<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Silat Indonesia &#187; sejarah</title>
	<atom:link href="http://silatindonesia.com/tag/sejarah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://silatindonesia.com</link>
	<description>Pusat Informasi Pencak Silat Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 May 2012 09:13:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Seminar : Pencak Silat dalam Perspektif Sejarah dan Budaya</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2011/02/pencak-silat-dalam-perspektif-sejarah-dan-budaya/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2011/02/pencak-silat-dalam-perspektif-sejarah-dan-budaya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Feb 2011 22:43:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cover Story]]></category>
		<category><![CDATA[Information]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[fp2sti]]></category>
		<category><![CDATA[garis paksi]]></category>
		<category><![CDATA[peupeuhan]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[seminar]]></category>
		<category><![CDATA[tangtungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=1037</guid>
		<description><![CDATA[Darimanakah sebetulnya pencak silat berasal&#8230;? bagaimanakah sebetulnya sejarah pencak silat itu&#8230;? mengapa sejarah dan budaya Nusantara sejak beratus-ratus tahun lalu terkait erat dengan pencak silat&#8230;? lebih tua manakah sejarah dan budaya Jawa, Sunda ataukah Sumatera&#8230;? Apakah sebenarnya Ibing Penca itu&#8230;? apakah mempelajari Ibing Penca dapat digunakan sebagai beladiri&#8230;? Cari tahu semua ini dari para pakarnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Darimanakah sebetulnya pencak silat berasal&#8230;?<br />
bagaimanakah sebetulnya sejarah pencak silat itu&#8230;?<br />
mengapa sejarah dan budaya Nusantara sejak beratus-ratus tahun lalu terkait erat dengan pencak silat&#8230;?<br />
lebih tua manakah sejarah dan budaya Jawa, Sunda ataukah Sumatera&#8230;?</p>
<p>Apakah sebenarnya Ibing Penca itu&#8230;? apakah mempelajari Ibing Penca dapat digunakan sebagai beladiri&#8230;?<br />
<span id="more-1037"></span><br />
Cari tahu semua ini dari para pakarnya :</p>
<p>Keluarga Mahasiswa Arkeologi Universitas Indonesia (KAMA) bekerjasama dengan <a href="http://silatindonesia.com/tag/tangtungan-project">Tangtungan Project</a> serta <a href="http://silatindonesia.com/tag/fp2sti">FP2STI</a> mempersembahkan :</p>
<p><a href="http://silatindonesia.com/2011/02/pencak-silat-dalam-perspektif-sejarah-dan-budaya/"><strong>Seminar &#8220;Pencak Silat dalam Perspektif Sejarah dan Budaya&#8221;</strong></a><br />
<a href="http://silatindonesia.com/2011/02/pencak-silat-dalam-perspektif-sejarah-dan-budaya/"><strong>Eksibisi 10 perguruan pencak silat tradisional</strong></a></p>
<p>Tempat : Auditorium GD. IX Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia<br />
Waktu  : Kamis 17 Februari 2011<br />
Acara  :<br />
- PK. 09.00 &#8211; 12.00    Seminar Pencak Silat dalam Perspektif Sejarah dan Budaya<br />
- PK. 13.00 &#8211; selesai   Eksibisi 10 Perguruan pencak silat tradisional<br />
- PK. 09.00 &#8211; selesai   Pameran dan instalasi foto sejarah dan kebudayaan pencak silat</p>
<p>Moderator : Bp. O&#8217;ong Maryono (Peneliti dan pelestari pencak silat Dunia)</p>
<p><strong>Pembicara :</strong></p>
<p>1. Prof DR Agus Aris Munandar (dosen Arkeologi dan ahli Sejarah serta kebudayaan Sunda Universita Indonesia)</p>
<p>2. Bp. Gending Raspuzi (Pakar budaya Pencak Silat serta founder Lembaga Pewarisan Pencak Silat <a href="http://silatindonesia.com/tag/garis-paksi">GARIS PAKSI</a> )</p>
<p>3. Bp. Muhamad Rafijen (Guru Besar Maenpo <a href="http://silatindonesia.com/tag/peupeuhan">Peupeuhan</a> Adung Rais) -&gt; dalam konfirmasi</p>
<p>4. Bp. Edwin Hidayat Abdullah (Wirausahawan dan Penggiat <a href="http://silatindonesia.com/tag/fp2sti">FP2STI</a>)</p>
<p><strong>Seminar ini GRATIS dan bebas untuk semua kalangan&#8230;.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2011/02/pencak-silat-dalam-perspektif-sejarah-dan-budaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejarah Silek</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2011/01/sejarah-silek/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2011/01/sejarah-silek/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Jan 2011 14:33:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>repo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aliran Silat]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Silat]]></category>
		<category><![CDATA[minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[silek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=923</guid>
		<description><![CDATA[Kajian sejarah silek memang rumit karena diterima dari mulut ke mulut, pernah seorang guru diwawancarai bahwa dia sama sekali tidak tahu siapa buyut gurunya. Bukti tertulis kebanyakan tidak ada. Seorang Tuo Silek dari Pauah, Kota Padang, cuma mengatakan bahwa dahulu silat ini diwariskan dari seorang kusir bendi (andong) dari Limau Kapeh, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="shutterset_" href="http://silatindonesia.com/id/wp-content/gallery/artikel/20110109-silekminangkabau-sejarah.jpg"><img class="ngg-singlepic ngg-left" src="http://silatindonesia.com/id/wp-content/gallery/artikel/thumbs/thumbs_20110109-silekminangkabau-sejarah.jpg" alt="20110109-silekminangkabau-sejarah" /></a>Kajian sejarah silek memang rumit karena diterima dari mulut ke mulut,  pernah seorang guru diwawancarai bahwa dia sama sekali tidak tahu siapa  buyut gurunya. Bukti tertulis kebanyakan tidak ada. Seorang Tuo Silek  dari Pauah, Kota Padang, cuma mengatakan bahwa dahulu silat ini  diwariskan dari seorang kusir bendi (andong) dari Limau Kapeh,  Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.</p>
<p><span id="more-923"></span>Seorang guru silek dari  Sijunjung, Sumatera Barat mengatakan bahwa ilmu silat yang dia dapatkan  berasal dari Lintau.  Ada lagi Tuo Silek yang dikenal dengan nama Angku Budua mengatakan  bahwa silat ini beliau peroleh dari Koto Anau, Kabupaten Solok.  Daerah Koto Anau, Bayang dan Banda Sapuluah di Kabupaten Pesisir Selatan, Pauah di Kota Padang atau Lintau pada masa lalunya  adalah daerah penting di wilayah Minangkabau. Daerah Solok misalnya adalah daerah pertahanan kerajaan  Minangkabau menghadapi serangan musuh dari darat, sedangkan daerah  Pesisir adalah daerah pertahanan menghadapi serangan musuh dari laut.  Tidak terlalu banyak guru-guru silek yang bisa menyebutkan ranji  guru-guru mereka secara lengkap.<br />
Jika dirujuk dari buku berjudul <em>Filsafat dan Silsilah Aliran-Aliran  Silat Minangkabau</em> karangan Mid Djamal (1986), maka  dapat diketahui bahwa <strong>para pendiri</strong> dari Silek (Silat) di  Minangkabau adalah</p>
<ul>
<li>Datuak Suri Dirajo diperkirakan berdiri pada tahun 1119 Masehi di daerah Pariangan,  Padangpanjang, Sumatera Barat.</li>
<li>Kambiang Utan (diperkirakan berasal dari Kamboja),</li>
<li>Harimau Campo (diperkirakan berasal dari daerah Champa),</li>
<li>Kuciang Siam (diperkirakan datang dari Siam atau Thailand)  dan</li>
<li>Anjiang Mualim (diperkirakan datang dari Persia).</li>
</ul>
<p>Di masa Datuak Suri Dirajo inilah silek Minangkabau pertama kali  diramu dan tentu saja gerakan-gerakan beladiri dari pengawal yang empat  orang tersebut turut mewarnai silek itu sendiri<sup id="cite_ref-8"><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Silat_Minangkabau#cite_note-8">[9]</a></sup>.  Nama-nama mereka memang seperti nama hewan (Kambing, Harimau, Kucing  dan Anjing), namun tentu saja mereka adalah manusia, bukan hewan menurut  persangkaan beberapa orang. Asal muasal Kambiang Hutan dan Anjiang  Mualim memang sampai sekarang membutuhkan kajian lebih dalam darimana  sebenarnya mereka berasal karena nama mereka tidak menunjukkan tempat  secara spesifik. Perlu dilakukan kajian secara cermat dalam menelusuri  hubungan sejarah antara masyarakat Minangkabau dengan Persia, Champa,  Kamboja dan Thailand. Kajian genetik bisa juga dilakukan untuk melihat  silsilah dari masyarakat Minangkabau itu sendiri. Kajian ini boleh jadi  akan rumit dan memakan banyak sumber daya.</p>
<p>Jadi boleh dikatakan bahwa silat di Minangkabau adalah kombinasi dari  ilmu beladiri lokal, ditambah dengan beladiri yang datang dari luar  kawasan Nusantara. Jika ditelusuri lebih lanjut, diketahui bahwa <strong>langkah  silat</strong> di Minangkabau yang khas itu adalah buah karya mereka.  Langkah silat Minangkabau sederhana saja, namun dibalik langkah  sederhana itu, terkandung kecerdasan yang tinggi dari para penggagas  ratusan tahun yang lampau. Mereka telah membuat langkah itu sedemikian  rupa sehingga silek menjadi plastis untuk dikembangkan menjadi lebih  rumit. Guru-guru silek atau pandeka yang lihai adalah orang yang  benar-benar paham rahasia dari langkah silat yang sederhana itu,  sehingga mereka bisa mengolahnya menjadi bentuk-bentuk gerakan silat  sampai tidak hingga jumlahnya. Kiat yang demikian tergambar di dalam  pepatah <em>jiko dibalun sagadang bijo labu, jiko dikambang saleba alam</em> (jika disimpulkan hanya sebesar biji labu, jika diuraikan akan menjadi  selebar alam)</p>
<p>sumber: <a href="http://silek-harimau-minangkabau.blogspot.com/2010/08/sejarah-silek.html" target="_blank">blok silek harimau minangkabau</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2011/01/sejarah-silek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejarah Singkat Aliran Silat Sera</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2010/03/sejarah-singkat-aliran-silat-sera/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2010/03/sejarah-singkat-aliran-silat-sera/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2010 05:14:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aliran Silat]]></category>
		<category><![CDATA[cimanggis]]></category>
		<category><![CDATA[depok]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[sera]]></category>
		<category><![CDATA[silat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=571</guid>
		<description><![CDATA[Menghaturkan salam hormat kepada Para Guru Pancaserra, khususnya Guru Silat Sera saya, Bapak Muhammad Siddik, ijin untuk mempublikasikan tulisan Sejarah Singkat Silat Sera. Seperti pula telah dipublikasikan dalam Forum sahabatsilat.com “Bismillahirrahmanirrahim” Sejarah Singkat Aliran Silat Sera (Berkembang menjadi Perguruan Pencak Silat Pancassera) Sumber : H. Cucu Sutarya, SH (Guru Besar/Pembina Utama). Bermula dari kabilah-kabilah Gujarat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menghaturkan salam hormat kepada Para Guru Pancaserra, khususnya Guru Silat Sera saya, Bapak Muhammad Siddik, ijin untuk mempublikasikan tulisan Sejarah Singkat Silat Sera. Seperti pula telah dipublikasikan dalam Forum sahabatsilat.com</p>
<p><span id="more-571"></span> “<strong>Bismillahirrahmanirrahim</strong>”</p>
<p><strong>Sejarah Singkat Aliran Silat Sera</strong><br />
(Berkembang menjadi Perguruan Pencak Silat Pancassera)<br />
Sumber : H. Cucu Sutarya, SH (Guru Besar/Pembina Utama).<br />
Bermula dari kabilah-kabilah Gujarat Persia yang pada abad ke XVI dating ke daerah aceh, selain berniaga mereka juga membawa dan menyebarkan agama serta kebudayaan Islam. Pada abad ini agama Islam mulai masuk ke tanah Aceh. Saudagar-saudagar tersebut mendapat pengetahuan agama dan kebudayaan dari Syekh Sayyidina Ali r.a. Beliau adalah sahabat dan sekaligus menantu Rasulullah Muhammad SAW. Beliau dikenal sebagai seorang ahli dalam strategi perang, terampil dalam mengolah raga, terutama dalam permainan pedangnya yang selalu membuat ciut nyali lawan-lawannya, terutama musuh Islam pada saat itu. Tak heran jika kemudian beliau dijuluki dengan julukan Syaifullah ( Si Pedang Allah).<br />
Saudagar-saudagar inilah yang membawa pengetahuan agama dan kebudayaan itu hingga sampai ke tanah Aceh. Hubungan mereka dengan penduduk asli terjalin dengan baik, terbukti kemudian dengan munculnya seorang tokoh sufi setempat yang dikenal dengan sebutan Nyai Panjate. Nama asli Nyai Panjate adalah Hajja Cut Suriah binti Teuku Syamannur. Suaminya bernama H.Teuku Kaharuddin Solehuddin. Kedua suami istri tersebut mempelajari ilmu agama dan kebudayaan (ilmu silat) dari Kabilah Gujarat Persia. Salah seorang guru mereka adalah murid dari keturunan murid Syekh Sayyidina Ali r.a (Wallahu alam).<br />
Ketika tentara colonial Belanda (VOC) masuk ke tanah Aceh pada tahun 1752 M, kedua suami istri tersebut bekerjasama dengan para pendekar silat lainnya mengadakan perlawanan bersama rakyat untuk mengusir tentara belanda dari bumi Aceh. Pada mulanya mereka berhasil memukul mundur pasukan Belanda, namun dengan siasat licik dengan cara mengadu domba diantara rakyat Aceh, maka tentara Belanda dapat mengetahui kelemahan suami Cut Suriah tersebut. Akhirnya pada saat yang naas bagi Teuku Kaharuddin Solehuddin, Belanda dapat menembak roboh beliau dengan peluru emas, maka gugurlah beliau sebagai seorang syuhada.<br />
Setelah suaminya gugur, Hj. Cut Suriah hijrah ke dalam hutan + 35 km ke pedalaman daerah Bireun. Beliau mengasingkan diri sebagai seorang sufi. Pada waktu sedang hamil muda + 2 bulan. Dalam kehidupan sebagai seorang sufi kebutuhan hidup beliau bergantung kepada alam di sekitarnya. Sesekali beliau berburu dengan alat sedanya, beliau sering menolong orang-orang yang sedang mencari kayu atau hasil hutan lainnya, yang sering digangggu binatang buas seperti harimau, ular, buaya dan lain sebagainya. Sudah sering beliau menyelamatkan orang-orang yang diganggu binatang buas, kemudian lenyap tanpa meningggalkan jejak. Dari mulut ke mulut orang-orang yang pernah ditolongnya mengatakan bahwa adanya wanita berkerudung rapi dengan ilmu silatnya yang tinggi sanggup melumpuhkan binatang buas yang menyerang para pencari hasil hutan, hanya dengan beberapa gerakan saja. Yang karena keahliannya yang sangat mengagumkan sehingga terkenal sebagai seorang wanita berkerudung yang misterius sering menolong tanpa pamrih, kemudian pergi tanpa diketahui identitasnya. Sifat pendekarnya membuat dicari orang untuk berguru, tetapi karena yang masih buas sehingga banyak yang menjadi korban sebelum sampai ke tujuan.<br />
Sekitar abad ke XVII, datanglah seorang laki-laki bernama Bapak Sera, beliau adalah seorang yang gemar sekali bertualang. Dalam petualangannyabeliau banyak sekali menimba ilmu agama dan silat dari berbagai daerah, disamping berniaga sebagai mata pencariannya. Beliau selalu merasa bahwa ilmunya masih saja kurang. Ketika beliau sedang berada di daerah Riau, beliau mendengar berita yang tersiar akan keperkasaan wanita meisterius itu yang membuat Bapak Sera bertekad untuk mencarinya ke tanah Aceh. Untuk mencapai tujuannya, tentu saja harus melalui perjuangan yang amat berat, harus bertarung dengan harimau, ular, babi hutan, begitu juga harus berhadapan dengan buaya setiap menyeberangi sungai. Jarak yang hanya sekitar 30 km itu harus dicapai selama 3 bulan. Seandainya tidak berbekal ilmu silat, mustahil dapat mencapai tujuan.<br />
Rupanya segala sepak terjang Bapak Sera sudah diketahui oleh Ibu Hj. Cut Suriah. Ketika Bapak Sera sedang tertidur lelap terdengar suara takbir adzan dari Hj. Cut Suriah yang dikeraskan, tanda waktu shalat Shubuh telah tiba. Dari atas pohon besar Bapak Sera melihat seorang berkerudung kuning dengan menggendong anak dipunggungnya turun, untuk melaksanakan Shalat Shubuh. Kemudian Bapak Sera pun turun daripohon dan mengucap salam, dibalas salamnya. Kemudian mereka melakukan shalat dengan berjamaah. Sebagai seorang pendekar dan ahli sufi, semua sepak terjang dan tujuan dari Bapak Sera sudah diketahui oleh Hj. Cut Suriah. Sekitar tiga bulan Bapak Sera melayani Hj. Cut Suriah, barulah dengan perjuangan yang ulet mulailah diajarkan ilmu silat oleh Hj. Cut Suriah pada siang hari dan ilmu agama pada malam harinya. Setelah sekitar satu setengah tahun Bapak Sera berlatih, datanglah seorang pemuda yang terdampar, konon khabarnya dari tanah Sulawesi, bernama Lago dan menjadi adik seperguruan dari Bapak Sera.<br />
Kurang lebih 6 tahun berguru kepada Hj. Cut Suriah, Bapak Sera baru mengetahui nama asli gurunya tersebut. Nyai Panjate adalah julukan yang diberikan Bapak Sera, karena setiap menyusui anak perempuannya dengan terbungkus rapi selalu dikebelakangkan. Hj. Cut Suriah bersumpah bahwa putrinya itu tidak akan pernah dilatihilmu silat. Atasm anjuran Sang Guru, Bapak Sera dan Bapak Lagoa dianjurkan untuk kembali pulang ke tanah asalnya karena ilmu yang didapat telah dinilai cukup. Mereka kembali ke tanah Jawa, Bapak Sera ke Bogor dan Bapak Sera ke Tanjung Priuk, tepatnya daerah Lagoa sekarang, daerah itupun berasal dari nama beliau karena wafat dan dimakamkan disana.<br />
Dalam pengembaraannya, Bapak Sera bertemu dengan dengan seorang pedagang kain dari Mongol yang bernama Yu Sak Liong, yang kemudian menjadi majikan Bapak Sera dalam berniaga. Bah Yu Sak Liong adalah seorang Muslim yang lebih dikenal dengan nama Bah Yusa. Mereka berniaga berkeliling sampai ke tanah Aceh. Awal perkenalan mereka dimulai ketika saat Bapak Sera sedang menurunkan bal gulungan kain, tiba-tiba, satu gulungan kain tersebut jatuh dan akan menimpa dirinya. Namun dengan gerakan tangannya, Bapak Sera berhasil menagkis bal gulungan kain tersebut, hingga bal gulungan kain tersebut yang beratnya puluhan kilo tersebut mental terkena tangkisannya dan tak sengaja melayang menuju kea rah BahYusa. Namun dengan gerakan kakinya, Bah Yusa menyambut bal gulungan kain tersebut dan menendangnya kearah tempatsemula. Bah Yusa sangat kagum menyaksikan gerakan Bapak Sera yang hanya dengan sedikit saja menggerakan tangan, dapat menyelamatkan diri, karena jika orang lain yang mengalaminya pasti sudah cedera berat. Akhirnya mereka berkenalan dan sepakat untuk tukar pikiran dalam hal ilmu mereka masing-masing.<br />
Bah Yu Sak Liong ahli dalam beladiri menggunakan kaki sesuai dengan negeri asalnya yakni Mongol, sedangkan Bapak Sera ahli dalam menggunakan tangan. Mereka mengadu ilmu kurang lebih tiga hari tiga malam, dengan istirahat untuk mengerjakan shalat. Tak ada yang unggul dalam adu ilmu tersebut, Bah Yu Sak Liong hangus kakinya, sedangkan Bapak Sera hangus pula tangannya. Akhirnya mereka sepakat untuk mengabungkan ilmu mereka. Sejak saat itu maka bertambahlah ilmu silat Bapak Sera dan Bah Yu Sak Liong. Ilmu mereka kemudian dikenal dengan Aliran Sera, sesuai dengan nama penemunya yaitu Bapak Sera. Bah Yu Sak Liong kemudian kembali ke Mongol dan Bapk Sera meneruskan pengembaraannya.<br />
Suatu ketika Bapak Sera menyaksikan seorang pedagang kain keliling dari Cina Shantung sedang dikeroyok olehsekelompok penyamun yang bermaksud merampoknya, namun Cina tersebut dengan gesit dan lincah dapat mengalahkan para penyamun tersebut dengan hanya bersenjatakan meteran kainnya sebagai senjata toya. Permainan toyanya sangat mengagumkan, sampai-sampai bapak sera tidak beranjak dari tempatnya menyaksikan permainannya. Namun naas bagi Cina tersebut, ketika sedang bertarung, kakinya dipatuk seekor ular berbisa. Dia pinsan dan ditolong dan diobati oleh Bapak Sera hingga sembuh. Sebagaitanda terima kasih, Cina tersebut meberikan seluruh kain dagangannya kepada Bapak Sera, namun ditolak, meskipun demikian Bapak Sera tidak dapat menyembunyikan keinginannya untuk belajar ilmu toyanya.<br />
Maka dengan senang hati Cina Shantung tersebut mengajarkan ilmu toyanya kepada Bapak Sera dan dalam waktu singkat telah dapat dapat menguasai ilmu toya tersebut. Malah sebelum Cina Shantung tersebut kembali ke negeri asalnya, dia berkenan menurunkan seluruh ilmunya kepada Bapak Sera dan mereka berdua mengangkat saudara. Bapak Sera mengembangkan ilmunya sesuai dengan keadaan waktu itu, konon khabarnya beliau bermukim hingga wafat dimakamkan di Tegal Harendong Rumpin Ciampea Bogor.<br />
Salah seorang murid Bapak Sera yang paling menonjol adalah Bapak Mursyid atau yang lebih dikenal dengan sebutan Bah Ocid yang berasal dari Kebonmanggis. Beliau inilah yangmengembangkan Aliran Sera pada abad ke XVIII di daerah Bogor dan sekitarnya. Ciri-ciri fisik Bah Ocid, tinggi sekitar 157 cm, rambut panjang sebahu, kuku tangan dan kaki sekitar 7 cm, sehingga kalau berjalan, aka nada bekas kuku kakinya menggores jalan yang dilaluinya. Tak banyak hal ikhwal Bah Ocid, untuk lembih komplitnya kami masih berusaha mencari datanya dari berbagai sumber. Konon Bah Ocid ini selain menguasai Silat Sera, juga mempelajari ilmu istijrad. Kuku tangan dan kakinya dibiarkan panjang karena tak bias dipotong, begitu pula rambutnya, mandi hanya dapat dilakukan setahun sekali yakni pada Bulan Maulud, hal ini disebabkan ilmu istijradnya tersebut yang menyebabkannya. Pantangan ini kalau dilanggar akan menyebabkan badan Bah Ocid menjadi hitam dan gatal-gatal. Jika Bah Ocid sedang tidur, tak seorangpun berani membangunkannya, sebab dapat berakibat fatal, karena refleknya yang sudah menyatu, walaupun sedang tidur, Bah Ocid dapat membuat orang yang membangunkannya jatuh tunggang langgang. Kalau terpaksa orang yang membangunkannya harus memakai galah atau tongkat panjang, itupun bisa patah-patah karena refleknya.<br />
Sepengetahuan Bapak Sera bahwa Hj. Cut Suriah tidak pernah mengajarkan ilmu hitam, adapun ilmu-ilmu hitam yang dipunyai oleh Guru-guru Sera adalah hasil pelajaran dari Guru-guru sebelumnya, karena berguru Silat Sera, fisik harus kuat dahulu, seperti Bah Ocid, sebelumnya sudah mempunyai ilmu kebal, kejayaan, Batara Karang dan lain sebagainya.<br />
Peristiwa Bapak Sera rupanya juga dialami oleh Bah Ocid, yakni pernah mengadu ilmu dengan seorang Cina seorang pedagang koyo bernama Babah Tong, yang juga mahir ilmu silat. Merekamengadu ilmu di pinggir kali Cipakancilan di Jalan Paledang, di depan Asrama Tentara yang sekarang menjadi Kantor Dinas Pekerjaan Umum Propinsi. Babah Tong mengakui keunggulan Bah Ocid, setelah itu hubungan mereka tetap berjalan baik. Babah Tong menganggap Bah Ocid sebagai kakak sperguruannya. Kata Pabaton sekarang adalah berasal dari nama beliau, karena tinggal disana. Bah Ocid banyak mempunyai murid, tetapi jarang yang sampai kepada ajaran terakhirnya yaitu yang disebut Sera Geni, Gerak Rasa Sera, Rasa Diri Sera dan Sera Manjak Pamungkas, yang merupakan filsafat Silat Sera. Kebanyakan hanya sampai pada Langkah Opat Lipet, Kombinasi dan Tilu Eusi (Tiga Isi) beserta fungsinya atau istilah Ajaran Sera disebut Rusiah (Rahasia).<br />
Dalam hal ini hanya Bapak H. Ali Yoenoes Bin Kartadiredja, yang sampai kepada Langkah Pamungkas. Beliau sebelum menjadi murid Silat Sera dari Bah Ocid terlebih dahulu banyak belajar dari guru-guru silat terkenal di seluruh Tanah Jawa, diepkirakan tidak kurang dari 11 (sebelas) orang gurunya. Dengan bermodalkan silat-silat itulah baru dapat berguru kepada Bah Ocid, konon khabarnya, setiap beradu fisik dengan Bah Ocid, kalau tidak berilmu tentulah anggota badan yang terkena benturan akan menjadi hitam legam (tampak hangus). Bapak H. Ali Yoenoes berasal dari Jombang, Jawa Timur, beliau malang melintang di dunia persilatan sejak abad ke XVII dan XIX, karena beliau panjang umurnya sampai mencapai usia 103 tahun. Beliau pernah dicoba oleh para pendekar berbagai daerah, namun Alhamdulillah belum pernah kalah. Dahulu Pemerintah Kolonial Belanda sengaja mengadu domba para pendekar silat. Mereka diharuskan bertarung sampai mati, dengan perjanjian tidak ada tuntutan apapun dari pihak keluarga korban, dibawah panggung sudah disediakan keranda mayat. Belanda sengaja mengadakan hal tersebut dengan maksud agar para pendekar silat tersebut tumpas dengan sendirinya, hingga tidak ada yang ditakuti lagi oleh pihak Belanda. Acara tersebut diadakan setiap tahun bertempat di dalam Istana Kebun Raya Bogor, dalam memperingati Ulang Tahun Ratu Belanda, Ratu Wilhemina.<br />
Pada awal mulanya Bapak H. Ali Yoenoes tidak menyadari siasat licik dari pihak Belanda tersebut, maka pada setiap bertanding beliau pasti membunuh lawannya, tak kurang, 19 orang mati ditangannya. Tetapi akhirnya beliau menyadari akan hal ini, maka setiap kali bertarung, beliau tidak sampai membunuh lawannya yang kalah, namun cukup hanya dilukai saja dan kemudian menyuruh lawannya tersebut untuk melarikan diri. Tindakan ini lama kelamaan tercium juga oleh pihak Belanda dan akhirnya Bapak H. Ali Yoenoes untuk selanjutnya tidak diperkenankan ikut pertandingan lagi, malahan beliau ditahan selamapertandingan berlangsung. Para pendekar yang beliau selamatkan pada pertandingan tersebut, setiap Hari Idhul Fitri dan Bulan Maulud selalu berkumpul dan bersilaturahmi di rumah Bapak H. Ali Yoenoes di Gang Selot Paledang, sebagai rasa syukur dan tanda terima kasih telah diselamatkan nyawanya. Bapak H. Ali Yoenoes belajar silat pada Bah Ocid sekitar 9 tahun dan beliau melatih selama 21 tahun.<br />
Bapak H. Ali Yoenoes menunaikan ibadah haji pada tahun 1969. Salah seorang putra beliau yang turut mengembangkan Silat Sera adalah Bapak Abdulrachman, atau lebih dikenal dengan sebutan Pak Komang dan di dunia persilatan dijuluki Si Girimis, karena kecepatan tangan beliau yang kalau mencecar lawan seperti hujan gerimis, putra lainnya adalah H. Rachmat atau lebih dikenal dengan nama Pak Memet. Bapak H. Ali Yoenoes bin Kartadiredja meninggal pada tahun 1971 dalam usia 103 tahun, yang kemudian disusul oleh putranya yakni Bapak Abdulrachman pada tahun 1983 dalam usia 64 tahun.<br />
Salah satu murid yang dilatih oleh Bapak H. Ali Yoenoes dan Pak Komang adalah Bapak H. Cucu Sutarya, SH Bin Tubagus Baban Sidik Ismaya. Beliau mulai berlatih pada Bapak H. Ali Yoenoes sejak tahun 1957 hingga tahun 1968 dan mengembangkannya hingga sekarang. Bapak H. Cucu Sutarya, SH menunaikan ibadah haji pada musim haji tahun 1998, sekitar bulan Maret-April (Tahun 1418 Hijriah). Beliau pernah pula menimba ilmu dari berbagai sumber lain seperti karate (Dan II Internasional) yudo, tinju (pernah juara tinju kelas bantam pada PON di Surabaya), kuntau, yuyitszu, dan silat dari perguruan lain seperti Aliran Cikalong, Syahbandar, Pamacan, Cimande, Ajrak. Hal ini dilakukan atas anjuran dari Bapak H. Ali Yoenoes sebagai bahan pembanding dan sebagai ilmu tambahan saja, tetapi loyalitas tetaplah terpusat pada Silat Sera yang kemudian beliau kembangkan menjadi Perguruan Pencak Silat PANCASSERA (Lima Silat Sera, yaitu Sera Banyu, Sera Ringkus, Sera Bayu, Sera Putih dan Sera Geni). Khusus untuk para Pelatih diajarkan Gerak Rasa dan Rasa Diri sebagai Langkah (Jurus Panjang) terakhir dari Aliran Silat Sera. Bapak H. Cucu Sutarya, SH mendapat kepercayaan langsung dari Bapak H. Ali Yoenoes untuk meneruskan perguruan. Beliau resmi mulai melatih sejak tahun 1968 di Bandung dan di Garut, kemudian di Bogor sampai sekarang. Hanya kepada beliaulah Bapak H. Ali Yoenoes menurunkan seluruh ilmunya hingga tuntas untuk dikembangkan dan diteruskan. Dengan demikian pewaris dan penerus satu-satunya adalah Bapak H. Cucu Sutarya, SH.</p>
<p>Guru-guru lain dari Bapak H. Cucu Sutarya, SH adalah :<br />
1. H. Adra’I Cianjur Selatan (Pengurutan dan Patah Tulang)<br />
2. Kyai H. Baing Bakri Pasarean Cianjur (Cikalong)<br />
3. Bah Rumanta Garut (Syahbandar)<br />
4. Bah Djadja Gunungbatu Bogor (Pamacan)<br />
5. Bah Maun Dreded Bondongan (Sera Pamacan)<br />
6. Bah Enuh Tarogong Garut (Ajrak)<br />
7. Liem Sen Thong Bogor (Kuntau dan Akunktur)<br />
8. Meneer Ong Bogor (Yudo dan Yuyitszu)<br />
9. Mr. Matsunaga Osaka Jepang (Karate)<br />
10. Endang Ukaedi Bogor (Tinju)</p>
<p>Perguruan Silat Pancassera menjadi anggota IPSI pada tahun 1976. Sampai saat ini perguruan telah banyak berkembang, bahkan sampai keluar Pulau Jawa yakni di Kalimantan dan Maros, Sulawesi Selatan. Di Jawa sendiri Silat Sera tersebar luas, mulai dari Garut, Bandung, Bogor, Sukabumi, Depok, Jakarta dan di mancanegara di Amerika Serikat, Norwegia dan khusus di Belanda ada murid Bapak H. Ali Yoenoes yaitu Keluarga Van de Vries.<br />
Pada perguruan Silat Pancassera khusus diajarkan :<br />
• Ilmu beladiri Sera tangan kosong<br />
• Ilmu beladiri senjata : golok tunggal, golok ganda, gobang (sejenis pedang), gada, toya panjang, toya pendek, ruyung pendek, ruyung panjang, toya pendek, toya panjang, trisula, tongkat rantai dua, rantai tiga (double stick, triple stick), pisau terbang, cambuk, cemeti, clurit dan kombinasi senjata-senjata tersebut)<br />
• Pengurutan keseleo, patah tulang.<br />
• Tusuk jari, tusuk jarum (akupunktur.<br />
• Peramuan obat-obatan tradisional.<br />
• Seni pernapasan.</p>
<p>Kami menghimbau kepada para pengembang Aliran Silat Sera untuk dapat bersilaturahmi dengan Perguruan-perguruan Silat Sera lainnya dimana saja berada, apapun nama perguruannya dengan Perguruan Pencak Silat PANCASSERA yang sumbernya sama. Dimana khas Silat Sera yaitu jurus-jurusnya banyak dikenal dengan jurus dari huruf Arab dan Cina, seperti : Alif, Ba, Lam Alif (dari huruf Arab), Bekuih, Lokbeh (Loh Beh), Wa Lung Wang (Balungbang, dari Bahasa Cina) dan lain sebagainya.<br />
Demikian Sejarah singkat Aliran Silat Sera yang kini bernama PERGURUAN PENCAK SILAT PANCASSERA, wallahu alam (Hanya Allah Yang Maha Tahu), akan segala kejelasan serta kebenarannya.</p>
<p><strong>SUSUNAN PENGURUS</strong><br />
PERGURUAN PENCAK SILAT PANCASSERA</p>
<p>PEMBINA/PELATIH UTAMA : H. CUCU SUTARYA, SH<br />
P E L I N D U N G : Mayor Jenderal (Purn) H. AMIR TOHAR<br />
KETUA UMUM : H. SUPARNI<br />
SEKRETARIS JENDERAL : R. SOEPRAPTO DJOJOPOESPITO<br />
WAKIL SEKRETARIS JENDERAL : MUHAMMAD SIDIK<br />
BENDAHARA I : H. SUPARDI<br />
BENDAHARA II : EENG SUHERMAN<br />
KEPALA BIDANG ADMINISTRASI : Drs. MACHMUD DJAKSAN<br />
KEPALA BIDANG TEKHNIK : Drs. ADEH DJAJADI</p>
<p>Ditetapkan pada tanggal 27 Nopember 2005, bertempat di Gedung Pertemuan Balai Besar Industri Agro, Jalan Ir. H. Juanda Bogor.</p>
<p>Ditulis kembali oleh :<br />
Muhammad Sidik, Sabuk Hitam Tingkat II, Cabang Gas Alam Cimanggis Depok.<br />
Komplek Departemen Penerangan/Harapan Baru Taman Bunga Blok G.08 RT.004 RW.010 Kelurahan Harjamukti, Kecamatan Cimanggis, Kotamadya Depok 16954</p>
<p>sumber: <a href="http://www.facebook.com/topic.php?uid=8436699980&amp;topic=14541" target="_blank">facebook bang Santanu Muliawidi</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2010/03/sejarah-singkat-aliran-silat-sera/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejarah Perkembangan Pencak Silat</title>
		<link>http://silatindonesia.com/2009/08/sejarah-perkembangan-pencak-silat/</link>
		<comments>http://silatindonesia.com/2009/08/sejarah-perkembangan-pencak-silat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Aug 2009 08:08:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Silat]]></category>
		<category><![CDATA[ipsi]]></category>
		<category><![CDATA[koni]]></category>
		<category><![CDATA[perkembangan]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[silat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silatindonesia.com/?p=195</guid>
		<description><![CDATA[Sejarah Perkembangan Pencak Silat Pencak Silat sebagai bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia berkembang sejalan dengan sejarah masyarakat Indonesia. Dengan aneka ragam situasi geografis dan etnologis serta perkembangan zaman yang dialami oleh bangsa Indonesia, Pencak Silat dibentuk oleh situasi dan kondisinya. Kini Pencak Silat kita kenal dengan wujud dan corak yang beraneka ragam, namun mempunyai aspek-aspek [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span class="smalltype"><a title="sejarah  perkembangan silat" href="http://silatindonesia.com/2009/08/sejarah-perkembangan-pencak-silat/">Sejarah Perkembangan Pencak Silat</a></span></strong></p>
<p><a href="http://silatindonesia.com">Pencak Silat</a> sebagai bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia berkembang sejalan dengan sejarah masyarakat Indonesia. Dengan aneka ragam situasi geografis dan etnologis serta perkembangan zaman yang dialami oleh bangsa Indonesia, Pencak Silat dibentuk oleh situasi dan kondisinya. Kini Pencak Silat kita kenal dengan wujud dan corak yang beraneka ragam, namun mempunyai aspek-aspek yang sama. Pencak Silat merupakan unsur-unsur kepribadian bangsa Indonesia yang dimiliki dari hasil budi daya yang turun temurun. Sampai saat ini belum ada naskah atau himmpunan mengenai sejarah pembelaan diri bangsa Indonesia yang disusun secara alamiah dan dapat dipertanggung jawabkan serta menjadi sumber bagi pengembangan yang lebih teratur. Hanya secara turun temurun dan bersifat pribadi atau kelompok latar belakang dan sejarah pembelaan diri inti dituturkan. Sifat-sifat ketertutupan karena dibentuk oleh zaman penjajahan di masa lalu merupakan hambatan pengembangan di mana kini kita yang menuntut keterbukaan dan pemassalan yang lebih luas. <span id="more-195"></span></p>
<p>Sejarah perkembangan Pencak Silat secara selintas dapat dibagi dalam kurun waktu :</p>
<p>a. Perkembangan sebelum zaman penjajahan Belanda<br />
b. Perkembangan pada zaman penjajahan Belanda<br />
c. Perkembangan pada zaman penjajahan Jepang<br />
d. Perkembangan pada zaman kemerdekaan</p>
<p>a. Perkembangan pada zaman sebelum penjajahan Belanda</p>
<p>Nenek moyang kita telah mempunyai peradaban yang tinggi, sehingga dapat berkembang menjadi rumpun bangsa yang maju. Daerah-daerah dan pulau-pulau yang dihuni berkembnag menjadi masyarakat dengan tata pemerintahan dan kehidupan yang teratur. Tata pembelaan diri di zaman tersebut yang terutama didasarkan kepada kemampuan pribadi yang tinggi, merupakan dasar dari sistem pembelaan diri, baik dalam menghadapi perjuangan hidup maupun dalam pembelaan berkelompok.</p>
<p>Para ahli pembelaan diri dan pendekar mendapat tempat yang tinggi di masyarakat. Begitu pula para empu yang membuat senjata pribadi yagn ampuh seperti keris, tombak dan senjata khusus. Pasukan yang kuat di zaman Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit serta kerajaan lainnya di masa itu terdiri dari prajurit-prajurit yang mempunyai keterampilan pembelaan diri individual yang tinggi. Pemukupan jiwa keprajuritan dan kesatriaan selalu diberikan untuk mencapai keunggulan dalam ilmu pembelaan diri. Untuk menjadi prajurit atau pendekar diperulan syarat-syarat dan latihan yang mendalam di bawah bimbingan seorang guru. Pada masa perkembangan agama Islam ilmu pembelaan diri dipupuk bersama ajaran kerohanian. Sehingga basis-basis agama Islam terkenal dengan ketinggian ilmu bela dirinya. Jelaslah, bahwa sejak zaman sebelum penjajahan Belanda kita telah mempunyai sistem pembelaan diri yang sesuai dengan sifat dan pembawaan bangsa Indonesia.</p>
<p>b. Perkembangan Pencak Silat pada zaman penjajahan Belanda</p>
<p>Suatu pemerintahan asing yang berkuasa di suatu negeri jarang sekali memberi perhatian kepada pandangan hidup bangsa yang diperintah. Pemerintah Belanda tidak memberi kesempatan perkembangan Pencak Silat atau pembelaan diri Nasional, karena dipandang berbahaya terhadap kelangsungan penjajahannya. Larangan berlatih bela diri diadakan bahkan larangan untuk berkumpul dan berkelompok. Sehingga perkembangan kehidupan Pencak Silat atau pembelaan diri bangsa Indonesia yang dulu berakar kuat menjadi kehilangan pijakan kehidupannya. Hanya dengan sembunyi-sembunyi dan oleh kelompok-kelompok kecil Pencak Silat dipertahankan. Kesempatan-kesempatan yang dijinkan hanyalah berupa pengembangan seni atau kesenian semata-mata masih digunakan di beberapa daerah, yang menjurus pada suatu pertunjukan atau upacara saja. Hakekat jiwa dan semangat pembelaan diri tidak sepenuhnya dapat berkembang. Pengaruh dari penekanan di zaman penjajahan Belanda ini banyak mewarnai perkembangan Pencak Silat untuk masa sesudahnya.</p>
<p>c. Perkembangan Pencak Silat pada pendudukan Jepang</p>
<p>Politik Jepang terhadap bangsa yang diduduki berlainan dengan politik Belanda. Terhadap Pencak Silat sebagai ilmu Nasional didorong dan dikembangkan untuk kepentingan Jepang sendiri, dengan mengobarkan semangat pertahanan menghadapi sekutu. Di mana-mana atas anjuran Shimitsu diadakan pemusatan tenaga aliran Pencak Silat. Di seluruh Jawa serentak didirkan gerakan Pencak Silat yang diatur oleh Pemerintah. Di Jakarta pada waktu itu telah diciptakan oleh para pembina Pencak Silat suatu olarhaga berdasarkan Pencak Silat, yang diusulkan untuk dipakai sebagai gerakan olahraga pada tiap-tiap pagi di sekolah-sekolah. Usul itu ditolak oleh Shimitsu karena khawatir akan mendesak Taysho, Jepang. Sekalipun Jepang memberikan kesempatan kepada kita untuk menghidupkan unsur-unsur warisan kebesaran bangsa kita, tujuannya adalah untuk mempergunakan semangat yang diduga akan berkobar lagi demi kepentingan Jepang sendiri bukan untuk kepentingan Nasional kita.</p>
<p>Namun kita akui, ada juga keuntungan yang kita peroleh dari zaman itu. Kita mulai insaf lagi akan keharusan mengembalikan ilmu Pencak Silat pada tempat yang semula didudukinya dalam masyarakat kita.</p>
<p>d. Perkembangan Pencak Silat pada Zaman Kemerdekaan</p>
<p>Walaupun di masa penjajahan Belanda Pencak Silat tidak diberikan tempat untuk berkembang, tetapi masih banyak para pemuda yang mempelajari dan mendalami melalui guru-guru Pencak Silat, atau secara turun-temurun di lingkungan keluarga. Jiwa dan semangat kebangkitan nasional semenjak Budi Utomo didirikan mencari unsur-unsur warisan budaya yang dapat dikembangkan sebagai identitas Nasional. Melalui Panitia Persiapan Persatuan Pencak Silat Indonesia maka pada tanggal 18 Mei 1948 di Surakarta terbentuklah IPSI yang diketuai oleh Mr. Wongsonegoro.</p>
<p>Program utama disamping mempersatukan aliran-aliran dan kalangan Pencak Silat di seluruh Indonesia, IPSI mengajukan program kepada Pemerintah untuk memasukan pelajaran Pencak Silat di sekolah-sekolah.</p>
<p>Usaha yang telah dirintis pada periode permulaan kepengurusan di tahun lima puluhan, yang kemudian kurang mendapat perhatian, mulai dirintis dengan diadakannya suatu Seminar Pencak Silat oleh Pemerintah pada tahun 1973 di Tugu, Bogor. Dalam Seminar ini pulalah dilakukan pengukuhan istilah bagi seni pembelaan diri bagnsa Indonesia dengan nama Pencak Silat yang merupakan kata majemuk. Di masa lalu tidak semua daerah di Indonesia menggunakan istilah Pencak Silat. Di beberapa daerah di jawa lazimnya digunakan nama Pencak sedangkan di Sumatera orang menyebut Silat. Sedang kata pencak sendiri dapat mempunyai arti khusus begitu juga dengan kata silat.</p>
<p>Pencak, dapat mempunyai pengertian gerak dasar bela diri, yang terikat pada peraturan dan digunakan dalam belajar, latihan dan pertunjukan.</p>
<p>Silat, mempunyai pengertian gerak bela diri yang sempurna, yang bersumber pada kerohanian yang suci murni, guna keselamatan diri atau kesejahteraan bersama, menghindarkan diri/ manusia dari bela diri atau bencana. Dewasa ini istilah pencak silat mengandung unsur-unsur olahraga, seni, bela diri dan kebatinan. Definisi pencak silat selengkapnya yang pernah dibuat PB. IPSI bersama BAKIN tahun 1975 adalah sebagai berikut :</p>
<p>Pencak Silat adalah hasil budaya manusia Indonesia untuk membela/mempertahankan eksistensi (kemandirian) dan integritasnya (manunggalnya) terhadap lingkungan hidup/alam sekitarnya untuk mencapai keselarasan hidup guna meningkatkan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.</p>
<p>Pencak Silat sebagai ajaran kerohanian</p>
<p>Umumnya Pencak Silat mengajarkan pengenalan diri pribadi sebagai insan atau mahluk hidup yang pecaya adanya kekuasaan yang lebih tinggi yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Biasanya, Pencak Silat sebagai ajaran kerohanian/kebatinan diberikan kepada siswa yang telah lanjut dalam menuntut ilmu Pencak Silatnya. Sasarannya adalah untuk meningkatkan budi pekerti atau keluhuran budi siswa. Sehingga pada akhirnya Pencak Silat mempunyai tujuan untuk mewujudkan keselarasan/ keseimbangan/keserasian/alam sekitar untuk meningkatkan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, guna mengisi Pembangunan Nasional Indonesia dalam mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya yang Pancasilais.</p>
<p>Pencak Silat sebagai seni</p>
<p>Ciri khusus pada Pencak Silat adalah bagian kesenian yang di daerah-daerah tertentu terdapat tabuh iringan musik yang khas. Pada jalur kesenian ini terdapat kaidah-kaidah gerak dan irama yang merupakan suatu pendalaman khusus (skill). Pencak Silat sebagai seni harus menuruti ketentuan-ketentuan, keselarasan, keseimbangan, keserasian antara wirama, wirasa dan wiraga.</p>
<p>Di beberapa daerah di Indonesia Pencak Silat ditampilkan hampir semata-mata sebagai seni tari, yang sama sekali tidak mirip sebagai olahraga maupun bela diri. Misalnya tari serampang dua belas di Sumatera Utara, tari randai di Sumatera Barat dan tari Ketuk Tilu di Jawa Barat. Para penari tersebut dapat memperagakan tari itu sebagai gerak bela diri yang efektif dan efisien untuk menjamin keamanan pribadi.</p>
<p>Pencak Silat sebagai olahraga umum</p>
<p>Walaupun unsur-unsur serta aspek-aspeknya yang terdapat dalam Pencak Silat tidak dapat dipisah-pisahkan, tetapi pembinaan pada jalur-jalur masing-masing dapat dilakukan. Di tinjau dari segi olahraga kiranya Pencak Silat mempunyai unsur yang dalam batasan tertentu sesuai dengan tujuan gerak dan usaha dapat memenuhi fungsi jasmani dan rohani. Gerakan Pencak Silat dapat dilakukan oleh laki-laki atau wanita, anak-anak maupun orang tua/dewasa, secara perorangan/kelompok.</p>
<p>Usaha-usaha untuk mengembangkan unsur-unsur olahraga yang terdapat pada Pencak Silat sebagai olahraga umum dibagi dalam intensitasnya menjadi</p>
<p>a. Olahraga rekreasi<br />
b. Olahraga prestasi<br />
c. Olahraga massal</p>
<p>Pada seminar Pencak Silat di Tugu, Bogor tahun 1973, Pemerintah bersama para pembina olahraga dan Pencak Silat telah membahas dan menyimpulkan makalah-makalah :</p>
<p>1. Penetapan istilah yang dipergunakan untuk Pencak Silat<br />
2. Pemasukan Pencak Silat sebagai kurikulum pada lembaga-lembaga pendidikan<br />
3. Metode mengajar Pencak Silat di sekolah<br />
4. Pengadaan tenaga pembina/guru Pencak Silat untuk sekolah-sekolah<br />
5. Pembinaan organisasi guru-guru Pencak Silat dan kegiatan Pencak Silat di lingkungan sekolah<br />
6. Menanamkan dan menggalang kegemaran serta memassalkan Pencak Silat di kalangan pelajar/mahasiswa.</p>
<p>Sebagai tindak lanjut dari pemikiran-pemikiran tersebut dan atas anjuran Presiden Soeharto, program olahraga massal yang bersifat penyegaran jasmani digarap terlebih dahulu, yang telah menghasilkan program Senam Pagi Indonesia (SPI).</p>
<p>Pencak Silat sebagai olahraga prestasi (olahraga pertandingan)</p>
<p>Pengembangan Pencak Silat sebagai olahraga &amp; pertandingan (Championships) telah dirintis sejak tahun 1969, dengan melalui percobaan-percobaan pertandingan di daerah-daerah dan di tingkat pusat. Pada PON VIII tahun 1973 di Jakarta telah dipertandingkan untuk pertama kalinya yang sekaligus merupakan Kejuaraan tingkat Nasional yang pertama pula. Masalah yang harus dihadapi adalah banyaknya aliran serta adanya unsur-unsur yang bukan olahraga yang sudah begitu meresapnya di kalangan Pencak Silat. Dengan kesadaran para pendekar dan pembina Pencak Silat serta usaha yang terus menerus maka sekarang ini program pertandingan olahraga merupakan bagian yang penting dalam pembinaan Pencak Silat pada umumnya. Sementara ini Pencak Silat telah disebarluaskan di negara-negara Belanda, Belgia, Luxemburg, Perancis, Inggris, Denmark, Jerman Barat, Suriname, Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru.</p>
<p>Program pembinaan Pencak Silat</p>
<p>Pencak Silat sebagai budaya Nasional bangsa Indonesia mempunyai banyak ragam khas maisng-masing daerah, jumlah perguruan/aliran di segenap penjuru tanah air ini diperkirakan sebanyak 820 perguruan/aliran.</p>
<p>Oleh karena itu dirasakan perlu adanya pembinaan yang sistimatis untuk melestarikan warisan nenek moyang kita. Terlebih-lebih setelah Kungfu masuk IPSI, atas anjuran Pemerintah berdasarkan pertimbangan lebih baik Kungfu berada di dalam IPSI sehingga lebih mudah dalam mengadakan pengawasan dan pengendalian terhadapnya, sekaligus menasionalisasikan.</p>
<p>Standarisasi yang telah dirintis pembuatannya, hanyalah untuk jurus dasar bagi keperluan khusus olahraga dan bela diri. Sedangkan pengembangannya telah diserahkan kepad setiap perguruan yang ada. Sistem pembinaan yang dipakai oleh IPSI ialah setiap aspek yang ada dijadikan jalur pembinaan, sehingga jalur pembinaan Pencak Silat meliputi :</p>
<p>1. Jalur pembinaan seni<br />
2. Jalur pembinaan olahraga<br />
3. Jalur pembinaan bela diri<br />
4. Jalur pembinaan kebatinan</p>
<p>Keempat jalur ini diolah, dengan saringan dan mesin sosial budaya, yaitu Pancasila.</p>
<p>Peraturan Pertandingan Pencak Silat</p>
<p>Gelanggang dapat di lantai atau dipanggung dan dilapisi matras dengan tebal maksimum 5 cm, permukaan rata dan tidak memantul serta ditutup dengan alas yang tidak licin, berukuran 9 x 9 meter.</p>
<p>Gelanggang terdiri dari :</p>
<p>Bidang Gelanggang berbentuk segi empat bujur sangkar dengan ukuran 7 x 7 m.</p>
<p>Bidang Laga berbentuk lingkaran dalam bidang gelanggang</p>
<p>Batas Gelanggang dan bidang laga dibuat dengan garis selebar ke arah luar 5 cm dan berwarna kontras dengan permukaan gelanggang. Pada tengah-tengah bidang laga dibuat lingkaran dengan garis tengah 2 m selebar 5 cm sebagai batas pemisah sesaat akan dimulai pertandingan.</p>
<p>Lingkaran tersebut mempunyai tanda garis lurus pada garis tengah lingkaran selebar 5 cm. Yang sejajar dengan sisi bujur sangkar dan berwarna kontras dengan permukaan gelanggang.</p>
<p>Sudut pesilat adalah ruang pada sudut bujur sangkar yang berhadapan dan dibatasi oleh lingkaran bidang laga. Sudut yang berhadapan lainnya adalah sudut netral.</p>
<p>Perlengkapan gelanggang :</p>
<p>a. Ember, gelas, kain pel dan kesed dari ijuk,<br />
b. Jam pertandingan/game match<br />
c. Gong atau alat yang berfungsi sama<br />
d. Lampu babak atau tanda lain untuk menentukan ronde/babak<br />
e. Lampu pemenang berwarna merah dan biru atau alat/kode lain untuk menentukan pemenang<br />
f. Perlengkapan lain-lain<br />
g. Formulir pertandingan</p>
<p>Perlengkapan pertandingan :</p>
<p>a. Pakaian pertandingan, pakaian Pencak Silat berwarna hitam<br />
b. Pelindung badan<br />
c. Pelindung kemaluan</p>
<p>Pembagian kelas :</p>
<p>Menurut umurnya, peserta dibagi 3 golongan :</p>
<p>- Golongan remaja berumur di atas 14 s/d 17 tahun<br />
- Golongan teruna berumur di atas 17 s/d 21 tahun<br />
- Golongan dewasa berumur di atas 21 s/d 35 tahun</p>
<p>Menurut berat badan, pesilat dibagi dalam kelas-kelas :</p>
<p>Golongan Remaja :</p>
<p>Kelas A, 33 &#8211; 39 kg<br />
Kelas B, di atas 36 &#8211; 39 kg<br />
Kelas C, di atas 39 &#8211; 42 kg<br />
Kelas D, di atas 42 &#8211; 45 kg<br />
Kelas E, di atas 45 &#8211; 48 kg<br />
Kelas F, di atas 48 &#8211; 51 kg<br />
Kelas G, di atas 51 &#8211; 54 kg<br />
Kelas H, di atas 54 &#8211; 57 kg<br />
Kelas I, di atas 57 &#8211; 60 kg</p>
<p>Golongan Teruna :</p>
<p>Kelas A, 40 &#8211; 45 kg<br />
Kelas B, di atas 45 &#8211; 50 kg<br />
Kelas C, di atas 50 &#8211; 55 kg<br />
Kelas D, di atas 55 &#8211; 60 kg<br />
Kelas E, di atas 60 &#8211; 65 kg<br />
Kelas F, di atas 65 &#8211; 70 kg<br />
Kelas G, di atas 70 &#8211; 75 kg<br />
Kelas H, di atas 75 &#8211; 80 kg<br />
Dengan seterusnya selisih 5 kg<br />
Kelas bebas, berat di atas 65 kg.</p>
<p>Waktu Pertandingan</p>
<p>Permainan dilangsungkan dalam 3 babak yang setiap babak terdiri dari 2 menit. Di antara babak yang satu dengan lainnya diberikan waktu istirahat 1 menit. Waktu ketika wasit menghentikan pertandingan tidak termasuk waktu bertanding dan perhitungan terhadap pemain yang jatuh karena serangan yang sah tidak termasuk waktu bertanding.</p>
<p>Sasaran</p>
<p>Yang dapat dijadikan sasaran perkenaan adalah bagian tubuh kecuali leher ke atas dan kemaluan yaitu dada, perut, punggung dan pinggang kiri serta kanan. Bagian tungkai lengan dapat dijadikan sasaran serangan menjatuhkan dan mengunci tetapi tidak mempunyai nilai sebagai sasaran perkenaan. Setiap pertandingan dipimpin oleh 1 (satu) orang wasit dan dibantu oleh 5 (lima) orang juri penilai.</p>
<p><a href="http://silatindonesia.com/tag/koni">KONI Pusat</a><br />
National Olympic Committee of Indonesia</p>
<p><a href="http://silatindonesia.com"><strong>www.silatindonesia.com</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silatindonesia.com/2009/08/sejarah-perkembangan-pencak-silat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

