<p>Didalam Cingkrig Gerak Cipta diajarkan pula Gerak Dasar yang diturunkan sebelum jurus, tujuan dari Gerak Dasar adalah untuk melatih kuda-kuda,  kelincahan tangan dan kaki serta kelenturan tubuh/badan, Gerak Dasar juga difungsikan sebagai pemanasan jurus sebelum menjalankan atau melancarkan jurus Cingkrig.</p>
<p>Gerak Dasar didalam Cingkrig Gerak Cipta berjumlah tujuhbelas yaitu;</p>
<p>1.    Gerak Beset Tarik<br />
2.    Gerak Beset Gedor<br />
3.    Gerak Pasang Pukul<br />
4.    Gerak Cingkrig<br />
5.    Gerak Sangkol<br />
6.    Gerak Rambet<br />
7.    Gerak bacok Rimpes<br />
8.    Gerak Saup<br />
9.    Gerak kodek<br />
10.    Gerak Seser<br />
11.    Gerak Kosrek/Gobrek<br />
12.    Gerak Tiktuk<br />
13.    Gerak Bendrong<br />
14.    Gerak Lokbe<br />
15.    Gerak Sikut Atas<br />
16.    Gerak Cakar Macan<br />
17.    Gerak Longok</p>
<p><strong>POLA LANGKAH DAN CIRI KHAS</strong></p>
<p>Setiap langkah dalam Cingkrig Gerak Cipta mengikuti pola empat penjuru di setiap langkah, dijalankan dengan kombinasi gerak tangan dan kaki secara simultan dan hampir bersamaan. Ciri khas adalah kuda-kuda yang rendah, gerak kaki dan tangan yang cepat serta luwes dan tidak Kaku dalam terminologi menggunakan Rasa, serta tenaga pukulan di  ujung, sabetan kaki hampir bersamaan dengan gerakan tangan.</p>
<p><strong>APLIKASI / SAMBUT</strong></p>
<p>Dalam Cingkrig Gerak Cipta, Aflikasi/sambut di ajarkan setelah si murid menguasai jurus minimal delapan jurus, aflikasi tidak terpola dan tidak baku, dalam arti aflikasinya tergantung situasi, karena dalam jurus yang dimainkan sudah di latih pola langkah menyerang, menghindar, memukul, menangkis, menjatuhkan dan mematahkan/kuncian.<br />
Beberapa istilah dalam Aplikasi sambut Cingkrig Gerak Cipta yaitu;</p>
<p>&#8220;    Sambut Gulung<br />
Bertujuannya melatih gerak tangan dan kaki, kuda-kuda, kelenturan tubuh dalam menyerang dan menghidari serangan.<br />
&#8220;    Sambut Rimpes<br />
Bertujuan melatih refleks tangan yang dapat dilatih sambil duduk.<br />
&#8220;    Sambut Pintas<br />
Tujuan berlatih sambut pintas yakni agar dapat melumpuhkan lawan dengan cepat/sekali gebrak</p>
<p><strong>SISTIM BELAJAR</strong></p>
<p>Pembelajaran dalam Cingkrig Gerak Cipta adalah berlatih dan melancarkan Gerak Dasar dari satu s/d tujuhbelas, yang kemudian dilanjutkan dengan menjalankan jurus-jurus cingkrig, bilamana sang murid sudah menguasai sampai jurus delapan maka dilanjutkan dengan melatih Sambut yang di barengi dengan melatih jurus berikutnya hingga jurus dua belas, setelah tuntas dan halus jurus satu hingga dua belas di lanjutkan dengan jurus kombinasi atau BOMBANG kemudian di tambah PANCER.</p>
<p><strong>FILOSOFI</strong></p>
<p>Di awal perkembangannya, Cingkrig di ajarkan bersamaan/berdampingan dengan belajar ngaji (ilmu Agama Islam), dan oleh karenanya di gunakan sebagai media dakwah. Bagi murid yang ingin belajar cingkrig harus belajar ngaji, jadi pada masa itu bagi yang non Muslim harus masuk Islam terlebih dahulu baru kemudian diajarkan cingkrig.<br />
Maka dari itu filosopi yang terkandung dalam cingkrig sangat-sangat Islami, seperti yang akan dijelaskan sedikit mengenai filosopi yang terkandung dalam cingkrig Gerak Cipta diantaranya;</p>
<p>&#8220;    Kata Gerak Cipta<br />
Gerak Cipta melambangkan hubungan makluk dengan sang pencipta (Allah SWT.), karena setiap gerak atau langkah kita tidak bisa dipisahkan dengan sang Pencipta, maka wajib menjalankan apa yang di perintah dan menjauhi apa yang menjadi larangannya.<br />
&#8220;    Lima Langkah dalam Cingkrig<br />
Lima Langkah melambangkan Sholat Lima Waktu yang wajib didirikan sehari semalam, karena Sholat dapat mencegah perbuatan keji dan munkar, maka ini dapat berfungsi sebagai peredam emosi dalam cingkrig yang bersifat keras.<br />
&#8220;    Gerak Dasar<br />
Gerak Dasar yang berjumlah Tujuh belas melambangkan tujuhbelas rokaat dalam sholat wajib.<br />
&#8220;    Jurus<br />
Jurus dalam Cingkrig Gerak Cipta ada dua belas di tambah satu Pancer melambangkkan tiga belas Rukun Sholat.<br />
&#8220;    Awal Gerak<br />
Setiap mengawali gerakan Silat Cingkrig Gerak Cipta selalu di awali dan di akhiri dengan mengangkat kedua belah tangan dengan cara telapak tangan menghadap keatas setinggi dada, melambangkan setiap gerak dan langkah diawali dengan Do&#8217;a dan di akhiri dengan Syukur</p>
<p>Demikianlah sekelumit tentang Maenpukulan (Silat) Cingkrig Gerak Cipta yang kami perkenalkan sebagai salah satu khasanah warisan Budaya Masyarakat Betawi, dengan harapan dapat diterima di segala lapisan masyrakat, dan kami sebagai penulis mohon maaf, karena tidak tertutup kemungkinan terjadi kesalahan dan kekhilafan dalam penulisan ini, mengingat minimnya data-data yang kami dapatkan. Namun setidaknya dengan hadirnya tulisan ini, semoga bisa menjadi motivasi bagi generasi muda untuk lebih mencintai budaya sendiri, ditengah gencarnya budaya Asing yang masuk ke Indonesia.</p>
<p>Rawa belong, 1 April 2011</p>
<p>Ditulis oleh <a title="Zay Ibnu Siddiq" href="http://www.facebook.com/abay.ibnushidiq" target="_blank">Zay ibnu Siddiq</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<h5><a title="diskusi sahabat silat" href="http://sahabatsilat.com/forum/aliran-pencak-silat/cingkrik"><span style="color: #000080;">ayo diskusi tentang cingkrig gerak cipta di forum sahabat silat</span></a></h5>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2011/05/cingkrig-gerak-cipta-maenpukulan-khas-betawi-rawa-belong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cingkrik, Maenpukulan Khas Betawi Rawa Belong</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2008/12/cingkrik-maenpukulan-khas-betawi-rawa-belong/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2008/12/cingkrik-maenpukulan-khas-betawi-rawa-belong/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Dec 2008 08:01:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rimbang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aliran Silat]]></category>
		<category><![CDATA[cingkrig]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=116</guid>
		<description><![CDATA[Berbicara tentang maenpukulan (silat) Cingkrik tidak akan terlepas dari kampung Rawa Belong, begitupun sebaliknya. Keduanya identik tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena tidak dapat dipungkiri, bahwa di Rawa Belong lah maenpukulan Cingkrik dilahirkan dan dikembangkan. Perkembangan yang demikian pesat merupakan jasa-jasa sesepuh para pendahulu maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong dan sekitarnya. Fenomena Cingkrik sebagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="normal;"><span style="12pt;">Berbicara tentang maenpukulan (silat) Cingkrik tidak akan terlepas dari kampung Rawa Belong, begitupun sebaliknya. Keduanya identik tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena tidak dapat dipungkiri, bahwa di Rawa Belong lah maenpukulan Cingkrik dilahirkan dan dikembangkan. Perkembangan yang demikian pesat merupakan jasa-jasa sesepuh para pendahulu maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong dan sekitarnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="normal;"><span style="12pt;">Fenomena Cingkrik sebagai maenpukulan asli Betawi Rawa Belong, membawa nama tokoh legendaris Betawi Si Pitung, yang memang terkenal sebagai Jawara Rawa Belong. Cingkrik dianggap sebagai salah satu silatnya Si Pitung, dan ini merupakan salah satu dari sekian banyak hal tentang Cingkrik yang perlu diluruskan. Para sesepuh maenpukulan Rawa Belong meragukan bahwa Cingkrik merupakan “maenan” nya Si Pitung, sekalipun dia dilahirkan dan dibesarkan disana. Bang Nunung sebagai salah satu sesepuh maenpukulan Rawa Belong berargumen, bahwa masa Si Pitung jauh mendahului masa lahirnya maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong yang diperkirakan baru diciptakan pada awal abad ke XX oleh Ki Maing. Hal ini dapat ditelusuri dari skema generasi terbawah di silsilah Cingkrik Rawa Belong, yang orang-orangnya masih ada dan tetap eksis mengajar Cingkrik sampai saat ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="normal;"><strong><span style="12pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="normal;"><strong><span style="12pt;">Sejarah dan Perkembangan Maenpukulan Cingkrik</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="normal;"><span style="12pt;">Dahulu banyak orang Rawa Belong yang menimba ilmu ke Kulon (tidak dapat dipastikan tempatnya, karena Meruya dan Tangerangpun sudah dianggap Kulon oleh orang-orang Rawa Belong pada waktu itu) untuk belajar ilmu agama dan ilmu beladiri, baik ilmu batin maupun maenpukulan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="normal;"><span style="12pt;">Salah satu dari sekian banyak orang Rawa Belong yang belajar ke Kulon itu adalah Ki Maing, namun belum tuntas belajar, Ki Maing memutuskan untuk kembali pulang ke Rawa Belong. Hingga sampai pada suatu ketika, Ki Maing yang sedang berjalan, tongkatnya direbut oleh seekor kera milik tetangganya yang bernama Nyi Saereh. Spontan Ki Maing menarik kembali tongkatnya, hingga terjadilah perebutan tongkat antara Ki Maing dan kera milik Nyi Saereh. Si kera tidak mau mengalah begitu saja, dengan sigap dan lincahnya berusaha menarik kembali tongkat Ki Maing dengan disertai beberapa gerakan serangan dan pertahanan yang menyerupai jurus silat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="normal;"><span style="12pt;">Ki Maing sangat terkesan akan gerakan-gerakan kera tersebut, hingga hampir setiap hari Ki Maing mendatangi kera itu untuk kemudian mempelajari dan menganalisanya. Setiap gerakan pertahanan si kera yang lincah itu diiringi serangan, begitupun sebaliknya setiap serangan merupakan pertahanan. Dengan kombinasi antara kaki dan tangan yang begitu gesit dan lincah. Dari pengamatan gerakan natural kera tersebut, dan ketekunannya berlatih, oleh Ki Maing dikembangkan menjadi sebuah gerakan atau jurus silat, yang kemudian hari dikenal dengan sebutan Cingkrik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="normal;"><span style="12pt;">Setelah merasa menguasai maenpukulan Cingkrik yang diinspirasikan dari gerakan kera milik Nyi Saereh tadi, Ki Maing memutuskan untuk kembali ke padepokannya di Kulon. Untuk menguji sampai dimana keberhasilan jurus-jurus barunya itu, Ki Maing “menjajal” satu persatu teman seperguruannya itu, yang hasilnya tidak satupun teman seperguruannya berhasil mengalahkannya. Pada akhirnya guru Ki Maing pun turut serta menjajal kehebatan jurus baru muridnya itu, namun kenyataan yang dialami oleh teman-teman seperguruan Ki Maing, dialami pula oleh gurunya. Gemparlah seluruh padepokan itu dan sang gurupun mengakui kehebatan jurus barunya Ki Maing itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="normal;"><span style="12pt;">Sekembalinya ke Rawa Belong, Ki Maing menyebarluaskannya dengan menularkan jurus barunya itu kepada jawara-jawara Rawa Belong yang pada fase ini, mulai dikenal nama maenpukulan Cingkrik, karena sebelumnya orang Rawa Belong hanya mengenal Cingkrik dengan sebutan “maenpukul”. Dari Ki Maing diturunkan kepada tiga orang, yaitu Ki Saari, Ki Ajid, dan Ki Ali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="normal;"><strong><span style="12pt;">Ki Saari</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="normal;"><span style="12pt;">Ki Saari turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan mempunyai murid bernama Bang Wahab. Bang Wahab sendiripun turut mengembangkannya dengan memliki beberapa murid, yang salah satu diantaranya adalah anaknya sendiri yaitu Bang Nur yang hingga kini masih eksis mengembangkan maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="normal;"><strong><span style="12pt;">Ki Ajid</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="normal;"><span style="12pt;">Ki Ajid turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan banyak memiliki murid yang tersebar di Rawa Belong dan sekitarnya, diantaranya yang terkenal adalah: Bang Acik (Munasik), Bang Uming, Bang Ayat, dan Bang Majid.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="normal;"><span style="12pt;">Selanjutnya dari Bang Uming, maenpukulan Cingkrik kian pesat dikembangkan. Bang Uming mengajar Cingkrik tidak hanya di Rawa Belong saja tetapi di tempat lain seperti Tenabang, Kemandoran (Permata Hijau), Kebon Jeruk/Kelapa Dua dan daerah lainnya. Adapun dari sekian banyak murid Bang Uming yang terkenal adalah: Bang Akib, Bang Umar, Bang Hasan Kumis, dan Bang Nunung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="normal;"><span style="12pt;">Pada masa Bang Hasan Kumis, maenpukulan Cingkrik makin terus berkembang dan terkenal, bersama-sama Bang Nunung dan kawan-kawan mendirikan Perguruan Silat Cingkrik Jatayu Tumbal Pitung. Diantara muridnya yang terkenal adalah, Bang Sapri dan Bang Warno (Suwarno Ayub) yang hingga kini masih eksis mengajarkan maenpukulan Cingkrik di Rawa Belong dan sekitarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="normal;"><strong><span style="12pt;">Ki Ali</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="normal;"><span style="12pt;">Ki Ali turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik dan juga memiliki banyak murid, diantaranya yang paling terkenal adalah:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="normal;"><span style="12pt;">-Ki Sinan, berasal dari Kebon Jeruk dan turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di daerah Kebon Jeruk dan sekitarnya. Diantara murid-muridnya yang terkenal adalah: Bang Melik dan Bang Entong.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="normal;"><span style="12pt;">-Ki Goning, berasal dari Kemanggisan, turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di Kemanggisan dan sekitarnya. Memiliki cukup banyak murid, yang terkenal diantaranya adalah Bang Hamdan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="normal;"><span style="12pt;">-Ki Legod, berasal dari Muara Angke/Pesing yang juga turut mengembangkan maenpukulan Cingkrik di daerah Muara Angke/Pesing.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="normal;"><strong><span style="12pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="normal;"><strong><span style="12pt;">Asal Kata Cingkrik</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="normal;"><span style="12pt;">Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa penyebutan maenpukulan Cingkrik mulai dikenal pada masa genre kedua (Ki Saari, Ki Ajid, dan Ki Ali). Dimana kata Cingkrik muncul dari ungkapan Betawi, yaitu Jingkrak-Jingkrik atau Cingkrak-Cingkrik yang berarti lincah, hal ini mengacu pada gerakan natural dari kera yang sangat lincah, hingga dikembangkan menjadi sebuah jurus silat (maenpukulan) yang lincah, atraktif dalam serangan yang sekaligus merupakan pertahanan, dan pertahan yang sekalgus juga adalah serangan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="normal;"><strong><span style="12pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="normal;"><strong><span style="12pt;">Jurus-Jurus Maenpukulan Cingkrik</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="normal;"><span style="12pt;">Cingkrik memiliki 12 jurus dan ditambah dengan sambut, namun dalam perkembangannya dari 12 jurus dan sambut yang ada, bisa saja berlainan tergantung dari guru mana kita belajar. Sejatinya setiap jurus dan gerakan Cingkrik adalah fleksibel berkembang, tidak kaku atau baku. Namun intinya tetap sama, gerakannya lincah, menyerang maupun bertahan, bertahan sekaligus menyerang dengan gesit dan lincah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="normal;"><span style="12pt;">Sebagai contoh, seperti yang dikembangkan oleh Bang Wahab, jurus-jurus dan gerakannya menitik beratkan pada bagian atas, gerakannya seperti menotok, banyak mengandalkan serangan tangan dan jari dengan sasaran ulu hati, dada, leher dan muka. Sedangkan Bang Uming mengembangkannya dengan atas-bawah kombinasi beset-gedor, ambilan kaki (cingkrik) dan turun ke bawah dengan serangan empat penjuru. Begitupun dengan Ki Sinan dan Ki Goning, yang mengembangkan Cingkrik dengan kelebihannya masing-masing.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="normal;"><span style="12pt;">Ketidak seragaman atau perbedaan baik dalam jurus, gerak dan sambut di Cingkrik, dalam perkembangannya bukan merupakan masalah yang mendasar bagi orang-orang yang ingin mendalami Cingkrik, karena fleksibilitasnya yang terus berkembang tergantung kepada siapa (guru cingkrik) kita belajar/berguru. Namun yang paling penting adalah janganlah kita melupakan sejarah asal usul Cingkrik, yang dilahirkan di dan oleh orang Rawa Belong, yaitu Ki Maing.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="normal;"><strong><span style="12pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="normal;"><strong><span style="12pt;">Dasar Jurus Cingkrik ada 12, yaitu:</span></strong></p>
<ol style="0in;" type="1">
<li class="MsoNormal"><em><span style="12pt;">Keset Bacok</span></em></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="12pt;">Keset Gedor</span></em></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="12pt;">Cingkrik</span></em></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="12pt;">Langkah 3</span></em></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="12pt;">Langkah 4</span></em></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="12pt;">Buka Satu</span></em></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="12pt;">Saup</span></em></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="12pt;">Macan</span></em></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="12pt;">Tiktuk</span></em></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="12pt;">Singa</span></em></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="12pt;">Lokbe</span></em></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="12pt;">Longok</span></em></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="normal;"><strong><span style="12pt;">Ditambah atau dilanjutkan dengan sambut:</span></strong></p>
<ol style="0in;" type="1">
<li class="MsoNormal"><em><span style="12pt;">Sambut 7 muka</span></em></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="12pt;">Sambut Gulung</span></em></li>
<li class="MsoNormal"><em><span style="12pt;">Sambut Detik/Habis</span></em></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="normal;"><span style="12pt;">Adapun gerakan jurus gabungan dari 1-12 disebut sebagai <em>Bongbang</em>, yang biasanya digunakan untuk atraksi di panggung-panggung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="normal;"><span style="12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="normal;"><span style="12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="normal;"><span style="12pt;">Betawi, Nopember 2008</span></p>
<p class="MsoNormal" style="normal;"><em><span style="12pt;">Berdasar tulisan asli Cacang tentang Sejarah Silat Cingkrik Rawa Belong, dengan nara sumber sesepuh Maenpukulan Cingkrik Rawa Belong diantaranya : Bang Nunung dan Bang Warno (Suwarno Ayub)_____Diedit dan ditulis ulang oleh Gusman”Jali”Natawidjaja</span></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2008/12/cingkrik-maenpukulan-khas-betawi-rawa-belong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

